Friday, 8 September 2017

Terjemahan Kitab Tadzjirat al-Auliya

Kitab Tadzjirat al-Auliya


Diterjemahkan dari Kitab Tadzjirat al-Auliya karangan Fariduddin al Attar
Kitab ini ditulis Fariduddin Attar dalam bahasa Persia, meskipun judulnya ditulis dalam bahasa Arab. Selain berarti kenangan, kata

tadzkirah dalam bahasa Arab juga berarti pelajaran. Sehingga Tadzkiratul Auliya’ berarti pelajaran yang diberikan oleh para wali

atau guru sufi.

Alasan Attar mengapa ia menulis kitab yang berisi cerita kehidupan para wali (sufi) karena Al-Quran pun mengajar dengan cerita-

cerita, sehingga ia mengikuti contoh Al-Quran dengan menamakan kitabnya Tadzkiratul Auliya’. Sebab lain mengapa cerita para wali itu

dikumpulkan Attar adalah karena ia ingin mendapat keberkahan dari mereka. Dengan menghadirkan para wali (sufi), kita memberkahi diri

dan tempat sekeliling kita.

Kitab ini mengisahkan sebuah babak kehidupan dari masing-masing wali (sufi) berikut:

Hasan dari Bashrah, Malik bin Dinar, Habib al-Ajami, Rabi’ah al-Adawiyah, al-Fuzail bin Iyaz, Ibrahim bin Adham, Bisyr bin Harits,

Dzun Nun al-Mishri, Abu Yazid al-Busthami, Abdullah bin Mubarak, Sufyan al-Tsauri, Syaqiq al-Balkh, Daud al-Tha’i, Al-Muhasibi,

Ahmad bin Harb, Hatim al-Ashamm, Sahl bin Abdullah al-Tustari, Ma’ruf al-Karkhi, Sari al-Saqathi, Ahmad bin Khazruya, Yahya bin

Muadz, Syah bin Syuja’, Yusuf bin al-Husain, Abu Hafshin al-Haddad, Abul Qasim al-Junaid, Amr bin Utsman, Abu Said al-Kharraz, Abul

Husain al-Nuri, Abu Utsman al-Hiri, Ibnu Atha’, Sumnun, Al-Tirmidzi, Khair al-Nassaj, Abu Bakar al-Kattani, Ibnu Khafif, Al-Hallaj,

Ibrahim al-Khauwah, Al-Syibli.










Hasan bin Abil Hasan al-Bashri lahir di kota Madinah pada tahun 21 H/642. Ia adalah putera dari seorang budak yang ditangkap di

Maisan, kemudian menjadi klien dari skretaris Nabi Muhammad, Zaid bin Tsabit. Karena dibesarkan di Bashrah ia bsia bertemu dengan

banyak sahabat Nabi, antara lain --- seperti yang dikatakan orang --- dengan tujuh puluh sahabat yang turut dalam Perang Badar.

Hasan tumbuh menjadi seorang tokoh di antara tokoh yang paling terkemuka pada zamannya. Dan ia termasyhur karena kesalehannya yang

teguh, dan secara blak-blakan membenci sikap kalangan atas yang berfoya-foya. Sementara teolog-teolog dari kalangan Mu’tazilah

memandang Hasan sebagai pendiri gerakan mereka (“Amr bin ‘Ubaid dan Wasil bin Atha” terhitung sebagai muridnya), ddidalam higografi

sufi, ia dimuliakan sebagai salah seorang di antara tokoh-tokoh suci yang terbesar pada masa awal sejarah Islam. Hasan meninggal di

kota Bashrah pada tahun 110H/728 M. Banyak pidato-pidatonya --- memang ia adalah seorang yang cemerlang – dan ucap-ucapannya 

dikutip oleh penulis-penulis bangsa Arab dan tidak sedikit di antara surat-suratnya yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang.

HASAN DARI BASHRAH BERTAUBAT

Pada mulanya Hasan dari Bashrah adalah seorang pedagang batu permata, karena itu ia dijuluki Hasan si pedagang mutiara. Hasan

mempunyai hubungan dagang dengan Bizantium, karena itu ia berkepentingan denga para Jenderal dan  Menteri Kaisar, dalam sebuah

peristiwa ketika bepergian ke Bizantium, hasan mengunjungi Perdana Menteri dan mereka berbincang-bincang beberapa saat.

“Jika engkau suka, kita akan pergi ke suatu tempat”, si menteri mengajak Hasan.

“Terserah kepadamu,” jawab Hasan, “Ke mana pun aku menurut.”

Si menteri memerintahkan agar disediakan seekor kuda untuk Hasan. Si menteri naik ke punggung kudanya, Hasan pun melakukan hal yang

serupa, setelah itu berangkatlah mereka menuju pdang pasir. Sesampainya di tempat tujuan, Hasan melihat sebuah tenda yang terbuat

dari brokat Bizantium, diikat dengan tali sutra dan di pancang dengan tiang emas di atas tanah. Hasan berdiri di jejauhan.

Tak berapa lama kemudian muncul lah sepasukan tentara perkasa dengan perlengkapan perang yng sempurna. Mereka lalu mengelilingi

tenda itu, neggumamkan beberapa patah kata kemudian pergi. Setelah itu muncul para filosof dan cerdik pandai yang hampir empat ratus

orang jumlahnya. Mereka mengelilingi tenda itu, menggumamkan beberpa patah kata kemudian berlalu dari tempat itu. Datang lagi

tigaratus orang-rang tua yang arif bijak sana dan berjanggut putih, mereka menghampiri dan mengelilingi tenda itu, lalu menggumamkan

beberapa patah kata, kemudian berlalu, Akhirnya datang pula lebih dari dua ratus perawan cantik masing-masing mengusung nampan penuh

dengan emas, perak dan batu permata, mereka mengelilingi tenda itu dan menggumamkan beberapa patah kata kemudian pergi

meniggalkannya. Hasan mengissahkan betapa ia sangat heran menyaksikan kejadian-kejadian itu dan bertanya kepada dirinya sendiri.

Apakah artinya semuanya itu?

“Ketika kami meninggalkan tempat itu”, Hasan meneruskan kisahnya, “Aku bertanya kepada si perdana menteri, Si perdana menteri

menjawab bahwa dahulu Kaisar mempunyai seorang putera yang tampan, menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan tak terkalahkan di

dalam arena kegagah perkasaan. Kaisra sangat sayang kepada puteranya itu. Tanpa terduga-duga, si pemuda jatuh sakit. Semua tabib

paling ahli sekalipun tidak mampu menyembuhkan penyakitnya. Akhirnya si pemuda putera mahkota itu meninggal dan dikuburkan di bawah

naungan tenda tersebut. Setiap tahun orang-orang datang berziarah ke kuburannya”.

Sepasukan tentara yang mula-mula mengelilingi tenda tersebut berkata : “Wahai putera mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa

dirimu ini terjadi di medan pertempuran, kami semua akan mengorbankan jiwa raga kami untuk menyelamatkanmu. Tetapi malapetaka yang

menimmpamu ini datang dari Dia yang tak sanggup kami perangi dan tak dapat kami tantang”. Stelah berucap seperti itu merekapun

berlalu dari tempat itu.

Kemudian tiba lah giliran para filosof dan cerdik pandai. Mereka berkata : Malapetaka yag menimpa dirimu ini datang dari Dia yang

tidak dapat kami lawan dengan ilmu pengetahuan. Filsafat dan tipu muslihat. Karena semua filosof di atas bumi ini tidak berdaya

menghadapi-Nya dan semua cerdik pandai hanya orang-orang dungu di hadapan-Nya. Jika tidak demikian halnya, kami telah berusaha

dengan mengajukan dalih-dalih yang tak dapat di pantah oleh siapa pun di alam semesta ini:. Setelah berucap demikian para filosof

dan cerdik pandapi itu pun berlalu dari tempat tersebut.

Selanjutnya orang-orang tua yang mulia tampil seraya berkata : “Wahai putera mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini

dapat dicegah oleh campur tangan orang-orang tua, niscaya kami telah mencegahnya dengan do’a do’a kami yang rendah hati ini, dan

pastilah kami tidak akan meninggalkan engkau seorang diri di tempat ini. Tetapi malapetaka yang ditimpakan kepadamu datang dari Dia

yang  sedikit pun tak dapat dicegah oleh campurtangan manusia-manusia yang lemah”. Setelah kata-kata ini mereka ucapkan merekapun

berlalu.

Kemudian dara-dara cantik dengan nampan-nampan berisi emas dan batu permata datang menghampiri, mengelilingi tenda itu dan berkata :

“Wahai putera Kaisar, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini bisa ditebus dengan kekayaan dan kecantikan, niscaya kami

merelekan diri dan harta kekayaan kami yang banyak ini untuk menebusmmu dan tidak kami tinggalkan engkau di tempat ini. Namun mala

petaka  ini ditimpakan oleh Dia yang tak dapat dipengaruhi oleh harta kekayaan dan kecantikan.” Setelah berkata-kata ini mereka

ucapkan, merekapun meninggalkan tempat itu.

Terakhir sekali Kaisar beserta perdana menteri tampil, masuk ke dalam tenda dan berkata : “Wahai biji mata dan pelita hati ayahanda!

Wahai buah hati ayahanda! Apakah yang dapat dilakukan oleh ayahanda ini? Ayah handa telah mendatangkan sepasukan tentara yang

perkasa, para filosof dan cerdik pandai, para pawang dan penasehat, dan dara-dara cantik yang jelita, harta benda dan segala macam

barang-barang berharga. Dan ayahanda sendiri pun telah datang. Jika semua ini ada faedahnya, maka ayahanda pasti melakukan segala

sesuatu yang dapat ayahanda lakukan. Tetapi malapetaka ini telah ditimpakan kepadamu oleh Dia yang tidak dapat dilawan oleh ayahanda

beserta segala aparat, pasukan, pengawall,  harta benda dan barang-barang berharga ini. Semoga engkau mendapat kesejahteraan,

selamat tinggal sampai tahun yang akan datang.” Kata-kata ini diucapkan sang Kaisar kemudian ia berlalalu dari tempat itu.

Pengisahan si menteri ini sangat menggugah hati Hasan. Ia tidak dapat melawan dorongan hatinya. Dengan segera ia bersiap-siap untuk

kembali ke negerinya. Sesampainya di kota Bashrah ia bersumpah tidak akan tertawa lagi di  atas dunia ini sebelum mengetahui dengan

pasti bagaimana nasib yang akan dihadapinya nanti. Ia melakukan segalam macam kebaktian dan disiplin diri yang tak dapat ditandingi

oleh siapa pun pada masa hidupnya.

HASAN DARI BASHRAH DAN ABU’AMR

Pada suatu  hari, ketikaAbu ‘Amr, seorang ahli tafsir terkemuka sedang mengajarkan Al-Quran, tak disangka-sangka datanglah seorang

pemuda tampan ikut mendengarkan pembahasanya. Abu ‘Amr terpesona memandang sang pemuda dan secara mendadak lupalah ia akan setiap

kata  dan huruf dalam Al Quran. Ia sangat menyesal dan gelisah karena perbuatannya itu. Dalam keadaan seperti ini pegilah ia

mengunjungi Hasan dari Bashrah untuk mengadukan kemasygulan hatinya itu.

“Guru.” Abu ‘Amr berkata sambil menangis dengan sedih, “Begitulah kejadiannya. Setiap kata dan huruf Al-Quran telah hilang dari

ingatanku.”

Hasan begitu terharu mendengar keadaan Abu ‘Amr.

“Sekarang ini adalah musim haji.” Hasan berkata kepadanya. “Pergilah ke Tanah Suci dan tunaikan ibadah haji. Sesudah ituu pegilah ke

 Masjid Khaif. Di sana engkau akan bertemu denga seorang tua. Jangan engkau langsung menegusnya tetapi tunggulah sampai keasyikannya

beribadah selesai. Setelah itu berulah engkau mohonkan agar ia mau berdoa untukmu.”

Abu ‘Amr menuruti petuah Hasan. Di pojok ruangan masjid Khaif, Abu ‘Amr melihat seorang tua yang patutu dimuliakan dan beberapa

orang yang duduk mengelilingi dirinya. Beberapa saat kemudian masuklah seorang lelaki yang berpakaian putih bersih. Orang-orang itu

memberi jalan kepadanya. Mengucapkan salam dan setelah itu mereka pun berbincang-bincang dengan dia. Ketika waktu shalat telah tiba,

lelaki tersebut minta diri untuk meninggalkan tempat itu. Tidak berapa lama kemudian yang lain-lainnya pun pergi ula, sehingga yang

tinggal di tempat itu hanyalah si orang tua tadi.

Abu ‘Amr menghampirinya dan mengucapkan salam.

“Dengan Nama Allah, tolonglah diriku ini,” Abu ‘Amr berkata sambil menangis. Kemudian menerangkan dukacita yang menimpa dirinya. Si

orang tua sangat prihatin mendengar penuturan Abu ‘Amr tersebut, lalu menegadahkan kepala dan berdoa. “Belum lagi ia merendahkan

kepalanya,” Abu ‘Amr mengisahkan, “Semua kata dan huruf Al Quran telah dapat ku ingat kembali. Aku bersujud di depannya karena

begitu syukurnya.”

Siapa yang telah menyuruhmu untuk menghadap kepada ku?” Kata orang tua itu bertanya kepada Abu ‘Amr.

“Hasan dari Bashrah,” Jawab Abu ‘Amar.

“Jika seseorang telah mempunyai imam seperti Hasan.” Lelaki tua tersebut berkomentar,’ mengapa ia memerlukan imam yang lain? Tapi

baiklah, Hasan telah menunjukan siapa diriku ini dan kini akan ku tunjukan siapakah dia sebenarnya. Ia telah membuka selubung diriku

dan kini ku buka pula selubung dirinya,” Kemudian orang tua itu meneruskan, “Lelaki yang berjubah putih tadi, yang datang ke sini

setelh waktu shalat ‘Ashar, dan yang terlebih dahulu meninggalkan tempat ini serta dihormati orang-orang lain tadi, ia adalah Hasan.

Setiap hari setelah melakukan Shalat  ‘Ashar di Bashrah ia berkunjung ke sini, berbincang-bincang bersamaku, dan kembali lagi ke

Bashrah untuk shalat Maghrib di sana. Jika seseorang telah mempunyai imam seperti Hasan, mengapa ia masih merasa perlu memohonkan

doa dari diriku ini?”

HASAN DARI BASHRAH DAN PENYEMBAH API

Hasan mempunyai tetangga yang bernama Simeon, seorang penyembah api. Suatu hari Simeon jatuh sakit dan ajalnya hampir tiba.

Sahabat-sahabat meminta agar Hasan sudi mengunjunginya,. Akhirnya Hasan pun pergi mendapatkan Simeon yang terbaring di atas tempat

tidur dan badannya telah kelam karena api dan asap.

“Takutlah kepada Allah,” Hasan menaseharkan, “Engkau telah menyia-nyiakan seluruh usiamu di tengah-tengah api dan asap.”

“Ada tiga hal yang telah mencegahku untuk menjadi seorang Muslim,” jawab Simeon penyembah api. “Yang pertama adalah kenyataan bahwa

walaupun kalian membenci keduniawian, tapi siang dan malam kalian mengejar harta kekayaan. Yang kedua, kalian mengatakan bahwa mati

adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi, namun kalina tidak bersiap-siap untuk menghadapinya. Yang ketiga, kalian mengatakan

bahwa wajah Allah akan terlihat, namun hingga saat ini kalian melakukan segala sesuatu yang tidak di ridhai-Nya.”

Inilah ucapan dari manusia-manusia yang sungguh-sungguh mengetahui,” jawab Hasan. “Jika orang-orang Muslimberbuat seperti yang

engkau katakan, apa pulakah yang hendak engkau katakan? Mereka mmengakui keesaan Allah sedang engaku menyembah api selama tujuh

puluh tahun, dan aku tak pernah berbuat seperti itu. Jika kita sama-sama terseret ke dalam neraka, api neraka akan membakar dirimu

dan diriku, tetapi jika diizinkan Allah, api tidak akan berani menghanguskan sehelai rambut pun pada tubuhku. Hal ini adalah karena

api diciptakan Allah dan segala ciptaan-Nya tunduk kepada perintah-Nya. Walau pun engkau menyembah api selama tujuh puluh tahun,

marilah kita bersama-sama menaruh tangan kita ke dalam api agar engkau dapat menyaksikan sendiri betapa api itu sesunggunya tak

berdaya da betapa Allah itu Maha Kuasa.”

Setelah berrkata demikian Hasan memasukan tangannya ke dalam api. Namun sedikitpun ia tidak cedera atau terbakar. Menyaksikan hal

ini Simeon terheran-heran. Fajar pengetahuan terlihat olehnya.

“Selama tujuh puluh tahun aku telah menyembah api,” mengeluh Simeon, “kini hanya dengan satu atau dua helaan nafas ssaja yang

tersisa, apakah yang harus ku lakukan?”

“Jadilah seorang Muslim,” jawab Hasan.

“Jika engkau memberiku sebuah jaminan tertulis bahwa Allah tidak akan menghukum diriku,” kata Simeon, “Barulah aku menjadi Muslim.

Tanpa jaminan itu aku tidak sudi memeluk agama Islam.”

Hasan segera membuat surat jaminan.

“Kini susullah orang-orang yang jujur di kota Bashrah untuk memberikan kesaksian mereka di atas surat jaminan tersebut. Simeon

mencucurkan air mata dan menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim. Kepada Hasan ia sampaikan wasiatnya yang terakhir, “Setelah aku

mati, mandikanlah aku dengan tanganmu sendiri, kuburkanlah aku dan selipkan surat jaminan ini di tanganku. Surat ini akan menjadi

bukti bahwa aku adalah seorang Muslim.”

Setelah berwasiat demikian ia mengucap dua kalimah syahadat dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mereka memandikan mayat

Simeon, mendhalatkannya dan menguburkannya dengan sebuah surat jaminan di tangannya. Malam harinya Hasan pergi tidur sambil

merenungi apa yang telah dilakukannya itu. “Bagaimana aku dapat menolong seseorang yang sedang tenggelam sedang aku sendiri dalam

keadaan yang serupa. Aku sendiri tidak dapat menentukan nasibku, tetapi mengapa aku berani mematikan apa yang akan dilakukan oleh

Allah?”

Dengan pikiran-pikiran seperti ini Hasan terlena. Ia bermimpi bertemu dengan Simeon, wajah Simeon cerah dan bercahaya seperti sebuah

pelita; di kepalanya terlihat sebuah mahkota. Ia mengenakan sebuah jubah yang indah dan sedang berjalan-jalan di taman surga.

“Bagaimana keadaanmu Simeon?” tanya Hasan kepadanya.

“Mengapakah engkau bertanya padahal engkau menyaksikan sendiri?” jawab Simeon. “Allah Yang Maha Besar dengan segala kemurahan-Nya

telah menghampirkan diriku kepada-Nya dan telah memperlihatkan wajah-Nya kepadaku. Karunia yag dilimpahkan-Nya kepdaku melebihi

segala kata-kata. Engkau telah memberiku sebuah surat jaminan, terimalah kembali surat jaminan ini karena aku tidak membutuhkannya

lagi.”

Ketika Hasan terbangun, ia mendapatkan surat jaminan itu telah berada di tangannya. “Ya Allah,” Hasan berseru, “aku menyadari bahwa

segala sesuatu yng Engkau lakukan adalah tanpa sebab kecuali karena kemurahan-Mu semata. Siapa yang akan tersesat di pintu-Mu?

Engkau telah mengizinkan seseorang yang telh menyembah api tujuh puluh tahun lamanya untuk menghmapiri-Mu, semata-mata karena sebuah

ucapan. Betapakah Engkau akkan menolak seseorang yang telah beriman selama tujuh puluh tahun?”

Malik bin Dinar al-Sami’ Putera seorang budak berbangssa Persia dari Sijistan (Kabul) dan menjadi murid Hasan al-Bashri. Ia

terhitung sebagai ahli Hadits Shahih dan merawikan Hadits dari tokoh-tokoh kepercayan di masa lampau seperti Anas bin Malik dan Ibnu

Sirin.

Malik bin Dinar adalah seorang Kaligrafi al-Qur’an yang terkenal. Ia minggal sekitar tahun 130 H/748 M.

MENGAPA IA DINAMAKAN MALIK BIN DINAR DAN BAGAIMANA IA SAMPAI BERTAUBAT

Ketika Malik dilahirkan, ayahnya adalah seorang budak tetapi Malik adalah seorang yang erdeka. Orang-orang mengishkan bahwa pada

suatu ketika Malik bin Dinar menumpang sebuah perahu. Setelah berada di tengah lautan, awak-awak perahu meminta : “Bayar lah ongkos

perjalananmu!.”

“Aku tak mempunyai uang.” Jawab Malik.

Awak-awak perahu memukulnya hingga ia pingsan. Ketika Malik siuman, mereka meminta lagi :

”Bayarlah ongkos perjalananmu!.”

“Aku tiak mempunyai uang,” jaab Malik sekali lagi, dan untuk kedua kalinya mereka memukulnya hingga pingsan.

Ketika Malik siuman kembali maka untuk ketiga kalinya mereka mendesak.

“Bayarlah ongkos perjalananmu!.”

“Aku tidak mempunyai uang.”

“Marilah kita pegang kedua kakinya dan kita lemparkan dia ke laut,” pelaut-pelaut tersebut berseru.

Saat itu juga semua ikan di laut mendongakkan kepala meraka ke permukaan air dan masing-masing membawa dua keping dinar emas di

mulutnya. Malik menjulurkan tangan, dari mulut seekor ikan diambilnya dua dinar dn uang itu diberikannya kepada awak-awak perahu,

Melihat kejadian ini pelaut-pelaut tersebut segera berlutut. Dengan berjalan di atas air, Malik kemudian meninggalkan perahu

tersbut. Inilah penyebab mengapa ia dinamakan Malik bin Dinar.

Tentang pertaubatan Malik bin Dinar, kisahnya adalah sebagai berikut. Ia adalah seorang lelaki yang sangat tampan, gemar bersenang-

senang dan memiliki harta kekayaan yang berlimpah-limpah. Malik tinggal di Damaskus di mana golongan Mu’amiyah telah membangun

sebuha masjid yang besar dan mewah. Malik ingin sekali diangkat sebagai pengurus masjid tersebut. Maka pergilah ia ke masjid itu. Di

pojok ruangan masjid itu dibentangkannya sajadahnya dan di situlah ia selama setahun terus menerus melakukan ibadah sambil berharap

agar setiap orang akan melihatnya sedang melakukan shalat.

“alangkah munafiknya engkau ini,” ia selalu berkata kepda dirinya sendiri.

Setahun telah berlalu. Apabila hari telah malam. Malik keluar dari masjid itu dan pergi bersenang-senang.

Pada suatu malam ketika ia asedang menikmati musik di kala semua teman-temannya telah tertidur, tiba-tiba dari kecapi yang sedang

dimainkannya terdengar sebuah suara : “Malik, mengapakah engkau belum juga bertaubat?” Mendengar kata-kata yang ssangat menggetarkan

hati ini, Malik segeralmelemparkan kecapinya dan berlari ke masjid.

“Selama setahun penuh akau telah menyembah Allah secara munafiq,” ia berkata kepada dirinya sendiri. “Bukankah lebih baik jika aku

menyembah Allah dengan sepenuh hati? Aku malu. Apakah yag harus ku lakukan? Seandainya orang-orang hendak mengangkatku sebagai

pengurus masjid, aku tidak akan mau menerimanya.” Ia bertekad dan berkhusyuk kepada Allah. Pada malam itulah uantuk pertama kalinya

shalat dengan sepenuh keikhlasan.

Keesokan harinya, seperti biasa, orang-orang berkumpul di depan masjid.

“Hai, lihatlah dinding masjid telah retak-retak,” mereka berseru. “Kita harus mengangkat seorang pengawas untuk memperbaiki masjid

ini.” Maka mereka bersepakat bahwa yang paling tepat menjadi pengawa masjid itu adalah Malik. Segera mereka mendatangi Malik yang

ketika itu sedang shalat. Dengan sabar mereka menunggu Malik menyelesaikan shalat-nya.

“Kami datang untuk memintamu agar sudi menerimma pengangkatan kami ini,” mereka berkata.

“Ya Allah,” seru Malik, “Setahun penuh aku menyembah-Mu seara munafik dan tak seorang pun yang memandang diriku. Kini setelah

diberikan jiwaku kepada-Mu dan bertekad bahwa aku tidak menginginkan pengangkatan atas diriku, Engaku menyuruh dua puluh orang

menghadapku untuk mengalungkan tugas tersebu ke leherku. Demi kebesaran-Mu, aku tidak menginginkan pengangkatan atas diriku ini.”

Malik berlari meninggalkan masjid itu, kemudian menyibukkan diri beribadah kepada Allah, dan menjalani hidup prihatin serta penuh

ddisiplin. Ia menjadi seorang yang terhormat dan saleh. Ketika seorang hartawan kota Bashrah meninggal dunia dan ia meninggalkan

seorang puteri yang cantik, si puteri mendatangi Tsabit al-Bunani untuk memohon pertolongan.

“Aku ingin menjadi istri Malik,” katanya, “sehingga ia dapat menolongku di dalam mematuhi perintah-perintah Allah.”

Keinginan dari dara ini disampaikan Tsabit kepada Malik.

“Aku telah menjatuhkan thalaq kepada dunia,” jawab Malik.

“Wanita itu adalah milik dunia yang telah ku thalaq, karena itu aku tidak adapt menikahinya.”

MALIK DAN TETANGGANYA YANG UGAL-UGALAN

Ada seorang pemuda tetangga Malik, tingkah lakunya sangat berandal dan mengganggu ketentraman. Malik sering terganggu oleh tingkah

laku si pemuda berandal ini, namun dengan sabar ia menunggu agar ada orang lain yang tampil untuk menegur si pemuda tersebut. Tetapi

orang-orang menghadap Malik dengan keluhan-keluhan mereka terhadap si pemuda. Maka pergilah Malik mendatangi pemuda itu dan meminta

agar ia merubah tingkah lakunya.

Dengan bandel dan seenaknya sei pemuda menjawab : “Aku adalah kesayangan sultan dan tidak seorang pun dapat melarang atau mencegahku

untuk berbuat sekehendak hatiku.”

“Aku akan mengadu kepada sultan,” Malik mengancam.

“Sultan tidak akan mencela diriku,” jawab di pemuda. “Apa pun yang ku lakukan, sultan akan menyukainya.”

“Baiklah, jika sultan tidak dapat berbuat apa-apa,” Malik meneruskan ancamannya, “aku akan mengadu kepada Yang Maha Pengasih,”

sambil menunjuk ke atas.

“Allah?”, jawab si pemuda. “Ia terlampau Pengasih untuk menghukum diri ku ini.”

Jawaban ini membuat Malik bungkam, tak dapat mengatakan apa-apa. Si pemuda ditinggalkannya. Beberapa hari berlalu dan tingkah si

pemuda benar-benar telah melampaui batas. Sekali lagi Malik pergi untuk menegus si pemuda, tetapi di tengah perjalanan Malik

mendengar seruan yang ditujukan kepadanya :

“Jangan engkau sentuh sahabt-Ku itu!.”

Masih dalam keadaan terkejut dan gemetar Malik menjumpai si pemuda.

Melihat kedatangan Malik, si pemuda menyentak : “Apa pulakah yang telah terjadi sehingga engkau datan ke sini untuk ke dua kalinya?”

Malik menjawab : “Kali ini aku datang bukan untuk mencela tingkah lakumu. Aku datang semata-mata untuk menyampaikan kepadamu bahwa

aku teah mendengar seruan yang mengatakan .....”

Si pemuda berseru : “Wahi! Kalau begitu halnya, maka gedung ku ini akan kujadikan sebagai tempat untuk beribadah kepada-Nya. Aku

tidak perduli lagi dengan semua harta kekayaan ku ini.”

Setelah berkata demikian ia pun pergi dan meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya dan memulai pengembaraan di atas dunia ini.

Malik mengisahkan bahwa beberapa lama kemudian di kota Mekkah ia bersua dengan pemuda tersebut dalam keadaan terlunta-lunta

menjelang akhir hayatnya.

“Ia adalah sahabatku” si pemuda berkata dengan terengah-engah. “Aku akan menemui sahabtku.” Setelah berrkata demikian ia lalu

menghembuskan nafasnya yang terakhir.

MALIK DAN HIDUP BERPANTANGNYA

Telah bertahun-tahun bibir malik tidak dilewati makanan yang manis maupun yang asam. Setiap malam ia pergi ke tukang roti dan

membeli dua potong roti untuk membuka puasanya. Kadan-kadang roti yang dibelinya itu masih terasa hangat; dan ini menghibur hatinya

dan dianggapnya sebagai perangssang selera.

Pada suatu hari Malik jatuh sakit dan ia sangat ingin memakan daging. Sepuluh hari lamanya keinginan itu dapat ditndasnya. Swaktu ia

tidak dapat bertahan lebih lama lagi, maka pergilah ia ke toko makanan untuk membeli dua tiga potong kaki domba dan menyembunyikan

kaki domba tersebut di lengan bajunya.

Si pemilik toko menyuruh seorang pelayannya membuntuti Malik untuk menyelidiki apa yang hendak dilakukannya. Tidak berapa lama

kemudian si pelayan kembali dengan air mata berrlinang. Si pelayan memberikan laporannya :  “Dari sini ia pergi ke sebua tepat yang

sepi. Di tempat itu dikeluarkannya kaki-kai domba itu, diciumnya dan ia berkata kepada dirinya sendiri. “Lebih dari pada ini

bukanlah hakmu.” Kemudian diberikannya roti dan kaki-kai domba terebut kepada seorang pengemis. Kemudian ia berkata pula kepada

dirinya sendiri : “Wahai jasmani yang lemah, jangan kau sangka bahwa aku menyakitimu karena benci kepadamu. Hal ini ku lakukan agar

pada hari Berbangkit nanti, engkau tidak dibakar di dlam api neraka. Bersabarlah beberapa hari lagi, karena pada saat itu godaan ini

mungkin terlah berhenti dan engka akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi.”

Pada suatu ketika Malik bin Dinar berkata : “Aku tidak mengerti apakah maksudnya ucapan : “bila seseorang tidak memakan daging 

selama empat puluh hari maka kecerdasan akalnya akan berkurang! Aku sendiri tidak pernah makan daging selama dua puluh tahun, tetapi

kian lama kecerdasan akalku makin bertambah juga.”

Selama empat puluh tahun Malik tinggal di kota Bashrah dan selama itu pula ia tidak pernah memakan buah korma yang segar. Apabila

musim korma tiba, ia berkata : Wahai penduduk kota Bashrah,  saksikanlah betapa perutku tidak menjadi kempis karena tidak memakan

buah korma dan betapa perut kalian tidak gembung karena setiap hari memakan buah korma.”

Namun setelah empat puluh tahun lamanya, batinnya diserang kegelisahan. Betapapun usahanya namun keinginannya untuk memakan buah

korma segar tidak dapat ditindasnya lagi. Akhirnya setelah beberapa hari berlalu, keinginan tersebut kian menjadi-jadi walaupun tak

pernah di kabulkannya, dan Malik akhirnya tak berdaya untuk menolak desakan nafsu itu.

“aku tidak mau memakan buah korma,” ia menyangkal keinginannya sendiri.” Lebih baik aku di bunuh atau mati.”

Malam itu terdengarlah suara yang berrkata : “Engkau harus memakan buah korma. Bebaskan jasmanimu dari kungkungan,”

Mendengar suara ini jasmaninya yang merasa memperoleh kesempatan itu mulai menjerit-jerit.

“Jika engkau menginginkan buah kurma,” Malik menyentak, “Berpuasalah terus menerus selama satu minggu dan shlat-lah sepanjang malam,

setelah itu barulah akan kuberikan buah kurma kepada mu.”

Ucapan ini membuat jasmaninya senang. Dan seminggu penuh ia shalat sepanjang malam dan berpuasa setiap hari. Setelah itu ia pergi ke

pasar, membeli beberapa buah korma, kemudian pergi ke masjid untuk memakan buah korma tersebut di atas.

Tetapi dari loteng sebuah rumah, seorang bocah berseru : “Ayah! Seorang Yahudi membeli korma dan hendak memakannya di dalam masjid.”

“Apa pula ayng hendak dilakukan Yahudi itu di dalam masjid?” si ayah menggerutu dan begegas untuk melihat siapakah Yahudi yang

dimaksud anaknya itu. Tetapi begitu melihat Malik, ia lantas berlutut.

‘Apakah artinya kata-kata yang diucapkan anak itu?” Malik mendesak.

“Maafkan lah ia guru,” si ayah memohon, “Ia masih anak-anak dan tidak mengerti. Di sekitar ini banyak orang-orang Yahudi. Kami

selalu berpuasa dan anak-anak kami menyaksikan beberapa orang-orang Yahudi makan di siang hari. Oleh karena itu mereka berpendapat

bahwa setiap orang yang makan di siang hari adalah seorang Yahudi. Apa-apa yang telah diucapkannya, adalah karena kebodohannya.

Maafkan lah dia.”

Mendengar penjelasan tersebut Malik sangat mmenyesal. Ia menyadari bahwa anak itu telah di dorong Allah untuk mengucapkan kata-kata

itu.

“Ya Allah,” seru Malik, “sebuah korma pun belum sempat ku makan dan Engkau menyebutku Yahudi melalui lidah seorrang anak yang tak

berdosa. Seandainya korma-korma ini sempat termakan oleh ku niscaya Engkau akan menyatakan diriku sebagai seorang kafir. Demi

kebesaran-Mu aku bersumpah tidak akan memakan buah korma untuk selama-lamanya.

KISAH HABIB SI ORANG PARSI

Semula Habib adalah seorang yang kaya raya dan suka membanggakan uang. Ia tinggal di kota Bashrah, dan setiap hari berkeliling kota

untuk menagih piutang-piutangnya. Jika tidak memperoleh angsuran dari langganannya, maka ia akan menuntut uang ganti rugi dengan

dalih alas sepatunya yang menjadi aus di perjalanan. Dengan cara seperti inilah Habib menutupi biaya hidupnya sehari-hari.

Pada suatu hari Habib pergi ke rumah seorang yang berhutang kepadanya. Namun yang hendak ditemuinya sedang tak ada di rumah. Maka

Habib meminta ganti rugi kepada isteri orang tersebut.

“Suamiku tak ada di rumah,” isteri orang yang berhutang itu berkata kepadanya, “aku tak mempunyai sesuatu pun untuk diberikan

kepadamu tetapi kami ada menyembelih seekor domba dan lehernya masih tersisa, jika engkau suka akan kuberikan kepada mu.”

“Bolehlah!” si lintah dara menjawab. Ia berpikir bahwa setidaknya ia dapat mengambil leher domba tersebut dan membawanya pulang.

“Masaklah!.”

“Aku tak mempunyai roti dan minyak,” si wanita menjawab.

“Baiklah,” si lintah darat menjawab, “aku akan mengambil minyak dan roti, tapi untuk semua itu engkau harus membayar ganti rugi

pula.” Lalu ia pun pergi untuk mengambil minyak dan roti.

Kemudian si wanita segera memasaknya di dalam belanga. Setelah masak dan hendak dituangkan ke dalam mangkuk, seorang pengemis datang

mengetuk pintu.

“Jika yang kammi miliki kami berikan kepadamu,” Habib mendamprat si pengemis, “engkau tidak akan menjadi kaya, tetapi kami sendiri

akan menjadi miskin.”

Si pengemis yang kecewa memohon kepda si wanita agar ia sudi memberikan sekedar makanan kepadanya. Si wanita segera membuka tutup

belanga, ternyata semua isinya telah berubah menjadi darah hitam. Melihat ini, wajhnya menjadi pusat pasi. Segera ia mendapatkan

Habib dan menarik lengannya untuk memperlihatkan isi belanga itu kepadanya.

“Saksikanlah apa yang telah meimpa diri kita karena ribamu yang terkutuk dan hardikanmu kepada si pengemis!.” Si wanita menangis.

“Apakah yang akan terjadi atas diri kita di atas dunia ini? Apa pula di akhirat nanti.”

Melhat kejadian ini dada Habib terbakar oleh api penyesalan. Penyesalan yang tidak akan pernah mereda seumur hidupnya.

Wahai wanita! Aku menyesalkan segala perbuatan yang telah ku lakukan.

Keesokan harinnya Habib berangkat pula untuk menemui orang-orang yang berhutang kepadanya. Kebetulan sekali hari itu adalah hari

jum’at dan anak-anak bermain di jalanan. Ketika melihat Habib, mereka berteriak-teriak : “Lihat, Habib lintah darat sedang menuju ke

sini, ayo kita lari, kalau tidak niscaya debu-edbu tubuhnya akan menempel di tubuh kita dan kita akan terkutuk pula seperti dia!”

Seruan-seruan ini sangat melukai hati Habib. Kemudian ia pergi ke gedung pertemuan dan di sana terdengarlah olehnya ucapan-ucapan

itu bagaikan menusuk-nusuk jantunggnya sehingga akhirnya ia jatuh terkulai.

Habib bertaubat kepada Allah dari segala perbuatan yang telah dilakukannya, setelah menyadari apa sebenarnya yang terjadi, Hasan

al-Bashri daDi waktu yang sudah-sudah engkaulah yang menghindar dariku, tetapi sejak ssaat ini akulah yang harus menghindar darimu.”

Habib eneruskan perjalanannya, anak-anak masih juga bermain-main di jalan. Melihat Habib, mereka segera berteriak “Lihat Haib yang

telah bertaubat sedang menuju ke mari. Ayolah kita lari! Jika tidak, niscaya debu-debu di tubuh kita akan menempel di tubuhnya

sedangkan kita adalah orang-orang yang telah berdosa kepada Allah.”

“Ya Allah ya Tuhan ku!,” seru Habib. “Baru saja aku membuat perdamaian dengan-Mu, dan Engkau telah menabuh genderang-genderang di

dalam hati manusia untuk diriku dan telah mengumandangkan namaku di dalam keharuman.”

Kemudian Habib membuat sebuah pengumuman yang berbunyi : “Kepada siapa saja yang menginginkan harta benda milik Habib, datanglah dan

ambillah!.”

Orang-orang datang berbondong-bondong, Habib memberikan segala harta kekayaannya kepda mereka dan akhirnya ia tak mempunyai sesuatu

pun juga. Namun masih ada seseorrang yang datang untuk meminta, kepada orang ini Habib memberikan cadar isterinya sendiri. Kemudian

datang pula seorang lagi dan kepadanya Habib memberikan pakaian yang sedang dikenakannya, sehingga tubuhnya terbuka. Dan ia lalu

pergi menyepi ke sebuah pertapaan di pinggir sungai Euphrat, dan di sana ia membaktikan diri untuk beribadah kepada Allah. Siang

malam ia belajar di bawah  bimbingan Hasan namun betapa pun juga ia tidak dapat menghapal al-Quran, dan karena itulah ia dijuluki

‘ajami si orang Barbar.

Waktu berlalu, Habib sudah benar-benar dalam keadaan papa, tetapi isterinya masih tetap mennuntut biaya rumah tangga kepadanya. Maka

pergilah Habib meninggalkan rumahnya menuju tempat pertapaan untuk melakukan kebaktiannya kepada Allah dan apabila mala tiba barulah

ia pulang.

