Friday, 8 September 2017

Terjemahan Kitab Tadzjirat al-Auliya Part 2


Kitab Tadzjirat al-Auliya Part 2


Diterjemahkan dari Kitab Tadzjirat al-Auliya karangan Fariduddin al Attar
Kitab ini ditulis Fariduddin Attar dalam bahasa Persia, meskipun judulnya ditulis dalam bahasa Arab. Selain berarti kenangan, kata

tadzkirah dalam bahasa Arab juga berarti pelajaran. Sehingga Tadzkiratul Auliya’ berarti pelajaran yang diberikan oleh para wali

atau guru sufi.

Alasan Attar mengapa ia menulis kitab yang berisi cerita kehidupan para wali (sufi) karena Al-Quran pun mengajar dengan cerita-

cerita, sehingga ia mengikuti contoh Al-Quran dengan menamakan kitabnya Tadzkiratul Auliya’. Sebab lain mengapa cerita para wali itu

dikumpulkan Attar adalah karena ia ingin mendapat keberkahan dari mereka. Dengan menghadirkan para wali (sufi), kita memberkahi diri

dan tempat sekeliling kita.

Kitab ini mengisahkan sebuah babak kehidupan dari masing-masing wali (sufi) berikut:

Hasan dari Bashrah, Malik bin Dinar, Habib al-Ajami, Rabi’ah al-Adawiyah, al-Fuzail bin Iyaz, Ibrahim bin Adham, Bisyr bin Harits,

Dzun Nun al-Mishri, Abu Yazid al-Busthami, Abdullah bin Mubarak, Sufyan al-Tsauri, Syaqiq al-Balkh, Daud al-Tha’i, Al-Muhasibi,

Ahmad bin Harb, Hatim al-Ashamm, Sahl bin Abdullah al-Tustari, Ma’ruf al-Karkhi, Sari al-Saqathi, Ahmad bin Khazruya, Yahya bin

Muadz, Syah bin Syuja’, Yusuf bin al-Husain, Abu Hafshin al-Haddad, Abul Qasim al-Junaid, Amr bin Utsman, Abu Said al-Kharraz, Abul

Husain al-Nuri, Abu Utsman al-Hiri, Ibnu Atha’, Sumnun, Al-Tirmidzi, Khair al-Nassaj, Abu Bakar al-Kattani, Ibnu Khafif, Al-Hallaj,

Ibrahim al-Khauwah, Al-Syibli.






Ahmad bin Harb an-Nisaburi adalah seorang pertapa yang terkenal di Nishapur. Ia seorang perawi hadits yang dapat dipercaya, dan pernah ikut berjuang di dalam berbagai perang suci. Ia datang ke Baghdad pada masa Ahmad bin Hambal dan memberikan pengajaran di kota tersebut. Ia meninggal pada tahun 234 H/849M. Dalam usia 85 tahun.

AHMAD BIN HARB DAN SEORANG PENGANUT AGAMA ZOROASTER

Ahmad bin Harb bertetangga denganseorang penganut agama Zoroaster, yang bernama Bahram. Suatu hari si tetanggaini menyuruh seorang rekannya pergi berdagang. Di dalam perjalanan, semua barang-barangnya kemudian dicuri orang.

Begitu mendengar berita ini, Ahmad berkata kepada murid-muridnya : “Mari! Suaut musibah telah menimpa tetangga kita. Sebaiknya kita mengunjunginya dan menghibur hatinya. Walaupun dia penganut agama Zoroaster, ia adalah tetangga kita.”

Ketika mereka sampai ke rumah Bahram, Bahram sedang menyalakan api pemujaannya. Bahram segera menyambut mereka dan mencium lengan bajunya. Bahram menduga bahwa tamu-tamunya tentu lapar walaupun roti yang dimilikinya pasti tak mencukupi. “Janganlah merepotkan dirimu,” tegur Ahmad bin Harb, “Kami datang untuk menyatakan bahwa kami turut prihatin. Aku mendengar barang-barangmu dicuri orang.

“Memang benar,” Jawab Bahram. “Tetapi aku mereka hanya mengambil separuh dari harta kekayaanku. Yang ketiga : Seandainya pun seluruh harta kekayaanku hilang, aku masih mempunyai agamu, soal harta gampang dicari.

Ahmad bin Harb senang sekali mendengar kata-kata Bahram itu.


Ia pun berkata kepada murid-muridnya : “Catatlah kata-kata ini. Semerbak agama Islam membersit  dari kata-kata Bahram,” Kemudian ia bertanya kepada Bahram : “Tetapi mengapa engkau memuja api!.?”

Bahram menjawab : “Alasan pertama adalah agar api tidak akan membakar tubuhku. Yang kedua adalah karena di dunia telah kuberikan minyak sedemikian banyaknya kepada api sehingga di akhirat nanti ia tidak akan menghianati diriku, dan akan mengantarkanku kepada Tuhan.”

“Engkau sangat keliru, Api adalah lemah, tidak tahu apa-apa dan tidak dapat dipercayai. Semua perkiraan yang menjadi landasan pemikiramu adalah salah. Apabila seorang anak kecil menyiramkan sedikit air kepada api itu,  niscaya ia akan padam. Sesuatu yang selemah itu, dapatkah mengantarkan engkau kepada Yang Maha Kuat? Sesuatu yang tidak berdaya menghindarkan lontaran segumpal tanah, dapatkah mengantarkan engkau kepada Tuhan? Lagi pula sebagai bukti betapa kebodohan api itu, jika engkau menaburkan cendana dan minyak ke dalam api, niscaya kedua-duanya akan dibakarnya, sedang ia tidak tahu yang manakah yang lebih baik di antara keduanya. Sampai saat ini telah tujuh puluh tahun lamanya engkau menyembah api, sedang aku tidak pernah. Tapi jika kita berdua sama-sama memasukan tangan kita ke dalam api, niscaya ia akan membakar tanganku dan tanganmu. Suatu bukti bahwa api tidak setia kepadamu.”

Katakata Ahmad bin Harb ini menggoncangkan hati si penganut agama Zoroaste ini. Maka berkatalah ia kepada Ahmad bin Harb : “Akan ku ajukan empat buah pertanyaan kepadamu. Jika engkau dapat menjawab semuanya, akan kuterima agamamu itu> Mengapakah Allah menciptakan ummat manusia? Setelah menciptakan ummat manusia, mengapakah Dia memberikan makanan kepada mereka? Mengapakah Dia mematikan manusia? Dan setelah mematikan mereka , mengapakah Dia membangkitkan mereka kembali?.”

“Allah menciptakan ummat manusia agar mereka menjadi hamba-hambaNya,” jawab Ahmad bin Harb. “Dia memberikan makanan kepada ummat manusia agar mereka mengenal-Nya sebagai Yang Maha Memelihara. Dia mematikan ummat manusia agar mereka tahu akan Kemahakuasaan-Nya. Kemudian Dia menghidupkan ummat manusia kebali agar mereka mengenal-Nya sebagai Yang Maha Kuasa dan Maha Tahu.”

Egitu Ahmad selesia dengan jawabannya, Bahram mengucapkan syahada :

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”

Seketika itu juga Ahmad bin Harb berseru nyaring dan jatuh pingsan. Tidak berapa lama kemudian ia ssadar kembali dan murid-muridnya bertanya : “Mengapakah engkau sampai jatuh pingsan seperti itu?.”

“Ketika Bahram mengangkat tangannya dalam berssaksi itu,” jawab Ahmad bin Harb, “sebuah seruan dari dalam lubuk hatiku yang terdalam berkata : “Ahmad bin Harb, Bahram adalah penganut agama Zoroaster selama tujuh puluh tahun tetapi akhirnya ia memberikan kesaksiannya. Engkau telah beriman selama tujuh puluh tahun, tetapi akhirnya apakah yang hendak kau berikan?.”

AHMAD BIN HARB DAN AHMAD SAUDAGAR

Di Nishapur tinggalah dua orang lelaki, yang seorang adalah Ahmad bin Harb dan yang lainnya adalah Ahmad Saudagar.

Ahmad bin Harb adalah seorang yang sedemikian khusyuknya di alam mengingat Allah, sehingga ketika tukan cukur hendak menggunting kumisnya ia masih saja menggerak-gerakan bibirnya. “Janganlah bergerak-gerak sementara aku menggunting kumismu,” si tukang cukur memperingatkan.

“Jangan hiraukan diriku, lakukanlah urusanmu sendiri,” jawab Ahmad bin Harb.

Dan setiap kali di cukur, sebanyak itu pula bibirnya terluka.

Suatu ketika Ahmad bin Harb menerima sepucuk surat, telah lama ia hendak membalasnya tetapi tidak ada waktunya yang senggang. Pada suatu hari seorang muazzin sedan azan. Ketika si muazzin sampai kepda seruan : “Marilah .....” Ahmad bin Harb berkata kepada salah seorang sahabtnya :

“Jawablah surat ssahabtku ini. Katakan kepadanya, jangan mengirimiku surat lagi karena aku tidak mempunyai waktu untuk membalsanya, Katakan kepadanya : “Sibukkanlah dirimu dengan Allah,” Cukup sekian!.”

Lain halnya dengan Ahmad Saudagar yang sedemikian khusyuknya dalam kecintaannya kepada kekayaan dunia, sehingga ketika pada suatu hari setelah menyuruh hamba perempuannya mempersiapkan makanan, dan setelah si hamba melaksanakan perintahnya itu, ia masih terus juga menghitung-hitung hingga malam tiba dan tertidur.

Ketika keesokan paginya ia terbangun, ia memanggil hamba perempuannya itu dan menegur : “Kemarin engkau tidak mempersiapkan makanan untukku.”

“Telah ku persiapkan, tetpi tuan sedemikian asyik dengan perhitungan-perhitungan.”

Untuk ke dua kalinya si hamba memasak makanan dan menyajikan makanan itu di depan tuannya, tetapi sekali lagi tuannya tidak sempat mencicipi santapan itu. Untuk ketiga kalinya si hamba mempersiapkan makanan tetapi tuannya masih tidak mempunyai  kesempatan untuk menikmatinya. Si hamba masuk dan menemukan tuannya sedang tertidur nyenyak, maka makana itu diusapkannya ke bibir tuannya. Ketika terbangun dari tidurnya Saudagar Ahmad berseru kepada pelayannya itu : “Bawalah air pembasuh tangan.” Ia mengira bahwa makanan itu telah dimakannya.

AHMAD BIN HARB DAN  PUTERANYA

Ahmad bin Harb mempunyai seorrang putera yang masih kecil. Putera ini diajarnya untuk percaya kepada Allah.

“Setiap  kai engkau menginginkan makanan atau apa saja,” Ahmad bin Harb berkata kepada puteranya itu, “Pergilah ke jendela itu dan katakanlah : Ya Allah, aku minta ......’”.

Setiap kali puteranya pergi ke jendela itu, kedua orang tuanya segera mempersiapkan segala sesuatu yang diinginkannya.

Pada suatu ketika kedua orang tuanya tidak ada di rumah, si anak merasa lapar. Seperti yang biasa dilakukannya, ia pun pergi ke jendela itu dan berkata :

“Ya Allah, aku minta roti.”

Seketika itu juga diterimanyalah roti itu. Ketika kedua orang tuanya pulang, mereka menemukan si anak sedang duduk memakan roti.

“Dari manakah engkau memperoleh roti ini,” mereka bertanya.

“Dari Dia yang telah memberikan roti kepadaku setiap hari.” Jawabnya.

Kedua orang tua itu pun sadar bahwa putera mereka telah mantap di atas jalan kesaslehan.

Abu Abdur Rahman Hatim bin Unwan al-Ashamm (“Si Tuli) seorang pribumi Balkh, adalah murid dari Syaqiq al-Balkhi. Hatim mengunjungi Baghdad dan meninggal dunia di Wasyjard di dekat Tirmiz apa tahun 237 H/852 M.

ANEKDOT ANEKDOT MENGENAI DIRI HATIM TULI

Kelapangan hati Hatim Tuli sangat besasr, sehingga pada suatu hari didatangi seorang wanita tua mengajukan subah pertanyaan, pada saat itu pula secara tidak sengaja ia buang angin. Hatim berkata kepadanya.

“Berbicaralah dengan lebih keras. Pendengaranku kurang tajam.” Kata-kata ini diucapkannya agar si wanita tidak merasa malu. Si wanita kemudain melantangkan suara dan Hatim memberikan jawaban terhasap masalahnya. Selama wanita tua itu masih hidup, yaitu hampir lima belas tahun lamanya, Hatim tetap berpura-pura tuli. Hal iini dilakukan agar tidak ada seorang pun yang menyampaikan kepada si wanita mengenai keadannya yang sebenarnya. Stelah wanita tua tu meninggal dunia barulah Hatimm menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya secara spontan, sedang sebelumnya ia selalu menyela dengan kata-kata : “Berbicaralah dengan lebih keras!.” Itulah sebabnya mengapa ia dijuluki Hatim Tuli.

oooOOOooo

Pada suatu hari dalam khotbahnya di kota Balkh, Hatim Tuli memanjatkan doa : “Ya Allah, siapa pun juga di antara jama’ah ini yang telah melakukan dosa-dosa  yang paling besar dan aniaya, dan telah melakukan perbuatan-perbuatan yang paling tercela, ampunkanlah dia.”

Di antara jama’ah itu ada seorang yang kerjanya mencari mayat. Telah banyak kuburan yang dibongkarnya dan kain kafan yang dilucutinya. Malam harinya seperti biasanya ia pu membongkar kuburan.  Ketika sedang menggali kubur  itu tiba-tiba suara dari dalam kuburan itu berseru kepadanya :

“Tidakkah engkau mempunyai malu? Pagi tadi ketika mendengarkan khotbah Hatim, engkau telah beroleh ampunan, tetapi malam ini engkau kembali mengulangi perbuatanmu seperti yang sudah-sudah?

Ia segera melompat keluar, berlari mendapatkan Hatim. Kepada Hatim dikisahkannya pengalamannya itu dan setelah itu ia pun bertaubat.

oooOOOooo

Sa’ad bin Muhammad ar-Razi mengisahkan, telah bertahun-tahunaku menjadi murid Hatim dan selama itu beru sekali aku melihatnya dalam keadaan marah. Hatim pergi ke pasar dan disana dilihatnya seorang pedagang sedang meringkus salah seorang langganannya sambil berteriak-teriak.

“Barangkali ia mengambil dagangan ku, Kemudian memakannya dan tidak mau membayar.”.

Hatim segera menengahi : Tuan, bermurah hatilah!.”

“Aku tak sudi bermurah hati. Yang kuinginkan adalah uangku sendiri,” jawab si pedagang.

Segala bujukan Hatim tidak ada gunanya. Hatim menjadi marah dilepaskannya jubahnya dan dengan disaksikan orang banyak dihamparkannya jubah itu ke atas tanah. Jubah itu penuh dengan uang emas, semuanya asli tidak ada yang palsu.

“Ayo, ambillah uang ini sejumlah yang menjadi hak mu,” kata Hatim. Awas, jangan ambil lebih daripada itu. Jika tidak ingintanganmu akan terkena sampar.”

Si pedagang mengambil uang sejumlah yang menjadi haknya. Tetapi ia tidak dapat menahan diri, sekali lagi diulurkannya tangannya hendak mengambil lebih banyak, tetapi seketika itu juga tangannya terkena sampar.

oooOOOooo

Seorang lelaki mendatangi Hatim dan berkata : “Aku adalah seorang kaya. Aku ingin memberikan sebagian dari kekayaanku untukmu dan sahabt-sahabatmu. Maukah engkau engkau menerimanya.?”

“Aku takut apabila nanti engkau mati aku terpaksa berseru kepada Allah : “Ya Tuhan Yang Maha Memberi Nafkah, yang memberi nafkah kepadaku di atas dunia ini telah mati,” jawab Hatim.

oooOOOooo

Hatim mengisahkan : Ketika aku ikut berperang seorang tentara Turki meringkusku. Tubuhku dibantingnya dan aku hendak dibunuhnya. Tetapi aku tidak peduli dan tidak gentar. Aku hanya dapat menantikan dan menyaksikan apa yang hendak dilakukannya terhadap diriku. Ia sedang meraih pedangnya ketika sebuah anak panah menancap di tubuhnya dan ia pun jatuh tersungkur. Aku lalu bertanya :

“Engkaukah yang membunuhku, atau akulah yang membunuhmu?,”

oooOOOooo

Ketika Hatim tiba di kota Baghdad, kahlifah lalu diberi tahu orang : “Pertapa dari Khurasan telah tibaQ.” Kata mereka.

Khalifah segera memerintahkan agar hatim dibawa ke hadapannya. Ketika memasuki istana, hatim berseru kepada Khalifah :

“Wahai khalifah pertapa!.”

Khalifah menyahut :

“Aku bukan seorang pertapa. Seluruh dunia berada di bawah perintahku. Engkau inilah seorang pertapa.”

Hatim membalas :

“Tidak, engkaulah seorang pertapa. Allah telah berkata : “Katakanlah! Sesungguhnya kenikmatan di atas dunia ini adalah sedikit. Dan engkau cukup puas dengan yang sedikit itu. Jadi, engkaulah seorang pertapa, bukan aku. Aku tidak akan puas baik dengan dunia ini maupun dengan akhirat. Bagaimanakah aku dapat diaktakan sebagai seorang pertapa.?”

17. SAHL BIN ‘ABDULLAH AT-TUSTARI

Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari, lahir di Tustar (Ahwaz) di sekitar tahun 200H/815 M. Ia belajar dari Sofyan ats.Tsauri dan pernah bertemu dengan Dzun Nun al-Mishri. Kehidupannya yang tenang terganggu pada tahun 261 H/874M. Ketika terpaksa mengungsi ke Bashrah, dan meninggal dunia di sana pda tahun 282 H/896 M. Sebuah komentar singkat mengenai Al-Qur’an diduga sebagai karyanya dan ia telah memberikan sumbangan-sumbangan yang penting bagi perkembangan  teori sufisme. Ia menjadi tokoh yang berpengaruh besar berkat jasa muridnya Ibnu Salim yang mendirikan mazhab Salimiyah.

MASA REMAJA SAHL BIN ‘ABDULLAH AT-TUSTARI

Mengenai dirinya sendiri, Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari berkisah sebagai berikut :

Aku masih ingat ketika Allah bertanya, “Bukankah Aku Tuhanmu.” Dan aku  menjawab, “Ya, sesungguhnya Engkau-lah Tuhanku.” Akupun masih ingat ketika berada di dalam rahim ibuku.

Umurku baru tiga tahun ketika aku mulai beribadah sepanjang malam. Pamanku yang bernama Muhammad bin Shawwar pernah menangis karena terharu menyaksikan perbuatanku itu dan berkata kepdaku : Tidurlah Shahl! Engkau membuatku cemaas.

Secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan aku senantisasa mematuhi anjuran-anjuran paman. Pada suatu hari aku berkata kepadanya. “Paman, aku mendapatkan sebuah pengalaman yang sangat aneh. Aku seolah-olah melihat kepalaku bersujud di depan tahta.”

“Rahasiakanlah pengalaman ini dan jangan katakan kepada siapa pun juga,” paman menasehatiku. Kemudian ia menambahkan, “Apabila di dlam tidur tubuhmu gelisah, ingatlah dirimu. Dan apabila lidahmu bergerak ucapkanlah : “Allah besertaku, Allah memelihara diriku, Allah menyaksikan diriku.

Saran ini kulaksanakan dan hal ini kusampaikan kepadanya.

“Ucapkanlah kata-kata itu tujuh kali setiap malam,” paman menyarankan.

Kemudian ku sampaikan kepadanya bahwa saran itu telah kulaksanakan.

“Ucapkanlah kata-kata itu lima belas kali setiap malam,”

Saran paman kulaksanakan dan kesyahduan memenuhi kalbuku. Setahun telah berlalu. Kemudian paman berkata kepadaku :

“Laksanakanlah saran-saranku itu terus menerus hingga ke liang kuburmu. Hasilnya adalah milikmu sendiri baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.”

Beberapa tahun berlalu. Aku senantiasa melakukan hal yang serupa sehingga kesyahduan itu menembus ke dalam lubuk hatiku yang terdalam. Paman berkata kepadaku :

“Sahl, Jika Allah menyertai seseorang manusia dan menyaksikan dirinya, bagaimanakah ia dapat mengingkari-Nya? Allah menjaga dirimu sehingga engkau tidak dapat mengingkari-Nya.”

Setelah itu aku pergi mengasingkan diri. Kemudian tiba waktunya aku hendak disekolahkan. Aku berkata, “Aku kuatir kalau konsentrasiku akan buyar. Buatlah sebuah persyaratan dengan guru, bahwa aku akan hadir selama satu jam dan belajar dengan sedapat-dapatnya, tetapi setelah itu aku boleh pergi untuk melakukan urusanku yang sesungguhnya.”

Dengan syarat itu barulah aku mau disekolahkan dan memperlajari al-Qur’an. Pada waktu itu usia ku baru tujuh tahun. Sejak itu aku terus menerus berpuasa, sedang makananku satu-satunya adalah roti. Ketika berusia duabelas tahun aku dihadapkan kepada sebuah masalah yang belum terpecahkan oleh siapapun juga. Maka aku bermohon agar aku dikirimkan ke Bashrah untuk mencari jawaban masalah ini. Aku tiba di Bashrah, bertanya-tanya kepada para cendekia di kota itu, tetapi tak seorangpun  di antara mereka dapat menjawab pertanyaanku. Dari Bashrah aku melanjutkan perjalanan ke Abdan untuk menemui seorang yang bernama Habib bin Hamzah. Dia lah yang dpat menjawab pertanyaanku itu. Untuk beberapa lamanya aku tinggal bersama Habib bin Hamzah dan banyak faedah yang ku petik dari pelajaran-pelajarannya.

Kemudian aku pergi ke Tustar. Pada waktu itu makananku sehari-hari sudah sedemikian sederhana : Dengan uang satu dirham untuk membeli tepung yang kemudian digiling dan dibakar menjadi roti. Setiap malam menjelang fajar tiba aku berbuka puasa dengan sedikit roti tawar. Dengan cara yang seperti ini uang satu dirham itu dapat kumanfaatkan untuk setahun.

Setelah itu aku bertekad hendak berbuka puasa sekali dalam tiga hari. Kemudian sekali dalam lima hari. Kemudian sekali dalam tujuh hari, dan demikianlah seterusnya sehingga sekali dalam dua puluh hari. (menurut salah satu riwayat, Sahl menyatakan bahwa ia pernah berbuka puasa sekali dalam tujuh puluh hari.) Kadang-kadang aku hanya memakan satu buah badan untuk setiap empat puluh hari.

Untuk beberpa tahun aku melakukan percobaan-percobaan dengan rasa kenyang dan lapar. Pada awal mulanya aku medapatkan bahwa aku merasa lemah karena lapar dan merasa kuat karena kenyang. Tetapi di kemudian hari aku mendapatkan bahwa aku merasa kuat karena lapar dan merasa lemah karena kenyang. Maka bermohonlah aku kepada Allah, “Ya Allah, tutuplah kedua mata Sahl, sehingga ia melihat kenyang di dalam lapar dan melihat lapar di dalam kenyang, karena keduanya berasal dari Engkau juga.”

oooOOOooo

Pada suatu hari Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari berkata, “Taubat adalah kewajiban setiap manusia di setiap saat, tanpa perduli apakah ia manusia yang telah dimuliakan Allah ataupun manusia kebanyakan, dan tanpa perduli apakah ia patuh atau ingkar kepada Allah.”

Pada masa itu di Tustar ada seorang yang mengaku sebagai seorang terpelajar dan pertapa. Orang ini menyangkal pernyataan Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari di atas, “Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari menyatakan bahwa seorang yang ingkar harus bertaubat karena keingkarannya dan seorang yang patuh harus bertobat karena kepatuhannya.

Akirnya berhasilan orang itu membuat orang banyak menentang Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari. Kemuidan ia menudh Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari sebagai seorang bid’ah dan kafir. Maka semua pihak, dari rakyat biasa sampai kaum bangsawan, menyerang Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari. Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari menahan dirinya, Ia tidak mau berbantahan dengan mereka untuk membenarkan kesalahpahaman mereka itu. Denga kobaran api suci agama, dituliskannya semua harta benda yang dimilikinya yaitu : kebun-kebun, rumah-rumah, perabot-perabot, permadani-pemadani, jembangan-jembangan, emas dan perak, masing-masing di atas secarik kertas. Kemudian ia memanggil orang-orang berkumpul dan setelah berkumpul kertas-kertas tadi dilemparkannya akepada mereka untk menajdi rebutan. Kepada setiap orang yang berhasil mendapatkan sehelai di antara kertas-kertas itu, Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari memberikan harta benda miliknya yang tertulis di situ. Hal ini dilakukannya sebagai tanda terima kasihnya kepada mereka karena membebaskan dirinya dari harta benda dunia ini. Setelah menyerahkan segala harta kekayaannya itu berangkatlah Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari menuju Hijaz. Ia berkata kepada dirinya sendiri :

“Wahai diriku, kini tiada sesuatu pun yang masih ku miliki. Janganlah menerrima apa-apa lagi dari diriku karena akan sia-sia belaka.”

Hatinya setuju untuk tidak meminta apapu juga. Tetapi ketika sampai di kota Kufah, hatinya berkata : “Hingga sejauh ini aku tidak pernah meminta sesuatu pun jua darimu. Tetapi pada saat ini aku ignin sekerat roti dan sepotong ikan. Berikanlah roti dan ikan kepadaku, dan engkau tidak akan ku usik lagi di sepanjang perjalanan menuju Mekkah.”

Ketika memasuki kota Kufah, Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari melihat sebuah penggilingan yang sedang digerakkan oleh seekor unta. Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari bertanya : “Berapakah yang kalian bayar untuk memperkerjakan unta ini?.”

“Dua dirham.”

“Lepaskanlah unta ini dan ikatlah aku sebagai penggantinya. Berikanlah aku satu dirham untuk kerjaku hingga waktu isa nanti.”

Unta itu pun dilepasan dan tubuh Sahl bin ‘Abdullah at.Tustetelah malam tiba ia pun memperoleh upahnya sebesar satu dirham. Dengan uang itu dibelinya sekerat roti dan sepotong ikan yang kemudian ditaruhnya di depan dirinya. Maka berkatalah Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari kepda dirinya sendiri : “Wahai hatiku, setiap kali engkau menghendaki makanan ini, cmkanlah olehmu bahwa engkau harus melakukan pekerjaan seekor keledai dari pagi hingga matahari terbenam untuk mendapatkannya.”

Kemudian Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari meneruskan perjalannya ke Ka’bah, dimana ia bertemu dengan banyak tokoh-tokoh sufi. Dan dari Ka’bah ia kembali ke Tustar, dimana Dzun Nun sudah menantikan kedatangannya.

ANKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI SAHL.

Amr bin Laits  jatuh sakit dan semua tabib tidak berdaya untuk menyembuhkannya. Maka dikeluarkannya sebuah pengumuman yang berbunyi : “Adakah seseorang yang dapat menyembuhkan penyakit melalui doa?.”

Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari adalah seorang manusia yang makbul doanya,” orang-orang berkata.

Maka dimintalah pertolongan Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari. Karena ingat perintah Allah yang berbunyi : “Turutilah perintah orang-orang yang memegang pemerintahan,” Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari memenuhi permintaan itu. Setelah duduk di depan Amr, berkatalah Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari kepadanya :

“Sebuah doa hanya makbul bagi seorang yang menyesal. Di dalam penjaramu aa orang-orang yang dihukum karena tuduhan-tudhuhan palsu.”

Amr segera membebaskan sorang-orang yang dimaksudkan Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari itu dan kemudian ia bertaubat. Setelah itu barulah Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari berdoa :

“Ya Allah, seperti kehinaan yang telah Engkau tunjukan kepadanya karena keingkarannya, maka tunjukan pulalah kepadanya Kemuliaan karena kepatuhanku. Ya Allah, seperti batinnya yang telah Engkau beri selimut taubat, maka berikan pulalah kepada raganya selimut kesehatan.”

Begitu Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari  seledai mengucapkan doa itu Amr bin Laits segar bugar kembali. Banyak uang yang hendak diberikannya kepada Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari , tepai Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari  menolak dan meninggalkan tempat itu. Sehubungan dengan sikapnya ini salah seorang muridnya tiak setuju dan berkata kepada Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari  :

“Bukankah lebih baik apabila uang itu engkau terima sehingga bisa dapat menggunakannya untuk melunasi hutang-hutang kita?.”

“Apakah engkau menginginkan emas?” jaab Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari , nah saksikannlah olehmu!.”

Maka terlihatlah oleh si murid betapa seluruh padang pasir dipenuhi oleh emas dan permata merah delima. Kemudian Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari  berkata :

“Mengapakah seseorang yang telah memperoleh karunia Allah yang seperti ini harus menerima pemberian hamba-hamba-Nya?”

Setiap kali melakukan  latihan mistik. Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari  akan mengalami ekstase selama lima hari terus menerus dan selama itu pula ia tidak makan. Jika latihan itu dilakukannya di musim dingin, keringatnya mengucur dan membasahi pakainnya. Jika di dalam keadaan ekstase ini para ulama bertanya kepadanya, maka Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari  akan menjawab : “Janganlah kalian bertanya kepdaku karena di dalam saat-saat mistis seperti ini kalian tidak akan dapat memetik manfaat dari diriku dan dari kata-kataku.”

oooOOOooo

 Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari sering berjalan di atas air tanpa sedikitpun kakinya menjadi basah. Seseorang berkata kepada Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari :

“Orang-orang berkata bahwa engkau dapat berjalan di atas air.”

“Tanyakanlah kepada Muazzin di masjid ini,” jawab Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari. “Ia adalah orang yang dapat diperaya.”

Kemudian orang itu mengisahkan :

“Telah kutanyakan  si Muazzin dan ia menjawab : “Aku tak pernah menyaksikan hal itu. Tetapi beberapa hari yang lalu, katika hendak bersuci, Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari tergelincir ke dalam kulah, dan seandainya aku tidak ada di tempat itu niscaya ia telah binasa.”

Ketima Abu Ali bin Daqqaq mendengar kisah ini, ia pun berkata :

“Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari mempunyai berbagai kesaktian, tetapi ia ingin menyembunyikan hal itu.”

oooOOOooo

Pada suatu ketika Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari duduk di dalam masjid. Seekor burung dara jatuh dari udara karena udara yang terlampau panas. Menyaksikan hal ini Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari berseru :

“Syah al-Kiramni telah meninggal dunia!.”

Ketika diselediki ternyata benarlah kata-katanya itu.

oooOOOooo

Singa-singa dan banyak binatang buas lain sering mengunjungi tampat kediaman Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari. Dan Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari akan memberi makan dan merawat mereka. Sampai hari ini pun rumah Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari di Tutsar itu disebut orang sebagai “rumah binatang-binatang buas”.

oooOOOooo

Setelah lama bertirakat malam dan melakukan disiplin diri yang keras, kesehatan Sahl bin ‘Abdullah at.Tustari terganggu, ia menderita penyakit blennorrhoea yang parah, sehingga setiap sebentar ia harus ke kamar kecil. Karena itu ia selalu menyeddiakan sebuah guci di dekatnya. Tetapi menjelang waktu-waktu shalat penyakit itu reda dan ia dapat bersuci dan melakukan ibadah. Apabila ia naik ke ata mimbar, ia sama sekali menjadi segar bugar tanpa keluhan sedikit pun juga. Tetapi begitu ia turun dari mimbar, penyakit itu datang kembali. Walau dalam keadaan seperti ini tapi ia tak pernah melalaikan perintah Allah.

Menjelang ajalnya ia ditemani oleh keempat ratus orang muridnya. Mereka bertanya kepada Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari :

“Siapakah yang akan duduk ditempatmu dan siapakah yang akan berkhotbah di atas mimbar sebagai penggantimu?.”

Pada waktu itu ada seorang penganut agama Zoroaster yang berenama Suadh-Dil.

“Yang akan menggantikanku adalah Syadh-Dil,” jawab Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari, sambil membuka matanya.

“Syeikh sudah tidak dapat berpikir waras lagi,” murid-muridnya saling berbisik.

“Ia mempunyai empat ratus orang murid, semuanya orang-orang terpelajar dan taat beragama, tetapi yang diangkatnya sebagai penggantinya adalah seorang penganut agama Zoroaster.”

“Hendikan omelan-omelan kalian. Bawalah Syadh-Dil kepadaku,” teriak Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari.

Murid-murid Sahl  bin ‘Abdullah at-Tustari segera menjemput si penganut agama Zoroaster itu. Ketika melihat Syadh-Dil berkatalah Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari kepadanya :

“Tiga hari setelah kematianku, setelah shalat ‘Ashar, naiklah ke atas mimbar dan berkhotbahlah sebagai pengantiku.”

 Setelah mengucapkan kata-kata itu Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari menghembuskan nafanya yang terakhir. Tiga hari kemudian setelah Shalat “Ashar, masjid semakin penuh sesak. Syadh-Dil masuk dan naik ke atas mimbar, semua orang melongo menyaksikannya.

“Apakah arti semua ini? Seorang penganut agama Zoroaster yang mengenakan topi Majusi dan sabuk pinggang Majusi!.”

Syadh-Dil mulai berkhotbah.

“Pemimpin kalian telah mengangkat diriku sebagai wakilnya. Dia bertanya kepadaku : Syadh-Dil, belum tibalah saatnya engkau memutus sabuk Majusi dari pinggangmu?” Kini saksikanlah oleh kalian semua, akan ku putuskan sabukku ini.”

Dikeluarkannya sebuah pisau dan diputuskannya sabuk pinggang yang dikenakannya itu. Kemudian Syadh-Dil meneruskan :

“Pemimpin kalian kemudian bertanya pula : “Belum tibalah saatnya engkau melepaskan topi Majusi dari kepalamu?. Kini saksikanlah oleh kalian semua, kulepaskan topi ini dari kepalaku.”

Kemudian Syadh-Dil berseru :

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Syeikh juga menyuruhku untuk mengatakan kepda kalian : “Dia yang menjadi Syeikh dan guru kalian telah memberikan nasehat yang baik kepada kalian, dan kewajiban seorang murid adalah menerima nasehat gurunya. Saksikanlah oleh kalian betapa Syadh-Dil telah memutuskan sabuknya yang terlihat. Jika kalian ingin bersua dengan aku di hari Hari Berbangkit nanti, kepada setiap orang di antara kalian aku serukan, putuskanlah sabuk di dalam hatimu,”

Semua jama’ah menjadi gempar ketika Syadh-Dil selesai berkhotbah dan manifestasi-manifestasi spiritual yang mengherankan tejadilah.

oooOOOooo

Ketika jenazah Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari diusung ke pemakaman, jalan-jalan penuh sesak denan manusia. Pada waktu itu di Tustar ada seorang Yahudi yang berusia tujuh puluh tahun> Ketika mendengar suara orang ramai itu ia pun berlari keluar rumahnya untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi. Ketika rombongan itu lewa di depannya, si Yahudi tua berseru :

“Kalian lihatlah apa yang aku lihat? Malaikat-malaikat turun dari langit dan mengelus-ngeluskan sayap mereka ke peti matinya.”

Seketika itu juga ia mengucapkan syahadah dan menjadi seorang Muslim.

oooOOOooo

Pada suatu hari ketika Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari sedang duduk beserta sahabat-sahabatnya, lewatlah seorang lelaki. Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari berkata kepada sahabat-sahabatnya : “Orang itu mempunyai sebuah rahasia.”

Ketika mereka menoleh, orang itu telah berlalu.

Setelah Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari mati, ketika salah seorang muridnya duduk di makam Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari, lelaki tadi lewat pula di situ. Murid Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari menegurnya :

“Syeikh yang terbaring di dalam makam ini pernah mengatakan bahwa engkau mempunyai sebuah rahasia. Demi Allah yang telah memberikan rahasia itu kepadamu, pertunjukkanlah kepadaku.”

Lelaki itu menunjuk ke makam Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari da berseru :

“Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari, berbicaralah!.”

Dari dalam kuburan terdengarlah suara yang lantang :

“Tiada Tuhan Kecuali Allah Yang Esa dan Tiada Bersekutu.”

Lelaki itu kemudian bertanya :

“Telah dikatakan : Barangsiapa yakin bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, maka tiadalah gelap baginya di dalam alam kubur. Benarkah demikian Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari?.”

Dari dalam kuburan itu terdengar jawaban Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari :

“Benar!.”

Diriwayatkan kedua orang tua Abu Mahfuzh Ma’ruf bin Firuz al-Karkhi, adalah penganut agama Kristen. Pengisahan seorang imam Syiah yang bernama ‘Ali bin Musa ar –Razi mengenai bagaimana Ma’ruf sampai memeluk agama Islam umumnya kurang dipercayai. Ma’ruf adalah seorang tokoh mistik yang terkemuka di Baghdad. Ia meninggal dunia pada tahun 200H/815 M.

MENGAPA MA’RUF AL KARKHI MENGANUT AGAMA ISLAM

Kedua orang tua Ma’ruf al-Karkhi beragama Kristen. Di sekolah, gurunya pernah berkata : “Tuhan adalah yang ketiga dari yang ketiga.”

Ma’ruf al-Karkhi membantah : “Tidak, Tuhan itu adalah Allah Yang Esa.”

Si Guru memukul Ma’ruf al-Karkhi, tetapi ia tetap dengan bantahannya. Pada suatu hari kepala sekolah memukul Ma’ruf al-Karkhi habis-habisan. Karena itu Ma’ruf al-Karkhi melarikan diri dan tidak seorang pun tahu ke mana perginya. Kedua orang tua Ma’ruf al-Karkhi berkata :

“Asalkan dia mau pulang, agama apa pun yang hendak dianutnya akan kami anut pula.”

Ma’ruf al-Karkhi menghadap ‘Ali bin Musa ar-Razi yang kemudian membimbingnya ke dalam Islam. Beberapa lama telah belalu. Pada suatu hari Ma’ruf al-Karkhi pulang dan mengetuk pintu rumah orang tuanya.

“Siapakah itu?” tanya kedua orang tuanya.

“Ma’ruf,” jawabnya.

“Agama apakah yang telah engkau anut?.”

“Agama Muhammad Rasulullah.”

Ayah bundahnya segera menganut agama Islam pula.

oooOOOooo

Setelah itu Ma’ruf al-Karkhi belajar di bawah bimbingan Daud at.Ta’i dan menjalani disiplin diri yang keras. Terbuktilah bahwa ia sedemikian taat beragama dan mempreaktekan disiplin yang sedemikian kerasnya sehingga ketabahannya itu menjadi termasyhur ke mana-mana.

Muhammad bin Manshur at-Tusi meriwayatkan pertemuannya dengan Ma’ruf al-Karkhi di kota Baghdad. “Ku lihat di wajahnya ada goresan bekas luka. Aku bertanya kepadanya : Kemarin aku bersamamu tetapi tidak terlihat oleh ku bekas luka ini. Bekas apakah ini?” Ma’ruf al-Karkhi menjawab : “Jangan hiraukan segala sesuatu yang  bukan urusanmu. Tanyakanlah hal-hal yang berfaedah bagi dirimu. Tetapi aku terus mendesak Ma’ruf al-Karkhi : Demi hak Allah yang kita sembah, jelaskanlah kepadaku.

Maka berkatalah Ma’ruf al-Karkhi : “Kemarin malam aku berdoa semoga aku dapat ke Mekkah dan mengelilingi Ka’bah. Doaku itu terkabul. Ketika hendak minum di sumur zamzam aku tergelincir dan mukaku terbentur ke sumur itu. Itulah yang menyebabkan bekas luka itu.”

Pada suatu ketika Ma’ruf al-Karkhi turun ke sungai Tigris dengan maksud hendak bersuci. Al=Qur’an dan sajadahnya tertinggal di masjid. Seorang wanita tua masuk ke masjid, mengambil dan membawa kabur Al-Qur’an berserta sajadah itu. Ma’ruf al-Karkhi segera mengejarnya. Setelah wanita itu tersusul, sambil menundukkan kepda agar tidak sampai memandang wajah wanita itu, Ma’ruf al-Karkhi bertanya :

“Apakah engkau mempunyai seorang putera yang dapat membaca Al-Qur’an?.”

“Tidak”, jawab wanita itu.

“Kalau begitu, kembalikanlah al-Qur’an itu kepdaku. Sajadah itu biarlah untukmu.

Perempuan itu terheran-heran akan kemurahan hati Ma’ruf al-Karkhi, maka baik al-Qur’an maupun sajadah itu diserahkannya kembali.

Tetapi Ma’ruf al-Karkhi mendesak : “tidak, ambillah sajadah ini. Sajadah ini adalah hakmu yang halal..”

Si wanita bergegas meninggalkan tempat itu dengan perasaan malu dan tak habis pikir.

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI MA’RUF

Pada suatu hari ketika V berjalan bersama murid-muridnya, mereka bertemu dengan serombongan anak muda yang sedang menuju ke tujuan yang sama. Di sepanjang perjalanan sampai ke sungai Tigris anak-anak muda itu menunjukkan tingkah laku yang memuakkan.

Sahabat-sahabat Ma’ruf al-Karkhi mendesaknya : “Guru, mintalah kepada Allah Yang Maha Besar untuk membenamkan mereka semua sehingga bumi  ini bersih dari kehadiran mereka yang menjijikkan.”

Ma’ruf al-Karkhi menjawab : “Tengadahkanlah tangan kalian!.”

