Friday, 25 November 2016

Kisah Ust sewaktu kecil menyantri di madrasah

Pengalaman masa kecil disaat nyantri dimadrasah kampung halaman

Dulu sewaktu umur 12 tahun, ada sebuah madrasah kalau penduduk kampung bilang langgar/ mushola/ mesjid kecil
Dengan murid sejumlah 30 orang ada yg masih iqro' 1,2,3dst dan ada yg sudah bisa membaca Alqur'an, kebetulan sebelum masuk pengajian tersebut, saya belajar iqro' dirumah dan guru privet bahasa terkini nya,, sampailah lulus iqro' tujuh, baru masuk pengajian dimadrasah tersebut,,
Guru yg mengajar dimadrasah cuma satu orang, lupa nama gurunya siapa.. Posisi duduk guru dilantai sambil nyender kediding mushola, sedangkan para murid termasuk saya berjejer duduk dilantai dengan masing2 membaca.. Dan sistem pengajaran nya satu persatu berhadapan dengan sang guru,, lalu ketika murid kembali ketempat duduk nya guru tersebut menyender kembali punggung nya kedinding sambil menutup mata ( molor )
Sehingga giliran saya untuk menghadap guru membutuh kan waktu yg ga sebentar,, terkadang sampai sore baru sy bisa menghadap guru, gimana lama nya karena setiap satu orang murid yg sudah menghadap guru mengaji, guru tersebut tidur sambil duduk sekira 15mnt...
Namun hal itu tidak mematahkan semangat saya untuk fasih membaca Alqur'an, saya tidak hiraukan apa tindakan guru, yg penting sy dapat diajari,,
Namun yg membuat sy berfikir berat ialah, guru tersebut memiliki emosi dan ringan tangan, salah sedikit main libas pakai sapu lidi, kalau tidak ada sapu lidi, seutas wayar atau kabel listrik yg kira2 panjang semeter setengah,, jadi dengan ada hal itu diri saya merasa tertekan untuk belajar dengan giat, sehingga ketika ada perlombaan mengaji antar kecamatan, Alhamdulillah mendapat juara 3 hehe,,

Pengalaman yang paling sy ingat ketika mengaji dimadrasah tersebut ialah, disaat ada 2 orang murid beradik abg yg bandel sekali sehingga menimbulkan emosi sang guru, lalu terambil lah seutas kabel untuk melibas kedua anak tersebut sehingga membuat suatu garis birat dipunggung kedua anak tersebut, dengan rasa terkejut dan berteriak nangis kedua anak tersebut berlari pulang kerumah nya, disaat itu juga pikiran saya teringat bahwa kedua anak tersebut ialah anak dari ketua pemuda yang paling disegani dikampung,, dan sy menebak pasti datang ayah nya..
Betul saja ga sampai 10 menit, datang ayah nya dengan emosi dan wajah merah membara,  seketika itu di berkata dengan tegas, " bapak saya bayar buat mengajari anak saya, bukan bapak cambuk sehingga berbekas seperti ini ( sambil menunjuki punggung anak nya yg berbirat), lalu sang guru kalang kabut,  maaf pak sekali lagi maaf ga saya ulangi saya khilaf karena anak bpk sangat bandel sekali,,
Lalu ayah dari dua anak tersebut berkata, lain kali bpk jangan sembarangan, anak2 ini bukan tandingan bapak, tp saya kalau mau bapak kita berduel disini, sang guru semakin kabut sambil berkata maaf pak maaf pak..
Sang ayah langsung melepaskan emosi nya dengan memukul kedinding sekali, sambil berkata bisa mati bapak kalau terkena pukulan ini,, suara dari pukulan tersebut berdentum sehingga membuat dinding kokoh tersebut retak lima cabang, lalu ayah dari kedua anak tersebut langsung pergi..
Selepas itu sy perhatikan sang guru bergegas pulang dari madrasah dengan buru2 dalam keadaan panik,, murid/ semua pada bubar pulang, karena ditinggal sang guru,
Lalu disaat sudah sepi saya perhatikan tembok dinding yg bekas dipukul tersebut, sambil berpikir untung pukulan itu ga dilepaskan diwajah sang guru,  kebeton saja retak2 begini, kalau kena wajah bisa remuk... Tapi sayang sekali, bapak tersebut lupa apa yang dipukul nya yaitu dinding mushola/ langgar yaitu juga rumah Allah


Dan selang kejadian seminggu, saya mendapat kabar, ayah kedua anak yang memiliki ilmu pukulan dasyhat tersebut mati menggenaskan dikroyok 7 pendekar asal kampung tetangga

Pesan dan penyampaian dari kisah ini yang pertama ialah agar kita dapat mengambil hikmah, bahwa apa yang kita miliki jangan sembarangan dilepaskan, karena Allah SWT tidak suka kepada orang yang merusak dimuka bumi ini
Dan yang kedua, redam lah emosi kita dengan istighfar, bukan dengan pukulan
Barokallah

0 komentar:

Post a Comment

Salamun 'alaik..
Bacalah basmalah sebelum memulai sesuatu