“Ddi mana sebenarnya engkau bekerja sehingga tak ada sesuatu pun yang engkau bawa pulang? “Isterinya mendesak.

“Aku bekerja pada seseorang yang sangat Pemurah,” jawab Habib. “Sedemikian Pemurahnya Ia sehingga aku malu meminta sesuatu kepada-

Nya,  apabila saatnya nanti pasti ia akan memberi, karena seperti apa katanya sendiri : “Sepuluh hari sekali aku akan mambayar

upahmu,”.

Demikianlah setiap hari Habib pergi ke pertapaannya untuk beribadah kepada Allah. Pada waktu shalat Zhuhur di hari yang ke sepuluh,

sebuah pikiran mengusik batinnya. “Apakah yang akan ku bawa pulang malam nanti? Apakah yang harus ku katakan kepada isteriku?”

Lama ia termenung di dalam perenungannya  itu. Tanpa sepengetahuannya Allah Yang Maha Besar telah mengutus pesuruh-pesuruh-Nya ke

rumah Habib. Yang seorang membawakan gandum se pemikil keledai, yang lain membawa seekor domba yang telah dikuliti, dan yang

terakhir membawa minyak madu, rempah-rempah da bumbu-bumbu. Semua itu mereka pikul disertai seorang pemuda gagah yang membawa sebuah

kantong berisi 300 dirham perak. Sesampainya di rumah Habib, si pemuda mengetuk pintu.

:apakah maksud kalian datang ke mari?” tanya iseri Habib setelah membukakan pintu.

“Majikan kami telah menyuruh kami untuk mengantarkan barang-barang ini,” pemuda gagah itu menjawab, “sampaikanlah kepada Habib :

“Bila engkau melipat gandakan jerih payahmu maka Kami akan melipatgandakan upahmu,”. Setelah berkata demikian mereka berlalu.

Setelah matahari terbenam Habib berjalan pulang, ia merasa malu dan sedih. Ketika hampir sampai ke rumah, terciumlah olehnya bau

roti dan msakan-masakan. Dengan berlari isterinya datang menyambut, menghapus keringat di wajahnya dan bersikap lembut kepadanya,

sesuatu yang tak pernah dilakukannya di waktu yang sudah-sudah.

“Wahai suamiku,” si iteri berkata, “majikanmu adalah seorang yang sangat baik dan pengasih. Lihatlah sgala sesuatu yang telah

dikirimkannya kemari melalui seorang pemuda yang gagah dan tampan. Pemuda itu berpesan :”Bila Habib pulang, katakanlah kepadanya,

bila engkau melipatgandakan jerihpayahmu maka Kami akan melipatgandakan upahmu.”

Habib terheran-heran.

“Sungguh menakjubkan! Baru sepuluh hari aku bekerja, sudah sedmikian banyak imbalan yang dilimpahkan-Nya kepadaku, apa pulalah yang

akan dilimpahkan-Nya nanti?”

Sejak saat itu Habib memalingkan wajahnya dari segala urusan dunia dan membaktikan dirinya untuk Allah semata-mata.

KEAJAIBAN-KEAJAIBAN HABIB

Pada suatu hari seorang wanita tua datang kepada Habib, merebahkan dirinya di depan Habib dengan sangat memelas hati.

:Aku mempunyai seorang  putera yang telah lama pergi meninggalkan ku. Aku tidak sanggup lebih lama lagi terpisah dariapdanya,

berdoalah kepada Allah,” mohonnya kepada Habib. “Semoga berkat doamu, Allah mengembalikan puteraku itu kepada ku.”

“adakah engkau memiliki uang?” tanya Habib kepada wanita tua itu.

“Aku mempunyai dua dirham,” jawabnya.

“Berikanlah uang tersebut kepada orang-orang miskin!.”

Kemudian Habib membaca sebuah doa lalu ia berkata kepada wanita itu : “Pulanglah, puteramu telah kembali.”

Belum lagi wanita itu sampai ke rumah, dilihatnya sang putera telah ada dan sedang menantikannya.

“Wahai! Anak ku telah kembali!” wanita itu berseru. Kemudian dibawanya puteranya itu menghadap Habib.

“Apakah yang telah engkau alami?” tanya Habib kepada putera wanita itu.

“Aku sedang berada di Kirmani, guruku menyuruhku membeli daging. Ketika daging itu teah ku beli dan aku hendak pulang ke guruku,

tiba-tiba bertiuplah angin kencang, tubuhku terbawa terbang dan terdengar oleh ku sebuah suara yang berkata : “Wahai angin, demi doa

Habib dan dua dirham yang telah disedekahkan kepada orang-orang miskin, pulangkanlah ia ke rumahnya sendiri.

ooooOOOOoooo

Pada yanggal 8 Zulhijjah, Habib kelihatan di kota Bashrah dan pada keesokan harinya di Padang Arafah. Di waktu yang lain, bencana

kelaparan melanda kota Bashrah. Karena itu, dengan berhutang Habib membeli banyak bahan-bahan pangan dan menbagi-bagikannya kepada

orang-orang miskin. Setiap hari Habib menggulung kantong uangnya dan menaruhnya di bawah lantai. Apabila para pedagang datang untuk

menagih hutang, barulah kantong itu dikeluarkannya. Sungguh ajaib, ternyata kantong  itu sudah penuh dengan kepingan-kepingan

dirham. Dari situ dilunasinya semua hutang-hutangnya.

ooooOOOOoooo

Rumah Habib terletak di sebuah persimpangan jalan di kota Bashrah. Ia mempunyai sebuah mantel bulu yang selalu dipakainya baik di

musim panas maupun di musim dingin. Sekali peristiwa, ketika Habib hendak bersuci, mantel itu dilepaskannya dan dengan seenaknya

dilemparkannya ke atas tanah.

Tidak berapa lama kemudian Hasan al-Bashri lewat di tempat itu. Melihat mantel Habib yang tergeletak di atas jalan, ia bergumam :

“Dasar Habib seorang Barbar, tak peduli berapa harga mantel bulu ini! Mantel yang seperti ini tidak boleh dibiarkan saja di tempat

ini, bisa-bisa hilang nanti.”

Hasan berdiri di tempat itu,” untuk menjaga mantel tersebut. Tidak lama kemudian Habib pun kembali.

“Wahai, imam kaum Muslimin,” Habib menegus Hasan setelah memberi salam kepadanya, “Mengapakah engkau berdiri di sini?”

“Tahukah engkau bahwa mantel seperti ini tidak boleh ditinggalkan di tempat begini? Bisa-bisa hilang. Katakan, kepada siapakah

engkau menitikan mantel ini?”

“Ku titipkan kepada Dia, yang selanjutnya menitipkannya kepada mu,” jawab Habib.

Pada suatu hari Hasan berkunjung ke rumah Habib. Kepadanya Habib menyuguhkan dua potong roti gandum dan sedikit garam. Hasan sudah

bersiap-siap hendak menyantap hidangan itu, tetapi seorang pengemis datang dan Habib menyerahkan kedua potong roti beserta garam itu

kepadanya.

Hasan terheran-heran lalu berkata : “Habib, engkau memang seorang manusia budiman. Tetapi alangkah baiknya seandainya engkau

memiliki sedikit pengetahuan. Engkau mengambil roti yang telah engkau suguhkan ke ujung hidung tamu lalu memberikan semuanya kepada

seoang pengemis. Seharusnya engkau memberikan sebagian kepada si pengemis dan sebagian lagi kepada tamu mu.”

Habib tidak memberikan jawaban.

Tidak lama kemudian seorang budak datang sambil menjunjung sebuah nampan. Di atas nampan tersebut ada daging domba panggang,

panganan yang manis-manis dan uang limaratus dirham perak. Si budak menyerahkan nampan tersebut ke hdapan Habib. Kemudian Habib

membagi-bagikan uang tersebut kepada orang-orang miskin dan menempatkan nampan tersebut di samping Hasan.

Ketika Hasan mengenyam daging panggang itu, Habib berkata kepadanya : “Guru, engkau adalah seorang manusia budiman, tetapi alangkah

baiknya seandainya engkau memiliki sedikit keyakinan. Pengetahuan harus disertai dengan keyakinan.

oooOOOOooo

Pada suatu hari ketika perwira-perwira Hajjaj mencari-cari Hasan, ia sedang bersembunyi di dalam pertapaan Habib.

“Apakah engkau telah melihat Hasan pada hari ini?” tanya mereka kepada Habib.

“Ya, aku telah melihatnya,” jawab Habib.

“Di manakah Hasan pada saat ini?”

“Di dalam pertapaan ini.”

Para perwira tersebut memasuki pertapaan Habib dan mengadakan penggeledahan, namun mereka tidak berhasil menemukan Hasan.

“Tujuh kai tubuhku tersentuh oleh mereka.” Hasan mengisahkan,” namun mereka tidak melihat diriku.”

Ketika hendak meninggalkan pertapaan itu Hasan mencela Habib “ “Habib, engkau adalah seorang murid yang tidak berbakti kepada guru.

Engkau telah menunjukan tempat persembunyianku.”

“Guru, karena aku berterusterang itulah engkau dapat selamat. Jika tadi aku berdusta, niscaya kita berdua sama-sama tertangkap.”

“Ayat-ayat apakah yang telah engkau bacakan sehingga mereka tidak melihat diriku?”, tanya Hasan.

“Aku membaca Ayat Kursi sepuluh kali, Rasul Beriman sepuluh kali, dan Katakanlah Allah itu Esa, sepuluh kali. Setelah itu aku

berkata : “Ya Allah, telah kutitipkan Hasan kepada-Mu dan oleh arena itu jagalah dia.”

ooooOOOOoooo

Suatu ketika Hasan ingin pergi ke suatu tempat. Ia lalu menyusuri tebing-tebing sungai Tigris sambil merenung-renung. Tiba-tiba

Habib muncul di tempat itu.

“Imam, mengapa engkau berada di sisi?”, habib bertanya.

“Aku ingin pergi ke suatu tempat namun perahu belum juga tiba,” jawab Hasan.

“Guru, apakah yang telah terjadi terhadap dirimu? Aku telah memperlajari segala hal yang ku ketahui dari dirimu. Buanglah rasa iri

kepada orang-orang lain dari dalam dadamu. Tutuplah matamu dari kesenangan-kesenangan dunia. Sadarilah bahwa penderitaan adalah

sebuah karunia yang sangat berharga dan sadarilah bahwa segala urusan berpulang kepada Allah semata-mata. Setelah itu turunlah dan

berjalanlah di atas air.”

Selesai berkata demikian Habib menginjakkan kaki ke permukaan air dan meninggalkan tempat itu. Melihat kejadian ini, Hasan measa

pusing dan jatuh pingsn. Ketia ia siuman orang-orang bertanya kepadanya : “Wahai imam kaum Muslim, apakah yang telah terjadi

terhadap dirimu?”

“Baru saja muridku Habib mencela diriku; setelah itu ia berjalan di atas air dan meninggalkan diriku sedang aku tidak dapat berbuat

apa-apa. Jika di akhirat nanti sebuah suara menyerukan : “Laluilah jalan yang berada di atas api yang menyala-nyala’ sedang hatiku

masih lemah seperti sekarang ini, apakah dayaku?”

Di kemudian hari Hasan bertanya kepda Habib : “Habib, bagaimana engkau mendapatkan kesaktian-kesaktian itu?”

Habib menjawab :”Dengan memutihkan hatiku sementara engkau menghitamkan kertas.”

Hasan berkata : “ Pengetahuan ku tidak memberi manfaat kepada diriku sendiri, tetapi kepada orang lain.

RABI’AH, LAHIR DAN MASA KANAK-KANAK-NYA

Jika seorang bertanya :”Mengapaa engkau mensejajajrkan Rabi’ah dengan kaum lelaki?”, maka jawabanku adalah bahwa Nabi sendiri pernah

berkata : “Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa kamu” dan yang menjadi masalah bukanlah bentuk, tetapi niat seperti yang

dikatakan Nabi, “Manusia-manusia akan dimuliakan sesuai dengan niat di dalam hati mereka.” Selanjutnya, apabila kita boleh menerima

dua pertiga ajaran agama dari “Aisyah”, maka sudah tentu kita boleh pula menerima petunjuk-petunjuk agama dari pelayan pribadinya

itu. Apabila seorang perempuan berubah menjadi “seorang laki-laki” pada jalan Allah, maka ia adalah sejajar dengan kaum laki-laki

dan kita tidak dapat menyebutnya sebagai seorang perempuan lagi.

Pada mala  Rabi’ah dilahirkan ke atas dunia, tidak ada sesuatu barang berharga yang dapat ditemukan di dalam rumah orang tuanya,

karena ayahnya adalah seorang yang sangat  miskin. Si ayah bahkan tidak mempunyai minyak barang setetes pun untuk pemoles pusar

puerinya itu. Mereka tidak mempunyai lampu dan tidakmempunyai kain untuk menyelimuti Rabi’ah, Si ayah telah memperoleh tiga orang

puteri dan Rabi’ah adalah puterinya yang keempat. Itulah sebabnya mengapa ia dinamakan Rabi’ah.

“Pergilah kepada tetangga kita si anu dan mintalah sedikit minyak sehingga aku dapat menyalakan lampu” isterinya berkata kepadanya.

Tetapi si suami telah bersumpah bahwa ia tidak akan meminta sesuatu jua pun dari manusia lain. Maka pergilah ia, pura-pura

menyentuhkan tangannya ke pintu rumah tetangga tersebut lalu kembali lagi ke rumahnya.

“Mereka tidak mau membukakan pintu,” ia melaporkannya kepada isterinya sesampainya di rumah.

Isterinya yang malang menangis sedih. Dalam keadaan yang serba memprihatinkan itu si suami hanya dapat menekurkan kepada ke atas

lutut dan terlena. Di dalam tidurnya ia bermimpi melihat Nabi.

Nabi membujunya : “janganlah engkau bersedih, karena bayi perempuan yang beru dilahirkan itu adalah ratu kaum wanita dan akan

menjadi penengah bagi 70 ribu orang  di antara kaum ku.” Kemudian nabi meneruskan : “Besok, pergilah engkau menghadap ‘Isa as-Zadan,

Gubernur Bashrah. Di atas sehelai kertas, tuliskan kata berikut ini : “Setiap malam engkau mengirimkan shalawat seratus kali

kepadaku, dan setiap malam jum’at empat ratus kali. Kemarin adalah malam Jum’at tetapi engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus

kelalaianmu itu berikanlah kepda orang ini empat ratus dinar yang telah engkau peroleh secara halal.”

Ketika terjaga dari tidurnya, ayah Rabi’ah mengucurkan air mata. Ia pun bangkit dan menulis seperti yang telah dipesankan Nabi

kepadanya dan mengirimkannya kepada Gubernur melalui pengurus rumah tangga istana.

”Berikanlah dua ribu dinar kepada orag-orang miskin,” Gubernur memberikan perintah setelah membaca surat tersebut, “Sebagai tanda

syukur karena Nabi masih ingat kepadaku. Kemudian berikan empat ratus dinar kepada si Syaikh dan katakan kepadanya : “Aku harap

engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihat wajahmu. Namun, tidaklah pantas bagi seorang seperti kamu untuk datang  menghadap

ku. Lebih baik seandainya aku lah yang datang dan menyeka pintu rumahmu dengan janggut ku ini. Walaupun demikian, demi Allah, aku

bermohon kepadamu, apa pun yang engkau butuhkan katakanlah kepdaku.”

Ayah Rabi’ah menerimma uang emas tersebut dan membeli sesuatu yagn di rasa perlu.

Ketika Rabi’ah menanjak besar, sedang ayah bundanya telah meninggal dunia, bencana kelaparan melanda kota Bashrah, dan ia terpisah

dari kakak-kakak perempuannya. Suatu hari ketika Rabi’ah keluar rumah, ia terlihat oleh seorang penjahat yang segera menangkapnya

kemudian menjualnya dengan harga enam dirham. Orang yang membeli dirinya menuruh Rabi’ah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat.

Pada suatu hari ketika ia bejalan-jalan seseorang yang tak dikenal datang menhampirinya. Rabi’ah melarikan diri, tiba-tiba ia

terjatuh tergelincir sehingga tangannya terkilir.

Rabi’ah menangis sambil mengantuk-atukan kepalanya ke tanah : “Ya Allah, aku adalah seorang asing di negeri ini, tidak mempunyai

ayah bunda, seorang tawanan yang tak berdaya, sedang tangan ku cedera. Namun semua itu tidak membuat ku bersedih hati. Satu-satunya

yang ku hrapkan adalah dapat memenuhi kehendak-Mu dan mengetahui apakah Engkau berkenan atau tidak.”

“Rabi’ah, janganlah engkau berduka,” sebuah suara berkata kepadanya. “Esok lusa engkau akan dimuliakan sehingga malaikat –malaikat

iri kepada mu.”

Rabi’ah kembali ke rumah tuannya. Di siang hari ia terus berpuasa dan mengabdi kepada Allah, sedangkan di malam hari ia berdoa

kepada Allah sambil terus berdiri sepanjang malam.

Pada suatu malam tuannya terjaga dari tidur, dan lewat jendela telihat olehnya Rabi’ah sedang bersujud dan berdoa kepada Allah.

“YA Allah, Engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah untuk dapat memenuhi perintah-Mu dan mengabdi kepada-Mu. Jika aku dapat mengubah

nasib diriku ini, niscaya aku tidak akan beristirahat barang sebentar pun dari mengabdi kepada-Mu. Tetapi Engkau telah menyerahkan

diriku ke bawah kekuasaan seorang hamba-Mu.” Demikianlah kata-kata yang diucapkan Rabi’ah di dalam doanya itu.

Dengan mata kepalanya sendiri si majikan menyaksikan betapa sebuah lentera tanpa rantai tergantung di atas kepada Rabi’ah sedang

cahayanya menerangi seluruh rumah. Menyaksikan peristiwa ini, ia merasa takut. Ia lalu beranjak ke kamar tidurnya dan duduk merenung

hingga fajar tiba. Ketika hari telah terang ia memanggil Rabi’ah, bersikap lembut kepadanya kemudian membebaskannya.

“Izinkanlah aku pergi,” Rabi’ah berkata.

Tuannya memberikan ijin. Rabi’ah lalu meninggalkan rumah tuannya menuju padang pasir mengadakan perjalanan menuju sebuah pertapaan

di mana ia untuk beberapa lama lmembaktikan diri kepada Allah. Kemudian ia berniat hendak menunaikan ibadah Haji. Maka berangkatlah

ia menempuh padang pasir kembali. Barang-barang miliknya dibuntalnya di atas punggung keledai. Tetapi begitu sampai di tengah-tengah

padang pasir, keledai itu mati.

“Biarlah kami yang membawa barang-barangmu,” lelaki-lelaki di dalam rombongan itu menawarkan jasa mereka.

“Tidak! Teruskanlah berjalan kalian,” jawab Rabi’ah. “Bukan tujuanku untuk menjadi beban kalian.”

Rombongan itu meneruskan perjalanan dan meninggalkan Rabi’ah seorang diri.

“Ya Allah,” Rabi’ah berseru sambil menengadahkan kepala. “Demikiankah caranya raja-raja memperlakukan seorang wanita yang tak

berdaya di temepat yang masih asing lbaginya? Engkau telah memanggilku ke rumah-Mu, tetapi di tengah perjalanan Engkau membunuh

keledaiku dan meninggalkan ku sebatanggkara di tengah-tengah padang pasi ini.

Beum lagi Rabi’ah selesai dengan kata-katanya ini, tanpa diduga keledai itu bergerak berdiri. Rabi’ah meletakkan barang-barangnya ke

atas punggung binatang itu dan melanjutkan perjalanannya. (Tokoh yang meriwayatkan kisah ini mengatakan bahwa tidak berapa lama

setelah peristiwa itu, ia melihat keledai kecil tersebut sedang  dijual orang di pasar).

Beberapa hari lamanya Rabi’ah meneruskan perjalanannya menempuh padang pasir, sebelum ia berhenti, ia berseru kepada Allah : YA

Allah, aku sudah letih. Ke arah manakah yang harus ku tuju? Aku ini hanyalah segumpal tanah sedang rumah Mu terbuat dari batu. Ya

Allah, aku bermohon kepadamu, tunjukanlah diri-Mu.

Alalh berkata ke dalam hati sanubari Rabi’ah : Rabi’ah, engkau sedang berada di atas sumber kehidupan delapan belas ribu dunia.

Tidakkah engkau ingat betapa Musa telah bermohon untuk melihat wajah-Ku dan gunung-gunug terpecah-pecah menjadi empat puluh keping.

Karena itu merasa cukuplah engkau dengan nama Ku saja!.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI RABI’AH

Pada suatu malam ketika Rabi’ah sedang shalat di sebuah pertapaan, ia merasa sangat letih sehingga ia jatuh tertidur. Sedemikian

nyanyak tidurnya sehingga ketika matanya berdarah tertusuk alang-alang dari tikar yang ditidurinya, ia sama sekali tidak

menyadarinya.

Seorang maling masuk menyelinap ke dalam pertapaan itu dan mengambil cadar Rabi’ah. Ketika hendak menyingkir dari tempat itu

didapatinya bahwa jalan keluar telah tertutup, Dilepaskannya cadar itu dan ditinggalkannya tempat itu dan ternyata jalan ke luar

telah terbuka kembali. Cadar Rabi’ah diambilnya lagi, tetapi jalan keluar tertutup kembali. Sekali lagi dilepaskanya cadar itu.

Tujuh kali perbuatan seperti itu diulanginya. Kemudian terdengarlah olehnya sebuah suara dari pojok pertapaan itu.

“Hai manusia, tida gunanya engkau mencoba-coba. “Sduah bertahun-tahun Rabi’ah mengabdi kepda Kami. Syaithan sendiri tidak berani

datang menghampirinya. Etapi betapakah seorang maling memiliki keberanian hendak mencuri cadarnya? Pergilah dari sini hai manusia

jahanam! Tiada gunanegkau mencoba-coba lagi. Jika seorang sahabt sedang tertidur, maka sang Sahabat bangun dan berjaga-jaga.”

ooooOOOOoooo

Dua orang pemuka agama datang mengunjungi Rabi’ah dan keduanya merasa lapar. “Mudah-mudahan Rabi’ah akan menyuguhkan makanan kepada

kita.” Mereka berkata. “Makanan yang disuguhkan Rabi’ah pasti diperolehnya secara halal.”

Ketika mereka duduk, di depan mereka telh terhampar serbet dan di atasnya ada dua potong roti. Melihat hal ini mereka sangat

gembira. Tetapi saat itu pula seorang pengemis datang dan Rabi’ah memberikan kedua potong roti itu kepadanya. Kedua pemuka agama itu

sangat kecewa, namun mereka tidak berkata apa-apa. Tak berapa lama kemudian masuklah seorangpelayan wanita membawakan beberpa buah

roti yang masih panas.

“Majikan ku teleh menyuruhku untuk mengantarkan roti-roti ini kepadamu,” si pelayan menjelaskan.

Rabi’ah menghitung roti-roti tersebut. Semua berjumlah delapan belas buah.

“Mungin sekali roti-roti ini bukan untuk ku,” Rabi’ah berkata.

Sipelayan berusaha meyakinkan Rabi’ah namun percuma saja. Akhirnya roti-roti itu dibawanya kembali. Sebenarnya yang telah terjadi

adalah bahwa pelayanan itu telah mengmbil dua potong untuk dirinya sendiri. Kepada nyonya majikannya ia meminta dua potong roti lagi

kemudian kembali ke tempat Rabi’ah. Roti-roti itu dihitung oleh Rabi’ah, ternyta semuanya ada dua puluh buah dan setelah itu barulah

iamenerimanya.

“Roti-roti ini memang telah dikirmkan majikanmu untuk ku?” kata Rabi’ah.

Kemudian Rabi’ah menyuguhkan roti-roti tersebut kepada kedua tamunya tadi. Keduanya makan namun masih dalam keadaan terheran-heran.

“Apakah rahasia di balik emua ini?” mereka bertanya kepada Rabi’ah. “Kami ingin memakan rotimu sendiri tetapi engkau memberikannya

kepada seorang pengemis. Kemudian engkau mengatakan kepada si pelayan tadi bahwa ke delapan belas roti itu bukanlah dimaksudkan

untuk mu. Tetapi kemudian keetika semuanya berjumlah dua puluh buah barulah engkau mau menerimanya.”

Rabi’ahmenjawab : “Sewaktu kalian datang, aku tahu bahwa kalian sedang lapar. Aku berkata kepada diriku sendiri, betapa aku tega

untuk menyuguhkan dua potong roti kepada dua orang pemuka yang terhormat? Itulah sebabnya mengapa ketika si pengemis tadi datang,

aku segera memberikan dua potong roti itu kepadanya dan berkata kepada Allah Yang Maha Besar, “Ya Allah, Engkau telah berjanji bahwa

Engkau akan memberikan ganjaran sepuluh kali lipat dan janji-Mu itu ku pegang teguh. Kini telah ku sedehkankan dua potong roti utuk

menyenangkan hati-Mu, semoga Engkau berkenan untuk memberikan dua puluh potong sebagai imbalannya. Ketika ke delapan belas roti itu

di antarkan kepdaku, tahulah aku bahwa sebagian darinya telah dicuri atau roti-roti itu bukan untuk disampaikan kepada ku.”

ooooOOOOoooo

Pada suatu hari pelayan wanita Rabi’ah hendak memasak sop bawang karena telah beberapa lamanya mereka tidak memasak makanan.

Ternyata mereka tidak mempunyai bawang. Si pelayan berkata kepada Rabi’ah : “Aku hendak meminta bawang kepada tetangga sebelah.”

“Tetapi Rabi’ah mencegah : Telah empat puluh tahun aku berjanji kepada Allah tidak akan meminta sesuatu pun kecuali kepada-Nya.

Lupakanlah bawang itu.”

Segera setelah Rabi’ah berkata demikian, seekor burung meluncur dari angkasa, membawa bawang yang telah terkupas di paruhnya, lalu

menjatuhkannya ke dalam belanga.

Menyaksikan peristiwa itu Rabi’ah berkata : “Aku takut jika semua ini adalah semacam tipu muslihat.”

Rabi’ah tidak mau menyentuh sup bawang tersebut. Hanya roti saja ah yang dimakannya.

ooooOOOOoooo

Pada suatu hari Rabi’ah berjalan ke atas gunung. Segera ia dikerumuni oleh kawanan rusa, kambing hutan, ibeks (sebangs kabing hutan

yang bertanduk panjang) dan keledai-keledai liar. Binatang-binatang itu menatap Rabi’ah dan hendak menghampirinya. Tanpa disangka-

sangka Hasan al-Basri datang pula ke tempat itu. Begitu melihat Rabi’ah segera ia datang menghampirinya. Tapi setelah

melihatkedatangan Hasan, binatang-binatang tadi lari ketakutan dan meninggalkan Rabi’ah. Hal ini membuat Hasan kecewa.

“Mengapakah binatang-binatang itu menghindari diriku sedang mereka begitu jinak terhadapmu?”, Hasan bertanya kepada Rabi’ah.

“Apakah yang telah engkau makan pada hari ini?”, Rabi’ah balik bertanya.

“Sup bawang.”

“Engkau telah memakan lemak binatang-binatang itu. Tidak mengherankan jika mereka lari ketakutan melihatmu.

ooooOOOOoooo

Di hari lain, ketika Rabi’ah lewat di depan rumah Hasan. Saat itu Hasan termenung di jendela. Ia sedang menangis dan air matanya

menetes jatuh mengenai pakaian Rabi’ah. Mula-mula Rabi’ah mengira hujan turun, tetapi setelah ia menengadah ke atas dan melihat

Hasan, sadarlah ia bahwa yang jatuh menetes itu adalah air mata Hasan.

“Guru, menangis adalah pertanda dari kelesuan spiritual,” ia berkata kepada Hasan. “Tahanlah air matamu. Jika tidak, di dalam dirimu

akan menggelora samudera sehingga engkau tidak dapat mencari dirimu sendiri kecuali pada seorang Raja Yang Maha Perkasa.”

Teguran itu tidak enak di dengar Hasan, namun ia tetap menahan diri. Di belakang hari ia bertemu dengan Rabi’ah di tepi sebuah

danau. Hasan menghamparkan sajadahnya di atas air dan berkata kepada Rabi’ah,

“Rabi’ah, marilah kita melakukan shalat sunnat dua raka’at di atas air!.”

Rabi’ah menjawab : “Hasan, jika engkau mempertontonkan kesaktian-kesaktian mu di tempat ramai ini, maka kesaktian-kesaktian itu

haruslah yang tak dimiliki oleh orang-orang lain.”

Sesudah berkata Rabi’ah melemparkan sajadahnya ke udara, kemudian ia melompat ke atasnya dan berseru kepada Hasan : “Naiklah ke mari

Hasan, agar orang-orang dapat menyaksikan kita.”

Hasan yang belum mencapai kepandaian seperti itu tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian Rabi’ah mencoba menghiburnya dan berkata :

“Hasan, yang engkau lakukan tadi dapat pula dilakukan oleh seekor ikan dan yang ku lakukan tadi dapat pula dilakukan oleh seekor

lalat. Yang terpenting bukanlah keahlian-keahlian seperti itu. Kita harus mengabdikan diri kepada Hal-hal Yang Terpenting itu.”

ooooOOOOoooo

Pada suatu malam Hasan beserta dua tiga orang sahabatnya berkunjung ke rumah Rabi’ah. Tetapi rumah itu gelap, tiada berlampu. Mereka

senang sekali seandainya pada saat itu ada lampu. Maka Rabi’ah meniup jari  tangannya. Sepanjang malam itu hingga fajar, jari tangan

Rabi’ah memancarkan cahaya terang benderang bagaikan lentera dan mereka duduk di dalam benderangnya.

Jika ada seseorang yang bertanya : “bagaimana hal seperti itu bisa terjadai?”, maka jawabanku adalah : “Persoalannya adalah sama

dengan tangan Musa.” Jika ia kemudian menyangkal : ‘Tetapi musa adalah seorang Nabi!”, maka jawabanku : “Barangsiapa yang mengikuti

jejak Nabi akan mendapatkan sepercik kenabian, seperti yang penah dikatakan Nabi Muhammad saw. Sendiri, “ Barang siapa yang menolak

harta benda yang tidak diperoleh secara halal, walaupun harganya satu sen, sesungguhnya ia telah mencapai suatu tingkat kenabian.”

Nabi Muhammad saw. Juga pernah berkata : “Sebuah mimpi yang benar adalah seperempat puluh dari kenabian.”

ooooOOOOoooo

Pada suatu ketika Rabi’ah mengirimkan sepotong lilin, sebuah jarum dan sehelai rambut kepada Hasan, dengan pesan :

“Hendaklah engkau seperti sepotong lilin, senantiasa menerangi dunia walaupun dirinya sendiri terbakar. Hendaklah engkau seperti

sebuah jarum, senantiasa berbakti walaupun tidak memiliki apa-apa. Apabila kedua hal itu telah engkau lakukan, maka bagimu seribu

tahun hanyalah seperti sehelai rambut ini.”

“apakah engkau mengkau menghendaki agar kita menikah?” tanya Hasan kepada Rabi’ah.

“Tali pernikahan hanyalah untuk orang-orang yang memiliki keakuan. Di sini keakuan telah sirna, telah menjadi tiada ddan hanya ada

melalui Dia. Aku adalah milik-Nya. Aku hidup di bawah naungan-Nya. Engkau harus melamar diriku kepda-Nya, bukan langsung kepada

diriku sendiri.”

“Bagaimanakah engkau telah menemukan rahasia ini, Rabi’ah?”, tanya Hasan.

“Aku lepaskan segala sesuatu yang telah ku peroleh kepada-Nya.” jawab Rabi’ah.

“Bagaimana engkau telah dapat mengenal-Nya?”

“Hasan, engkau lebih suka bertanya, tetapi aku lebih suka menghayati,” jawab Rabi’ah.

oooo0000oooo

Suatu hari Rabi’ah bertemu dengan seseorang yang kepalanya dibalut.

“Mengapa engkau membalut kepalamu?”, tanya Rabi’ah.

“Karena aku merassa pusing,” jawab lelaki itu.

“Berapakah umurmu?”, Rabi’ah bertanya lagi.

“Tiga puluh tahun.” Jawabnya.

“Apakah engkau banyak menderita sakit dan merasa susah di dalam hidupmu?”

“Tidak,” jawabnya lagi.

“Selama tiga puluh tahun engkau menikmati hidup yang sehat, engkau tidak pernah mengenakan selubung kesyukuran, tetapi baru malam

ini saja kepalamu terasa pusing, engkau telah mengenakan selubung keluh kesah,” kata Rabi’ah.

ooooOOOOoooo

Suatu ketika Rabi’ah menyerahkan uang empat dirham kepada seorang lelaki.

“Belikanlah kepadaku sebuah selimut,” kata Rabi’ah,” karena aku tidak mempunyai pakaian lagi.”

Lelaku itu pun pergi, tetapi tidak lama kemudian ia kembali dan bertanya kepada Rabi’ah : “Selimut berwarna apakah yang harus ku

beli?”

“apa perduliku dengan warna?” Rabi’ah berkata. “Kembalikan uang itu kepadaku kembali.”

Diambilnya keempat buah dirham perak itu dan dilemparkannya ke sungai Tigris.

ooooOOOOoooo

Suatu hari di musim semi Rabi’ah memasuki tempat tinggalnya, kemudian melongok ke luar karena pelayannya berseru :

“Ibu, keluarlah dan saksikanlah apa yang telah dilakukan oleh Sang Pencipta.”

“Lebih baik engkaulah yang masuk ke mari,” Rabi’ah menjawab, “dan saksikanlah Sang Pencipta itu sendiri. Aku sedemikian asyik

menatap Sang Pencipta sehingga apakah perduliku lagi terhadap ciptaan-ciptaan-Nya?”

ooooOOOOoooo

Beberpa orang datang mengunjungi Rabi’ah dan menyaksikan betapa ia sedang memotong sekerat daging dengan giginya.

“Apakah engkau tidak mempunyai pisau untuk memotong daging itu?” mereka bertanya.

“Aku tak pernah menyimpan pisau di dalam rumah ini karena takut terluka,” jawab Rabi’ah.

ooooOOOOoooo

Rabi’ah berpuasa seminggu penuh. Selama berpuasa itu ia tidak makan dan tidak tidur. Setiap malam ia tekin melaksanakan Shalat dan

beroda. Lapar yang dirasakannya sudah tidak tertahankan lagi. Seorang tamu masuk ke rumah Rabi’ah membawa semangkuk makanan. Rabi’ah

menerima makanan itu. Kemudian ia pergi mengambil lampu. Ketika ia kembali ternyata seekor kucing telah menumpahkan isi mangkuk itu.

“Akan ku ambilkan kendi air dan aku akan berbuka puasa,” Rabi’ah berkata.

Ketika ia kembali dengan sekendi air ternyata lampu telah padam. Ia hendak meminum air kendi itu di dalam kegelapan, tetapi kendi

itu terlepas dari tangannya dan jatuh, pecah berantakan. Rabi’ah meratap dan megeluh sedemikian menyayat hati seolah-olah sebagian

rumahnya telah dimakan api.

Rabi’ah menangis : “Ya Allah, apakah yang telah Engkau perbuat terhadap hamba-Mu yang tak berdaya ini?”

“Berhati-hatilah Rabi’ah,” sebuah seruan terdengar di telinganya, “Janganlah engkau sampai mengharapkan bahwa Aku akan

menganugerahkan semua kenikmatan dunia kepadamu sehingga pengabdianmu kepada-Ku terhapus dari dalam hatimu. Pengabdian kepada-Ku dan

kenikmatan-kenikmatan dunia tidak dapat dipadukan di dalam satu hati. Rabi’ah, engkau menginginkan suatu hal sedang Aku menginginkan

hal yang lain. Hasrat Ku dan hasratmu tidak dapat dipadukan di dalam sati hati.”

Setelah mendengar celaan ono, Rabi’ah mengissahkan, “ku lepaskan hatiku dari dunia dan ku buang segala hasrat dari dalam hatiku,

sehingga selama tiga puluh tahun yang terakhir ini, apabila melakukan shalat, maka aku menanggap sebagishalat ku yang terakhir.”

ooooOOOOoooo

Beberpa orang mengunjungi Rabi’ah untukmengujinya. Mereka ingin memergoki Rabi’ah mengucapkan kata-kata yang tidak dipikirkan nya

terlebih dahulu.

“Segala macam kebajikan telah dibagi-bagikan kepada kepala kaum lelaki,” mereka berkata. “Mahkota kenabian telah ditaruh di kepala

kau lelaki. Sabuk kebangsawanan telah diikatkan di pinggang kau lelaki. Tidak ada seorang perempuan pun yang telah diangkat Allah

menjadi Nabi.”

“Semua itu memang benar,” jawab Rabi’ah. “Tetapi egoisme, memuja diri sendiri dan ucapan “Nukankah aku Tuhanmu Yang Maha Tinggi?”

tidak pernah membersit di dalam dada perempuan. Dan tak ada seorang perempuan pun yang banci. Semua ini adalah bagian kamu lelaku.”

ooooOOOOoooo

Ketika Rabi’ah menderita sakit yang gawat. Kepadanya ditanyakan apakah penyebab penyakitnya itu.

“Aku telah menatap surga,” jawab Rabi’ah, “dan Allah telah menghukum diriku.”

Kemudian Hasn al Bashri datang untuk mengunjungi Rabi’ah.

“Aku mendapatkan salah seorang di antara pemuka-pemuka kota Bashrah berdiri di pintu pertapaan Rabi’ah. Ia hendak memberikan

sekantong emas kepada Rabi’ah dan ia menangis,” Hasan mengishkan. “Aku bertanya kepadanya : “Mengapakah engkau menangis?” “Aku

menangis karena wanita suci zaman ini,” jawabnya. “Karena jika berkah kehadirannya tidak ada lagi, celakah ummat manusia. Aku telah

membawakan uang sekedar untuk biaya perawatannya,” ia melanjutkan, “tetapi aku kuatir kalau-kalau Rabi’ah tidak mau menerimanya.

Bujuklah Rabi’ah agar ia mau menerrima uang ini.”

Maka masuklah Hasan ke dalam pertapaan Rabi’ah dan membujuknya untuk mau menerima uang itu. Rabi’ah menatap Hasan dan berkata, “Dia

telah menafkahi orang-orang yang menghujjah-Nya. Apakah Dia tidak akan menafkahi orang –orang yang mencitai-Nya? Sejak aku

mengenal-Nya, aku telah berpaling dari manusia cptaan-Nya. Aku tidak tahu apakah kekayaan seseorang itu halal atau tidak, maka

betapakah aku dapat menerimma pemberiannya? Pernah aku menjahit pakaian yang robek dengan diterangi lampu dunia. Beberpa saat hatiku

lengah tetapi akhirnya aku pun sadar. Pakaian itu ku robek kembali pada bagian-bagian yang telah ku jahit itu dan hatiku menjadi

lega. Mintalah kepadanya agar ia tidak membuat hatiku lengah lagi.”

ooooOOOOoooo

Abdul Wahid Amir mengisahkan bahwa ia bersama Shofyan ats-Tsauri mengunjungi Rabi’ah ketika sakit, tetapi karena me nyeganinya

mereka tidak berani menegurnya atau menyapa Rabi’ah.