Setelah itu berdoalah Ma’ruf al-Karkhi : “Ya Allah, karena Engkau telah memberikan kepada mereka kebahagiaan di atas dunia ini, maka berikan pulalah mereka kebahagiaan di akhirat nanti.” Sahabat-sahabat Ma’ruf al-Karkhi terheran-heran dan berkata :

“Guru, kami tak mengetahui rahasia yang terkandung di dalam doamu itu.”

Ma’ruf al-Karkhi menjawab : “Dia, kepada siapa aku berdoa tadi, mengetahui rahasianya. Tunggulah sebentar. Sesaat ini juga rahasia itu akan terbuka.”

Ketika remaja-remaja itu melihat syeikh Ma’ruf al-Karkhi, mereka segera memecahkan kecapi-kecapi mereka dan menumpahkan anggur yang sedang mereka minum. Denga tubuh gemetar mereka menjatuhkan diri di depan syeikh dan bertaubat.

Kemudian Ma’ruf al-Karkhi berkata kepda sahabat-sahabatnya. “Kalaian saksikan betapa kehendak kalian telah dikabulkan tanpa membenamkan dan mencelakakan seorang jua-pun.”

oooOOOooo

Pada suatu hari raya terlihat olehku Ma’ruf al-Karkhi sedang memungut biji-biji kurma.

“Apakah yang sedang engkau lakukan?.”

Aku bertanya kepadanya.

“Ma’ruf al-Karkhi menjawab : “Tadi aku menemui seorang anak yang sedang menangis. Aku bertanya kepadanya. “Apakah yang engkau tangiskan?.” Anak itu menjawab : “Aku seorang anak yatim piatu, tiada punya ayah bunda. Anak-anak lain mempunyai pakaian baru, tetapi aku tidak. Anak-anak lain mempunyai kacang, tetapi aku tidak.” Maka biji-biji kurma ini ku kumpulkan untuk ku jual dan uangnya untuk membeli kacang sehingga ia dapat bersuka-suka dan bermain-main seperti anak-anak lain.”

Aku pun berkata : “Serahkanlah hal ini kepadaku dan tak usahlah engkau bersusah payah.”

Sari melanjutkan kisahnya : “Anak itu ku bawa pulang dan ku berikan pakaian. Kemudian ku belikan kacang dan ku bessarkan hatinya. Seketika itu juga terlihatlah oleh ku cahaya terang benderang yang memancar dari dalam lubuk hatiku dan aku sangat berbahagia.”

oooOOOooo

Ma’ruf al-Karkhi mempunyai seorang paman yang menjadi Gubernur di suatu kota. Pada suatu hari ketika si paman lewat di sebuah padang, ia melihat Ma’ruf al-Karkhi sedan makan roti. Di depan Ma’ruf al-Karkhi ada seekor anjing. Secara berganti-ganti Ma’ruf al-Karkhi memasukan sekerat roti ke mulutnya sendiri dan ke mulut anjing itu. Menyaksikan perbuatannya itu si paman berseru :

” Tidak malukan engkau memakan roti bersama-sama dengan seekor anjing?.”

Ma’ruf al-Karkhi menjawab : “Karena mempunyai rasa malulah aku memberikan roti kepada yang miskin.”

Kemudian Ma’ruf al-Karkhi menengadahkan kepalanya dan memanggil seekor burung yang sedang terbang di angkasa. Si burung menukik, hinggap di tangannya, sedang sayap-sayapnya menutupi kepala dan mata Ma’ruf al-Karkhi. Setelah itu Ma’ruf al-Karkhi berkata kepada pamannya.

“Jika seseorang malu terhadap Allah, maka segala sesuatu akan malu terhadap dirinya.”

Mendengar kata-kata ini si paman terdiam dan tak dapat berkata apa-apa.

oooOOOooo

Pada suatu hari wudhu Ma’ruf al-Karkhi batal. Segera ia bersuci dengan pasir. Melhat hal ini orang-orang menegurnya :

“Lihatlah, di situ  sungai Tigris, tetapi mengapakah engkau bersuci dengan pasir?.”

Ma’ruf al-Karkhi menjawab : “Mungkin sekali aku telah mati sebelum sampai ke situ.”

oooOOOooo

Pada sutu hari beberapa orang Syi’ah mendobrak pintu rumah Riza dan menyerang Ma’ruf al-Karkhi sehingga tulang rusuknya patah. Ma’ruf al-Karkhi tergeletak dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan.

Sari as Saqathi berkata kepada Ma’ruf al-Karkhi. “Sampaikanlah wasiamu yang terakhir.”

Ma’ruf al-Karkhi bekata : “Apabila aku mati, lepaskanlah pakaianku dan sedekahkanlah. Aku ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan telanjang seperti ketika aku dilahirkan dari rahim ibuku.”

Ketika Ma’ruf al-Karkhi meninggal, prikemanusiaan dan kerendahan hatinya sedemikian harum sehingga semua kaum, baik yang beragama Yahudi, Kristen maupun Islam mengakuinya sebagai salah seorang di antara mereka.

Pelayanannya menyampaikan bahwa Ma’ruf al-Karkhi pernah berpesan : “Jika ada suatu kaum yang dapat mengangkat peti matiku nanti, maka aku adalah salah seorang di antara mereka.”

Kemudian ternyatalah bahwa orang-orang Kristen tidak dapat mengangkat peti matinya. Begitu pula dengan orang-orang Yahudi. Ketika tiba giliran orang-orang Muslim ternyata mereka berhasil. Kemudian mereka men-shalat-kan jenazah dan menguburnya di tempat itu juga.

oooOOOooo

Sari meriwayatkan sebagai berikut  ini : Setelah Ma’ruf al-Karkhi mati, dalam suatu mimpi aku bertemu dengan dia. Ma’ruf al-Karkhi sedang berdiri di bawah tahta. Matanya terbuka lebar seperti seorang yang terkesimma dan berputus asa. Kemudian terdengarlah seruan Allah kepada malaikat-malaikatnya.

“Siapakah dia ini?.”

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Yang Maha Tahu,” Malaikat-malaikat itu menjawab.

“Dia inilah Ma’ruf al-Karkhi,” terdengar sabda-Nya. “Ia terkesima dan terpesona karena cinta kasih kami. Hanya dengan meandang Kami sajalah ia dapat sadar kembali. Hanya dengan menemui Kami ssajalah ia akan menemukan dirinya kembali.”

Orang-orang mengatakan bahwa Abul Hasan Sari bin al-Mughallis as-Saqathi adalah murid Ma’ruf ak-Karkhi dan paman Junaid. Ia adalah seorang tokoh sufi yang terkemuka di Baghdad dan pernah mendapat tantangan dari Ahmad bin Hambali. Mula-mula ia mencari nafkah dengan berdagang barang-barang bekas dan ia meninggal pada tahun 253 H/867 M. Dalam usia 98 tahun.

KEHIDUPAN SARI AS. SAQATHI                                  

Sari as-Saqathi adalah orang yang pertama sekali mengajarkan kebenaran mistik dan “Peleburan” sufi di kota Baghdad. Kebanyakan syeikh-syeikh sufi di negeri Irak adalah murid-murid Sari as-Saqathi. Ia adalah paman Junaid dan murid Ma’ruf al-Kerkhi. Ia juga pernah bertemu dengan Habib ar-Ra’i.

Pada mulanya Sari as-Saqathi tinggal di kota Baghdad di mana ia mempunyai sebuah toko. Setiap hari apanila hendak shalat, digantungkannya sebuah tirai di depan pintu tokonya.

Padda suatu hari datanglah seseorang dari gunung Lukam mengunjunginya. Dengan menyibakkan tirai itu ia mengucapkan salam kepada Sari as-Saqathi dan berkata :

“Syeikh dari Gunug Lukam mengirim salam kepadamu.”

Sari as-Saqathi menyahut : “Si syeikh hidup menyepi di atas gunung dan oleh kaena itu seala jerih payahnya tidak bermanfaat. Seorang manusia harus dapat hidup di tengah keramian dan menghusukkan diri kepada Allah sehingga kita tidak pernah lupa kepda-Nya walau sesaatpun.”

Diriwayatkan, di dalam berdagang itu Sari as-Saqathi tidak pernah menarik keuntungan melebihi lima persen. Pada suatu ketika Sari as-Saqathi membeli buah badam seharga enampuluh dianr. Pada waktu harga buah badam sedang naik, seorang pedagang perantara daang menemui Sari as-Saqathi.

“Buah-buah badam ini hendak kujual,” Sari as-Saqathi berkata kepadanya.

“Berapakah harganya?.” Tanya si perantara.

“Enampuluh enam diar.”

“Tetapi harga buah badam pada saat ini sembilan puluh dinar.” Si perantara berkeberatan.

“Sudah menjadi peraturan bagi diriku untuk tidak menarik keuntungan lebih dari lima persen. “ jawab Sari as-Saqathi, dan aku tidak akan melanggar peraturan sendiri.”

“Dan aku pun tidak merasa pantas untuk menjual barang-barangmu dengan harga kurang dari sembilan puluh dinar,” sahut si pedagang perantara.

Akhirnya si perantara tidak jadi menjualkan buah-buahan Sari as-Saqathi.

oooOOOooo

Pada mulanya Sari as-Saqathi menual barang-barang bekas. Pada suatu hari pasar kota Baghdad terbakar.

“Pasar terbakar!,” orang-orang berteriak.

Mendengar teriakan-teriakan itu berkatalah Sari as-Saqathi : “Bebaslah aku sudah!.”

Setelah api reda ternyata toko Sari as-Saqathi tidak termakan api. Ketika mendapatkan kenyataan ini Sari as-Saqathi menyerahkan segala harta bendanya kepada orang-orang miskin. Kemudian ia mengambil jalan kesufian.

oooOOOooo

“Apakah yang menyebabkan engkau menjalani kehidupan spiritual ini,” seseorang bertanya kepada Sari as-Saqathi.

Sari as-Saqathi menjawab :

“Pada suatu hari Habib ar-Ra’i lewat di depan tokoku. Kepadanya ku berikan sesuatu untuk disampaikan kepada orang-orang miskin. “Semoga Allah memberkahi engkau,” Habib ar.Ra’i mendoakan ddiriku. Setelah ia mengucapkan doa itu dunia ini tidak menarik hatiku lagi.”

“Keesokan harinya datanglah Ma’ruf Karkhi beserta seorang anak yaitm. “Berikanlah pakaian untuk anak ini,” pinta Ma’ruf kepadaku. Maka anak itu pun ku beri pakaian. Kemudian Ma’ruf berkata : “Semoga Allah membuat hatimu benci kepada dunia ini dan membebaskanmu dari pekerjaan ini,”. Karena kemakbulan doa Ma’ruf itulah aku dapat meninggalkan semua harta kekayaan di dunia ini.”

SARI AS-SAQATHI DAN SEORANG ANGGOTA ISTANA

Pada suatu hari ketika Sari as-Saqathi sedang memberikan ceramah. Salah seorang di antara sahabt-sahabt intim khalifah, Ahmad Yazid si juru tulis lewat dengan pakaian kebesaran yang megah diiringi oleh para hamba dan pelayan-pelayannya.

“Tunggulah sebentar, aku hendak mendengarkan kata-katanya,” kata Yazid kepada para pengiringnya. “Kita telah mengunjungi berbagai tempat yang membosankan dan yang seharusnya tak perlu kita datangi.” Ahmad Yazid pun masuk dan duduk mendengarkan ceramah Sari as-Saqathi.

Sari as-Saqathi berkata : “Di antara kedelapan belas ribu dunia itu tidak ada yang lebih lama daripada manusia, dan di antara semua makhluk ciptaan Allah tidak ada yang lebih mengingkari Allah daripada manusia. Jika ia baik maka ia terlampau baik sehingga malaekat-malaekat sendiri iri kepadanya. Jika ia jahat, maka ia terlampau jahat sehingga syaithan sendiri malu untuk bersahabt dengannya. Alangkah mengherankan, manusia yang sedemikian lemah itu masih mengingkari Allah yang sedemikian perkasa.”

Kata-kata ini bagaikan anak panah dibidikan Sari as-Saqathi ke jantung Ahmad. Ahmad menangis dengan sedihnya, sehingga ia tak sadarkan diri. Setelah sadar ia masih menangs, Ahmad bangkit dan pulang ke rumahnya. Malam itu tak sesuatu pun yang dimakannya dan tak sepatah kata pun yang diucapkannya.

Keesokan harinya dengan berjalan kaki, ia pun pergi pula ke tempat Sari as-Saqathi berkhotbah. Ia gelisah dan pipinya pucat. Ketika khotbah selesai ia pun pulang. Di hari yang  ketiga, ia datang berjalan kaki, ketika cerramah selesai ia menghampiri Sari as-Saqathi.

“Guru,” ucap Ahmad kata-katamu telah mencekam hatiku dan membuat hatiku benci terhadap dunia ini. Aku ingin meninggalkan dunia ini dan mengundurkan diri dari pergaulan ramai. Tunjukanlah kepadaku jalan yang ditempuh para khalifah.”

“Jalan manakah yang engkau inginkan,” tanya Sari as-Saqathi. “Jalan para sufi atau jalan hukum? Jalan yang ditempuh orang banyak atau jalan yang ditemuh oleh manusia-manusia pilihan?.”

“tunjukankedua jalan itu kepadaku,” Yazid meminta kepada Sari as-Saqathi. Maka berkatalah Sari as-Saqathi :

“Inilah jalan yang ditempuh orang banyak. Lakukanlah shalat lima kali dalam sehari di belkang seorang imam, dan keluarkanlah zakat, Jika dalam bentuk uang, keluarkanlah setengah dinar dari setiap ddua puluh dinar yang engkau miliki. Dan inilah jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia pilihan, berpalinglah dari dunia ini dan janganlah engkau terpereosok ke dalam perangkap-pereangkapnya. Jika kepadamu hendak diberikan sesuatu, janganlah terima. Demikianlah kedua jalan tersebut.”

Yazid meninggalkan tempat itu dan mengembara ke padang belantara. Beberpa hari kemudian seorang perempuan tua yang berambut kusut dengan bekas-bekas luka di pipinya datang menghadap Sari as-Saqathi dan berkata :

“Wahai imam kaum Muslimin. Aku mempunyai seorang putera yang masih remaja dan berwajah tampan. Pada suatu hari ia datang untuk mendengarkan khotbahmu dengan tertawa-tawa dan langkah-langkah yang gagah tetapi kemudian pulang dengan menangis dan meratap-ratap. Sudah beberapa hari ini ia tidak pulang  dan aku tidak tahu kemana perginya. Hatiku sedih karena berpisah dari dia. Tolong, lakukanlah sesuatu untuk diriku.”

Permohonan wanita tua itu  menggugah hati Sari as-Saqathi. Maka berkatalah ia : “Janganlah berduka. Ia dalam keadaan baik. Apabila ia  kembali, niscaya engkau akan kukabarkan. Ia telah meninggalkan dan berpaling dari dunia ini. Ia telah bertaubat dengan sepenuh hatinya.”

Beberapa lama telah berlalu. Pada suatu malam, Ahmad kembali kepada Sari as-Saqathi. Sari as-Saqathi memerintahkan kepda pelayannya, “Kabarkanlah kepada ibunya,” Kemudian ia memandang Ahmad. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, dan badannya yang jangkung kokoh bagaikan pohon cemara itu telah bungkuk.

“Wahai guru yang budiman,” Ahmad bekata kepada Sari as-Saqathi, “Karena engkau telah membimbingku ke dalam kedamian dan telah mengeluarkan aku dari kegelapan, Aku berdoa semoga Allah memberikan kedamaian dan menganugrahkan kebahagiaan kepadamu di dunia dan akhirat.”

Mereka sedang asyik berbincang-bincang ketika ibu dan isterinya Ahmad masuk. Mereka juga membawa puteranya yang masih kecil. Ketika si Ibu melihat Ahmad yang ssudah berubah sekali keadaannya, ia pun menubruk dada Ahmad. Di kiri kanannya isterinya yang meratap-ratap dan anaknya yang menangis tersedu-sedu. Semua yang menyaksikan kejadian ini ikut terharu dan Sari as-Saqathi sendiri pun tidak dapat menahan air matanya. SI anak merebahkan diri ke haribaan ayahnya. Tetapi betapapun juga mereka membujuk, Ahmad tidak mau pulang ke rumah.

“Wahai imam kaum Muislimin, “ Ahmad berseru kepada Sari as-Saqathi, “mengapakah engkau mengabarkan kedatanganku ini kepada meraka?” Mereka inilah yang akan meruntuhkan diriku.”

Sari as-Saqathi menjawab : “Ibumu terus menerus bermohon seihingga akhirnya aku berjanji untuk mengabarkan kepadanya apabila engkau datang.”

Ketika Ahmad bersiap-siap hendak kembali ke padang pasir, isterinya meratap : “Belum lagi mati, engkau telah membuatku jadi janda dan puteramu jadi yatim. Jika ia ingin bertemu dengan engkau apakah yang akan ku lakukan? Tidak ada jalan lain, bawalah anak ini olehmu.”

“Baiklah,” jawab Ahmad.

Pakaian indah yang sedang dikenakan anaknya itu dilepaskannya dan digantinya dengan bulu domba. Kemudian ditaruhnya sebuah kantong uang ke tangan anak itu dan berkatalah ia kepada anak itu :

“Sekarang pergilah engkau seorang diri.”

Melhat hal ini si isteri menjerit : “Aku tidak sampai hati membiarkannya,” dan anak itu ditariknya ke dalam dekapnnya.

“Aku memberikan kuasa kepadamu,” kata Ahmad kepada isterinya, “Jika engkau menginginkan, untuk menuntut perceraian.”

Maka kembalilah Ahmad ke padang belantara. Bertahun-tahun telah berlalu. Kemudian pada suatu malam, pada waktu shalat ‘Isa, seseorang mendatangi Sari as-Saqathi di tempat kediamannya. Orang itu berkata kepada Sari as-Saqathi :

“Ahmad mengutus aku untuk menjumpai engkau. Ia berpesan, “Hidupku hampirnberakhir. Tolonglah aku.”

Sari as-Saqathi pergi ke temepat Ahmad. IA menemukan Ahmad yang sedang terbaring di atas tanah di dalam sebuah pemakaman. Ia sedang menantikan saat-saat terakhirnya. Lidahnya masih bergerak-gerak.  Sari as-Saqathi mendengar bahwa Ahmad sedang membacakan ayat yang berbunyi : “Untuk yang seperti ini bekerjalah wahai para pekerja,” Sari as-Saqathi mengangkat kepalanya dari atas tanah, mengusapkan dan mendekapkan ke dadanya. Ahmad membuka matanya, terlihatlah olehnya sang Syeikh, dan berkatalah ia :

“Guru, engka datang tepat pada waktunya. Hidupku akan berakhir sesaat lagi.”

Sesaat kemudian ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Sambil menangis Sari as-Saqathi kembali ke kota untuk menyelesaikan urusan-urusan Ahmad. Di dalam perjalanan ini ia menyaksikan orang ramai berbondong-bondong berjalan ke arah luar kota.

“Hendak ke manakah kalian?” Sari as-Saqathi bertanya kepada mereka.

“Tidak tahukah engkau?” jawab mereka. “Kemarin malam terdengar sebuah seruan dari atas langit : “Barang siapa ingin menshalatkan jenazah sahabat kesayangan Allah, pergilah ke pemakaman di Syuniziyah!.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI SARI

Junaid meriwayatkan sebagai berikut :

Pada suatu hari aku mengunjungi Sari as-Saqathi dan kutemui ia sedang mencucurkan air mata. Aku bertanya kepadanya. “Apakah yag telah terjadi?.”
Sari as-Saqathi menjawab : “Aku telah berniat bahwa malam ini aku hendak menggantungkan sekendi air untuk didinginkan. Di dalam mimpi kau bertemu dengan seorang bidadari. Aku bertanya, siapakah yang memilikinya dan ia amenjawab : “Aku adalah milik seseorang yang tidak mendinginkan air dengan menggantungkan kendi,”. Setelah itu si bidadari menghempaskan kendiku ke atas tanah. Saksikanlah olehmu sendiri!.”

Kulihat pecahan-pecahan kendi yang berserakan di atas tanah. Pecahan-pecahan itu dibiarkan saja di situ untuk waktu yang lama.

oooOOOooo

Dalam kisah lain Junaid meriwayatkan, “Pada suatu malam aku tertidur nyenyak. Ketika aku terjaga, batinku mendesak agar aku pergi ke Masjid Syuniziyah. Maka pergilah aku. Tetapi di depan masjid itu terlihatlah olehku seseorang yang berwajah ssangat menakutkan. Aku menjadi gentar. Orang itu menegurku :

“Junaid, takutkah engkau kepadaku?.”

“YA,’ jawabku.

“Seandainya engkau mengenal Allah sebagaimana yang seharusnya, niscaya tak ada sesuatu pun yang engkau takutkan selain dari pada Dia.”

“Siapakah engkau?.” Aku bertanya.

“Iblis,” jawabnya.

“Aku pernah ingin bertemu degan engkau,” aku berkata kepadanya.

“Bagaimana engkau berpikir tentang aku, tanpa engkau sadari engkau lupa kepada Allah. Apapun maumu untuk bertemu dengan aku?.” Tanya si iblis.

“Ingin ku tanyakan kepadamu, apakah engkau dapat memperdayakan orang-orang miskin?”

“Tidak,” jawab si iblis.

“Mengapakah demikian?.”
Si iblis menjawab : “Apabila aku hendak menjerat mereka dengan harta kekayaan dunia, mereka lari ke akhirat. Apabila aku hendak menjerat mereka dengan akhirat, mereka lari kepada Allah, dan di situ aku tidak dapat mengejar mereka lagi.”

“Dapatkah engkau melihat manusia-manusia yang tak dapat engkau perdayakan?.”

“Ya, aku melihat mereka,” jawab si iblis, “dan apabila mereka berada di dalam keadaan ekstase, dapatlah kulihat sumber keluh kesah mereka itu.”

Setelah berkata demikian, si iblis menghilang. Aku masuk ke dalam masjid dan di sana ku dapati Sari as-Saqathi yang sedang menekurkan kepala ke atas kedua lututnya.

“Dia telah berdusta, seteeru Allah itu,” Sari as-Saqathi berkata sambil mengangkat kepalanya. “Manusia-manusia seperti itu terlampau disayangi Allah untuk diperlihatkan kepada iblis.”

oooOOOooo

V mempunyai seorang ssaudara perempuan yang pernah meminta izin untuk menyapu kamarnya namun ditolaknya.

 Hidupku tidak patutu diperlakukan seperti itu,” Sari as-Saqathi berkata kepada saudara perempuannya itu.

Pada suatu hari ia masuk kamar Sari as-Saqathi dan terlihatlah olehnya seorang wanita tua sedang menyapu.

“Sari as-Saqathi, dulu engkau tidak mengizinkan aku untuk mengurus dirimu, tetapi sekarang engkau membawa seseorang yang bukan sanak familimu.

Sari as-Saqathi menjawab. “Jangan engkau salah sangka. Dia adalah penduduk alam kubur. Ia pernah jatuh cinta kepadaku, namun kutolak. Maka ia meminta izin kepada Allah yang Maha Besar untuk menyertai diriku, dan kepadanya Allah memberikan tugas untuk menyapu kamarku.”

Abu Hamid bin Khazruya al-Balkhi, seorang warga yang terkemuka di kota Balkh, mempersunting puteri yang shaleh dari gubernur kota itu. Di antara sahabat-sahabat intimnya adalah Hatim asl-Ashamm dan Abu Yazid al-Bustham. Ia pergi ke Nishapur dan meninggal dunia tahun 240 H/864 M dalam usia 95 tahun.

AHMAD BIN KHAZRUYA DAN ISTERINYA

Ahmad bin Khazruya mempunyai seribu orang murid yang masing-masing apat terbang di angkasasa dan berjalan di atas air. Ahmad bin Khazruya selalu mengenakan seragam tentara. Isterinya Fatimah merupakan seorang pembimbing ke jalan kesufian. Ia adalah puteri pangeran kota Balkh. Setelah bertaubat, ia mengirim utusan kepda Ahmad bin Khazruya disertai pesan :

“Lamar;ah aku kepada ayahku.”

Ahmad bin Khazruya tidak memberi jawaban, kemudian dikirimnya utusan kedua dengan pesan.

“Ahmad bin Khazruya, ku sangka engkau lebih berjiwa satria daripada yang sebenarnya. Jadilah seorang pembimbing, jangan jdi seorang pembegal!.”

Maka Ahmad bin Khazruya lalu mengirimkan wakilnya untuk melamar Fatimha kepada ayahnya. Karena menginginkan keridhaan Allah, ayah Fatimha  menyerahkan puterinya kepada Ahmad bin Khazruya. Fatimah meninggalkan segala urusan dunia dan memperoleh ketenangan menyertai Ahmad bin Khazruya di dalam penyepian.

Hari demi hari mereka lali sehingga suatu ketika Ahmad bin Khazruya bermaksud dmenemui Abu Yazid, Fatimah ikut serta. Ketika berhadapan dengan Abu Yazid, Fatimah membuka cadar mukanya dan turut berbincang-bincang. Ahmad bin Khazruya kesal menyaksikan kelakuan isterinya itu dan api cemburu membakar dadanya.

Fatimah, alangkah berani sikapmu ketika berhadapan dengan Abu Yazid,” tergus Ahmad bin Khazruya kepada isterinya.

“Engkau mengenal ragaku, tetapi Abu Yazid mengenal batinku. Engkau membangkit hasaratku, tetapi Abu Yazid mengantarkan aku kepada Allah. Buktinya, Abu Yazid dapat hidup tanpa ku temani tetapi engkau senantiasa membutuhkan kehadiranku, jawab Fatimha.

Sikap Abu Yazid terhadap Fatimah tidak canggung. Suatu hari terlihatlah olehnya jari-jari tangan Fatimah yang berinai. Abu Yazid lalu berkata :

“Fatimah, mengapakah engkau mencat jari-jari tanganmu?”

“Abu Yazid, sebelumnya engkau tak pernah memperhatikan jari-jari tanganku yang berinai ini, karena inilah aku tak merasa canggung terhadapmu. Kini, setelah engkau memperhatikan tanganku, tak pantas lagi aku bergaul denganmu,” sela Fatimha.

Mendengar ini Abu Yazid tak mau kalah : “Aku telah meminta kepada Allah agar wanita-wanita yang terpandan oleh ku tidak lebih menggairahkan hatiku daripada dinding. Dan demikianlah ang diperbuat-Nya terhadap diri mereka dalam pandangan mataku.”

Setelah itu Ahmad bin Khazruya dan Fatimah berangkat ke Nishapur. Di sana mereka mendapat sambutan yang hangat. Suatu waktu, Yahya bin Mu’adz singgah di Nishapur sebelum meneruskan perjalanannya menuju Balkh. Ahmad bin Khazruya bermaksud menyelenggarakan pesta pesta menyambut kedatangannya, ia pun meminta pendapat Fatimha.

“Apakah yang kita perlukan untuk pesta penyambutan Yahya?.”

“Beberpa ekor lembu dan domba” jawab Fatimah, “Perlengkapan-perlengkapan, lilin-lilin dan minyak mawar. Di samping itu kita masih membutuhkan beberapa ekor keledai.”

“Apakah ada seorang pejabat yang datang untuk bersantap maka anjing-anjing tetangga pun harus mendapat bagian juga, jawab Fatimha.

Demikianlah semanagat kekesatriaan sejati Fatimha, karena itulah Abu Yazid pernah berkata :

“Jika ada yang ingin menyaksikan seorang laki-laki sejati yang bersembunyi di balik pakaian perempuan, pandanglah Fatimha!.”

AHMAD BIN KHAZRUYA BERGUMUL DENGAN BATINNYA SENDIRI

Ahmad bin Khazruya berkisah sebagai berikut :

Telah lama sekali aku menindas hawa nafsuku. Suatu hari orang-orang berangkat ke medan perang, khasratku pun timbul menyertai mereka. Batinku membisikan beberapa hadits yang menjelaskan pahala-pahala akhirat bagi yang berjuang di jalan Allah. Aku terheran-heran dan berkata dalam hati :

“Batinku biasanya tidak gampang mematuhi kehendakku. Tak seperti sekarang ini. Mungkin hal ini karena aku senantiasa berpuasa sehingga batinku tak dapat lagi menaggung lapar lebih lama dan ingin agar aku menghentikan puasaku.

Aku lalu membulatkan tekad, “Aku akan berpuasa terus menerus selama perjalanan.”

“Aku sangat setuju,” jawab batinku.

“Mungkin batinku berkata demikian karena aku bisa melaksanakan shalat di sepanjang malam dan ingin agar aku tidur dan beristirahat di malam hari.”

“Aku tidak akan tidur sebelum fajar,” tekadku pula.

“Aku sangat setuju,” jawwab batinku.

Aku semakin terheran-heran. Kemudian terpikirlah olehku bahwa mungkin batinku berkata demikian karena ingin bergaul dengan orang ramai, jemu dalam kesepian dan membutuhkan hiburan.

Maka aku pun bertekad : “Kemana pun aku pergi, aku akan menyendiri dan tidak akan berkumpul bersama orang lain.

“Aku seuju sekali.” Batinku malah menyetujuinya pula.

Habislah sudah dayaku. Dengan segala kerendahan hati aku bermohon kepada Allah semoga Dia berkenan menunjukan kepadaku tipu daya batinku, atau memaksa batinku untuk mengaku secara terus terang kepadaku. Maka berkatalah batinku kepadaku.

“Setiap hari dengan menindas segala keinginanku, engkau akan terbunuh, aku bebas dan seluruh dunia akan gempar dengan berita “Ahmad bin Khazruya” yang gagah perkasa telah matiterbunuh dengan mahkota syuhada di ata kepalanya.”

“Maha besar Allah yag menciptakan batin  yang munafik, baik selagi hidup maupun sesudah mati. Engkau bukanlah seorang Muslim sejati di dunia ini maupun di akhirat nanti. Aku sangka engkau ingin menaati Allah, rupanya engkau hanya sekedar mengencangkan ikat pinggangmu,” seruku.

Sejak saat itu, aku lipat gandakan perjuangganku melawan batinku sendiri.

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI AHMAD BIN  KHAZRUYA

Seorang pencuri behasil masuk ke dalam rumah Ahmad bin Khazruya. Setiap sudut telah diperiksanya tetapi tak satupun yang ditemukannya. Dengan rasa putus asa ia hendak meninggalkan tempat itu, Ahmad bin Khazruya memanggilnya.

“Anak muda, ambillah ember itu, timbalah air dalam sumur itu, kemudian bersucilah dan shalat. Jika nanti ku dapatkan sesuatu, akan ku berikan kepadamu supaya engkau tidak meninggalkan rumah ini dengan tangan kosong.

Anak muda itu berbuat seperti yang disarankan Ahmad bin Khazruya. Ketika hari telah siang, seorang lelaki membawa seratus dinar emas untuk syeikh Ahmad bin Khazruya.

“Ambillah uang ini untuk ganjaran shalatmu tadi malam.” Ahmad bin Khazruya berkata kepada si penucri. Sesaat itu juga tubuhnya gemetar, ia menangis dan berkata :

“Aku telah memilih jalan yang ssalah. Baru satu malam berbakti kepada Allah, sudah sedemikian banyaknya karunia yang dilipahkan-Nya kepaadaku.”

Si pencuri bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Ia tidak mau menerima emas tersebut dan kemudian ia menjadi salah seorang murid Ahmad bin Khazruya.

oooOOOooo

Suatu ketika Ahmad bin Khazruya mengenakan pakaian compang camping lalu mampir di persinggahan para sufi. Sebagai seorang sufi, sepenuh hati ia membaktikan diri dengan kewajiban-kewajiban spiritual. Tetapi para sufi yang berada di persinggahan itu merupakan ketulusan Ahmad bin Khazruya.

“Orang ini tidak tingggal di persinggahan ini.” Mereka berbisik kepada syeikh mereka.

Pada suatu hari Ahmad bin Khazruya pergi ke sumur dan timbanya terjatuh. Para sufi di tempat itu mencaci maki Ahmad bin Khazruya. Ahmad bin Khazruya segera berkata kepada ketua mereka dan berkata kepadanya.

“Bacalah Fathihah agar timba yang terjatuh itu keluar dari dalam sumur.”

“Permintaan apakah ini?.” Seru sang syeikh dengan heran.

“Jika engkau tidak mau, izinkanlah aku yang membacakannya,”

Syeikh lalu memberikan izin, Ahmad bin Khazruya membacakan fathihah dan timba itupun muncullah ke permukaan air. Menyaksikan kejadian ini si syeikh melepaskan topinya dan bertanya :

“Anak muda, siapakah engkau ini sebenarnya sehingga gudang gandumku hanya seperti dedak dibanding dengan sebutir gandum mu?.”

Ahmad bin Khazruya menjasab, “Sampaikan kepada sahabat-sahabatmu agar mereka menghargai musafir.”

oooOOOooo

Seorang lelaki mendatangi Ahmad bin Khazruya dan berkata : “Aku sakit dan miskin. Ajarilah aku suatu cara sehingg aku terlepas dari cobaan-cobaan ini.”

“Tuliskanlah setiap macam usaha yang engkau ketahui di atas secarik kertas. Taruhlah kertas itu di dalam sebuah kantong dan bawalah kantong itu kepadaku,” jawab Ahmad bin Khazruya.

Lelaki itu menuliskan setiap macam usaha pada sehelai kertas lalu ia masukan ke dalam sebuah kantong, kemudian di berikannya kepada Ahmad bin Khazruya. Ahmad bin Khazruya memasukan tangannya ke dalam kantong itu dan mengeluarkan secarik kertas. Ternyata di atas kertas itu tertulis perkataan “merampok”.

“Engkau harus menjadi seorang perampok,” ujar Ahmad bin Khazruya.

Lelaki itu terheran-heran, namun ia segera meninggalkan tempat itu dan bergabung dengan sekawanan perampok.

“Aku suka melakukan pekerjaan seperti ini, tetapi apakah yang harus ku lakukan?” tanyanya kepada mereka.

“Ada satu peraturan yang harus ditaati di dalam pekerjaan seperti ini,” perampok-perampok itu menerangkan. “Apap pun pekerjaan yang kami perintahkan kepadamu, harus engkau laksanakan.”

“Akan ku taati perintah kalian.” Ia meyakinkan para perampok itu.

Beberapa hari ia bergabung dengan mereka. Pada suatu hari lewatlah sebuah khlifah. Perampok-perampok itu menghadang, dan membawa seorang kafilah itu, yaitu seorang yang kaya raa kepada sahabat baru mereka.

“Potong lehernya,” perintah mereka.

Lelaki itu tertegun. Iapun berkata dalam hati “Kepala perampok ini telah membunuh banyak manusia. Lebih baik jika dia sendirilah yang ku bunuh daripada saudagar ini.”

“Jika engkaumenghendaki pekerjaan ini, taatilah perintah kami,” kepala perampok itu berkata kepadanya. “Jika tidak, pergilah dari sini da carilah pekerjaan lain.”

“Jika harus menaati perintah, maka perintah Allah-lah yang harus ku taati, bukan perintah perampok-perampok,” putus lelaki itu sambil menghunus pedangnya, dia lepaskan saudagar tersebut dan melayanglah kepala ketua perampok itu. Melihat ini perampok-perampok lain segera mengambil langkah seribu, barang-barang rampasan kafilah itu mereka tinggalkan dan saudagar itu selamat. Si saudagar memberinya emas dan perak sedemikian banyaknya sehingga ia dapat hidup dengan tenang sesudahnya.

oooOOOooo

Pada suatu ketika Ahmad bin Khazruya menjamu seorang guru sufi. Untuk  itu Ahmad bin Khazruya menyalakan tujuh puluh batang lilin. Melihat pelayanan yang mewah ini, si guru sufi mencela.

“Aku tak senang menyaksikan semua ini. Tetekbengek seperti ini tidak ada hubungannya dengan sufisme.”

Ahmad bin Khazruya menjawab : “Jika demikian padamkanlah lilin-lilin yang telah ku nyalakan bukan karena Allah.”

Sepanjang malam si guru sufi sibuk menyiramkan air dan pasir tetapi tak satupun di antara ketujuh puluh lilin itu dapat dipadamkannya. Keesokan harinya Ahmad bin Khazruya berkata kepada si guru sufi,

“Mengapa engkau begitu terheran-heran. Mari ikutilah aku, akan kutunjukan hal yang benar-benar menkjubkan.”

Mereka lalu pergi dan sampai di pintu sebuah gereja. Ketika melihat Ahmad bin Khazruya beserta sahabat-sahabatnya, pengurus gereja itu mempersilahkan mereka masuk. Kemudian ia mempersiapkan jamuan di ats meja dan mempersilahkan Ahmad bin Khazruya bersantap.

“Orang-orang yang bermusuhan tidak bersantap bersama-sama,” ujar Ahmad bin Khazruya.

“Jika demikian, Islamkanlah kami,” jawab kepala pengurus gereeja itu.

Ahmad bin Khazruya mengIslamkan mereka yang semuanya berjumlah tujuh puluh orang itu. Pada malam itu Ahmad bin Khazruya bermimpi dan didalam mimpi itu Allah berkata kepadanya :

“Ahmad, engkau telah menyalakan tuju puluh lilin untuk-Ku dan karena itu untukmu Ku nyalakan tujuh puluh jiwa dengan api iman.”

Abu Zakariya Yahya bin Mu’adz ar-Razi, salah seorang murid Ibnu Karram, meninggalkan Rayy, kota kelahirannya, dan beberapa lama menetap di Balkh. Kemudian ia pindah ke Nishapur, di kota ini ia meninggal dunia pada tahun 258 H/871 M. Sejumlah syair-syair diperkirakan sebagai hasil karyanya.

YAHYA BIN MU’ADZ DAN HUTANGNYA

Yahya bin Mu’adz meminjam uang sebesar seratus ribu dirham kepada seseorang. Kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang yang berperang di jalan Allah. Orang-orang yang berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, orang-orang miskin, yang menuntut ilmu dan juga kepada para sufi. Tidak lama kemudian, oarnag-orang yang meminjamkan uang tersebut menagihnya sehingga Yahya bin Mu’adz menjadi sangat gundah.

Suatu malam ia bermimpi. Dalam mipi itu Nabi Muhammad berkaa kepadanya,

“Yahaya, janganlah engkau berduka cita, karena akupun turut bersedih menyaksikan kegundahanmu itu. Bangunlah dan pergilah menuju Khurasan. Engkau akan menjumpai seorang perempuan yang telah menyisihkan tiga ratus ribu dirham untuk melunaskan hutang-hutangmu yang sebanyak seratu ribu dirham itu.”

“Ya Rasulullah,” seru Yahya bin Mu’adz. Di kota manakan dan siapakah perempuan itu?.”

“Bejalanlah dari satu kota ke kota lain dan berkhotbahlah,” jaab Nabi. “Kata-katamu akan mendatangkan kesembuhan jiwa bagi ummat manusia. Seperti halnya aku, menemuimu di dalam mimpi, maka akupun hendak menemui perempuan itu di dalam mimpi pula.”

Maka berangkatlah Yahya bin Mu’adz menuju Nishapur, Di depan kubah Masjid Nishapur dibangunlah mimbar sebagai tempat Yahya bin Mu’adz berkhotbah.

“Wahai penduduk Nishapur,” Yahya bin Mu’adz berseru, “Aku datang kemari karena disuruh Nabi Muhammad saw. Ia katakan kepadaku. ‘Seseorang akan melunasi hutang-hutangmu,”. Sesungguhnya aku punya hutang sebanyak seratus ribu dirham. Ketahuilah bahwa kata-kataku selalu mengandung keindahan, tetapi hutang ini telah menutupi  keindahan tersebut.”

“Akan kusumbangkan uang sebesar lima puluh ribu dirham,” salah seorang hadirin menawarkan bantuan.

“Akan ku sumbangkan uang sebesar empat puluh ribu dirham,” yang lainnya menawarkan pula.

Tetpai Yahya bin Mu’adz menolak sumbangan-sumbangan ini dengan dalih “Muhammad saw, hanya mengatakan satu orang.”

Yahya kemudian memulai khotbahnya. Di hari pertama tujuh mayat terpaksa di usung keluar dari khalayak ramai yang mendengarkan. Kemudian setelah menyadari bahwa hutanngya tidak akan terlunasi di kota Nishapur, iapun menerukan perjalanan ke kota Balkh. Di kota ini orang-orang menahan dirinya dan diminta agar ia mau memberikan khotbah. Untuk itu ia mendapatkan sumbangan sebesar seratus ribu dirham. Tetapi seorang syeikh di kota itu tidak senang kepada khotbah-khotbahnya karena mengira bahwa Yahya bin Mu’adz pecinta kekayaan.

Si syeikh berkata, “Semoga Allah tidak memberkahinya!.”

 Ketika meninggalkan kota Balkh perampok-perampok menghadang Yahya bin Mu’adz dan merampas semua uang yang dibawanya.

“Itulah akibat dari doa si syeikh,” Orang-orang yang mendengar peristiwa perampokan itu berkata sesama mereka.

Yahya bin Mu’adz meneruskan perjalanannya ke Hirat, beberapa orang meriwayatkan, dengan melalui Meerv. Dalam Khotbahnya di kota Hirat inipun ia mengisahkan mimpinya itu, Puteri pangeran Hirat kebetulan mendengarkan dan mengirim pesan kepadanya.