“Engkaulah yang berkata,” kataku kepada Shofyan.

“Jika engkau berdoa,” Shofyan berkata kepada Rabi’ah, “Niscaya penderitaanmu ini akan hlang.”

Rabi’ah menjawab : “Tidak tahukah engkau siapa yang menghendaki aku menderita seperti ini? Bukankah Allah?”

“ya”, Shofyan membenarkan.

“Betapa mungkin, engkau mengetahui hal ini, menyuruhku untuk memohonkan hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya? Bukankah tidak

baik apabila kita menentang Sahabat kita sendiri?”

“Apakah yang engkau inginkan Rabi’ah?”, Shofyan bertanya pula.

Shofyan... engkau adalah serang yang terpelajar! Tetapi mengapa engkau bertanya,” Apakah yang engkau inginkan? Demi kebessaran

Allah,” Rabi’ah berkata tandas,” telah dua belas tahun lamanya aku menginginkan buah korma segar. Engkau tentu tahu bahwa di kota

Bashrah buah korma sangat murah harganya, tetapi hingga saat ini aku tidak pernah memakannya. Aku ini hanyalah hamba-Nya, maka

kafirlah aku. Engkau harus menginginkan segala sesuatu yang diinginkan-Nya semata-mata agar engkau dapat menjadi hamba-Nya yang

sejati. Tetapi lain lagi persoalannya jika Tuhan sendiri memberikannya.”

Shofyan terdiam. Kemudian ia berkata kepada Rabi’ah : “Karena aku tak dapat berbicara mengenai dirimu, maka engkaulah yang berbicara

mengenai diriku.”

“Engkau adalah  manusia yang baik kecuali dalam satu hal : Engkau mencintai dunia. Engkau pun suka membacakan hadits-hadits.” Yang

terakhir inni dikatakan Rabi’ah dengan masud bahwa mebacakan hadits-hadits tersebut adalah suatu perbuatan yang mulia.

Shofyan sangat tergugah hatinya berseru : “Ya Allah, kasihilah aku.”

Tetapi Rabi’ah mencela : “Tidak malukan engkau mengharapkan kash Allah sedangka engkau sendiri tidak mengasihi-Nya?”

ooooOOOOoooo

Malik bin Dinar berkisah sebagai berikut : Aku mengunjungi Rabi’ah. Ku saksikan dia menggunakan gayung pecah untuk minum dan

bersuci, sebuah tikar dan sebuah batu bata yang kadang-kadang dipergunakannya sebagai bantal. Menyaksikan semua itu hatiku mendjadi

sedih.

“Aku mempunyai teman-teman yang kaya,” aku berkata kepada Rabi’ah. “Jika engkau menghendaki sesuatu akan ku mintakan kepda mereka.”

“Malik, engkau telah melakukan kesalahan yang besar,” jawab Rabi’ah. “Bukankah yang menafkahi aku dan yang menafkahi mereka adalah

satu?”

“Ya,” jawabku.

“Apakah yang menafkahi orang-orang miskin itu lupa kepada orang-orang miskin karena kemiskinan mereka? Dan apakah Dia ingat kepada

orang-orang kaya karena kekayaan mereka?”, tanya Rabi’ah.

“Tidak,” jawabku.

“Jadi, Rabi’ah meneruskan, “Karena Dia mengetahui keadaan ku, bagaimanakah aku harus mengingatkan-Nya? Baginilah yang dikehendaki-

Nya, dan aku menghendaki seperti yang dikehendaki-Nya.”

ooooOOOOoooo

Pada suatu hari, Hasan al Bashri, Malik bin Dinar dan Syaqiq al-Balkhi mengunjungi Rabi’ah yang sedang terbaring dalam keadaan

sakit.

“Seorang manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika ia tidak tabah menanggung cambukan Allah,” kata Hasan memulai pembicaraan.

“Kata-katamu itu berbau egoisme,” Rabi’ah membalas.

Kemudian giliran Syaqiq untuk mencoba : “Seorang wanita tidak dapat dipercaya kata-katanya jika ia tidak bersyukur karena cambukan

Allah.”

“Ada yang lebih baik daripada itu,” jawab Rabi’ah.

Malik bin Dinar maju : “Seorang manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika ia tidak merasa bahagia keetika menerima cambukan

Allah.”

“Masih ada yang lebih baik daripada itu,” Rabi’ah mengulangi jawabannya.

“Jika demikian, katakanlah kepada kami,” mereka mendesak Rabi’ah.

Maka berkatalah Rabi’ah : “Seorang manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika, ia tidak lupa kepada cambukan Allah, ketika ia

merenungkan-Nya.”

ooooOOOOoooo

Seorang cendekia terkemuka di kota Bashrah mengunjungi Rabi’ah yang sedang terbaring sakit. Sambil duduk di sisi tempat tidur

Rabi’ah ia mencaci maki dunia.

Rabi’ah berkata kepadanya : “Sesungguhnya engkau sangat mencintai dunia ini. Jika engkau tidak mencintai dunia tentu engkau tidak

akan menyebut-nyebutnya berulangkali seperti ini. Seorang pembelilah yang senantiasa mencela barang-barang yang hendak dibelinya.

Jika engkau tidak merasa berkepentingan dengan dunia ini, tentulah engkau tidak akan memuji-muji atau memburuk-burukannya. Engkau

menyebut-nyebut dunia ini seperti kata sebuah peribahasa, “barangsiapa menincai sesuatu hal, maka ia sering menyebut-nyebutnya.”

ooooOOOOoooo

Ketika tiba saatnya Rabi’ah herus meninggalkan dunia fana ini, orang-orang yang menungguinya meninggalkan kamarnya dan menutup pintu

kamar itu dari luar. Setelah itu mereka mendengar suara yang berkata : “Wahai jiwa yang damai, kembalilah kepada Tuhanmu dengan

berbahagia.”

Beberpa saat kemudian tak ada lagi suara yang terdengar dari kamar Rabi’ah. Mereka lalu membuka pintu kamar itu dan mendapatkan

Rabi’ah telah berpulang.

Setelah Rabi’ah meninggal dunia, ada yang bertemu dengannya dalam sebuah mimpi. Kepadanya ditanyakan.

“Bagaimana engkau menghadapi Munkar dan Nakir?”

Rabi’ah menjawab : “Kedua malaikat itu datang kepadaku dan bertanya : “Siapakah Tuhanmu? Aku menjawab : Pergilah kepada Tuhanmu dan

katakan kepada-Nya : Dia antara beribu-ribu makhluk yang ada, janganlah Engkau melupakan seorang wanita tua yang lemah. Aku hanya

memiliki engkau di dunia yang luas, tidak pernah lupa kepada-Mu, tetapi mengapakah Engkau mengirim utusan sekedar menanyakan “siapa

Tuhanmu” kepada ku?”

DOA-DOA RABI’AH

“Ya Allah, apa pun yang Engkau karuniakan kepada ku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-Mu, dan apa pun yang akan Engkau

karuniakan kepada ku di akhirat nanti, berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu, karena Engkau sendiri cukuplah bagi- ku.”

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam neraka; dan jika aku menyembah-Mu karena

mengharapkan Surga, campakkanlah aku dari dalam Surga; tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan

memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepada ku.”

“Ya Allah, semua jerih dan semua hasrat ku di antara kesenangan-kesenangan dunia ini adalah untuk mengingat Engkau. Dan di akhirat

nanti, di antara segala kesenangan akhirat, aalah untuk berjumpa dengan-Mu. Begitulah halnya dengan diriku, seperti yang telah ku

katakan. Kini, perbuatlah seperti yang Engkau kehendaki.

FUZAIL PEMBEGAL DAN KISAH PETAUBATANNYA

Sewaktu masih remaja, Fuzail mendirikan kemah di tengah-tengah padang pasir, yaitu di antara Merv dan Bawrd. Jubahnya terbuat dari

bahan kasar, topinya terbuat dari bulu domba, dan di lehernya senantiasa tergantung sebuah tasbih. Fuzail mempunyai banyak teman

yang semuanya terdiri dari para pencuri dan pembegal. Siang dan malam mereka merampok, membunuh dan membawa hasil rampasan mereka

kepada Fuzail karen ia adalah kepala mereka. Fuzail mengambil sesuatu yang disukainya, sesudah itu membagi-bagikan lebihan harta

rampasan tersebut kepada semua sahabatnya. Ia selalu tanggap tentang sesuatu dan tak pernah alpa dari pertemuan-pertemuan mereka.

Setiap anggota baru yang sekali saja tidak menghadiri pertemuan, Fuzail akan mengeluarkannya dari kelompok mereka.

Suatu hari sebuah kafilah yang besar melewati daerah mereka Fuzail dan sahabat-sahabatnya telah menanti-nantikan kedatangan kafilah

tersebut. Di dalam rombongan itu ada seorang lelaki yang pernah mendengar desas-desus mengenai para perampok itu.  Ketika ia melihat

kawanan perampok itu dari kejauhan, ia pun berpikir, bagaimanakah ia harus menyembunyikan sekantong emas yang di milikinya.

“Kantong emas itu akan ku sembunyikan,” ia berkata di dalam hati. “Dengan demikian jika para perampok membegal rombongan ini, aku

masih mempunyai modal untik di andalkan.”

Ia menyimpang dari jalan raya. Kemudian ia  melihat sebuah kemah dan di dekat kemah itu ada seorang yang wajah dan pakaiannya tampak

sebagai seorang pertapa. Maka kantong emas itu pun lalu dititipkannya kepada orang itu yang sebenarnya adalah Fuzail sendiri.

“Taruhlah kantong mu itu di pojok kemah ku,” Fuzail berkata kepadanya. Lelaki itu melakukan seperti apa yang dikatakan Fuzail.

Kemudian ia kembali ke rombongannya, tetapi ternyata mereka telah dibegal oleh kawanan Fuzail. Semua barang bawaan mereka telah

dirampas sedang kaki dan tangan mereka diikat. Lelaki itu melepaskan ikatan sahabat-sahabat seperjalanannya. Setelah mengumpulkan

harta benda mereka yang masih tersisa, menyingkirlah mereka dari tempat kejadian itu. Lelaki tadi kembali ke kemah Fuzail untuk

mengambil kantong emasnya. Ia melihat Fuzail sedang berkerumun dengan kawanan perampok dan membagi-bagikan hasil rampasan mereka.

“Celaka, ternyata aku telah menitipkan kantong emasku kepada seorang maling,” lelaki itu mengeluh.

Tetapi Fuzail yang dari kejauhan melihatnya, memanggilnya dan ia pun datang menghampiri.

“Apakah yang engkau kehendaki,” lelaki itu bertanya kepada Fuzail.

“Ambilallah barangmu dari tempat tadi dan setelah itu tinggalkanlah tempat ini.”

Lelaki itu segera berlari ke kemah Fuzail, mengambil kantong emas dan meninggalkan mereka itu.

Dengan keheran-heranan teman-teman Fuzail berkata : “Dari seluruh kafilah itu kita tidak mendapatkan satu dirham pun didalam bentuk

tunai, tetapi mengapa engkau mengembalikan sepuluh tibu dirham itu kepadanya?”

Fuzail menjawab : “Ia telah mempercayaiku seperti aku mempercayai Allah akan menerima taubatku nanti. Aku hargai kepercayaannya itu

agar Allah menghargai kepercayaanku pula.”

Pada hari yang lain mereka membegal kafilah pula dan merampas harta benda mereka. Ketika kawanan Fuzail sedang makan, seorang

anggota kafilah itu datang menghampiri mereka dan bertanya : “Siapakah pemimpin kalian?”

Kawanan perampok itu menjawab : “Ia tidak ada di sini. Ia sedang Shalat di balik pohon yang terletak di pinggir sungai itu.”

“Tetapi sekarang ini belum waktunya untuk shalat,” lelaki itu berkata.

“Ia sedang melakukan shalat sunnat,” salah seorang di antara pembegal-pebegal itu menjelaskan.

“Dan ia tidak makan bersama-ssama dengan kalian?” lelaki itu melanjutkan.

“Ia sedang berpuasa,” jawab salah seorang.

“Tetapi sekarang ini bukan bulan Rmadhan?”

“Ia sedang llberpuasa sunnat.”

Dengan sangat heran lelaki tadimenghampiri Fuzail yang sedang khusyuk di dallam shalatnya. Setelah selesai berkatalah ia kepada

Fuzail.

“Ada sebuah peribahasa yang mengatakan, Hal-hal yang bertentangan tidak dapat dipersatukan. Bagaimanakah mungkin seseoarng berpuasa,

merampok, shalat dan membunuh orang Muslim pada waktu yang bersamaan?”

“Apakah engkau memahami al-Quran?”, Fuzail bertanya kepadanya.

“Ya”, jawab lelaki itu.

“Tidakkah Allah Yang Maha Kuasa berkata : Orang-orang lain telah mengakui dosa-dosa mereka dan mencampuradukan perbuatan-perbuatan

yang baik dengan perbuatan-perbuatan yang aniaya?”

Lelaki itu terdiam tidak dapat berkata apa-apa.

Orang-rang mengatakan bahwa pada dasarnya Fuzail adalah seorang yang berjiwa satria dan berhati mulia. Apabila di dalam sebuah

kafilah terdapat seorang wanita, maka barang-barang wanita itu tidak akan diusiknya. Begitu pula harta benda orang-orang miskin

tidak akan dirampas Fuzail. Untuk setiap korbannya, ia selalu meninggalkan sebagian dari harta bendanya yang dirampas. Sebenarnya

semua kecenderungan Fuzail tertuju kepada perbuatan yang baik.

Pada awal petualangannya Fuzail tergila-gila kepada seorang wanita. Fuzail selalu menghadiahkan hasil rampasannya kepada wanita

kekasihnya itu. Karena mabuk asmara, Fuzail sering memanjat dinding rumah si wanita tanpa perdulikan keadaan cuaca yang bagaimana

pun juga. Sementara berbuat demikian, ia selalu menangis.

Suatu malam ketika ia sedang memanjat rumah kekasihnya itu, lewatlah sebuah kafilah dan di antara mereka ada yang sedang membacakan

ayat-ayat al-Quran. Terdengarlah oleh Fuzail ayat yang berbunyi : “Belum tibakah saatnya hati orang-orang yang percaya merendah

untuk mengingat Allah?”

Ayat ini bagaikan anak panah menembus jantung Fuzail seolah sebuah tantangan yang berseru kepadanya : “Wahai Fuzail, berapa lama

lagikah engkau akan membegal para kafilah? Telah tiba saatnya kami akan membegalmu!.”

Fuzail terjatuh dan berseru : “Memang telah tiba saatnya, bahkan hampir terlambat!.”

Fuzail merasa bingung dan malu. Ia berlari ke arah sebuah puing. Ternyata di situ sedang berkemah sebuah kafilah. Mereka berkata :

“Marilah kita melanjutkan perjalanan,” tetapi salah seorang di antara mereka mencegah : “Tidak mungkin, Fuzail sedang menanti dan

akan menghadang kita.”

Mendengar pembicaraan mereka itu Fuzail berseru : “Berita gembira! Fuzail telah bertaubat!.”

Setelah berseru demikian ia pun pergi. Sepanjang hari ia berjalan sambil menangis. Hal ini sangat menggembirakan orang-orang yang

membenci dirinya. Kepada setiap orang di antara sahabat-sahabatnya, Fuzail meminta agar janji setia di antara mereka dihapuskan.

Akhirnya hanya tersisa seorang Yahudi di Baward. Fuzail meminta agar janji setia di antara mreka berdua dihapuskan. Namun si Yahudi

tidak mau dibujuk.

“Sekarang kita dapat meperolok-olokan pengikut Muhammad,”, si Yahudi berbisik kepada teman-temannya sambil tergelak-gelak.

“Jika engkau menginginkan aku untuk menghapuskan janji setia yang telah kita ikrarkan itu, maka ratakanlah bukit itu,” si Yahudi

berkata kepada Fuzail sambil menunjuk ke arah sebuah bukit pasir. Bukit itu tidak mungkin dapat dipindahkan oleh seorang manusia,

kecuali untuk waktu yang sangat lama. Fuzail yang malang mulai mencangkul bukit itu sedikit demi sedikit, tetapi bagaimanakah tugas

tersebut dapat Di selesaikan? Pada suatu pagi, ketika Fuzail sangat letih, sekonyong-konyong datanglah angin kencang yang meniup

bukit pasir tersebut hingga rata. Setelah melihat betapa bukit pasir itu telah menjadi rata, si Yahudi yang sangat merasa takjub

Itu, berkata kepada Di selesaikan? Pada suatu pagi, ketika Fuzail sangat letih, sekonyong-konyong datanglah angin kencang yang

meniup bukit pasir tersebut hingga rata. Setelah melihat betapa bukit pasir itu telah menjadi rata, si Yahudi yang sangat merasa

takjub itu, berkata kepada Fuzail :

“Sesungguhnya aku telah bersumpah bahwa aku tidak akan menghapuskan janji setia kita sebelum engkau memberikan uang kepadaku. Oleh

karena itu masuklah ke dalam rumahku, ambil segenggam uang emas yang terletak di bawah permadani dan berikan kepadaku. Demikian

sumpaku akan terpenuhi dan janji setia di antara kita dapat dihapuskan.”

Fuzail masuk ke dalam rumah si orang Yahudi, sesungguhnya si Yahudi telah menaruh gumpalan-gumpalan tanah ke bawah permadai itu.

Tetapi ketika Fuzail meraba ke bawah permadani itu dan menarik tangannya keluar, ternyata yang diperolehnya adalah segenggam penuh

dinar emas. Dinar-dinar emas itu diserahkannya kepada si orang Yahudi.

“Islamkanlah aku!,” si Yahudi berseru kepada Fuzail.

Fuzail mengislamkannya dan jadilah ia seorang Muslim.

Kemudian si Yahudi berkata kepada Fuzail :”Tahukah engkau mengapa aku menjadi seorang Muslim? Hinggga sesaat yang lalu aku masih

ragu, yang manakah agama yang benar. Aku pernah membaca di dalam Taurat : “Jika seseorang benar-benar bertaubat, kemudian menaruh

tangannya ke atas tanah, maka tanah itu akan berubah menjadi emas.” Sesungguhnya ke bawah permadai tadi telah ku taruhkan tanah

untuk membuktikan taubatmu. Dan ketika tanah itu berubah menjadi emas karena tersentuh oleh tanganmu, tahulah aku  bahwa engkau

benar-benar bertaubat dan bahwa agamamu adalah agama yang benar.”

ooooOOOOoooo

Fuzail memohon kepada seseorang : “Demi Allah, ikatlah kaki dan tanganku, kemudian bawalah aku ke hadapan sultan agar ia mengadiliku

karena berbagai kejahatan yang pernah ku lakukan.”

Orang itu memenuhi permohonan Fuzail. Ketika sultan melihat Fuzail, terlihatlah olehnya tanda-tanda manusia berbudi pada dirinya.

“Aku tidak dapat mengadilinya.” Sultan berkata. Kemudian ia memerintahkan agar Fuzail diantarkan pulang dengan segala hormat. Ketika

sampai di rumahnya Fuzail mengeluarkan sebuah tangisan yang keras.

“Dengarlah Fuzail yang sedang berteriak-teriak itu! Mungkin ia sedang disiksa, orang-orang berkata.

“Memang benar, aku sedangdisiksa!.” Fuzail menjawab.

Apamukah yang dipukuli?” mereka bertanya.

“Batinku!,” jawab Fuzail.

Kemudian  Fuzail menjumpai isterinnya. “Iisteriku.” Katanya, “Aku akan pergi ke rumah Allah. Jika engkau suka, engkau akan ku

bebaskan.”

Tetapi Isterinya menjawab : “Aku tidak mau berpisah dari sisimu. Ke manapun engkau pergi, aku akan menyertaimu.”

Maka berangkatlah mereka ke Mekkah. Allah Yang Maha Kuasa telah menggampangkan perjalanan mereka. Di Kota Makkah mereka tinggal di

dekat Ka’bah dan dapat bertemu dengan beberapa orang-orang suci. Untuk beberpa lama Fuzail bergaul rapat dengan Imam Abu Hanifh. Dan

mengenai kekerasan disiplin diri Fuzail telah benyak kisah-kisah yang ditulis orang. Di kota mekkah ini terbukalah kesempaan bagi

Fuzail untuk berkhotbah dan penduduk kota senantiasa berbondong-bondong untk mendengarkan kata-katanya. Nama Fuzail segera menjadi

buah bibir  di seluruh pelosok dunia, sehingga sanak keluarganya meninggalkan Bavard menuju Mekkah untuk meneuinya. Mereka engetuk

pintu rumah Fuzail, namun Fuzail tidak menjawab. Mereka tidak mau meninggalkan tempat itu, maka naiklah Fuzail ke atap ruahnya dan

dari sana ia berseru kepada mereka. :

“Wahai penganggur-penganggur, semoga Allah meberikan pekerjaan kepada kalian!.”

Beberapa kali Fuzail mengucapkan kata-kata pedas seperti itu, sehingga sanak keluarganya menangis dan lupa diri. Akhirnya karena

putus asa  untuk dapat bercengkerama dengan Fuzail mereka pun meninggalkan tempat itu. Fuzail masih tetap di atas atap dan tidak mau

membukakan pintu rumahnya.

FUZAIL DAN KHALIFFAH HARUN AR-RASYID

Pada suatu malam, Haun ar-Rasyid memanggil Fazl Barmesid, salah seorang di antara pengawal-pengawal kesayangannya. Harun ar-Rasyid

berkata kepada Fazl.

“Malam ini bawlah aku kepada seseorang yang menunjukkan kepada ku siapakah aku ini sebenarnya. Aku telah jemu dengan segala

kebesaran dan kebanggaan.”

Fazl membawa Harun Ar-ra-Rasyid ke rmah Shofyan al-Uyaina. Mereka mengetuk pintu dan dari dalam Shofyan menyahut :

“Siapakah itu?”

Pemimpin kaum Muslimin,” jawab Fazl.

Shofyan berkata : “Mengapakah Sultan sudi menyusahkan diri ? Mengapa tidak dikabarkan saja kepada ku sehingga aku datang sendiri

untuk menghadapa?”

Mendengar ucapan tersebut, Harun ar-Rasyid berkata : “Ia bukan orang yang ku cari. Ia pun menjilatku seperti yang lain-lainnya.”

Mendengar kata-kata Sultan tersebut, Shofyan berkata :

“Jika demikian, Fuzail bin “Iyaz adalah orang yang engkau cari . Pergilah kepada nya.” Kemudian Shofyan membacakan ayat : “ Apakah

orang-orang yang berbuat aniaya menyangka bahwa kami akan mempersamakan mereka dengan orang-orang yang menerima serta melakukan

perbuatan-perbuatan yang sah?”

Harun Ar-Rasyid menimpali : “Seandainya aku menginginkan nasehat-nasehat yang baimk niscaya ayat itu telah mencukupi.”

Kemudian mereka mengetuk pintu rumah Fuzail. Dari dala Fuzail bertanya : “Siapakah itu?”

“Pemimpin kaun Muslimin,” jawab Fazl.

“Bukankah suatu kewajiban untuk mematuhi para pemegang kekuasaan?” sela Fazl.

“Jangan kalian mengganggu ku,” seru Fuzail.

“Tidak ada sesuatu hal yang disebut kekuasaan,” jawab Fuzail.

“Jika engkau secara paksa mendobrak masuk, engkau tahu apa yang enggkau lakukan.”

Harun ar-Rasyid melangkah masuk. Begitu Harun menghampirinya, Fuzail meniup lampu hingga padam agar ia tidak dapat melihat wajah

sultan. Harun ar-Rasyid dmengulurkan tangannya dan disambut oleh tangan Fuzail yang kemudian berkata :

“Betapa lembut dan halus tangan ini! Semoga tangan ini terhindar dari api neraka!.”

Setelah berkata demikian Fuzail berdiri dan berdoa. Harun ar.Rasyid sangat tergugah hatinya dan tak dapat menahan tangisnya.

“Katakan sesuatu kepadaku,” Harun bermohon kepda Fuzail.

Fuzail mengucapkan salam kepdanya dan berkata :

“Leluhurmu, pamanda Nabi Muhammad, pernah meminta kepada beliau : “Jadikanlah aku pemimpin bagi sebagian ummat manusia.” Nabi

menjawab : Paman, untuk sesaat aku pernah mengangkatmu menjadi pemimpin dirimu sendiri.” Dengan jawaban ini yang dimaksudkan Nabi

adalah : Sesaat mematuhi Allah adalah lebih baik daripada seribu tahun dipatuhi oleh ummat manusia. Kemudian Nabi menambahkan :

“Kepemimpinan akan menjadikan sumber penyesalan pada hari Berbangkit nanti.”

“Lanjutkan,” Harun ar-Rasyid meminta.

“Ketika diangkat menjadi Khalifah, “Umar bin ‘Abdul Aziz memanggil Sultan bin ‘Abdullah, Raja, bin Hayat, dan Muhamad bin Ka’ab.

“Umar berkata kepada mereka : “Hatiku sangat gundah karena cobaan ini. Apakah yang harus ku lakukan? Aku tahu bahwa kedudukan yang

tinggi ini adalah sebuah cobaan walaupun orang-orang lain menganggapnya sebagai suatu karunia.” Salah seorang di antara ketiga

sahabat ‘Umar itu berkata : “Jika engkau ingin terlepas dari hukuman Allah di akhirat nanti,  pandanglah setiap Muslim yang lanjut

usia sebagai ayah mu sendiri, setiap muslim yang remaja sebagai Saudara mu sendiri, setiap Muslim yang masih kanak-kanak sebagai

puteramu sendiri, dan perlakukan mereka sebagaimana seharusnya seseorang memperlakukan ayahnya, saudaranya dan puteranya.”

“lanjutkanlah!,” Harun ar-Rasyid meminta lagi.

“Anggaplah negeri Islam sebagai rumahmu  sendiri dan penduduknya sebagai keluargamu sendiri. Jenguklah ayahmu, hormatilah saudaramu

dan bersikap baiklah kepada anakmu. Aku sayangkan jika wajahmu yang tampan ini akan terbakar hangus di dalam neraka. Takutlah Allah

dn taatilah perintah-perintah-Nya. Berhati-hatilah dan bersikaplah secara bijaksana, karena pada hari berbangkit nanti Allah akan

meminta pertanggungjawabanmu sehubungan dengan setiap muslim dan Dia akan memeriksa apakah engkau telah berlaku adil kepada setiap

orang. Apabila ada seorang wanita ‘uzur yang tertidur dalam keadaan lapar, di hari Berbangkit  nanti ia akan menarik pakaianmu dan

akan memberi kesaksian yang memberatkan dirimu.

Harun ar-Rasyid menangis dengan sangat getirnya sehigga tampaknya ia akan jatuh pingsan. Melihat hal ini wasri Fazl menyentak Fuzail

:

“Cukup! Engkau telah membunuh pemimpin kaum Muslimin!.”

“Diamlah Haman! Engkau dan orang-orang yang seperti engkau inilah yang telah menjerumuskan dirinya, kemudian engkau katakan aku yang

membunuhnya. Apakah yang ku lalukan ini suatu pembunuhan?”

Mendengar kata-kata Fuzail ini tangis Harun ar-Rasyid semakin menjadi-jadi. “Ia menyebutmu Haman,” kata Harun ar-Rasyid sambil

memandang Fazl, “ Karena ia mempersamakan diriku dengan Fir’aun.”

Kemudian Harun bertanya kepada Fuzail : “Apakah engkau mempunyai hutang yang belum dilunaskan?/”

“Ya”, jawab Fuzail, “hutang kepatuhan kepada Allah. Seandainya Dia memaksaku untuk  melunasi hutang ini celakalah aku!.”

“Yang ku maksudkan adalah hutang kepada manusia, Fuzail,” Harun menegaskan.

“Aku bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan kepadaku sedemikian berlimpahnya sehingga tidak ada keluh kesah yang harus ku

sapaikan kepada hamba-hamba-Nya.”

Kemudian Harun ar-Rasyid menaruh sebuah kantong yang berisi seribu dinar di hadapan Fuzail sambil berkata : “Ini adalah uang halal

yang diwariskan ibuku.”

Tetapi Fuzail mencela : “Wahai pemimpin Kaum Muslimin, nasehat-nasehat yang ku sampaikan kepadamu ternyata tidak ada faedahnya.

Engkau bahkan telah memulai lagi perbuatan salah dan mengulangi kezhaliman.”

“Perbuatan salah apakah yang telah ku lakukan?” , tanya Harun ar-Rasyid.

“Aku menyeru mu ke jalan keselamatan, tetapi negkau menjerumuskan aku ke dalam godaan. Bukankah hal itu merupakan suatu kesalahan?

Telah kukatakan kepadamu, kembalikanlah segala sesuatu yang ada padamu kepada pemiliknya yang berhak. Tetapi engkau memberikannya

kepada yang tidak pantas menerimanya. Percuma saja aku berkata-kata.”

Setelah berrkata demikian, Fuzail berdiri dan melemparkan uang-uang emas itu ke luar.

“Benar-benar seorang manusia hebat!” Harun ar-Rasyid berkata ketika ia meninggalkan rumah Fuzail. “Sesungguhnya Fuzail adalah

seorang raja bagi ummat manusia. Ia sagat blak-blakan dan dunia ini terlampaui kecil dalam pandangannya.”

ANEKDOR-ANEKDOT MENGENAI DIRI FUZAIL.

Suatu hari Fuzail memangku anak yang berumur empat tahun. Tanpa disegaja bibir Fuzail menyentuh pipi anak itu sebagaimana yang

sering dilakukan seorang ayah kepada anaknya.

“Apakah ayah cinta kepadaku?” si anak bertanya kepada Fuzail.

“ya”, jawab Fuzail.

“Apakah ayah cinta kepada Allah?”

“Ya”.

“Berapa banyak hati yang ayah miliki?”

“Satu”, jawab Fuzail.

“Dapatkah ayah mencintai  dua hal dengan satu hati?” si anak meneruskan pertanyaannya.

Fuzail segera sadar bahwa yang berkata-kata itu bukanlah anaknya sendiri. Sesungguhnya kata-kata itu adalah sebuah petunjuk Ilahi.

Karena takut dimurkai Allah, Fuzail memukul-mukulkan kepalanya sendiri dan memohon ampunan kepadan-Nya. Ia renggut kasih sayangnya

kepada si anak kemudian dicurahkannya kepada Allah semata-mata.

oooOOOooo

Pada suatu hari Fuzail sedang berada di Padang Arafah. Semua jama’ah yag berada di sana menangis, meratap, memasrahkan diri da

memohonkan ampun dengan segala kerendahan hati.

“Maha Besar Allah!”, seru Fuzail. “Jika manusia sebanyak ini secara serentak menghadap kepada seseorang dan mereka semua meminta

sekeping uang perak kepadanya, apakah yang akan dilakukannya?  Apakah orang itu akan mengecewakan manusia-manusia yang banyak ini?”

“Tidak!, orang ramai menjawab.

“Jadi”, Fuzail melanjutkan, “sudah tentu bagi Allah Yang Maha Besar untuk mengampunkan kita semua adalah lebih mudah daripada bagi

orang tadi untuk memberikan sekeping uang perak. Dia adalah Yang Maha Kaya di antara yang kaya, dan karena itu sangat besar harapan

kita bahwa Dia akan mengampunkan kita semua.”

oooOOOooo

Putera Fuzail  mendarita susah buang air kecil. Fuzail berlutut di dekat anaknya dan mengangkat kedua tangannya sambil berdoa : “Ya

Allah, semi cintaku kepada Mu, sembuhkanlah ia dari penyakit ini.”

Belum sempat Fuzail bangkit dari duduknya, si anak telah segar bugas kembali.

oooOOOooo

Di dalam doanya Fuzail serign mengucapkan : “Ya Allah, ampunilah aku karena Engkau menghukumku karena Engkau Maha Berkuasa atas

diriku.” Kemudian ia melanjutkan : “Ya Allah, Engkau telah membuatku lapar dan telah membuat anak-anaku lapar. Engkau telah

membuatku telanjang dan telah membuat anak-anaku telanjang. Dan Engkau tidak memberikan pelita kepada ku apabila hari telha gelap.

Semua itu telah engkau lakukan terhadap sahabt-sahabat-Mu. Karena keluhuran spiritual, apakah Fuzail telah menerima kehormmatan-Mu

ini?”

oooOOOooo

Selama tiga puluh tahun tidak seorang pun pernah melihat Fuzail tersenyum kecuali ketika puteranya meninggal dunia. Pada waktu

itulah orang-orang melihat Fuzail tersenyum. Sesorang menegurnya “

“Guru, mengapakah engkau justru tersenyum di saat-saat seperti ini?”

“Aku menaydari bahwa Allah menghendaki agar anaku mati. Aku tersenyum karena kehendak-Nya telah terlaksana,” jawab Fuzail.

oooOOOooo

Fuzail mempunyai dua orang anak perempuan. Menjelang Akhir hayatnya Fuzail menyampaikan wasiat terakhir kepada isterinya :

“Apabila aku mati, bawalah anak-anak kita ke gunung Abu Qabais. Di sana tengadahkan wajahmu dan berdoalah kepada Allah “ “Ya Allah,

Fuzail menyuruhku untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada-Mu : Ketika aku hidup kedua anak-anak yang tak berdaya ini telah ku

lindungi sebaik-baiknya. Tetapi setelah Engkau mengurungku di dalam kubur, mereka ku serahkan kepada-Mu kebali!”

Setelah Fuzail dikebumikan, isterinya melakukan seperti yang dipesankan kepdanya. Ia pergi ke puncak gunung Abu Qabais membawa kedua

anak perempuannya. Kemudian ia berdoa kepada Allah sambil menangis dan meratap. Kebetulan pada saat itu pangeran dari Negeri Yaman

beserta kedua puteranya melalui tempat itu. Menyaksikan mereka yang menangis dan meratap itu, sang pangeran bertanya :

“Apakah kemalangan yang telah menimpa diri kalian?”.

Isteri Fuzail menerangkan keadaan mereka. Kemudian si  pangeran berkata :

“Jika kedua puterimu ku ambil untuk kedua puteraku ini dan untuk masing-masing di antara mereka kuberikan sepuluh ribu dinar sebagai

mas kawinnya, apakah engkau merasa cukup puas?”.

“Ya”, jawab si Ibu.

Segeralah sang pangeran mempersiapkan tandu-tandu permadani-permadani dan brokat-brokat kemudian membawa si Ibu beserta kedua

puterinya ke negeri Yaman.

LEGENDA MENGENAI DIRI IBRAHAMIM BIN AD-HAM

Ibrahim bin Ad-ham adalah raja Balkh yang sangat luas daerah kekuasaannya. Ke mana pun ia pergi, empat puluh buah pedang emas dan

empat puluh buah tongkat kebesaran emas di usung di depan dan di belakangnya. Pada suatu malam ketika ia tertidur di kamar

istananya, langit-langit kamar berderik-derik seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan di atas atap. Ibrahim terjaga dan

berseru “Siapakah itu?!”

“Seorang sahabat”, terdengar sebuah sebutan. “untaku hilang dan aku sedang mencarinnya di atas atap ini.”

“Goblok, engkau hendak mencari unta di atas atap?” seru Ibrahim.

“Wahai manusia yang lalai.” Suara itu menjawwab. “Apakah engkau hendak mencari Allah dengan berpakaian sutera dan tidur di atas

ranjang emas?”.

Kata-kata ini sangat menggetarkan hati Ibrahim. Ia sangat gelisah dan tidak dapat meneruskan tidurnya. Ketika hari telah siang.

Ibrahim kebali ke ruang pertemuan dan duduk di atas singgasananya ssambil berpikir-pikir, bingung dan sangat gundah. Para menteri

telah berdiri di tempat masing-masing dan hamba-hamba telah berbaris sesuai dengan tingkatan mereka. Kemudian dimulailah pertemuan

terbuka.

Tiba-tiba seorang lelaki berwajah menakutkan masuk ke dalam ruangan pertemuan itu. Wajahnya sedemikian menyeramkan sehigga tak

seorang pun di antara anggota-anggota maupun hamba-hamba istana yang berani menanyakan namanya. Semua lidah menjadi kelu. Dengan

tenang lelaki tersebut melangkah ke depan singgasana.

“Apakah yang engkau inginkan?” tanya Ibrahim.

“Aku baru saja sampai di persinggahan ini”, jawab lelaki itu.

“Ini bukan sebuah persinggahan para kafilah. Ini adalah istana ku. Engkau sudah gila,” Ibrahim menghardik.

“Siapakah pemilik istana ini sebelum engkau?” tanya lelaki itu.

“Ayah ku”, jawab Ibrahim.

“Dan sebelum ayah mu?”

“Ayah dari kakek ku!”

“Dan sebelum dia?”

“Kakek dari kakek ku!”.

“Ke manakah mereka sekarang ini?”, tanya lelaki itu.

“Mereka telah tiada. Mereka telah mati,” jawab Ibrahim.

“Jika demikian, bukankah ini sebuah persinggahan yang dimasuki oleh seseorang dan ditinggalkan oleh yang lainnya?”.

Setelah berkata demikian lelaki itu hilang. Sesungguhnya ia adalah Khidir as. Kegelisahan, dan kegundahan hati Ibrahim semakin

menjadi-jadi. Ia dihantui bayang-bayangan di sing hari dan mendengar suara-suara di malam hari; keduanya sama-sama membingungkan.

Akhirnya, karena tidak tahan lagi, pada suatu hari berserulah Ibrahim :

“Persiapkan kudaku! Aku hendak pergi berburu. Aku tak tahu apa yang telah terjadi terhadap diriku belakangan ini. Ya Allah , kapan

semua ini akan berakhir?”.

Kudanya telah dipersiapkan lalu berangkatlah ia berburu. Kuda itu dipacunya menembus padang pasir, seolah-olah ia tak sadar akan

segala perbuatannya. Dalam kebingungan itu ia terpisah dari rombongannya. Tiba-tiba terdengar olehnya sebuah seruan : “Bangunlah.”

Ibrahim pura-pura tidak mendengar  seruan itu. Ia terus memacu kudanya. Untuk kedua kalinya suara itu berseru kepadanya, namun

Ibrahim tetap tak memperdulikannya. Ketika suara itu untuk ke tiga kalinya berseru kepadanya, Ibrahim semakin memacu kudanya.

Akhirnya untuk yang ke empat kali, suara itu berseru : “Bangunlah, sebelum engkau ku cambuk!”

Ibrahim tidak dapat mengendalikan dirinya. Saat itu terlihat olehnya seekor rusa. Ibrahim hendak memburu rusa itu, tetapi binatang

itu berkata kepadanya : “Aku disuruh untuk memburumu. Engkau tidak dapat menangkap ku. Untuk inikah engkau diciptakan atau inikaha

yang diperintahkan kepadamu?”

“Wahai, apakah yang menghadang diriku ini?” seru Ibrahim. Ia memalingkan wajahnya dari rusa tersebut. Tetapi dari pegangan di pelana

kudanya terdengar suara yang menyerukan kata-kata yang serupa. Ibrahim panik dan ketakutan. Seruan itu semakin jelas karena Allah

Yang Maha Kuasa hendak menyempurnakan janji-Nya. Kemudian suara yang serupa berseru pula dari mantelnya. Akhirnya sempurnalah seruan

Allah itu dan pintu surga terbuka bagi Ibrahim. Keyakinan yang teguh telah tertanam di dalam dadanya. Ibrahim turun dari

tunggangannya. Seluruh pakaian dan tubuh kudanya basah oleh cucuran air matanya. Dengan sepenuh hati Ibrahim bertaubat kepada Allah.

Ketika Ibrahim menyimpang dari jalan raya, ia melihat seseorang gembala yang mengenakan pakaian dan topi terbuat dari bulu domba.

Sang pengembala sedang menggembalakan sekawanan ternak. Setelah diamatinya ternyata si gembala itu adalah sahayanya yang sedang

menggembalakan domba-domba miliknya pula. Kepada si gembala itu, Ibrahim menyerahkan mantelnya yang bersulam emas, topinya yang

bertahtahkan batu-batu permata beserta doma-domba tersebut, sedang dari si gembala itu Ibrahim meminta pakaian dan topi bulu domba

yang sedang dipakainya. Ibrahim lalu mengenakan pakaian dan topi bulu milik si gembala itu dan semua malaikat menyaksikan

perbuatannya itu dengan penuh kekaguman.

“Betapa megah kerjaan yang diterima putera Adam ini,” malaikat-malaikat itu berkata, “ia telah mencampakan pakaian keduniawian yang

kotor lalu menggantinya dengan jubah kepapaan yang megah.”

Dengan erjalan kaki, Ibrahim mengelana melalui gunung-gunung, dan padang pasir yang luas sambil meratapi dosa-dosa yang pernah

dilakukannya. Akhirnya sampailah iadi Merv. Di sini Ibrahim melihat seorang lelaki terjatuh dari sebuah jembatan. Pastilah ia akan

binasa dihanyutkan oleh air sungai.

Dari kejauhan Ibrahim berseru : “Ya Allah, selamatkanlah dia!.”

Seketika itu juga tubuh lelaki itu berhenti di udara sehingga para penolong tiba dan menariknya ke atas. Dan dengan terheran-heran

mereka memandang kepada Ibrahim. “Manusia apakah ia itu.” Seru mereka.

Ibrahim meninggalkan tempat itu dan terus berjalan sampai ke Nishapur. Di kota Nishapur Ibrahim mencari sebuah tempat terpencil

dimana ia dapat tekun mengabdi kepada Allah. Akhirnya ditemuinyalah sebuah gua yang dikemudian hari menjadi amat termasyhur. Di

dalam gua itulah Ibrahim menyendiri selama sembilan tahun, tiga tahun pada masing-masing ruang yang terdapat di dalamnya. Tak

seorang pun yang tahu apakah yang telah dilakukannya baik siang maupun malam di dalam gua itu, karena hanya seorang manusia luar

biasa perkasanya yang sanggup menyendiri di dalam gua itu pada malam hari.

Setiap hari kami, Ibrahim memanjat keluar dari gua tersebut untuk mengumpulkan kayu bakar, Keesokan paginya pergilah ia ke Nishapur

untuk menjual kayu-kayu itu. Setelah melakukan shalat Jum’at ia pergi membeli roti dengan uang yang diperolehnya. Roti itu

separuhnya diberikannya kepada pengemis dan separuhnya lagi untuk pembuka puasanya. Demikianlah  yang dilakukannya setiap pekan.

Pada suatu malam di musim salju, Ibrahim sedang berada dalam ruang pertapaannya, Malam itu udara sangat dingin dan untuk bersuci

Ibrahim harus memecahkan es. Sepanjang malam badannya menggigil, namun ia tetap melakukan shalat dan berdoa hingga fajar

menyingsing. Ia hampir mati kedinginan. Tiba-tiba ia teringat pada api. Di atas tanah dilihatnya ada sebuah kain bulu. Dengan kain

bulu itu sebagai selimut ia pun tertidur. Setelah hari terang benderang barulah ia terjaga dan badannya terasa hangat. Tetapi

segeralah ia sadar bahwa yang disangkanya sebagai kain bulu itu adalah seekor naga dengan biji mata berwarna merah darah. Ibrahim

panik ketakutan dan berseru :

“YA Allah, Engkau telah mengirimkan makhluk ini dalam bentuk yang halus, tetapi sekarang terlihatlah bentuk sebenarnya yang sangat

mengerikan. Aku tak kuat menyaksikannya.”

Naga itu segera bergerak dan meninggalkan tempat itu setelah dua atau tiga kali berseujud di depan Ibrahim.

IBRAHIM BIN AD-HAM PERI KE MEKKAH.

Ketika kemasyhuran perbuatan-perbuatannya tersebar luas, Ibrahim meninggalkan gua tersebut dan pergi ke Mekkah. Di tengah padang

pasir, Ibrahim berjumpa dengan seorang tokoh besar agama yang mengajarkan kepadanya Nama Yang Teragung dari Allah dan setelah itu

pergi meninggalkannya. Dengan Nama Yang Teragung itu Ibrahim menyeru Allah dan sesaat kemudian tepaklah olehnya Khidir as.

“Ibrahim”, kata Khididr kepadanya, “saudaraku Daud-lah yang mengajarkan kepadamu Nama Yang Teragungitu.”

Kemudian mereka berbincang-bincang mengenai berbagai masalah. Dengan seizin Allah, Khidir adalah manusia pertama yang telah

menyelamatkan Ibrahim.

Mengenai kelanjutan-kelanjutan menuju Mekkah  Ibrahim mengisahkan, sebagai berikut : “Setibanya di Dzatul Irq, ku dapati tujuh puluh

orang yang berjubah kain perca tergeletak mati dan darah mengalir dari lubang telinga mereka. Aku berjalan mengitari mayat-mayat

tersebut, ternyata salah seorang di antaranya masih hidup.

“Anak muda, apakah yang telah terrjadi?” aku bertanya kepada nya.

“Wahai anak Adam,” jawabnya padaku, “berada lah di dekat air dan tempat shalat, janganlah menjauh agar engkau tidak dihukum, tetapi

jangan pula terlalu dekat agar engkau tidak celaka. Tidak seorang manusia pun boleh bersikap terlampau berani di depan Sultan.

Takutilah ssahabat yang membantai dan memerangi para peziarah ke tanah suci se akan-akan mereka itu orang-orang kafir Yunnani. Kami

ini adalah rombongan sufi yang menembus padang pasir dengan berbpasrah kepada Allah dan berjanji tidak akan mengucapkan sepatah kata

pun di dalam perjalanan, tidak akan memikirkan apa pun kecuali Allah, senantiasa membayangkan Allah ketika berjalan maupun

istirahat, dan tidak perduli kepadsa segala sesuatu kecuali kepada-Nya.

Setelah kami mengarungi padang pasir dan sampai ke tempat di mana para peziarah harus mengenakan jubah putih, Khidir as. Datang

menghampiri kai. Kami mengucapkan salam kepadanya dan Khidir membalas salam kami. Kami sangat gembira dan berkata “Alhamdulillah,

sesungguhnya perjalanan kita telah diridhai Allah, dan ang mencari telah mendapatkan yang dicari, karena bukankah manusia suci

sendiri telah datang untuk menyambut kita’. Tapi, saat itu juga berserulah sebuah suara di dalam diri kami : “Kalian pendusta dan

berpura-pura! Demikianlah kata-kata dan janji kalian dahulu? Kalian lupa pada Ku dan memuliakan yang lain. Binasalah kalian! Aku

tidak akan membuat perdamaian dengan kalian sebelum nyawa kalian ku cabut sebagai pembalasan dan sebelum darah kalian ku tumpahkan

dengan pedang kemurkaan!” Manusia-manusia yang engkau ssaksikan tekapar di sini, semuanya adalah korban dari pembalasan itu. Wahali

Ibrahim, berhati-hatilah engkau! Engkau pun mempunyai ambisi yang sama. Berhati-hatilah atau menyingkirlah jauh-jauh!.”

Aku sangat gemar mendengar kisah itu. Aku bertanya kepada nya :”Tetapi mengapakah engkau tidak turut di binasakan?”

“Kepadaku dikatakan : Sahabat-sahabtmu telah matang sedang engkau masih mentah. Biarlah engkau hidup beberapa saat lagi dan segera

akan menjadi matang. Setelah matang engkau pun akan menysul mereka.”.

Setelah berkata demikian ia pun menghmebuskan nafasnya yag terakhir.

oooOOOooo

Empatbelas tahun lamanya Ibrahim mengarungi padang pasir, dan selama itu pula ia selalu berdoa dan merendahkan diri kepada Allah.

Ketika, hampir sampai ke  kota Mekkah, para sesepuh kota hendak menyambutnya, Ibrahim mendahului rombongan agar ridak seorang pun

dapat mengenali dirinya. Hamba-hamba yang mendahului para sesepuh tanah suci melihat Ibrahim, tetapi karena belum pernah dengannya,

mereka tak mengenalnya. Setelah Ibrahim begitu dekat, para sesepuh itu berseru : “Ibrahim bin Ad-ham hampir sampai. Para sesepuh

tanah suci telah datang menyambutnya.”

“Apakah yang kalian inginkan dari si bid’ah itu?” tanya Ibrahim kepada mereka. Mereka langsung meringkus Ibrahim dan memukulinya.

“Para sesepuh tanah suci sendiri datang menyambut Ibrahim tetapi engkau menyambutnya bid’ah?” hardik mereka.

“ya, aku katakan bahwa dia adalah seorang bid’ah?”, Ibrahim mengulangi ucapannya.

Ketika mereka meninggalkandirinya, Ibrahim berkata pada dirinya sendiri : “Engkau pernah menginginkan agar para sesepuh itu datang

menyambut kedatanganmu, bukankah telah engkau peroleh beberapa pukulan dari mereka? Alhamdulillah, telah kusaksikan betapa engkau

telah memperoleh apa yang engkau inginkan!>”

Ibrahim menetap di Mekkah. Ia selalu dikelilingi oleh beberapa orang sahabat dan ia memperoleh nafkah dengan memeras keringat sebgai

tukan kayu.

IBRAHIM DIKUNJUNGI OLEH PUTERANYA

Ketika berangkat dari Balkh, Ibrahim bin Ad-ham meninggalkan seorang putera yang msih menyusui. Suatu hari, setelah si putera telah

dewasa, ia menanyakan perihal ayahnya kepada ibunya.

“Ayahmu telah hilang!”. Si ibu menjelaskan.

Setelah mendapat penjelasanini, si putera membuat sebuah maklumat bahwa barang siapa yang bermaksud menunaikan ibadah haji, diminta

supaya berkumpul. Empat ribu orang datang memenuhi panggilan ini. Kemudian ia lalu memberikan biaya makan dan unta selama dalam

perjalanan kepada mereka itu. Ia sendiri memimpin rombongan itu menuju kota Mekkah. Dalam hati ia berharap semoga Allah

mempertemukan dia dengan ayahnya. Sesampainya di Mekkah, di dekat pintu Masjidil Haram, mereka bertemu dengan serombongan sufi yang

mengenakan jubah kain perca.

“Apakah kalian mengenal Ibrahim bin Ad-ham?” si pemuda bertanya kepada mereka.

“Ibrahim bin Ad-ham adalah sahabat kami. Ia sedang mencari makanan untuk menjamu kami.”

Pemuda itu meminta agar mereka sudi mengantarkannya ke tempat Ibrahim saat itu. Mereka membawanya ke bagian kota Mekkahyang dihuni

oleh orang-orang miskin. Di sana dilihatnya betapa ayahnya bertelanjang kaki dan tanpa menutup kepala sedang memikul kayu bakar. Air

matanya berlinang tapi ia masih dapat mengendalikan diri. Ia lalu membuntuti ayahnya sampai ke pasar. Sesampainya di pasar si ayah

mulai berteriak-teriak : “Siapakah yangsuka membeli barang yang halal dengan barang yang halal?!”

Seorang tukang roti menyahuti dan menerima kayu api tersebut dan memberikan roti kepada Ibrahim. Roti itu dibawanya pulang lalu

disuguhkannya kepada sahabat-sahabatnya.

Si putera berpikir-pikir dengan penuh kekuatiran : “Jika ku katakan kepadanya siapa aku, niscaya ia akan melarikan diri.” Oleh

karena itu ia pun puang meminta nasihat dari ibunya, bagaimana cara yang terbaik untuk mengajak ayahnya pulang. Si Ibu menasehatkan

agar ia bersabar hingga tiba saat melakukan ibadah ;haji.

Setelah tiba saat menunaikan ibadah haji, sang anak pun pergi ke Mekkah. Ibrahim sedang duduk beserta sahabat-sahabatnya.

“ Hari ini di antara jama’ah haji banyak terdapat perempuan dan anak-anak muda.” Ibrahim menasehati mereka. “Jagalah mata kalian.”

Semuanya menerima nasehat Ibrahim itu. Para jama’ah memasuki  kota Mekkah dan melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah, Ibrahim beserta

para sahabatnya melakukan hal yang serupa. Seorang pemuda yang tampan menghampirinya dan Ibrahim terkesima memandanginya. Sahabat-

sahabat Ibrahim yang menyaksikan kejadian ini merasa heran namun menahan diri sampai selessai thawaf.

“Semoga Allah mengampuniu,” mereka menegur Ibrahim. “Engkau telah menasehati kami agar menjaga mata dari setiap perempuan atau

kanak-kanak, tetapi engkau sendiri telah terpesona memandang seorng pemuda tampan.”

“Jadi kalian telah menyaksikan perbuatanku itu?.”

“Ya, kami telah menyaksikannya,” jawab mereka.

“Ketika perdi dari Balkh,” Ibrahim mulai memberi penjelasan, “aku meninggalkan seorang anakku yang masih menyusui. Aku yakin pemuda

tadi adalah anakku sendiri.”

Keesokan harinya tanpa sepengetahuan Ibrahim, salah seorang sahabtnya pergi mengunjungi perkemahan jama’ah dari Balkh. Di antara

semua kemah-kemah itu ada sebuah yang terbuat dari kain brokat. Di dalamnya berdiri sebuah mahligai dan di atas mahligai itu si

pemuda sedang duduk membaca al-Qur’an sambil menangis. Sahabat Ibrahim tersebut meminta izin untuk masuk.

“Dari manakah engkau datang?”, tanyanya kepada si pemuda.

“Dari Balkh,” jawab si pemuda.

“Putera siapakah engkau?”.

Si pemuda menutup wajahnya lalu menangis. “ Sampai kemarin aku belum pernah menatap wajah ayahku.” Katanya sambil memindahkan a;-

Qur’an yang sedang dibacanya tadi. “Walaupun demikian, aku belum merasa pasti apakah ia ayahku atau bukan. Aku kuatir jika ku

katakan kepadanya siapa aku sebenarnya, ia akan menghindarkan diri kembali dari kami. Ayahku adalah Ibrahim bin Ad-ham, raja dari

Balkh.”

Sahabat Ibrahim lalu membawa si pemuda bertemu dengan ayahnya. Ibunya pun turut menyertai mereka. Ketika mereka sampai ke tempat

Ibrahim, Ibrahim sedang duduk bersama sahabt-sahabatnya di depan pojok Yamani. Dari kejauhan Ibrahim telah melihat sahabatnya datang

beserta si pemuda dan ibunya. Begitu melihat Ibrahim, wanita itu menjerit dan tidak dapat megendalikan dirinya lagi.

“Inilah ayahmu!.”

Semuanya gempar. Semua orang yang berada di tempat itu serta sahabat-sahabat Ibrahim menitikkan air mata. Begitu si pemuda dapat

menguasai diri, ia segera mengucapkan salam kepada ayahnya. Ibrahim menjawab salam anaknya kemudian merangkulnya.

“Agama apakah yang engkau anut?”, tanya Ibrahim kepada anaknya.

“Agma Islam.”

“Alhamdulillah,” ucap Ibrahim. “dapatkah engkau membaca al-Qur’an?,”

“Ya”, jawab anaknya.

“Alhamdulillah. Apakah engkau sudah mendalami agama ini?”.

“Sudah”.

Setelah itu Ibrahim hendak pergi tetapi anaknya tidak mau melepaskannya. Ibunya meraung keras-keras. Ibrahim menengadahkan kepalanya

dan berseru :

“Ya Allah, selamatkanlah diriku ini.”

Seketika itu juga anakanya yang sedang berada dalam rangkulannya menemui ajal.

“Apakah yang terjadi Ibrahim?”, sahabat-sahabatnya bertanya..

“Ketika aku merangkulnya,” Ibrahim menerangkan, “timbullah rasa cintaku kepada anakku, dan sebuah suara berseru kepadaku : “Engkau

mengatakan bahwa engkau mencintai Aku, tetapi nyatanya engkau mencintai seorang lain di samping Aku. Engkau telah menasehati

sahabt-sahabatmu agar mereka tidak meandang wanita dan perempuan, tetapi hatimu sendiri lebih tertarik kepda wanita dan pemuda

itu!”. Mendengar kata-kata itu akupun berdoa : “Ya Allah Yang Maha Besar, selamatkanlah diriku ini! Anak ini akan merenggut seluruh

perhatianku sehingga aku tidak dapat mencintai-Mu lagi. Cabutlah nyawa anakku atau cabutlah nyawaku sendiri.”

Dan kematian anakku tersebut merupakan jawaban terhadap doaku.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI IBRAHIM BIN AD-HAM

Seseorang bertanya kepda Ibrahim bin Ad-ham : “Apaah yang telah terjadi terhadap dirimu sehingga engkau meninggalkan kerajaanmu?”.

“Pada suatu hari aku sedang duduk di atas tahta dan sebuah cermin dipegangkan di hdapanku. Aku memandang cermin itu, tiba-tiba yang

terlihat olehku adalah sebuah kuburan sedang di dalamnya tak ada teman-teman yang ku kenal. Sebuah perjalanan yang jauh terbentang

di depanku sdang aku tak punya bekal. Ku lihat seorang hakim yang adil sedang aku tidak mempunyai seorang pun yang membela diriku.

Setelah kejadian itu aku benci melihat kerajaanku.”

“Mengapa pula engkau meninggalkan Khurasan?”, sahabt-sahabtnya beranya.

“Di Khurasan banyak kudengarkan kata-kata mengani Sahabt Sejati,” jawab Ibrahim.

“Mengapa engau tidak merisreri lagi?”.

“Maukah seorang wanita mengambil seorang suami  yang akan membuatnya lapar dan tak berpakaian?”, Ibrahim balik bertanya.

:Tidak!”, jawab mereka.

“Itulah sebabnya aku tidak mau menikah lagi>” Ibrahim menjelaskan. “Setiap wanita yang kunikahi akan lapar dan berteanjang seumur

hidupnya. Bahkan seandainya sanggup, aku inginmenceraikan diriku sendiri. Bagaimanakah aku dapat membawa seseorang yang lain di atas

pelana kudaku?”.

Kemudian ia berpaling kepada seorang pengemis yang turut mendengarkan kata-katanya itu dan bertanya kepada pengemis itu :

“Apakah engkau mempunyai seorang isteri?.”

“Tidak,” jawab si pengemis.

“Itulah sebabnya aku tidak mau menikah lagi,” Ibrahim menjelaskan. “Setiap wanita yang kunikahi akan lapar dan bertelanjang seumur

hidupnya. Bahkan seandainya sanggup, aku ingin menceraikan diriku sendiri. Bagaimanakah aku dapat membawa seseorang yang lain di

atas pelana kudaku?.”

Kemudia ia berpaling kepada seorang pengemis yang turut mendengarkan kata-katanya itu dan bertanya kepada pengemis itu :

“Apakah engkau mempunyai seorang isteri?”

“Tidak” jawab si pengemis.

“Apakah engkau mempunyai seorang anak?”

“Tidak”

“Baik sekali! Baik sekali!” seru Ibrahim.

“Mengapa engkau berkata demikian?”, si pengemis bertanya.

“Seorang pengemis yang menikah adalah seperti seorang yang menumpang sebuah perahu. Apabila anak-anaknya lahir, tenggelamlah ia.”

Suatu hari Ibrahim menyaksikan seorang pengemis sedang meratapi nasibnya.

“Aku menduga bahwa engkau membeli pekerjaan ini dengan gratis”, kata Ibrahim kepadanya.

“Apakah pekerjaan mengemis diperjualbelikan”, si pengemis bertanya heran.

“Sudah tentu!” jawab Ibrahim. “Aku sendiri telah membelinya dengan kerajaan Balkh. Dan aku merasa sangat beruntung!.”

oooOOOooo

Seseoang datang hendak memberi uang seribu dinar kepada Ibrahim. “Terimalah uang ini”, ketanya kepada Ibrahim.

“Aku tak mau menerima sesuatu pun dari para pengemis.”Jawab Ibrahim.

“Tetapi aku adalah seorang yang kaya,” balas orang itu.

“Apakah engkau masih menginginkan kekayaan yang lebih besar dari yang telah engkau miliki sekarang ini?, tanya Ibrahim.

“Ya”, jawabnya.

“Bawalah kembali uang ini!. Engkau adalah ketua para pengemis. Engkau bahkan bukan seorang pengemis lagi tetapi seorang yang sangat

papa dan terlunta-lunta.”.

Kepada Ibrahim dikabarkan mengenai seorang pertapa remaja yang telah memperoleh pengalaman-pengalaman menakjubkan dan telah

melakukan disiplin yang sangat keras.

“Antarkanlah aku kepadanya karena aku ingin sekali bertemu dengannya,” kata Ibrahim.

Mereka mengantarkan Ibrahim ke tempat si pemuda bertapa.

“Jadilah tamuku selama tiga hari,” si pemuda mengundang Ibrahim. Ibrahim menerrima undangannya dan selama itu pula Ibrahim

memperhatikan tingkah lakunya. Ternyata yang disaksikan Ibrahim lebih menakjubkan daripada yang telah didengarnya dari sahabat-

sahabatnya. Sepanjang malam si pemuda tidak pernah tertidur atau terlena. Menyaksikan semua ini Ibrahim merasa iri.

“Aku sedemikian lemah, tidak seperti pemuda ini yang tak pernahtidur dan beristirahat sepanjang malam. Aku akan mengamati dirinya

lebih seksama,” Ibrahim berkata dalam hati. “Akan ku selidiki apakah syaithan telah masuk ke dalam tubuhnya atau apakah semua ini

wajar sebagaimana yang semestinya. Aku harus meneliti sedalam-dalamnya. Yang menjadi inti persoalan adalah apa yang dimakan oleh

seseorang.”

Maka diselidikinyalah makanan si pemuda. Ternyata si pemuda memperoleh makanan dari sumber yang tidak halal.

“Maha Besar Allah, ternyata semua ini adalah perbuatan syaithan,” Ibrahim berkata dalam hati.

“Aku telah menjadi tamumu selama tiga hari,” kata Ibrahim. “Kini engkaulah yang menjadi tamuku selama empat puluh hari!”.

Si pemuda setuju.  Ibrahim membawa si pemuda ke rumahnya dan menjamunya dengan makanan yang telah diperolehnya dengan memeras

keringatnya sendiri. Seketika itu juga kegembiraan si pemuda hilang. Semua semangat dan kegesitannya buyar. Ia tidak dapat lagi

hidup tanpa beristirahat dan tidur. Ia lalu menangis.

“Apakah yang telah engkau perbuat terhaaspku?,” tanya si pemuda kepada Ibrahim.

“Makananmu engku peroleh dari sumber yang tak halal. Setiap saat syaithan merasuk ke dala tubuhmu. Tetapi begitu engkau menelan

makanan yang halal, ketahuanlah bahwa semua hal-hal menakjubkan yang dapat engkau lakukan selama ini adalah pekerjaan syaithan.”

oooOOOooo

Sahl bin Ibrahim berkisah : Ketika melakukan perjalanan denan Ibrahim bin Ad-ham aku jatuh sakit. Ibrahim menjual segala sesuatu

yang dimilikinya dan mempergunakan uang yang diperolehnya itu untuk merawat diriku. Kemudian aku memohonkan sesuatu dari Ibrahim dan

ia menjual keledainya dan hasil penjualan itu diperuntukkannya padaku. Setelah sembuh aku bertanya kepda Ibrahim.

“Dimanakah keledaimu.”

“Telah ku jual!,” jawab Ibrahim.

“Apakah tungganganku?”, tanyaku.

“Saudaraku,” jawab Ibrahim, “naiklah ke atas punggung ku ini.”

Kemudian ia mengangkat tubuhku ke atas punggungnya dan menggendongku sampai ke persinggahan yang ketiga dari tempat itu.

oooOOOooo

Setiap hari Ibrahim pergi ke luar rumah untuk menjual tenaganya, bekerja hingga malam, dan seluruh pendapatannya digunakan untuk

kepentingan sahabt-sahabatnya. Suatu hari, ia baru membeli makanan setelah selessai shalat ‘Isa dan kembali kepada sahabt-sahabatnya

ketika hari telah larut malam.

Sahabat-sahabatnya berkata sesama mereka : “Ibrahim terlambat datang, marilah kita makan roti kemudian tidur. Hal ini akan menjadi

peringatan kepada Ibrahim, agar lain kali agar ia pulang lebih cepat dan tidak membiarkan kita lama menunggu-nunggu.

Niat itu mereka laksanakan. Sewaktu Ibrahim pulang, dilihatnya sahabat-sahabatnya sudah tertidur. Mengira bahwa mereka belum makan

dan tidur dengan perut kosong, Ibrahim lalu menyalakan api. Ia membawa sedikit gandum. Maka dibuatnyalah panganan untuk santapan

sahabt-sahabatnya itu apabila mereka terbangun nanti, dengan demikian mereka dapat berpuasa esok hari. Sahabat-sahabatnya terbangun,

melihat Ibrahim sedang meniup api, janggutnya menyentuh lantai dan air matanya melelh karena asap yag mengpul-ngepul di

sekelilngnya.

“Apakah yang sedang engkau lakukan?” tanya mereka.

“Ku lihat kalian sedang tidur,” jawab Ibrahim. “ Ku kira kalian belu memperoleh makanan dan tertidur dalam keadaan lapar, karena itu

ku buatkan panganan untuk makanan kalian setelah bangun.

“Betapa ia memikirkan diri kita dan betapa kita berpikir yang bukan-bukan mengenai dirinya”, mereka saling berkata.

oooOOOooo

“Sejak engkau menempuh kehidupan yang seperti ini, apakah engkau mengalami kebahagiaan?”, seseorang bertanya kepada Ibrahim.

“Sudah, berapa kali”, jawab Ibrahim. “Pada suatu ketika aku sedang berada di atas sebuah kapal dan nahkoda tak mengenal diriku. Aku

mengenakan pakaian yang lusuh dan rambutku belum dicukur. Aku sedang berada dalam suatu ekstase spiritual namun tak seorang pun di

atas kapal itu yang mengetahuinnya. Mereka menertawai dan memperolok-olok ku. Di atas kapal itu ada seorang pembadut. Setiap kali

menghampiriku ia menjambak rambutku dan menampar tengkukku. Pada saat itu aku erasakan bahwa keinginanku telah tercapai dan aku

merasa sangat bahagia karena dihinakan sedemikian rupa.”

“Tanpa terduga-duga, datanglah gelombang raksasa. Semua yang berada di atas kapal kuatir kalau-kalau mereka akan tenggelam. “Salah

seorang dari penumpang harus dilemparkan ke laut agar muatan jadi ringan!.” Teriak juru mudi. Mereka segera meringkusku untuk

dilemparkan kelaut. Tetapi untunglah seketika itu juga gelombang mereda dan perahu itu tenang kembali. Pada saat mereka menarik

telingaku untuk dilemparkan ke laut itulah aku merasakan bahwa keinginanku telah tercapai dan aku merasa sangat berbahagia.”

Dalam peristiwa yang lain, aku pergi ke suabh masjid untuk tidur di sana. Tetapi orang-orang tidak mengijinkan aku tidur di dala

masjid itu sedangkan aku sedemikian lemah dan letih sehingga tak sanggup berdiri untuk meninggalkan tempat itu. Orang-orang menarik

kakiku dan menyeretku ke luar. Masjid itu mempunyai tiga buah anak tangga. Setiap kali membentur anak tangga  itu, kepalaku

mengeluarkan darah. Pada saat itu aku merasa bahwa keinginanku telah tercapai. Sewaktu mereka melemparkan diriku ke anak tangga yang

berada di bawah, misteri alam semesta terbuka kepadaku dan aku berkata di dalam hati : “Mengapa masjid ini tidak mempunyai lebih

banyak anak tangga sehingga semakin bertambah pula kebahagianku!.”

“Dalam peristiwa lain, aku sedang asyik dalam ekstase. Seorang pembadut datang dan mengencingiku. Pada saat itu aku pun merasa

bahagia.”

“Dalam sebuah peristiwa, aku mengenakan sebuah mantel bulu. Manel itu penuh dengan tuma yang tanpa ampun lagi mengganyang tubuhku.

Tba-tiba aku teringat akan pakaian bagus yang tersimpan di dalam gudang, tetapi hatiku berseru : “Mengapa?’ Apakah semua itu

menyakitkan?” Pada saat itu au merasa bahwa keinginanku telah tercapai!.”

oooOOOooo

Ibrahim berkisah : Pada suatu hari keteika aku sedang mengarungi padang pasir dan aku berpasrah diri kepada Allah. Telah beberapa

hari lamanya aku tidak makan. Aku teringat kepada seorang sahabt tetapi aku segera berkata kepada diriku sendiri, “Jika aku pergi ke

temepat sahabtku, apakah gunanya kepasarahanku kepada Allah” Kemudian aku memasuki sebuah masjid sambil bibirku bergerak-gerak

menggumamkan : “Aku telah mempercayakan diriku kepada Dia Yang Hidup dan tak pernah mati. Tidak ada Tuhan selain-Nya.” Sebuah suara

berseru dari langit : “Maha besar Allah yang telah menggosongkan bumi bagi orang-orang yag berpasrah diri kepada-Nya.” Aku bertanya

: “Mengapakah demikian?” Suara itu menjawab : “Betapakah seseorang benar-benar berpasrah diri kepada Allah, melakukan perjalanan

jauh demi sesuap makanan yang dapat diberikan sembarang sahabtnya, kemudian menyatakan :Aku telah memasrahkan diriku kepada Yang

Maha Hidup dan tidak pernah mati?” Engkau telah memberikan ucapan berpasrah kepada Allahkepada seseoarng pendusta.”.

oooOOOooo

Ibrahim berkisah : Pada suatu ketika aku membeli seorang hamba. “Siapakah namamu?”, tanyaku padanya.

“Panggilanmu terhadapku”, jawabnya.

“apakah yang engkau makan?”

“Makanan yang kau berikan untuk ku makan.”

“Pakaian apakah yang engkau pakai.”

“Pakaian yang engkau berikan untuk ku kenakan.”

“Apakah yang engkau kerjakan?”

“Pekerjakan yang engkau perrintahkan kepadaku.”

“Apakah yang engkau inginkan?”

“Apakah hak seorang hamba untuk menginginkan?” jawabnya. “Celakalah engkau.” Kataku kepada diriku sendiri. “Seumur hidup engkau

adalah hambaAllah. Kini ketahulah bagaimana seharusnya menjadi seorang hamba.”

Sedemikian lamana aku menangis sehingga aku tidak ssadarkan diri.

oooOOOooo

Tak seorang pun pernah menyaksikan Ibrahim duduk bersila.

“Menapa engkau tak pernah duduk bersila?” tanya seseorang kepadanya.

Ibrahim menjawab : “Pada suatu hari ketika aku duduk bersila terdengar olehku suara yang berkata kepadaku : “Wahai anak Adam, apakah

hamba-hamba duduk seperti itu di hadapan tuan mereka ?”

Segeralah aku duduk tegak dan memohon ampunan.”

oooOOOooo

Ibrahim berkata: Pada suatu keetika aku berjalan menempuh padang pasir sambil memasrahkan diri kepada Allah. Sudah tiga hari lamanya

aku tidak makan. Kemudian syaithan datang kepadaku dan menggoda : “Apakah engau meninggalkan kerajaanmu beserta kemegahan-kemegahan

yang sedemikian banyak hanya untuk pergi ke tanah suci dalam keadaan lapar seperti ini? Sesungguhnya engkau dapat melakukan hal yang

serupa tanpa penderitaan ini.”

Setelah mendengar kata-kata syaithan itu aku tengadahkan kepalaku dan berseru kepada Allah : “Ya Allah, apakah Engkau lebih suka

menganggkat musuh-Mu daripada sahabt-Mu untuk menyiksa diriku? Kuatkanlah diriku karena aku tak sanggup meneberangi padang pasir ini

tanpa pertolongan Mu.”

Maka terdengarlah olehku sebuah seruan :

“Ibrahim, campakanlah yang di dalam sakumu itu sehingga Kami boleh mendatangkan karunia Kami dari alam ghaib.”

Aku rogoh sakuku, kudapatkan empat buah mata uang perak yang tanpa sengaja terbawa olehku. Begitu aku melemparkan uang itu, si

ysaithan lari meninggalkan diriku dan secara ghaib di depanku telah terhidang makanan.

oooOOOooo

Aku pernah bekerja menjaga sebuah kebun buah-buahan. Pada suatu hari pemilik kebun itu datang kepadaku dan berkata : “Ambilkanlah

padaku beberpa buah delia yang manis rasanya.” Maka ku ambilkan beberapa buah tetapi ternyata rasanya asam.

“Bawakanlah buah-buahan yang manis.” Si pemilik kebun mengulangi perintahnya. Maka Ku bawakan delima sepinggan penuh, namun buah-

buahan itu asam pula rasanya.

Si pemilik kebun berseru : Masya Allah, telah sedemikian lama engkau bekerja di kebun ini namun engkau tidak mengenal buah delia

yang telah masak.”

“Aku menjaga kebunmu namun aku tak tahu bagaimana rasanya buah delima karena aku tak pernah mencicipinya.” Jawabku.

 Maka berkatalah si pemilik kebun : “Dengan keteguhan yang seperti ini, aku mempunyai persangkaan bahwa engkau adalah Ibrahim bin

Ad-Ham.”

Setelah mendengar kata-kata tersebut segeralah aku meninggalkan tempat iru.

oooOOOooo

Ibrahim mengisahkan : Pada suatu malam, dala sebuah mimpi kulihat Jibril turun ke bumi membawa seglung kertas di tangannya.

Aku bertanya kepadanya : “Apakah yang hendak engkau lakukan?”

“aku hendak mnecatat nama sahabt-sahabat Allah.” Jawab Jibril .

“Catatlah namaku,” aku bermohon kepadanya.

“engkau bukan salah seorang sahabt-sahabat Allah” jawab Jibril.

“Tetapi aku adalah seorang sahabt dari sahabt-sahabat Allah itu,” aku bermohon hampir putus asa.

Beberapa saat Jibril terdiam. Kemudian ia berkata : “Telah kuterima sebuah perintah : “Tulislah nama Ibrahim di tempat paling atas

karena di dalam jalan ini harapan tercipta dari keputus asaan.”

oooOOOooo

Suatu hari ketika Ibrahim sedang berada di sebuah padangpasir, seorang tentara menegusnya :

“Siapakah engkau?”

“Seorang hamba”, jawab Ibrahim.

“Manakah jalan ke perkampungan?” tanya tentara itu itu. Ibrahim lalu menunjuk ke sebuah pemakaman.

“Engkau memperolok-olok aku,” hardik si tentara, kemudian memukul kepala Ibrahim hingga luka dan berdarah. Setelah itu ia

mengalungkan tali ke leher Ibrahim dan menyertenya. Beberapa orang dari kota yang terletak di tempat kejadian itu kebetulan lewat.

Menyaksikan hal ini mereka berhenti dan berseru :

“Hai orang bodoh, orang ini adalah Ibrahim bin Ad-ham, sahabat Allah!...

Si serdadu cepat-cepat berlutut di depan Ibrahim bin Ad-ham, bermohon agar ia dimafkan.

“Engkau mengatakan bahwa engkau adalah seorang hamba.” Si serdadu mencoba membela  diri.

“Siapakah orang yang bukan hamba?” tanya Ibrahim.

“Aku telah melukai kepalamu tetapi engkau malah mendoakan keselamatanku.”

“Aku mendoakan agar engkau memperoleh berkah karena perlakuanmu terhadap diriku,” jawab Ibrahim. “Imbalan terhadap diriku karena

perlakuanmu itu adalah surga dan aku tidak tega jika imbalan untukmu adalah neraka.”

“Mengapakah engkau menunjukan pemakaman ketika aku menanyakan jalan ke perkampungan?” tanya si serdadu.

Ibrahim mejawab : “Karena semakin lama, pemakaman semakin penuh sedangkan kota semakin kosong.

oooOOOooo

Suatu hari Ibrahim bertemu dengan seorang yang sedang mabuk. Mulutnya berbau busuk. Segera Ibrahim mengambil air dan dibasuhnya

mulut si pemabuk itu sambil berkata kepada dirinya sendiri :

“Apakah akan kubiarkan mulut yang pernah mengucapkan nama Allah di dalam keadaan kotor. Itu namanya tidak memuliakan Allah.”

Ketika si pemabuk siuman, orang-orang berkta kepadanya : “Pertapa dari Khurasan telah membasuh mulutmu.”

Si pemabuk menjawab : “Sejak saat ini aku bertaubat!.”

Setelah bertaubat demikian, Ibrahim di dalam mimpinya mendengar sebuah seruan kepadanya :

“Engkau telah membasuh sebuah mulut demi Allah dan Aku telah membasuh hatiu.”

oooOOOooo

Rajah berkisah : Ketika aku dan Ibrahim sedang menumpang sebuah perahu, tiba-tiba angin topan datang menerpa dan bumi menjadi kelam.

Aku berteriak : “Perahu kita akan tenggelam!.”

“Tetapi dari langit ku dengar suara “

“Jangan kuatirkan perahu akan tenggelam karena Ibrahim bin Ad-ham ada beserta kalian.”

Segera setelah itu angin mereda dan bumi yang kelam menjadi terang kembali.

oooOOOooo

Ibrahim menumpang perahu tetapi iatidak mempunyai uang. Kemudian terdengar sebuah pengumuman : “Setiap orang harus membayar satu

dinar.”

Ibrahim segera shalat sunnat dua raka’at dan berdoa :

“Ya Allah, mereka meminta ongkos, tetapi aku tak mempunyai uang.”

Mendafdak lautan luas berubah menjadi emas. Ibrahim mangambil segenggam dan memberikannya kepada mereka.

oooOOOooo

Suatu hari Ibrahim duduk di tepi sugai Tigris menjahit jubah tua-nya. Jarumnya terjatuh ke dalam sungai. Seseorang bertanya

kepadanya :

“Engkau telah meninggalkan sebuah kerajaan yang jaya, tetapi apakah yang telah engkau peroleh sebagai imbalan?”

Sambil menunjuk ke sungai Ibrahim berseru :

“Kembalikanlah jarum ku!.”

Seribu ekor ikan mendongakkan kepala ke permukaan air, masing-masing dengan sebuah jarum emas di mulutnya. Kepada ikan-ikan itu

Ibrahim berkata :

“Yang aku inginkan adalah jarumku sendiri.”

Seekor ikan yang kecil dan lemah datang mengantarkan jarum kepunyaan Ibrahim di mulutnya.