“Wahai imam, janganlah engkau berkeluh kesah lagi karena hutangmu. Pada malam Nabi berbicara kepadamu di dalam mimpi itu, ia telah berbicara pula kepadaku. Aku berkata kepadanya “Ya Rasulullah, aku akan pergi mencarinya. “Tidak usah, dia akan datang kemari mencarimu, jawab Nabi. Sejak malam itu aku menanti-nantikanmu. Jika gadis lain hanya memperoleh tembaga dan kuningan, maka ketika ayah menikahkan aku, aku memperoleh emas dan perak. Barang-barang perakku berharga tiga ratus ribu dirham. Semuanya akan kuserahkan kepadamu denga syarat bahwa engkau harus berkhotbah di kota ini empat hari lagi.”

Yahya bin Mu’adz menyanggupi untuk memperpanjang khotbahnya selama empat hari lagi. Pada hari pertama, sepuluh mayat harus disingkirkan. Hari kedua, dua puluh lima mayat, pada hari ketiga ada empat puluh mayat, dan di hari yang keempat, tujuh puluh mayat. Pada hari yang kelima Yahya bin Mu’adz meninggalkan kota Hirat dengan membawa barang-barang perak sepenanggungan tujuh ekor unta. Ketika sampai di Balham, puteranya yang menemaninya membawa barang-barang itu berkata di dalam hatinya.

“Apabila sampai di kota, semoga ayah tidak menyerahkan semua barang-barang ini dengan begitu saja kepaa orang-orang tempat dia berutang dan kepada orang-orang miskin tanpa sedikit pun menyisihkan untuk diriku.”

Di waktu shubuh ketika Yahya bin Mu’adz menghadap Allah dengan menyenthkan dahinya ke tanah, tanpa diduga-duga sebuah batu jatuh menimpa kepalanya.

“Berikan uang kepda orang-orang yang berpiutang kepadaku.” Seurnya, dan kemudian ia menemui ajalnya.

Orang-orang yang mengikuti jalan Allah mengusung jenazah Yahya bin Mu’adz di bahu mereka dan membawanya ke Nishapur untuk dikuburkan di sana.

YAHYA BIM MU’ADZ AR-RAZI DAN SAUDARANYA

Yahya bin Mu’adz mempunyai seorang saudara yang pergi ke Mekkah dan kemudian bertempat tinggal di dekat Ka’bah. Saudara nya itu mengirim surat kepada Yahya bin Mu’adz.

“Ada tiga hal yang ku cita-citakan. Dua di antaranya telah terlaksana. Tinggal satu yang belum tercapai. Doakanlah kepada Allah semoga Dia berkenan menyempurnakan keinginanku yang terakhir ini. Keinginanku yang  pertama adalah melewatkan hari-hari tuaku di suatu tempat yang paling suci di atas dunia ini dan segala tempat. Keinginanku yang kedua adalah memiliki seorang hamba untuk merawat diriku dan menyediakan air untuk bersuci dan kini Allah telah menganugerahkan seorang hamba perempuan yang baik budinya. Keinginanku yang ketiga adalah untuk bertemu denganmu sebelum ajalku. Doakanlah kepada Allah, semoga Dia mengabulkan keinginanku ini.”

Yahya bin Mu’adz menjawab surat saudaranya itu :

“Berkenaan dengan isi suratmu baha engkau menginginkan tempat terbaik di atas dunia, hendaklah engkau menjadi yang terbaik di antara semua manusia dan setelah itu tinggalah di sembarang tempat yang engkau kehendaki. Suatu tempat menjadi mulia karena orang-orang yang menemparinya, bukan sebaliknya.

Mengenai keinginanmu akan seorang hamba yang pada saat ini telah engkau dapatkan, jika engkau adalah seorang manusia yang benar dan berbakti, niscaya engkau tidak mengambil hamba Allah menjadi hambamu sendiri, karena menghalangi dirinya untuk mengabdi kepada Allah dan membuatnya sibuk untuk mengabdi kepadamu. Engkau sendirilah yang harus menjadi hamba. Engkau ingin menjadi seorang yang dipertuan pdahal yang patut dipertuan hanyalah Allah. Menghambakan diri adalah kewajiban manusia. Seorrang hamba Allah haruslah menjadi seorang hamba. Jika seorang hamba Allah menghasratkan keduduka yang hanya pantas dimiliki Allah, maka ia tak obahnya Fir’aun.

Terakhir sekali, tentang keinginanmu bertemu denganku, sesungguhnya jika engkau benar-benar memikirkan Allah, niscaya kau takkan teringat kepadaku. Karena itu, mengabidlah kepada Allah sehingga sedikit pun tiada ingatan kepda saudaramu di dalam pikiranmu. Dalam pengabdian itu kita harus rela untuk mengorbankan putera sendiri; apalagi seorang saudara! Jika engkau telah menemukan Dia, apakah faedah yang dapat kau petik dari perjumpaan kita.

Diriwayatkan bahwa Abul Fawaris Syah bin Syuja’ al-Kirmani berasal dari keluarga bangsawan dan banyak karya-karyanya mengenai sufisme, yang telah hilang. Ia meninggal setelah tahun 270H/884 M.

SYAH BIN SYUJA AL-KIRMANI DAN ANAK-ANAKNYA

Syah bin Syuja’ al-Kirmani mempunyai seorang putera.  Di dada si putera ia tuliskan kata  : “Allah” dengna warna hijau. Begitu menginajk dewasa, karena tidak bisa bertahan dari dorongan-dorongan hatinya, si anak menyenangkan diri berjalan-jalan ssambil mambawa kecapinya. Sambil memetik kecapi, dengan suaranya yang merdu ia senandungkan lagu-lagu yang sangat menyentuh.

Pada suatu malam, dalam keadaan mabuk, ia menyusuri jalan-jalanraya sambil memainkan kecapinya itu. Ketika ia sampai di satu pelosok kota, seorang pengantin perempuan yang baru pindah ke tempat itu, bangkit dari sisi suaminya yang sedang tertidur untuk melihatnya. Si Suami terbangun, dilihatnya isterinya tak ada di sisinya, ia bangkit dan menyaksikan apa yang sedang terjadi. Maa berserulah ia kepada si pemuda, :

“Anak muda, belum tibalah saatnya engkau bertaubat?.”

Kata-kata ini menghujam jantungnya dan ia segera menjawab “Sudah tiba, sudah tiba.”

Mantelnya dicabik-cabiknya, kecapinya ia hancurkan. Kemudian ia mengunci diri di dalam kamarnya dan selama empat puluh hari tidak makan apa-apa. Sesudah itu ia pun keluar dari kamarnya dan pergi mengembara. Mengenai kelakuan anaknya itu, Syah bin Syuja’ al-Kirmani berkomentar :

“Yang kucapai selama empatpuluh tahun telah diperolehnya dalam waktu empat puluh hari saja.”

Syah bin Syuja’ al-Kirmani juga mempunyai seorang puteri. Para pangeran Kirmani telah datang untuk melamarnya. Syah bin Syuja’ al-Kirmani minta kelonggaran selama tiga hari sebelum memberi keputusan. Kemudain ia pergi menjelajahi masjid ke masjid, akhirnya terlihatlah olehnya seorang guru sufi yang sedang shalat dengan khusyuk. Syah bin Syuja’ al-Kirmani dengan sabar menanti si guru sufi selesai dengan shalatnya. Kemudian ia bertanya :

“Apakah engkau telah berkeluarga?.”

“Belum”, jawan sang guru sufi.

“Maukah engkau seorang isteri yang bisa membaca al-Qur’an?,”

“Siapakah yang mau menikahkan puterinya kepadaku?.” Harta kekayaanku hanya tiga dirham.”

“Akan ku serahkan puteriku kepdamu,” jawab Syah bin Syuja’ al-Kirmani.” “Dari tiga dirham yang engkau miliki itu belanjakanlah satu dirham untuk roti, satu dirham untuk minyak mawar dan selebihnya untuk engikat tali perkawinan.”

Akhirnya mereka sepakat. Malam itu juga Syah bin Syuja’ al-Kirmani mengantarkan puterinya ke rumah si guru sufi. Ketika memasuki rumah itu terlihatlah oleh si gadis sepotong roti kering di dekat sekendi air.

“Roti apakah ini?” tanyanya.

“Roti kemarin yang ku simpan untuk hari ini,” jawab si guru sufi.

Mendengar jawaban itu si gadis hendak meninggalkan rumah si guru sufi.

“Sudah ku sadari bahwa puteri Syah bin Syuja’ al-Kirmani takkan sanggup heidup bersama diriku yang miskin seperti ini” kata sang guru sufi.

“Aku meninggalkanmu bukan karena sdikit hartamu” jawab si gadis, “Tetapi karena sedikit iman dan kepercayaanmu sehingga engkau menyimpan roti kemarin dan tidak percaya bahwa Allah akan memberikan rezeki kepdamu setiap hari. Aku jadinya heran kepada ayahku, dua puluh tahun lamanya ia memingitku dan mengatakan, “Akan kunikahkan engkau dengan seorang yang taqwa kepda Allah,” Tetapi ternyata ia menyerahkan aku kepda seseorang yang tidak pasrah kepada Allah untuk makanannya sehari-hari.”

“Apakah kesalahanku ini dapat diperbaiki?.” Si Guru sufi bertanya.

“Dapat”, jawab si gadis. “Pilihlah satu di antara dua, aku atau roti kering itu.”

Abu Ya’qub bin al-Husain ar-Razi telah melakukan perjalanan yang jauh, dari Rayy kota kelahirannya, sampai ke Arab dan Mesir di mana ia bertemu dengan Dzun Nun al-Mishri dan belajar kepadanya. Kemudian ia kembali ke Rayy untuk mengajar di sana dan di Rayy inilah ia meninggal dunia tahun 304 H/ 916 M.

PERTAUBATAN YUSUF AL HUSAIN AR-RAZI

Kehidupan spiritual Yusuf bin al-Husain ar-Razi dimulai sebagai berikut :

Ia melakukan perjalanan bersama saabt-sahabatnya di negara Arab. Ketika sampai ke suatu daerah kekuasaan suatu suku, seorang puteri kepala suku itu melihatnya, lantas tergila-gila kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi yang memang berwajah tampan. Setelah menanti saat-saat yang tepat, akhirnya si gadis dapat menghadang Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Dengan tubuh gemetar Yusuf bin al-Husain ar-Razi meninggalkan si gadis dan berangkat menuju perkampungan yang lebih jauh letaknya.

 Suatu malam, ketika Yusuf bin al-Husain ar-Razi tertidur dengan menyandarkan kepala ke lututnya, ia bermimpi sedang berada di suatu tempat yang belum dikenalnya. Seseorang sedang duduk di atas sebuah tahta dengan segala kebesaran sebagaimana layaknya seorang raja, di sekelilingnya berdiri pengawal-pengawal berjubah hijau. Karena rasa ingin tahu siapa mereka, Yusuf bin al-Husain ar-Razi menghampiri mereka. Smeua memberi jalan kepda Yusuf bin al-Husain ar-Razi dan bersikap hormat kepadanya.

“Siapakah kalian?.” Tanya Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

“Kami adalah malaikat-malaikat, dan yang duduk di atas tahta itu adalah Yusuf as. Ia datang berkunjung kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

Marilah kita dengarkan lanjutan kisah ini menurut penuturan Yusuf bin al-Husain ar-Razi, sendiri :

Aku tak dapat menahan air mataku dan berseru : “Siapakah aku ini sehingga Nabi Allah sendiri telah datang untuk mengunjungiku?.”

Yusuf as. Turun dari tahtanya dan merangkulku. Kemudian ia mendudukan aku ke atas tahta itu. Aku bertanya kepadanya.

“Wahai Nabi Allah, siapakah aku sehingga engkau sedemikiann baiknya kepadaku?.”

Yusuf as. Menjawab : “Ketika gadis jelita itu menghadangmu tetapi engkau menyerahkan diri kepada Allah dan minta perlindunganNya, Allah menunjukan dirimu kepadaku dan para malaikat ini. Dan Allah berkata kepadaku “Lihatlah wahai Yusuf! Engkau adalah Yusuf yang berahi terhadap Zulaiha dan menolaknya. Tetapi dia ini Yusuf yang tak berahi terhadap puteri seorang raja Arab dan melarikan dirinya. Allah sendiri mengutusku beserta malaikat-malaikat ini untuk emngunjungimu. Ia sampaikan kabar gembira padamu bahwa engkau adalah salah seorang di antara manusia-manuisa kesayangan-Nya.”

Kemudian Yusuf as. Menambahkan : “Di dalam setiap zaman ada seorang penunjuk jalan. Penunjuk jalan pada zaman ini adalah Dzun Nun al-Mishri. Dia telah mengetahui yang terbesar di antara nama-nama Allah. Pergilan kepadanya.”

Ketika Yusuf bin al-Husain ar-Razi terjaga  (pengisah meneruskan kisahnya), hatinya sangat terharu. Hasratnya menggelora. Ia sangat ingin mengetahui yang terbesar di antara nama-nama Allah. Berangkatlah ia ke negeri Mesir. Sesampainya di masjid Dzun Nun, iapun mengucapkan salam dan duduk. Dzun Nun membalas salamnya. Setahun lamanya Yusuf bin al-Husain ar-Razi duduk di sudu masjid itu. Ia tak berani bertanya kepada Dzun Nun. Setelah setahun barulah Dzun Nun bertanya kepadanya.

“Anak muda, dari manakah engkau?.”

“Dari Rayy”, jawab Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

Setahun pula Dzun Nun tidak menegurnya dan Yusuf bin al-Husain ar-Razi tetap duduk di pojoknya. Pada akhir tahun yang kedua itu Dzun Nun bertanya kepadanya.

“Anak muda, apakah tujuanmu ke mari?.”

“Untuk menemui mu.” Jawab Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

Setelah itu setahun pula lamanya, Dzun Nun tidak berkata-kata kepadanya.

“Anak muda, apakah yang engkau kehendaki?.”

“Aku datang supaya engkau mengatakan kepadaku Nama Yang Terbesar,” jawab Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

Setahun pula Dzun Nun membisu. Kemudian diberikannya kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi sebuah tabung kayu yang tertutup dn berkata :

“Pergilah ke seberang sungai Nil. Di suatu tempat ada seorang tua. Berikanlah tabung ini kepadanya dan ingatlah apa-apa yang dikatakannya kepadamu.

Yusuf bin al-Husain ar-Razi menerima tabung kayu itu dan pergilan ia menyeberangi sungai Nil. Di tengah-tengah perjalanan hatinya tergoda.

“Apakah yang bergerak-gerak di dalam tabung ini?, Ia bertanya di dalam hati. Tabung itu di bukanya dan seekor tikus meloncat keluar, kemudian melarikan diri. Yusuf bin al-Husain ar-Razi merasa bingung.

“Kemanakah aku harus pergi sekarang? Haruskah aku ke orang tua itu atau kembali kepada Dzun Nun?.”

 Akhirnya ia memutuskan untuk menjumpai si orang tua itu. Menyaksikan kedatangan Yusuf bin al-Husain ar-Razi yang menenteng tabung kayu yang telah kosong itu, si orang tua tersenyum dan menegurnya :

“Engkau menanyakan Nama Allah yang Terbesar keapda Dzun Nun?.”

“Ya”, jawab Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

“Dzun Nun mengetahui sikapmu yang tidak sabar dan oleh karena itu dititipkannya seekor tikus kepadamu. Maha Besar Allah, seekor tikus aja tidak dapat engkau jaga, apalagi Nama Yang Terbesar itu.”

Yusuf bin al-Husain ar-Razi malu sekali, iapun kembali ke masjid Dzun Nun . Dzun Nun menyambutnya :

“Kemarin, tujuh kali aku memohon izin Allah untuk menyampaikan nama-Nya yang terbesar itu, tetapi Allah tidak memperkenankannya. Hal ini berarti, belum tiba saatnya. Kemudian Allah menunjukiku : “Cobalah ia dengan seekor tikus” Dan setelah engkau ku coba ternyata beginilah jadinya. Kembalilah ke negeri asalmu dan tunggulah hingga saat yang tepat.”

“Sebelum aku meninggalkan tempat ini, berilah aku sebuah petuah” Yusuf bin al-Husain ar-Razi bermohon kepada Dzun Nun.

“Akan ku beri padamu tiga petuah ,: jawab Dzun Nun, “Yang ssatu besar, yang satu sedang dan yang terakhir kecil. Petuah yang besar adalah : Lupakanlah segala sesuatu yang telah engkau baca dan hapuskanlah segala sesuatu yang telah engkau tulis, agar selubung penutup matamu terbuka.”

“Petuah ini tak dapat kulaksanakan,” jawab Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

“Petuah yang sedang adalah : Lupakanlah aku dan jangan bicarakan diriku dengan siapa pun juga. Jika seseorang berkata, muridku mengatakan begini” atau “guruku mengatakan begitu,” sesungguhnya semua itu memuji dirinya sendiri.”

“Petuah inipun taka dapat kulaksanakan,” sela Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

“Yang terakhir yang kecil adalah : Serulah manusia kepada Tuhan mereka.”

“Aku penuhi syarat tersebut.”

Maka berangkatlah Yusuf bin al-Husain ar-Razi ke Rayy. Ia adalag dari keluarga terhormat dan karena itu warga kota datang menyambut kedatangannya. Ketika memulia khotbahnya, Yusuf bin al-Husain ar-Razi mengemukakan realitas-realitas mistik. Mendengar ajarn-ajaran ini, penduduknya yang hanya mengenal doktrin eksoteris melalui pengajaran formal marah dan menentang Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Nama Yusuf bin al-Husain ar-Razi jatuh sehingga akhirnya tak seorang pun yang mau datang mendengar ceramahnya.

Seperti biasanya, suatu hari ia pun tampil untuk berceramah. Tetapi ketika itu tak seorang pun yang hadir mendengarkannya, iapun bermaksud pulang. Saat itu, seorang perempuan tua berseru :

“Bukankah engkau telah berjanji kepada Dzun Nun bahwa engkau akan menyeru manusia bukan karena mereka tetapi karena Allah semata?.”

Yusuf bin al-Husain ar-Razi tersentak mendengar kata-kata ini. Ia pun memulai khotbahnya. Demikian dilakukannya secara terus menerus selama lima puluh tahun, baik ada yang mendengar atau tidak.

YUSUF BIN AL-HUSAIN DAN IBRAHIM BIN KHAUWASH

Ibrahim bin Khauwash adalah salah seorang  murid Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Berkat persahabatannya dangan Yusuf bin al-Husain ar-Razi itulah Ibrahim bin Khauwash memperoleh kemajuan spiritual yang menakjubkan, sehingga ia sanggup berjalan mengarungi padang pasir tanpa bekal makanan dan bintanag tunggangan. Melalui Ibrahim bin Khauwash inilah kita mendengar kisah berikut ini :

Pada suatu malam, terdengar oleh ku sebuah suara yag menyeruku.

“Pergi dan kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi, engkau adalah salah seorang di antara orang-orang yang ditolak!.”

Kata-kata ini sedemikian menyedihkan hatiku, sehinga seandainya sebuah gunung ditimpakan ke atas kepalaku, niscaya lebih mudah kutanggungkan daripada menyampaikan kata-kata itu kepda Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

Malam eskonya terdengar pula seruan yang lebih keras.

“Katakan kepda Yusuf bin al-Husain ar-Razi,” engkau adalah salah seorang di antara orang-orang yang ditolak.”

Aku bangun, bersuci dan memohon ampunan Allah. Aku merenungi hal ini hingga malam yang ketiga, dan seruan itu terdengar pula :

“Katakan kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi,” engkau adalah salah seorang di antara orang-orang yang ditolak!.” Jika pesan ini tiak engkau sampaikan kepdanya, akan kami timpakan bencana kepadamu sehingga kau tak dapat bangun lagi.”

Dengan sangat sedih, akupun bangkit dan pergi ke masjid, di mana kulihat Yusuf bin al-Husain ar-Razi sedang duduk di tempat imam shalat.

“Adakah syair yang hapal olehmu?,” Yusuf bin al-Husain ar-Razi bertanya ketika ia melihat kedatanganku.”

“Ya”, jawabku, Akupun mengingat-ingat sebuah syait berbahasa Arab lalu ku senandungkan. Yusuf bin al-Husain ar-Razi begitu senang mendengar syair itu. Ia berdiri dan tetap berdiri untuk waktu yang lama. Air matanya bercucuran, seolah bercampur dengan darah. Kemudian ia berpaling kepadaku dan berkata :

“Sejak dilahirkan hingga saat ini, orang-orang telah membacakan a;-Qur’an untukku, namun tak setets air mata yang pernah kutumpahkan. Tetapi melalui sebuah syair yang engkau senandungkan itu, aku mengalami keadaan seperti ini, air  mataku bercucuran. Sanagatlah tepat apabila orang-orang mengatakan bahwa aku adalah orang bid’ah. Seruan Ilahi terlah berkata dengan sebenarnya, bahwa aku adalah salah seorang di antara orang-orang yang ditolak. Seseorang yang sedemikian terharu mendengar sebuah syair tetapi al-Qur’an tak sedikit pun emggugah hatinya. Adalah benar-benar salah seorang yang ditolak.”

Hatiku goncang karena menyaksikan kejadian ini dan mendengarkan kata-katanya. Goyahlah keyakinanku kepda Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Aku takut. Aku pu bangkit dan berjalan ke arah padang pasir. Dalam perjalanan tersebut kebetulan aku bertemu dengan Khidir dan ia berkata kepdada ku :

“Yusuf bin al-Husain ar-Razi telah menerima pukulan Allah, tetapi tempatnya adalah puncak tertinggi di dalam surga. Seorang manusia haru menempuh jalan Allah sedemikian jauh dan sedemikian kokohnya, sehingga walau dahinya ditampar oleh tangan penolakan, tempatnya masih tetap di puncak tertinggi di dalam surga. Apabila di atas jalan Allah ini tingkat para raja tak tercapai olehnya, setidak-tidaknya tingkatannya tidak di bawah para menteri.”

YUSUF AL-HUSAIN DAN SEORANG HAMBA PEREMPUAN

Seorang saudagar telah membeli seorang hamba perempuan seharga seirbu dinar di Nishapur. Ia berpiutang kepada seoang di kota lain. Si Saudagar hendak pergi ke sana dengan segera untuk menagih piutangnya itu. Tetapi di kota Nishapur tak seorang pun yang dapar dipercayainya untuk dititipi hamba perempuannya itu. Oleh karena itu pergilah iamenemui Abu ‘Utsman al-Hiri dan menjelaskan masalah yang dihadapinya itu. Mula-mula Abu “utsman menolak titipan budak perempuan itu, tetapi si sauagar tetap meminta pertolongannya :

“Izinkanlah dia tinggal di dalam haremmu. Aku akan kembali dalam waktu secepatnya.”

Akhirnya Abu “Utsman menyerah dan si saudagar meninggalkan tempat itu. Tanpa di sengaja terpandanglah gadis itu oleh Abu “Utsman dan iapun tergila-gila kepadanya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Akhirnya pergilah ia ke rumah gurunya Au Hafshin bin Haddad, untuk meminta nasehat. Abu Hafshin bin Haddad menasehatkan :

“Pergilah ke Rayy dn mintalah nasehat kepda Yusuf bin al-Husain ar-Razi.”

Maka berangkatlah Abu ‘Utsman ke negeri Iraq. Ketika sampai di kota Ryy, ditanyakannya tempat tinggal Abu Yusuf bin al Husain. Tetapi orang-orang mencegahnya ke sana.

“Apakah urusanmu dengan manusia bid’ah yang terkutuk itu? Engkau tampaknya sebagai seorang yang saleh, bergaul dengannya berarti menjerumuskan dirimu sendiri.”

Sedemikian banyak keburukan-keburukan Yusuf bin al-Husain ar-Razi yang diperkatakan orang sehingga Abu ‘Utsman menyesal, mengapa ia sampai datan ke kota Rayy itu. Akhirnya iapun kembali ke Nishdi Nishapur.

 “Apakah engkau telah bertemu dengan Yusuf bin al-Husain ar-Razi? Ssatu pertanyaan Abu Hafshin menyambut kedatangannya di Nishapur :

“tidak,” jaab Abu ‘Utsman.

“Mengapa tidak? Tanya Abu Hafshin.

“Aku dengar segala tingkah laku Yusuf bin al-Husain ar-Razi,” kemudian lalu dikisahkannya segala sesuatu yang disampaikan penduduk Rayy kepadanya. “Oleh karena itulah aku tidak pergi menemuinya dan kembali ke Nishapur.”

“Kembalilah ke Rayy, dan temuilah Yusuf bin al-Husain ar-Razi,” Abu Hfshin mendesak ‘Utsman.

Abu ‘Utsman pergi lagi ke Rayy dan sekali lagi bertanya-tanya di manakah tempat tinggal Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Dan penduduk kota Rayy seratus kali lebih banyak meburuk-burukkan Yusuf bin al-Husain ar-Razi daripada sebelumnya.

“Aku mempunyai suatu urusan penting dengan Yusuf bin al-Husain ar-Razi.” Abu ‘Utsman menjelaskan kepada mereka.

Akhirnya mereka mau juga menunjukan kediaman Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Sesampainya di tempat Yusuf bin al-Husain ar-Razi, dilihatnya seorang tua yang sedang duduk. Dan seoran remaja tampan yang tak berjanggut berada di depannya. Si pemuda sedang menyajikan sebuah cembung dan cangkir. Wajahnya berseri-seri. Aby ‘Utsman masuk, mengucapkan salam dan duduk. Syeikh Yusuf bin al-Husain ar-Razi memulia pembicaraan, mengucapkan ajaran-ajaran yang sedemikian mulia dan luhur, membuat Abu ‘Utsman terheran-heran. Akhirnya berkatalah Au ‘Utsman :

“Demi Allah, dengan kata-kata dan pemikiran-pemikiran seperti ini, apakah yang telah terjadi atas dirimu? Anggur dan seorang remaja yang belumberjanggut?.”

“Remaja yang tak berjanggut ini adalah puteraku, dan hanya sedikit orang yang tahu baha ia adaalah puteraku,” jwab Yusuf bin al-Husain ar-Razi. “Aku sedang mengajarkan al-Qur’an kepadanya. Bejana anggur ini, kebetulan ku temukan di tempt sampah. Bejana ini ku ambil, ku cucui dan kuisi air, sehingga aku dapat menyuguhkan air kepada orang-orang yang ingin minum karena selama ini aku tak punya sebuah tempayan pun.”

Abu ‘Utsman bertanya pula, “Demi Allah, mengapakah engkau bertingkah laku seperti ini sehingga orang-orang mengatakan hal-hal yang bukan-bukan mengenai dirimu?.”

“Aku bertingkah laku seperti ini agar tidak ada orang yang sudi menitipkan hamba perempuannya yang berbangsa Turki kepada ku.”

Mendengar  jaaban ini, Abu ‘Utsman merebahkan dirinya di kaki sang syiekh. Sdrlah ia bahwa Yusuf sebenarnya telah mencapai tingkat kesalehan yang tinggi.

24. ABU HAFSHIN AL-HADDAD

Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad, seorang pandai besi di kota Nishapur, berkunjung ke Baghdad dan berjumpa dengan Junaid yang kagum menyaksikan pengabdiannya kepda Allah. Abu Hafshin juga pernah berjumpa dengan asy-Syibli dan tokoh-tokoh mistik lainnya di kota Baghdad. Setelah kembali ke Nishapur ia amelakukan usahanya seperti dahulu dan meninggal dunia di Kota ini pda tahun 265 H/879M.

BAGAIMANA ABU HAFSHIN BIN HADDAD BERTAUBAT

Ketika masih remaja, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad jatuh cinta kepada seorang gadis pelayan. Ia sedemikian tergila-gila sehingga tak dapat hidup dengan teenang.

“Ada seorang dukun Yahudi yang tinggal di pinggiran kota Nishapur. Ia tentu dapat menolongmu,” sahabt-sahabatnya menyarankan.

Maka pergilah Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menemui dukun Yahudi itu dan menerangkan masalah yang sedang dihadapinya.

Si Yahudi menyarankan : “Selama empat puluh hari janganlah engkau melakukan shalat, dengan cara bagaimanapun juga janganlah kau patuhi perintah Allah,d an jangan lakukan perbuatan-perbuatan baik. Selama itu pula jangan engkau sebut-sebut nama Allah dan sama sekali jangan memikirkan hal-hal yang baik. Setelah semua ini engkau lakukan, barulah aku sanggup dengan sihirku membuat kehendakmu itu tercapai.”

Selama empat puluh hari Abu Hafshin melaksanakan nasehat si dukun. Setelah itu si dukun membuatkan sebuah jimat untuknya, tetapi ternyata juga masih tidak ada hasilnya.

Si Yahudi berdalih : “Sudah pasti bahwa selama ini engkau pernah melakukan perbuatan baik. Jika tidak, tentu tujuanmu itu telah tercapai.”

“Tak ada pelanggaran yang pernah ku lakukan,” Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad membela diri. “Satu-satunya kebajikan yang ku ingat adalah menyepak sebuah batu ketika aku datang ke sini agar tak ada orang yang tersandung karenanya.”

“Jangan menjengkelkan Allah yang perintah-perintah-Nya hendak engkau tentang selama empat puluh hari. Dia tak akan menyia-nyiakan kemurahan-Nya walau untuk kebajikan kecil seperti yang telah engkau lakukan,” cela si Yahudi.

Kata-kata itu mengobarkan api di dalam dada Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad, bahkan sedemikian berkobarnya sehingga ia bertaubat melalui si Yahdi itu.

Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad terus melakukan usahanya sebagai pandai besi, dan menyembunyikan keajaiban yang telah terjadi terhadap dirinya itu. Setiap hari ia memperoleh uang satu dinar. Dan setiap malam pula uang satu dinar itu diberikannya kepada orang-orang miskin, atau secara sembunyi-sembunyi dimasukannya ke dalam kotak surat di rumah para janda. Kemudian, bila waktu Isa telah tiba, ia pun pergi mengemis dan dengan uang yang diperolehnya melalui cara ini ia berbuka puasa. Kadang ia mengumpulkan bawang atau lainnya sisa-sisa yang terdapat di kamar cuci umum, lalu dijadikannya sebagai santapannya.

Demikianlah perilaku Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad untuk beberapa lama. Pada suatu hari seorang buta berjalan di dalam pasar sambil membaca  ayat .”Aku berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka akan ditunjukan Allah kepada mereka yang tak pernah mereka sangka sebelumnya ........”Ayat ini menyesakkan dada Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad sehingga ia tak sadarkan diri, Sehingga, ketika itu dipertukangannya, sebagai ganti jepitan ia masukan tangannya ke dalam tungku perapian untuk mengambil sepotong besi yang sedang membara. Besi tersebut ia taruh ke atas paron untuk di palu naka-anak buahnya. Semua anak buah Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad tersadar, betapa Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menempa besi panas itu dengan tangannya sendiri.

“Tuan, apakah yang engkau perbuat ini?.” Seru mereka.

“Pali!.” Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad memberi perintah.

“Tuan, apakah yang harus kami palu?.” Tanya mereka, “besi ini telah bersih.”

Barulah Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad sadar. Dilihatnya abesi yang membara di tangannya dan didengarnya seruan-seruan anak buahnya : “Besi itu telah bersih. Apakah yang harus kami palu?.” Besi tersebut dilemparkannya. Bengkel itu segera ditinggalkannya dan siapa pun boleh mengurusnya.

“Sudah lama sebenarnya aku ingin meninggalkan usaha tersebut, tapi tak dapat. Akhirnya kejadian in menimpa diriku dan secara paksa membebaskanku. Betapa pun aku mencoba meninggalkan usaha itu, namun sia-sia. Akhirnya usaha itu sendiri yang meninggalkan diriku.”

Sesudah itu, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menjalani kehidupan dengan disiplin diri yang keras, menyepi dan bermeditasi.

ABU HAFSHIN BIN HADDDAN DAN JUNAID

Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad hendak ke tanah suci menunaikan ibadah haji, tapi ia tidak dapat membaca dan berbahasa Arab. Ketika sampai di kota Baghdad, murid-murid sufi saling berbisik.

“Sangatlah memalukan apabila syiekh dari segala syeikh di Khurasan masih memerlukan juru bahasa untuk memahami bahasanya sendiri,,”

Junaid menyuruh murid-muridnya untuk menyongsong kedatngan Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad. Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad sendiri menydari apa yang sedang dipikirkan oleh “para sahabat” itu dan segera ia berbicara dala bahasa Arab sehingga orang-orang baghdad itu kagum akan kemurnian bahasa Arabnya. Beberpa cendekiawan berkumpul di sekelilingnya dan bertanya tentang cinta yang menyebabkan seseorang rela mengorbankan diri.

“Engkau lebih pintar berbicara, Jawablah pertanyaan mereka itu, “Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad berkata kepada Junaid.

“Menurut pendapatku, “ Junaid memulai, “apabila kita benar-benar mengorbankan diri sendiri, maka kita tidak beranggapan bahwa kita telah mengorbankan diri dan membanggakan segala perbuatan yang telah kita lakukan.”

“Hebat sekali,” seru Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad. “Tetapi menurut pendapatku, mengorbankan diri sendiri berarti berlaku adil kepada orang lain dan tidak mengharap agar orang lain berlaku adil kepada diri kita sendiri.”

“Laksanakan petuah ini, hai sahabat-sahabat,” Junaid berkata kepada mereka.

“Pelaksanaan yang benar, lebih sulit dari sekedar kata-kata.” Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menandaskan.

Ketika mendengar kata-kata Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad ini, Junaid berseru kepada sahabat-sahabat :

“Bangkitlah sahabat-sahabat! Di dalam pengorbanan diri sendiri, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad melebihi Adam beserta anak cucunya.”

oooOOOooo

Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menanamkan rasa hormat dan disiplin ke dalam diri sahabat-sahabtnya. Tak seorang pun di antara murid-muridnya yang berani duduk di depannya dan menatp matanya. Di depannya mereka selalu berdiri dan tidak akan duduk sebelum dipersilahkan. Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad sendiri dduduk ai antara mereka bagaikan seorang sultan.

Melihat hal Junaid menegurnya : “Engkau mengajar sahabt-sahabatmu tingkah laku seperti menghadap sultan.”

“Engkau hanya melihat apa yang terlihat, tetapi bukankah dari alamat surat saja kita dapat menduga apa yang tertulis di dalam nya.”

Jawab Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad.

Setelah itu, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad melanjutkan : “Surulah sahabat-sahabatmu memasaka kaldu dan halwa.

Junaid lalu menyuruh seorang muridnya memasak kaldu dan halwa. Setelah selesai, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad berkata :

“Pangilah seorang kuli dan letakkan makanan ini ke atas kepalanya. Kemudian suruh ia berjalan sambil membawa makanan ini sampai ia letih dan tak sanggup melanjutkan perjalanan. Di depan rumah siapa pun ia berhenti suruh ia memanggil si empunya rumah. Dan siapa saja yang membuka pintu, ia berikan saja kaldu dan halwa ini kepadanya.”

Si kuli mematuhi segala perintah ini. Ia pun berjalan sampai kelelahan dan tak sanggup lagi meneruskan. Makanan-makanan itu diletakkannya di depan sebuah rumah, kemudian ia memanggil penghuni rumah itu. Ternyata pemilik rumah itu adalah seorang lelaki yang telah tua, ia menyahut :

“Jika engkau membawa kaldu dan halwa, barulah ku bukakan pintu.”

“Aku membawa kaldu dan halwa.” Jawab si kuli.

“Masuklah,” lelaki itu mempersilahkan setelah membukakan pintu.

“Aku sangat heran,” belakangan si kuli mengisahkan kejadian itu,” Aku bertanya kepada lelaki tua itu, “Apakah yang telah terjadi.?

Bagaimanakah engkau bisa tahu bahwa aku membawa kaldu dan halwa?.”

Orang tua itu menjawab : “Ketika aku sedang berdoa tadi malam, teringat olehku bahwa anak-anakku sudah lama meminta kaldu dan halwa kepadaku. Aku tahu bahwa doaku tadi malam tidaklah percuma,”

oooOOOooo

Ada seorang murid yang senantiasa melayani Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad dengan sangat takzim. Junaid sering memperhatikan si murid karena senang melihat sikapnya. Junaid bertanya kepada Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad “

“Sudah berapa tahunkah ia berada di bawah bimbinganmu?.”

“Sepuluh tahun,” jawab Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad.

“tingkah lakunya tiada tercela dan sikapnya sopan. Benar-benar seorang pemuda yang mengagumkan,” Junaid memberi penilaian.

“Ya”, jawab Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad. “Sudah tujuhbelas ribu dinar disumbangkannya untuk tujuan kita ini, kemudian dipinjamkannya pula tujuh belas ribu dinar untuk keperluan yang sama. Walau demikian, ia masih belum berani juga mengajukan satu pertanyaan pun kepada kami,”

oooOOOooo

Kemudian Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad berangkat mengarungi padang pasir. Inilah pengisahan mengenai pengalamannya di padang pasir itu :

Di tengah padang pasir itu, aku bertemu dengan Abu Thurab dan lalu kami berjalan bersama-sama. Sudah enambelas hari aku tak makan ketika terlihat olehku sebuah teelaga, aku ingin minum dan melangkah ke arah telaga itu. Tetapi aku berrhenti dan merenung.

“Apakah yang menyebabkan engkau berhenti?.” Abu Thurab bertanya kepadaku.

“Aku ingin menyaksikan, mana yang akan menang di antara pengetahuan dengan kepastian, sehingga dapat ku pilih yang menang di antara keduanya. Jika kemenangan diperoleh oleh pengetahuan, air telaga ini akan ku minum, tetapi jika kepastian yang menang, aku akan terus berjalan,” jawabku.

“Engkau pasti akan mendapat kemajuan,” Abu Thurab berkata padaku.

oooOOOooo

Ketika sampai di kota Mekkah, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menyaksikan jamaah-jamaah yang miskin dan terlunta-lunta. IA ingin sekali memberikan sesuatu kepada mereka tetapi tak ada yang dimilikinya dan oleh karena itu ia sangat gelisah. Kegelisahan ini sedemikian mencekam hatinya dan ia tak sanggup meredakannya, akhirnya dipungutnya sebuah batu dan ia berteriak :

“Demi keagungan-Mu, jika Engkau tidak memberikan sesuatu kepadaku, akan ku hancurkan semua lampu-lampu di dalam masjid itu!.”

Kemudian ia mengelilingi Ka’bah. Taka lama kemudian datanglah seorang lelaki menghampiri dan memberinya sekantong emas yang kemudian dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin tersebut.

oooOOOooo

Setelah selesi menunaikan ibadah haji, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad kembali ke Baghdad. Sahabat-sahabat Junaid menyongsong kedatangannya.

Oleh-oleh apakah yng engkau bawa untuk kami?.” Tanya junaid kepadanya.

“Yang hendak ku katakan inilah oleh-olehku,” jawab Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad. “Mungkin sekali di antara sahabat-sahabat kita ada yang tidak sanggup menghadapi kehidupan ini seperti yang seharusnya. Jika tingkah lakunya kepadamu kurang cocok, carilah ke dalam dirimu sebuah alasan untuk memaafkannya, Lalu maafkanlah kesalahannya itu. Bila debu salah faham tak dapat dihilangkan karena maaf itu, sedang kau berada di pihak yang benar, cari pula alasan untuk memaafkannya lalu maafkan perbuatannya itu. Apabila debu salah faham tetap tak dapat dihilangkan, cari pula alasan alin walau sampai empat puluh kali. Apabila debu itu tak dapat dihilangkan sedang engkau berada di pihak yang benar, dan keempatpuluh alasan itu tidak dapat mengimbangi kesalahan yang telah dilakukannya terhadap dirimu, maka duduklah dan berkatalah kepada dirimu sendiri : “Betapa keras kepala dan betapa kelam hatimu ini! Betapa kesat hatimu, betapa buruk kelakuanmu, betapa angkuhnya engkau! Saudaramu telah mengajukan empat puluh alasan agar kesalahannya dimaafkan, tetapi engkau tidak dapat menerima alasan-alasan itu dan tetap membenci dia. Aku berlepas tangan terhadapmu. Engkau tahu apa yang kau inginkan, berbuatlah sekehendakmu!.”

Junaid sangat kagum mendengar kata-kata ini.

“Tetapi siapakah yang mempunyai kekuatan seperti itu?.” Junaid bertanya kepada dirinya sendiri.

ABU  HAFSHIN DAN SYIBLI

Selama empat bulan Syibli menerima Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad sebagai tamu. Setiap hari ia menyajikan aneka macam santapan dan berbagai panganan kecil.

Ketika pamit, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad berkata kepada Syibli.

“Jika engkau datang ke Nishapur akan kuajarkan kepadamu cara menjamu tamu dan kemurahan hati yang sejati.”

“Apakah kesalahan yang telah kulakukan?.” Syibli bertanya.

“Engkau terlampau merepotkan dirimu. Jamauan yang berlebihan tidaklah sama dengan kemurahan hati. Engkau harus meladeni tamu seperti meladeni dirimu sendiri. Dengan demikian kedatangan tamu tidak merupakan beban kepadamu dan kepergiannya tidak merupakan alasan untuk merasa lega. Jika engkau terus menjamu tamu secara berlebihan, maka kedatangannya akan engkau anggap sebagai  beban dan kepergiannya sebagai kelegaan. Seorang yang beranggapan demikian terhadap tamu, tak dapat dikatakan bersipat pemurah.”

Ketika Sybli datang ke Nishapur, ia menginap di rumah Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad. Semua tamu berjumlah empat puluh orang, dan sewaktu malam tiba, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menyalakan empat puluh satu buah pelita.

“Bukankah engkau sendiri mengatakan bahwa kita jangan berlebihan?.” Subli menegus Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad.

“Jika demikian, padamkanlah olehmu lampu-lampu itu.”

Sybli menuruti, tetapi betapa pun ia berusaha hanya satu lampu yang dapat didpadamkannya.

Syiekh, apakah artinya semua ini?” Syubli bertanya kepada Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad.

“Kalian adalah empat puluh utusan Allah, karena seorang tamu adalah utusan Allah. Jadi wajarlah apabila demi Allah aku menyalakan sebuah pelita untuk masing-masing di antara kalian dan sebuah untuk diriku sendiri. Keempat puluh pelita yag ku nyalakan demi Allah itu tidak sanggup engkau padamkan, tetapi satu pelita yang ku nyalakan untuk diriku sendiri itu berhasil engkau padamkan. Segala hal yang telah kau lakukan di Baghdad itu dahulu, engkau lakukan demi diriku, tetapi yang ku lakukan di sini, ku lakukan demi Allah. Jadi yang kau lakukan dahulu itu merupakan hal yang berlebih-lebihan tetapi yang ku lakukan ini bukan.”

Abul Qasim al-Junaid bin Muhammad al-Khazzaz an-Nihawandi, adalah putera seorang pedagang barang pecah belah dan keponakan dari Sari as-Saqathi. Ia adalah teman akrab al-Muhasibi yang merupakan penyebar besar aliran “waras” sufisme. Ia  telah mengembangkan sebuah doktrin theosofi yang mempengarahi keseluruhan mistisme ortodoks Islam. Teorinya yang dijelaskannya kepada tokoh-tokoh semasanya masih dapat kita temukan hingga saat ini. Ia mninggal pada tahun 198H/910 M di Baghdad, sebagai ketua dari sebuah aliran yang besar dan berpengaruh luas.

MASA REMAJA JUNAID AL-BAGHDADI

Sejak kecil Abul Qasim al-Junaid sudah merasakan kegelisahan spirituaal. Ia adalah pencari Allah yang tekun, penuh disiplin, bijaksana, cerdas dan mempunyai intuisi yang tajamm.

Pada suatu hari ketika kembali dari sekolah, Abul Qasim al-Junaid mendapatkan ayahnya sedang menangis.

“Apakah yang terajadi?, tanya Junaid  kepada ayahnya.

“Aku ingin memberi sedekah kepada pamanmu, Sari, tetapi ia tidak mau menerimanya,” ayahnya menjelaskan. “Aku menangis karena seumur hidupku baru sekarang inilah aku dapat mengumpulkan uang lima dirham, tetapi ternyata pemberianku tidak pantas diterima oleh salah seorang sahabat Allah.”

“Berikanlah uang itu kepadaku, biar aku yang akan memberikannya kepada paman. Dengan cara ini tentu ia mau menerimanya.” Junaid berkata.

Uang lima dirham itu diserahkan ayahnya dan berangkatlah Junaid ke rumah pamannya. Sesampainnya di tujuan, ia mengetuk pintu.

“Siapakah itu?.” Terdengar sahutan dari dalam.

“Junaid,” jawabnya. “Bukalah pintu dan terimalah sedekah yang sudah menjadi hakmu ini.”

“Aku tidak mau menerimanya,” Sari menyahut.

“Demi Allah yang telah sedemikian baiknya kepadamu dan sedemikian adilnya kepada ayahku, aku meminta kepadamu, terimalah sedekah ini,” Junaid berseru.

“Junadi, bagaimanakah Allah telah sedemikian bainya kepadaku dan sedemikian adilnya kepada ayahmu?.” Sari bertanya.

“Allah berbuak baik kepadamu,” Jawab Junaid,” karena telah memberikan kemiskinan kepadamu. Allah berbuat adil kepada ayahku karena telah membuatnya sibuk dengan urusan-urusan dunia. Engkau bebas menerima atau menolak sedekah, tetapi ayahku, baik secara rela maupun tidak, harus mengantarkan sebagian harta kekayaannya kepada yang berrhak menerimanya.”

Sari sangat senang mendengar jawaban itu.

“Nak, sebelum menerima sedekah itu, aku telah menerima dirimu.”

Sambil berkata demikian Sari membukakan pintu dan menerima sedekah itu. Untuk Junaid disediakannya tempat yag khusus di dalam lubuk hatinya.

oooOOOooo

Abul Qasim al-Junaid baru berumur tujuh tahun ketika Sari membawanya ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Di Masjidil Haram, empat raus syeikh sedang membahas sikap syukur. Setiap orang di antara mereka mengemukakan pendapatnya masing-masing.

“Kemukakan pula pendapatmu,” Sari mendorong Junaid. Maka berkatalah Junaid.

“Kesyukuran berarti tidak mengingkari Allah dengan karunia yang telah dilimpahkan-Nya atau membuat karunia-Nya itu sebagai sumber keingkaran.”

“Tepat sekali, wahai pelipur hati Muslim-muslim sejati.” Keempat ratus syeikh tersebut berseru. Semuanya sependapat bahwa definisi kesyukuran yang dikemukakan Junaid itulah yang paling tepat.

Sari berkata Junaid.

“Nak, tidak lama lagi akan kenyataanlah bahwa karunia yang istimewa dari Allah kepadamu adalah lidahmu.”

Junaid tidak sanggup menahan tangisnya ketika mendengar kata-kata pamannya itu.

“Bagaimanakah engkau memperoleh semua pengetahuan ini?.” Sari bertanya kepadanya.

“Dengan duduk mendengarkanmu,” jawab Abul Qasim al-Junaid.

Abul Qasim al-Junaid lalu kembali ke Baghdad dan berdagang barang pecah belah. Setiap hari ia menurunkan tirai tikoya dan melakukan shalat sunnat sebanyak empat ratus raka’at. Belakangan hari, usaha itu ditinggalkannya dan ianng mengunci diri dalam sebuah kamar di rumah Sari. Di dalam kamar itulah ia menyibukkan diri untuk menyempurnakan bathinnya. Dan di situ pula ia membentangkan sajadah ketekunan sehingga tudak sesuatu hal pun selain Allah yang terpikirkannya.

JUNAID DI UJI

Selama empat puluh tahun Abul Qasim al-Junaid menekuni kehidupan mistiknya. Tiga puluh tahun lamanya, setiap selesai shalat Isa ia berdiri dan mengucapkan “Allah, Allah” terus menerus hingga fajar, dan melakukan shalat Shubuh tanpa perlu berwudlu lagi.

“Setelah empat puluh tahun berlalu,” Abul Qasim al-Junaid berkisah, “timbullah kesombongan di dalam hatiku, aku mengira bahwa tujuanku telah tercapai. Segeralah terdengar olehku suara dari langit yang menyeru kepadaku “ Junaid, telah tiba saatnya bagi-Ku untuk menunjukkan kepadamu sabuk pinggang Majusimu. Mendengar seruan itu aku mengeluh : “Ya Allah, dosa apakah yang dilakukan Junaid?.” Suara itu menjawab : “Apakah engkau hidup untuk melakukan dosa yang lebih besar daripada itu?.”

Abul Qasim al-Junaid mengeluh menundukkan kepalanya.

“Apakah manusia belum patutu untuk menemui Tuhannya,” bisik Abul Qasim al-Junaid, “maka segala amal biaknya adalah dosa semata.”

Abul Qasim al-Junaid lalu terus berdiam di dlam kamarnya dan terus menerus mengucapkan “Allah, Allah” sepanjan malam. Tetapi lidah firnah menyerang dirinya dan tingkah lakunya ini dilaporkan orang kepada khalifah.

“Kita tidak dapat berbuat apa-apa kepada Junaid bila kita tak mempunyai bukti,” jawab Khalifah.

Kebetulah sekali khalifah mempunyai seorang hamba perempuan berwajah sangat cantik. Gadis ini telah dibelinya seharga tiga ribu dinar dan sangat disayanginya. Khalifah memerintahkan agar hamba perempuannya itu dipakaikan dengan pakaian yang gemerlapan dan didandani dengan batu-batu permata yang mahal.

“Pegilah ke tampat Abul Qasim al-Junaid,” khalaifah memerintahkan hamba perempuannya, “berdirilah di depannya, buka cadar dan perlihatkan wajahmu, permainkan batu-batu permata dn pakaianmu untuknya. Setelah itu katakanlah kepada Junaid : “Aku datang kemari agar engkau mau melamar diriku, sehingga bersamamu aku dapat mengabdikan diri untuk berbakti kepada Allah. Hatiku tidak berrkenan kepada siapa pun kecuali kepadamu! Kemudian perlihatkan tubuhmu kepadanya. Bukalah pakaianmu dan godalah ia dengan segenap daya upayamu.”

Ditemani seorang pelayan ia diantar ke tempat Abul Qasim al-Junaid. Si gadis  menemui Junaid dan melakukan segala daya upaya yang bahkan melebihi dari apa yang diperintahkan kepadanya. Tanpa disengaja ia terpandang oleh Junaid. Abul Qasim al-Junaid membisu dan tak memberi jawaban. Si gadis mengulangi daya upayanya dan Abul Qasim al-Junaid yang selama itu tertunduk mengangkat kepalanya.

“Ah!.” Serunya sambil meniupkan nafasnya ke arah si gadis. Si gadis terjatuh dan seketika itu juga menemui ajalnya.

Pelayan yang menemaninya kembali ke hadapan khalifah dan menyampaikan segala kejadian itu. Api penyesalan menyesak dada khalifah dan ia memohonkan ampunan Allah karena perbuatannya itu.

“Seseorang yang memperlakukan orang lain seperti yang tak sepatutnya akan menyaksikan hal yang tak patut untuk disaksikannya,” khalifah berkata.

Khalifah bangkit dan berangkatlah ia untuk mengunjungi Abul Qasim al-Junaid. “Manusia seperti Junaid tidak dapat dipanggil untuk menghadapnya,” ia berkata.

Setelah bertemu dengan Abul Qasim al-Junaid, khalifah bertanya :

“Wahai guru, bagaimanakah engkau sampai hati membinasakan tubuh gadis yang sedemikian eloknya?.”

“Wahai pangeran kaum Muslimin,” Abul Qasim al-Junaid menjawab, “belas kasihmu kepada orang-orang yang mentaatimu sedemikian besarnya, sehingga engkau sampai hati untuk menginginkan jerih payahku selama empat puluh tahun mendisiplinkan diri, bertirakat, menyangkal diri, musnah diterbangkan angin. Tetapi apakah artinya diriku di dalam semua itu? Janganlah engkau lakukan sesuatu hal kepada orang lain apabila engkau sendiri tidak menginginkannya!.”

“Selama tiga puluh tahun aku mengawasi batinku,” Abul Qasim al-Junaid mengatakan, “Setelah itu selama sepuluh tahun bathinku mengawasi diriku. Pada saat ini, telah dua puluh tahun lamanya aku tidak mengetahui sesuatu pun mengenai bathinku dan bathinku tidak mengetahui sesuatu pun mengenai diriku.”

“Selama tiga tahun,” Abul Qasim al-Junaid melanjutkan, “Allah telah berkata-kata dengan Junaid melalui lidah Junaid sendiri, sedang Junaid tidak ada dan orang-orang lain tidak menyadari hal itu.”

JUNAID BERKHOTBAH

Ketika lidah Abul Qasim al-Junaid telah fasih mengucapkan kata-kata mulia, Sari as-Saqathi mendesak bahwa Junaid berkewajiban untuk berkhotbah di depan umu. Mula-mula Abul Qasim al-Junaid enggan; ia tidak ingin melakukan hal itu.

“Apabila guru masih ada, tidaklah pantas bagi si murid untuk berkhotbah,” Junaid berkilah.

Kemudian pada suatu malam Abul Qasim al-Junaid bermimpi dan dalam mimpi tersebut ia bertemu dengan Nabi saw.

“Berkhotbahlah!.” Nabi berkata kepadanya.

Keesokan paginya ia hendak pergi mengabarkan hal itu kepada Sari, tetapi ternyata Sari sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

“Sebelumnya engkau selalu merasa enggan, dan menantikan agar orang-orang  mendesakmu untuk berkhotbah. Tetapi mulai saat ini engkau harus berkhotbah karena kata-katamu dijadikan sebagai alat bagi keselamatan seluruh dunia. Engkau tak mau berkhotbah ketika dimohonkan murid-muridmu, engkau tak mau ketika diminta oleh para syiekh di kota Baghdad. Dan engkau tak mau berkhotbah ketika ku desak. Tetapi kini Nabi, sendirilah yang memberi perintah kepadamu, oleh karena itu engkau harus mau berkhotbah.”

“Semoga Allah mengampuni diriku,” jawab Abul Qasim al-Junaid. “Tetapi bagaimanakah engkau bisa mengetahui bahwa aku telah berjumpa dengan Nabi dalam mimpiku?.”

“Aku bertemu dengan Allah dalam mimpi,” jaab Sari, “dan Dia berkata kepadaku : “Telah Ku-utus Rasul-Ku untuk menyuruh Junaid berkhotbah di atas mimbar.”

“Aku mau berkhotbah,” Abul Qasim al-Junaid menyerah, “Tetapi dengan satu syarat bahwa yang mendengarkan khotbah-khotbahku tidak lebih dari empat puluh orang.”

Pada suatu hari Abul Qasim al-Junaid berkhotbah. Jumlah pendengar hanya empat puluh orang. Delapan belas orang di antaranya menemui ajal, mereka sedang sisanya yang berjumlah dua puluh dua orang jatuh pingsan dan harus digotong ke rumahnya masing-masing.

Di dalam kesempatan lain Abul Qasim al-Junaid berkhotbah di dalam masjid besar. Di antara jamaahnya ada seorang pemuda Kristen tetapi tak seorang pun yang mengetahui bahwa ia beragama Kristen. Si pemuda menghampiri Abul Qasim al-Junaid dan berkata : “Nabi pernah berkata : “Berhati-hatilah dengan wawasan seseorang yang beriman karena ia dapat melihat dengan nur Allah,” Apakah maksudnya?.”

“Yang dimaksudnya adalah,” Abul Qasim al-Junaid menjawab, “bahwa engkau harus menjadi seorang Muslim dan melepaskan sabuk ke kristenanmu itu, karena sekarang ini adalah zaman Islam.”

Si pemuda segera memeluk Islam setelah mendengar jawaban Abul Qasim al-Junaid tersebut.

oooOOOooo

Setelah berkhotbah beberapa kali, orang-orang menentang Abul Qasim al-Junaid. Junaid menghentikan khotbahnya dan mengurung diri di dalam kamarnya. Betatapun ia didesak untuk berkhotbah kembali, ia tetap menolak.

“Aku sudah cukup puas,” jawab Abul Qasim al-Junaid, “Aku tidak mau ke atas mimbar dan mulai berkhotbah.

“Apakah kebijaksanaan yang terkandung di dalam perbuatanmu ini?.” Seseorang bertanya kepadanya.”

Abul Qasim al-Junaid menjawab : “Aku teringat sebuah hadits di mana Nabi berkata : “Di hari-hari terakhir nanti yang menjadi juru bicara di antara ummat manusia adalah yang paling bodoh di antara mereka. Dia lah yang akan berkhotbah kepada ummat manusia.” Aku menyadari bahwa aku adalah yang terbodoh di antara ummat manusia dan aku berkhotbah karena kata Nabi itu, aku takkan menentang kata-katanya itu.”

oooOOOooo

Pada suatu ketika mata Abul Qasim al-Junaid sakit dan dipanggilnyalah seorang tabib.

“Jika matamu terasa perih, jangan biarkan air masuk ke dalam matamu,” si tabib menasehatkan.

Ketika tabib itu telah pergi, Abul Qasim al-Junaid bersuci, shalat dan setelah itu pergi tidur. Ketika terbangun ternyata matanya telah sembuh dan terdengarlah oleh sebuah seruan : “Junaid lbersedia mengorbankan matanya demi nikmat Kami. Seandainya untuk tujuan yang sama ia telah memohon ampunan Kami untuk semua penghuni neraka, niscaya permohonannya akan Kami kabulkan.

Ketika si tabib datang dan menyaksikan bahwa mata Abul Qasim al-Junaid telah sembuh :

“Apakah yang telah engkau lakukan?.” Ia bertanya.

“Aku bersuci untuk shalat,” jawab Abul Qasim al-Junaid.

Mendengar jawaban ini si tabib yang beragama Kristen itu segera masuk Islam.

“Inilah kesembuhan dari Snag Pencipta, bukan dari makhluk.-makhluk ciptaan-Nya,” katanya kepada Abul Qasim al-Junaid. “Mataku lah yang selama ini sakit, bukan matamu. Engkaulah yang sebenarnya seorang tabib, bukan aku.”

oooOOOooo

Abul Qasim al-Junaid mengisahkan : Pada suatu ketika aku iengin melihat Iblis. Aku berdiri di pintu masjid dan dari kejauhan terlihatlah oleh ku seorang tua yang sedang berjalan ke arahku. Begitu aku memandangnya, rasa ngeri mencekam perasaanku.

“Siapakah engkau ini?.” Aku bertanya kepadanya.

“Yang engkau inginkan,” jawabnya.

“Wahai makhluk yang terkutuk,” aku berseru, “Apakah yang menyebabkan engkau tidak mau bersujud kepada Adam?.”

“Bagaimanakah pendapatmu Junaid?.” Iblis menjawab,”Jika aku bersujud kepada yang lain daripada-Nya?.”

Abul Qasim al-Junaid mengisahkan, betapa ia menjadi bingung karena jawaban iblis itu.

Dari dalam lubuk hatiku terdengarlah sebuah seruan, “Katakan, engkau adalah pendusta. Seandainya engaku adalah seorang hamba yang setia niscaya engkau mentaati perintah-Nya.”

Ketika Iblis mendengar kata-kata ini, ia meraung nyaring “Demi Allah Junaid, engkau telah membinasakan aku!” Dan setelah itu ia pun hilang.

oooOOOooo

Pada masa sekarang ini semakin sedikit dan sulit ditemukan saudara-saudara seagama,” seseorang berkata di depan Abul Qasim al-Junaid.

Abul Qasim al-Junaid membalas, “Jika engkau menghendaki seseorang untuk memikul bebanmu, maka orang-orang seperti itu memang sulit dan sedikit dijumpai. Tetapi jika engkau menghendaki seseorang untuk ikut memikul bebannya, maka orang seperti itu banyak sekali pdaku.”

oooOOOooo

Bila Abul Qasim al-Junaid berkhotbah mengenai keesaan Allah, ia sering membahasnya dari sudut-sudut pandangan yang berbeda, sehingga tak seorang pun dapat memahaminya. Pada suatu hari Syibli yang berada di antara pendengar-pendengar mengucapkan : “Allah, Allah!.”.

Mendengar ucapan itu Abul Qasim al-Junaid berkata : “Apabila Allah itu tidak ada, maka menyebutkan sesuatu yang tidak ada adalah suatu pertanda dari ketiadaan, dan ketiadaan adalah sesuatu hal yang diharamkan. Apabila Allah itu ada, maka menyebut nama-Nya sambil merenungi-Nya sebagai ada adalah suatu pertanda tidak menghargai.”

oooOOOooo

Seseorang membawa uang lima ratus dinar dan memberikan uang itu kepada Abul Qasim al-Junaid.

“Adakah yang masih engkau miliki selain daripada ini?.” Abul Qasim al-Junaid bertanya kepadanya.

“Ya, banyak!.” Jawab orang itu.

“Apakah engkau masih ingin mempunyai uang yang lebih banyak lagi?.”

“Ya.”

“Kalau begitu ambillah uang ini kembli, engkau lebih berhak untuk memilikinya. Aku tidak memiliki sesuatu pun tapi aku tak menginginkan sesuatu pun.”

oooOOOooo

Ketika Abul Qasim al-Junaid sedang berkhotbah, salah seorang pendengarnya bangkit dan mulai mengemis.

“Orang ini cukup sehat,” Abul Qasim al-Junaid berkata di dalam hati. “Ia dapat mencari nafkah. Tetapi mengapa ia mengemis dan menghinakan dirinya seperti ini?.”

Malam itu Abul Qasim al-Junaid bermimpi, di depannya tersaji makanan yang tertutup tudung.

“Makanlah!.” Sebuah suara memerintah Abul Qasim al-Junaid.

Ketika Abul Qasim al-Junaid mengangkat tudung itu, terlihatlah olehnya si pengemis terkapar mati di atas piring.

“Aku tidak mau memakan daging manusia.” Abul Qasim al-Junaid menolak.

“Tetapi bukankah itu yang engkau lakukan kemarin ketika berada di dalam masjid?.”

“Abul Qasim al-Junaid segera menyedari bahwa ia bersalah karena telah berbuat fitnah di dalam hatinya dan oleh karena itu ia dihukum.

“Aku tersentak dalam keadaan takut,” Abul Qasim al-Junaid mengisahkan. “Aku segera bersuci dan melakukan shalat sunnat dua raka’at. Setelah itu aku pergi ke luar mencari si pengemis. Kudapatkan ia sedang berada di tepi sungi Tigris. Ia sedang memungut sisa-sisa sayuran yang dicuci di situ dan memakannya. Si pengemis mengangkat kepala dan terlihatlah olehnya aku yang sedang menghampirinya. Maka bertanyalah ia kepadaku : : Abul Qasim al-Junaid, sudahkah engkau bertaubat karena telah berprasangka buruk terhadapku?.” Sudah,” jawab ku, “Jika demikian pergilah dari sini. Dia-lah Yang menerima taubat hamba-hamba-Ny. Dan jagalah pikiranmu.”

oooOOOooo

“Au telh mendpat pelajaran mengenai keyakinan yang tulus dari seorang tukang cukur, “Abul Qasim al-Junaid merenungi dan setelah itu ia pun berkisah sebagai berikut :

Suatu ketika sewaktu aku berada di Mekkah, kulihat seorang tukang cukur sedang menggunting rambut seseorang. Aku berkata kepadanya : “Jika karena Allah, bersediakah engkau mencukur rambutku?.”

“Aku bersedia,” jawab si tukang cukur. Ia segera menghentikan pekerjaannya dan berkata kepada langganannya itu : “Berdirilah, apabila nama Allah diucapkan, hal-hal yang lain harus ditunda.

Ia menyuruhku duduk,. Diciumnya kepalaku dan dicukurnya rambutku. Setelah selesai ai memeberikan kepadaku segumpal kertas yang berisi beberapa keping mata uang.

“Gunakanlah uang ini untuk keperluanmu,” katanya kepadaku.

Aku pun lalu bertekad bahwa hadiah yang pertama sekali ku peroleh sejak saat itu akan kuserahkan kepada si tukang cukur tersebut.

Oleh sejak saat itu aku menerima sekantong uang emas dari Bashrah. Uang ini kuberikan kepada tukang cukur itu.

“Apakah ini?” ia bertanya kepadaku.

“Aku telah bertekad,” aku menjelaskan. “hadiah yang pertama sekali kuperoleh akan kuberikan kepadamu. Uang itu baru saja kuterima.”

Tetapi si tukang cukur menjawab :

“Tidakkah engkau malu kepada Allah?” Engkau telah mengatakan kepadaku : “Demi Allah, cukurlah rambutku,” tetapi kemudian engkau memberi hadiah kepadaku. Pernahkah engkau menjumpai seseorang yang melakukan sesuatu perbuatan demi Allah dan meminta bayaran?.”

oooOOOooo

Seorang pencuri telah dihukum gantung di kota Baghdad. Ab. “ul Qasim al-Junaid datang dan mencium kakinya.

“Mengapa engkau berbuat demikian?.” Orang–orang  bertanya kepada Abul Qasim al-Junaid.

“Semoga seribu belas kasih Allah dilimpahkan-Nya kepadanya,” jawab Abul Qasim al-Junaid.

“Semoga seribu belas kasih Allah dilimpahkan-Nya kepadanya,” jawab Abul Qasim al-Junaid. “Ia tlah membuktikan bahwa dirinya setia di dalam usahanya. Sedemikian sempurna ia melakukan pekerjaannya sehingga utnuk itu direlakannya hidupnya.”

oooOOOooo

Pada suatu malam seorang pencuri menyusup masuk ke rumah dan masuk ke kamar Abul Qasim al-Junaid. Tak sesuatu pun yang ditemukannya kecuali sehelai pakaian. Pakaian itu diambilnya, seteelah itu ia pergi meninggalkan rumah Abul Qasim al-Junaid. Keesokan harinya ketika Abul Qasim al-Junaid sedang berjalan-jalan di pasar, dilihatnya pakaiannya itu di tangan seorang pedagang perantara yang sedang menawarkan kepada seorang pembeli.

Calon pembeli itu berkata :

“Sebelum kubeli pakaian ini aku meminta seseorang yang ssanggup memberi kesaksian bahwa pakaian itu memang kepunyaanmu.”

“Akulah yang akan memberi kesaksian bahwa pakaian itu adalah miliknya.” Abul Qasim al-Junaid berkata sambil menghampiri mereka.

Maka pakaian itu pun terkjuallah.

oooOOOooo

Seorang perempuan tua datang menghadap Abul Qasim al-Junaid dan bermohon, “Puteraku pergi entah ke mana doa kanlah agar ia kembali.”

“Bersabarlah,” Abul Qasim al-Junaid menasehati perempuan tua itu.

Dengan sabar perempuan tua itu menanti beberapa hari lamanya. Kemudian ia kembali kepada Abul Qasim al-Junaid.

“Bersabarlah,” Abul Qasim al-Junaid mengulangi nasehatnya.

Kejadian seperti ini telah beberapa kali berulang. Akhirnya wanita tua itu datang dan berkata lantang, “Aku sudah tak dapat bersabar lebih lama lagi. Doakanlah kepada Allah.”

Abul Qasim al-Junaid menjawab : “Jika engkau berkata dengan sebenarnya, puteramu tentu telah kembali. Allah berkata : Dialah yang akan menjawab orang yang berduka apabila orang itu menyeru kepada-Nya.”

Setelah itu Abul Qasim al-Junaid berdoa kepda Allah. Ketika perempuan sampai di rumahnya ternyata anaknya telah berada di sana.

oooOOOooo

Seorang murid mengira bahwa dirinya telah mencapai derajat kesempurnaan.

“Oleh karena itu lebih baik aku menyendiri,” ia berkta dalam hatinya.

Maka pergilah ia mengasingkan diri di suatu tempat dan untuk beberapa lamanya berdiam di sana. Setiap malam beberapa orang yang membawa seekor unta datang kepadanya dan berkata : “Kami akan mengatarmu ke surga,” Maka naiklah ia ke atas punggung unta. Itu dan mereka pun berangkat ke suatu tempat yang indah dan nyaman, penuh dengan manusia-,anusia gagah dan tampan, di mana banyak terdapat mekanan-makanan lezat dan anak-anak sungai. DI tempat itu ia tinggal hingga fajar, kemudian ia jatuh tertidur dan ketika terjaga ternyata ia berada di kamarnya sendiri kembali. Karena pengalaman ini, ia menjadi bangga dan angkuh.

“Setiap malam aku diantarkan ke surga,” ia membanggakan dirinya.

Kata-katanya ini terdengar oleh Abul Qasim al-Junaid. Abul Qasim al-Junaid segera bangkit dan datang ke tampat di mana ia mendapatkan muridnya itu sedang berlagak dengan sangat angkuhnya. Abul Qasim al-Junaid bertanya apakah yang telah dialaminya dan si murid mengisahkan seluruh pengalamannya ini kepada syeikh.

“Malam nanti apabila engkau diantarkan ke sana,” Abul Qasim al-Junaid berkata kepada muridnya itu, “ucapkanlah : “Tiada kekuasaan dan kekuatan kecuali pada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar.”

Malam itu, seperti baisanya si murid diantarkan pula ke tempat tersebut. Dalam hatinya ia tidak yakin terhadap perkataan syeikh Abul Qasim al-Junaid, tetapi ketika sampai di tempat itu, sekedar sebagai percobaan ia mengucapkan : Tiada kekuasaan dan kekuatan..........”.

Sesaat itu pula orang-orang yang berada di tempat itu meraung-raung dan melarikan diri. Kemudian terlihatlah olehnya bahwa tempat itu hanyalah tempat pembuangan sampah sedang dihadapannya berserakan tulang-tulang binatang. Setelah menyadari kekeliruannya itu, si murid bertaubat dan bergabung denganm murid-murid Abul Qasim al-Junaid yag lain. Tahulah ia bahwa menyendiri bagi seorang murid adalah bagaikan racun yang mematikan.

oooOOOooo

Salah seorag murid Abul Qasim al-Junaid menyendiri di sebuah tempat yang terpencil di kota Bashrah. Suatu malam, sebuah pikiran buruk terlints di dalam hatiny. Ketika ia memandang ke dalam cermin terlihatlah olehnya betapa wajahnya telah berubah hitam. Ia sangat terperanjat. Segala daya uapaya dilakukan untuk membersihakan wajahnya, tetapi sia-sia. Sedemikian malunya dia sehingga tidak berani menunjukan mukanya kepada siapa pun. Setelah tiga hari berlalu, barulah kehitaman wajahnya kembali normal sedekit demi sedikit.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.

“Siapakah itu,” ia bertanya.

“Aku datang untuk mengantar surat dari Abul Qasim al-Junaid,” sebuah sahutan dari luar.

Si Murid membuka surat Abul Qasim al-Junaid.

“Mengapa tidak engkau jaga tingkah lakumu di hadapan Yang Maha Besar. Telah tiga hari tiga malam aku bekerja sebagai seorang tukang celup untuk memutihkan kembali wajahmu yang hitam itu.”

oooOOOooo

Sutu hari, salah seorang murid Abul Qasim al-Junaid melakukan suatu kesalahan kecil. Karena malu ia melarikan diri dan tidak mau pulag. Beberapa hari kemudian, ketika berjalan-jalan dengan sahabt-sahabat di dalam pasar, tiba-tiba terlihatlah oleh Abul Qasim al-Junaid muridnya itu. Si murid lari karena malu.

“Seekor burung kita terlepas dari sangkar,” Abul Qasim al-Junaid berseru kepada sahabt-sahabatnya dan mengejar si murid.

Ketika menoleh ke belakang, si murid melihat bahwaa Syeikh membuntutinya. Mak ia pun mempercepat larinya. Akhirnya ia bertemu jalan buntu, karena malu ia tetap menghadapkan mukanya ke tembok. Tak lama kemudian si syeikh telah berada di tempat itu.

“Hendak ke manakah engkau guru?,” si murid bertnya kepada Abul Qasim al-Junaid.

“Apabila seseorang membentur dinding, seorang syeikh dapat membeikan bantuannya,” jawab Abul Qasim al-Junaid.

Murid itu dibawanya pulang ke Tekkia. Sesampainya di sana si murid menjatuhkan dirinya di depan kaki san g guru dan memohon ampun kepada Allah. Semua yang yang menyaksikan pemandangan ini tergugah hatinya, banyak di antara mereka yang ikut bertaubat.

oooOOOooo

Syeikh Abul Qasim al-Junaid mempunyai seorang murid yang dicintainya melebihi muridnya yang lain. Murid-murid lain merasa iri, hal ini disadari oleh syeikh melalui intuisi mistiknya.

“Sesungguhnya ia melebihi kalian di dalam tingkah laku dan tingkat pemahamannya,” Abul Qasim al-Junaid menjelaskan kepada mereka. “Begitulah menurut pendapatku. Tetapi mari kita membuat sebuah percobaab agar kalian semua menyadari hal itu.”

Kemudian Abul Qasim al-Junaid memerintahkan agar dua puluh ekor burung dibawakan kepadanya.

“Ambil burung-burung ini oleh kalian, seekor seorang,” Abul Qasim al-Junaid berkata kepada murid-muridnya. “Bawalah burung itu ke suatu tempat yang tak terlihat oleh siapa pun juga, kemudian bunuhlah. Setelah itu bawalah kembali ke sini.

Setiap murid pergi dengan membawa seekor burung, membunuh burung itu dan membawa bangkainya kembali, kecuali murid kesayangan Abul Qasim al-Junaid itu. Ia pulang dengan membawa seekor burung yang masih hidup.

“Mengapa tak kau bunuh burungmu itu?.” Abul Qasim al-Junaid bertanya kepadanya.

“Karena guru mengatakan hal itu harus dilakukan di suatu tempa yang tidak dapat dilihat oleh siapapun juga,” jawab si murid. “Dan ke mana pun aku pergi, Allah senantiasa menyaksikannya.”

“Kalian saksikanlah tingkat pemahamannya!.” Abul Qasim al-Junaid berkata kepada seluruh muridnya. “Bandingkanlah dengan yang lain-lainnya.”

Semua murid Abul Qasim al-Junaid segera mohon ampunan Allah.

oooOOOooo

Abul Qasim al-Junaid mempunyai delapan orang murid istimewa yang melaksanakan setiap buah pikirannya. Pada suatu har, terpikirkan oleh mereka bahwa mereka harus terjun ke perang suci. Keesokan paginya Abul Qasim al-Junaid menyuruh pelayannya mempersiapkan perlengkapan perang. Beserta ke delapan murid tersebut ia lalu berangkat ke medan perang.

Ketika kedua belah pihak yang bertempur saling berhadapan, tampillah seorang satria perkasa dari pasukan kafir itu, lantas dibinasakannya ke delapan murid Abul Qasim al-Junaid.

“Aku menengadah ke langit,” Abul Qasim al-Junaid mengisahkan, “dan di sana terlihat olehku sembilan buah usungan. Roh masing-masing dari ke delapan muridku yang syahid itu di angkat ke sebuah usungan; jadi masih ada stu usungan yang kosong. “Usungan yang masih kosong itu tentulah untukku,” aku berpikir dan karena itu aku pun mencebur kembali ke dalam kancah pertempuran. Tetapi satria perkasa yang telah membunuh ke delapan sahabatku itu tampil dan berkata : “Abul Qasim al-Junaid, usungan yang ke sembilan itu adalah untuk ku. Kembalilah ke Baghdad dan jadilah seorang syeikh untuk kaum Muslimin. Dan bawalah aku ke dalam Islam.”

 “Maka jadilah ia seorng Muslim. Dengan pedang yang telah digunakannya untuk membunuh ke delapan muridku itu ia pun berbalik membunuh orang-orang kafir dalam jumlah yang sama. Kemudian ia sendiri terbunuh sebagai seorang syuhada. Rohnya.” Abul Qasim al-Junaid mengakhiri kisahnya. “ditaruh ke atas usungan yang masih kosong tadi. Kemudian kesembilan usungan itu menghilang tidak terlihat lagi.”

oooOOOooo

Seorang sayyid bernama Nairi, sedang melakukan perjalanan ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Ketika sampai di Baghdad ia pun pergi mengunjungi Abul Qasim al-Junaid.

“Dari manakah engkau datang sayyid?.” Abul Qasim al-Junaid bertnya setelah menjawab salam.

“Aku datang dari Ghilan,” jawab sangn sayyid..

“Keturunan siapakah engkau?.” Tanya Abul Qasim al-Junaid.

“Aku adalah keturunan ‘Ali, pangeran kaum Muslimin, semoga Allah memberkatinya.” Jawabnya.

“Nenek moyang mu itu bersenjatakan dua bilah pedang,” ujar Abul Qasim al-Junaid. “Yang satu untuk melawwan orang-orang kafir dan yang lainnya untuk melawan dirinya sendiri. Pada saat ini, sebagai puteranya, pedang manakah yang engkau gunakan?.”

Sang sayyid menangis sedih mendengar kata-kata ini. Di rebahkannya dirinya di depan Abul Qasim al-Junaid dan berkatalah ia :

“Guru, di sinilah ibdah hajiku. Tunjukanlah kepadaku jalan menuju Allah.”

“Dadamu adalah tempt bernaung Allah. Usahakanlah sedaya upayamu agar tidak ada yang cemar memasuki tempat bernaung-Nya itu.”

“Hanya itulah yang ingin ku ketahui,” si sayyid berkata.

JUNAID MENINGGAL DUNIA

Keika ajalnya sudah dekat, Abul Qasim al-Junaid menyuruh sahabt-sahabtnya untuk membentangkan meja da mempersiapkan makanan.

“Aku ingin menghembuskan nafasku yang terakhir ketika sahabat-sahabatku sedang menyantap seporsi sop.” Abul Qasim al-Junaid berkata.

Kesakitan petama menyerang dirinya.

“Berilah aku air utuk bersuci,” ia meminta kepada sahabt-sahabatnya.

Tanpa disengaja mereka lupa membersihkan sela-sela jari tangannya. Atas permintaan Abul Qasim al-Junaid sendiri kekhilafan ini mereka perbaiki. Kemudian Abul Qasim al-Junaid bersujud sambil menangis.

“Wahai ketua kami,” murid-muridnya menegurnya. “dengan semua pengabdian dan kepatuhanmu kepada Allah seperti yang telah engkau lakukan, mengapakah engkau bersujud pada saat-saat seperti ini?.”

“Tidak pernah aku merasa perlu bersujud daripada saat-saat ini,” jawab Abul Qasim al-Junaid.

Kemudian Abul Qasim al-Junaid membaca ayat-ayat al-Qur’an tanpa henti-hentinya.

“Dan engkaupun membaca al-Qur’an?.” Salah seorang muridnya bertanya.

“Siapakah yang lebih berhak daripadaku membaca al-Qur’an, karena aku tahu bahwa sebentar lagi catatan kehidupanku akan di gulung dan akan kulihat pengabdian dan kepatuhanku selama tujuh puluh tahun tergantung di angkasa pada sehelai benang. Kemudian angin bertiuap dan mengayunkan ke sana ke mari, hingga aku tak tahu, apakah angin itu akan memisahkan atau mempertemukanku dengan-Nya. Di sebelahku akan membentang sebing pemisah surga dan neraka, dan di sebelah yang lain malaikat maut. Hakim yang adil akan menantikanku di sana, teguh tak tergoyahkan di dalam keadilan yang sempurna. Sebuah jaan telah terbentang di hadapanku dan aku tak tahu kemana aku hendak dibawa.”

Setelah tamat dengan a;-Qur’an yang dibacanya, dilanjutkannya pula tujuh puluh ayat dari surat al-Baqarah.

Kesakitan ke dua menyerang Abul Qasim al-Junaid.

“Sebutlah nama Allah,” sahabat-sahabatnya membisikkan.

“Aku tidak lupa,” jawab Abul Qasim al-Junaid. Tangannya meraih tasbih dan keempat jarinya kaku mencengkeram tasbih itu, sehingga salah seorang muridnya harus melepaskannya.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,” Abul Qasim al-Junaid berseru, kemudian menutup matanya dan sampailah ajalnya.

Ketika jenazahnya dimandikan, salah seorang yang ikut memandikannya bermasud membasuh matanya. Tetapi sebuah suara dari langit mencegah : “Lepaskan tanganmu dari mata sahabat-Ku. Matanya tertutup bersama nama-Ku dan tidak akan dibukakan kembali kecuali ketika dia menghadap-Ku nanti,” kemudian ia hendak membuka jari-jari Junaid untuk dibasuhnya. Sekali lagi terdengar suara mencegah : “Jari-jari yang telah kaku bersama nama-Ku tidak akan dibukakan kecuali melalui perintah-Ku.”

Ketika jenazah Abul Qasim al-Junaid diusung, seekor burung dara berbulu putih hinggap di sudut petimatinya. Percuma saja para sahabat mencoba mengusir burung itu. Karena ia tak mau pergi. Akhirnya burung itu berekata :

“Jaganlah kalian menyussahkan diri kalian sendiri dan menyusahkan aku. Cakar-cakarku telah tertancap di sudut peti mati ini oleh paku cinta. Itulah sebabnya aku hinggap di sini. Janganlah kalian bersusah payah. Sejak saat itu jazadnya dirawat oleh para malaikat. Jika bukan karena kegaduhan yang kalian buat, niscaya jazad Abul Qasim al-Junaid telah terbang ke angkasa sebgai seekor elang putih bersama-sama dengan kami.”

Abu Abdullah ‘Amr bin ‘Utsman al-Makkiy, salah seorang murid Junaid, mengunjungi Isfahan dan meninggal dunia di  kota Baghdad pada tahun 291 H/ 904 M. Atau pada tahun 297H/910 M.

‘AMR BIN ‘UTSMAN AL-MAKKIY DAN KITAB RAHASIA

Suatu hari ‘Amr bin ‘Utsman al-Makkiy menterjemahkan Kitab Rahasia di atas sehelai kertas.Kertas tersebut ditaruhnya di bawah sajadahnya. Ketika ia pergi bersuci, saat itu ia dengar ada kegaduhan, lalu ia menyuruh seorang hamba untuk mengambil kertas tesebut. Si hamba membalik sajadah itu, ternyata kertaas tersebut telah hilang. Hal ini segera dismpaikannya kepada tuannya.

“Buku itu telah hilang dicuri orang.” ‘Amr bin ‘Utsman al-Makkiy berkata. Kemudian aia menambahkan. “Orang mencuri Kitab Rahasia itu niscaya dalam waktu dekat ini akan dipotong kaki dan tangannya. Ia akan dimasukan ke dalam kurungan, kemudian dibakar dan abunya akan diterbangkan angin. Pada saat ini pastilah ia telah sampai ke tempat Rahasia itu.”

Sesungguhnya inilah yang tertulis di dalam Kitab Rahasia itu : Ketika roh ditiupkan ke dalam tubuh Adam, Allah memereintahkan kepada semua malaikat untuk bersujud kepadanya. Semuanya bersujud ke atas tanah. Tetapi Iblis berkata : “Aku tidak mau bersujud. Akan kupertaruhkan hidupku, dan akan kulihat rahasia manusia itu walaupun karena itu aku akan dikutuk, disebut ingkar, berdosa dan munafik.”