“Jarum ii adalah salah satu di antara imbalan-imbalan yang ku peroleh karena meninggalkan kerajaan Balkh. Sedang yang lain-lainnya

belum engkau ketahui.

oooOOOooo

Suatu hari Ibrahim pergi ke sebuah sumur. Timba diturunkannya dan ketika diangkat ternyata timba itu penuh dengan kepingn emas.

Emas-emas itu ditumpahkannya kembali ke dalam sumur. Kemudian timba diturunkan dan ketika diangkat ternyata penuh pula dengan

butiran-butiran mutiara. Denan jenaka mutiara-mutiara itu ditumpahkannya pula. Kemudian Ibrahim beroda kepada Allah :

“Ya Allah, Engkau menganugerahi ku dengan harta karun. Aku tahu bahwa Engkau Maha Kuasa,tetapi Engkau pun tahu bahwa aku tak ingin

terpesona oleh harta benda. Berilah aku air agar aku dapat bersuci.”

oooOOOooo

Ketika Ibrahim menyertai sebuah rombongan yang hendak berziarah ke tanah suci. Mereka berkata : “ Tak seorang pun di antara kita

yang mempunyai untamaupun perbekalan.”

“Percayalah bahwa Allah akan menolong kita,” kata Ibrahim. Setelah diam sebentar, ia menambahkan : “Pandanglah pohon-pohon di sana.

Jika emas yang kalian inginkan, maka pohon-pohon itu niscaya akan berubah menjadi emas.”

Dan seketika itu juga pohon-pohon akasia itu, dengan kekuasaan Allah Yang Maha Besar, berubah menjadi emas.

oooOOOooo

Ibrahim sedang berjalan dengan sebuah rombongan, mereka tiba di sebuah benteng. Di Depan benteng itu banyak terdapat semak belukar.

“Baiklah kita bermalam di sini karena di tempat ini banyak semak belukar sehigga kita dapat membuat api unggun.” Kata mereka.

Mereka punmenghidupkan api dan duduk di sekelilingnya. Semuanya memakan roti kering ketika Ibrahim sedang berdiri dalam shalatnya.

Salah seorang di antara mereka berkata :

“Seandainya kita mempunyai daging yang halal untuk kita panggang di atas api ini!.”

Setelah selesai shalat, Ibrahim berkata kepada mereka : “Sudah pasti Allah dapat memberikan daging yang halal kepada kamusekalian.”

Setelah selesi berkata demikian Ibrahim bangkit dan shalat kembali. Tiba-tiba terdengarlah auman seekor singa yang menyeret keledai

liar. Singa itu menghampiri mereka. Keledai itu mereka ambil, mereka panggang untuk kemudian mereka makan sementara si singa duduk

memperhatikan segala tingkah mereka.

PERTAUBATAN BISYR SI MANUSIA BERKAKI TELANJANG

Bisyr si manusia berkaki telanjang, lahir di Merv dan menetap di Baghdad. Sewaktu muda, ia adalah seorang berandal. Suatu hari dalam

keadaan mabuk, ia berjalan terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia temukan secarik kerta bertuliskan : “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih

lagi Maha Penyayang.” Bisyr lalu membeli minyak mawar untuk memercii kertas tersebut kemudian menyimpannya dengan hati-hati di

rumahnya.

Malam harinya seorang manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu ia diperintah Allah untuk mengatakan kepada Bisyr: “Engkau telah

mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan namamu.

Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran Ku, niscaya Ku harumkan namamu, baik di dunia

maupun di akhirat nanti.”

Bisyr adalah seorng pemuda berandal,” si manusia suci itu berpikir. “Mungkin aku telah bermimpi ssalah.”

Oleh kkarena itu ia pun segera bersuci, shalat kemudian tidur kembali, namun tetap saja mendatangkan mimpi yang sama. Ia ulangi

perbuatan itu untuk ketiga kalinya, ternyata tetap mengalami mimpi yang demikian juuga. Keesokan harinya pergilah ia mencari Bisyr.

Dari seseorang yang ditanyanya, ia mendapat jawaban : “Bisyr sedang mengunjungi pesta buah anggur.”

Maka, pergilah ia ke rumah orang yang sedang berpesta itu. Sesampainya di sana, ia bertanya : “Apakah Bisyr berada di tempat.”

“ada, tetapi ia dalam keadaan mabuk dan lemah tak berdaya.”

“Katakan kepada  bahwa ada pessan yang hendak ku sampaikan kepadanya,” ,manusia suci itu berkata.

 “Pesan dari siapa?” tanya Bisyr.

“Dari Allah!.” Jawab di manusia suci.

“Aduhai!” Bisyr berseru dengan air mata berlinang. “Apakah pesan untuk mencela atau untuk menghukum diriku? Tetapi tunggulah

sebentar, aku akan pamit kepada sahabt-sahabatku terlebih dahulu.”

“Sahabat-sahabat>” ia berkata kepada teman-teman minumnya. “Aku dipanggil, oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini.

Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini!.”

Sejak saat itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian salehnya sehingga tidak seorang pun yang mendengar namanya tanpa Kedamaian

Ilahi menyentuh hatinya. Bisyr telah memilih jalan penyangkalan diri. Sedemikian asyiknya ia menghadap Allah bahkan mulai saat itu

ia tak pernah lagi memakai alas kaki. Inilah sebabnya mengapa Bisyr dijuluki si manusia berkaki telanjang.

Apabila ditanya : “Bisyr, apakah sebabnya engkau tak pernah memakai alas kaki?” Jawabnya adalah : “Ketika aku berdamai dengan Allah,

aku sedang berkaki telanjang. Sejak saat itu aku malu mengenakan alas kaki. Apalagi bukankah Allah Yang Maha Besar telah berkata :

“Telah Ku ciptakan bumi sebagai permadani untuk mu.” Dan bukankah tidak pantas apabila berjalan memakai sepatu di atas permadai

Raja?”.

Ahmad bin Hambal sangat sering mengunjungi  Bisyr, Ia begitu mempercayai kata-kata Bisyr sehingga murid-muridnya pernah mencela

sikapnya itu.

“Pada zaman ini tidak ada orang yang dapat menandingi mu di bidang Hadits, hukum, teologi dan setiap cabang ilmu pengetahuan, tetapi

setiap saat engkau menemani seorang berandal. Pantaskah perbuatanmu itu?”

“Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang lebih ahli daripada Bisyr,  jawab Ahmad bin Hambal. “Tetapi mengenai

Allah ia lebih ahli daripada ku.”.

Ahmad bin Hambal sering memohon kepada Bisyr : “Ceritakanlah kepadaku perihal Tuhan-ku.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI BISYR

“Nanti malam Bisyr akan datang ke mari.” Pikiran ini membersit dalam hati saudara perempuan Bisyr.  Maka segeralah ia menyapu ddan

mengepel laintai rumhanya. Kemudian dengan penuh harap menanti kedatangan saudaranya itu. Tiba-tiba Bisyr muncul seperti soerang

yang sedang kebingungan.

“Aku akan naik ke atas loteng.” Bisyr berkata kepada saudara perempuannya dan bergegas menuju tangga. Tetapi baru beberapa anak

tangga yang dilaluinya, dia berhenti lalu sepanjang malam itu ia tetap berdiri terpaku di tempat itu. Setelah Shubuh barulah ia

turun dan pergi ke masjid untuk shalat.

“Mengapa sepanjang malam tadi engkau berdiri terus di atas tangga?”, saudara perempuannya bertanya kepada Bisyr ketika ia kembali

dari masjid.

“Sebuah pikiran terbetik di dalam benakku, jawab Bisyr, Ada yang Yahudi, Kristen dan ada yang Majusi. Aku sendiri bernama Bisyr dan

sebagai seorang Muslim aku telah mencapai kebahagiaan yang sangat bear. Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, apakah yang telah

ku lakukan sehingg aku memperoleh kebahagiaan itu dan apakah yang telah mereka lakukan sehingga mereka tidak memperolehnya? Karena

bingung dibuat pikiran itulah aku berdiri terpaku seperti itu.”

oooOOOooo

Bisyr memiliki buku-buku Hadits sebanyak tujuh lemari. Buku-buku itu dikuburkannya ke dalam tanah dan tidak diajarkannya kepada

siapa pun juga. Mengeenai sikapnya ini Bisyr menjelaskan :

“Aku tidak mau mengajarkan haidts-hadits itu karena aku merasa bahwa di dalam diriku ada hasrat untuk melakukan hal itu. Tetapi

seandainya aku mempunyai hasra bediam diri, niscaya hadits-hadits itu akan kuajarkan.”

oooOOOooo

Selama empat puluh tahun Bisyr sangat menginginkan daging panggang tetapi ia tak mempunyai uang untuk membelinya.Bertahun-tahun ia

menginginkan makan kacang buncis tetapi tak sedikit pun ada yang dimakannya. Ia tak pernah meminu air dari saluran yang ada

pemiliknya.

oooOOOooo

Salah seorang di antara tokoh-tokoh suci berkisah mengenai Bisyr : Suatu hari aku bersama Bisyr. Cuaca terasa dingin sekali, tetapi

kulihat Bisyr tidak memakai pakaian dan tubuhnya menggil kedinginan.

“Abu Nashr”, tegurku, ‘dalam cuaca dingin seperti ini orang-orang melapisi pakaian mereka, tetapi engkau malah melepaskannya.”

“Aku teringat kepada orang-orang miskin”, jawab Bisyr. “Aku tidak mempunyai uang untuk menolong mereka, oleh karena itulah aku ingin

turut merasakan penderitaan mereka.”

oooOOOooo

Ahmad bin Ibrahim menuturka : Bisyr berkata kepadaku  “Sampaikan kepada Ma’ruf bahwa aku akan mengunjunginya setelah aku selessai

shalat.”

Pesan itu ku ssampaikan kepada Ma’ruf. Kemudian aku dan Ma’ruf menantikan dia. Tetapi setelah kami selesai melakukan shalat Zhuhur,

Bisyr belum juga datang. Ketika kami melakukan shalat ‘Ashar, ia belum juga kelihatan. Begitu pula halnya setelah kami salat ‘Isha.

“Maha Besar Allah,” Aku berkata dalam hati, “apakah soerang manusia seperti Bisyr masih suka mengingkari janji? Sungguh

keterlaluan.”

Aku masih mengharap-harap kedatangan Bisyr, waktu itu kami sedang berada di pintu masjid. Tidak lama kemudian tampaklah Bisyr dengan

mengepit sebuah sajadah berjalan ke arah kami. Begitu sampai disunngai Tigris, Bisyr langsung menyeberanginya dengan berjalan di

atas air. Ia lalu menghampiri kami. Bisyr dan Ma’ruf berbincang-bincang sepanjang malam. Setelah Shubuh barulah Bisyr meninggalkan

tempat itu dan seperti ketika ia datang, sungai itu disebranginya dengan berjalan di atas permukaannya. Aku meloncat dari loteng,

bergegas menyusulnya, dan setelah ku cium tangana dan kakinya, aku bermohon kepadanya : “Berdoalah untuk diriku!.”

Bisyr mendoakan diriku. Setelah itu ia berkata : “Jangan katakan segala sesuatu yang telah engkau saksikan kepada siapapun!.”

Selama Bisyr masih hidup, kejadian itu tak pernah ku ceritakan kepada siapa pun juga.

oooOOOooo

Orang-orang berkumpul, mendengarkan Bisyr memberikan ceramah mengenai Rasa Puas. Salah seorang di antara pendengar menyela :

“Abu Nashr, engkau tidak mau menerima pemberian orang karena ingin dimuliakan. Jika engkau benar-benar melakukan penyangkalan diri

dan memalingkan wajahmu dari dunia ini, maka terimalah sumbangan-sumbangan yang diberikan kepadamu agar engkau tidak lagi dipandang

sebagai orang yang mulia. Kemudian secara sembunyi  berikanlah semua itu kepada orang-orang miskin. Setelah itu jangan engkau goyah

dalam kepasrahan kepada Allah, dan terimalah nafkahmu dari alam ghaib.”

Murid-murid Bisyr sangat terkesan mendengar kata-kata ini.

“Camkan oleh kalian!.” Jawab Bisyr. “Orang-orang miskin terbagi atas tiga golongan. Golongan pertama adalah orang-orang miskin yang

tak pernah meminta-minta dan apabila kepada mereka diberikan sesuatu mereka menolaknya. Orang-orang seperti ini adalah para

spiritualis. Seandainya orang-orang seperti ini meminta kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan segala permintaan mereka.

Golongan ke dua adalah orang-orang miskin yang tak pernah meminta-minta, tetapi apabila kepada mereka diberikan sesuatu, mereka

masih mau mnerimanya. Mereka itu berada di tengah-tengah. Mereka adalah manusia-manusia yang teguh di dalam kepasrahan kepada Allah

dan mereka inilah yang akan dijamu Allah di dalam surga. Golongan ke tiga adalah orang-orang miskin yang duduk dengan sabar menanti

pemberian orang sesuai dengan kesanggupan, tetapi mereka menolak godaan-godaan hawa nafsu.”

“Aku puas dengan keteranganmu ini.” Orang yang menyela tadi berkata. “Semoga Allah puas pula denganmu.”

oooOOOooo

Beberpa orang mengunjungi Bisyr dan berkata : “Kami datang dari syria hendak pergi menunaikan ibadah Haji. Sudikah engkau menyertai

kami?.”

“Dengan tiga syarat,” jawab Bisyr. “Yang pertama, kita tidak akan membawa perbekalan, kedua, kita tidak meminta belaskasihan orang

di dalam perjalanan; dan ketiga, jika orang-orang memberikan sesuatu, kita tidak boleh menerrimanya.”

“Pergi tanpa perbekalan dan tidak meminta-minta di dlam perjalanan dapat kami terima.” Jawab mereka. Tetapi apabila orang-orang lain

memberikan sesuatu mengapa kita tidak boleh menerimanya?.

“Sebenarnya kalian tidak memarahkan diri kepada Allah, tetapi kepada pebekalan yang kalian bawa,” cela Bisyr kepada mereka.

oooOOOooo

Seorang lelaki meminta nasehat kepada Bisyr : “Aku mempunyai dua ribu dirham yang ku peroleh secara halal. Aku ingin pergi

menunaikan ibadah Haji.”

“Apakah engkau hendak pergi bersenang-senang?” tanya Bisyr. “Jika engkau benar-benar berniat untuk menyenangkan Allah, maka

lunasilah hutang seseorang atau berikan uang itu kepada anak yatim atau kepada seseorang yang butuh pertolongan. Kelapangan yang

diberikan kepada jiwa orang Musli lebih disukai Allah daripada seribu kali menunaikan ibadah haji.”

“Walau demikian, aku lebih suka jika uang ini ku ppergunakan untuk menunaikan ibadah haji,” lelaki itu menjawab.

“Ya, karena engkau telah memeprolehnya dengan cara-cara yang tidak halal,” jawab Bisyr, “maka engkau tidak akan merasa tenang

sebelum menghabiskannya dengan cara-cara yang tidak benar.”

oooOOOooo

Bisyr berkisah : Pada suatu ketika, di dalam mimpi aku berjumpa dengan Nabi. Beliau berkata kepadaku : “Bisyr, tahukah engkau

mengapa Allah telah memilihmu di antara manusia-manusia yang semasa denganmu? Dan tahukah engkau mengapa Allah memuliakanmu?”

“Aku tidak tahu ya Rasulullah,” jawab ku.

“Karena engkau telah mengikuti Sunnahku, memuliakan orang-orang yang ssaleh, memberi nasehat-nasehat yang baik kepada saudara-

saudramau, dan mencintai aku dan keluargaku,” Nabi menjelaskan. “Karena alasan-alasan itulah Allah telah mengangkatmu ke dalam

golongan orang-orang yang saleh.”

oooOOOooo

Bisyr berkisah pula sebagai berikut :

Suatu malam aku bermimpi bertemu dengan ‘Ali. Aku berkata kepadanya : “Berikan aku sebuah petuah.”

“Alangkah baik belas kasih yang diperlihatkan orang-orang kaya kepada orang-orang miskin, semata-mata untuk mendapatkan pahala dari

Yang Maha Pengasih. Tetapi yang lebih baik adalah keengganan orang-orang miskin untuk menerima pemberian orang-orang kaya karena

percaya kemurahan Sang Pencipta alam semesta,” jawab “Ali.

oooOOOooo

Bisyr sedang terbaring menantikan ajalnya. Seseorang datang dan mengeluh tentang nasibnya yang malang. Bisyr melepaskan dan

memberikan pakaiannya kepada lelaki itu, kemudian menggunakan sebuah pakaian yang dipinjamnya dari seorang sahabat. Dengan

menggunakan pakaian pinjaman itulah ia berpindah ke alam baqa.

oooOOOooo

Diriwiyatkan bahwa selama Bisyr masih hidup, tidak ada keledai yang membuang kotorannya di jalan-jalan kota Baghdad, karena

menghormati Bisyr berjalan dengan kaki telanjang. Pada suatu malam seorang lelaki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di

atas jalan. Maka berserulah ia :

“Wahai, Bisyr telah tiada!.”

Mendengar seruan itu, orang-orang pun pergi menyelidiki. Ternyata kata-katanya itu terbukti kebenarannya. Lalu kepadanya ditanyakan

bagaimana ia bisa tahu bahwa Bisyr telah meninggal dunia.

“Karena selama Bisyr masih hidup, tak pernah ada kotoran keledai terlihat di jalan-jalan kota Baghdad. Tadi aku melihat bahwa

kenyataan itu tilah berubah, maka tahulah aku bahwa Bisyr telah tiada.”

DZUN NUN SI ORANG MESIR DAN KISAH PERTAUBATANNYA

Mengenai pertaubatan Dzun Nun si orang Mesir dikisahkannya sebagai berikut :

Suatu hari aku mendengar bahwa di suatu tempat berdiam seorang pertapa. Maka pergilah aku ke pertpaan itu. Sesampainya di sana

kudapai si pertapa sedang bergantung pada sebatang pohon dan berseru kepada dirinya sendiri :

“Wahai tubuh, bantulah aku dalam mentaati perintah Allah. Kalau tidak, akan ku biarkan engkau tergantung seperti ini sampai engkau

mati kelaparan.”

Menyaksikan hal itu aku tak dapat menahan tangis sehingga tangisku terdengar oleh si pertapa pengabdi Allah itu. Maka bertanyalah ia

:

Siapakah itu yang telah menaruh belaskasihan kepada diriku yang tidak mempunyai malu dan banyak berbuat aniaya ini?.”

Aku menghampirinya dan mengucapkan salam kepadanya. Kemudian aku bertanya : “mengapakah engkau berbuat seperti ini?”

“Tubuhku ini telah menghalang-halangiku untuk mentaati perintah Allah,” jawabnya. Tubuhku ini ingin bercengkerama dengan manusia-

manusia lain.”

Tadi aku mengira bahwa ia telah menumpahkan darah seorang Muslim atau melakukan dossa besar semacam itu.

Si pertapa melanjutkan : “Tidakkah engkau menyadari bahwa begitu engkau bergaul dengan manusia-manusia ramai, maka segala sesuatu

dapat terjadi?”

“Engkau benar-benar seorang pertapa yang kukuh!.” Kataku kepadanya.

“Maukah engkau menemui seorang pertapa yang lebih dari padaku?” tanyanya kepadaku.

“Ya”, jawabku.

“Pergilah ke gunung yang berada di sana itu. Di situlah engkau akan menemuinya”, si pertapa menjelaskan.

Maka pergilah aku ke gunung yang ditunjukannya. Di sana ku jumpai seorang pemuda yang sedang duduk di dalam sebuah pertapaan. Sebuah

kakinya telah terkutung putus dan dilemparkan ke luar, cacing –cacing sedang menggerogotinya. Aku menghampirinya lalu mengucapkan

salam, kemudian ku tanyakan perihal dirinya.

Si Pertapa berkisah kepadaku : “Suatu hari ketika aku sedang dduduk di dalam pertapaan ini, seorang wanita kebetulan lewat di tempat

ini. Hatiku bergetar menginginkannya dan jasmaniku mendorongku agar mengejarnya. Ketika sebuah kakiku telah melangkah ke luar dari

ruangan pertapaan ini terdengarlah olehku sebuah seruan : “Setelah mengabdi dan mentaati Allah selama tiga puluh tahun, tidakkah

engkau merasa malu untuk mengikuti syathan dan mengejar seorang wanita lacur? Karena menyesal ku potonglah kaki yang telah

kulangkahkan itu. Kini aku duduk menantikan apa yang akan terjadi menimpa diriku. Tetapi apakah yang telah mendorong dirimu untuk

menemui orang berdosa seperti aku ini? “Jika engkau ingin menjumpai seorang hamba Allah yang sejati, pergilah ke puncak gunung

ini.”.

Puncak gunung itu terlapau tinggi untuk ku daki. Oleh karena itu aku hanya dapat bertanya-tanya tentang dirinya.

Seseorang mengisahkan kepadaku : “Memang ada seorang lelaki yang sudah sangat lama mengabdi kepada Allah di dalam pertapaan di

puncak gunung itu. Pada suatu hari seseorang mengunjunginya dan berbantah-bantah dengannya. Orang itu berkata bahwa setiap manusia

harus mencari makanannya sendiri sehari-hari. Si Pertapa kemudian bersumpah tidak akan memakan makanan yang telah diussahakan.

Berhari-hari lamanya ia tidak makan sesuatu pun. Tetapi akhirnya Allah mengutus sekawanan lebah yang melayang-layang mengelilinginya

kemudian memberikan madu kepadanya.”

Segalasesuatu yang telah ku saksikan dan segala kisah yang telah ku dengar itu sangat menyentuh hatiku. Sadarlah aku bahwa barang

siapa memasrahkan diri kepada Allah, niscaya Allah kan memeliharanya dan tidak akan menyia-nyiakan penderitaannya. Di alam

perjalanan menuruni gunung itu aku melihat seekor burung yang sedang bertengger di atas pohon. Tubuhnya kecil dan setelah ku amati

ternyata matanya buta. Aku lantas berkata dalam hati : “Dari manakah makhluk lemah yang tak berdaya ini memperoleh makanan dan

minumannya?”.

Seketika itu juga si burung melompat turn. Dengan mematuk-matukan paruhnya, diacungkannya tanah dan tidak berapa lama kemudian

terlihatlah olehku dua buah cawan. Yang sebuah dari eas dan penuh biji gandum, sedang lainnya dari perak dan penuh dengan air mawar.

Setelah makan sepuasnya, burung itu meloncat kembali ke atas dahan sedang cawan-cawan tadi hilang kembali tertimbun tanah. Dzun Nun

sangat heran menyaksikan keanehan tersebut. Sejak saat itulah ia mempercayakan jiwa raganya dan benar-benar bertaubat kepada Allah.

Setelah beberapa lama berjalan, Dzun Nun dan para sahabatnya sampai di seuah padang pasir. Di sana mereka menemukan sebuah guci

berisi kepingan-kepingan emas dan batu permata dan di atas tutupnya terdapat sebuah papan yang bertuliskan nama Allah. Sahabat-

sahabatnya membagi-bagi emas dan permata-permata tersebut di antara sesama mereka sedang Dzun Nun hanya meminta : “Berikanlah

kepadaku papan yang bertuliskan nama Sahabatku itu!.”

Papan itu diterimanya, siang malam diciuminya. Berkat papan itu ia memperoleh kemajuan yang sedemikian pesatnya sehingga pada suatu

malam ia bermimpi. Dalam mimpi itu ia mendengar suara yang berseru kepadanya : “Seua sahabat-sahabatmu lebih suka memilih emas dan

permata karena benda-benda itu mahal harganya. Tetapi engkau telah memilih nama-Ku yang lebih berharga daripada emas dan permata.

Oleh karena itu Aku bukakan untukmu pintu pengetahuan dan kebijaksanaan!.”

Setelah itu Dzun Nun kembali ke kota. Kisahnya berlanjut pula, sebagai berikut ini.

Suatu hari aku berjalan-jalan ssampai ke tepian sebuah sungai., di situ ku lihat sebuah villa. Di sungai itu aku bersuci, setelah

selesai, tanpa senegaja aku memandang loteng villa itu. Di atas balkon sedang bediri seorang dara jelita. Karen ingin mempertegasnya

aku pun bertanya : “Upik, siapakah engkau ini?”.

Si dara menjawab : “Dzun Nun, dari kejauhan ku kira engkau seorang gila, ketika agak dekat kukira engkau seorang terpelajar. Dan

ketika sudah dekat ku kira engkau seorang mistikus. Tetapi kini jelas bagiku bahwa engkau bukan gila, bukan seorang terpelajar dan

bukan pula seorang mistikus.”

Aku bertanya : “Mengapa engkau berkata demikian?.”

Si dara menjawab : “Seandainya engkau gila, niscaya engkau tidak bersuci. Seandainya engkau terpelajar niscaya engkau tidak

memandang yang tak boleh dipandang. Dan seandainya engkau seorang mistikus pasti engkau tidak akan memandang sesuatu pun juga selain

Allah.”

Setelah berkata demikian dara itu pun hilang. Sadarlah aku bahwa ia bukan manusia biasa. Sesungguhnya ia telah diutus Allah untuk

memberi peringatan kepda diriku. Api sesal membakar hati ku. Maka aku teruskan pengemabaraanku ke arah pantai.

Sesampainya di pantai aku melihat orang-orang sedang naik ke atas sebuah kapal. Akupun berbuat seperti mereka. Beberapa lama

berlalu, seorang saudagar yang menumpang kapal itu kehilangan permata miliknya. Satu persatu para penumpang digeledah. Akhirnya

mereka menarik kesimpulan bahwa permata itu ada di tanganku. Berulangkali mereka menyiksaku dan memperlakuan diriku sedemikian

hinanya, tetapi aku tetap membisu. Akhirnya aku tak tahan lagi lalu berseru :

“Wahai Sang Pencipta, sesungguhnya engkaulah Yang Maha Tahu!.” Seketika itu juga beribu-ribu ekor ikan mendongakkan kepala ke atas

permukaan air dan mesing-masing membawa sebuah permata di mulutnya.

Aku mengambilna sebuah dan me,berikannya kepada si saudagar. Menyaksikan keajaiban ini semua orang yang berada di atas kapal

berlutut dan meminta maaf padanya. Karena peristiwa inilah aku dijuluki Dzun Nun (“Manusia Ikan).

DZUN NUN DITANGKAP DAN DIBAWA KE KOTA BAGHDAD

Dzun Nun telah mencapai tingkat keluhuran yang tinggi tetapi tak seorang pun menyadari ini. Orang-orang di Negeri Mesir bahkan

sepakat mencap dirinya bid’ah dan melaporkan segala perbuatannya kepada Khalifah al-Mutawwakkil. Mutawwakil segera mengirim para

perwiranya untuk membaw Dzun Nun ke kota Baghdad. Ketika memasuki istana khalifah, Dzun Nun berkata : “Baru saja kupelajari Islam

yang sebenarnya dari seorang wanita tua dan sikap saria tulen dari seorang kuli pemikul air.”

“Bagaimana?,” tanya mereka kepadanya.

Dzun Nun menjawab : “Sesampainya di istana khalifah dan menyaksikan kemegahan istana dengan para pengurus dan pelayan yang hlir

mudik di koridor-koridornya, aku berpikir alangkah baiknya seandainya terjadi sedikit perubahan pada wajahku ini. Tiba-tiba seorang

wanita tua dengan sebuah tongkat di tangannya menghampiriku. Sambil menatapku dengan tajam ia berkata kepadaku :Jangan engkau takuti

jasad-jasad yang akan engkau hadapi, karena mereka dan engkau adalah sama-sama hamba Allah Yang Maha Besar. Kecuali apabila

dikehendaki Allah, mereka tidak dapat berbuat sesuatu pun terhadapmu.”

“Di tengah perjalanan tadi aku bertemu dengan seorang pemikul air. Aku diberinya seteguk air yag menyegarkan. Kepada seorang teman

yang menyertaiku aku memberi isyarat agar ia memberikan sekeping uang dinar kepadanya. Tapi si pemikul air menolak, tidak mau

menerima uang itu dan berkata kepadaku : “Engkau adalah seorang yang terpenjara dan terbelenggu. Bukanlah suatu keksatriaan yang

sejati apabila menerima sessuatu dari seseorang yang terpenjara seperti engkau ini, seorang asing yang sedang terbelenggu.”

Setelah itu diperintahkansupaya Dzun Nun dijebloskan ke dalam penjara. Empat puluh hari empat puluh malam lamanya ia mendekam dalamm

kurungan itu. Setiap hari saudara perempuannya mengantarkan sekerat roti yang telah dibelinya dengan upah dari pekerjaan memintal

benang. Ketika Dzun Nun dibebaskan, ditemukan empat puluh potong roti di kamar kurungannya dan tak satupun di antara roti-roti itu

yang telah disentuhnya. Katika saudara perempuan Dzun Nun mendengar hal ini, ia menjadi sangat sedih.

“Engkau tahu bahwa roti-roti itu adalah halal dan tidak ku peroleh dengan jalan meminta-minta. Mengapa engkau tidak mau memakan

roti-roti pemberianku itu.?”

“Karena pingganya tidak bersih,” jawab Dzun Nun. Yang dimaksudkannya adalah bahwa pinggn tersebut telah terpegang oleh penjaga

penjara.

Ketika keluar dari penjara itu, Dzun Nun tergelincir dan dahinya terluka. Diriwayatkan bahwa lukanya itu banyak mengeluarkan darah

tetapi tak setetespun yag mengotori muka, rambut maupun pakaiannya. Setiap tetes darah yang terjatuh ke tanah, seketika itu juga

lenyap dengan izin Allah.

Kemudian Dzun Nun dibawa menghadap khalifah. Ia diharuskan menjawwab tuduhan-tuduhan yang memberatkan dirinya. Maka dijelaskannya

doktrin-doktrinnya sedemikian rupa sehingga Mutawwakil menangis tersedu-sedu, sedang menteri-menetrinya terpesona mendengar

kefasihan Dzun Nun. Khalifah menganugerahinya dengan kehormatan yang besar.

DZUN NUN DAN SEORANG MURID YANG SALEH

Dzun Nun mempunyai seorang murid yang telah bertapa selama empat puluuh kali, masing-masing selama empat puluh hari. Empat puluh

kali ia telah berdiri di Padang Arafah dan selama empat puluh tahun ia teah mengendalikan hawa nafsunya. Suatu hari si murid datang

menghadap Dzun Nun dan berkata :

“Semua itu telah ku lakukan. Tetapi untuk semua jerih payahku Sang Sahabat tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dan tidak

pernah memandang diriku. Dia tidak memperdulikanku dan tak mau memperlihatkan keghaiban-keghaiban-Nya padaku. Semua itu ku katakan

bukan untuk memuji diriku sendiri, aku semata-mata menyatakan hal yang sebenarnya. Aku telah melakukan segala sesuatu yang dapat

dilakukan oeh diriku yang malang ini. Aku tidak mengeluh kepada Allah. Aku haya menyatakan hal yang sebenarnya bahwa aku telah

mengabdikan jiwa ragaku untuk berbakti kepada-Nya. Aku hanya meneyampaikan kisah sedih dari nasibku yang malang ini. Kisah

ketidakberuntungan diriku ini. Semua itu ku kemukakan bukan karena hatiku telah jemu utnuk mematuhi Allah. Aku kuatir jika masa-masa

mendatang aku mengalami hal yang sama. Seumur hidup aku telah mengetuk dengan penuh harap, namun tak ada jawaban. Sangat berat

bagiku untuk lebih lama menanggungkan. Karena engkau adalah tabib bagi orang-orang yang sedang berduka dan penasehat tertinggi bagi

orang-orang suci, sembuhkanlah duka citaku ini.”

“Malam ini makanlah dengan sepuas-puasnya.” Kata Dzun Nun menasehati, “Tinggalkanlah shalat ‘Isa dan tidurlah dengan nyenyak

sepanjang malam. Dengan demikian jika Sag Sahabat selama ini tidak memperlihatkan diri-Nya dengan kebajikan, maka setidak-tidaknya

Dia akan memperlihatkan diri-Nya dengan penyesalan terhadapmu. Jika selama ini Dia tidak mau memandangmu dengan kasih sayang, mala

Dia akam memandangmu dengan kemurkaan.”

Si murid pun pergi dan pada malam itu ia makan dengan sepuas-puasnya. Tetapi untuk melalaikan shalat “Isha hatinya tidak

mengijinkan. Ia tetap melakukan shalat dan setelah itu ia pun tidur. Malam itu di dalam mimpinya ia bertemu dengan Nabi dan berkata

kepadanya :

“Sahabatmu mengucapkan ssalam kepadamu. Dia berkata : “Hanya seorang malang yang lemah serrta bukan manusia sejatilah yang datang ke

hadiratKu dan cepat merasa puas. Inti permasalahan adalah hidup lurus tanpa keluhan.” Alllah yang Maha Besar menyatakan “Telah ku

berikan empat puluh tahun keinginan kapada hatimu dan Aku jamin bahwa engkau akan memperoleh segala sesuatu yang engkau harapkan dan

memenuhi segala keinginanmu itu. Tetapi ssampaikan pula salam-Ku kepada Dzun Nun, si manusia bajingan dan berpura-pura itu,

Katakanlah kepadanya, wahai manusia pendussta yang suska berpura-pura, Jka tidak Aku bukakan malumu kepada seluruh penduduk kota,

maka Aku bukanlah Tuhanmu. Awas, janganlah engkau sesatkan kekasih-kekasih-Ku yang malang dan jangan lah engkau jauhkan mereka dari

hadirat-Ku.”

Si murid terjaga dari tidurnya lalu menangis. Kemudian ia pergi kepada Dzun Nun dan mengissahkan segala sesuatu yang disaksikan dan

didengarnya dalam mimpi itu. Ketika Dzun Nun mendengar kata-kata “Tuhan mengirim salam dan menyaakan bahwa engkau adalah seorang

pendusta yang suka berpura-pura,” ia pun berguing-guling kegirangan dan menangis penuh kebahagiiaan.

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI DZUN NUN

Dzun Nun mengisahkan : Ketika aku sedang berjalan-jalan di gnung, terlihat olehku sekumpulan orang-orang  yang menderita sakit. Aku

bertanya kepada mereka : “Apakah yang telah terjadi terhadap kalian.?”

Mereka menjawab : “Di dalam pertapaan yang terletak di tempat ini berdiam seorang yang saleh. Setahun sekali ia keluar dari

pertapaannya, meniup orang-orang ini. Lalu semuanya sembuh. Setelah itu ia pun kembali ke dalam pertapaannya dan setahun kemudian

berulah ia keluar lagi.”

Dengan sabar aku menantikan si pertapa itu keluar dari dalam pertapannya. Ternyata yang ku saksikan adalah seorang lelaki berwajah

pucat, berbadan kurus dan bermata cekung. Tubuhku gemetar karena kagum memandang dirinya. Dengan penuh kasih si pertapa memandangi

orang banyak itu, kemudian menengadahkan pandangannya ke atas. Setelah itu semua orang-orang yang mendertia sakit itu ditiupnya

beberapa kali. Dan semuanya sembuh dari penyakitnya.

Ketika si pertapa hendak kembali ke dalam pertapannya, aku segera meraih pakaiannya dan berseru :

“Demi kasih Allah engau telah menyembuhkan penyakit-penyakit lahiriah, tetapi sembuhkanlah sekarang penyakit di dalam batinku ini.”

Sambil memandang diriku si pertapa berkata :

“Dzun Nun lepaskanlah tanganmu dariku. Sang Sahabat sedang mengawasi dari puncak kebesaran dan keagungan. Jika Dia lihat betapa

engkau bergantung kepada seseorang selain daripada-Nya, pasti Dia akan meninggalkan dirimu bersama orang itu, maka celakalah engkau

di tangan orang itu.”

Setelah berkata demikian ia pun kembali ke dalam pertapannya.

oooOOOooo

Suatu hari ssahabt-sahabatnya mendapati Dzun Nun sedang menangis.

“Mengapa engkau menangis?” tanya mereka.

“Kemarin malam ketika bersujud di dalam shalat, mataku tertutup dan aku pun tertidur. Terlihat oleh ku Allah dan Dia berkata

kepadaku : “Wahai Abu Faiz, Aku telah menciptakan semua makhluk terbagi dalam sepuluh kelompok. Kepada mereka Aku berikan harta

kekayaan dunia. Semuanya berpaling kepada kekayaan dunia kecuali satu kelompok. Kelompok ini terbagi pula menjadi sepuluh kelompok.

Kepada mereka aku berikan surga. Semuanya berpaling kepada surga kecuali satu kelompok. Kemudian kelompok ini terbagi pula menjadi

sepuluh kelompok. Kepada mereka aku tunjukan neraka. Semua lari menghindar kecuali satu kelompok yaitu orang-orang yang tidak

tergoda oleh harta kekayaan dunia, tidak mendambakan surga dan tak takut pada neraka. Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki?”

Semuanya menengadahkan kepalanya sambil berseru :

Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui apa yang kami kehendaki.!”.

oooOOOooo

Pada suatu hari seorang anak lelaki menghampiri Dzun Nun lalu berkata : “Aku mempunyai uang seribu dinar. Aku ingin menyumbangkan

uang ini untuk kebaktianmu kepada Allah. Aku ingin agar uangku ini dpat digunakan oleh murid-muridmu dan para guru sufi.”

“Apakah engkau sudah cukup umur?” tanya Dzun Nun.

“Belum”, jawab anak itu.

“Jika demikian engkau belum berhak untuk mengeluarkan uang tersebut. Berssabarlah hingga engkau cukup dewasa.” Dzun Nun menjelaskan.

Setelah dewasa, anak itu kembali menemui Dzun Nun. Dengan pertolongan Dzun Nun ia bertaubat kepada Allah dan semua uang dinar emas

itu diberikannya untuk para sufi, sahabat-sahabat Dzun Nun.

Suatu ketika para sufi itu mengalami kesulitan sedang mereka tak memiliki apa-apa lagi karena uang telah habis dipergunakan.

Anak lelaki yang telah menyumbangkan uangya itu berkata : “Sayang sekali, aku tak mempunyai yang seratus ribu dinar lagi untuk

membantu manusia-manusia berbudi ini.”

Kata-kata ii terdengar oleh Dzun Nun, maka sadarlah ia bahwa anak tersebut belum menyelami kebenaran sejati dri kehidupan mistik

karena kekayaan dunia masih penting dalam pandangannya. Anak itu dipanggil Dzun Nun dan berkata kepadanya :

“Pergilah ke tabib anu, katakan kepadanya bahwa aku menyuruh dia untuk menyerahkan obat seharga tiga ribu dirham kepadamu.”

Si pemuda segera pergi ke tabib dan tak lama kemudian ia telah kembali lagi.

“Masukanlah obat-oat itu kedalam lumpang dan tumbuklah sampai lumat,” Dzun Nun menyruh si pemuda. “Kemudian tuangkanlah sedikit

minyak sehingga obat-obat itu berbentuk pasta. Kemudian kepal-kepallah ramuan itu menjadi tiga buah butiran, dan dengan sebuah jarum

lobangilah ketiga-tiganya. Setelah itu bawalah ketiga butirnya kepadaki.”

Si pemuda melaksanakan seperti yang diperintahkan kepadanya. Setelah selesai, ketiga butiran itu dibawanya kepada Dzun Nun.