Iblis tidak besujud. Oleh karena itulah ia dapat melihat dan mengetahui rahasia manusia, dan hanya manusia sajalah yang mengetahui rahasia Iblis. Jadi Iblis dapat mengetahui rahasia manusia karen ia tidak mau bersujud dan karena tak bersujud iatulah ia memegang sebuah rahasia. Semua makhluk membenci Iblis karena rahasia mereka telha dilihatnya.

“Kami telah menguburkan rahasia itu dai dalam tanah,” mereka berkata. “Syarat untuk mendapatkan rahasia ini adalah seseorang yang melihatnya akan dipenggal kepalanya agar rahasia ini tidak dibocorkannya.”

“Di dalam hal ini, berilah aku kelonggaran,” si Iblis berseru, “Janganlah kalian membunuhku. Sesungguhnya aku telah mengetahui rahasia itu. Rahasia itu diperlihatkan kepadaku sewaktu mataku ini awas.”

Pedang Aku Tak Perduli berkumandang :

“Engkau adalah di antara orang-orang yang diberi kelonggaran. Kami beri engkau kelonggaran, tetapi Kami membuat manusia waspada terhadapmu. Jadi walau engkau tidak Kami binasakan, engkau akan dicurigai dan di cap sebagai pendusta, dan tak seorang pun yang akan menganggapmu sebagai pemuka kebenaran. Mereka akan bekata : “Ia adalah sebangsa jin dan telah mengingkari perintah Allah.”

Ia adalah syaithan. Betapakah ia akan mengatakan kebenaran? Oleh karena itulah ia dilaknat, ditolak, ditinggalkan dan di abaikan.

Demikianlah terjemahan Kitab Rahasia oleh ‘Amr bin ‘Utsman al-Makkiy.

‘AMM BIN ‘UTSMAN MENGENAI CINTA

Di dalam kitab mengenai Cinta, ‘Amr bin ‘Utsman al-Makkiy menyatakan sebagaiberikut : “Allh Yang Maha besar menciptakan hari, tujuh puluh ribu tahun sebelum sukma, dan hati itu dimasukkan-Nya ke dalam Taman Shilaturrahmi. Dia menciptakan rahasia, tujuh puluh ribu tahun sebelum hati, dan rahasia ini dimasukkan-Nya ke derajat keesaan.

Setiap hari Allah memperlihatkan tiga ratus enam pulluh kali karunia dan memperdengarkan tiga ratus enam puluh kata cinta kepada sukma. Setiap hari diperlihatkan-Nya tiga ratus enam puluh kali keindahan kepada rahasia.

Maka mereka dapat melihat segala sesuatu di dalam dunia ini. Dan mereka menyangka bahwa tiada sesuatu pun yang lebih berharga daripada mereka. Kesombongan dan keangkuhan terwujud di dalam diri mereka.

Oleh karena itu, Allah menguji mereka. Disembunyikan-Nya rahasia di dalam sukma dan disembunyikan-Nya sukma di dalam hati. Kemudian disembunyikan-Nya hati di dalam jasmani. Kemudian diberi-Nya akal kepada mereka.

Allah mengutus para Nabi dengan perintah-perintah-Nya. Dan setiap orang di antara mereka berusaha mencari tempatnya masing-masing. Allah memerintahkan agar mereka shalat, maka jasmani pun melakukan shalat, hati mencapai cinta, sukma menjadi lebih dekat kepada-Nya dan rahasia berpadu dengan keesaan.

“AMR BIN UTSMAN BERKIRIM SURAT KEPADA JUNAID

Ketika berada di Mekkah, ‘Amr bin ‘Utsman al-Makkiy menulis surat kepada Junaid, Jurairi dan Syibli di negeri Irak. Beginilah bunyi suratnya :

“Ketahuilah oleh kalian, wahai tokoh-tokoh terkemuka dan ketua-ketu di negeri Irak, bahw kalian harus mengatakan kepada setiap orang yang ingin berkunjung ke negeri Hijaz dan menyaksikan keindahan Ka’bah, Engkau tidak sampai ke sana kecuali dengan semangat yang gundah. Dan katakan kepada setiap orang yang menginginkan permadani kehampiran-Nya dan istana keagungan-Nya, Engkau tidak akan sampai ke sana kecuali dengan sukma yang gunda.”

Di akhir surat itu ‘Amr bin ‘Utsman al-Makkiy menulis, “Inilah pesan dari ‘Amr bin ‘Utsman al-Makkiy dan ketua-ketua negeri Hijaz yang senantiasa bersama Dia, di dalam Dia, dan karena Dia. Jika salah seorang di antara kamu mempunyai cita-cita yang luhur, maka katakanlah, kepadanya : Ambillah jalan ini di mana terdapat dua ribu gunung berapi yang menggelegar dan dua ribu samudra yang penuh badai dan mara bahaya. Jika engkau tidak sanggup, maka jangalah berlagak palsu, karena berlagak palsu tidak sesuatu pun dapat engkau peroleh.”

Seelah menerima surat itu, Junaid memanggil ketua-ketua negeri Irak untuk berkumpul. Kemudian setelah membacakan surat itu kepada mereka, Junaid bertanya :

“Apakah yang dimaksud dengan gunung-gunung di dalam surat ini?.”

“Yang dimaksud dengan gunung-gunung tersebut adalah ketiadaan,” jawab mereka, “Sebelum manusia seribu kali ditiadakan dan seribu kali dihidupkan kembali, ia tidak akan dapat mencapai istana keagungan.”

“Dan apa pula yang dimaksud di antara dua ribu gunung berapi it baru satu sajalah yang pernah ku daki,” kata Junaid.

“Engkau cukup beruntung karena tel melalui salah satu di antara gunung-gunung itu,” Jurairi berkata, “Hingga saat ini baru tiga langkah yag aku tempuh.”

Syibli menangis terisak-isak, kemudian berkata :

“Engkau beruntung  Junaid, karena telah melalui sebuha gunung. Dan Engkau pun beruntung Jurairi, karena telah menempuh tiga langkah. Hingga saat ini aku belum melihat debu-debunya baik dari kejauhan sekalipun.”

Abu Sa’id  Ahmad bin Isa al-Kharraz dari Baghdad adala seorang tukang sepatu, ia telah berjumpa dengan Dzun Nun al- Mishri, dan bersahabat dengan Bisyr al-Hafi dan Sari as. Saqathu. Dialah yag dianggap telah merumuskan doktrin mistik mengenai kelepasan (dari sipat-sipat manusiawi) dan kelanjutan (Di dalam sipat-sipat Ilahi). Banyak buku-buku yang telah ditulisnya dan sebagian di antaranya masih dapat diketemukan pada saat ini. Tanggal kematiannya belum dapat dipastikan, mungkin sekali antara tahun 279H/892 M dan 286H/899 M.

AJARAN ABU SA’ID AL-KHARRAZ

Abu Sa’id  al-Kharraz dijuluki sebagai “Lidah sufisme”. Dia mendapat julukan demikian karena tidak seorang pun di dalam masyarakat sufi ini yang dapat menerangkan kebenaran mistik seperti dia. Dia telah mengarang empat ratus buah buku dengan tema disasosiasi dan kekokohan dari segala macam pengaruh. Dan sesungguhnya dia aalah seorang tokoh yang sulit di cari tandingannya.

Abu Sa’id  al-Kharraz berasal dari Baghdad, pernah bertemu dengan Dzun Nun, dan bersahabat baik dengna Bisyr dan Sari as-Saqathi. Dialah tokoh sufi yang pertama sekali mengemukakan teori “Kelepasan” dan “Kelanjutan” dalam pengertian mistik dan memadarkan keseluruhan doktrinnya ke dalam kedua buah istilah ini. Theolog-theolog tertentu penganut eksoterik tiak setuju dengan ajaran-ajarannya yang pelik tersebut, dan menuduhnya telah berbuat fitnah karena ucapan-ucapan tertentu yang mereka jumpai di dalam karya-karyanya. Terutamasekali mereka mengecam “Kitab Rahasianya”, Khususnya satu bagian buku itu yang tidak dapat mereka pahami sebagaimana yang seharusnya. Di dalam bagian itulah Abu Sa’id mengatakan.

“Seorang hamba Allah yang telah kembali kepada Allah, mentautkan dirinya kepada Allah, dan berada di dekat Allah, maka ia sama sekali lupa kepada dirinya sendiri dan segala sesuatu kecuali Allah, sehingga apabila engkau bertanya kepadanya, apa yang dicarinya maka tak sesuatu pun jawaban yang diucapkannya kecuali “Allah,”Allah.”.

Bagian lain di dalam karya-karya Abu Sa’id  al-Kharraz yang sering dikecam adalah pernyataannya berikut ini ,

“Jika kepada salah seorang di antara tokoh-tokoh mistik ini ditanyakan, “Apakah yang engkau kehendaki,” maka jaabnya “Allah” jika di dalam keadaan seperti ini setiap anggota tubuhnya dapat berkata-kata, maka semuanya akan mengatakan “Allah”, “Allah,” Karena setiap anggota dan sendi-sendi tubuhnya telah bermandikan nur Allah sehingga ia pun hanyut ke dalam Allah. Begitu dekat ia kepada Allah sehingga tak seorang pun dapat mengatakan ‘Allah’ di depannya. Karena segala sesuatu yang bergerak dari realitas kepada realitas dan dari Allah kepada Allah. Karena bagi manusia kebanyakan tidak sesuatu jua pun berasal dari Allah, maka bagaimanakah mereka dapat mengucapkan “Allah”. Di sinilah semua akal dari manusia-manusia yang berpikir berakhir di dalam ketakjuban.”

oooOOOooo

Abu Sa’id  al-Kharraz pernah pula berkata :

“Kepada  semua manusia diberi pilihan, berada jauh atau dekat kepada Allah. Aku sendiri memilih berada jauh dari Allah, karena aku tidak kuat menanggungkan beban kehampiran itu. Secara sama, Lukman pernah berkata : “Kepadaku diberi pilihan, kebijaksanaan atau kesanggupan untuk melihat kejadian di masa mendatang. Aku memilih kebijaksanaan karena aku tidak kuat menanggungkan beban dari kesanggupan melihat ke masa depan itu.”

oooOOOooo

Abu Sa’id  al-Kharraz mengisahkan mimpi-mimpi yang berikut ini :

Pada suatu ketika aku bermipi dua malaikat turun dari langit dan bertanya kepadaku : “Apakah kesetiann itu?.” Aku pun menjawab, “Memenuhi perjanjian dengan Allah.” Jawabanmu benar.” Malaikat-malaikat itu berkata dan keduanya terbang lagi ke atas langit.

Kemudian aku bermimpi bertemu dengan Nabi, Ia bertanya kepadaku : “Apakah engkau mencintaiku kepada Allah, membuat aku tak sempat mencintaimu,” Kemudian Nabi berkata : “Barangsiapa mencintai Allah sesungguhnya ia mencintaiku pula.”

oooOOOooo

Dalam sebuah mimpi yang lain aku bertemu dengan Iblis. Aku mengambil sebuah tongkat untuk memukulnya. Tetapi di sat itu juga terdengar olehku seruan dari langit : “Ia tidak takut kepada tongkat itu, yang ditakutinya adalah cahaya di dalam hatimu.” Kemudian aku berkata kepada Iblis : “Kemarilah!”. Si Iblis menjawab : “Apalah dayaku terhadapmu? Engkau telah mencampakkan sesuatu yang dapat ku gunakan untuk menyesatkan manusia.” Apakah itu?”, tanyaku. “Dunia”, jawabnya. Kemudian ketika meninggalkan ku, ia menoleh ke belakang dan berkata : “Ada suatu hal kecil di dalam diri manusia yag dapat ku gunakan untuk mencapai tujuanku, “Apakah itu?, aku bertanya. “Duduk bersama dengan para remaja,” jawab Iblis.

Ketika berada di Damaskus, sekali lagi aku bertemu dengan Nabi di dlam mimpi. Sambil di topang oleh Abu Bakar dan ‘Umar, Nabi menghampiriku. Ketika itu aku sedang meneyenandungkan sebait syair sambil menepuk-nepuk dada. Nabi berkata akepadaku : “Keburukannya lebih besar dari kebaikannya.” Yang dimaksudnya adalah bahwa seseorang jangan suka bersyair.

oooOOOooo

Abu Sa’id  al-Kharraz mempunyai dua orang putera. Salah seorang nya telah meninggal dunia. Pada suatu malam Abu Sa’id  al-Kharraz bermimpi bertemu dengan puteranya yang telah meninggal dunia itu.

“Nak, apakah yang telah dilakukan Allah terhadapmu?.” Abu Sa’id  al-Kharraz bertanya.

“Dia membawaku ke hadirat-Nya dan banyak memberi kebahagiaan kepadaku.” Jawab puteranya.

“Nal, berilah aku petuah,” Abu Sa’id  al-Kharraz memohon kepada anaknya.

Puteranya menjawab : “Ayah, janganlah berpikiran suram mengenai Allah.”

“Lanjutkanlah!,” minta Abu Sa’id  al-Kharraz.

“Ayah, jika ku katakan niscaya engkau tidak akan sanggup melaksanakannya.”

“Aku bermohon kepada Allah untuk menguatkan diriku,” jawab Abu Sa’id  al-Kharraz.

“Ayah, jangan biarkan sehelai benang pun memisahkanmu dari Allah.”

Diriwayatkan bahwa selama tiga puluh tahun sejak ia bermimpi itu hingga wafatnya Abu Sa’id  al-Kharraz tidak pernah melupakan mimpinya itu.

Abul Husain Ahmad bin Muhammad an-Nuri, lahir di Baghdad dan keluarganya berasal dari Khurasan. Ia adalah murid Sari as-Saqathi dan sahabt karib al-Junaid. Sebagaia seorang tokoh sufi terkemuka di kota Baghdad ia telah mengubah berbagai syair mistis yang indah. Ia meninggal pada tahun 295H/908 M/

DISIPLIN DIRI ABDUL HUSAIN AN-NURI

Abul Husain Ahmad an-Nuri melakukan disiplin diri seperti yag dilakukan oleh Al-Juaid. Ia dijuluki Nuri (Manusia yang memperoleh cahaya) karena setiap kali ia berbicara di suatu ruangan pada malam yang gelap, dari mulutnya keluar cahaya sehingga seluruh ruangan tersebut menjadi terang. Alasan lain mengapa ia dijuluki  demikian adalah karena ia menjelaskan  rahasia-rahasia yang paling pelik dengan cahaya intuisi. Tetapi versi yang ketiga mengatakan  bahwa ia mempunyai sebuah tempat menyepi di tengah padang pasir, di mana ia biasa shalat di sepanjang malam dan apabila ia berada di tempat itu, orang-orang dapat menyaksikan cahaya yang memancar dari tempat tersebut.

Pada awal kehidupan mistiknya, setiap hari ia keluar rumah pagi-apgi sekali dan pergi ke tokoya untuk mengambil beberapa potong roti uantuk dibagi-bagikannya sebagai sedekah. Setelah itu barulah ia pergi ke masjid untuk shalat Shubuh dan tetap di situ sampai tengah hari. Kemudian ia baru pergi ke tokonya. Orang-orang di rumah menyangka bahwa ia telah makan di toko dan orang-orang di toko menyangka bahwa ia telah makan di rumah. Yang demikian dilakukannya secara terus menerus selama dua puluh tahun tanpa seorang pun yang mengetahui perihal yang sesungguhnya.

Mengenai dirinya sendiri, Abul Husain Ahmad an-Nuri berkisah sebagai berikut :

Bertahun-tahun aku berjuang, mengekang diri dan meninggalkan pergaulan ramai. Betapapun aku telah berusaha keras, namun jalan belum terbuka bagiku.

“Aku harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki diriku.” Aku berkata di dalam hati. “Jika tidak, biarlah aku mati terlepas dari hawa nafsu ini.”

“Wahai jasmaniku,” aku berkata. “Bertahun-tahun sudah engkau menuruti hawa nafsumu sendiri, makan, melihat, mendengar, berjalan-jalan, mengambil, tidur, bersenang-senang dan memuaskan hasratmu. Sungguh, semua itu akan mencelakakanmu. Sekarang masuk lah ke dalam penjara, akan ku belenggu dirimu dan kukalungkan kepada lehermu segala kewajiban kepada Allah. Jika engkau sanggup bertahan dalam keadaan seperti itu, engkau pasti meraih kebahagiaan. Tapi jika kau  tak sanggup maka setidaknya engkau akan mati di atas jalan Allah.”

Maka, berjalanlah aku di atas jalan Allah. Pernah ku dengar bahwa hati para mistik merupakan alat yang ama t awas danmengetahui rahasia segala sesuatu yang terlihat dan terdengar oleh mereka. Karena aku sendiri tak memiliki hati yang seperti itu, maka aku pun berkata kepada diriku sendiri : “Ucapan-ucapan para Nabi dan manusa-manusia suci adalah benar. Mungkin sekali aku telah bersikap munafik dalam usahaku selama ini, dan kegagalanku ini adalah karena kesalahanku sendiri. Di sini tak ada tempat untuk berbeda pendapat. Sekarang aku ingin merenungi diriku sendiri sehingga aku benar-benar mengenalnya.”

Maka, aku merenungi diriku sendiri. Ternyata kesalahanku adalah bahwa hati dan hawa nafsuku bersatu. Bila hati dan hawa nafsu berpadu, celakalah! Karena jika ada sesuatu yang menyinari hati, maka hawa nafsu akan menyerap sebagian daripadanya. Sadarlah aku bahwa hal inilah yang menjadi sumber dilemma yang ku hadapi selama ini. Segala sesuatu yang datang dari hadirat Allah ke dalam hatiku, sebagian diserap oleh hawa nafsuku.

Sejak saat itu, segala perbuatan yang diperkenankan oleh hawa nafsuku tidak ku lakukan. Yang aku lakukan adalah hal-hal lain yang tak disukainya. Misalnya, apabila hawa nafsuku berkenan jika aku Shalat, berpuasa, bersedekah, menyepi atau bergaul dengan sahabt-sahabatku, maka aku melakukan hal yang sebaliknya. Akhirnya segala hal yang diperkenankan hawa nafsuku dapat ku buang dan rahasia-rahasia mistik mulai terbuka di dalam diriku.

“Siapakah engkau,” aku bertanya..

“Aku adalah mutiara dari Lubuk Tanpa Hasyrat.” Terdengar jawaban. “Katakan kepada murid-muridmu, lubukku adalah Lubuk Tanpa Hasyrat dan mutiaraku adalah Mutiara dari Lubuk Tanpa maksud.”

Keudian aku turun ke sungai Tigris dan berdiri di antara dua buah biduk.

“Aku tidak akan beranjak dari tempat ini,” aku berkata. “sebelum ikan terjerat ke dalam jalaku.”

Akhirnya masuklah seekor ikan ke dalam jalaku. Ketika ku angkat jalaku itu, akupun berseru : “Alhamdulillah, perjuanganku telah berhasil.”

Aku menunjungi Junaid dan berkata kepadanya : “Sebuah karunia telah dilimpahkan kepdaku.”

“Abul Husain Ahmad an-Nuri, junaid menjawab, “Jika yang terjerat oleh jalamu itu adalah seekor ular, bukan seekor ikan, itulah pertanda sebuah karunia. Karena engkau sendiri telah campur tangan. Hal itu hanyalah sebuah tipuan, bukan sebuah karunia. Tanda dari suatu karunia adalah bahwa engkau sama sekali tidak ada di sana lagi.”

NURI DI DEPAN KHALIFAH

Ketika Ghulam Khalil menyatakan perang terhadap para sufi, ia pergi menghadap khlaifah dan mencela mereka.

“Orang-orang telah menyaksikan beberapa kelompok sufi berdendang-dendang, menari-nari dan menghujjah Allah. Sepanjang hari mereka berjalan hilir mudik, dan di malam hari mereka bersembunyi di dalam kuburan-kuburan di bawah tanah, dan berkhotbah. Sufi-sufi ini adalah manusia-manusia bid’ah. Seandainya pangeran kaum Muslimin bersedia mengeluarkan perintah agar sufi- \sufi ini dibunuh, niscaya doktrin bid’ah akan musnah, karena sesungguhnya mereka itulah pemimpin-pemimmpin para bid’ah. Jika hal ini dilakukan oleh pangeran kaum Muslimin, aku jamin bahwa ia akan memperoleh pahala yang berlimpah.”

Khalifah segera memerintahkan agar Abul Hamzah, Raqqam, Syibli, Nuri dan Junaid dibawa ke hadapannya. Setelah semuanya berkumpul, khalifah memerintahkan agar mereka dibunuh. Algojo mula-mula hendak memancung Raqqam tetapi nuri meloncat, menerjang maju dan berdiri menggantikan Raqqam.

“Bunuhlah aku yang sedang tertawa-tawa bahagia ini terlebih dahulu,” kata Nuri.

“Belum tiba giliranmu.” Jawab si algojo, “ sebuah pedang bukanlah sebuah senjata yang harus dipergunakan secara tergesa-gesa.”

“Janalnku ini berdasarkan kecintaan,” Nuri menjelaskan, “Aku lebih mencintai sahabatku daripada diriku sendiri. Yang paling berharga di atas dunia ini adalah kehidupan. Aku ingin memberikan beberapa saat kehidupan kepada Saudara-saudaraku ini, karena  itulah aku ingin mengorbankan hidupku  sendiri, walau aku berpendapat bahwa sesaat di atas dunia dalah jau lebih berharga daripada seribu tahun di akhirat. Dunia ini adalah tempat berbakti di akhirat adalah tempat ygn dekat kepada Allah, sedang untuk menghampiri-Nya harus berbakti kepada-Nya.”

Ucapan-ucapa Nuri ini disampaikan kepada khalifah yang menjadi sangat kagum karena ketulusan dan kejujuran Nuri itu. Maka diperintahkannya agar hukuman itu ditangguhkan dan persoalan mereka diserahkan kepada qadhi.

“Mereka tak dapat dintuntut tanpa bukti-bukti,” si qdhi menjelaskan. Sesungguhnya si qadhi telah mendengarkan khotbah-khotbah Nuri dan mengetahui keahlian Nuri dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Maka berpalinglah ia kepada Syibli. “Akan ku tanyakan orang gila ini mengenai sesuatu bidang yang tidak akan sanggup dijawabnya,” ia berkata di alam hati.

“Berapakah yang dizakatkan seseorang bila ia memiliki uang dua puluh dinar?.” Si qadhi bertanya kepada Sybli.

“Dua puluh setengah dinar,” jawab Sybli.

“Siapakah yangmenetapkan zakat yang sebesar itu?.” Si qadhi menanya.

“Abu Bakar yang agung,” Jawab Sybli, “Ia memberikan semua yang dimilikinya sebanyak empat puluh ribu dinar sebagai zakat.” Jawab Sybli.

“Ya, tetapi mengapakah engkau tadi menambahkan setengah dinar?.

“Sebagai denda.” Jawab Sybli, “Ia telah menyimpan uang dua puluh dinar dan oleh karena itu ia harus membayar setengah dinar sebagai dendanya.”

Kemudian si qadhi berpaling kepada Nuri dan mempertanyakan sebuah masalah hukum. Nuri segera memberi sebuah jawaban yang membuat si qadhi bingung, Nuri memberi penjelasan.

“Qadhi, engkau telah mengajukan semua pertanyaan-pertanyaan ini, tetapi tak satu pun di antaranya yang penting. Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang berdiri karena Dia, yang berjalan dan beristirahat karena Dia, yang hidup karena Dia dan berdiam diri merenungi-Nya. Apabila sesaat saja mereka berhenti merenungi-Nya nisaya binasalah mereka. Melalui Dia mereka tidur, melalui Dia mereka makan, melalui Dia mereka menerima, berjalan, melihat, mendengar dan melalui Dia mereka ada. Inilah ilmu yang sesungguhnya, bukan yang engkau pertanyakan itu.”

Si qadhi terbungkan ak dapat berkata apa-apa. Kemudian ia mengirim surat kepada khalifah.

“Jika orang-orang seperti mereka ini dianggap sebagai orang yang tiada bertuhan dan bid’ah, maka keputusanku adalah bahwa seluruh dunia ini tiada seorang pun yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa.”

Khalifah memerintahkan agar tahanan-tahanan itu di bawa ke hadapannya.

“Adakah sesuatu hal yang kalian inginkan?.” Khalifah bertanya kepada mereka.

“Ada” mereka menjawab. “Kami ingin agar engkau melupaka kami. Kami ingin agar engkau tidak memuliakan kami dengan restumu dan tidak mengusir kami dengan murkamu, karena bagi kami, kemurkaanmu itu sma dengan restumu, dan restumu itu sama dengan kemurkaanmu.”

Khalifah menangis dengan hati yang tersayat dan membebaskan mereka dengan segala hormat.

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI NURI

Pada suatu hari  melihat seseorang yang sedang shalat sambil memutar-mutar kumisnya.

“Janganlah engkau sentuh kumis Allah,” Nuri menghardiknya.

Seruan itu dilaporkan orang kepada Khalifah. Ahli-ahli hukum sudah sepakat bahwa ucapan seperti itu, berarti Nuri telah tergelincir ke dalam kekafiran. Oleh karena itu, Nuri dihadapkan kepada khalifah.

“Benarkah engkau telah mengucapkan kata-kata seperti itu?.” Tanya khalifah.

“Benar,” jawab Nuri.

“Mengapa engkau berkata demikian?.” Tanya khalifah lagi.

“Siapakah yang memilik hamba Allah?.” Nuri balik bertanya kepada khalifah.

“Allah,” jawab khalifah.

“Siapakah yang memiliki kumis hamba-Nya itu?,” Nuri melanjutkan.

“Dia yang memiliki si hamba,” jaab khalifah.

Di kemudian hari khalifah berkata : “Aku bersyukur kepada Allah karena Dia telah mencegahku untuk membinasakan Nuri.”

“Di kejauhan yang tak terlihat, nampaklah oleh ku sebuah cahaya,” Nuri berkata, “aku tersu menatapnya hingga aku sendirilah yang menjadi cahaya itu.”

oooOOOooo

Pada suatu hari Junaid mengujungi Abul Husain Ahmad an-Nuri. Sesampainya di rumah Abul Husain Ahmad an-Nuri, Abul Husain Ahmad an-Nuri menyambut kedatangannya denga  merebahkan diri di depan Junaid. Kemudian Nuri mengeluh karena ia telah diperlakukan secara tidak adil.

“Perjuanganmu semakin berat, sedangkan engkau sudah kehabisan tenaga. Selama tiga puluh tahun ini. apabila Dia ada, maka akupun tiada, dan apabila aku ada, maka Dia pun tiada. Ada-Nya adalah tiadaku. Semua permohonan-permohonanku dijawab-Nya dengan ‘Aku sajalah yang ada, atau engkau saja.”

Junaid berkata kepaa sahabt-sahabatnya : “Saksikanlah oleh kalian seorang manusia yang telah mengalami percobaan yang semakin beratnya dan telah bingung dibau Allah.”.

Kemudian Junaid berpaling kepda Nuri dan berkata :

“Memang begitulah seharusnya. Dia tertutup oleh engkau. Apabila Dia terlihat melalui engkau meka engkau menjadi tiada dan segala yang ada adalah Dia.

oooOOOooo

Beberapa sahabt mengunjungi Junaid dan berkata : “Telah beberpa hari ini, baik siang maupun malam, dengan membawa sebuah batu di tangannya Abul Husain Ahmad an-Nuri berjalan hilir mudik sambil berteriak-teriak : “Allah, Allah,” Dan selama itu ia tidak makan, tidak minum dan tidak tidur tetapi ia tetap melakukan shalat tepat pada waktunya dan pernah melalaikannya.”

Kemudian mereka berkata :

“Ia masih waras dan belum beralih ke dalam keadaan lupa diri. Hal ini terbukti karena ia masih ingat kapan harus melakukan shalat dan masih dapat melakukannya. Itulah tanda bahwa ia masih sadar dan belum lupa diri. Seseorang yang telah lupa diri takkan sadar akan sesuatu pun.”

“Bukan demikian halnya,” Junaid menjawab, “Semuanya yang kalian katakan itu tidak benar. Sesungguhnya manusia-manusia yang memuji-muji Allah, mereka akan dipelihara , dan di jaga Allah agar mereka tidak lalai beribadah kepada-Nya, apabila tiba saatnya bagi mereka untuk beribadah.

Junaid kemudian pergi mengunjungi Nuri.

“Abul Husain”  ia berkata kepada Abul Husain Ahmad an-Nuri, “Jika engkau memang tahu bahwa dengan berteriak-teriak  itu Allah berkenan kepadamu, katakanlah kepadaku agar aku akan berteriak-teriak pula. Jika engkau memang tahu bahwa kepuasan bersama Dia adalah lebih baik, maka pergilah menyepi sehingga bathinmu memperoleh damai.”

Abul Husain Ahmad an-Nuri segera menghentikan teriak-teriakannya itu. “engkau memang seorang guru sejati,” katanya kepada Junaid.

oooOOOooo

Sybli sedang berkhotbah ketika Abul Husain Ahmad an-Nuri masuk dan berdiri di sisinya.

“Sejahteralah engkau wahai Abu Bakar!.” Abul Husain Ahmad an-Nuri mengucap salam kepada Sibli.

“Semoga engkau pun memperoleh sejahtera, wahai pangeran di antara manusia-manusia yang murah hati,” Sibli membalas salamnya.

Abul Husain Ahmad an-Nuri berkata : “Allah Yang Maha Besar tidak senang terhadap seorang berilmu yang mengajarkan ilmunya sedan ia sendiri tidak melaksanakannya. Jika engkau melaksanakan hal-hal yang engkau ajarkan ini tetapi di atas mimbar itu, Jika tidak, turunlah.”

Sybli merenung. Ternyata ia sendiri tidak melaksanakan hal-hal yang dikhotbahkannya itu. Oleh karena itu ia pun turun dari atas mimbar itu. Selama empat bulan ia mengunci diri dan tak pernah keluar dari rumahnya. Kemudian dengan berbondong-bondong orang mendatangi Sybli, membawa dan menyruhnya berbicara di atas mimbar. Hal ini terdengar oleh Abul Husain Ahmad an-Nuri dan ia pun segera ke tempat itu.

“Abu Bakar,” Nuri berseru kepada Sybli. “Engkau menyembunyikan kebenaran dari mereka, jadi wajarlah apabila mereka menyuruhmu berbicara di atas mimbar. Aku sendiri dengan setulus hati telah mencoba manasehati mereka tetapi mereka mengusirku dengan lontaran batu dan melemparkanku ke termpat sampah.”

“Wahai pangeran di antara manusia-manusia yang murah hati. Apakah naseehat yang hendak kau sampaikan itu dan apakah kebenaran yang aku sembunyikan itu?.” Sybli bertanya kepada Nuri.

“Nasehatku,” Abul Husain Ahmad an-Nuri menjawab, “biarkanlah manusia pergi kepada Tuhannya. Rahasia yang engkau sembunyikan adalah bahwa engkau menjaid sebuah tirai yang memishkan Allah dari manusia. Siapakah engkau ini sebenarnya sehingga engkau menjadi penengah di antara Allah dengan ummat manusia sedangkan menurut pandanganku engkau belum patut dimuliakan seperti itu?.”

oooOOOooo

Abul Husain Ahmad an-Nuri duduk bersama seseorang. Keduanya menangis tersedu-sedu. Ketika orang itu telah pergi, Abul Husain Ahmad an-Nuri berpaling kepada sahabat-sahabatnya dan bertanya :

“Tahukah kalian siapakah orang tadi?.”

“Tidak,” jawab mereka.

“Dia itu Iblis,” Abul Husain Ahmad an-Nuri menjelaskan kepada sahabt-sahabtnya. “Tadi ia mengisahkan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya dan riwayat hidupnya, kemudian ia meratapi kedukaan hatinya karena telah berpisah dari Allah. Seperti yang telah kalian saksikan si Iblis menangis dan aku pun turu menangis beserta dia.”

oooOOOooo

Ja;far al-Khuldi berkisah, Abul Husain Ahmad an-Nuri sedang berdoa di suatu tempat yang terpencil. Aku dapat mendengar apa-apa yang diucapkannya.

“Ya Allah,” Abul Husain Ahmad an-Nuri berkata di dalam doanya, “Engkau menghukum penghuni-penghuni neraka. Semua mereka adalah ciptaanMu, melalui ke MahatahuanMu, KemahakuasaanMu dan Kehendak Mu,  sejak sedia kala. Jika Engkau memang menghendaki manusia ke dalam neraka, Engkaulah yang berkuasa untuk melemparkan mereka ke dalam neraka dan mengantarkan mereka ke dalam surga.”

Aku takjub mendengar kata-kata itu. Kemudian pada suatu malam aku bermimpi.  Dalam mimpi ituseseorang datang menjumpai ku dan berkata :

“Allah memerintahkan : “Katakanlah kepada Abul Husain, sesungguhnya Aku telah memuliakan dan menaruh belas kepada mu karena doamu itu.”

oooOOOooo

Abul Husain Ahmad an-Nuri meriwayatkan, pada suatu malam ketika kulihat tidak seorang pun yang berada di sekita Ka’bah aku pun berjalan mengelilingi. Setiap kali melalui Hajarul Aswad aku melakukan shalat dan beroda :

“Ya Allah, berikanlah kepadaku suatu kehidupan dan suatu sipat yang kekal.”

Kemudian pada suatu hari terdengarlah olehku sebuah suara dari dalam Ka’bah :

“Abul Husain, apakah engkau hendak menyamai-Ku? Aku tidak berubah dari sipat-Ku tetapi aku membuat hamba-hamba Ku bergerak dan berubah. Hal itu Ku laukan agar Ketuhanan menjadi jelas berbeda dari penghambaan. Hanya Aku sajalah yang kekal di dalam satu sipat sedang sipat manusia senantiasa berubah.”

oooOOOooo

Sybli meriwayatkan : Aku pergi mengunjungi Abul Husain Ahmad an-Nuri. Aku dapati ia sedang bermeditasi dan tak sehelai rambutnya pun yang bergerak.

“Dari siapakah engaku belajar meditasi yang seperti ini?,” aku bertanya kepadanya.

“Dari seekor kucing yang duduk di lobang tikus,” jawab Abul Husain Ahmad an-Nuri. Binatang itu malah lebih tenang daripada aku.”

oooOOOooo

Pada suatu malam penduduk Qadisiyah gempar mendengar berita :

“Seorang sahabat Allah terkurung di Lembah Singa. Selamatkanlah dia!.”

Semua orang bergegas ke Lembah Singa. Di sana mereka menemui Nuri sedang duduk di pinggir lobang kuburan yang telah di galinya sendiri, sedang singa-singa duduk mengurung dirinya. Orang-orang menyelamatkan Nuri dan membawanya kembali. Sesampainya di Wadisiyah mereka bertanya kepadanya apakah sebenarnya yang telah terjadi.

“Setelah beberapa lama aku berpuasa,” Nuri mengisahkan. “Ketika aku berjalan di padang psir itu terlihatlah olehku sebuah pohon kurma. Aku ingin sekali mencicipi buah kurma yang segar itu. Kemudian aku berkata kepada diriku sendiri : “Ternyata masih ada hasrat di dalam hatimu. Akan kumasuki Lembah Singa ini agar engaku dicabik-cabiknya sehingga engkau tidak bisa menginginka kurma lagi.”

oooOOOooo

Nuri mengisahkan, suatu hari ketika aku sedang mandi di sebuah telaga, seorang pencuri melarikan pakaianku. Belum sempat aku keluar dari telaga itu, si pencuri telah kembali untuk menyerahkan pakaian itu kepadaku lagi. Ternyata tangannya terkena sampar. Aku berseru : “Ya Allah, karena ia telah mengembalikan pakaianku, maka sembuhkan pulalah tangannya!.”

Sesaat itu juga tanganya sembuh.

oooOOOooo

Pasar budak di kota Baghdad terbakar dan banyak orang yang terbakar hidup-hidup. Di dalam sebuah toko, dua orang budak yahudi yang tampan terkurung api.

Pemilik budak itu berteriak-teriak : “Siapa saja yang dapat menyelamatkan mereka, akan kuberi seribu keping dinar emas.”

Tetapi tak seorang pun berani mencoba menyelamatkan budak-budak itu. Pada saat itu muncullah Nuri dan terlihat olehnya kedua budak yang masih muda itu berteriak-teriak meminta tolong.

Sambil mengucap “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” Nuri mencebur ke dalam lautan api itu dan menyelamatkan keduanya. Kemudian pemilik budak-budak itu hendak memberi seribu dinar emas seperti yang telah dijanjikannya, kepada Nuri.

“Simpanlah ems-emasmu itu,” Nuri menolak,” Berterimakasih lah kepada Allah. Sesungguhnya kemuliaan yang telah diberikan kepadaku ini adalah karena aku tidak mau menerima emas dan menukar akhirat dengan dunia.”

oooOOOooo

Pada suatu hari ada seorang buta mengeluh : “Ya Allah, Ya Allah.” Nuri lalu menghampiri orang buta itu dan berkata :

“Apakah yang engkau ketahui tentang Allah? Seandainya pun engkau telah mengenal-Nya mengapakah engkau masih hidup?.”

Setelah berkata demikian kesadaran Nuri hilang  dan dadanya dipenuhi oleh hasrat mistis. Maka berjalanlah ia menuju padang pasir melalui padang alang-alang yang baru ditebas sehingga aku dan tubuhnya penuh luka. Daai setiap tetes darahnya yang tertumpah ke atas tanah terdengar suara : Ya Allah, Ya Allah.”

Abu Nasr bin Sarraj mengatakan ketika orang-orang membawa Nuri pulang dari padang alang-alang itu mereka berkata kepadanya : “Katakanlah, tiada Tuhan selain Allah.”

Nuri menjawab : “Aku justru sedang menuju kepada-Nya,”

Dan tidak lama kemudian ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Abul ‘Utsman Sa’id bin Ismail al-Hiri an-Nisaburi berasal dari Rayy dimana ia berkenalan dengan Yahya bin Mu’adz ar-Razi dan Syah bin Syuja’ al-Kirmani. Kemudian ia pindah ke Nishapur, di sana ia sangat terpengaruh oleh Abu Hafshin al-Haddad. Ia pernah mengunjungi Junaid di Baghdad. Ia meningal tahun 298H/911 M di Nishapur.

PENDIDIKAN ABU ‘UTSMAN AL-HIRI

Sejak kecil hatiku telah mencari-cari realitas,” Abu ‘Utsman al-Hiri meriwayatkan. “Aku agak enggan kepada penganut-penganut agama yang formal, dan aku merasa yakin bahwa di samping hal-hal yang diyakini oleh orang banyak masih ada perwujudann-perwujudan lahiriah jalan hidup Islam yang mengandung berbagai rahasia.”

Suatu hari Abu ‘Utsman al-Hiri berangkat ke sekolah. Ia ditemani oleh empat orang hamba yang masing-masing berasal  dari Ethiopia. Yunani, Kasmir dan Turki.  Abu ‘Utsman al-Hiri menjinjing sebuah kotak pena yang terbuat dai emas, mengenakan sorban yang terbuat dari kain halus dan berjubah sutera. Di tengah perjalanan ia melewati sebuah rumah persinggahan tua yang tiada berpenghuni lagi. Abu ‘Utsman al-Hiri mengintip ke dalam dan terlihatlah olehnya seekor keledai dengan luka-luka di punggungnya. Seekor burung gagak sedang mematuki luka-luka itu dan si keledai tiada berdaya mengusirnya. Menyaksikan hal ini Abu ‘Utsman al-Hiri merasa kasihan.

“Untuk apakah engkau menyertai aku?.” Abu ‘Utsman al-Hiri bertanya kepada salah seorang hambanya.

“Untuk menolongmu memecahkan setiap persoalan yang engkau hadapi,” si hamba menjawab.

Abu ‘Utsman al-Hiri segera melepaskan jubah suteranya dan menyelimuti keledai itu, kemudian ia membalut luka-luka di punggung binatang itu dengan sorbannya. Tanpa mengeluarkan suara, keledai itu memohon kepada Allah Yang Maha Besar agar memberkahi Abu ‘Utsman al-Hiri. Sebelum Abu ‘Utsman al-Hiri sampai di rumah, ia dihadapkan dengan sebuah pengalaman spiritual yang hanya dialami oleh manusia-manusia sejati.

Seperti seorang yang sangat bingung, ia mendapatkan dirinya di antara orang-orang yang sedang mendengarkan khotbah Yahya bin Muadz. Kata-kata Yahya bin Muadz membuka sebuah pintu di dalam hatinya. Kemudian Abu ‘Utsman al-Hiri meninggalkan rumah kedua orag tuanya dan untuk beberapa lamanya mengikuti Yahya sambil mempelajari disiplin para Sufi. Demikianlah yang dilakukan Abu ‘Utsman al-Hiri, sehingga pada suatu hari tibalah rombongan yang baru berkunjung  kepada Syah bin Syuja’ al-Kirmani dan menyampaikan kisah-kisah mengenai manusia suci itu. Kisah-kisah ini membuat Abu ‘Utsman al-Hiri ingin sekali berkunjung kepada Syah bin Syuja’. Setelah direstui oleh pembimbing spiritualnya, berangkatlah ia ke Kirman untuk mengabdi kepada Syah bin Syuja’, tetapi Syah bin Syuja’ tidak mau menerimanya.

“Dirimu penuh dengan keinginan” Syah bin Syuja’ berkata kepada Abu ‘Utsman al-Hiri. “Tempat Yahya adalah keinginan. Kemajuan spiritual tidak akan terdapat di dalam diri seorang yang dibesarkan di dalam keinginan. Kesetiaan buta kepada keinginan menimbulkan kemalasan. Bagi Yahya sendiri, keinginan itu adalah peniruan semata.”

Dengan segala kerendahan hati Abu ‘Utsman al-Hiri bermohon kepada Syah bin Syuja’, Dua puluh hari lamanya ia menanti di depan pintu rumah Syah bin Syuja’, akhirnya si syeikh terpaksa menerimanya. Demikianlah  Abu ‘Utsman al-Hiri menjadi murid Syah bin Syuja’ dan banyak memperoleh manfaat dari ajaran-ajarannya, sampai ketika Abu ‘Utsman al-Hiri menyertainya ke Nishapur untuk mengunjungi Abu Hafshin. Pada waktu itu Syah bin Syuja’ mengenakan jubah pendek. Abu Hafshin menyongsong  kdatangannya dan memuji-mujinya.

Abu ‘Utsman al-Hiri ingin sekali menjadi murid Abu Ahfshin, tetapi karena hormatnya kepada Syah bin Syuja’ ia merasa segan menyampaikan hasratnya itu. Lagi pula Syah bin Syuja’ seorang guru yang sangat cinta kepada murid-muridnya. Maka Abu ‘Utsman al-Hiri bermohon kepada Alalh supaya dibukakan jalan untuk dapat tinggal bersama Abu Hafshin tanpa mengecilkan hati Syah bin Syuja’. Abu ‘Utsman al-Hiri mengetahui bahwa Abu Hafshin adalah seorang manusia yang banyak memperoleh kemajuan spiritual.

 Ketika Syah bin Syuja’ merasa telah tiba saatnya bagi mereka untuk kembali ke Kirman, ia menyuruh Abu ‘Utsman al-Hiri mempersiapkan perbekalan mereka. Kemudian pada suatu hari, dengan sangat ramah Abu Hafshin berkata kepada Syah bin Syuja’. :

“Biarkanlah anak muda ini bersamaku karena aku sengat senang kepadanya.

Syah bin Syuja’ berpaling kepada Abu ‘Utsman al-Hiri dan menasehatkan : “Taatilah perrintah-perintah syeikh!.”

Setelah itu berangkatlah ia tanpa Abu ‘Utsman al-Hiri. Ditinggalkannya Abu ‘Utsman al-Hiri untuk memulia kehidupan baru.

oooOOOooo

Abu ‘Utsman al-Hiri mengisahkan : “Usiaku masih muda ketika Abu Hafshin membebeaskanku dari asuhannya. “Aku  tak ingin engkau berada di dekatku lagi,” Abu Hafshin bekata kepdaku. Aku tak dapat berkata apa-apa. Aku tak berani membelakangi Abu Hafshin. Maka dengan air mata bercucuran aku beringsut mundur dari hdapannya. Kemudian di hadapn rumah Abu Hafshin aku bangun sebuah tempat kediaman dan kubuat sebuah lobang dari mana aku dapat melihat Abu Hafshin. Aku bertekad tidak akan meninggalkan tempat itu kecuali syeikh sendiri yang memerintahkan demikian. Ketika Syeikh mengetahui tempatku itu dan melihat keadaanku yang sangat menyedihkan, ia lalu memanggilku dan memberkahiku dengan menikahkan puterinya kepadaku.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI ABU ‘UTSMAN

Abu ‘Utsman al-Hiri berkata : Selama empat puluh tahun, betapa pun keadaan yang ditakdirkan Allah kepadaku, tak pernah ku sesali, dan betapaun ia merubah keadaanku, tak pernah membuatku marah.”

Kisah berikut ini merupakan bukti kebenaran kata-kata Abu ‘Utsman al-Hiri di atas. Seseorang yang tidak mempercayai kata-kata Abu ‘Utsman al-Hiri mengirimkan sebuah undangan kepdanya. Undnagan itu diterima oleh Abu ‘Utsman al-Hiri, maka ia pun pergilah ke rumah orang itu. Tetapi sesampainya di sana orang itu berteriak kepadanya : “Wahai manusia rakus! Di sini tidak ada makanan untukmu. Pulang sajalah!.”

Abu ‘Utsman al-Hiri beranjak meninggalkan tempat itu tetapi belum jauh ia melangakah orang tadi berteriak memanggilnya : “Syeikh, kemarilah!.”

Abu ‘Utsman al-Hiri berbalik tetapi orang itu terus menggodanya : “Engkau sangat rakus. Tidak pernah merasa cukup. Pergilah dari sini!.”

Si Syeikh pun pergi meninggalkan tempat itu. Orang itu memanggilnya lagi dan Abu ‘Utsman al-Hiri pun menghampirinya pula.

“Makanlah batu atau pulang sajalah!.”

Sekali lagi Abu ‘Utsman al-Hiri beranjak pergi. Tiga puluh kali orang itu memanggil dan mengusirnya, dan tiga puluh kali pula syeikh Abu ‘Utsman al-Hiri datan dan pergi tanpa sedikit pun menunjukkan kejengkelan hatinya. Akhirnya orang itu berlutut di depan Abu ‘Utsman al-Hiri, dengan air mata bercucuran ia meminta maaf kepadanya. Dan sejak itu ia menjadi murid Abu ‘Utsman al-Hiri.

“engkau benar-benar manusia yang sangat kokoh!.” Katanya kepada Abu ‘Utsman al-Hiri. “Tiga puluh kali engkau kuusir dengan kasar tetapi sedikit pun engkau tan menunjukkan kemangkelan hatimu.”

Abu ‘Utsman al-Hiri menjawab : “Hal itu adalah sepele. Anjing-anjing juga berbuat seperti itu. Apabila anjing-anjing itu engkau usir mereka pun egi dan apabila engkau panggil mereka pun datang tanpa sedikit pun menunjukan rasa jengkal. Sesuaut hal yang dapat dilakukan anjing, sama sekali tidak ada artinya. Lain halnya dengan perjuangan manusia.”

oooOOOooo

Pada suat hari Abu ‘Utsman al-Hiri sedang berjalan-jalan menjelajahi sepanjang jalanan, tiba-tiba seseorang dari loteng sebuah rumah menumpahkan senampan abu yang jatuh tepat ke ats kepalanya. Menyaksikan kejadian itu sahabt-sahabat Abu ‘Utsman al-Hiri marah dan hendak menyerang, tetapi segera dicegahnya.

“Kita harus bersyukur seribu kali karena kita yang seharusnya dihukum dengan api dibebaskan dengan abu.”

oooOOOooo

Seorang pemuda berandalan yang sedang mabuk keluyuran dengan sebuha kecapi di tangannya. Tetapi ketika melihat Abu ‘Utsman al-Hiri, ia segera memasukan untaian-untaian rambutnya ke dalam pecinya dan menyembunyikan kecapinya ke balik lengan bajunya. Ia menyangka bahwa Abu ‘Utsman al-Hiri akan melaporkan tingkah lakunya kepada yang berwajib. Dengan seramah mungkin Abu ‘Utsman al-Hiri menghampirinya.

“Jangan kuatir,” kat Abu ‘Utsman al-Hiri, “orang-orang yang bersaudara adalah satu.”

Mendapat perlakuan seperti ini, si pemuda bertaubat dan menjadi murid Abu ‘Utsman al-Hiri. Pemuda itu disuruhnya mandi dan diberinya pakaian, kemudian ia menegadahkan kepdanya dan berdoa.”

“Ya Allah, telah ku lakukan kewajibanku. Selanjutnya adalah urusan-Mu.”

Sesaat itu juga si pemuda mengalami suatu pengalaman mistik yang sedemikian menakjubkan sehingga Abu ‘Utsman al-Hiri sendiri terheran-heran.

Pada waktu shalat ‘Asharr, datanglah Abu ‘Utsman al- Maghribi. Abu ‘Utsman al-Hiri berkata kepadanya : “Syeikh, haitku terbakar oleh api cemburu. Yang selama hidup ku dambakan telah dilimpahkan kepda pemuda yang masih mengeluarkan bau anggur dari dalam perutnya ini. Maka tahulah aku kini, bahwa manusialah yang ber usaha tetapi Tuhan yang menetukan.”

.

Abul Abbas  Ahmad bin Muhammad bin Sahl bin Atha’al-Adami adalah sahabat akrab al-Junaid. Ia seorang penggubah syair-syair mistik dan seorang tokoh sufi terkemuka di kota Baghdad. Ibnu Atha’ dihukum mati pada tahun 309 H/922 M.

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI IBNU ATHA’

Ibnu Atha’  termasuk salah seorang murid Junaid yang menonjol. Pada suatu hari beberapa orang pergi ke tempatanya berkhotbah dan mendapatkan seluruh lantai basah.

“Apakah yang terjadi,” mereka bertanya.

“Aku mendapatkan sebuah pengalaman mistik,” Ibnu Atha’  menjelaskan. “Dalam keadaan malu dan dengan air mata bercucuran aku berrjalan hilir mudik di dalam ruangan ini.”

Mengapa demikian?.” Mereka bertanya lagi.

“Ketika aku masih kacil,” Ibnu Atha’  menjawab,” Aku pernah mencuri seekor burung dara milik tetangga. Hal ini teringat olehku. Lalu aku berikan seribu dinar perak kepada pemilik burung itu sebagai penggantinya. Tetapi batinku tetap gelisah. Aku pun menangis, kuatir apakah akibat yang akan kutanggungkan karena perbuatanku tersebut.”

oooOOOooo

“Berapa kaliah engkau membaca al-Qur’an setiap hari?.” Seseorang bertanya kepada Ibnu Atha’  .

Ibnu Atha’  menjawab : “Dahulu aku biasa menamatkan al-Qur’an dua kali dalam duapuluh empat jam. Tetapi sekarang ini. Walau sudah empat belas tahun aku membacanya, aku baru sampai kepada surah al-Anfal.”.

oooOOOooo

Ibnu Atha’  mempunyai sepuluh orang putera, semuanya gagah dan tampan. Ketika mereka menyertai Ibnu Atha’  dalam suatu perjalanan, perampok menghadang mereka. Kemudian para perampok itu hendak memenggal kepala mereka satu persatu. Ibnu Atha’  tidak berkata apa-apa, dan setiap kali salah seorang dari puteranya di dipenggal kepalanya, ia menengadahkan kepala ke atas langit dan tertawa. Sembilan orang telah terbunuh. Para penyamun hendak menghabiskan anaknya yang ke sepuluh.

“Sungguh seorang ayah yang baik hati,” puteranya yang ke sepuluh itu berseru kepadanya. “Sembilan orang puteramu telah dipenggal dan engkau tidak berkata apa-apa, malahan tertawa-tawa.”

“Wahai buah hati ayah!.” Ibnu Atha’  menajwab, “Dia-lah yang melakukan hal ini, apakah yang dapat kita katakan kepada-Nya? Dia Maha Tahu dan Maha Melihat. Sesungguhnya Dia bisa. Jika Dia memang menghendaki menyelamatkan anak-anakku semuanya.”

Mendengar ucapan Ibnu Atha’  ini, penyamun yang hendak membunuh puteranya yang ke sepuluh itu terguguah hatinya dan berseru : “Orang tua, seandainya tadi kata-kata itu engkau ucapkan, niscaya tak seorang pun di antara anak-anakmu yang akan terbunuh.”

oooOOOooo

“Bagaimana kalian ini wahai para sufi,” beberpa theolog bertnya kepada Ibnu Atha’,” kalian telah emnciptakan istilah-istilah yang aneh bagi pendengar-pendengarnya tetapi memberi keputusan dengan berkata biasa saja? Hanya ada dua kemungkinan, yang pertama kalian hanya berlagak, karena berlagak tidak berkaitan dengan kebenaran maka doktrin kalian jelas palsu. Yang keuda, doktrin tersebut seimbang dan keseimbangan itu hendak kalian sembunyikan dari khalayak ramai?.”

“Semua ini kami lakukan karena doktrin itu sengat penting bagi kami,” Ibnu Atha’  menjawab. “Yang kami praktekkan itu sangat penting bagi kami dan kami tak menginginkan sia pun juga, kecuali kami para sufi, yang mengetahuinya. Untuk maksud ini kami tidak mau menggunakan bahasa yang dikenal semua orang dan oleh karena itulah, kami menciptakanistilah-istilah khusus.”

MENGAPA IBNU ATHA’ MENGUTUK ALI BIN ISA

Ibnu Atha’  dituduh seorang bid’ah. Ali bin Isa menjabat wazir khalifah, memanggil dan mencela Ibnu Taha’ “Ibnu Atha’  menjawab dengan kata-kata yang kasar. Si wasir murka dan memerintahkan hamba-hambanya melepaskan sepatu yang sedang dipakainya, dengan sepatu itu mereka harus memukul kepala Ibnu Atha’  sampai ia mati. Di dalam penyiksaan itu Ibnu Atha’  meneriakkan kutukan kepadanya : “Semoga Allah memutuskan kaki dan tanganmu.”

Di belakang hari khalifah marah kepada wazirnya, Ali bin Isa, dan memerintahkan agar tangan dan kakinya dipotong.

Sehubungan dengan persitiwa ini beberapa di antara tokoh-tokoh sufi menyalahkan Ibnu Atha’  dan berkata : “Jika melalui doa-doamu engkau dapat memperbaiki manusia, mengapakah engkau mengutuk dia? Seharusnya engkau mendoakan keselamatannya.” Tetapi tokoh-tokoh sufi yang lain membela Ibnu Atha’  dan berkata : “Mungkin sekali Ibnu Atha’  mengutuk si wazir untuk membela kaum Muslimin karena ia adalah seorang wazir yang zhalim.”

Sebuah penjelasan lain yang membela Ibnu Atha’  adalah : sebagai seorang manusia yang berintuisi tajam, Ibnu Atha’ mengetahui malapetaka yang akan menimpa diri si wazir. Ia hanya menyatakan persetujuannya terhadap takdir Allah itu, dengan demikian Allah menyatakan kehendak-Nya melalui lidah Ibnu Atha’  , sedang Ibnu Atha’  sama sekali berlepas tangan.

Menurut pendapat saya sendiri, sesungguhnya Ibnu Atha’   tiak mengutuk si wazir. Bahkan sebaliknya. Ibnu Atha’   mendo’akan demikian supaya si wazir dapat mencapai derajat seorang syuhada. Ibnu Atha’  mendoakan agar si wazir menanggung kehinaan di atas dnia ini dan kehilangan kedudukannya yang tinggi berserta kekayaan yang melimpah itu. Jadi dengan sudut pandang yang seperti ini terlihatlah bahwa Ibnu Atha’  semata-mata menghendaki kebaikan bagi Ali bin Isa, karena bukankah hukuman di atas dunia ini jauh lebih ringan daripada di akhirat.?

Abul Hasan Sumnun bin Abdullah (Hamzah) al-Khauwash, salah seorang sahabat Sari as-Saqathi, dijuluki sebagai “Si Pencinta” karena tema dari ceramah-ceramah dan syair-syairnya adalah mengenai cinta mistis. Sumnun didakwa oleh Ghulam al-Khalil. Ia meninggal kira-kira 300H/913 M.

RIWAYAT SUMNUN SI PENCINTA

Sumnun dijukluki sebagai Si pencita (walaupun ia sendiri menjuluki dirinya sebagau Sumnun Pendusta) adalah sahabat Sari as Saqathi dan dan tokoh yang semasa dengan Junaid. Sumnun mempunyai sebuah doktrin yang istimewa mengenai cinta dan doktrin ini lebih diutamakannya daripada dontrin mistik. Jadi berlawanan sekali dengan pandangan mayoritas tokoh-tokoh sufi.

Ketika Sumnun memberi ceramah mengenai cinta, dari angkasa meluncur seekor burung dan hinggap di atas kepalanya, kemudian pindah ke tangannya dan setelah itu ke dadanya. Dan dari dada Sumnun burung itu meloncat ke atas tanah, paruhna di patuk-patukkan dengan keras ke tanah sehingga mengeluarkan darah. Sesaat kemudian burung itu kehabisan tenaga dan mati.

Ketika Sumnun pergi ke Hijaz, orang-orang Faid mengundangnya untuk memberikan ceramah. Sumnun naik ke atas mimbar hendak berkhotbah ternyata tak seorang pun yang mendengarkannya. Maka perpalinglah ia kepada lampu-lampu di dalama msjid itu dan berkata. “aku akan memberikan pengajaran kepada kalian mengenai cinta.” Seketika itu juga lampu-lampu saling berbenturan dan hancur berantakan.

Diriwayatkan, di hari taunya Sumnun menikah dan mendapatkan seorang puteri. Ketika si puteri berusia tiga tahun, Sumnun sangat sayang kepadanya. Dan pada suatu malam Sumnun bermimpi dan di dalam mimpi itu ia menyaksikan dirinya telah berada di Hari berbangkit. Ia menyaksikan untuk setiap golongan di tegakkan sebuah panji. Salah satu di antara panji-panji tersebut sedemikian gemerlapnya sehingga menerangi padang-padang surgawi.

“Golongan apakah yang memiliki panji ini?.” Sumnun bertanya.

“Golongan yang dikatakan Allah. Dia mencintai mereka dan mereka mencintai Dia.” (maksudnya : golongan pencinta).

Sumnun menyelinap ke tengah orang-orang yeng berteduh di bawah panji itu. Tetapi salah seorang di antara mereka mendorongnya keluar.

“Mengapa engkau mengusirku?.” Sumnun berteriak.

“Karena panji ini adalah panji para pencinta, sedang engkau bukan seorang pencinta.”

“Aku bukan seorang pencinta.” Teriak Sumnun, “bukankah orang-orang menjulukiku sebagai Sumnun Sang Pencinta dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yag terkandung di dalam hatiku ini”

“Sumnun, dahulu engkau memang seorang pencinta. Tetapi sejak hatimu lebih cenderung kepda anakmu itu, namamu telah dihapus dari daftar para pencinta.”

Di dalam mimpi, Sumnun meohon ampunan kepada Allah : “Ya Allah, jika karena anakku aku akan tergelincir, tunjukilah aku jalan yang baik.”

Ketika Sumnun terbangun, terdengarlah suara gaduh : “Anak itu terjatuh dari atas loteng dan mati.”

Selanjutnya diriwiyatkan pula bahwa pada suatu ketika Sumnun menyenandungkan syair :

Tidak ada kebahagiaan bagiku, kecuali di dlam diri-Mu;

Jadi, jika Engkau menghendaki, ujilah aku.

Sesaat itu juga saluran kencingnya tersumbat. Maka dikunjunginyalah sekolah demi sekolah dan kepada anak-anak murid ia berpesan : “Berodalah untuk pamanmu Sang Pendusta ini semoga Allah menyembuhkannya kembali.”

SUMNUN DAN GHULAM KHALIL

Ghulam Khalil memperkenalkan dirinya sebagai seorang sufi, kepada khalifah, ia menukar keselamatan yang kekal abadi dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Di depan khalifah ia selalu menfitnah para sufi dengan maksud agar mereka dihukum buang sehingga tak seorang pun memperoleh hikmah dari ajaran-ajaran mereka. Dengan demikian ia memperoleh kekuasaan yang tidak tercela.

Ketika Sumnun dewasa, kemasyhuran namanya terseia ke mana-mana. Namun Ghulam Khalil sering membuatnya menderita dan senantiasa mencari-cari kesempatan untuk dapat menfitnah Sumnun.

Pada suatu ketika, seorang wanita kaya datang menyerahkan dirinya kepada Sumnun. “Lamarlah aku,” si wanita berkata kepada Sumnun.

Sumnun menolak. Wanita itu mengadukan halnya kepada Junaid dan meminta Junaid sebagai mewakilinya untuk membujuk Sumnun supaya mau menikahinya. Tetapi Junaid malah memarahinya dan mengusirnya. Wanita itu pergi menghadap Ghulam Khalil dan menjelekkkan-jelekkan Sumnun. Ghulam Khalil sangat senang hatinya dan hal itu segera disamaikannya kepada khalifah. Khalifah memberikan perintah agar Sumnun dihukum pancung. Algojo telah dipanggil dan ketika khalifah hendak memerintahkan “penggal!” tiba-tiba ia menjadi bisu tak dapat berkata-kata. Lidahnya kelu menyumbat tenggorokannya. Malam harinya ia bermimpi dan di dalam mimpi itu ia mendengar suara yang berkata kepadanya : “Kerajaanmu tergantung kepada hidup Sumnun.” Keesokaan harinya ia memanggil Sumnun untuk dibebaskan dengan segala hormat dan diperlakukan denga penghargaan yang setinggi-tingginya.

Sejak peristiwa itu, kebencian Ghulan Khalil terhadap Sumnun semakin menjadi-jadi. Di hari tuanya Ghulam Khalil menderita penyakit kusta.

“Ghulam Khalil menderita penyakit kusta,” seseorang mengabarkan kepada Sumnun.

Sumnun berkata : “Rupa-rupanya ada beberapa orang sufi yang belum sempurna telah berniat buruk dan melakukan perbuatan yang tidak baik terhadap dirinya. Memang Ghulam Khalil adalah penentang tokoh-tokoh sufi dan telah berkali-kali menyusahkan mereka dengan perbuatannya. Semoga Allah menyembuhkan Ghulam Khalil!.”

Kata-kata Sumnun itu disampaikan orang kepada Ghulam Khalil. Ghulam Khalil bertaubat, memohon kepada Allah agar diampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya, dan mnyerahkan semua harta kekayaannya kepada para sufi. Tetapi para sufi itu tidak mau menerimanya.

Abu Abdullah Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain al-Hakim at- Tirmidzi, salah seorang pemikir  mistisisme Islam yang kreatif dan terkemuka, diusir dari kota kelahirannya. Tirmidzi, mengungsi ke Nishapur di mana ia meberikan ceramah-cermah pada tahun 285H/898M. Karya-karyany yang bersifat psikologis sengat mempernagaruhi Al-Ghazali, sedang teorinya yang menghebaohkan mengenai Manuis aSuci dambil dan dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Sebagai seorang penulis yang kreatif banyak di antara karya-karyanya, termasuk sebuah sketsa otogiografi masih dapat ditemukan dan beberapa di antaranya telah diterbitkan.

PENDIDIKAN DARI HAKIM AT-TIRMIDZI

Muhammad bin Ali at-Tirmidzi bersama dua orang pelajar lainnya bertekad dakan melakukan pengembaraan untuk menuntut ilmu. Ketika mereka hendak berangkat, ibunya sangat sedih.

“Wahai buah hati ibu,” sang ibu berkata. “Aku seorang perempuan yang sudah tua dan lemah, bila ananda pergi tak ada lagi seorang pun yang ibunda punyai di atas dunia ini. Selama ini anandalah tempat ibunda bersandar. Kepada siapakah ananda menitipkan ibunda yang sebatang kara dan lemah ini?”

Kata-kata ini menggoyahkan semangat Muhammad bin Ali at-Tirmidzi, ia membatalkan niatnya, sementara kedua sahabatnya tetap berangkat menegembara mencari ilmu itu. Suaut hari Muhammad bin Ali at-Tirmidzi duduk di sebuah pemakaman meratapi nasibnya.

“Di sinilah aku! Tiada seorang pun yang perduli kepadaku yang bodoh ini. Sedang kedua sahabtku itu nanti akan kembali sebagai orang-orang terpelajar yang berpendidikan sempurna.”

Tiba-tiba muncul seorang tua dengan wajah yang berseri-seri. Ia menegur Muhammad bin Ali at-Tirmidzi :

“Nak, mengapakah engkau menangis?.”

Muhammad bin Ali at-Tirmidzi meneceritakan segala keluh kesahnya itu.

“Maukah engkau menerima pelajaran dari saya setiap hari sehingga engkau dapat melampaui kedua sahabtmu itu dalam waktu yang singkat?.” Orang tua itu bertanya kepada Muhammad bin Ali at-Tirmidzi.

“Aku bersedia,” jawab Muhammad bin Ali at-Tirmidzi.

“Maka, Muhammad bin Ali at-Tirmidzi mengisahkan, “ setiap hari ia memberikan pelajaran kepadaku. Setelah tiga tahun berlalu barulah aku menyadari bahwa sesungguhnya orang tua itu adalah Khidir dan aku memperoleh keberuntungan yang seperti itu karena telah berbakti kepada ibuku.”

oooOOOooo

Setiap hari minggu (Abu Bakr al-Warraq mengisahkan) Khidir mengunjungi Muhammad bin Ali at-Tirmidzi dan kemudian mereka memperbincangkan berbagai persoalan. Pada suatu hari Muhammad bin Ali at-Tirmidzi berkata kepadaku : “Hari ini engkau hendak ku ajak pergi ke suatu tempat.”

“Terserah kepada guru,” jawabku.

Kami pun berangkat. Tatkala kami sampai di sebuah padang pasir tiu aku melihat sebuah singgasana kencana di bawah naungan sebatang pohon yang rindang di pinggir sebuah telaga. Pada singgasana itu duduk seorang berpakaian indah. Syeikh menghampirinya, orang itu berdiri dan memepersilahkan syeikh duduk di atas singgasana itu. Kemudian orang-orang berdatangan dari segala penjuru dan berkumpul di tempat itu. Semuanya berjumlah empat puluh orang. Kemudian mereka memberi isyarat ke atas. Seketika itu juga tersajilah berbagai hidangan dan mereka pun makan. Syeikh mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan orang itu memberi jawaban. Tetapi bahasa yang mereka pergunakan sama sekali tidak dapat kupahami. Beberapa lama kemudian Muhammad bin Ali at-Tirmidzi memohon diri dan menginggalkan tempat itu.

“Mari kita pergi,” ajak Muhammad bin Ali at-Tirmidzi kepadaku. “Engkau telah diberkahi.”

Sebentar saja kami telah berada kembali di Tirmidzi. Aku bertanya kepada Syiekh Muhammad bin Ali at-Tirmidzi :

“Apakah artinya semua kejadian tadi? Temmpat apakah itu dan siapakah orang itu.?”

“Itulah lembah pemukiman Putera-putera Israil,” jawab Muhammad bin Ali at-Tirmidzi, “Dan orang tadi adalah Paul.”

“Bagaimana kita dapat pulang pergi dalam waktu sesingkat ini,?” tanyaku.

“Abu Bakr,” jawab Muhammad bin Ali at-Tirmidzi, “Jika Dia mengantarkan maka sampailah kita. Apakah gunanya kita bertanya mengapa dan bagaimana, yang perlu engkau sampai ke tujuan bukan untuk bertanya-tanya.”

Kemudian Muhammad bin Ali at-Tirmidzi bertutur : Betapa pun besar perjuanganku untuk menundukkan hawa nafsu, namun aku tidak berhasil. Di dalam keputusasaan aku berkata : “Mungkin Allah telah menciptakan diriku ini untuk disiksa di dalam neraka. Mengapakah diri yang terkutuk ini harus ku pelihara lagi?. Maka aku pergi ke pinggir Sungai Oxus. Kepada seseorang yang berada di situ aku minta tolong untuk mengikat kaki dan tanganku, dan setelah itu iapun pergi meninggalkan seorang diri. Aku berguling-guling  dan jatuh ke dalam air. Aku ingin mati terbenam! Tetapi ketika terbentur permukaan air, ikatan di tanganku terlepas dan sebuah gulungan ombak menghempaskan tubuhku ke pinggir. Dengan putus asa aku berseru : “Ya Allah, Maha Besar Engkau yang menciptakan seseorang yang tak pantas diterima baik di surga maupun di neraka!.” Berkat seruan ku di dalam keputus asaan itu terbukalah mata hatiku dan terlihatlah olehku segala sesuatu yang harus ku lakukan. Pada saat itu juga terbebaslah aku dari hawa nafsu. Selama hataku, aku bersyukur terhadap saat-saat kebebasan itu,

Abu Bakr al-Warraq juga mengisahkan sebgaia berikut ini :

Pada suatu hari Muhammad bin Ali at-Tirmidzi menyerahkan buku-bukunya kepadaku untuk dibuang ke sungai Oxus. Ketika ku periksa ternyata buku-buku itu penuh dengan seluk beluk dan kebenaran-kebenaran mistik. Aku tak tega melaksanakan perintah Muhammad bin Ali at-Tirmidzi itu dan buku-buku tersebut ku simpan di dalam kamarku. Kemudian aku katakan kepadanya bahwa buku-buku itu telah ku lemparkan ke dalam sungai. Tetapi Muhammad bin Ali at-Tirmidzi bertanya kepadaku : “Apakah yang engkau saksikan setelah itu.?

“Tidak sesuatu pun.” Jawabku.

“Kalau begitu, engkau belum membuang buku-buku itu ke dalam sungai. Pergilah dan buanglah buku-buku itu,” perintah Muhammad bin Ali at-Tirmidzi.

“Ada dua persoalan,” aku berkata di dalam hati. “Yang pertama, mengapa ia ingin membuang  buku-buku ini ke dalam sungai? Yang kedua, apakah yang akan kusaksikan nanti setelah mencampakkan buku-buku ini kdalam iar?.”

Aku terus berjalan menuju sungai Oxus dan melemparkan buku-buku itu. Tetapi seketika itu juga air sungai terbelah dan terlihatlah olehku sebuah peti yang terbuka tutupnya. Buku-buku itu jatuh ke dalam peti itu, kemudian tutup peti tersebut mengatup dan air sungai bersatu kembali. Aku terheran-heran menyaksikan kejadian ini.

Ketika aku kembali, Muhammad bin Ali at-Tirmidzi bertanya : “Sudahka engkau lemparkan buku itu?.”

Aku menyahut : “Guru, demi keagungan Allah, katakanlah kepadaku apakah rahasia di balik semua ini?.”

Muhammad bin Ali at-Tirmidzi menjelaskan : “Aku telah menulis buku-buku mengenai ilmu sufi dengan keterangan-keterangan yang sulit untuk dihamai oleh manusai-manusia biasa.

Saudara ku Khidir meminta buku-buku itu. Peti yang engkau lihat tadi telah dibawakan oleh seekor ikan atas permintaan Khidir, sedang Allah Yang Maha Besar memerintahkan kepada air untuk mengatarkan peti itu kepadanya.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI TIRMIDZI

Pada waktu itu ada seorang pertapa besar yang selalu mengecam Muhammad bin Ali at-Tirmidzi. Padahal di atas dunia ini, kecuali sebuah pondok, tidak sesuatu pun dimiliki Muhammad bin Ali at-Tirmidzi. Muhammad bin Ali at-Tirmidzi pulang dari Hizaz, ternyata seekor induk anjing telah msuk ke dalam pondoknya yang tak berdaun pintu itu da melahirkan anaknya di situ. Muhammad bin Ali at-Tirmidzi tidak mau mengusir anjing itu. Delapan puluh kali ia pulang pergi ke pondoknya, dan berharap agar si anjing telah pergi meinggalkan pondok itu membawa anak-anaknya.

Pada malam harinya si pertapa bermimpi bertemu dengan Nabi, Di dalam mimpi itu Nabi berkata kepadanya :

“Engkau menentang seorang manusia yang telah delapan puluh kali memberikan pertolongan kepada seekor anjing. Jika engkau menginginkan kebahagiaan yang abadi, kencangkanlah ikat pinggangmu dan berbaktilah kepadanya..”

Si Pertapa, yang sebelumnya enggan membalas salam Muhammad bin Ali at-Tirmidzi sejak saat itu hingga matinya mengabdi kepadanya.

oooOOOooo

“Apabila guru marah pada kalian, apakah kalian tahu?.” Seseorang bertanya kepada keluarga Muhammad bin Ali at-Tirmidzi.

“Ya, kami tahu,” mereka menjawab, “setiap kali ia marah kepada kami, maka ia bersikap lebih ramah daripada biasanya. Kemudian ia tidak mau makan dan minum. Ia menangis dan bermohon kepada Allah : “Ya Allah, apakah perbuatanku ayng menimbulkan murka-Mu, sehingga engkau membuat keluargaku sendiri menetangku? Ya Allah, aku mohon ampunan-Mu! Tunjukanlah mereka jalan yang benar!.” Apabila ia bersipat seperti demikian, tahulah kami bahwa ia sedang marah. Dan segera kami bertaubat agar ia terlepas dari dukacitanya itu.”

oooOOOooo

Telah beapa lama Muhammad bin Ali at-Tirmidzi tidak pernah bertemu dengan Khidir. Pada suatu hari seorang pembantu yang masih gadis memncuci pakaian bayi dan kotoran-kotoran bayi itu dimasukkannya ke dalam sebuah baskom. Sementara itu syeikh Muhammad bin Ali at-Tirmidzi dengan mengenakan jubah dan sorban yang bersih berjalan ke masjid. Karena suatu hal yang sepele, tiba-tiba si gadis mengamuk dan isi baskom itu tertumpah ke atas kepala Muhammad bin Ali at-Tirmidzi. Muhammad bin Ali at-Tirmidzi tak berkata apa-apa dan menelan amarahnya. Tidak berapa lama kemudian bertemulah ia dengan Khidir.

oooOOOooo

Kettika Muhammad bin Ali at-Tirmidzi masih remaja, ada seorang wanita jelita minta dilamar olehnya, tetapi Muhammad bin Ali at-Tirmidzi menolaknya. Pada suatu hari, setelah mengetahui bahwa Muhammad bin Ali at-Tirmidzi sedang berada di dalam taman, si wanita segera berdandan dan pergi pula ke sana. Tetapi begitu melihat kedatangannya, Syeikh Muhammad bin Ali at-Tirmidzi segera mengambil langkah seribu. Si Wanita mengejar dan berteriak-teriak bahwa Muhammad bin Ali at-Tirmidzi telah mencoba hendak membunhnya. Muhammad bin Ali at-Tirmidzi tidak perduli, dipanjatnya sebuah pagar yang tinggi dan melompat ke seberang.

Pada suatu hari di masa tuanya, ketika sedang mengkaji perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya dan apa-apa yang telah diucapkannya, teringatlah ia kepada kejadian itu, Terpikirlah oleh Muhammad bin Ali at-Tirmidzi : “Apakah salahya jika dahulu aku penuhi kebutuhan wanita itu? Bukankah pada waktu itu aku masih remaja dan oleh karena itu masih sempat bertaubat?.” Ketika menyadari pikiran yang seperti ini Muhammad bin Ali at-Tirmidzi sangat menyesal.

“Wahai diriku yang keji dan pelawan!.” Ia berkata, “empat puluh tahun  yang lalu ketika engkau masih remaja dengan semangat yang bergejolak, engkau tidak pernah berpikir seperti ini. Tetapi di amsa tuamu ini, setelah sedemikian banyak perjuangan yng engkau menangkan, mengapakah engkau menyesal karena tidak jadi melakukan sebuah dosa?.”

Muhammad bin Ali at-Tirmidzi sangat sedih. Tiga hari lamanya ia menyesali pikiran itu. Setelah itu di dalam mimpi ia bertemu dengan Nabi yang berkata kepadanya :

“Muhamaad, janganlah engkau bersedih hati. Yang telah terrjadi itu bukanlah karena kesalahanmu. Hal itu karena engkau pikirkan empat puluh tahun berlalu sejak kematianku. Waktuku untuk meninggalkan dunia ini telah tertunda sedemikian lamanya, dan aku semakin jauh. Hal itu terjadi bukanlah karena dosamu, dan bukan karena engkau kurang memperoleh kamejuan spiritual. Yang engkau alami itu adalah karena waktumu untuk meninggalkan dunia ini tertunda, bukan karena keaiban di dalam dirimu.

oooOOOooo

Kisah berikut ini diduga berasal dari Muhammad bin Ali at-Tirmidzi.

Setelah Adam dan Hawa berkumpul kembali dn taubat mereka diterima Allah, pada suatu hari Adam meninggalkna Hawa seorang diri karena sesuatu keperluan. Maka datanglah Iblis beserta anaknya yang bernama Khannas kepada Hawa.

“Aku harus pergi untuk melakukan sesuatu hal yang penting,” si Iblis berkata kepada Hawa.”Tolong jaga anakku hingg aku kembali nanti.”

Hawa menerima anak itu dan si Iblis pun pergi.

“Dia adalah anak Iblis yang dititipkannya kepadaku,” jawab hawa.”Mengapa engkau sudi menolongnya?.” Adam mencela Hawa. Dengan sangat marah anak Iblis itu dibunuhnya, dicincangnya, dan setiap cincnagan itu digantungkannya pada dahan. Setelah itu pergilah Adam. Tidak lama kemudian Iblis dataang.

“Di manakah anakku?.” Ia bertanya kepada Hawa.

Hawa menerangkan segala sesuatu yang telah terjadi :

“Adam mencincang-cincang tubuh anakmu dan setiap potongan tubuh anakmu digantungkannya pada dahan pohon.”

Si Iblis meneyerukan nama anaknya. Potongan-potongan tubuh anaknya berkumpul dan iapun hidup kembali, kemudain berlari menyambut ayahnya.

“Jagalah dia,” si Iblis bermohon kepada Hawa. “karena ada urusan lain yang harus kulakukan.”

Mula-mula hawa menolak tetapi Iblis bermohon sedemikian gigihnya sehingga akhirnya ia pun menyerah. Setelah itu pergilah si Iblis meninggalkan tempat itu. Ketika Adam pulang terlihatlah olehnya anak Ibllis itu.

“Apakah artinya semua ini?” tanya Adam.

Hawa mengisahkan yang telah terjadi. Adam memukuli Hawa habis-habisan.

“Aku tak tahu apakah rahasia di balik semua ini.” Adam menghardik,” sehingga engkau tidak memathui aku tetapi memathuhi seteru Allah dan terperdaya oleh bujukannya.”

Anak itu dibunuhnya dan mayatnya dibakarnya, kemudian sebagian abunya dibuangnya ke dalam air, sedang sebagiannya lagi dibuangnya ke udara dan diterbangkan angin. Setelah itu Adam pergi. Si Iblis datang pula menanyakan anaknya. Hawa menceritakan apa yang telah dilakukan Adam terhadap anakanya. Si Iblis berteriak memanggil anaknya, abu-abu mayat anaknya yang dibakar tadi berkumpul, kemudian si anak hidup kembali dan bersimpuh di depan ayahnya.

Sekali lagi Iblis memohon pertolongan tetapi ditolak oleh Hawa.

“Pastilah akau dibunuh Adam nanti,” jawabnya.

Iblis membujuk dengan berbagai sumpah sehingga akhirnya Hawa sekali lagi menyerah. Si Iblis pun pergi. Adam kembali dan didapatinya Hawa bersama naka itu lagi.

“Allah-lah yang mengetahui apa yang bakal terjadi sekarang ini.” Adam menghardik penuh amarah. “engkau menuruti kata-katanya dan tak memperdulikan kata-akata ku.”

Khannas disembelihnya dan dimasaknya. Separuh dari tubuh Khannas dimakannya sendiri dan separuhnya lagi diberikannya kepada Hawa. (Orang-orang mengatakan setelah tindakan Adam yang terakhir ini Iblis masih dapat menghidupkan dan membawa Khannas dalam rupa seekor domba). Kemudian si Iblis datang pula menanyakan anaknya dan Hawa menceritakan apa yang telah terjadi :

“Anakmu dimasak Adam. Separuh tubuhnya aku makan dan separuhnya lagi dimakan oleh Adam.”

“Inilah yang selama ini ku inginkan,” si Iblis berseru girang. “Aku ingin menyusup ke dalam tubuh Adam. Kini setelah dadanya menjadi tempat kediamanku, tercapailah sudah keinginanku itu.

Abul Hasan Muhammad bin Ismail (Khair bin Abdullah) an-Nassaj dari Samara, seorang murid Sari as-Saqathi dan seorang pengikut Junaid. Di kota Basharh ia diambil orang jadi budak, tetapi kemudian ia dapat meneruskan perjalanannya ke Mekkah. Orang-orang mengatakan bahwa ia mencapai usia seratus dua puluh tahun ketika ia meninggal dunia pda tahun 322 H/924 M.

KISAH KHAIR AN-NASSAJ

Khair an-Nassaj adalah salah seorang ketua di antara tokoh-tokoh sufi yang semasa dengan dia. Sebagai seorang murid Sari as-Saqathi, ia dapat mempengaruhi Syibli maupun Ibrahim al-Kahuwas, dan dia sangat dikagumi oleh al-Junaid. Kisah berikut ini menerangkan mengapa ia dijuluki Khair an-Nassaj.

Ia meninggalkan kora kelahirannya Samarra untuk menunaikan ibdah haji ke Mekkah. Di dalam perjalanan itu, ketika ia sampai di gerbang kota Kufah dengan jubah tambal sulam dan wajah yang hitam, semua orang yang melihatnya akan berkata : “Lelaki itu tampaknya adalah orang dungu!.”, Di kota itu ada seseorang yang memperhatikannya.

“Akan ku suruh dia bekerja selama beberapa hari,” orang itu berkata kepada dirinya sendiri, Setelah itu ia pun menghampiri.

“Apakah engkau seorang budak?.” Tanyanya.

“Ya!.”

“apakah kupelihara engkau sampai engkau dapat kukembalikan kepada majikanmu,” orang itu berkata kepadanya.

“Itulah yang kuinginkan selama ini,” sahut Khair. “Selama hidupku aku ingin bertemu dengan seseorang yang dapat mengembalikan aku kepada majikanku.”

Orang itu lalu membawanya pulang.

“Sejak saat itu namamu Khair,” katanya.