Butiiran-butiran tersebut diusap-usap oleh Dzun Nun kemudian ditiupnya. Tiba-tiba bitur-butir itu berubah menjadi tiga buah batu

mirah delimma dari jenis yang belum pernah disaksikan manusia. Kemudian Dzun Nun berkata kepada si pemuda :

“Bawalah permata-permata ii ke pasar dan tanyakanlah harganya, sampai tetapi jangan engkau jual.”

Si pemuda membawa batu-batu itu permata itu ke pasar. Ternyata setiap butiranya berharga seribu dinar. Si pemuda kembali untuk

mengabarkan hal ini kepada Dzun Nun. Dzun Nun berkata : “Sekarang masukanlah permata-permata itu ke dala lesung, tumbuklah sampai

halus dan setelah itu lemparkanlah ke dala air.”

Si pemuda melakukan seperti yn disuruhkan, melemparkan tumbukan permata itu ke dalam air. Setelah itu Dzun Nun berkata kepadanya : 

“Anakku, para guru sufi itu bukan lapar karena kekurangan. Semua ini adalah kemauan mereka sendiri.”.

Si pemuda bertaubat lalu jiwanya terjaga. Dunia ini tak berharga lagi dalam pandangannya.

oooOOOooo

Dzun Nun berkisah sebagai berikut :

Selama tiga puluh tahun aku mengajak manusia untuk bertaubat, tetapi hanya seorang yang telah menghampiri Allah dengan segala

kepatuhan. Baginilah peristiwanya :

Pada suatu hari sewaktu aku berada di pintu sebuah masjid, seorang pangeran beserta para pengiringnya lewat di depaku. Ku ucapkan

kata-kata : “Tak ada yang lebih bodoh daripada si lemah yang bergulat melawan si kuat.”

Si pangeran bertanya kepadaku : “Apakah makna kata-katamu itu?.”

“Manusia adalah makhluk yang lemah, tetapi ia bergulat melawan Allah Yang aha Kuat,” jawab ku.

Wajah si pangeran remaja itu berubah pucat. Ia bangkit lalu meninggalkan tempat itu. Keesokan harinya iakembali menemuiku dan

bertanaya : “Manakah jalan menuju Allah?”

“Ada jalan yang kecil dan ada jalan yang besar, yang manakah yang engkau sukai?” Jika engkau menghendaki jalan yang kecil,

tinggalkanlah dunia dan hawa nafsu, setelah itu jangan berbuat dosa lagi. Jika engkau menghendaki jalan yang besar, tinggalkanlah

segala sesuatu keccuali Allah lalu kosongkanlah hatimu.”

“Demi Allah akan ku pilih jalan yang besar,” jawab si pangeran.

Esoknya ia mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba dan mengambil jalan mistik. Di kemudian hari ia menjadi seorang manusia

suci.

oooOOOooo

Kisah berikut ini diriwayatkan oleh Abu Ja’far yang bermata satu.

Aku bersama Dzun Nun dengan sekelompok murid-muridnya berada di suatu tempat. Mereka sedang membicarakan bahwa sesungguhnya manusia

dapat memerintah benda-benda mati.

“Inilah sebuah contoh,” kata Dzun Nun, “bahwa benda-benda mati mematuhi perintah-perintah manusia-manusia suci. Jika kukatakan

kepada sofa itu menarilah mengelilingi rumah ini, maka ia pun menari.”

“Belum lagi Dzun Nun selesai dengan kata-katanya, sofa itu mulai bergerak kemudian mengelilingi rumah lalu membalik ke tempatnya

semula. Seorang pemuda yang menyaksikan peristiwa ini tidak dapat menahan ledakan tangisnya dan tak berapa lama kemudian menemui

ajalnya. Mereka memandikan mayat si pemuda di atas sofa itu kemudian menguburkannya.

oooOOOooo

Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Dzun Nun dan berkata :

“Aku mempunyai hutang tetapi aku tidak mempunyai uang untuk melunasinya.”

Dzun Nun memungut sebuah batu. Betu itu berubah menjadi zamrud. Dzun Nun menyerahkannya kepada lelaki itu. Ia membawa nya ke pasar

dan menjualnya dengan harga empat ratus dirham kemudian ia melunasi hutangnya.

oooOOOooo

Ada seorang pemuda yang seringkali mencemoohkan kaun sufi. Suatu hari Dzun Nun melepaskan cincin di jarinya kemudian memberikan

cincin itu kepada si pemuda ssambil berkata :

“Bawalah cincin ini ke pasar dan gadaikanlah dengan harga satu dinar.”

Si pemuda membawa cincin itu ke pasar tetapi tak seorang pun mau menerimanya dengan  harga di atas satu dirham. Si Pemuda kembali

dan menyampaikan hal itu kepada Dzun Nun.

“Sekarang bawalah cincin ini kepada pedagang permata dan tanyakan harganya.” Dzun Nun berkata kepada si pemuda.

Ternyata pedagang-pedagang permata menaksir harga cincin itu saribu dinar. Ketika si pemuda kembali, Dzun Nun berkata kepadanya :

“Engkau hanya mengetahui kaum sufi seperti pemilik-pemilik warung di pasar tadi mengetahui harga cincin ini.”

Si pemuda bertaubat dan ia tak mau lagi mencemooh para sufi.

oooOOOooo

Telah sepuluh tahun lamanya Dzun Nun ingin memakan Sekbaj, tetapi keinginan itu tak pernah dilampiaskannya. Kebetulan esok hari

adalah hari raya dan batinnya berkata : “Bagaimana jika esok engkau memberi kami sesuap sekbaj sekedar untuk menyambut hari raya?”

“Wahai hatiku, jika demikian yang engkau kehendaki, maka biarkanlah aku membaca seluruh ayat al-Qur’an di dalam shalat sunnat dua

raka’at malam nanti.”

Hatinya mengizinkan. Keesokan harinya Dzun Nun mempersiapkan sekbaj di depannya. Ia telah membasuh tangan tetapi sekbaj itu tidak

disentuhnya; ia segera melakukan shalat.

“Apakah yang telah terjadi?”, seseorang yang menyaksikan hal itu bertanya kepada Dzun Nun.

“Barusan, hatiku berkata kepadaku,” jawab Dzun Nun. “Akhirnya setelah sepuluh tahun lamanya barulah tercapai keinginanku.!”

Tetapi segera ku jawab “ “Demi Allah, keinginanmu tidak akan tercapai.”

Yang meriwayatkan kisah ini menyatakan bahwa begitu Dzun Nun mengucapkan kata-kata itu, masuklah seorang yang membawakan semangkuk

sekbaj ke hadapannya dan berkata :

“Guru, aku tidak datang kemari atas kehendakku sendiri, tetapi sebagai utusan. Baiklah kujelaskan duduk persoalannya kepadamu. Aku

mencari nafkah sebagai seorang kuli padahal aku mempunyai beberpa orang anak. Telah beberapa lamanya mereka meminta sekbaj dan untuk

itu aku telah menabung uang. Kemarin malam kubuatkan sekbaj ini untuk menyambut hari raya. Tadi aku bermimpi melihat wajah

Rasulullah yang cerah menerangi bumi. Rasulullah berkata kepadaku : “Jika engkau ingin melihatku di hari berbangkit nanti, bawalah

sekbaj itukepada Dzun Nun dan katakan kepadanya bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib telah memohon ampun untuk dirinya

agar ia untuk sementara dapat berdamai dengan hatinya dan memakan sekbaj ini dengan sekedar nya.”

“Aku taati,” sahut Dzun Nun sambil menangis.

oooOOOooo

Ketika Dzun Nun terbaring menunggu ajalnya, sahabat-sahabatnya bertnya :

“Apakah yang engkau inginkan saat ini?”

Dzun Nun menjawab : “Keinginanku adalah walau untuk sesaat saja, aku dapat mengenal-Nya,” Kemudian Dzun Nun bersyair :

Takut telah meletihkan diriku;

Hasyrat telah memebakar diriku;

Cinta telah memperdayakanku.

Tetapi Allah telah menghidupkan aku kembali.

Pada suatu hari ketika Dzun Nun tidak sadarkan diri. Pada malam kematiannya, tujuh puluh orang telah bertemu dengan Nabi Muhammad di

dalam mimpi mereka. Semuanya mengisahkan bahwa di dalam mimpi itu Nabi berkata : “Sahabat Allah sudah tiba. Aku datang untuk

menyambut kedatangannya.”

Ketika Dzun Nun meninggal dunia, orang-orang menyaksikan tulisan berwarna hijau di dahinya : “Inilah sahabat Allah. Ia mati di dalam

kasih Allah. Inilah manusia yang telah dijagal Allah dengan pedang-Nya.”

Ketika orang-orang mengusung mayatnya ke pemakaman, matahari sedang bersinar dengan sangat teriknya. Burung-burung turun dari

angkasa dan dengan sayapsayap mereka meneduhi peti mati Dzun Nun sejak dari rumah sampai ke pemakaman. Ketika mayatnya diusung itu

seorang muadzin menyerukan adzan. Sewaktu si Muadzin mengucapkan kata-kata Syahadah, dari balik kafan terlihat jari tangan Dzun Nun

menggcung ke atas.

“Ia masih hidup!.”

Orang-orang berseru kaget.

Mereka menurukan usungan itu. Memang jari tangan Dzun Nun mengacung ke atas, tetapi ia telah mati. Betapa pun mereka mencoba namun

mereka tak dapat membenarkan jarinya yang mengacung itu. Ketika orang-orang Mesir mendengar hal ini, mereka semua merasa malu dan

bertaubat dari kejahatan-kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Dzun Nun. Sebagai tanda penyesalan di atas kuburan Dzun Nun

telah mereka lakukan berbagai hal yang tak dapat diterangkan dengan kata-kata.

ABU YAZID AL-BUSTHAMI : LAHIR DAN MASA REMAJANYA

Kakek Abu Yazid al-Busthami adalah seorang penganaut agama Zoroaster. Ayahnya adalah seorang di antara orang-orang terkemuka

Bustham. Kehidupan Abu Yazid yang luar biasa bermula sejak ia berada di dalam kandungan ibunya.

“Setiap kali akau menyuap makanan yang ku ragukan kehalalannya,” ibunya sering berkata kepada Abu Yazid. “engkau yang masih beraa di

dalam rahimku memberontak dan tidak mau berhenti sebelum makanan itu ku muntahkan kembali.”

Pernyataan si ibu dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri.

Kepada Abu Yazid pernah ditanyakan, “Apakah yang terbaik bagi seorang manusia di atas jalan ini.”

“Kebahagiaan yang merupakan bakat sejak lahir,” jawab Abu Yazid.

“Jika kebahagiaan seperti itu tidak ada?”

“Sebuah tubuh yang sehat dan kuat.”

“Jika tidak memiliki tubuh yang sehat dan kuat?”

“Pendengaran yang tajam.”

“”Jika tidak memiliki pendengaran yang tajam?”

“Hati yang mengetahui.”

“Jika tidak memiliki hati yang mengetahui?”

“Mata yang melihat.”

“Jika tidak memiliki mata yang melihat?”

“Kematian yang segera.”

Setelah sampai waktunya, si ibu mengirimkan Abu Yazid ke sekolah. Abu Yazid mempelajari al-Qur’an. Pada suatu hari gurunya

menerangkan arti satu ayat dari surah Lukman yang berbunyi : “Berterimakasihlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu,” Ayat ini

sangat menggetarkan hati Abu Yazid. Abu Yazid melerakkan batu tulisnya dan berkata kepada gurunya : “Izinkan aku pulang! Ada yang

hendak kukatakan kepada ibuku.”

Sang guru memberi ijin, Abu Yazid lalu pulang ke rumahnya. Ibunya menyambutnya dengan kata-kata :

“Thaifur, mengapa engkau sudah pulang? Apakah engkau mendapat hadiah atau adakah suatu kejadian yang istimewa?”

“Tidak”, jawab Abu Yazid. “Pelajaranku sampai pada ayat di mmana Allah memerintahkan agar aku berbakti kepada-Nya dan kepadamu.

Tetapi aku tak dapat mengurus dua buah rumah dalam waktu bersamaan. Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Mintalah diriku ini kepada

Allah sehingga aku menjadi milikmu seorang atau serahkanlah aku kepada Allah semata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata-mata.”

“Anakku”, jawab ibunya. “aku serhkan engkau kepada Allah dan kubebaskan engkau dari semua kewajiban terhadapku. Pergilah engau dan

jadilah sorang hamba Allah.”

Di kemudian hari Abu Yazid berkata :

“Kewajiban yang kukira sebagai kewajiban yang paling sepele di antara yang lain-lainnya, ternyata merupakan kewajiban yang paling

utama. Yaitu kewajiban untuk berbakti kepada ibuku. Di dalam berbakti kepada ibuku itulah ku peroleh segala sesuatu yang ku cari,

yakni segala sesuatu yang hanya bisa dipahami lewat tindakan disiplin diri dan pengabdian kepada Allah. Kejadiannya adalah sebagai

berikut : Pada suatu malam, ibu meminta air kepadaku. Maka aku pun pergi mengambilnya, ternyata di dalam tempayan kami tak ada air.

Kulihat dalam kendi, tetapi kendi itu pun kosong. Oleh karena itu pergilah aku ke sungai lalu mengisi kendi tersebut dengan iar.

Ketika aku pulang, ternyta ibuku sudah tertidur.”

“Malam itu udara terasa dingin. Kendi itu tetap dalam rangkulanku. Ketika ibu terjaga, ia meminum air yang kubawa itu kemudian

memberkati diriku. Kemudian terlihatlah olehku betapa kendi itu telah membuat tanganku kaku.

“Mengapa engkau tetap memegang kendi itu?”, ibu bertanya, “Aku takut ibu terjaga sedag aku sendiri terlena”, jawabku. Kemudian ibu

berkata kepadaku : “Biarkan saja pintu itu setengah terbuka.”

“Sepanjang malam aku berjaga-jaga agar pintu itu tetap dalam keadaan setengah terbuka dan agar aku tidak melalaikan perintah ibuku.

Hingga akhirnya fajar terlihat lewat pintu, begitulah yang sering kulakukan berkali-kali.”

Setelah si ibu memasrahkan anaknya kepada Allah, Abu Yazid meninggalkan Bustham, merantau dari satu negeri ke negeri lain selama

tiga puluh tahun, dan melakukan disiplin diri dengan terus menerus berpuasa di siang hari dan bertirakat sepanjang malam. Ia belajar

di bawah bimbingan seratus tiga belas guru spiritual dan telah memperoleh manfaat dari setiap pelajaran yang mereka berikan. Di

antara guru-gurunya itu ada seorang yang bernama Shadiq. Ketika Abu Yazid sedang duduk di hadapannya, tiba-tiba Shadiq berkata

kepadanya.

“Abu Yazid, ambilkan buku yang di jendela itu.”

“Jendela? Jendela mana?” tanya Abu Yazid.

“Telah sekian lama engkau belajar di sini dan tidak pernah melihat jendela itu?”

“Tidak”, jawab Abu Yazid, “apakah peduliku dengan jendela. Ketika menghadapmu, mataku tertutup terhadap hal-hal lain. Aku tidak

datang ke sini untuk melihat segala sesuatu yang ada di sini.”

“Jika demikian,” kata si guru, “kembalilah ke Bustham. Pelajaranmu telah selesai.”

oooOOOooo

Abu Yazid mendengar bahwa di suatu tempat tertentu ada seorang guru besar. Dari jauh Abu Yazid datang untuk menemuinya. Ketika sudah

dekat, Abu Yazid menyaksikan betapa guru yang termasyhur itu meludah ke arah kota Mekkah, karena itu segera ia memutar langkahnya.

“Jika ia memang telah memperoleh semua kemajuan itu dari jalan Allah,” Abu Yazid berkata mengenai guru tadi. “Niscaya ia tidak akan

melanggar hukum seperti yang telah dilakukannya.”

Diriwayatkan bahwa rumah Abu Yazid hanya berjarak empat puluh langkah dari sebuah masjid, ia tidak pernah meludah ke arah jalan dan

menghormati masjid tersebut.

oooOOOooo

Perjalanan Abu Yazid menuju Ka’bah memakan waktu dua belas tahun penuh. Hal ini karena setiap kali ia bersua dengan seorang

pengkhotbah yang memberikan pengajaran di dalam perjalanan itu. Abu Yazid segera membentangkan sajadahnya dan melakukan shalat

sunnat dua raka’at. Mengenai hal ini Abu Yazid mengatakan “Ka’bah, bukanlah seperti serambi istana raja, tetapi suatu tempat yang

dapat dikunjungi orang setiap saat.”

Akhirnya sampailah ia ke Ka’bah tetapi ia tak pergi ke Madinah pada tahun itu juga.

“Tidaklah pantas perkunjungan ke Madinah hanya sebaai pelengkap saja,” Abu Yazid menjelaskan. “Saya akan mengenakan pakaian haji

yang berbeda untuk mengunjungi Madinah.”

Tahun berikutnya, sekali lagi ia menunaikan ibadah haji. Ia mengenakan pakain yang berbeda untuk setiap tahap perjalanannya sejak

mulai menempuh padang pasir. Di sebuah kota dalam perjalanan tersebut, suatu rombongan besar telah menjadi muridnya dan ketika ia

meninggalkan tanah suci, banyak orang yang mengikutinya.

“Siapakah orang-orang ini?” ia bertanya sambil melihat ke belakang.

“Mereka ingin berjalan bersamamu,” terdengar sebuah jawaban.

“Ya Allah!.” Abu Yazid bermohon, “Jaganlah Engkau tutup penglihatan hamba-hamba-Mu karenaku.”

Untuk menghilangkan kecintaan mereka kepada dirinya dan agar dirinya tidak menjadi penghalang bagi mereka, maka setelah selesai

melakukan shalat Shubuh, Abu Yazid berseru kepada mereka : “Sesungguhnya Aku adalah Tuhan, tiada Tuhan selain Aku dan karena itu

sembahlah Aku.”

: Abu Yazid sudah gila!.” Seru mereka kemudian meninggalkannya.

Abu Yazid meneruskan perjalanannya. Di teengah perjalanan ia menemukan sebuah tengkorak manusia yang bertulisakan : Tuli, bisu,

buta....... mereka tidak memahami.

Sambil menangis Abu Yazid memungut tengkorak itu lalu menciuminya. “Tampaknya ini adalah kepala seorang sufi.” Gumamnya. “yang

menjadi lebur di dalam Allah.... ia tidak lagi mempunyai telinga untuk mendengar suara abadi, tidak lagi mempunyai mata untuk

memandang keindahan abadi, tidak lagi mempunyai lidah untuk memuji kebesaran Allah, dan tidak lagi mempunyai akal walaupun untuk

merenungi secuil pengetahuan Allah yang sejati. Tulisan ini adalah mengenai dirinya.”

Suatu hari Abu Yazid melakukan perjalanan. Ia membawa seekor unta sebagai tungggangan dan pemikul perbekalannya.

“Binatang yang malang, betapa berat beban yang engkau tanggung. Sungguh kejam!.” Seseorang berseru.

Setelah mendengar suara ini berulang kali, akhirnya Abu Yazid menjawab.

“Wahai anak muda, sebenarnya bukan unta ini yang memikul beban.”

Kemudia si pemuda meneliti apakah beban itu benar-benar berada di ats punggung unta tersebut, barulah ia percaya setelah melihat

beban itu mengambang satu jengkal di atas punggung unta dan binatang itu sedikitpun tidak memikul beban tersebut.

“Maha Besar Allah, benar-benar menkajubkan!”, seru si pemuda.

“Jika ku sembunyikan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya mengenai diriku, engkau akan melontarkan celaan kepadaku,” kata Abu Yazid

kepadanya. “Tetapi jika kujelaskan kenyataan-kenyataan itu kepadamu, engkau tidak dapat memahaminya. Bagaimana seharusnya sikapku

kepadamu?!”

oooOOOooo

Setelah Abu Yazid mengunjungi kota Madinah, datang sebuah perintah yang menyuruhnya pulang untuk merawat ibunya. Ditemani

serombongan oarang, ia pun berangkat menuju Bustham. Berita kedatangan Abu Yazid tersebar di kota Bustham dan para penduduk kota

datang untuk menyongsongnya. Pasti Abu Yazid akan sibuk melayani mereka dan membuat ia akan terhalang untuk menyegerakan perintah

Allah itu. Oleh karena itu ketika penduduk kota telah hampur sampai, dari lengan bajunya ia mengeluarkan sepotong roti, sedang saat

itu adalah Bulan Ramadhan, tetapi dengan tenang Abu Yazid memakan roti tersebut. Begitu penduduk Bustham menyaksikan perbuatan Abu

Yazid, mereka lalu berpaling darinya.

“Tidakkah kalian saksikan,” kata Abu Yazid kepada sahabat-sahabatnya. “betapa aku mematuhi sebuah perintah dari hukum suci, tapi

semua orang berpaling dariku.”

Dengan sabar Abu Yazid menunggu samapai malam tiba. Tengah malam barulah ia memasuki kota Bustham. Ketika sampai di depan rumah

ibunya, untuk beberapa lama ia berdiri mendengarkan ibunya yang sedang bersuci lalu shalat.

“Ya Allah, periharalah dia yang terbuang.” Terdengar doa ibunya,”cenderungkanlah hati para syeikh kepada dirinya dan berikanlah

petunjuk kepadanya untuk melakukan hal-hal yang baik.”

Mendengar doa ibunya itu Abu Yazid menangis. Kemudian ia mengetuk pintu.

“Siapakah itu?” tanya ibunya dari dalam.

“Anakmu yang terbuang,” sahut Abu Yazid.

Dengan menangis si ibu membukakan pintu. Ternyata penglihatan ibunya sudah kabur.

“Thaifur,” si ibu berkata kepada puteranya. “Tahukah engkau mengapa mataku menjadi kabur seperti ini?” Karena aku telah sedemikian

banyaknya meneteskan air mata sejak berpisah denganmu. Dan punggungku telah bongkok karena beban duka yang kutanggungkan itu.”

MI’RAJ ABU YAZID

Abu Yazid mengisahkan : Dengan tatapan yang pasti aku memandang Allah setelah Dia membebaskan diriku dari semua makhluk-Nya,

menerangi diriku dengan cahaya-Nya, membukakan keajaiban-keajaiban rahasia-Nya dan menunjukan kebesaran-Nya kepadaku.

Setelah menatap Allah kau pun memandang diriku sendiri dan merenungi rahasia serta hahekat diriku ini. Cahaya diriku adalah

kegelapan jika dibanding dengan cahaya-Nya: Kebessaran diriku sangat kecil jika dibanding dengan kebesaran-Nya; kemuliaan diriku

hanyalah kesombongan yang sia-sia jika dibandingkan dengan kemulian-Nya. Di dalam Allah segalanya suci sedang di dalam ddiriku

segalanya kotor dan cemar.

Bila ku renungi kembali, maka tahulah aku bahwa aku hidup karena cahaya Allah. Aku menyadari kemuliaan ddiriku bersumber dari

kemuliaan dan kebesaran-Nya. Apapun yang telah ku lakukan, hanyalah karena kemahakuasaan-Nya. Apapun yang telah terlihat oleh mata

lahirku, sebenarnya melalui Dia. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas. Segala kebaktianku bersumber dari Allah., bukan

dari diriku sendiri, sedang selama ini aku beranggapan bahwa akulah yang berbakti kepada-Nya.

Aku bertanya : “Ya Allah, apakah ini?”

Dia menjawab : “Semuanya adalah Aku, tidak da sesuatu pun juga kecuali Aku.”

Kemudian Ia menjahit mataku sehingga aku tidak dapat melihat. Dia menyuruhku untuk merenungi akar permasalahan, yaitu diri-Nya

sendiri. Dia meniadakan aku dari kehidupan-Nya sendiri, dan Ia memuliakan diriku. Kepadaku dibukakan-Nya rahasia diri-Nya sendiri

sedikit pun tidak tergoyahkan oleh karena adaku. Demikian lah Allah, kebenaran Yang Tunggal menambahkan realitas ke dalam diriku.

Melalui Allah aku memandang Allah, dan kulihat Allah di dalam realitas-Nya.

Di sana aku berdiam dan beristirahat untuk beberapa saat lamanya. Ku tutup telinga dari derap perjuangan. Lidah yang meminta-minta,

ku telan ke dalam tenggorokan keputusasaan. Ku campakkan pengetahuan yang telah ku tuntut dan ku bungkamkan kata hati yang menggoda

kepada perbuatan-perbuatan aniaya. Di sana aku berdiam dengan teenang. Dengan karunia Allah aku membuang kemewahan-kemewahan dari

jalan yang menuju prinsip-prinsip dasar.

Allah menaruh belah kasihan kepadaku. Ia memberkahiku dengan pengeteahuan abadi dan menanam lidah kebajikan-Nya ke dalam tenggorokan

ku. Untuk ku diciptakan-Nya sebuah amta dari cahaya-Nya, semua makhluk ku lihat melalui Dia. Dengan lidah kebajikan itu, aku

berkata-kata kepada Allah dengan pengetahuan Allah ku peroleh sebuah pengetahuan, dan dengan cahaya Allah aku menatap kepada-Nya.

Allah berkata kepada ku : Wahai engkau yang tak memiliki sesutau pun jua namun telah memperoleh segalanya, yang tak memiliki

perbekalan namun telah mempunyai kekayaan!.”

“Ya Allah,”, jawabku. “Jangan biarkan diriku terperdaya oleh semua itu. Jangan biarkan aku puas dengan diriku sendiri tanpa

mendambakan diri-Mu. Adalah lebih baik jika Engkau menjadi milik ku tanpa aku, daripada aku menjadi milik ku sendiri tanpa Engkau.

Lebih baik jika aku berkata-kata kepda-Mu melalui Engkau, daripada aku berkata-kata kepada diriku sendiri tanpa Engkau.”

Allah berkata : “Oleh karena itu, perhatikanlah Hukum-Ku dan janganlah engkau melanggar perintah serta larangan-Ku, agar kami

berterima kasih akan segala jerih payahmu.”

“Aku telah membuktikan imanku kepada-Mu dan aku benar-benar yakin bahwa sesungguhnya Engkau lebih pantas untuk berterimakasih kepada

diri-Mu sendiri daripada kepada hamba-Mu. Bahkan seandainya Engkau mengutuk diriku ini, Engkau bebas dari segala perbuatan aniaya.”

“Dari siapakah engkau belajar?” tanya Allah.

“Ia yang Bertanya lebih tahu dari iai yang ditanya,” jawabku. “karena Ia adalah Yang Dihasratkan dan Yang Menghassratkan, Yang

Dijawab dan Yang Menjawab.”

Setelah ia menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku mendengar seruan puas dari Allah. Dia mencap diriku dengan cap kepuasan-

Nya. Dia menerangi diriku, menyelamatkanku dari kegelapan hawa nafsu dan kecemaran jasmani. Aku tahu bahwa melalui Dia-lah aku hidup

dan karena kelimpahan-Nya lah aku bisa menghamparkan permadani kebahagiaan di dalam hatiku.

“Mintalah kepada-Ku segala sesuatu yang engkau kehendaki!”, kata Allah.

“Engkaulah yang ku inginkan,” jawabku,” karena Engkau lebih dari kelimpahan, lebih dari kemurahan dan melalui Engkau telah

kudapatkan kepuasan di dalam Engkau. Karena Engkau adalah milikku, telah kugulung catatan-catatan kelimpahan dan kemurahan. Jangan

Engkau jauhkan aku dari diri-Mu dan janganlah Engkau berikan kepadaku sesuatu yang lebih rendah daripada Engkau.”

Beberapa lama Dia tak menjawab. Kemudian sambil meletakkan mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku, berkatalah Dia :

“Kebenaranlah yang engkau ucapkan dan realitas yang engkau cari, karena itu engkau menyaksikan dan mendengarkan kebenaran.”

“Jika aku telah melihat,” kataku pula, “melalui Engkaulah aku melihat, dan jika aku telah mendengar, melalui Engkaulah aku

mendengar. Setelah Engkau, barulah aku mendengar.”

Kemudian kuucapkan berbagai pujian kepda-Nya. Karena itu Ia hadiahkan kepadaku sayap keagungan, sehinngga aku dapat melayang-layang

memandangi alam kebesaran-Nya, dan hal-hal menakjubkan dari ciptaan-Nya. Karena mengetahui kelemahanku dan apa-apa yang kubutuhkan,

maka Ia menguatkan diriku dengan kekuatan-Nya sendiri dan mendandani diriku dengan perhiasan-perhiasan-Nya sendiri.

Ia menaruh mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan membuka pintu istana keleburan untukku. Setelah Ia melihat betapa sipat-

sipatku lebur ke dalam sipat-sipat-Nya, dihadiahkan-Nya kepadaku dalam wujud-Nya sendiri. Maka terciptalah keleburan dan punahlah

perpisahan.

“Kepusan Kami adalah kepuasanmu.” Katan-Nya, “dan kepuasanmu adalah kepuasan Kami. Ucapan-ucapanmu tak mengandung kecemaran dan tak

seorang pun akan menghukummu karena ke aku-anmu.”

Kemudian Dia menyuruhku untuk merasakan hunjaman rasa cemburu dan setelah itu Ia menghidupkan aku kembali. Dari dalam api pengujian

itu aku keluar dalam keadaan suci bersih. Kemudian Dia bertanya :

“Siapakah yang memiliki kerajaan ini?”

“Engkau,” jawabku.

“Siapakah yang memiliki kekuasaan?”

“Engkau,” jawabku.

“Siapakah yang memiliki kehendak?”

“Engkau,” jawwabku.

Karena jawaban-jwabanku itu persisi seperti yang didengarkan pada awal penciptaan, maka ditunjukan-Nya kepadaku betapa jika bukan

karena belaskasih-Nya, alam semesta tidak akan pernah tenang, dan jika bukan karena cinta-Nya segala sesuatu telah di binasakan oleh

kemahaperkasaan-Nya. Dia memandang ku dengan mata Yang Maha Melihat melalui medium Yang Maha Memaksa, dan segala sesuatu mengenai

diriku sirna tak terlihat.

Di dalam kemabukan itu setiap lembah ku terjuni. Kulumatkan tubuhku ke dalam setiap wadah gejolak api cemburu. Ku pacu kuda

pemburuan di dalam hutan belantara yang luas. Kutemukan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada kepapan dan tidak ada yang lebih

baik daripada ketidakberdayaan. Tiada pelita yang lebih terang daripada keheningandan tiada kata-kata yang lebih merdu daripada

kebisuan. Aku menghuni istana keheningan, aku mengenakan pakaian ketabahan, sehingga segala masalah terlihat sampai ke akar-akarnya.

Dia amelihat bertapa jasmani dan rohaniku bersih dari kilasan hawa nafsu, kemudian dibukakan-Nya pintu kedamaian di dalam dadaku

yang kelam dan diberikan-Nya kepadaku lidah keselamatan dan ketauhidan.

Kini telah ku miliki sebuah lidah rahmat nan abadi, sebuah hati yang memancarkan nur Ilahi, dan mata yang telah ditempa oleh

tangan-Nya sendiri. Karena Dia-lah aku berbicara dan dengan kekuasaan-Nya-lah aku memegang. Karena melalui Dia aku hidup, maka aku

tidak akan pernah mati. Karena telah mencapai tingkat keluhuran ini, maka isyaratku adalah abadi, ucapanku berlaku untuk selama-

lamanya, lidahku adalah lidah tauhid dan ruhku adalah ruh keselamatan. Aku tidak berbicara melalui diriku sendiri sebagi seorang

pemberi peringatan. Dia-lah yang menggerakkan lidahku sesuai dengan kehendak-Nya sedangkan aku hanyalah seseorang yang menyampaikan.

Sebenarnya yang berkata-kata ini adalah Dia, bukan aku.

Setelah memuliakan diriku, Dia berkata : “Hamba-haba Ku ingin bertemu denganmu.”

“Bukanlah keinginanku untuk menemui mereka.” Jawabku.

“Tetapi jika Engkau menghendakiku untuk menemui mereka, maka aku tidak akan menetang kehendak-Mu. Hiasilah diriku dengan ke Esaan-

Mu, sehingga apabila hamba-hamba-Mu memandangku yang terpandang oleh mereka adalah ciptaan-Mu. Dan mereka akan melihat Sang Pencipta

semata-mata, bukan diriku ini.”

Keinginanku ini dikabulkanNya. Ditaruh-Nya mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan Ia membantuku mengalahkan jasmaniku.

Setelah itu Dia berkata : “Temuilah hamba-hamba-Ku itu.”

Aku pun berjalan selangkah menjauhi hadirat-Nya, Tetapi pada langkah yang ke dua aku jatuh terjerumus. Terdengarlah olehku seruan :

“Bawalah kembali kekasih-Ku kemari. Ia tidak dapt hidup tanpa Aku dan tidak ada satu jalan pun yang diketahuinya keculi jalan yang

menuju Aku.”

Setelah aku mencapai taraf peleburan ke dalam keesaan ... itulah saat pertama aku menatap Yang Esa --- bertahun-tahun lamanya aku

mengelana di dalam lembah yang berada di kaki bukit pemahaman : Kisah Abu Yazid. Akhirnya aku menjadi seekor burung dengan tubuh

yang berasal dari keesaan dan dengan sayap keabaddian. Setelah terlepas dari segala sesuatu yang diciptakan-Nya, akupun berkata :

“Aku telah sampai kepada Sang Pencipta.”

Kemudian ku tengadahkan kepala ku dari lembah kemuliaan. Dahagaku ku puaskan seperti yang tak pernah terulang di sepanjang jaman.

Kemudian selama tiga puluh ribu tahun aku terbang di dalam keleburan-Nya yang luas, tiga puluh ribu tahun di dalam kemuliaan-Nya dan

selama tiga puluh ribu tahun di dalam keesaan-Nya. Setelah berakhir masa sembilan puluh ribu tahun terlihatlah olehku Abu Yazid, dan

segala yang terpandang olehku adalah aku sendiri.

Kemudian aku jelajahi empat ribu padang belantara. Ketika sampai ke akhir penjelajahan itu terlihatlah olehku bahwa aku masih berada

pada tahap awal kenabian. Maka ku lanjutkan pula pengebaraan yang tak berkwsudahan itu untuk beberapa lama, aku katakan: “Tidak ada

seorang manusia pun yang pernah mencapai kemuliaan yang lebih tinggi daripada yang telah ku capai ini. Tidak mungkin ada tingkatan

yang lebih tinggi daripada ini.”

Tetapi ketika ku tajamkan pandangan ternyata kepalaku masih berada di tapak kaki seorang Nabi. Maka sadarlah aku bahwa tingkat

terakhir yang dapat dicapai oleh manusia-manusia suci hanyalah sebagai tingkatan awal dari kenabian. Mengenai tingkat terakhir dari

kenabian tidak dapat ku bayangkan.

Kemudian ruhku menembus segala penjuru di dalam kerajaan Allah. Surga dan neraka ditunjukan kepada ruhku itu tetapi ia tidak

perduli. Apakah yang dapat menghadang dan membuatnya perduli? Semua sukma yang bukan Nabi yang ditemuinya tidak diperdulikannya.

Ketika ruhku mencapai sukma manusia kesayangan Allah, Nabi Muhammad saw. Terlihatlah olehku seratus ribu lautan api yang tiada

bertepi dan seribu tirai cahaya. Seandainya kucercahkan kaki ke dalam yang pertama di antara lautan-alutan api itu, niscaya aku

hangus binasa. Aku sedemikian gentar dan bingung sehingga aku jadi sirna. Tetapi betapa pun besar keinginanku, aku tidak berani

memandang tiang perkemahan Muhammad, Rasulullah. Walaupun aku telah berjumpa dengan Allah, tetapi aku tidak berani berjumpa dengan

Muhammad.

Kemudian Abu Yazid berkata : “Ya Allah, segala sesuatu yang telah terlihat olehku adalah aku sendiri. Bagiku tiada jalan yang menuju

kepada-Mu selama aku ini masih ada. Aku tidak dapat menembus ke akuan ini. Apakah yang harus ku lakukan.\?”

Maka terdengarlah perintah : “Untuk melepaskan ke akuan itu, ikutilah kekasih Kami, Muhammad si orang Arab. Usaplah matamu dengan

debu kakinya dan ikutilah jejaknya.”

ABU YAZID DAN YAHYA BIN MU’ADZ

Yahya bin Mu’adz menulis surat kepada Abu Yazid : “Apakah katamu mengenai seseornag yang telah mereguk secawan arak dan menjadi

mabuk tiada henti-hentinya?”

“aku tidak tahu,” jawab Abu Yazid. “Yang ku ketahui hanyalah bahwa di sini ada seseorang yang sehari semalam telah mereguk isi

ssamudra luas yang tiada bertepi namun masih merasa haus dan dahaga,”

“Yahya bin Mu’adz menyurati lagi : “Ada sebuah rahasia yang hendak kukatakan kepadamu tetapi tempat pertemuan kita adalah di dalam

surga. Di sana, di bawah naungan pohon Tuba akan kukatakan rahasia itu kepadamu.”

Bersamaan surat itu dia kirimkan sepotong roti dengan pesan : “Syeikh harus memakan roti ini karena aku telah membuatnya dari air

zamzam.”

Di dalam jawabannya Abu Yazid berkata mengenai rahasia yang hendak disampaikan Yahya bin Mu’adz itu : “Mengenai tempat pertemuan

yang engkau katakan, dengan hanya mengingat-Nya, pada saat ini juga aku dapat menikmati surga dan pohon Tuba. Tetapi roti yang

engkau kirimkan itu tidak dapat kunikmati. Engkau memang mengatakan air apa yang telah engkau pergunakan, tetpi engkau tidak

mengatakan bibit gandum apa yang telah engkau taburkan.”

Maka Yahya bin Mu’adz ingin sekali mengunjungi Abu Yazid. Ia datang pada waktu shalat ‘Isa. Yahya bin Mu’adz berkisah sebagai

berikut :

Aku tidak mau mengganggu Syaikh Abu Yazid. Tetapi aku pun tidak dapat bersabar hingga pagi. Maka pergilah aku ke suatu tempat di

padang pasir di mana aku dapat menemuinya pada saat itu seperti yang dikatakan orang-orang kepadaku. Sesampainya di tempat itu

terlihat olehku Abu Yazid sedang Shalat “Isa. Kemudian ia berdiri di atas jari-jari kakinya sampai keesokan harinya. Aku tegak

terpana menyaksikan hal ini. Sepanjang malam kudengar Abu Yazid berdoa. Ketika fajar tiba, kudengar Abu Yazid berkata di dalam

doanya : “Aku berlindung kepadamu dari segala hasratku untuk menerima kehormatan-kehormatan ini.”

Setelah sadar , Yahya mengucapkan salam kepada Abu Yazid dan bertanya apakah yang telah dialaminya pada malam tadi. Abu Yazid

menjawab : “Labih dari dua puluh kehormatan telah ditawarkan kepadaku. Tetapi tak satu pun yang kuinginkan karena semuanya adalah

kehormatan-kehormatan yang membutakan mata.”

“Guru mengapakah engkau tidak meminta pengetahuan mistik, karena bukankah Dia Raja di antara sekalian raja dan pernah berkata :

“mintalah kepada-Ku segala sesuatu yang engkau kehendaki?” Yahya bertanya.