Khair an-Nassaj tidak membantah, Ia benar-benar meyakini ucapan bahwa “Seorang yang beriman tidak boleh berbohong,” Khair an-Nassaj mengikuti orang itu dan bekerja padanya. Dia mengajar Khair an-Nassaj menenun kain. Bertahun-tahun lamanya Khair an-Nassaj bekerja. Setiap kali orang itu memanggil namanya, dalam sesaat Khair an-Nassaj telah datang menghadap. Akhirnya setelah menyaksikan betapa Khair an-Nassaj memiliki ketulusan hati, tingkah laku yang sempurna, ketajaman instuisi, dan kebaktian yang teguh, orang itu pun bertaubatlah.

“Aku telah emlakukan kesalahan,” ia berkata kepada Khair an-Nassaj, “Engkau bukan budakku. Pergilah kemana engkau suka.

Maka, berangkatlah Khair an-Nassaj ke kota Mekkah. Di kota ini ia mencapai derajat kesalehan yang sedemikian tingginya sehingga al-Juanid sendiri menyatakan : “Khair an-Nassaj adalah yang terbaik di antara kita,” Ia lebih suka jika orang-orang tetap memanggilnya Khair dengan dalih :

“Tidak baik apabila aku mengubah nama yang telah diberikan oleh seorang Muslim kepadaku.”

Sekali-kali Khair an-Nassaj mempereaktekkan keahliannya bertenun. Kadang-kadang ia pergi ke sungai Tigris ddi mana ikan-ikan menghampirinya sambi membawakan aneka rupa benda-benda untuk dirinya. Pada suatu hari ketika sedang menenun kain untuk seorang wanita tua, si wanita bertanya kepadanya : “Jika aku datang membawakan uang sat dirham tetapi engkau tidak ada di teempat ini, kepada siapakah kutitipkan uang itu?.”

“Lemparkanlah ke dalam sungai Tigris,” jawab Khair an-Nassaj.

Ketika wanita tua itu mengantarkan uang satu dirham itu, Khair an-Nassaj sedang tak ada di tempat. Maka dilemparkannya uang tersebut ke sungai Tigris. Ketika Khair an-Nassaj pergi ke tepi sungai, ikan-ikan memberikan uang satu dirham itu kepadanya.

Orang-orang mengatakan bawa Khair an-Nassaj hidup sampai usia seratus dua puluh tahun. Jalnya hampir tiba ketika masuk waktu Shalat ‘Isa. Malaikat Israil sedang membungkuk di atas tubuhnya ketika Khair an-Nassaj mengangkat kepalanya.

“Semoga Allah melindungimu!.” Khair an-Nassaj berseru. “Tunggulah sebentar. Engkau adalah seorang hamba yang menjalankan perintah, aku pun seorang hamba yang menjalankan perintah. Kepadamu diperintahkan untuk mengambil nyawaku, dan kepadaku pun di perintahkan : “Apabila telah tiba waktu untuk shalat, maka shalatlah engkau!.” Waktu Shalat telah tiba. Engkau mempunyai kesempatan luas untuk melaksanakan perintah. Tetapi kesempatanku hanyalah di saat ini. Bersabarlah sehingga aku selesai shalat ‘Isa.”

Kemudian Khair an-Nassaj bersuci dan shalat. Begitu selesai, ia pun meninggal dunia.

Abul Bakar Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Kattani, lehir di Baghdad. Ia adalah seorang anggota dari kalangan Junaid. Ia pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan menetap di sana hingga wafatnya pada tahun 322/934 M.

KESALEHAN ABU BAKAR AL-KATTANI

Abu Bakar al-Kattani dijuluki sebagai Pelita Masjidil Haram. Ia menetap di kota Mekkah hingga matinya. Ia selalu melakukan shalat di sepanjang malam dan membaca al-Qur’an hingga tamat. Ketika tawaf di Ka’bah, ia sempat membaca dua puluh ribu ayat. Selama tigapuluh tahun, ia duduk di bawah air mancur di dalam Masjidil Haram dan selama itu pula ia ckup bersuci sekali dalam dua puluh empat jam. Di samping itu ia pun tak pernah tidur.

Ketika masih rremaja ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi menunaikan ibadah haji.

“Ketika mencapai padang pasir,” Abu Bakar mengisahkan, “Aku bermipi sehingga aku harus bersuci. Di dalam hati aku berkata, mungkin aku tidak mempunyai persiapan yang selayaknya. Maka aku pun kembali pulang. Sesampainya di rumah, kudapati Ibu sedang menantikan di balik pintu. Aku bertanya kepadanya : Ibu, bukankah ibu telah mengizinkan aku pergi?.”

“Ya,” jawab Ibuku, Tetapi tanpa engkau, aku tak sanggup melihat rumah ini lagi. Sejak engkau pergi, aku duduk di tempat ini. Aku telah bertekad tidak akan beranjak dari tempat ini sebelum engkau pulang kembali.”

Itulah sebabnya sebelum ibuku meninggal dunia, aku tidak mau mecoba mengarungi padang pasir lagi.

oooOOOooo

Abu Bakar al- Kattani meriwayatkan, sebagai berikut  ini :

Ketika aku berada jauh di tengah padang pasir terlihatlah olehku mayat seseorang. Mayat itu terrsenyum’

“He! Mengapakah engkau dapat tersenyum sedangkan engkau sudah mati?.”Aku berseru.

“Karena ksih Allah,” jawab mayat itu.

oooOOOooo

“Ada sedikit kebencian di dalam hatiku kepada ‘Ali, pangeran manusia-manusia yang beriman (Amirul mu’minin),” Abu Bakar al-Kattani mengakui. “Lain tidak ada alasan karena Nabi pernah mengatakan  : “Tidak ada satria sejati selain dari pada ‘Ali,” Dan karena kekesatriannya itulah, wlaupun golongan Muawiyah berada di pihak yang salah dan dia di pihak yang benar, ‘Ali menyerah kepada mereka agar pertempuran darah tidak terjadi.”

“Aku mempunyai sebuah rumah kecil antara Shafa dan Marwah,” Abu Bakar al-Kattani melanjutkan. “Di rumah itu aku bermimpi melihat Nabi beserta sahabt-sahabat yang dikasihinya. Nabi menghampiri dan merangkulku. Kemudian sambil menunjuk ke arah Abu Bakar  ia bertanya : “Siapakah dia itu?.” Abu Bakar,” jawabku. Kemudian Nabi menunjuk ke arah ‘Umar dan aku menjawab : “Umar.” Setelah itu Nabi menunjuk ke arah ‘Utsman dan aku menjawab : “Utsman.” Terakhir sekali ketika Nabi menunjuk ke arah ‘Ali, aku merasa sangat malu untuk menjawab karena selama ini aku menaruh benci kepadanya. Kemudian Nabi mendamaikan aku dengan ‘Ali, dan kami saling berangkulan. Setelah itu semuanya meninggalkan tempat itu kecuali aku dan ‘Ali. “Ayo, marilah kita pergi ke gunung Abu Qubais,” ‘Ali mengajakku. Maka naiklah kami ke puncak gunung itu dan dari tempat itu kami emandang Ka’bah. Ketika aku terjaga, ternyata diriku telah berada di puncak gunung Abu Qubais. Sedikit pun tidak tersisa kebencianku kepada ‘Ali lagi.”

oooOOOooo

Abu Bakar al-Kattani mengisahkan pula : “Aku pernah besahabat dengan seseorang dan dalam perssahabatan itu aku merasa sangat canggung. Aku beri dia suatu hadiah, tetapi kecanggungan itu tidak hilang. Aku bawa ia ke rumahku dan kukatakan kepadanya : “Taruhlah kakimu di mukaku,”. Mula-mula ia menolak, tetapi aku terus mendesak. Akhirnya ia menaruh kakinya ke mukaku sedemikian lamanya sehingga kecanggunganku itu sirna dan berubah menjadi cinta. Pada suatu ketika, dari sebuah sumber yang halal, aku menerima uang dua ratus dirham. Uang itu ku bawa untuk sahabatku itu dan kutaruh di atas sajadahnya. “Pergunakanlah uang itu untuk keperluanmu,” aku berkata kepadanya. Dengan lirikan matanya ia meandang dan menjawab : “Hidupku yang seperti sekarang ini telah ku beli dengan harga tujuh puluh ribu dninar.” Apakah engkau hendak menghanyutkanku dengan uangmu itu?.” Kemudian ia bangkit menepiskan sajadahnya dan meninggalkan tampat itu. Seumur hidup belum pernah aku menemukan manusia yang bermartabat seperti dia, dan belum pernah aku malu seperti ketika aku memunguti kepingan-kepinga dirham itu.”

oooOOOooo

Abu Bakar al-Kattani mempunyai seorang murid yang sedang sekarat menantikan ajalnya. Si murid membuka matanya dan memandang ke arah Ka’bah. Tepat pada saat itu seekor unta yang lewat di tempat itu menyepak mukanya sehingga biji matanya tercungkil keluar.

Sesaat kemudian, terdengar  oleh Abu Bakar al-Kattani sebuah suara yang berkata di dalam dirinya : “Di dalam keadaan yang seperti ini katika rahasia-rahasia dari Yang Ghaib hendak dibukakan kepadanya ia malah berpaling ke arah Ka’bah. Oleh karena itulah ia dihukum. Apabila berhadapan dengan Pemilik Rumah janganlah engkau berpaling memandangi rumah-Nya.”

oooOOOooo

Seorang tua berwajah cerrah berseri-seri, mengenakan sebuah jubah yang anggun, pada suatu hari ia melewati gerbang Banu Syaibah dan menghampiri Abu Bakar al-Kattani yang sedang berdiri dengan kepala merunduk. Setelah saling mengucapkan salam, orang tua itu berkata :

“Mengapakah engaku tidak pergi ke Maqam Ibrahim? Seorang guru besar telah datang dan ia sedang menyampaikan hadits-hadits yang mulia. Marilah kita ke sana untuk mendengarkan kata-katanya.”

“Siapakah perawi dari haduts-hadits yang di khotbahkannya itu?.” Abu Bakar al-Kattani bertanya.

“Dari Abdullah bin Ma’marm, dari Zhuhri, dari Abu Hurairah dan dari Muhammad,” jawab orang tua itu.

“Sebuah rantai perawi yang panjang,” Abu Bakar al-Kattani berkata. “Segala sesuatu yang mereka sampaikan melalui rantaian panjang para perawi di temepat itu dapat kita dengarkan secara langsung di tempat ini.”

“Melalui siapakah engkau mendengar?.” Orang tua itu bertanya.

“Hatiku menyampaikannya padaku langsung dari Allah,” jawab Abu Bakar al-Kattani.

“Apakah kata-katamu itu dapat dibuktikan?.” Orang tua itu bertanya.

“Inilah buktinya,” Abu Bakar al-Kattani menjawab,” hatiku mengatakan bahwa engkau adalah Khidir.”

“Selama ini aku mengira tiak ada sahabat Allah yang tidak kukenal,” Khidir berkata. “Demikianlah halnya sebelum aku bersua dengan Abu Bakar al-Kattani. Aku tidakmengenal dia tetapi dia mengenalku. Maka sadarlah aku bahwa masih ada sahabt-sahabat Allah yang tidak kukenal tapi kenal kepdaku.”

oooOOOooo

Abu Bakar al-Kattani meriwayatkan pula : di dalam sebuah mimpi aku bertemu dengan seorang remaja yang sangat tampan.

“Siapakah engaku ini?.” Aku bertanya kepadanya.

“Kesalehan,” jawabnya.

“Dimanakah tempatmu,” tanyaku.

“Di dalam hati orang-orang yang berduka.”

Kemudian aku bertemu dengan seorang perempuan hitam yang sangat mengerikan.

“Siapakah engaku ini? Aku bertanya kepadanya.

“Gelaktawa, sukaria, dan foya-foya,” jawabnya.

“Dimanakah tempatmu?.” Tanyaku.

“Di dlam hati orang-orang yang berbuat sesuka hati mereka dan orang-orang yang bersenang-senang.”

Ketika aku terbangun, aku bertekad, bahwa seumur hidupku aku tidak akan tertawa kecuali apabila aku sudah tiadak kuasa menahannya.

Abul ‘Abdullah Muhammad bin Khafifi bin Isfaksyad. Lahir di Syiraz tahun 270H/882 M. Beliau adalah seorang tokoh suci di Persia, dan berasal dari keluarga bangsawan. Setelah mendapat pengetahuan yang luas, Ibnu Khafif berangkat ke Baghdad, di kota ini ia bertemu dengan al-Hallaj beserta tokoh-tokoh sufi lainnya. Setidak-tidaknya telah enam kali ia menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan diriwayatkan pula bahwa ia pernah berkunjung ke Mesir dan Asia Kecil. Ia telah menulis beberapa buah buku dan meninggal dunia dalam usia lanjut di kota kelahirannya pada tahun 371H/982 M.

PERTAPAAN IBNU KHAFIF

Ibnu Khafif dari Fars berasal dari keluarga bangsawan. Ia dijuluki demikian karena ia memikul beban yang ringan, memiliki jiwwa yang lapang, dan akan menghadapi masa perhitungan yang mudah. Setiap malam ia memakan tidak lebih dari tujuh buah kismis sebagai pembuka puasanya. Pada sautu malam pelayannya menyajikan delapan buah kismis kepadanya. Ibnu Khafif tidak menyadari hal ini dan menghabiskannya. Tetapi karena tidak mendapatkan kepuasan di dalam ibdahnya kepada Allah dan tidak seperti yang dialaminya setiap malam, maka dipanggilnyalah si pelayan untuk meminta keterangannya.

“Aku telah memberikan delapan buah kismis kepadamu,” si pelayan mengaku.

“Mengapa?, tanya Ibnu Khafif.

“Kulihat engkau sangat lemah dan aku merasa kasihan,” jawab si pelayan, “Aku ingin agar engkau memperoleh kekuatan.”

“Dengan berbuat demikian engkau bukanlah sahabatku tetapi musuhku,” hardik Ibnu Khafif. “Jika engkau memang bersahabt denganku, niscaya engkau akan memberikan enam buah kismis kepadaku, bukan delapan buah.”

Pelayan itu dipecatnya dan digantinya dengan yang baru.

oooOOOooo

Ibnu Khafif mengisahkan seperti berikut ini.

Ketika masih muda, aku ingin sekali pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Ketika aku sampai ke kota Baghdad, kepalaku penuh dengan kecongkakan sehingg aku tidak mau menemui Junaid. Aku meneruskan perjalanan dengan membawa seutas tali dan sebuah timba. Ketika telah berada jauh di tengah padang pasir, kau merasa sangat dahaga. Dari jauh terlihatlah olehku sebuah telaga dan seekor rusa yang sedang minum. Begitu aku sampai di tepi telaga itu ternyata airnya telah habis terserap bumi.

“Ya Allah, seruku, “apakah Abdullah lebih hina dari seekor rusa?.

“Rusa itu tidak membawa tali dan timba,” kudengar sebuah jawaban,” ia berpasarah diri kepada kami.”

Dengan hati gembira tali dan timba itu kubuang, kemudian kulanjutkan perjalananku.

“Abdullah” kudengar sebuah panggilan, “Kami hanya mengujimmu, ternyata engkau tabah, oleh karena itu kembalilah dan minumlah air telga itu.”

Aku pun balik dan kudapati air telaga itu telah penuh kembali,. Aku bersuci dan meminum air telaga tersebut. Setelah itu aku berangkat dan di sepanjang perjalanan ke Madinah aku tidak pernah membutuhkan air karena telah bersuci di telaga tadi.

Pada hari Jum’at ketika aku berada kembali di Baghdad, aku pergi ke masjid. Juanid melihatku dan berkata kepadaku,

“Seandainya dulu engkau benar-benar bersabar, niscaya air akan menyembur dari bawah kakimu.”

oooOOOooo

Ketika aku masih remaja (Ibnu Khafif meriwayatkan) seorang guru sufi datng mengunjungiku. Setelah meliaht betapa aku sangat lapar, ia mengajakku ke rumahnya. Ketika sampai, ternyata di dapur sedng dimasak daging dan baunya memenuhi seluruh ruangan. Aku merasa mual dan tidak sanggup memakannya. Sang guru sufi yang melihat keenggananku itu menjadi sangat malu. Aku sendiri pun menjadi sangat bingung, lalu aku tinggalkan santapan itu. Kemudain aku dan beberapa orang sahabt melanjutkan perjalanan.

 Di Qadisiyah kami tersesat, sedang bekal kami telah habis. Beberapa hari kami masih dapat bertahan, tetapi akhirnya tiada berdaya. Penderitaan kami sedemikian beratnya sehingga kami membeli seekor anjing dengan harga yang mahal. Kemudian kami memanggang anjing itu. Sebagai lbagianku kuterimalah sekerat. Ketika aku hendak memakannya teringatlah aku peristiwa di rumah guru sufi dan makanan yang disuguhkannya kepadaku.

“Inilah hukumanku karena telah membuat malu san gguru sufi.” Aku berkata dalam hati.

Aku memohon ampun kepada Allah, dan Allah menunjukkan jalan kepada kami. Ketika sampai di rumah aku pergi meminta maaf kepada si guru sufi.

oooOOOooo

Pada suatu hari aku mendengar berita bahwa di negeri Mesir ada seorang tua dan seorang pemuda yang secara terus menerus mengadakan meditasi. Maka berangkatlah aku ke Mesir dan di negeri itu ku temukan dua orang yang dengan kepala tertunduk menghadap ka arah kota Mekkah. Tetapi setelah tiga kali kuucapkan salam, mereka tetap membungkam.

“Demi Allah, jawablah salamku!.”, aku berseru kepada mereka.

“Ibnu Khafif,” si pemuda menyahut sambil mengangkat kepalanya, “Duniaini adalah kecil, dan dari dunia yang kecil ini hanya sedikit yang masih tersisa. Dari sisa yang sedikit ini ambillah bagiamu yang sebesar-besarnya. Engkau telah membuang banyak waktu dengan mengucapkan salam kepada kami.”

Setelah berkata demikian si pemuda menundukkan kepalanya kembali. Walaupun tadi aku merasa lapar dan dahaga, tetapi kini lapar dan dahaga itu tidak terasa lagi. Aku benar-benar kagum terhadap mereka. Aku tidak beranjak dari tempat itu. Shalat Zhuhur dan ‘Ashar aku lakukan bersama mereka. Kemudian aku bermohon kepada mereka.

“Berilah aku sebuah pertuah.”

“Ibnu Khafif, jawab si pemuda. “Kami berdua adalah manusia-manusia yang berduka. Kami tidak mempunyai lidah untuk memberikan nasehat. Orang lainlah yang harus memberikan nasehat kepada orang-orang yang berduka.”

Aku terus bertahan di tempat itu selama tiga hari tiga malam dan selama itu pula aku tidak makan dan tidak tidur.

“Apakah yang ahrus ku katakan agar mereka mau memberikan petuha kepadaku?.” Aku berkata dalam hati.

Si Pemuda mengangkat kepalanya dan berkata,

“Temuilan seseorang yang apabila memandangnya engkau teringat kepada Allah, dan karena terpesona kepadanya hatimu akan terjaga, yaitu seorang yang akan memberi nasehat melalui perbuatan, bukan melalui kata-kata.

oooOOOooo

Setahun lamanya aku berdiam di Bizantium. Pada suatu hari aku berjalan-jalan ke padang pasir. Di sana kulihat orang ramai sedang menggotong mayat seorang rahib yang kurus kering. Kemudain mereka membakarnya dan abunya itu mereka sapukan ke mata oarang-orang yang buta. Sungguh ajaib, karena kekuasaan Allah, orang-orang buta itu dapat melihat kembali. Kemudian orang-orang yang menderita penyakit, menelan abu itu pula dan sesatt itu juga mereka menjadi sehat kembali. Aku terheran-heran, bagaimanakah itu mungkin terjadi karena mereka sesungguhnya menganut agama yang salah. Pada malam itu aku bermimpi bertemu dengan Nabi.

“Ya Rasulullah, apakah yang sedang engkau lakuka?.” Aku bertanya.

“Aku telah datang demi engkau,” jawab Nabi.

“Ya Rasulullah, bagaimanakah keajaiban tadi bisa terjadi?.” Aku bertanya.

“Itulah hasil kesungguhan hati dan disiplin diri di dalam kesesatan, “jawab Nabi,” Coba bayangkan, apabila hal itu dilakukan di dalam kebenaran.”

IBNU KHAFIF DAN ISTERI-ISTERINYA

Pada suatu malam Ibnu Khafif memanggil pelayannya.

“Carikanlah seorang wanita untukku,” katanya kepada si pelayan.

“Kemanakah hendak ku cari seorang wanita tengah malam seperti ini?.” Jawab si pelayan. “Tetapi aku mempunyai seorang puteri jika tuan mengizinkan aku akan pergi menjemputnya.”

 Pergilah dan bawa puterimu itu ke mari,” kat Ibnu Khafif.

Si pelayan membawa puterinya dan di saat itu juga Ibnu Khafif menikahinya. Tujuh bulan kemudian lahirlah seorang bayi, tetapi tidak lama kemudian bayi itu mati.

“Suruhlah puterimu itu meminta cerai dariku.” Kata Ibnu Khafif kepada pelayannya. “Atau kalua dia suka, dia boleh tetap tinggal bersamaku.” “Tuan, apakah rahasia di balik semua ini?.” Si pelayan bertanya.

“Di malam pernikahan itu,” Ibnu Khafif menjelaskan.” Aku bermimpi hari berbangkit telah tiba. Banyak orang yang berdiri kebingungan sedang keringat melimpah sampai ke leher mereka. Tiba-tiba muncul seorang anak meraih tangan ayah bundanya dan cepat bagaikan sngin dimbingbingnya mereka melalui jembatan di antara surga dan neraka. Oleh karena itulah aku ingin mempunyai seorang anak. Ketika anakku lahir dan kemudian mati, maka tercapailah sudah keinginanku itu.”

Orang-orang mengatakan bahwa sejak itu Ibnu Khafif telah menikah sebanyak empat ratus kali. Karena ia keturunan bangsawan maka ketika ia bertaubat dan mencapai kesalehan yang sempurna, banyaklah wanita-wanita yang memajukan diri untuk dilamarnya. Dalam waktu yang bersamaan ia beristeri dua atau tiga orang. Salah seorang di antaranya, puteri wazir yang menjadi isterinya selama empat puluh tahun.

Kepada isteri-isterinya ini beberapa orang pernah bertanya bagaimanakah sikap Ibnu Khafif terhadap mereka secara pribadi.

“Tidak sesuatu pun yang kami keteahui mengenai dirinya.” Jawab mereka.

“Kalau di antara kami ada juga yang tahu, tentulah ia itu puteri wazir.”

Maka, bertanyalah mereka kepada puteri wazir, mereka mendapat jawaban :

“Apabila kuketahui bahwa syeikh hendak berkunjung ke kamarku di malam hari, ku persiapkan makanan yang lezat-lezat. Kemudian aku berdandan. Ketia ia datang dan melihat apa yang aku lakukan, aku pun dipanggilnya dan dipandanginya beberapa saat lamanya. Kemudian untuk beberapa saat pula dipandangnya makanan yang telah ku sediakan itu. Pada suatu malam syeikh menarik tanganku dan melapis tanganku dengan lengan bajunya kemudian diusapkannya ke perutnya. “Tidak ingin kah engkau bertanya simpul-simpul apakah ini?” ia bertanya kepadaku. Maka akupun bertanya. Simpul-simpul apakah itu?. Semua ini adalah gejoolak-gejolak api ketahanan yang telah kusimpulkan satu persatu agar aku dapat bertahan terhadap kejelitaan dan makanan lezat yang engkau hidangkan kepadaku; jawab beliau. Kemudian ia pergi meninggalkan aku. Itulah satu-satunya hubungan intim di antara kami. Alangkah kokoh disiplin diri Ibnu Khafif.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI IBNU KHAFIF

Ada dua orang murid Ibnu Khafif, yang seorang bernama Ahmad Tua dan yang seorang lagi Ahmad Muda. Di antara kedua muridnya ini Ibnu Khafif lebih menyaangi Ahmad Muda. Murid-murid lain tidak setuju terhadap sikap Ibnu Khafif ini. Mereka berdalih : Bukankah Ahmad Tua telah menjalankan lebih banyak perintah dan disiplin diri?.” Setelah mengetahui perihal ini, Ibnu Khafif ingin membuktikan kepadamereka, bahwa Ahmad Muda lebih unggul dari Ahmad Tua. Pada saat itu ada seekor unta yang sedang tidur di depan pintu.

“Ahmad Tua,” Ibnu Khafif memanggil.

“Saya!.” Sahut Ahmad Tua.

“Angkatlah unta itu ke atas loteng,” periintah Ibnu Khafif.

“Guru,” kata Ahmad Tua, “mana mungkin aku dapat mengangkat unta itu ke atas loteng.”

“Cukup,” jawab Ibnu Khafif. Kemudian ia memanggil Ahmad Muda.

“Ahmad Muda,” panggilnya.

“Saya,” Ahmad Muda menyahut.

“Angkatlah unta itu ke atas loteng.”

Ahmad Muda segera mengencangkan ikat pinggangnya, menggulung lengan bajunya, dan berlari-lari keluar. Ahmad Muda menaruh kedua tangannya ke bawah tubuh binatang itu dan dengan sekuat tenaga mengangkatnya, namun sia-sia.

“Cukup, baik sekali!.” Ibnu Khafif berseru.

Kemudian berkatalah ia kepada murid-muridnya.

“Sekarang  tahulah kalian bahwa Ahmad Muda-lah yang telah melakukan kewajibannnya. Ia mentaati perintah tanpa membantah. Yang dipentingkannya adalah perintahku dan tidak perduli apakah perintah itu dapat dilaksanakannya atau tidak. Sebaliknya dengan Ahmad Tua, ia hanya ignin berdalih dan membantah. Dari sikap yang terlihat kita dapat memahami keinginan di dalam hati seseorang.”

oooOOOooo

Seorang pengelana mengunjungi Ibnu Khafif. Ia mengenakan jubah hitam, syal hitam, celana hitam dan baju hitam. Di dalam batinnya, syeikh Ibnu Khafif merasa cemburu. Ketika si pengelana melakukan shalat sunnat dua raka’at dan mengucapkan salam, Ibnu Khafif bertanya kepadanya,

“Mengapa engkau berpakaian serba hitam?.

“Karena Tuhan-Tuhanku telah mati (Yang dimaksudnya adalah hawa nafsunya).

“Pernahkah engkau menyaksikan seseorang yang mempertuhankan hawa nafsunya?.”

“Usir orang itu keluar.” Ibnu Khafif memberi perintah kepada murid-muridnya.

Dengan kasar si pengelana diusir ke luar.

Kemudian Ibnu Khafif memerintahkan pula,

“Bawa di masuk.”

Orang itu pun dibawa masuk. Perlakuan yang seperti itu berulang-ulang sampai empat puluh kali. Akhirnya Ibnu Khafif bangkit dari tempat duduknya, mencium kepala si pengelana dan memohon maaf.

“Engkau memang berhak berpakaian serba hitam,” kata Ibnu Khafif. “Telah empat puluh kali murid-muridku menyakiti hatimu tetapi engkau tetap tabah.”

oooOOOooo

Dari negeri yang jauh, datang dua orang sufi untuk berkunjung kepada Ibnu Khafif. Karena tidak menemukan syeikh di tempatnya, maka bertanya-tanyalah mereka, di manakah kiranya Ibnu Khafif berada pada saat itu.

“DI istana Azud ad-Daula,” seseorang memberikan keterangan..

“Apakah urusan syeikh Ibnu Khafif di istana? Kedua sufi itu bertanya-tanya. “Selama ini kita mengira bahwa ia adalah orang yang mulia!.” Kemudian mereka berkata, “Lebih baik kita melihat-lihat kota ini.”

Maka pergilah mereka ke pasar. Kemudian mereka menuju ke tempat tukang jahit untuk menamabalkan jubah mereka yang robek di sebelah depannya. Tetapi ketika itu si penjahit lagi kehilangan guntingnya.

“Kalaian mencari gunting,” orang ramai menuduh mereka berdua dan menyerahkan mereka kepada polisi. Kedua sufi itu digiring ke istana.

“Potonglah tangan mereka,” Azud ad-Daula memberikan perintah.

“”Tunggu!.” Ibnu Khafif yang ketika itu berada di istana berseru. “Mereka ini bukan pencuri.”

Maka kedua sufi itu pun dibebaskan. Kemudian Ibnu Khafif berkata kepada mereka.

“Persangkaan buruk kalian terhadap diriku memang wajar. Tetapi urusanku yang sebenarnya di istana adalah untuk tujuan-tujuan seperti membebaskan tadi.”

Sejak itu keduanya menjadi murid Ibnu Khafif.

Abul Mughits al-Husain bin Manshur al-Hallaj adalah tokoh yang paling kontroversil di dalam sejarah mistisme Islam, ia lhir kira-kira tahun 244 H/858M. Di dekat kota al-Baiza’ di Propinsi Fars. Al-hallaj sangat sering melakukan pengembaraan, mula-mula ke tustar dan Baghdad, kemduain ke Mekkah, dan sesudah itu ke Khuziztan, Khurasan, Transoxiana, Sistan, India dan Turkistan. Terakhir sekali ia kembali kota Baghdad, tetapi karena khotbah-khotbahnya yang berani mengenai bersatunya manusia dengan Allah ia dipenjarakan, dengan tuduhan telah menyebarkan faham inkarnasionisme. Al-Hallaj dijatuhi hukuman mati dan hukuman mati ini, dan hukuman ini secara kejam telah dilaksanakan pada tanggal 29 Zulkaidah 309 H atau 28 Maret 913. Ia menulis beberapa buah buku dan syair-syair yang banyak jumlahnya. Di dalam legenda Muslim, al-Hallaj tampil sebagai prototip dari seorang pencinta yang mabuk dan tergila-gila kepada Allah.

PENGEMBARAAN AL-HALLAJ

Husain al-Manshur, yang dijuluki al Hallaj (pemangkas bulu domba), mula-mula pergi ke Tustar, dan mengabdi kepada Sahl bin Abdullah selama dua tahun. Setelah itu ia pindah ke Baghdad. Ia memulai pengembaraannya ketika ia berusia delapan belas tahun.

Setelah itu ia pergi ke Bashrah dan mengikuti “Amr bin “Utsman selama delapan belas bulan. Ya’qub bin Aqtha menikahkan putrinya kepada Hallaj, dan setelah pernikahan itulah “Amr bin ‘Utsman tidak senang kepadanya. Maka Hallaj meninggalkan kota Bashrah dan pergi ke Baghdad mengunjungi Junaid. Junaid menyuruh Hallaj berdiam diri dan menyendiri. Setelah beberapa lama menjadi murid Junaid ia pergi ke Hijaz. Dia tinggal di Kota Mekkah selama setahun, kemudian kembali ke Baghdad. Bersama sekelompuk sufi, ia mendengarkan ceramah-ceramah Junaid dan mengajukan  beberapa pertanyaan yang tidak dijawab oleh Junaid.

“Akan tetapi tiba saatnya kelak, engkau akan membasahi sepotong kayu dengan darahmu”, kata Junaid kepada Hallaj.

“Sewaktu akau membasahi sepotong kayu itu engkau akan mengenakan pakaian golongan formalis”, balas Hallaj.

Kata-kata mereka terbukti kebenarannya. Sewaktu para cerdik pandai yang terkemuka mengambil kesepakatan bahwa Al HAllaj harus dihukum, Junaid sedang mengenakan jubah sufi dank karena itu ia tidak mau memberi tanda tangannya. Khalifah menyatakan bahwa mereka perlu mendapatkan tanda tangan Junaid. Maka pergilah Junaid untuk mengenakan sorban dan jubah kaum ilmuwan. Kemudian ia kembali ke madrasah dan menandatangani surat keputusan itu. Junaid menuliskan :

“Kami memutuskan sesuai dengan hal-hal yang terlihat. Mengenai kebenaran yang terbenam di dalam kalbu, hanya Allah yang Maha Tahu”.

Ketika Junaid tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan, Hallaj menjadi jengkel dan pergi menuju Tustar tanpa pamit. Di sini ia tinggal selama setahun dan mendapatkan sambutan luas. Karena Hallaj kurang acuh terhadap doktrin yang populer pada masa itu, para theology sangat benci kepadanya. Sementara ‘Amr bin ‘Utsman menyurati orang-orang Khuziatan dan memburuk-burukan nama Hallaj. Tetapi Hallaj sendiri sebenarnya sudah bosan di tempat itu. Pakaian sufi dilepaskannya dan ia mencebur ke dalam pergaulan orang-orang yang mementingkan duniawi. Tetapi pergaulan ini tidak mempengaruhi dirinya. Lima tahun kemudian ia menghilang. Sebagian waktunya dilewatinya di Khurasan dan Transoxiana, dan sebagian lagi di Sistan.

 Kemudian Hallaj kembali ke Ahwaz, khotbah-khotbahnya disambut baik oleh kalangan atas maupun rakyat banyak. Di dalam khotbah-khotbahnya itu ia mengajarkan rahasia-rahasia manusia, sehingga ia dijuluki sebagai Hallaj yang mengetahui rahasia-rahasia. Setelah itu ia mengenakan jubah guru sufi yang lusuh dan pergi ke Tanah Suci bersama-sama dengan orang-orang yang berpakaian seperti dia. Ketika ia sampai ke Kota Mekkah, Ya’qub an-Nahrajuri menuduhnya sebagai tukang sihir. Oleh karena itu Hallaj kembali ke Bashrah dan setelah itu ke Ahwaz.

“Kini telah tiba saatnya aku harus pergi ke negeri-negeri yang penduduknya ber-Tuhan banyak untuk menyeru mereka ke jalan Allah”, kata Hallaj.

Maka berangkatlah ia ke India, Transoxiana dan Cina untuk menyeru mereka ke jalan Allah dan memberikan pelajaran-pelajaran kepada mereka. Setelah ia meninggalkan negeri-negeri tersebut banyaklah oarng-orang dari sana yang berkirim surat kepadanya. Orang-orang India menyebut Hallaj sebagai Abul Mughits, orang-orang Cina menyebutnya Abul Mu’in, dan orang-orang Khurasan menyebutnya Abul Muhr, orang-orang Fars menyebutnya Abu ‘Abdullah, dan orang-orang Khuzistan menyebutnya Hallaj yang Mengetahui Rahasia-rahasia. Di kota Baghdad ia dijuluki sebagai Mustaslim dan di kota Bashrah sebagai Mukhabar.

SEMANGAT HALLAJ

Setelah itu banyak cerita-cerita orang mengenai Hallaj. Maka berangkatlah ia ke Mekkah dan menetap ia di sana selama dua tahun. Ketika kembali, Hallaj telah mengalami banyak perubahan dan menyerukan kebenaran dengan kata-kata yang membingungkan siapapun jua. Orang-orang mengatakan bahwa Hallaj pernah diusir dari lebih lima puluh kota.

Mengenai diri Hallaj, orang-orang terpecah dua, orang-orang yang menentang dan mendukung Hallaj sama banyaknya. Dan mereka telah menyaksikan keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Hallaj. Tetapi lidah fitnah menyerangnya dan ucapannya-ucapannya disampaikan orang kepada Khalifah. Akhirnya semua pihak sependapat bahwa Hallaj harus dihukum mati karena menyatakan Akulah Yang Haq (Ana al Haq – termuat dalam Kitab Tawasin – karangan Al Hallaj. Sebagai pembanding Muhammad Iqbal sufi muda yang pernah menjadi Perdana Menteri India dan juga pernah sebagai saksi perjanjian Renfil antara Indonesia dan India, menyatakan : Ana Ahmad bila Mim – saya Ahmad tanpa Mim – Ahad - Allah, karena tidak ada fitnah, maka tidak ada masalah. Pen.)

“Katakan, hanya Dia-lah yang Haq”, mereka berseru kepada Hallaj.

“Ya, Dia-lah Segalanya”, jawab Hallaj. “Kalian mengatakan bahwa Dia telah hilang. Sebaliknya, Husain-lah yang telah hilang. Samudera tidak akan hilang atau menysut aairnya”.

“Kata-kata yang diucapkan Hallaj ini mengandung makna-makna esoteric”, kata mereka kepada Junaid.

“Bunuhlah Hallaj”, jawab Junaid, “Pada zaman ini kita tidak memerlukan makna-makna esoteric”.

Kemudian kelompok theology yang menentang Hallaj menyampaikan ucap-ucapannya yang diputarbalikan kepada Mu’tashim. Mereka berhasil membuat wazir ‘Ali bin Isa menentang Hallaj. Khalifah memberikan perintah agar Hallaj dijebloskan ke dalam penjara. Setahun lamanya Hallaj mendekam di dalam penjara, tetapi orang tetap mengunjungi dan meminta nasihat sehubungan dengan masalah-masalah yang mereka hadapi. Kemudian dikeluarkanlah larangan untuk mengunjungi Hallaj di dalam penjara. Selama lima bulan tidak ada yang datang kepadanya  kecuali Ibnu Atha dan Ibnu Khafif, masing-masing sekali. Pada suatu kali Ibnu Atha’ menyurati Hallaj:

“Guru, mohonkanlah ampunan karena kata-kata yang telah engkau ucapkan, sehingga engkau dapat dibebaskan”.

“Katakanlah kepada Ibnu Atha’, jwab Hallaj, “siapakah yang menyuruhku untuk minta maaf”.

Mendengar jawaban ini, Ibnu Atha’ tidak dapat menahan tangisannya. Kemudian ia berkata :

“Dibanding dengan Hallaj kita lebih hina daripada debu”.

Orang-orang mengatakan, bahwa pada malam pertama Hallaj dipenjarakan, para penjaga mendatangi kamar tahanannya, tetapi mereka tidak menemukan dirinya. Seluruh penjara mereka geledah, namun sia-sia saja. Pada malam ke dua, betatapun mereka mencari, mereka tidak menemukan Halaj dan kamar tahanannya. Pada malam ke tiga barulah mereka dapat menemukan Hallaj di dalam kamarnya.

Para penjaga bertanya kepada Hallaj.

“Di manakah engkau pada malam pertama, dan dimanakah engkau beserta kamar tahananmu pada malam yang ke dua? Tetapi kini engkau dan kamar tahananmu telah ada pula di sini, mengapakah bisa demikian?”

Pada malam pertama”. Kata Hallaj, “Aku pergi ke Hadirat Allah, oleh karena itu aku tidak ada di tempat ini. Pada malam kedua Allah berada di tempat ini oleh karena itu aku dan kamr tahananku ini mejadi sirna. Pada malam yang ketiga aku disuruh kembali ke tempat ini agar hokum-Nya dapat dilaksanakan. Kini laksanakanlah kewajiban kalian”.

Ketika Hallaj dijebloskan ke dalam penjara, ada tigaratus orang yang dikurung di tempat itu. Malam itu Hallaj berkata kepada mereka :

“Maukah kalian jika aku membebaskan kalian ?”

“Mengapa engkau tidak membebaskan dirimu sendiri?”, jawab mereka.

“Aku adalah tawanan Allah. Aku adalah penjaga pintu keselamatan”, jawab Hallaj. “Jika ku kehendaki, dengan sebuah gerak isyarat saja semua belenggu yang mengikat kalian dapat kuputuskan.

Kemudian Hallaj membuat gerakan dengan jarinya dan putuslah semua belenggu mereka. Tawanan-tawanan itu bertanya pula,

“Kemanakah kami harus pergi, pintu-pintu penjara masih terkunci”.

Kembali Hallaj membuat sebuah gerakan dan seketika itu juga terlihatlah sebuah celah di tembok penjara.

“Sekarang pergilah kalian”, seru Hallaj.

“Apakah sengkau tidak turut beserta kami?”, mereka bertanya.

“Tidak”, jawab Hallaj. “Aku mempunyai sebuah rahasia dengan Dia, yang tidak dapat disampaikan kecuali di atas tiang gantungan”.

Esok harinya para penjaga bertanya kepada Hallaj.

“Kemanakah semua tahanan di sini?”

“Aku telah membebaskan mereka”, jawab Hallaj.

“Engkau sendiri, mengapa tidak meninggalkan tempat ini?”. Tanya mereka.

“Dengan berbuat demikian, Allah akan mencela diriku. Oleh karena itu aku tidak melarikan diri”.

Kejadian ini disampaikan kepada Khalifah. Khalifah berseru,

“Pasti akan timbul kerusuhan. Bunuhlah Hallaj atau pukulilah dia dengan kayu sehingga ia menarik ucap-ucapannya kembali”.

Tiga ratus kali Hallaj dipukuli dengan kayu. Setiap kali tubuhnya dipukul terdengar sebuah suara lantang yang berseru :

“Janganlah takut wahai putera Manshur”.

Kemudian ia digiring ke panggung penghukuman. Dengan menyeret tigabelas rantai yang membelenggu dirinya, Hallaj berjalan dengan mengacung-acungkan ke dua tangannya.

“Mengapa engkau melangkah sedemikian angkuhnya?, mereka bertanya.

“Karena aku sedang menuju ke tempat penjagalan”, jawabnya.

Ketika mereka sampai ke panggung penghukuman di Bab at Taq, Hallaj mencium panggung itu sebelum naik ke atasnya.

“Bagaimanakah perasanmu pada saat ini?, mereka menggoda Hallaj.

“Kenaikan bagi manusia-manusia sejati adalah di puncak tiang gantungan”, jawa Hallaj.

Ketika itu Hallaj mengenakan sebuah celana dan sebuah mantel. Ia menghadap ke arah kota Mekkah, mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah.

“Yang diketahui-nya tidak diketahui oleh siapapun juga”, Halaj berkata dan naik ke atas.