“Diamlah,” sela Abu Yazid. “Aku cemburu kepada diriku sendiri yang telah mengenal-Nya, karena aku ingin tiada sesuatu pun kecuali

Dia yang mengenal diri-Nya. Mengenai pengetahuan-Nya apakah peduliku. Sesungguhnya seperti itulah kehendak-Nya. Yahya. Hanya Dia,

dan bukan siapa-siapa yang akan mengenal diri-Nya.”

“Demi keagungan Allah,” Yahya bermohon, “berikanlah kepadaku sebagian dari karunia-karunia yang telah ditawarkan kepadamu malam

tadi.”

“Seandainya engkau memperoleh kemuliaan Adam, ksucian Jibril, kelapangan hati Ibrahim, kedambaan Musa kepada Allah, kekudusan “Isa,

dan kecintaan Muhammad, niscaya engkau masih merasa belum puas. Engkau akan mengharapkan hal-hal lain yang melampaui segala

sesuatu.” Jawab Abu Yazid. “Tetaplah merenung Yang Maha Tinggi dan jangan rendahkan pandanganmu, karena apabila engkau merendahkan

pandanganmu kepada sesuatu hal; maka hal itu yang akan membutakan matamu.”

ABU YAZID DAN SEORANG MURIDNYA

Ada seorang pertapa di antara tokoh-tokoh suci terkenal di Bustham. Ia mempunyai banyak pengikut dan pengagum, tetapi ia sendiri

senantiasa mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Abu Yazid. Dengan tekun ia mendengarkan ceramah-ceramah Abu Yazid dan

duduk bersama sahabat-sahabat beliau.

Pada suatu hari berkatalah ia kepada Abu Yazid : “Pada hari ini genaplah tiga puluh tahun lamanya aku berpuasa dan memanjatkan doa

sepanjag malam sehingga aku tidak pernah tidur. Namun pengetahuan yang engkau sampaikan ini belum pernah menyentuh hatiku. Walau

demikian aku percaya kepada pengetahuan itu dan senang mendengarkan ceramah-ceramahmu.”

“Walaupun engkau berpuasa siang malam selama tiga ratus tahun, sedikit pun dari ceramah-ceramah ku ini tidak akan dapat engkau

hayati.”

“Mengapakah demikian?” tanya si murid.

“Karena matamu tertutup oleh dirimu sendiri,” jawab Abu Yazid.

“Apakah yang harus ku lakukan?, tanya si murid pula.

“Jika ku katakan, pasti negkau tidak mau menerimanya.”

“Akan ku terima! Katakanlah kepadaku agar ku lakukan seperti yang engkau petuahkan.”

“Baiklah!, jawab Abu Yazid. “Sekarang ini juga cukurlah janggut dan rambutmu. Tanggalkan pakaian yang sedang engkau kenakan ini dan

gantilah dengan cawat ayng terbuat dari bulu domba Gantungkan sebungkus kacang di lehermu, kemudian pergilah ke tempat ramai.

Kumpulkan anak-anak sebanyak mungkin dan katakan kepada mereka : “Akan ku berikan sebutir kacang kepada setiap orang yang menampar

kepalaku.” Dengan cara yang sama pergilah berkeliling kota, terutama sekali ke tempat-tempat di mana orang-orang sudah mengenalmu.

Itulah yang harus engkau lakukan.”

“Maha Besar Allah! Tiada Tuhan kecuali Allah,” cetus si murid setelah mendengar kata-kata Abu Yazid itu.

“Jika seorang kafir mengucapkan kata-kata itu niscaya ia menjadi seorang Muslim,” kata Abu Yazid. “Tetapi dengan mengucapkan kata-

kata yang sama engkau telah mempersekutukan Allah.”

“Mengapa begitu?”, tanya si murid.

“Karena engkau merasa bahwa dirimu terlalu mulia untuk berbuat seperti yang telah ku katakan tadi. Kemudian engkau mencetuskan

kata-kata tadi untuk menunjukan bahwa engkau adalah seorang penting, bukan untuk memuliakan Allah. Dengan demikian bukankah engkau

telah mempersekutukan Allah.”

“saran-saran mu tadi tidak dapat ku laksanakan. Berikanlah saran-saran yang lain.” Si murid berkeberatan.

“Hanya itulah yang dapat ku sarankan,” Abu Yazid menegaskan.

“Aku tak sanggup melaksanakannya,” si murid mengulangi kata-katanya.

“Bukankah telah kau katakan bahwa engkau tidak akan sanggup untuk melaksanakannya dan engkau tidak akan menuruti kata-kataku?, kata

Abu Yazid.

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI ABU YAZID

Abu Yazid berkata : Dua belas tahun lamanyngkau selalu a aku menjadi pandai besi diriku sendiri. Ku lemparkan diriku sendiri ke

dalam tungku disiplin sampai merah membara dan dalam nyala ikhtiar yang keras. Kemudian ku taruh diriku keatas alas penyesalan. Lalu

ku pukul denagn martil pengutukan diri sendiri, sehingga akhirnya dapatlah ku tempa sembuah cermin diriku sendiri dan cermin itu

senantiasa ku poles dengan segala macam kebaktian dan kepatuhan kepada Allah. Setelah itu setahun lamanya aku menatapi bayanganku

sendiri di dalam cermin itu dan terlihatlah olehku betapa di pinggangku melilit sabuk kesesatan, kegenitan dan pemujaan diri sendiri

yang hanya dimiliki oleh orang-orang kafir. Hal itu adalah karena aku membanggakan kepatuhan-kepatuhanku itu dan memuji perbuatan-

perbuatanku tersebut. Lima thaun lamanya aku bersussah payah sehingga sabuk itu terlepas dari pinggangku, dan jadilah aku seorang

Muslim yang baru. Aku memandang semua hamba Allah dan tampaklah olehku bahwa mereka semua mati. Empat kali kuucapkan Allahu Akbar di

atas jasad-jasad mereka, dan setelah dengan pertolongan Allah aku menguburkan mereka tanpa menyeret=nyeret tubuh mereka, berjumpalah

aku dengan Allah.”

oooOOOooo

Setiap kali Abu Yazid tiba di depan masjid, sesaat lamanya ia akan berdiri terpaku dan menangis.

“Mengapa engkau selalu berlaku demikian?” tanya seseorang kepdanya.

“Aku merasa diriku sebagai seorang wanita yang sedang haid. Aku merasa malu untuk masuk dan mengotori masjid,” jawabnya.

oooOOOooo

Suatu ketika Abu Yazid melakukan perjalanan ke Hijaz, tetapi beberapa saat kemudian ia pun kembali lagi.

“Diwaktu yang sudah-sudah engkau tidak pernah membatalkan niatmu. Mengapa sekarang engkau berbuat demikian?”, seseorang bertanya

kepada Abu Yazid.

“Baru saja aku palingkan wajhku ke jalan”, jawab Abu Yazid, “terlihatlah olehku seorang hitam yang menghadang dengan pedang terhunus

dan berkata : “Jika engkau kembali, selamat dan sejahtera lah engkau. Jika tidak, akan ku tebas kepalamu. Engkau telah meninggalkan

Allah di Bustham untuk pergi ke rumahnya.”

oooOOOooo

Abu Yazid mengisahkan : Di tengah jalan, aku bertemu dengan seorang lelaki. Ia bertanya kepadaku :

“Hendak kemanakah engkau?”

“Ke Tanah Suci” jawabku.

“Berapa banyakkah uang yang engkau bawa?”

“Dua ratus dirham.”

“Berikanlah uang itu kepadaku,” lelaki itu mendesak. “Aku adalah seorang yang telah berkeluarga. Kelilingilah diriku sebanyak tujuh

kali, maka selesasilah ibadah hajimmu itu.”

Aku menuruti kata-katanya kemudian kembali ke rumah.

oooOOOooo

Pir ‘Umar meriwaayatkan bahwa apabila Abu Yazid ingin menyendiri, baik untuk beribadah maupun utuk menerungi Allah, maka ia masuk ke

dalam kamarnya dan dengan cermat menutupi setiap celah dan lobang di dinding kamar itu. Mengenai tingkah lakunya ini Abu Yazid

menjelaskan :

“Aku kuatir kalau ada suara atau kebisingan yang akan mengganggu.”

Sudah pasti yang dikatakannya itu hanya sebuah dalih semata-mata.

oooOOOooo

Isa al Busthami meriwayatkan : Selama tiga belas tahun bergaul dengan Syaikh Abu Yazid, tak pernah terdengar olehku ia mengucapkan

sepatah kata pun. Demikianlah kebiasaannya, senantiasa menekurkan kepala ke atas kedua lututnya, kadang menengadahkan, mengeluh dan

kembali ke dala perenungannya.

Mengenai hal ini Sahlagi mengomentari, memang demikianlah tingkah aku Abu Yazid apabila berada dalam keadaan “gundah” tetapi apabila

berada dalam keadaan “lapang” setiap orang akan mendapatkan manfaat dari ceramah-ceramahnya.

“Pada suatu ketika,” Sahlagi bercerita : “Ketika Abu Yazid sedang berkhalwat, terdengarlah ia mengucapkan kata-kata : “Maha besar

aku, Betapa mulia diriku ini.” Ketika ia sadar, murid-muridnya menyampaikan kata-kata yang diucapkan lidahnya tadi kepadanya. Maka,

Abu Yazid menjawab : “Memusuhi Allah adalah sama dengan memusuhi Abu Yazid. Jika aku mengucapkan kata-kata seperti itu sekali lagi,

cincanglah tubuhku ini.”

“Kemudian kepada setiap muridnya diberikannya sebuah pisau dengan pesan : “Jika kata-kata tadi kuucapkan lagi, bunuhlah aku dengan

pisau ini.”

“Tetapi apa nyana, untuk keduakalinya Abu Yazid mengucapkan kata-kata yang sama. Murid-muridnya hendak membunuhnya. Tetapi seketika

itu juga tubuh Abu Yazid menggelembung dan memenuhi seluruh ruangan. Para sahabat melepaskan bata-bata dari dinding ruangan itu

sambil menghujamkan pisau ke tubuh Abu Yazid. Tetapi pisau-pisau itu bagai menikam air dan pukulan-pukulan mereka sama sekali tidak

berakibat apa-apa. Beberapa saat kemudian tubuh yang menggelembung tadi menciut kembali dan terlihatlah Abu Yazid yang bertubuh

kecil seperti seekor burung pipit sedang duduk di sajadah. Sahabat-sahabatnya menghampirinya dan mengatakan apa yang telah terjadi.

Abu Yazid berkata :

“Yang kalian saksikan sekarang inilah Abu Yazid, yang tadi bukan Abu Yazid.

oooOOOooo

Suatu ketika Abu Yazid memegang sebuah apel merah di tangannya dan memandanginya.

“Satu buah apel yang indah,” kata Abu Yazid. Di saat itu juga sebuah suara lberkata di dalam batinnya :

“Abu Yazid, tidakkah engkau mempunyai malu untuk memberikan nama-Ku kepada sebuah apel!?”

Maka, empat puluh hari lamanya lupalah Abu Yazid akan segala sesuatu kecuali nama Allah.

“Aku telah bersumpah,” Syeikh Abu Yazid menyatakan, “bahwa aku tidak akan memakan buah-buahan dari Bustham selama hidupku.”

oooOOOooo

Abu Yazid mengisahkan : Suatu hari ketika sedang duduk-duduk, datanglah sebuah pikiran ke dalam benakku bahwa aku adalah syeikh dan

tokoh suci zaman ini. Tetapi begitu hal itu terpikirkan olehku, aku segera sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar. Aku lalu

bangkit dan berangkat ke Khurazan. Di sebuah persinggahan aku berhenti dan bersumpah tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum

Allah mengutus seseorang untuk membukakan diriku.

Tiga hari tiga malam aku tinggal di persinggahan itu. Pada hari yang keempat kulihat seseorang yang bermata satu dengan menunggang

seekor unta sedang datang ke tempat persinggahan itu. Setelah mengamati ddirinya dengan seksasma, terlihatlah olehku tanda-tanda

kesadaran Ilahi di dalam dirinya. Aku mengisyaratkan agar unta itu berhenti lalu unta itu segera menekukkan kaki-kaki depannya.

Lelaki beremata sastu itu memandangiku.

“Sejauh ini engkau memanggilku,” katanya, hanya untuk membukakan mata yang tertutup dan membukakan pintu yang terkunci serta untuk

menenggelamkan penduduk Bustham berssama Abu Yazid?.”

Aku jatuh lunglai. Kemudian aku bertanya kepada orang itu : “Dari manakah engkau datang?.”

“Sejak engkau bersumpah itu telah beribu-ribu mil yang ku tempuh,” kemudian ia menambahkan,” Berhati-hatilah Abu Yazid! Jagalah

hatimu!.”

Setelah berkata demikian ia berpaling dariku dan meninggalkan tempat itu.

oooOOOooo

Dzun Nun mengirimkan sebuah sajadah kepada Abu Yazid. Tetapi Abu Yazid mengembalikannya kepada Dzun Nun sambil berpesan : “Apakah

perluku dengan sebuah sajadah?” Kirimkanlah sebuah bantal sebgai tempatku bersandar!.” Dengan ucapan tersebut Abu Yazid ingin

mengatakan bahwa ia telah berhasil mencapai tujuan.

Maka Dzun Nun mengirimkan sebuah bantal yang empuk. Tetapi bantal itu pun dikembalikan Abu Yazid karena pada saat itu ia telah

bertaubat dan tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang. Mengenai perbuatannya ini Abu Yazid mengatakan : “Manusia yang berbantalkan

karunia dan kasih Allah tidak membutuhkan bantal dari salah seorang di antara hamba-Nya.”

oooOOOooo

Abu Yazid berkisah : Suatu ketika aku bermalam di padang pasir. Ku tutupi kepalaku dengan pakaian dan aku pun tertidur. Tanpa

disangka-sangka aku mengalami sesuatu (yang dimaksudkan adalah mimpi berahi) sehingga aku harus mandi. Tetapi malam itu terlampau

dingin, dan ketika terjaga aku merasa enggan sekali untuk bersuci dengan air dingin. “Tunggulah sampai matahari tinggi!.” Batinku

berkata.

Setelah menyadari betapa diriku enggan dan tidak memperdulikan kewajiban-kewajiban agama itu, aku segera bangkit, kulumerkan salju

dengan jubahku lalu aku mandi. Jubah yang basah itu kukenaan kembali sehingga aku jatuh pingsan kedinginan. Beberapa saat kemudian

aku siuman, ternyata jubahku telah kering.

oooOOOooo

Abu Yazid sering berjalan-jalan dalam sebuah pekuburan. Pada suatu malam ketika ia pulang dari pekuburan itu ia berpapasan dengan

seorang pemuda bangsawan yang memainkan sebuah kecapi. “Semoga Allah melindungi kita!.” Seru Abu Yazid.

Mendengar seruan itu si pemuda menyerang Abu Yazid dan memukulkan kecapi itu ke kepala Abu Yazid sehingga kepalanya berdarah dan

kecapi itu sendiri pecah. Ternyata si pemuda dalam keadaan mabuk dan tidak menyadari siapakah yang diserangnya itu.

Abu Yazid terus pulang dan ketika hari telah siang, dipanggilnyalah salah seorang di antara murid-muridnya.

“Berapakah harga sebuah kecapi?”, tanya Abu Yazid kepadanya.

Si murid memberitahu harganya. Dengan secarik kain dibungkusnya uang seharga kecapi ditambah dengan makanan yang manis-manis, lalu

dikirimkannya kepada si pemuda.

“Sampaikan kepada si pemuda itu bahwa Abu Yazid meminta maaf kepadanya. Katakan kepadanya bahwa tadi malam ia menyerang Abu Yazid

dengan kecapinya sehingga kecapi itu pecah. Sebagai gantinya terimalah uang ini dan belilah kecapi yang baru. Sedngkan makanan-

makanan yang manis ini adalah untuk menawarkan kedukaan hatimu karena kecapi milikmu itu telah pecah.”

Ketika si pemuda bangsawan itu menyadari perbuatan yang telah dilakukannya, ia pun mendatangi Abu Yazid untuk memohon maaf. Ia

bertaubat. Begitu pula banyak pemuda-pemuda lain yang menyertainya.

oooOOOooo

Suatu hari Abu Yazid berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang

berlawanan datanglah seekor anjing. Abu Yazid menyingkir ke inggir untuk memberi jalan kepada binatang itu.

Salah seorang murid tidak menyetujui perbuatan Abu Yazid ini dan berkata : “Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas

segala makhluk-makhluk-Nya. Abu Yazid adalah raja di antara kaum mistik,” tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-

muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing. Apakah pantas perbuatan seperti itu?”

Abu Yazid menjawab : “Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku : “Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal

kejadian sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja di antara para mistik?”

Begitulah yang sampai ke dalam pikiranku dan karena itulah aku memberikan jalan kepadanya.”

oooOOOooo

Pada suatu hari Abu Yazid sedang menyusuri sebuah jalan ketika seekor anjing berlari-lari di sampingnya. Melihal hal ini Abu Yazid

segera mengangkat jubahnya, tetapi anjing berkata :

“Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Seandainya tubuhku basah, engkau cukup menyucinya dengan air yang

bercampur tanah tujuh kali, selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi,

dirimu tidak akan menajdi bersih walau engkau membasuhnya dalam tujuh samudera.”

Abu Yazid menjawab : “Engkau kotor secara lahiriah tetapi aku kotor secara batiniah. Marilah kita bersama-sama berusaha agar kita

berdua menjadi bersih.”

Tetapi si anjing menyahut : “Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama dengan diriku dan menjadi sahabatku, karena semua orang

menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu tetapi siapa pun yang

bertemu denganmu akan menyambutmu sebagai raja di antara para mistik. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang tetapi engkau

memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari.

Abu Yazid berkata : “Aku tidak pantas berjalan bersama seekor anjing! Bagaimana aku dapat berjalan bersama Dia Yang Abadi dan

Kekal?” Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhluk-Nya melalui yang terhina di antara

semuanya!.”

Kemudian Abu Yazid meneruskan kisahnya :

“Aku sangat berduka, bagaimana aku dapat menjadi hamba Allah yang patuh? Aku berkata pada diriku sendiri : “Aku akan pergi kepasar

untuk membeli ikat pinggang (yang dikenakan oleh orang-orang bukan Muslim), dan ikat pinggang itu akan kupakai sehingga namaku

menjadi hina di dalam pandangan orang! Maka pergilah kau ke pasar hendak membeli sebuah ikat pinggan . Di dalam sebuah toko terlihat

olehku ikat pinggang yang sedang terpajang. “Harganya paling-paling satu dirham.” Kataku dalam hati. Kemudian aku bertanya kepada

pelayan toko itu : “berapa harga ikat pinggang ini?. “Seribu dinar,” jawabnya. Aku tak dapat berbuat apa-apa, hanya berdiri dengan

kepala tertunduk. Pada saat itu terdengar olehku sebuah seruan dari atas langit : “Tidak tahukah engkau bahwa dengan harga di bawah

seribu dinar orang-orang tidak akan menjual sebuah sabuk untuk diikatkan ke pinggang seorang manusia seperti engkau? Mendengar

seruan itu hatiku bersorak girang karena tahulah aku bahwa Allah masih memperhatikan hamba-Nya ini.”

oooOOOooo

Suatu malam Abu Yazid bermimpi malaikat-malaikat dari langit pertama turun ke bumi. Kepada Abu Yazid mereka berseru : “Bangkitlah

dan marilah berzikir kepada Allah!.”

Abu Yazid menjawab : “Aku tidak mempunyai lidah untuk berzikir kepada-Nya.”

Malaikat-malaikat dari langit yang kedua turun pula ke bumi. Mereka menyerukan kata-kata yang sama dan Abu Yazid memberikan jawaban

yang sama, Begitulah seterusnya sehingga malaikat –malaikat dari langit yang ke tujuh turun. Namun kepada mereka ini pun Abu Yazid

memberikan jawaban yang itu-itu juga. Maka malaikat-malaikat itu bertanya kepada Abu Yazid :

“Kapankah engkau akan memiliki lidah untuk berzikir kepada Allah?”

“Apabila penduduk nneraka telah tetap di neraka dan penduduk surga telah tetap di dalam surga dan hari Berbangkit telah lewat, mka

Abu Yazid akan mengelilingi tahta Allah sambil  berseru : “Allah, Allah!.”

oooOOOooo

Di dekat rumah Abu Yazid tinggal seorang penganut agama Zoroaster. Ia mempunyai seorang anak yang selalu menangis karena rumah

mereka gelap tidak berlampu. Abu Yazid sendiri telah membawakan sebuah pelita untuk mereka. Si anak segera reda dari tangisnya.

Mereka berrkata :

“Karena cahaya Abu Yazid telah memasuki rumah ini, maka sangat disayangkan apabila kita tetap berada di dalam kegelapan.”

Mereka segera memeluk agama Islam.

oooOOOooo

Pada suatu malam Abu Yazid tiak memeproleh kekhusyukan dalam shalatnya. Maka berkatalah ia kepada muridnya :

“Carilah jika ada barang berharga di dalam rumah ini.”

Murid-muridnya mencari-cari lalu menemukan setengah tandan anggur. Kemudian Abu Yazid memerintahkan :

“Bawalah anggur-anggur itu dan berikan kepada orang-orang lain. Rumahku ini bukan toko buah-buahan.”

Setelah itu Abu Yazid dapat melakukan shalat dengan khusyuk.

oooOOOooo

Pada suatu hari seseorang berkata kepada Abu Yazid : “Sewaktu ada orang yang meninggal dunia di Tabaristan, kulihat engkau di sana

bersama Khidir as. Dia merangkulkan tangannya ke lehermu sedang engkau menaruh tanganmu ke punggungnya. Ketika para pengantar pulang

dari pemakaman, kulihat engkau terbang ke angkasa.”

“Ya, segala yang engkau katakan itu benar-benar terjadi,” jawab Abu Yazid.

oooOOOooo

Pada suatu hari seorang lelaki yang tidak mempercayai Abu Yazid datang berkunjung untuk mengujinya.

“Katakanlah kepadaku jawaban sesuatu masalah,” katanya kepada Abu Yazid.

Abu Yazid melihat betapa lelaki itu tidak mempercayainya di dalam hati. Maka berkatalah Abu Yazid : “Di atas sebuah gunung ada

sebuah gua dan di dalam gua itu ada seorang sahabtku. Mintalah padanya untuk menjelskan masalah itu kepadamu.”

Lelaki itu segera pergi ke gua yang dikatakan Abu Yazid. Tetapi yang dijumpainya di sana adalah seekor naga yang besar dan sangat

menakutkan. Menyaksikan hal ini ia pun jatuh pingsan dan pakaiannya menjadi kotor. Begitu kembali siuman cepat-cepat ia meninggalkan

tempat itu, tetapi sepatunya tertinggal. Ia lalu kembali kepada Abu Yazid : Sambil bersujud di kaki Abu Yazid ia bertaubat, lalu Abu

Yazid berkata kepaanya :

“Maha Besar Allah! Engkau tidak berani mengambil sepatumu hanya karena takut kepada makhluk-Nya. Apabila engkau takut kepada Allah,

bagaimanakah engkau berani mengambil “Rahasia” yang engkau cari di dalam keingkaranmu?”

oooOOOooo

Pada suatu hari seorang lelaki datang dan menanyai Abu Yazid tentang hal rasa malu. Abu Yazid memberikan jawaban dan seketika itu

juga orang tersebut berubah menjadi air. Saat kemudian masuk pula seorang lelaki, setelah melihat genangan air itu ia bertanya

kepada Abu Yazid : “Guru, apakah itu?”

Abu Yazid menjawab : “Seorang lelaki masuk lalu bertanya tentang rasa malu. Aku memberikan jawaban. Mendengar penjelasanku itu ia

tidak dapat menahan dirinya dan karena sngat malu tubuhnya berubah menjadi air.”

oooOOOooo

Hatim Tuli berkata kepada murid-muridnya :

“Barang siapa di antara kamu yang tidak memohon ampunan bagi penduduk neraka di hari Berbangkit nanti, ia bukan muridku,”

Perkataan Hatim ini disampaikan orang kepada Abu Yazid. Kemudian Abu Yazid menambahkan :

“Barang siapa yang berdiri di tebing neraka dan menangkap setiap orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, kemudian mengantarkannya

ke surga lalu kembali ke neraka sebagai pengganti mereka, maka ia adalah muridku.”

oooOOOooo

Suatu ketika pasukan kaum Muslimin berperang melawan Bizantium. Mereka hampir dapat dikalahkan musuh. Tiba-tiba mereka mendengar

sebuah seruan : “Abu Yazid, tolonglah!.”

Seketika itu juga api menyembur dari arah Khurasan sehingga pasukan orang-orang kafir mati ketakutan dan pasukan kaum Muslimin dapat

memenangkan pertempuran.

oooOOOooo

Abu Yazid ditanya orang : “Bagaimana engkau daapt mencapai tingkat kesalehan yang seperti ini?”

“Pada suatu malam ketika aku masih kecil,” jawab Abu Yazid, “Aku keluar dari kota Bustham. Bulan bersinar terang dan bumi tertidur

tenang. Tiba-tiba ku lihat suatu kehadiran. Di sisinya ada delan belas ribu dunia yang tampaknya sebagai sebuah debu belaka. Hatiku

bergetar kencang lalu hanyut dilanda gelombang ekstase yang dahsyat. Aku berseru : “Ya Allah, sebuah istana yang sedemikian besarnya

tapi sedemikan kosong. Hasil karya yang sedemikian agung, tapi bagitu sepi?! Lalu terdengar olehku sebuah jawaban dari langit :

“Isatana ini kosong bukan akrena tak seorang pun memasukinya tetapi karena Kami tidak memperkenankan setiap orang untuk memasukinya.

Tak seorang manusia yang tak mencuci muka pun yang pantas menghuni istana ini.”

“Maka aku lalu bertekad untuk mendoakan semua manusia. Kemudian terpikirlah olehku bahwa yang berhak untuk menjadi penengah manusia

adalah Muhammad saw. Oleh karena itu aku hanya memperhatikan tingkah lakunya sendiri. Kemudian terdengarlah suara yang menyeruku :

“Karena engkau berjaga-jaga untuk selalu bertingka laku baik, maka Aku muliakan namamu ssampai hari Berbangkit nanti dan ummat

manusia akan menyebutmu raja para mistik.”

oooOOOooo

Abu Yazid menyatakan : Sewaktu pertama kali memasuki Rumah Suci, yang terlihat olehku hanya Rumah Suci itu. Ketika untuk kedua

kalinya memasuki Rumah Suci itu, yang terlihat olehku adalah Pemilik Rumah Suci. Tetapi ketika untuk yang ketiga kalinya memasuki

Rumah Suci, baik si Pemilik maupun Rumah Suci itu sendiri tidak terlihat olehku.

Yang dimaksudkan Abu Yazid adalah : “Aku hilang di dalam Allah sehingga tak sesuatu pun yang terlihat olehku tentulah Allah.”

Kebenran penafsiran yang seperti ini terbukti di dalam anekdot yang berikut ini.

Pada suatu malam seorang lelaki datang ke rumah Abu Yazid dan memanggilnya.

“Siapakah yang engkau cari?” tanya Abu Yazid.

“Abu Yazid,” jawab lelaki itu.

“Orang malang! Aku sendiri telah mencari Abu Yazid selama tiga puluh tahun tetapi tiada jejak atau tanda-tanda mengenai dirinya yang

dapat kutemui,” sahut Abu Yazid.

Ketika pernyataan Abu Yazid itu disampaikan kepada Dzun Nun, ia berkata :

“Ya Allah, limpahkanlah kasih-Mu kepada saudaraku Abu Yazid! Ia telah hilang beserta orang-orang yang telah hilang di dalam Allah.”

oooOOOooo

Sedemikian sempurna kekusyukan Abu Yazid berbakti kepada Allah, sehingga setiap hari apabila ditegus oleh muridnya yang senantiasa

menyertainya selama dua puluh tahun, ia akan bertanya : “Anakku, siapakah namamu?”

Suatu hari si murid berkata kepada Abu Yazid : “Guru, engkau mengolok-olokanku. Telah dua puluh tahun aku mengabdi kepadamu tetapi

setiap hari engkau menanyakan namaku!.”

“Anakku,” Abu Yazid menjawab, “aku tidak memperolok-olokanmu. Tetapi nama-Nya telah memenuhi hatiku dan telah menyisihkan nama-nama

yang lain. Setiap kali aku mendengar sebuah nama yang lain, segeralah nama itu terlupakan oleh ku.”

oooOOOooo

Abu Yazid berkata : “Allah Yang Maha Besar telah berkenan menerimaku di dalam dua ribu tingkatan, di dalam setiap tingkatan itu Dia

menawarkan sebuah kerajaan kepadaku tetapi ku tolak. Allah berkata kepadaku : “Abu Yazid, apakah yang engkau inginkan?”. Aku

menjawab  “Aku ingin tidak menginginkan.”

oooOOOooo

“Engkau dapat berjalan di atas air!”. Orang-orang berkata kepada Abu Yazid.

“Sepotong kayu pun dapat melakukan hal itu,” jawab Abu Yazid.

“Engakau dapat terbang di angkasa!.”

“Seekor burung pun dapat melakukan itu.”

“Engkau dapat pergi ke Ka’Bah dalam satu malam!.”

“Setiap orang sakti dapat melakukan perjalanan dari India ke Demavand dalam satu malam.”

“Jika demikian apakah yang harus dilakukan oleh manusia-manusia sejati?”, mereka bertanya kepada Abu Yazid.

Abu Yazid menjawab : “Seorang manusia sejati tidak akan menautkan hatinya kepada siapa pun kecuali kepada Allah.”

oooOOOooo

Abu Yazid berkata : “Dunia telah ku talak tiga. Kemudian seorang diri aku berjalan menuju Yang Sendiri. Aku berdiri di hadapan

hadirat-Nya dan berseru : “Ya Allah, kecuali Engkau tidak sesuatu pn yang ku inginkan. Apabila Engkau telah kuperoleh, maka semuanya

telah ku peroleh.

“Setelah Allah mengetahu ketulusan hatiku itu, maka karunia pertama yang diberikan-Nya kepadaku adalam membukakan selubung keakuan

dari depan mataku.”

oooOOOooo

“Apa yang dimaksud dengan Tahta Allah?” seseorang bertanya kepada Abu Yazid.

“Tahta itu adalah aku,” jawab Abu Yazid.

“Apakah yang dimaksud dengan ganjalan kaki Allah?”

“Ganjalan kaki itu adalah aku.”

“apakah yang dimaksud dengan luh (tanda peringatan) dan pena Allah?”

“Luh dan pena itu adalah aku.”

“Allah mempunyai hamba-hamba seperti Ibrahim, Musa dan Isa.”

“Mereka itu adalah Aku.”

“Allah mempunyai hamba-hamba seperti Jibril, Mikail dan Israfil.

“Mereka itu adalah aku.”

Lelaki yang bertanya itu terdiam. Kemudian Abu Yazid berkata : “Barang siapa yang telah lebur di dalam Allah dan telah mengetahui

realitas mengenai segala sesuatu yang ada, maka segala sesuatu baginya adalah Allah.”

oooOOOooo

Diriwayatkan bahwa Abu Yazid telah tujuh puluh kali diterima Allah ke Hadirat-Nya. Setiap kali kembali dari perjumpaan dengan Allah

itu Abu Yazid mengenakan sebuah ikat pinggang yang lantas diputuskannya pula.

Menjelang akhir hayatnya Abu Yazid memasuki tempat shalat dan mengenakan sebuah ikat pinggang. Mantel dan topinya yang terbuat dari

bulu domba itu dikenakannya secara terbalik. Kemudian ia berkata kepada Allah :

“Ya Allah, aku tidak membanggakan disiplin dari yang telah kulaksanakan seumur hidupku, aku tidak membanggakan shalat yang telah

kulakukan sepanjang malam. Aku tidak menyombongkan puasa yang telah kulakukan selam hidupku. Aku tidak menonjolkan telah berapa kali

aku menamatkan Al-Qur’an. Aku tidak akan mengatakan pengalaman-pengalaman spiritual yang telah kualami, doa-doa yang telah

kupanjatkan dan betapa akrab hubungan antara Engkau dan aku. Engkau pun mengetahui bahwa aku tidak menonjolkan segala sesuatu yang

telah ku lakukan itu. Semua yang ku katakan ini bukanlah untuk membanggakan diri atau mengandalkannya. Semua ini ku katakan kepada

Mu karena aku malu atas segala perbuatanku itu. Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu sehingga aku dapat mengenal diriku sendiri.

Semuanya tidak berarti, anggaplah tidak pernah terjadi. Aku adalah seorang Torkoman yang berusaha tujuh puluh tahun dengan rambut

yang telah memutih di dalam kejahilan. Dari padang pasir aku datang sambil berseru-seru : “Tangri, Tangri! Baru sekarang inilah aku

dapat memutus ikat pinggang ini. Baru sekarang inilah aku dapat melangkah ke dalam lingkungan Islam. Baru sekarang inilah aku dapat

menggerakan lidah untuk mengucapkan Syahadah. Segala sesuatu yang Engkau perbuat adalah tanpa sebab. Engkau tidak menerima ummat

manusia karena kepatuhan mereka dan Engkau tidak akan menolak mereka hanya karena keingkaran mereka. Segala sesuatu yang ku lakukan

hanyalah debu. Kepada setiap perbuatanku yang tidak berkenan kepada-Mu limpahkanlah ampunan-Mu. Basuhlah debu keingkaran dari dalam

diriku karena aku pun telah membasuh debu kelancangan karena mengaku telah mematuhi-Mu.”

10. ABDULLAH BIN AL MUBARAK

PERTAUBATAN ‘ABDULLAH BIN LA-MUBARAK

“Abdullah bin Mubarak sedemikian tergila-gila kepada seorang gadis dan membuat ia terus menerus dalam kegundahan. Suatu malam di

musim dingin ia berdiri di bawah jendela kamar kekasihnya sampai pagi hari hanya karena ingin melihat kekasihnya itu walau untuk

sekilas saja. Salju turun sepanjang malam itu. Ketika adzan shubuh terdengar, ia masih mengira bahwa itu adalah adzan untuk shalat

‘Isa. Sewaktu fajar menyingsing, barulah ia sadar betapa ia sedemikian terlena dalam merindukan kekasihnya itu.

“Wahai putera Mubarak yang tak tahu malu!,” katanya kepada dirinya sendiri. “Di malam yang indah seperti ini engkau dapat tegak

terpaku sampai pagi hari karena hasrat pribadimu, tetapi apabila seorang imam shalat membaca surah yang panjang engkau menjadi

sangat gelisah.”

Sejak saat itu hatinya sangat gundah. Kemudian ia bertaubat dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah. Sedemikian sempurna

kebaktiannya kepada Allah sehingga pada suatu hari ketika ibunya memasuki taman, ia lihat anaknya tertidur di bawah rumpun mawar

sementara seekor ular dengan bunga narkisus di mulutnya mengusir lalat yang hendak mengusiknya.

Setelah bertaubat itu ‘Abdullah bin Mubarak  meninggalkan kota Merv untuk beberapa lama menetap di Baghdad ia pergi ke Mekkah

kemudian ke Merv. Penduduk Merv menyambut kedatangannya dengan hangat. Mereka kemudian mengoragnisir kelas-kelas dan kelompok-

kelompok studi. Pada masa itu seebagian penduduk beraliran Sunnah sedang sebagiannya lagi beraliran Fiqh. Itulah sebabnya mengapa

‘Abdullah bin Mubarak   disebut sebagai tokoh yang dapat diterima oleh kedua aliran itu. Ia mempunyai hubungan baik dengan kedua

aliran tersebut dan masing-masing aliran itu mengakuinya sebagai anggota sendiri. Di kota Merv, ‘Abdullah bin Mubarak   mendirikan

dua buah sekolah tinggi, yang satu untuk golongan Sunnah dan satu lagi untuk golongan Fiqh. Kemudian ia berangkat ke  Hijaz dan

untuk kedua kalinya menetap di Mekkah.

Di kota ini ia  mengisi tahun-tahun kehidupannya secara berselang-selang. Tahun pertama ia menunaikan ibadah haji dan pada tahun

kedua ia pergi berperang, tahun ketiga ia berdagang. Keuntungan dari perdagangannya itu dibagikannya kepada para pengikutnya. Ia

biasa membagi-bagikan kurma kepada orang-orang miskin kemudian menghitung biji buah kurma yang mereka makan, dan memberikan hadiah

satu dirham untuk setiap biji kepada siapa di antara mereka yang paling banyak memakannya.

‘Abdullah bin Mubarak   sangat teliti dalam kesalehannya. Suatu ketika ia mampir di sebuah warung kemudian pergi shalat. Sementara

itu kudanya yang berharga mahal menerobos ke dalam sebuah ladang gandum. Kuda itu lalu ditinggalkannya dan meneruskan perjalanannya

dengan berjalan kaki. Mengenai hal ini ‘Abdullah bin Mubarak   berkata : “Kudaku itu telah mengganyang gandum-gandum yang ada

pemiliknya.” Pada peristiwa lain, ‘Abdullah bin Mubarak   melakukan perjalanan dari Merv ke Damaskus untuk mengembalikan sebuah pena

yang dipinjamnya dan lupa mengembalikannya.

Suatu hari ‘Abdullah bin Mubarak   melalui suatu tempat. Orang-orang mengatakan kepada seorang buta yang ada di situ bahwa ‘Abdullah

bin Mubarak   sedang melewati tempat itu. “Mintalah kepadanya segala sesuatu yang engkau butuhkan!.”

“‘Abdullah, berhentilah!.” Orang buta itu berseru. ‘Abdullah bin Mubarak   lalu berhenti.

“Doakanlah kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanku ini,” ia memohon kepada ‘Abdullah bin Mubarak  .

“‘Abdullah bin Mubarak   menundukan kepala lalu berdoa. Seketika itu juga orang buta itu dapat melihat kembali.

‘ABDULLAH BIN MUBARAK DAN ‘ALI BIN AL-MUWAFFAQ

Di masa ‘Abdullah bin Mubarak   tinggal di kota Mekkah, setelah ia selessai menyempurnakan ibadah haji, ia tertidur. Di dalam

tidurnya itu ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit. Seorang di antara keduanya bertanya :

“Berapa orangkah yang telah datang pada tahun ini?”.

“Enam ratus ribu orang,” jawab temannya.

“Berapa orang di antara semuanya yang diterima ibadah hajinya?

“Tidak seorang pun.”

“Setelah mendengar kata-kata itu,” ‘Abdullah bin Mubarak berkisah, “ tubuhku gemetar. Aku berseru : “Apa? Mereka telah datang dari

pelosok-pelosok yang jauh dan dari setiap lembah yang dalam dengan susah payah mereka melintasi padang pasir yang luas, tetapi

semuanya itu sia-sia?”. Salah seorang di antara malaikat itu menjawab : “Ada seorang tukang sepatu di kota Damaskus yang bernama

“Ali bin Muwaffaq. Ia tidak datang kemari tetapi ibadah hajinya telah diterima dan segala dosanya telah diampuni Allah.”