Sekelompok murid-muridnya bertanya : “Apakah yang dapat engkau katakana mengenai kami murid-muridmu ini dan orang-orang yang mengutukmu dan hendak merajammu itu?”

“Mereka akan memperoleh dua buah ganjaran tetapi kalian hanya sebuah”, jawab Hallaj. “Kalian hanya berpihak kepadaku, tetapi mereka terdorong oleh Iman yang teguh kepada Allah Yang Esa untuk mempertahankan kewibawaan hokum-Nya”.

Syibli dating dan berdiri di depan Hallaj.

“Bukankah Kami telah melarang engkau ………………….? “Kemudian ia bertanya ke Al Hallaj “Apakah Sufisme itu ?.

“Bagian yang terendah dari sufisme adalah hal yang dapat kau saksikan ini”, jawab Hallaj.

“Dan bagian yang lebih tinggi?, Tanya Syibli.

“Bagian itu takkan terjangkau olehmu”, jawab Hallaj.

Kemudian semua penonton mulai melempari Hallaj dengan batu. Agar sesuai dengan perbuatan orang ramai, Syibli melontarkan sekepal tanah dan Hallaj mengeluh.

“Engkau tidak mengeluh ketika tubuhmu dilempari batu”, orang-orang bertanya kepadanya. “Tetapi mengeluh karena Sekepal tanah?”

“Karena orang-orang yang merajamku dengan batu tidak menyadari perbuatan mereka. Mereka dapat dimaafkan. Tetapi tanah yang dilemparkan ke tubuhku itu sungguh menyakitkan karena ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melakukan hal itu”.

Kemudian kedua tangan Hallaj dipotong tetapi ia tertawa.

“Mengapa engkau tertawa?”, orang-orang bertanya kepadanya.

“Memotong tangan seseorang yang terbelenggu adalah gampang”, jawab Hallaj. “Seorang manusia sejati adalah seorang yang memotong tangan yang memindahkan mahkota aspirasi dari atas tahta”.

Kemudian kedua kakinya dipotong. Al Hallaj tersenyum.

“Dengan kedua kaki ini aku berjalan di atas bumi”, ia berkata. “Aku masih mempunyai dua buah kaki yang lain, dua buah kaki yang pada saat ini sedang berjalan menuju surga. Jika kalian sanggup, putuskanlah kedua kakiku itu!”.

Kemudian kedua tangannya yang bunting itu diusapkannya ke mukanya, sehingga muka dan lengannya basah oleh darah.

“Mengapa engkau berbuat demikian?” orang-orang bertanya. Hallaj dmenjawab :

Telah banyak darahku yang tertumpah. Aku menyadari tentulah wajahku telah berubah pucat dan kalian akan menyangka bahwa kepucatan itu karena aku takut. Maka kusapukan darah ke wajahku agar tampak segar di mata kalian. Pupur para pahlawan adaalah darah mereka sendiri”.

“Tetapi mengapakah engkau membasahai lenganmu dengan darah pula?”

“Aku bersuci”.

“Bersuci untuk sholat apa?”

“Jika seseorang hendak sholat sunnat dua ropka’at karena cinta kepada Allah”, jawab Hallaj. “Bersucinya tidak cukup sempurna jika tidak menggunakan darah”.

Kemudian kedua biji matanya dicungkil. Orang ramai gempar. Sebagian menangis dan sebagiannya lagi terus melemparinya dengan batu. Ketika lidahnya hendak dipotong, barulah Hallaj bermohon :

“Bersabarlah sebentar, berilah aku kesempatan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata”. Kemudian dengan wajah menengadah ke atas. Hallaj berseru : “Ya Allah, janganlah engkau usir mereka (di akhirat nanti) karena meraka telah menganiaya aku demi engkau juga, dan janganlah Engkau cegah mereka untuk menikmati kebahagian ini. Segala Puji bagi Allah, karena mereka telah memotong kedua kakiku yang sedang berjalan di atas jalan-Mu. Dan apabila mereka memenggal kepalaku, berarti mereka telah mengangkatkan kepalaku ke atas tiang gantungan untuk merenungi keagungan-Mu”.

Kemudian telinga dan hidungnya dipotong. Pada saat itu muncullah seorang wanita tua yang sedang membawa kendi. Melihat keadaan Hallaj itu, si wanita berseru :

“Mampuslah dia. Apakah hak si pencuci bulu domba ini untuk berbicara mengenai Allah ?”

Kata-kata terakhir yang diucapkan Hallaj adalah :

“Cinta kepada yang Maha Esa adalah melebur ke dalam Yang Esa”. (Manunggaling Kawula Gusti. Pen.)

Kemudian disenandungkannya ayat berikut :

“ Orang-orang yang tidak mempercayai-Nya ingin segera mendapatkan-Nya, tetapi orang yang mempercayai-Nya takut kepada-Nya sedang mereka mengetahui kebenaran-Nya”.

Itulah ucapan yang terakhir. Kemudian mereka memotong lidahnya. Ketika tiba saatnya Sholat, barulah mereka memenggal kepadala Al Hallaj. Ketika dipenggal itu Hallaj masih tampak tersenyum. Sesaat kemudian ia pun mati.

Orang ramai menjadi gempar. Hallaj telah membawa bola takdir ke padang kepasrahan. Dan dari setiap anggota tubuhnya terdengar kata-kata : “Akulah yang Haq”.

Keesokan harinya mereka berkata :

“Fitnah itu akan menjadi lebih besar daripada ketika ia masih hidup”. Maka mayat al Hallaj dibakarlah oleh mereka. Dari abu pembakaran mayatnya, terdengar seruan : “Akulah yang Haq”. Bahkan ketika bagian-bagian tubuhnya dipotong, setiap tetets darahnya membentuk perkataan Allah. Mereka menjadi bingung dan membuang abu itu ke sungai Tigris. Ketika abu-abunya mengambang di permukaan air, dari abu-abu itu terdengar ucapan : “Akulah yang Haq”.

Ketika ia masih hidup, Hallaj pernah berkata :

“Apabila mereka membuang abu pembakaran mayatku ke sunga Tigris, kota Baghdad akan terancam air bah. Taruhlah jubahku di tepi sungai agar Baghdad tidak binasa”.

Seorang hamba, setelah menyaksikan betapa air sungai mulai menggelora, segera mengambil jubah tuannya dan menaruh jubah itu di pinggir sunga Tigris. Air sungai mereda kembali dan abu-abu itu tidak bersuara lagi. Kemudian orang-orang mengumpulkan abu-abu nya dan menguburkannya.

Abu ishaq Ibrahim al-Khauwash dari Samara adalah seorang sahabt al-Junaid, ia termasyhur karena pengembaraan-pengembaraannya yang lama di padang pasir. Ia meninggal dunia di Rayy pada tahun 291 H/ 904 M.

IBRAHIM AL-KHAUWASH DI PADANG PASIR

Ibrahim al-Khauwash semasa dengan Junaid dan Nuri, beliau terkenal sebagai pemimpin orang-orang  yang berpasrah diri kepada Allah. Sedemkian pasrahnya ia kepada Allah sehingga karena tercium buah apel saja ia meu menempuh perjalanan menempuh padang pasir. Tetapi betatapun uniknya, di dalam kepasrahannya itu, ia tidak pernah lupa membawa jarum, benang, gunting dan botol. Apabila ditanyakan mengapa ia membawa benda-benda itu, maka jawabnya : “Benda-benda yang sedikit  ini tidak mengurangi kepasrahan ku,”. Berikut ini adalah kisah tentang keanehan-keanehan yang dialaminya di dalam pengembaraannya itu.

Sewaktu aku di tengah padang pasir aku melihat seorang dara yang beada dalam keadaan ekstase dan berjalan-jalan tanpa penutup kepala.

“Wahai anak gadis, tutuplah kepalamu,” aku berseru kepadanya.

“Wahai Khauwash, tutuplah matamu,” balas gadis itu.

“Aku sedang mencinta,” sahutku, dan seorang pencinta tidak akan menutup matanya sedang engkau hanya terpandang olehku secara tidak sengaja..”

“Aku sedang mabuk,” balas gadis itu,” dan seorang pemabuk tidak akan menutup kepalanya.”

“Di warung manakah engaku telah menjadi mabuk?.” Tanyaku.

“Berhati-hatilah Khauwash,” si gaid berseru. “Engkau telah menyakiti hatiku. Selain daripada Allah, siapakah yang berada di dua tempat?.”...........................

“Anak gaids apakah engkau ingin aku temani?.” Aku bertanya.

Engkau masih bodoh, Khauwash” jawabku. “Aku bukanlah semacam perempuan yang mendambakan lelaki.”

oooOOOooo

Pasa suatu ketika, sewaktu berada di tengah padang pasir, aku melihat Khidir dalam rupa seekor burung yang sedang terbang. Setelah mengetahui siapa sebenarnya burung itu, segera aku menundukkan kepalaku. Aku takut kepasrahanku kepada Allah akan berkurang. Seketika itu juga Khidir menghampiriku dan berkata :

“Seandainya engkau terus memandangku, niscaya aku tidak akan turun menemuimu.”

Namun aku mengucapkan salam kepadanya karena aku takut kepasrahanku kepada Allah akan berkurang.

oooOOOooo

Pada suatu hari, di tengah padang pasir, aku sampai ke sebuah pohon di tepi sebuah mata air. Tiba-tiba seekor singa yang bertubuh besar muncul dan menghampiriku. Aku berserah diri kepada Allah Setelah dekat berulah aku tahu bahwa singa itu berjalan terpincang-pincang. Binatang itu merebahkan dirinya di hadapanku dan mengerang kesakitan. Setelah ku amati ternyata kakinya begkak dan bernanah. Kuambil sepotong kayu dan kutoreh  bengkak di kakinyaitu sehingga semua nanah di dalamnya keluar. Kemudian dengan secarik kain, kaki singa itu ku balut. Singa itu bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi tidak berapa lama kemudain, sing aitu datang lagi bersma anak-anaknya yang masih kecil. Sambil mengibas-ibaskan ekor, mereka mengelilingiku. Mereka membawa spotong roti yang kemudian mereka taruh di hdapanku.

oooOOOooo

Pada suatu keetika ku tersesat di pang pasir, untuk beberpa lama aku berjalan ke satu arah yang tetap tetapi aku tidak menemukan jalan. Berhari-hari lamanya aku kehilangan arah seperti itu sehinngga pada akhirnya aku dengan koko ayam. Aku kegirangan dan berjalan ke arah datangnya suaru kokok ayam tersebut. Tetapi yang ku jumpai adalah seseorang yang segera menyerang dan memukul tengkukku. Pukulan itu sangat menyakitkan.

“Ya Allah,” aku berseru.” Beginikah perlakuan mereka terhadap seseorang yang memasrahkan diri kepada-Mu?.”

Maka terdengarlah oleh ku sebuah suara yang ditujukan kepadaku :

“Selama engkau percaya kepada-Ku, selama itu pula engkau mulia menurut pandangan-Ku. Tetapi karena engkau telah mempercayai kokok seekor ayam, maka terimmalah olehmu pukulan itu sebagai hukumanmu.”

Badanku masih terasa perih tetapi aku tetap melanjutkan perjalanan.

“Khauwash.” Terdengar seruan,” Pukulan orang-orang itu telah mencederai dirimu, tetapi lihatlah apa yang dihadapanmu  itu.”

Aku mengangkat kepala dan terlihat di depanku kepala orang yang memukulku tadi.

oooOOOooo

Aku telah bersumpah akan mengembara di padang pasir tanpa perbekalan, makanan, binatang tunggangan. Begitu aku memasuki padang pasir, seorang pemuda mengejarku dan mengucapkan salam.

“Assalamu alaikum Syeikh,” katanya.

Aku berhenti dan kujaab salamnya. Kemudian tahulah aku bahwa dia beragama Kristen.

“Bolehkah aku berjalan bersamamu?.” Si pemuda beranya.

“Tempat yang ku tuju terlarang untukmu, maka apakah faedahnya bagimu untuk berjalan bersama ku,” jawabku.

“Tidak mengapa,” jawabnya. “Mungkin sekali dengan berjalan bersamamu akan membawa keberktan.”

Setelah seminggu berjalan, pada hari yang ke delapan si pemuda berkata kepadaku.

“Wahai pertapa budiman dari kaum Hanafiah, beranikah dirimu untuk meminta sekedar  makanan dari Tuhan mu  karena aku merasa lapar.”

“Ya Tuhanku,” aku berdoa.” Demi Muhammad saw. Janganlah Engkau membuatku malu di depan orang asing ini tetapi turunkanlah sesuatu dengan kegaiban.”

Sesaat itu juga terlihatlah olehku sebuah nampan yang penuh dengan roti, ikan panggang, kurma dan sekendi air. Maka duduklah kami untuk menyantap hidangan itu.

Kamudian kami meneruskan perjalanan hingga genap satu minggu pula. Pada hari yang ke delapan aku berkata kepada teman seperjalananku itu.

“Wahai Rahib, tunjukanlah kebolehanmu karena aku telah merasa lapar.

Sambl bersandar pada tongkatnya, si pemuda berdoa dengan bibir komat-kamit. Sesaat itu juga terciptalah dua buah meja yang masing-masing penuh dengan halwa, ikan, kurma dan sekendi air. Aku terheran-heran.

“Makanlah wahai pertapa!.” Si pemuda Kristen berkata kepadaku.

Aku sanagt malu menyantap hidangan itu.

“Makanlah,” si pemuda mendesak,” sesudah itu akan ku sampaikan kepadamu beberapa buah kabar gembira.”

Aku tidak mau makan sebelum engkau menyampaikan kabar gembira itu,” jawabku.

“Yang pertama adalah bahwa aku akan melepaskan sabukku ini, katanya.

Setelah bekata demikian dilepaskannya sabuk yang sedang dikenakannya. Kemudian dia menlanjutkan kata-katanya.

“Aku bersaksi, tiada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Kabar gembira yang ke dua salah sesungguhnya doaku tadi adalah “Ya Alla, demi orang tua yang mulia di pandanganMu ini, orang tua penganut agama yang benar ini, berilah aku makanan agar aku tidak mendapat malu dihadapannya,” Sesungguhnya hal ii terjadi karena berkatmu juga.”

oooOOOooo

Suatu hari ketika aku melintasi daerah Syiria terlihatlah olehku pohon-pohon delima. Aku mengekang hasratku dan tak sebuah pun dari delim a-delima itu yang aku makan karena semuanya asam, sedaang yang ku inginkan adalah yang rasanya manis. Tidak berapa lama kemudian ketika memasuki lembah aku menemukan orang yang terbaring, lemah dan tak berdaya. Ulat-ulat telah merayapi tubuhnya, tabuhan berdesingan di sekelilingnya dan kadang-kadang menyengatnya. Melihat keadaan yang menyedihkan itu,  timbullah rasa kasihanku. Setelah menghampirinya aku bertanya kepadanya. “Bolehka aku menodakanmu agar engkay terlepas dari penderitaan ini?.”

“Tidak,” jawab orang itu.

“Mengapa,” aku bertanya.

“Karena kesembuhan adalah kehendakku dan penderitaan ini adalah kehendak-Nya.”

“Setidak-tidaknya izinkan aku mengusir tabuhna-tabuhan ini,” bujukku.

“Khauwash,” ia menjawab, “Usirlah hasratmu terhadap buah-buah delima yang rasanya manis itu. Apakah perrlunya engkau mengganggu diriku?  Berdoalah untuk kesembuhan hatimu sendiri. Apakah perlunya engkau medoakan kesembuhan jasmaniku?”

“Bagaimanakah engkau tahu bahwa aku bernama Khauwwash?

“Barang siapa mengenal Allah, maka tidak sesuatu pun yang tersembunyi daripadanya,” ia menjawab.

“Bagaimanakah perasannmu terhadap tabuhan-tabuhnan ini? Aku bertanya pula.

“Selama tabuhan-tabuhan itu menyengat tubuhku dan ulat-ulat ini menggerogoti tubuhku, aku merasa bahagia.” Jawabnya.

oooOOOooo

Pernah ku dengar bahwa di Bizantium ada seorang rahib yang telah tujuh puluh tahun lamanya berdiam di sebuah biara dalam keadaan membujang.

“Sungguh mengagumkan!.” Aku berseru. “Empat puluh tahun adalah kualifikasi untuk menjadi seorang rahib.”

Maka berangkatlah aku untuk mengunjungi si rahib. Ketika aku telah dekat ke biara itu, si rahib membuka sebuah pintu kecil. Begitu melihat kedatanganku ia berseru.

“Ibrahim, mengapakah engaku kemari? Aku tidak berada di sisi sebagai pertapa yang membujang seumur hidup. Aku mempunyai seekor anjing yang suka menggit orang. Kini aku sedang mengawasi anjingku itu dan mencegahnya apabila hendak menyerang manusia. Jadi aku ini bukanlah seperti yang engkau persangkakan.”

Mendengar jawaban itu aku pun breseru.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau dapat membimbing hambamu apabila ia tersesat.”

“Ibrahim,” rahib itu menegusku,” Sampai kapankah engkau hendak mencari-cari manusia? Carilah dirimu sendiri dan setelah engkau temukan, berjaga-jagalah karena setiap hari hasrat yang menyimpang mengenakan tiga ratus enam puluh pakaian kemuliaan Ilahi untuk menyesatkan manusia.

Keluarga Abu Bakr Dulaf bin Jahdar (Ja’far bin Yunus) Asy-Syibli, berasal dari Khurasan, tetapi ia sendiri dilahirkan di Baghdad atau Samarra. Ayahnya adalah seorang pemuka istana dan ia sendiri diangkat untuk mengabdi kepada negara. Sebagai Gubernur Demavend ia dipanggil ke Baghdad untuk dilantik dan di kota inilah ia bertaubat kepada Allah. Sebagai salah seorang sahabat Junaid, ia menjadi seorang tokoh terkemuka di dalam peristiwa al-Khallaj yag menghebohkan itu. Namanya menjadi aib karena tingkah lakunya yang eksentrik, tingkah laku yanng menyebabkan ia dikirim ke sebuah rumah sakit gila. Asy-Syibli meninggal dunia pada tahun 334 H/486 M. Dalam usai 87 tahun.

PANGGILAN TERHADAP SYIBLI

Abu Bakr asy-Syibli adalah Gubernur Di Demavend. Ia dipanggil Khalifah ke Baghdad. Maka bersama-sama dengan Gubernur Rayy dan rombongan, berangkatlah ia menghadap khalifah. Setelah dilantik dan dikenakan  jubah kehormatan, mereka pulang. Di tengah perjalanan, Gubernur Rayy bersin dan mengusapkan jubah kehormatan itu ke hidung dan mulutnya. Perbuatannya itu dilaporkan orang kepada khalifah dan khalifah memberikan perintah agar jubah kehormatan itu dilepaskan daripadanya, kemudian ia dihukum cambuk dan dipecat. Peristiwa ini membuka mata Syibli.

“Seseorang yang mempergunakan jubah anugerah seorang manusia sebagai sapu tangan” Syibli merenung, “dianggap patutu dipecat dan dihina. Dan oelh karena itu lepaslah jubah dinasnya. Bagaimana pula halnya dengan seseorang yang mempergunakan jubah anugerah Raja alam semesta sebagai sapu tangan? Apakah yang akan ditimpakan kepada dirinya?.”

Syibli segera menghadap khalifah dan berkata :

“Wahai pangeran, engkau sebagai seorang manusia tidak suka apabila jubah anugerahmu diperlakukan secara tidak hormat, dan semua orang mengetahui betapa tinggi nilai jubahmu itu. Raja alam semesta telah menganugerahkan kepadaku sebuah jubah kehormatan di samping cinta dan pengetahuan.Betapakah Dia akan suka apabila aku menggunakannya sebagai saputangan di dalam mengabdi seorang manusia?.”

Ditnggalkannya istana khalaifah dan bergabunglah ia dengan murid-murid Kahir an-Nassaj. Di situ dialaminya sebuah pengalaman yang aneh dan Khair mengirim Syibli kepada Junaid. Maka pergilah Syibli menghadap Junaid.

“Engkau dikatakan sebagai seorang penjual mutiara. Berilah ayau juallah kepadaku sebutir,” Syibli berkata kepada Junaid.

“Jika ku jual kepdamu, engkau tidak akan sanggup membelinya dan jika kuberikan kepadamu, karena begitu mudah mendapatkannya,  engkau tidak akan menyadari betapa tinggi nilainya. Oleh karena itu lakukanlah seperti yang telah aku lakukan. Dengan kepla terlebih dahulu. Ceburilah lautan ini dan apabila engkau menanti dengan penuh kesabaran, niscaya engkau akan mendapatkan mutiaramu sendiri.”

“Jadi apakah yang harus kulakukan kini?” Syibli bertanya.

“Hendaklah engkau berjualan belerang selama setahun,” jawab Junaid.

Hal itu dipenuhi Syibli. Setelah setahun berlalu, Junaid memberikan instruski-instruksi yang lain kepadanya. Pekerjaanmu sekarang ini bersipat komersial dan akan mencemarkan namamu. Mengemislah setahun lamanya, sehingga engkau tidak disibukkan hal-hal yang lain.

Setahun pula lamanya Syibli menysuri jalan-jalan di kota Baghdad. Tetapi tak seorang pun yang mau memberikan sedekah kepadanya. Maka kembalilah ia kepada Junaid dan menyampaikan hal ini.

“Sekarang sadarilah nilai dirimu. Karena dirimu ini tidak ada artinya dalam pandangan orang lain. Janganlah engkau membenci mereka dan janganlah segan kepada amereka. Untuk beberpa lamanya engkau pernah menjadi bendahara dan untuk beberpa lamanya engkau pernah menjadi gubernur. Sekarang kembalilah ke temepat asalmu dan berilah imbalan kepada orang-orang yang pernah engkau rugikan.
Syibli kembali ke Demavend. Rumah demi rumah dimasukinya. Maksudnya adalah untuk memberi imbalan kepada setiap orang yang pernah dirugikannya. Akhirnya masih tersisa satu orang yang pernah dirugikannya tetapi  orang itu tidak diketahui kemana perginya.

“Dengan mengingat orang itu,” Syibli berkata, “aku telah membagi-bagikan seratus ribu dirham, tetapi batinku tetap tidak menemuka kedamaian.”

Setelah empat tahun berlalu, Syibli kembali kepada Junaid.

“Masih ada sisa-sisa keangkuhan di dalam dirimu. Mengemislah negkau selama setahun lagi.” Junaid berkata kepada Syibli.

“Setiap aku mengemis,” Syibli mengisahkan, semua yang ku peroleh ku serahkan kepada Junaid, dan junaid membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin. Pada malam harri aku dibiarkannya lapar,” Setahun kemudian berkatalah Junaid kepadaku.

“Kini ku terima engkau sebagai sahabatku tetapi dengan satu syarat, yaitu engkau harus menjadi pelayan bagi sahabat-sahabatku yang lain.”

Maka setahun pula lamanya aku menjadi pelayan sahabt-sahabat itu. Setelah itu berkatalah junaid kepadaku.

“Abu Bakr, bagaimanakah sekarang pandanganmu terhadap dirimu sendiri?”

“Aku memandang diriku ini sebagai orang yang terhina di natara makhluk-makhluk Allah,” jawabku.

“Jika demikian sempurnalah keyakinanmu,” kata Junaid.

Pada saat itu  Sybli telah memperoleh kemajuan, ia sering mengisi lengan bajunya dengan gula dan kepada setiap anak-anak yang dijumpainya akan disuapinya dengan sepotong gula dan setelah itu ia akan berkata kepada si anak : Seburtlah Allah.”

Setelah itu diisinya banjunya dengan uang dirham dan dinar. Kemudian ia akan berkata kepada mereka : Kepada setiap orang di antara kalian yang menyebutkan Allah sekali saja, akan ku berikan uang emas.”

Tetapi di belakang hari api cemburu menggelora di dalam dadanya. Dihunusnya  sebuah pedang dan berserulah ia :

“Setiap orang yang menyebutkan Allah akan ku penggal kepalanya dengan pedang ini.”

“Dahuu engkau memberikan gula dan emas,” kata mereka, “tetapi mengapa sekarang engkau akan memenggal kepala?.”

“Dahulu ku kira mereka menyebutkan nama-Nya karena pengalaman dan pengetahuan yang sebenarnya,” kata Syibli. “Tetapi kini sadarlah aku bahwa mereka menyebutkan nama-Nya tanpa sepenuh hati dan karena kebiasaan semata-mata. Aku tidak rela nama-Nya diucapkan oelh leidah-lidah yang kotor.”

Setelah itu disetiap tempat yang dapat ditemuinya dituliskannya nama Allah. Tiba-tiba didengarlah olehnya sebuah suara yang bekata kepadanya :

“Berapa lama lagikah engkau menyibukkan dirimu dengan sebuah nama? Jika engkau benar-benar seorang pencari, bangkitlah dan carilah Yang Mempunyai Nama itu.!.”

Kata-kata ini sangat memepngaruhi dirinya. Ia sama sekali tidak dapat merasa damai dan tenang seperti sediakala. Sedemikian kuatnya bara cinta menguasai dirinya, sedemikian dalamnya ia tenggelam dalam gejolak mistis, sehingga ia tidak dapat menahan diri dan mencebur ke sungai Tigris. Tetapi air sungai menyongsong tubuhnya dan melemparkannya ke pinggir. Kemudian ia meloncat  ke dalam api, tetapi nyala api tidak dapat membakarnya. Maka dicarinyalah suatu tempat di mana singa-singa lapar berkumpul, dan melompatlah ia ke tengah-tengah gerombolan singa itu tetapi singa-singa itu lari berserakan meninggalkan dirinya seorang diri. Dari puncak gunung ia terjun tetapi angin menyambut tubuhnya dan mendaratkannya dengan empuk. Kegelisahannya kini menjadi-jadi.

“Alangkah celaka seseorang ,” Syibli berseru, yang tidak diterima air maupun api, oleh binatang-binatang buas maupun gunung-gunung.

“Tetapi seketika itu juga terdengarlah olehnya sebuah suara yang berkata :

“Seseorang yang diterrima oleh Allah tidak diterima oleh yang lain-lainnya.”

Kemudian orang-orang merantai dan membelenggu Syibli. Mereka membawanya ke rumah sakit gila.

“Dia sudah gila,” kata mereka.

“Menurut penglihatan kalian diriku iigia dan kalian waras.” Jawab Syibli,” Semoga Allah menambahkan kegilaanku dan kewarasan kalian, sehingga karna kegilaan ini aku semakin dekat kepada-Nya. Dan karena kewarasan itu kalian semakin jauh daripada-Nya.”

Khalifah mengirimkan seseorang untuk menyembuhkan Syibli. Para penjaga datag dan secara paksa mendorongkan obat ke dalam mulutnya.

“Tidak perlu kalian bersusah-susah. Penyait ini bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan oleh obat,” cegah Syibli.

ANEKDOT=ANEKDOT MENGENAI DIRI SYIBLI

Pada suatu hari beberapa orang sahabatnya mengunjungi Syibli yang sedang dirantai.

“Siapakah kalian. Syibli bertanya kepada mereka.

“Sahabt-sahabatmu,” jawab mereka.

Seketika itu juga Syibli melempari mereka dengan batu dan mereka semua melarikan diri.

“Pembohong,” Syibli meneriaki mereka. “Apakah para sahabat akan lari dari sahabat mereka hanya karena beberapa butir batu? Kelakuan kalian ini membuktikan bahwa kalian adalah sahabat kalian sendiri, bukan sahabt-sahabatku.”

oooOOOooo

Ketika orang-orang menyaksikan Syibli berlari-lari sembil membawa bara api di tangannya.

“Hendak kemanakah engkau,” orang-orang bertanya kepadanya.

“Aku hendak membakar Ka’bah,” Syibli menjawab,” sehingga orang-orang hanya mengabdi kepada Yang Memiliki Ka’bah.”

Di dalam peristiwa lain, Syibli sedang membawa spotong kayu yang dibakar di kedua ujungnya.

“Aku hendak membakar neraka dan dengan api di satu ujung kayu ini dan surga dengan api di ujung lainnya,” Syibli menjawab, “sehingga manusia dapat mengabdi karena Allah semata-mata.

oooOOOooo

Sudah beberapa hari lamanya, baik di waktu siang maupun di waktu malam Syibli menari-nari di bawah sebatang pohon sambil meneriakan, “Hu,Hu.”

“Apakah artinya semua ini?.” Sahabat-sahabatnya bertanya.

“Merpati hutan yang berada di atas pohon itu menerikana “ku, Ku, maka akupun mengiringinya dengan “hu’ Hu” jawab Syibli.

Diriwayatkan bahwa merpati hutan itu tidak menghentikan “Ku’Ku” nya sebelum Syibli menghentikan ‘Hu’ Hu’ nya.

oooOOOooo

Diriwayatkan baha ketika Syibli pertama sekali memulai disiplin diri, beberapa tahun lamanya ia biasa mengusapkan garam ke matanya agar ia tidak tertidur. Dikatakan bahwa untuk maksud  tersebut ia telah menghabiskan tujuh onggok garam.

“Allah Yang Maha Besar sedang mengawasi diriku,” Syibli berkata. Kemudian ia menambahkan, “Seseorang yang tertidur adalah lalai dan seorang yang lalai ditutup penglihatannya.”

Ketika Junadi mengunjungi Syibli, didapatinya Syibli sedang melukai kulit alis matanya dengan sebuah penjempit.

“Megapakah engkau melakukan hal ini?.” Junaid bertanya kepadanya.

“Kebenaran telah menjadi nyata, tetapi aku tidak kuat memandangnya,” jawab Syibli, “Kulukai diriku dengan harapan Alalh akan berkenan memandangku walaupun untuk sekilas saja.”

oooOOOooo

Syibli sering pergi ke sebuah gua dengan membawa seikat kayu. Setiap kali ia terlena, ia memukul tubuhnya dengan kayu-kayu itu. Pada suatu kali, semua kayu yang dibawanya telah terpatahkan, maka dinding gua itu dipukul dan ditendangnya.

oooOOOooo

Karena tenggelam di dalam ekstase mistis, mulailah Syibli berkhotbah dan kepada khalayak ia mengajarkan rahasia mistik. Junaid mencela perbuatan Syibli.

“Kita hanya mengucapkan kata-kata tersebut di dalam gua,” kata Junaid kepadanya. “Tetapi engkau datang dan mengumandangkan kata-kata itu kepada semua orang.”

“Aku berkata dan aku mendengra,” jawab Syibli. “Di dunia dan di akhirat nanti siapakah yan ada kecuali aku? Atau lebih tepat lagi, kata-kata ini berasal dari Allah dan kembali kepada Allah, sedang Syibli sama sekali tidak ada.”

Jika demikian halnya, engkau memperoleh keleusasaan,” jaab Junaid.

oooOOOooo

Suatu hari Syibli terus menerus mengucapkan “Allah, “Allah”,

Soerang murid yang masih muda dan serius berkata kepadanya,

“Mengapakah engkau tidak mengucapkan “Tiada Tuhan kecuali Allah?.”

Syibli mengeluh, kemudian ia menjelaskan.

“Aku kuatir begitu kuucapkan “tiada Tuhan,” nafasku terhenti dan aku tidak sempat melanjutkannya dengan kecuali Allah,” jika hal seperti itu terjadi celakalah aku.

Penjelasan Syibli ini sedemikian menggugah hati si murid. Tubuhnya gemetar dan sesaat kemudian ia menemui ajalnya. Sahabat-ssahabatnya datang dan memaksa Syibli untuk menghadap kahlifah di Istana. Syibli, yang madih berada di dalam alunan ekstase berjalan sempoyongan seperti orang yang sedang mabuk. Ia dituduh melakaukan pembunuhan.

“Syibli bagaimanakah pembelaanmu?” khalifah bertanya kepadanya.

“Pemuda itu terbakar oleh gelora api cinta di dalam kedambaannya mendengar keagungan Allah.” Syibli menjawab. “Ia telah terlepas dari segala ikatan dan telah bebas dari segala hawa nafsu. Telah habis kesabarannya dan tak dapat bertahan lebih lama lagi karena terus menerrus dikunjungi utusan-utusan dari hadirat Ilahi. Gemerlap cahaya keindahan karena merenungi kunjungan Ilahi yang menyusup ke dalam kalbunya. Bagaikan seekor burung sukmanya terbang meninggalkan raga. Apakah kesalahan atau kejahatan yang telah dilakukan Syibli di dalam hal ini?.”

“Cepat antarakan Syibli ke rumahnya,” khalifah memberikan perintah. “Kata-katanya sedemikian menggoncangkan batinku sehingga aku kuatir akan terjatuh dari tahta ini.”

oooOOOooo

Sewaktu Syibli berada di  kota Baghdad, ia berkata :

“Kita membutuhkan uang seribu dirham untuk membei sepatu bagi orang –orang miskinyang hendak pergi ke tanah suci.”

Seorang pemuda beragama Kristen berdiri dan berkata :

“Akan ku berikan uang sebanyak itu dengan satu syarat, yaitu engkau akan membawaku serta.”

“Anak muda,” jawab Syibli, “engkau tidak boleh menunaikan ibadah haji.”

“Kalian tidak mempunyai keledai. Anggaplah aku sebagai keledai dan bawalah aku pergi.” Jawab di pemuda.

Akhirnya berangkatlah mereka dan si pemuda Kristen yang menyertai mereka, dengan cekatan melayani segala keperluan mereka.

“Bagaimanakah keadaanmu anak muda?.” Tanya Syibli.

“Aku sedemikian senang memikirkan bahwa aku dapat menyertai kalian sehingga aku tidak dapat tidur,” jawab si pemuda.

Si pemuda Kristen membawa sebuah sapu. Setiap kali mereka berisitirahat di sebuah persinggahan ia segera menyapu lantainya dan mencabuti semak-semak yang tumbuh di tempat itu. Ketika sampai di tempat di mana setiap orang harus mengenakan pakaian ihram, dilihatnya apa yang dilakukan oleh orang-orang lain dan ditirunya perbuatan mereka itu. Akhirnya sampailah mereka ke Ka’bah.

Syibli berkata kepada pemuda Kristen itu!.

“Dengan mengenakan sabuk itu aku tidak mengizinkan engkau memasuki Masjidil Haram.”

Pemdua itu merebahkan kepalanya ke pintu Masjidil Haram dan mengeluh :

“YA Allah, Syibli mengatakan bahwa ia tidak mengizinkan aku ke dalam rumah-Mu.”

Seketika itu juga terdengarlah sebuah seruan :

“Syibli, Kami telah membawanya dari Kota Baghdad dengan mengobarkan api cinta di dalam dadanya, dengan rantai cinta Kami telah menyeretnya ke rumah kami. Syibli, berilah jalan kepadanya! Dan engkau sahabtku, masuklah!.”

Si pemuda Kristen masuk ke dalam Masjidil Haram untuk ikut melaksanakan ibadah haji. Kemudian barulah teman-teman seperjalannya masuk. Setelah selesai merekapun keluar dari Masjidil Haram, tetapi si pemuda masih ada di dalam.

“Anak muda, keluarlah!” Syibli berteriak.

“Dia tidak mengijinkan aku keluar dari sini.” Terdengar jawaban si pemuda. “Setiap kali aku hendak keluar kudapati pintu tertutup. Bagaimanakah nasibku nanti?.”

oooOOOooo

Pada suatu ketika secara bersamaan Junaid dan Syibli jatuh sakit. Seorang tabib yang beragama Kristen mengunjungi Syibli.

“Apakah keluhanmu?.” Si tabib bertanya.

“Tidak ada,” jawab Syibli.

“Apa” jawab si tabib.

“Aku tidak merasa sakit,” jawab Syibli.

Kemudian si tabib mengunjungi Junaid.

Junaid mengatakan setiap hal yang dirasakannya dengan sejelas-jelasnya. Tabib Kristen itu memberikan obat, kemudian pergi. Di belakang hari Junaid dan Syibli bertemu .

“Mengapakah engkau sudi menerangkan semua keluhanmu kepada seorang Kristen?.” Syibli bertanya kepada Junaid.

“Agar si tabib Kristen itu menyadari, jika sahabat-Nya sendiri diperlalukan-Nya seperti itu. Apakah yang akan dilakukan-Nya terhadap musuh-Nya nanti.” Jawab junaid. Kemudian ia balik bertanya kepada Syibli. :

“Dan mengapakah engkau tidak mau mengatakan keluran-keluhanmu kepadanya?.”

“Aku merasa malu untuk menyampaikan keluh kesahku kepada musuh Sahabt-ku!.” Jawab Syibli.

oooOOOooo

Pada suatu ketika Syibli sedang berjalan-jalan dan dilihatnya dua orang anak yang bertengkar karena satu buah kenari yang mereka temukan.

“Bersabarlah kalian, biar aku yang membagi buah kenari ini untuk kalian!.” Kata Syibli.

Ketika di belah ternyata buah kenari itu kosong. Kemudian terdengarlah sebuah seruan kepada Syibli, “Teruskanlah, bagilah buah kenari itu jika engkau benar-benar seorang penengah.”

Mengenai persitiwa ini di kemudian hari Syibli dengan malu menyatakan :

“Semua pertengkaran karena buah kenari yang kosong! Dan lagak sebagai penengah terhadap sesuatu yang sma sekali tidak ada.”

SYIBLI MENINGGAL DUNIA

Ketika ajalnya hampir tiba, pandangan mata Syibli tampak murung. Dimintanya abu, kemudian ditaburkannya abu itu ke atas kepalanya. Ia sangat gelisah.

“Mengapakah engkau segelisah ini.” Sahabt-sahabtnya bertanya-tanya.

“Aku sangat iri kepada Iblis,” jawab Syibli. “Di sini aku duduk dalam dahaga tetapi Dia memberi kepada yang lain. Allah telah berkata : Sesungguhnya laknat-Ku kepadamu hingga hari Kiamat (QS.38:78) Aku iri karena Iblis-lah yang mendapatkan kutukan Allah itu, padahal aku pun ingin menerima kutukan itu. Karena walaupun berupa kutukan, bukankah kutukan itu dari Dia dan dari kekuasaan-Nya? Apakah yang diketahui oleh si laknat itu mengenai nilai kutukan tersebut? Mengapa Alalh tidak mengutuk pemimpin-pemimpin kaum Muslimin dengan membuat mereka menginjak mahkota di atas singgasan-Nya? Hanya ahli permatalah yang mengetahui nilai permata. Jika seorang raja mengenakan gelang manik yang terbuat dari kaca atau kristal, tampaknya sebagai permata. Tetapi jika pedagang sayur yang menempakan cicnin stempel dari batu permata dan mengenakannya di jarinya, cincin itu tampak sebagai manik yang terbuat dari kaca.”

Setelah itu, beberapa saat Syibli terlihat tenang. Kemudian kegelisahannya kebali lagi.

“Mengapakah engkau gelisah lagi?.” Tanya sahabat-sahabatnya.

“Angin sedang berhembus dai dua arah,” jawab Syibli. “Yang satu angin kasih sayang dan yang lainnya kemurkaan. Siapa saja yang terhembus angin kasih sayang maka tercapailah harapan yang akan tercapai itu, maka aku dapat menanggung segala penderitaan dan jerih payah ini. Apabila angin kemurkaan berhembus ke arahku, maka penderitaan ini tidak ada artinya dibandingkan dengan bencana yang akan menimpa diriku nanti.” Selanjutnya Syibli mengatakan :

“Tidak ada yang lebih berat di dalam batinku daripada uang satu dirham yang kuambil dari seseorang secara aniaya, walaupun untuk itu aku telah menyedekahkan seribu dirham. Batinku tidak memperoleh ketenangan. Berilah aku air untuk bersuci.”

Sahabat-sahabatnya membawa air dan menolong Syibli bersuci, tetapi mereka lupa mengguyurkan air ke janggutnya dan Syibli terpaksa mengingatkan hal ini kepada mereka.

Sepanjang malam itu Syibli menyenandungkan syair berikut ini.

Bagi setiap rumah yang Engkau ambil sebagai tempat-Mu.

Tiada faedahnya pelita untuk menerangi.

Ketika ummat manusia harus menunjukkan

Bukti-bukti mereka kepada Sang Hakim dan Raja.

Maka bukti kami, di negeri yang menggetarkan itu, adalah

Keindahan wajah-Mu yang selalu kami dambakan.

Orang-orang telah berkumpul untuk melaksanakan shalat jenazahnya. Ia sedang menghadapi ajalnya tetapi ia masih mengetahui segala sesuatu yang terjadi di sekeliling dirinya.

“Sungguh aneh!.” Syibli berkata, “Orang-orang mati telah datang untuk menshalatkan seorang yang masih hidup.”

:Katakanlah : Tiada Tuhan selain Allah,” mereka berbisik kepada Syibli.

“Karena tidak sesuatu jua pun selain daripada  Dia, bagaimanakah aku dapat mengucapkan sebuah penyangalan,” jawabnya.

“Tidak ada sesautu pun yang dapat menolongmu, ucapkanlah syahadat,” mereka mendesak Syibli.

“Raja cinta berkata : “Aku tidak sudi menerima suap,” balas Syibli.

Kemudian seseorang melantangkan suara untuk mendesak Syibli.

“Telah datang pula seorang mati untuk membangunkan  seorang yang hidup,” kata Syibli.

Beberapa saat berlalu. Kemudian mereka bertanya kepada Syibli.

“Bagaimana halmu?”

“Aku telah kembali kepada Sang Kekasih,” jawab Syibli.

Setelah itu ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.







0 komentar:

Post a Comment

Salamun 'alaik..
Bacalah basmalah sebelum memulai sesuatu