“Setelah mendengar hal ini,” Abdullah bin Mubarak meneruskan, “Aku terjaga dan berkata : “Aku harus pergi ke Damaskus untuk menemui

“Ali bin Muwaffaq”. Mka berangkatlah aku ke kota Damaskus dan mencari tempat tinggalnya. Sesampainya di kota Damaskus aku segera

menyeru-nyerukan nama “Ali bin Muwaffaq lalu seseorang menyahut. “Siapakah namamu?”, tanyaku. “Ali bin Muwaffaq,” jawabnya. “Aku

ingin berbicara denganmu,” kataku. “Berbicaralah!.” Jawabnya. Apakah pekerjaanmu?. “Membuat sepatu”. Kemudian ku kisahkan kepadanya

perihal mimpiku itu. Setelah itu “Ali bin Muwaffaq bertanya kepadaku : “Siapakah namamu?”. Abdullah bin Mubarak,” jawabku. Ia

menjerit lalu jatuh pingsan. Ketika ia siuman kembali aku mendesaknya. “Ceritakanlah perihal dirimu  sendiri kepadaku.” Maka

berceritalah ia padaku.

“Telah tiga puluh tahun lamanya aku bercita-cita hendak menunaikan ibadah haji. Dari pekerjaan membuat sepatu ini aku telah berhasil

menabung uang sebanyak tiga ratus lima puluh dirham. Aku telah bertekad akan pergi ke Mekkah pada tahun ini juga. Ketika itu

isteriku sedang mengidam dan terciumlah olehnya bau makanan dari rumah sebelah. “Mintakalah untukku makanan itu sedikit!.”, isteriku

memohon kepadaku. Aku pun pergi lalu mengetuk pintu si tetangga dan menerangkan hal yang sebenarnya. Tetapi si tetangga itu tiba-

tiba menangis kemudian berkata : “Tiga hari lamanya anak-anaku tidak makan. Tadi siang kulihat ada seekor keledai yang tergeletak,

maka aku pun menyayat dagingnya sekerat lalu memasaknya. Makanan ini tidak halal untuk mu.” Aku sangat sedih mendengar perihalnya

itu. Maka kuambillah tabunganku yang berjumlah tiga ratus lima puluh dirham itu dan kuserahkan semuanya kepadanya. Gunakanlah uang

ini untuk anak-anakmu,” pesanku, Inilah ibadah hajiku.”

“Malaikat-malaikat itu telah berbicara dengan sebenarnya di dalam mimpiku,” Abdullah bin Mubarak menyatakan,” dan Penguasa kerajaan

surga benar-benar adil di dalam pertimbangan-Nya.”

‘ABDULLAH BIN MUBARAK DAN HAMBANYA

Abdullah bin Mubarak mempunyai seorang hamba. Seseorang memberitahu Abdullah bin Mubarak.

“Hambamu itu setiap hari membongkar kuburan dan memberikan hasilnya kepadamu.”

Pengaduan ini sangat meggelisahkan Abdullah bin Mubarak. Suatu malam dibuntutinyalah hambanya itu. Si hamba pergi ke sebuah

pekuburan lalu membuka sebuah kuburan. Ternyata di dalamnya ada tempat untuk shalat. Abdullah bin Mubarak yang menyaksikan semua ini

dari kejauhan, merangkak menghampiri. Terlihatlah olehnya si hamba yang mengenakan pakaian dari karung dan tali pengikat leher.

Kemudian si hamba mencium tanah sambil meratap. Menyaksikan kejadian ini Abdullah bin Mubarak menangis dan dengan diam-diam

meninggalkan temepat itu dan duduk di suatu pojok yang terpisah jauh dari situ.

Hambanya tetap berada di dalam kuburan itu dan ketika fajar tiba barulah ia keluar, menutup kuburan itu kembali lalu pergi ke masjid

untuk melakukan shalat Shubuh.

Setelah selesai shalat, si hamba berseru dalam doanya : “Tuhanku, hari telah siang pula. Tuanku di atas dunia ini akan meminta uang

dariku. Engkau adalah sumber kekayaan bagi orang-orang miskin. Berikanlah uang kepadaku dari sumber yang hanya Engkaulah yang tahu.”

Sesaat itu juga sebuah sinar membersit dari langit dan sekeping dirham perak jatuh ke tangan si hamba. Abdullah bin Mubarak tidak

dapat menahan dirinya lagi. Ia pun bangkit, dirangkulnya kepala hambanya itu ke dadanya lalu diciumnya.

“Dengan seribu jiwa berulah aku mau melepaskan seorang hamba yang seperti engkau ini. Sesungguhnya engkaulah yang menjadi tuan,

bukan aku.”

Setelah menyadari apa yang terjadi, si hamba berseru : “Ya Allah, kini setelah penutup diriku diketahui orang, tiadalah ketenangan

bagiku di atas dunia ini. Demi kebesaran dan keagungan-Mu ku mohon kepada-Mu, janganlah engkau biarkan aku tergelincir kerana diriku

sendiri. Oleh karena itu cabutlah nyawaku sekarang ini juga.”

Kepalanya masih di dalam dekapan Abdullah bin Mubarak ketika ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Abdullah bin Mubarak

membaringkan tubuhnya, mengkafaninya. Kemudian mayat hambanya yang memakai pakaian karung itu dimakamkannya di kuburan itu pula.

Malam itu di dalam mimpinya Abdullah bin Mubarak melihat Penguasa alam semesta, dan sahabt-Nya Ibrahim yang menyertai-Nya, masing-

masing mengendarai kuda yang gagah perkasa. Keduanya bertanya :

“Abdullah bin Mubarak, mengapakah engkau menguburkan sahabat Kami dalam pakaian Karung.?”

SOFYAN ATS-TSAURI DAN PARA KHALIFAH

Kesalehan Sofyan Ats-Tsauri nampak sejak ia masih berada di dalam kandungan ibunya. Suatu hari ibunya sedang berada di atas loteng

rumah. Si ibu mengambil beberapa asinan yang sedang dijemur tetangganya di atas atap dan memakannya. Tiba-tiba Sofyan Ats-Tsauri

yang masih berada di dalam rahim ibunya itu menyepak sedemikian kerasnya sehingga si ibu mengira bahwa ia keguguran.

Diriwayatkan bahwa yang menjadi khalifah pada masa itu ketika shalat di depan Sofyan Ats-Tsauri memutar-mutar kumisnya. Setelah

selesai shalat, Sofyan Ats-Tsauri berseru kepadanya :

“Engkau tidak pantas melakukan shalat seperti itu. Di Padang Mahsyar nanti shalatmu itu akan dilemparkan ke mukamu sebagai sehelai

kain lap yang kotor.”

“Berbicaralah yang sopan,” tegur si khalifah.

“Jika aku enggan melakukan tanggung jawabku ini,” jawab Sofyan Ats-Tsauri,” semoga kencingku berubah menjadi darah.”

Khalifah sangat marah mmendengar kata-kata Sofyan Ats-Tsauri i. “ni lalu memerintahkan agar ia dipenjarakan dan dihukum gantung.

“Agar tidak ada orang-orang lain yang seberani itu lagi terhadapku.” Jelas si khalifah.

Suatu hari tiang gantungan dipersiapkan, Sofyan Ats-Tsauri masih tertidur lelap dengan kepala berada dalam dekapan seorang manusia

suci dan kakinya di pangkuan Sofyan bin Uyaina. Kedua manusia suci tersebut yang mengetahui bahwa tiang gantungan sedang

dipersiapkan, bersepakat : “Janganlah ia sampai mengetahui hal ini.” Tetapi ketika itu juga Sofyan Ats-Tsauri terjaga. “Apakah yang

sedang terjadi?,” tanyanya.

Kedua manusia suci itu terpaksa menjelaskan walau dengan sedih sekali.

“Aku tidak sedemikian mencintai kehidupan ini,” kata Sofyan Ats-Tsauri. “Tetapi seorang manusia harus harus melakukan kewajibannya

selama ia berada di atas dunia ini.”

Dengan mata berlinag-linang Sofyan Ats-Tsauri, berdoa : “Ya Allah, sergaplah mereka seketika ini juga!.”

Pada saat itu sang khalifah sedang duduk di atas tahta dikelilingi oleh menteri-menterinya. Tiba-tiba petir menyambar istana dan

khalifah beserta menteri-menterinya itu ditelah bumi,

“Benar-benar sebuah doa yang diterima dan dikabulkan dengan seketika!.” Kedua manusia suci yang mulia itu beseru.

Seorang khalifah yang lain naik pula ke atas tahta. Ia percaya kepada kesalehan Sofyan Ats-Tsauri, Si khalifah mempunyai seorang

tabib yang beragama Kristen. Ia adalah seorang guru besar dan sangat ahli. Khalifah mengirim ini untuk mengobati penyakit Sofyan

Ats-Tsauri. Ketika tabib memeriksa air kecing Sofyan Ats-Tsauri, ia berkata di dalam hati. “Inilah seorang manusia yang hatinya

telah berubah menjadi darah karen takut kepada Allah. Darah keluar sedikit demi sedikit melalui kantong kemihnya.” Kemudian ia

menyimpulkan. “Agama yang dianut oleh seorang manusia seperti ini tidak mungkin salah.”

Si tabib segera beralih kepada agama Islam. Mengenai peristiwa ini khalifah berkata : “Ku sangka aku mengirimkan seorang tabib untuk

merawat seorang sakit, kiranya aku mengirim seorang sakit untuk dirawat seorang tabib yang besar.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI SOFYAN ATS TSAURI

Suatu hari Sofyan Ats-Tsauri bersama seorang sahabtnya lewat di depan rumah seorang terkemuka. Sahabatnya terpesona memandang

serambi rumah itu. Sofyan Ats-Tsauri mencela perbuatan temannya itu.

“Jika engkau beserta orang-orang yang seperti engkau ini tidak terpesona dengan istana-istana mereka, niscaya mereka tidak

bermegah-megah seperti ini. Dengan terpesona seperti itu engkau ikut berdosa di dalam sikap bermegah-megah mereka.”

oooOOOooo

Seorang tetangga Sofyan Ats-Tsauri meninggal dunia, Sofyan Ats-Tsauri pun pergi untuk membacakan doa pada penguburannya. Setelah

selesai, terdengar olehnya orang-orang berkata : “Alamrhum adalah seorang yang baik.”

“Seandainya kau ketahui bahwa orang-orang lain menyukai almarhum,” kata Sofyan Ats-Tsauri, “Niscaya aku tidak turut di dalam

penguburan ini. Jika seseorang bukan munafik, maka orang-orang lain tidak akan menyukainya!.”

oooOOOooo

Suatu hari Sofyan Ats-Tsauri salah mengenakan pakiannya. Ketika hal ini dikatakan kepadanya, ia segera hendak memperbaiki pakaiannya

tetapi cepat-cepat dibatalkannya pula niatnya itu, dan berkata, “Aku mengenakan pakaian ini karena Allah dan aku tak ingin

mengubahnya hanya karena manusia.”

Seorang pemuda mengeluh karena tidak sempat menunaikan ibadah haji. Sofyan Ats-Tsauri menegurnya : “Telah mepat puluh kali aku

menunaikan ibadah haji. Semuanya akan ku berikan kepadamu asalkan engkau mau memberikan keluhanmu itu kepadaku.”

“Baiklah,” si pemuda menjawab.

Malam harinya dalam mimpinya Sofyan Ats-Tsauri mendengar sebuah suara yang berkata kepadanya : “Engkau mendapat keuntungan yang

sedemikian besarnya sehingga apabila dibagi-bagikan kepada semua jama’ah di adang Arafah, niscaya setiap orang di antara mereka

menjadi kaya raya.”

oooOOOooo

Suatu hari ketika Sofyan Ats-Tsauri sedan memakan sepotong roti lewatlah seekor anjing. Anjing itu siberinya roti secabik demi

secabik. Seseorang bertanya kepada Sofyan Ats-Tsauri :

“Mengapa roti-roti itu tidak engkau makan beserta anak isterimu?”

“Jika anjing ini kuberi roti,” jawab Sofyan Ats-Tsauri, “niscaya ia akan menjagaku sepanjang malam sehingga aku dapat beribadah

dengan tenang. Jika roti ini kuberikan kepada anak isteriku niscaya mereka akan menghalangi diriku untuk beribadah kepada Allah.”

oooOOOooo

Pada suatu ketika Sofyan Ats-Tsauri melakukan perjalanan ke Mekkah, ia diusung di atas sebuah tandu, Selama di dalam perjalanan,

Sofyan Ats-Tsauri menangis terus menerus. Seorang sahabat yang menyertainya bertanya.

“Apakah engkau menangis karena takut akan dosa-dosamu?”.

Sofyan Ats-Tsauri mengulurkan tangannya dan mencabut beberapa helai jerami.

“Dosa-dosaku memang banyak, tetapi semuanya tidaklah lebih berarti daripada pegangan jerami imanku benar-benar iman atau bukan.”

oooOOOooo

Betapa cintanya Sofyan Ats-Tsauri terhdap semua makhluk Allah. Suatu hari ketika berada di pasar, ia melihat seekor burung di dalam

sangkar. Si burung mengepak-ngepakan sayap dan mencicit-cicit dengan sedihnya. Sofyan Ats-Tsauri membeli burung itu lalu

melepaskannya. Setiap malam burung itu datang ke rumah Sofyan Ats-Tsauri, menunggui Sofyan Ats-Tsauri apabila ia sedang shalat dan

sekali-sekali hinggap di tubuhnya.

Ketika Sofyan Ats-Tsauri meninggal dunia dan mayatnya diusung ke pemakaman, si burung ikut pula mengantarkannya dan seperti

pengantar-pengantar yang lain ia pun mencicit-cicit sedih. Ketika mayat Sofyan Ats-Tsauri diturunkan ke dalam tanah, si burung

menyerbu masuk ke dalam kuburan itu. Kemudian terdengarlah suara dari dalam kuburan itu :

“Allah Yang Maha Besar telah memberi ampunan kepada Sofyan Ats-Tsauri karena telah menunjukan belas kasih kepada makhluk-makhlik-

Nya.”

Si burung mati pula menyertai Sofyan Ats-Tsauri.

KEHIDUPAN SYAQIQ AL-BALKH

Syaqiq al-Balkh adalah seorang ahli dalam berbagai   cabang ilmu pengetahuan dan banyak buku yang telah ditulisnya. Ketika ia

belajar jalan kesufian dari Ibrahim bin Ad-ham, dalam waktu bersamaan ia juga mengajar Hatim Si Orang Tuli. Syaqiq al-Balkh mengkui

bahwa ia telah belajar dari 1700 orang guru dan memiliki buku sebanyak beberapa pemikulan unta.

Kisah pertaubatan Syaqiq al-Balkh dimulai dari sewaktu Syaqiq al-Balkh mengadakan suatu ekspedisi dagang ke Turkistan, Di dalam

perjalanan itu ia berhenti untuk melihat-lihat sebuah kuil. Di dalamnya ia lihat ada seorang yang sedang menyembah berhala dengan

penuh khusyuk. Syaqiq al-Balkh menegus si penyembah berhala itu : “Sesungguhnya yang menciptakan engkau adalah Yang Maha Hidup, Maha

Kuasa serta Maha Tahu, sembahlah Dia. Hendaklah engkau malu dan jangan menyembah sebuah berhala yang tak dapat mendatangkan

kebajikan maupun aniaya kepadamu.”

“Jika benar kata-katamu itu,” jawab si penyembah berhala, “mengapakah Dia tidak sanggup memberikan nafkahmu sehari-hari di kota

kediamanmu sendiri? Masih perlukah engkau melakukan perjalanan sejauh ini?”.

Kata-kata ini membuka hati Syaqiq al-Balkh. Ia lalu oroester yang kebetulan menuju kota yang sama. Ia bertanya kepada Syaqiq al-

Balkh : “Apakah usahamu?.”

“Berdagang,” jwab Syaqiq al-Balkh.

“Jika engkau mencari rezeki yang belum ditakdirkan untukmu, sampai kiamat sekalipun engkau tidak memperrolehnya. Tetapi jika engkau

hendak mencari rezeki yang telah ditakdirkan untuk mu, engkau tidak perlu pergi ke mana-mana, karena rezeki itu akan datang

sendiri.”

Ucapan ini semakin menyadarkan Syaqiq al-Balkh dan kecintaannya terhadap kekayaan dunia semakin pudar. Akhirnya sampailah Syaqiq

al-Balkh ke kota Balkh. Sahabat-sahabatnya menyambut kedatangannya dengan hangat karena ia terkenal dengan kemurahan hatinya. Pada

masa itu yang menjadi pangeran di kota Balkh adalah ‘Ali bin ‘Isa bin Haman, yang memelihara beberapa ekor anjing pemburu. Kebetulan

pada saat itu seekor anjingnya hilang.

“Anjing itu ada di rumah tetangga Syaqiq al-Balkh,” orang-orang melaporkannya kepada si pangeran.

Maka ditangkaplah tetangga Syaqiq al-Balkh itu dengan tuduhan telah mencuri seekor anjing. Ia dipukuli. Akhirnya meminta

perlindungan kepada Syaqiq al-Balkh. Maka pergilah Syaqiq al-Balkh menghadap sang pangeran lelu bermohon : “Berikanlah kepadaku

waktu tiga hari untuk mengembalikan anjingmu itu. Tetapi bebaskanlah sahabatku itu.”

Si pangeran membebaskan tetangga Syaqiq al-Balkh. Tiga hari kemudian secara kebetulan seseorang menemukan seekor anjing. Orang itu

berkata di dalam hatinya : “Anjing ini akan kuberikan kepada Syaqiq al-Balkh. Syaqiq al-Balkh adalah seorang yang pemurah, tentu ia

akan memberikan imbalan kepadaku.”

Anjing itu dibawanya kepada Syaqiq al-Balkh. Kemudian Syaqiq al-Balkh menyerahkan binatang itu kepada si pangeran dan terpenuhilah

janjinya. Setelah peristiwa itu Syaqiq al-Balkh bertekad untuk benar-benar berpaling dari urusan duniawi.

Di kemudian hari, terjadi bencana kelaparan di kota Balkh, sampai begitu parah sehingga manusia mengganyang sesamanya. Di sebuah

pasar Syaqiq al-Balkh melihat seorang hamba yang tertawa-tawa dengan gembira. Syaqiq al-Balkh bertanya kepadanya : “Apakah yang

membuatmu segembira ini? Tidak kau lihatlah betapa semua orang menanggung kelaparan?.”

“Apa perduliku?!”, jawab si hamba. “Tuanku memiliki sebuah desa dan mempunyai banyak persediaan gandum. Ia tidak akan membiarkan aku

kelaparan.”

Mendengar jawaban si hamba ini, Syaqiq al-Balkh tidak dapat menahan dirinya, maka berserulah ia kepada Allah : “Ya Allah, budak ini

sangat gembira karena tuannya mempunya gandum. Engkau adalah Raja di antara sekian raja, dan telah berjanji akan memberikan makanan

kami sehari-hari. Jika demikian, mengapakah kami harus gelisah.?”

Setelah peristiwa itu ditinggalkanya segala urusan duniawi lalu bertaubat dengan sepenuh hatinya. Ia melangkah di atas jalan Allah

dan memasrahkan diri kepada-Nya. Syaqiq al-Balkh sering berkata : “aku aalah murid dari seorang hamba.”

Hatim Tuli mengisahkan : Aku dan Syaqiq al-Balkh ikut berperang. Suatu hari terjaid pertempuran yang begitu seru. Kedua pasukan

saling berbentur rapat dan yang kelihatan hanya ujung-ujung tombak saja, sedang anak panah meluncur bagaikan hujan. Syaqiq al-Balkh

berseru kepada ku : “Hatim! Bagaimanakah engkau menikmati pertempuran ini? Apa seperti malam terakhir ketika engkau bergaul bersama

isterimu?.”

“sama sekali tidak,” jawabku.

“Dengan nama Allah, mengapa tidak?, Syaqiq al-Balkh berseru. “Begitulah yang kurasakan saat ini. Aku merasa seperti yang engkau

rasakan malam itu di tempat tidurmu.”

Ketika malam tiba, Syaqiq al-Balkh membaringkan tubuhnya dan dengan berselimutkan jubahnya ia pun tertidur. Sedemikian sempurna

kepasrahannya kepada Allah, sehingga walau terkurung oleh pasukan musuh yang sangat banyak itu, ia masih dapat tertidur pulas.

Suatu hari ketika Syaqiq al-Balkh sedang memberikan ceramah, terdengarlah berita bahwa pasukan kafir telah berada di gerbang kota.

Syaqiq al-Balkh segera menyerbu ke luar, mengobrak-abrik pasukan musuh dan kembali ke tempat semula. Salah seorang muridnya menaruh

seikat bunga di sajadahnya. Syaqiq al-Balkh memungut kembang-kembang itu lalu menciuminya. Melihat perbuatan Syaqiq al-Balkh ini,

seorang yang tak tahu kejadian tadi berseru : “Pasukan musuh sudah berada di gerbang kota tetapi imam kaum Muslimin masih mencium-

cium bunga!”

“Si manafik hanya melihat bunga-bunga yang diciumi tetapi tak melihat betapa orang-orang kafir telah dikucar-kacirkan,” balas Syaqiq

al-Balkh.

SYAQIQ AL-BALKH DI DEPAN HARUN AR-RASYID

Syaqiq al-Balkh mengdakan perjalanan ke Mekkah, untuk menunaikan ibadah haji. Ketika sampai di kota baghdad, harun ar-Rasyid

memanggilnya untuk menghadap.

Setelah menghadap, bertanyalah Harun ra-Rasyid kepada Syaqiq al-Balkh : “Engkahkah Syaqiq al-Balkh pertapa?”

“Aku dalah Syaqiq al-Balkh, tetapi aku bukan seorang pertapa,” jawab Syaqiq al-Balkh.

“Berilah petuah kepadaku!.” Perintah Harun.

“Jika demikian, denganrkanlah !:, Syaqiq al-Balkh memulai. “Allah yang Maha Besar telah memberi kepadamu kedudukan Abu bakar yang

setia dan Dia menghendaki kesetiaan yang sama darimu. Allah telah memberi kedudukan “Umar yang dapat membedakan kebenaran dari

kepalsuan, Dia menghendaki engkau dapat pula membedakan kebenaran dari kepalsuan. Allah telah memberimu kedudukan Utsman yang

memperoleh cahaya kesedarhaan dan kemuliaan, dan Dia menghendaki agar engkau juga bersikap sederhana dan Mulia. Allah telah

memberikan kepadamu kedudukan ‘Ali yang diberkahi-Nya dengan kebijaksanaan dan sikap adil, Dia menghendaki agar engkau bersikap

bijaksana dan adil pula.”

“Lanjutkanlah!”, pinta Harun.

“Allah mempunyai tempat yang diberi nama neraka,” Syaqiq al-Balkh meneruskan. “Dia telah mengangkatmu menjadi penjaga pintu neraka

dan mempersenjatai dirimu dengan tiga hal; kekayaan, pedang dan cemeti. Allah memerintahkan : “Dengan kekayaan, pedang dan cemeti

inni usirlah ummat manusia dari neraka. Jika ada orang yang datang mengharapkan pertolonganmu, janganlah engkau bersikap kikir. Jika

ada orang yang menntang perintah Allah, perbaikilah dirinya dengan cemeti ini. Jika ada yang membunuh saudaranya, tuntutlah

pembalasan yang adil dengan pedang ini! Jika engkau tidak melaksanakan perintah Allah itu, niscaya engkau akan menjadi pemimpin

orang-orang yang masuk ke dalam neraka itu.”

“Lanjutkanlah!.” Desak Harun lagi.

“Engkau adalah sebuah telaga dan anak buahmu adalah anak-anak sungainya. Apabila telaga itu airnya bening, niscaya ia tidak akan

cemar karena kekeruhan anak-anak sungai tersebut. Apabila telaga itu keruh, betapakah mungkin anak-anak sungai tersebut akan

bening?.”

“Lanjutkanlah!.”

“Seandainya engkau hampir mati kehausan di tengah padang pasir dan pada saat itu ada seseorang menawarkan seteguk air, berapakah

harga yang berani engkau bayar untuk mendapatkan air itu?.”

“Berapapun yang dimintanya,” jawab Harun.

“Seandainya ia baru menjual air itu seharga setengah kerajaanmu?.”

“Aku akan menerima tawarannya itu,” jawab Harun.

“Kemudian andaikan air yang telah engkau minum itu tidak dapat keluar dari dalam tubuhmu sehingga engkau terancam binasa,” Syaqiq

al-Balkh melanjutkan, “Sesudah itu datang pula seseorang menawarkan bantuannya kepadamu : “Akan ku sembuhkan engkau tetapi

serahkanlah setengah dari kerajaanmu kepadaku,” Apakah jawabanmu?”

“Akan kuterima tawarannya itu,” jawab Harun.

“Oleh karena itu, mengapa engkau membanggakan diri dengan sebuah kerajaan yang harganya hanya seteguk air yang engkau minum lantas

engkau keluarkan kembali.?”

Harun menangis dan melepas Syaqiq al-Balkh dengan penuh kehormatan.

KEPAPAAN DAUD ATH-THAI

Sejak kecil batinnya di cekam duka sehingga ia sering menghindarkan diri dari pergaulan. Yang menyebabkan pertaubatannya adalah

seorang wanita yang sedang berkabung, yang membacakan :

Pipimu yang manakah yang mulai kendur?

Dan matamu yang manakah yang mulai kabur?

Kesedihan mencekan batinnya dan kegelisahan tak dapat diatasinya. Dalam keadaan seperti inilah ia belajar di bawah bimbingan Abu

Hanifah.

“apakah yang telah terjadi terhadap dirimu?”, tanya Abu Hanifah kepadanya.

Daud Ath-Tha’i pun mengisahkan pengalamannya,. Kemudian dia menambahkan : “Dunia ini tidak dapat menarik hatiku lagi. Sesuatu  telah

terjadi di dalam ddiriku, sesuatu yang tak dapat kumengerti, yang tak dapat dijelaskan oleh buku-buku atau pun keterangan-keterangan

para ahli yang ku temukan.”

“Hindarkanlah manusia-manusia lain,” Abu Hanifah menyarankan.

Maka Daud Ath-Tha’i berpaling dari manusia-manusia lain dan mengucilkan diri di dalam rumahnya. Setelah lama berselang barulah Abu

Hanifah datang mengunjunginya. “Wah, caranya bukan dengan bersembunyi di dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun juga. Yang

harus engkaulakukan adalah duduk di kaki para imam dan mendengarkan ajaran-ajaran mulia yang mereka kemukakan. Tanpa mengucapkan

sepatah kata jua pun engkau harus mencamkan segala sesuatu yang mereka kemukakan itu. Dengan berbuat demikian engkau akan lebih

memahami masalah-masalah yang mereka perbincangkan itu daripada mereka sendiri.”

Setelah menyadari maksud dari kata-kata Abu Hanifah itu, Daud Ath-Tha’i kembali mengikuti pelajaran-pelajarannya. Setahun lamanya ia

duduk di kaki para imam, tanpa mengucapkan sepatah kata, menerima keterangan-keterangan mereka dengan tekun, dan cukup dengan

mendengarkan saja tanpa memberi atau mengajukan tanggapan. Setelah berakhir masa setahun itu Daud berkata :

“Ketekunaku dalam setahun itu adalah sama dengan tiga puluh tahun bekerja keras.”

Kemudian ia bertemu dengan Habib ar-Ra’i yang membawanya ke jalan para mistik. Jalan ini ditempuhna dengan tawakal, buku-buku yang

dimilikinya dilemparkannya ke dalam sungai, kemudian ia mengasingkan diri dan membuang segala harapan dari manusia manusia lain.

Daud menerima uang sebanyak dua puluh dinar sebagai warisan. Jumlah ini dihabiskannya dalam waktu dua puluh tahun. Beberapa aorang

syeikh mencela perbuatannya itu.

“Di atas jalan ini kita harus memberi, bukan menabung untuk diri sendiri,” kata mereka.

Dengan uang sebanyak ini aku dapat menenangkan diri diriku. Uang sebanyak ini cukup bagi diriku hingga mati nanti,” jelas Daud Ath-

Tha’i.

Daud Ath-Tha’i menjalani kehidupan yang sedemikian prihatin sehingga untuk makanannya ia sering mencelupkan roti ke dalam air,

kemudian mereguk air itu, sambil berdalih :

“Sebelum memakan roti ini aku masih sempat membaca lima puluh ayat al-Quran. Mengapa harus ku sia-siakan hidupku ini?”

Abu Bakr bin ‘Iyasy meriwayatkan : “Pada suatu ketika aku masuk ke dalam kamar Daud Ath-Tha’i. Ku lihat ia sedang memegang sepotong

roti kering dan menangis. “Apakah yang telah terjadi Daud Ath-Tha’i? Tanyaku. Daud menjawab : “Aku hendak memakan roti ini tetapi

aku tidak tahu apakah roti ini halal atau tidak.”

Yang lain meriwayatkan : “Aku pergi ke rumah Daud Ath-Tha’i dan ku lihat satu kendi air sedang terjemur di terik matahari. Aku

bertanya kepadanya, “Mengapakah engkau tidak menaruh kendi air itu di tempat yang teduh? Daud Ath-Tha’i menjawab : “Ketika tadi ku

taruh di situ tempat itu masih teduh. Tetapi sekarang untuk memindahkannya aku merasa malu untuk melakukan kesibukan di depan

Allah.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI DAUD

Diriwayatkan, bahwa Daud Ath-Tha’i pernah mempunyai sebuah rumah gedung besar dengan kamar-kamar yang banyak jumlahnya. Ia menempati

salah satu di antara kamar-kamar itu, dan apabila kamar itu hancur dimakan usia, barulah ia pindah ke kamar yang lain.

“mengapakah engkau tidak memperbaiki kamar itu?” seseorang bertanya kepada Daud Ath-Tha’i.

“aku telah berjanji kepada Allah tidak akan memperbaiki dunia ini,” jawab Daud Ath-Tha’i.

“atap kamarmu telah lapuk,” seorang tamu berkata kepadanya,” tidak lama lagi pasti ambruk.

Lambat laun seluruh bangunan itu runtuh, tidak sesuatu pun yang masih utuh kecuali serambinya. Pada malam kematian Daud Ath-Tha’i,

barulah serambi itu runtuh.

“Sudah dua puluh tahun lamanya aku tidak pernah memperhatikan atap kamarku ini,” jawab Daud Ath-Tha’i.

oooOOOooo

“Mengapakah engkau tidak menikah?” beberpa orang bertanya kepada Daud Ath-Tha’i.

“Aku tidak mau mendustai seorang wanita yang beriman.”

“Mengapa demikian.?”

“Andaikanlah aku melamar seorang wanita, hal itu berarti bahwa aku sanggup untuk menafkahinya. Tetapi karena pada waktu yang

berssamaan aku tidak dapat melakukan kewajiban-kewajiban agama dan dunia, bukankah hal itu berarti bahwa aku telah mendustianya?/”

“Baiklah, tetapi setidak-tidaknya engkau perlu menyisir janggutmu,” kata mereka.

“Hal itu berarti aku sempat berlalai-lalai,” jawab Daud Ath-Tha’i.

oooOOOooo

Pada suatu mala di bulan pernama, Daud Ath-Tha’i naik ke atas loteng rumahnya, lalu menatap langit. Ia terlena menyaksikan keindahan

kerajaan Allah, sehingga menangis sampai tidak sadarkan diri, dan terjatuh ke loteng rumah tetangga. Si tetangga yang mengira ada

maling di atas atap, datang memburu dengan sebilah pedang. Tetapi begitu yang dijumpainya adalah Daud Ath-Tha’i segeralah ia meraih

Daud Ath-Tha’i untuk berdiri.

“Siapaah yang telah menjerumuskanmu?,” tanyanya.

“Entahlah,” jawab Daud Ath-Tha’i. “Aku tidak sadar. Aku sendiri pun tidak habis pikir.”

oooOOOooo

Pada suatu saat ketika orang-orang menyaksikan Daud Ath-Tha’i bergegas-gegas hendak melakukan shalat.

“Mengapa engkau tergesa-gesa seperti ini?,” tanya mereka kepada Daud Ath-Tha’i.

“Pasukan yang berada di gerbang kota sedang menantikan kedatanganku,” jawab Daud Ath-Tha’i.

“Pasukan siapa?,” tanya mereka.

“Penghuni –penghuni kubur,” jawab Daud Ath-Tha’i.

oooOOOooo

Harun  ar-Rasyid meminta Abu Yusuf supaya mengantarkan ke rumah Daud Ath-Tha’i. Maka pergilah mereka ke rumah Daud Ath-Tha’i, tetapi

tidak diperkenankan masuk. Abu Yusuf memohon agar Ibu Daud Ath-Tha’i mau membujuk anaknya.

“Terimalah mereka,” Ibunya membujuk Daud Ath-Tha’i.

“Apakah urusanku dengan penduduk dunia dan orang-orang berdosa?” jawab Daud Ath-Tha’i tidak mau mengalah.

“Demi hakku yang telah menyusuimu, aku minta kepadamu, izinkalah mereka masuk!.” Desak ibunya.

Maka berserulah Daud Ath-Tha’i : “Ya Allah, Engkau telah berkata : “Patuhilah ibumu, karena keridhaan-Ku adalah keridhaannya,”. Jika

tidak demikian, apakah peduliku kepada mereka itu.?”

Akhirnya Daud Ath-Tha’i bersedia menerima mereka. Harun dan Yusuf masuk dan duduk. Daud Ath-Tha’i memberikan pengajaran dan Harun

menangis tersedu-sedu. Ketika hendak kembali ke istana. Harun meletakkan sekeping mata uang emas sambil berkata :

“Uang ini halal.”

“Ambillah uang itu kembali.” Cegah Daud Ath-Tha’i. “Aku tidak memerlukan uang itu. Aku telah menjual rumah yang kuterima sebagai

warisan yang halal dan hidup dengan uang penjualan itu. Aku telah bermohon kepada Allah, jika uang itu telah habis, agar Dia

mencabut nyawaku, sehingga aku tidak akan membutuhkan bantuan dari seorang manusia pun. Aku berkeyakinan bahwa Allah telah

mengabulkan permohonanku itu.”

Harun ar-Rasyid dan Abu yusuf kembali ke istana. Kemudian Abu Yusuf mendatangi orang yang diamanahkan uang itu oleh Daud Ath-Tha’i

dan bertanya :

“Masih berapakah uang Daud Ath-Tha’i yang tersisa?.”

“dua dirhamm,” jawab orang itu. “Setiap hari Daud Ath-Tha’i membelanjakan satu sen uang perak.”

Abu Yusuf membuat perhitungan. Beberapa hari kemudian di dalam masjid di depan semua jama’ah ia mengumumkan :

“Hari ini Daud Ath-Tha’i meninggal dunia.”

Setelah diselidiki ternyata bahwa kata-kata Abu Yusuf itu benar.

“Bagaimanakah engkau mengetahui kematian Daud Ath-Tha’i?” orang-orang bertanya kepada Abu Yusuf.

“Aku telah memperhitungkan bahwa pada hari ini Daud Ath-Tha’i tidak mempunyai uang lagi. Aku tahu bahwa doa Daud Ath-Tha’i pasti

dikabulkan Allah.

Sangatlah mengherankan apabila pengisahan Attar mengenai al-Muhasibi, salah seorang di antara tokoh-tokoh terbesar dalam sejarah

mistisme Islam, kurang lengkap dan sempurna. Abu ‘Abdullah al-Harits bin Asad al-Bashri al-Muhasibi lahir di Bashrah pada tahun 165

H/171 M. Sewaktu kecil ia pindah ke Baghdad di mana ia kemudian belajar hadits dan teologi, bergul rapat dengan tokoh-tokoh

terkemuka dan menyaksikan pertistiwa-peristiwa penting pada masa itu. Ia meninggal dunia pada tahun 243H/857 M. Ajaran-ajran dan

tulisan-tulisannya memberikan pengaruh yag kuat dan luas kepada ahli-ahli teori mistik sesudahnya khususnya kepada Abu Hamid al-

Ghazali. Banyak di antara buku-buku dan brosur-brosur yang ditulisnya dapat kita temui hingga kini: yang terpenting di antaranya

adalah Kitab a-Ri’ayah. (di blog ini ada terjemahan buku peninggalannya yang berrjudul “ AL-MUHASIBI “AN –NASHA’IH” )

CATATAN MENGENAI ANEKDOT-ANEKDOT

Hartits al-Muhasibi menerima warisan sebesar tiga puluh ribu dinar dari ayahnya.

“Serahkan uang itu kepada negara,” kata Muhasibi.

“Mengapa?,” orang-orang bertanya.

“Menurut sebuah hadits yang shahih,” jawab Muhasibi. “Nabi pernah berkata bahwa orang-orang Qadariah adalah orang-orang Majusi di

dalam masyarakat kita. Ayahku adalah seorang Qadaiah. Nabi pun pernah berkata bahwa seorang Muslim tidak boleh menerima warisan dari

seorang  Majusi. Bukankah ayahku seorang Majusi dan seorang Muslim?.”

Perlindungan Allah sabgar besar kepadanya. Apabila Muhasibi hendak meraih makanan yang diragukan kehalalannya, urat di belakang

jari-jari tangganya akan mengejang dan jari-jarinya tidak dapat digerakkan seperti yang dikehendakinya. Apabila hal seperti ini

terjadi, tahulah ia bahwa makanan itu diperoleh dengan tidak wajar.

Junaid meriwayatkan : “Pada suatu hari, Harits mengunjungiku, tampaknya ia sedang lapar. “Akan ku ambilkan makanan untuk paman,”

kataku. “Baik sekali,: jawab Hartits al-Muhasibi. Aku pun pergi ke gudang mencari makanan. Ku dapatkan sisa-sisa makanan yang

diantarkan kepada kami dari suatu perayaan perkawinan untuk makan malam. Kuambil makanan itu dan kusuguhkan kepada Hartits al-

Muhasibi. Tetapi ketika Hartits al-Muhasibi hendak mengambilnya, tangannya mengejang tak dapat digerakkannya. Sempat ia memasukan

sesuap makanan ke dalam mulutnya, tetapi tidak bisa ditelannya walau bagaimana pun ia paksakan. Untuk beberapa lama dikunyah-

kunyahnya makanan itu, kemudian ia pun berdiri, pergi ke luar, meludahkannya di serambi, dan permisi pulang.

Di kemudian hari aku tanyakan kepada Hartits al-Muhasibi, apakah sebenarnya yang tellah terjadi, Hartits al-Muhasibi menjawab :

“Waktu itu aku memang merasa lapar, dan ingin menyenangkan hatimu. Namun Allah memberi isyarat khusus kepadaku sehingga makanan yang

diragukan kehalalannya tidak dapat ku telan sedang jari-jariku tidak mau menyentuhnya. Aku telah berusaha sedapat-dapatnya menelan

makanan itu, tetapi percuma. Dari manakah engkau memperoleh makanan itu?. Dari seorang kerabat, jawab ku.”

“Kemudian aku berkata kepda Hartits al-Muhasibi : “Tetapi sekarang ini maukah engkau datang ke rumahku?”. “Baiklah”, jawab Hartits

al-Muhasibi. Aku pun peulang bersama Hartits al-Muhasibi. Di rumah ku keluarkan sekerat roti kering dan kami pun segera memakannya.

Hartits al-Muhasibi kemudian berkata : “Makana yang seperti inilah yang harus disuguhkan kepada para guru sufi.”


LANJUTAN-NYA DI JILID : 2


0 komentar:

Post a Comment

Salamun 'alaik..
Bacalah basmalah sebelum memulai sesuatu