Friday, 19 August 2016

Terjemahan Kitab Sirrul Ashror Syekh Abdul Qadir Al Jailani




SIRRUL ASRAR

(Hakikat Segala Rahasia Kehidupan)

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Penerbit : ZAMAN (jl. Kemang Timur Raya No. 16 – Jakarta)



PENDAHULUAN


Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, pemilik dan pencipta semua ilmu sejak azali. Semua eksistensi berasal  dari eksistensi-Nya. Segala puji bagi Allah. Dia telah menurunkan Al-Qur’an mulia yang hakikatnya meliputi pesannya, yaitu untuk mengingatkan manusia kepada Allah. Ia diturunkan kepada Rasul yang membimbing manusia di jalan kebenaran dengan agama yang paling kuat. Shalawat dan salam disampaikan kepada Kekasih-Nya, Nabi Muhammad saw. yang tidak diajari oleh manusia, tetapi oleh Allah. Dialah Rasul-Nya yang terakhir, penghubung terakhir dalam mata rantai kenabian yang diutus ke dunia yang diliputi kesesatan. Nabi Muhammad adalah rasul paling mulia di antara sekian banyak Nabi-Nya. Kitab-kitab suci memuliakannya. Anak keturunannya adalah pembimbing bagi para penari Tuhan, dan para sahabatnya adalah manusia pilihan dalam kebaikan dan kedermawanan. Semoga Allah merahmati ruh mereka.

Sesungguhnya karunia yang paling bernilai, yang paling agung, permata yang paling mahal, dan harta yang paling menguntungkan adalah ilmu. Hanaya melalui hikmah kita dapat mencapai keesaan Allah, Tuhan semesta alam. Hanya melalui hikmah kita dapat memahami dan meneladani para rasul dan para nabi-Nya. Orang berilmu dan kaum bijak adalah hambaa Allah yang suci yang telah dipilih Allah untuk menerima pesan Ilahi. Dia jadikan mereka sebagai manusia pilihan dengan rahmat_Nya yang dilimpahkan atas mereka. Mereka adalah pewari para nabi, yang dipilih oleh para rasul-Nya untuk menjadi pemimpin manusia. Mereka terhubung kepada para Nabi-Nya dengan pekerti yang mulia dan kecerdasan yang paling bijak. Allah memuji mereka dala Al-Qur’an :

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Itu adalah karunia yang amat besar. (Al-Fathir (35) : 32).

Pemimpin kita, Nabi Muhammad saw. memuji mereka dalam sabdanya : Orang yang berilmu adalah pewaris para nabi. Para penghuni langit mencintai mereka, begitu pula para penghuni bumi, bahkan ikan-ikan memuji mereka hingga hari kiamat.” Pada ayat yagn lain, Allah SWT. memuji mereka dengan firman-Nya :

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang yang berilmu. (Fathir (35) : 28).

Rasulullah saw. bersabda : “Pada hari kiamat, Allah akan menghimpun ummat manusia, lalu memisahkan orang yang berilmu, dan berfirman kepada mereka, ‘Wahai orang yang berilmu, Kuberikan ilmu-Ku karena aku mengenalmu. Aku tidak memberimu ilmu untuk menghukummu pada hari ini. Masuklah ke dalam surga-Ku. Aku telah mengampunimu.”

Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Dia telah memberikan derajat yang tinggi kepada hamba-hamba-Nya yang taat untuk melindungi mereka dari dosa dan menyelamatkan mereka dari azab. Dia merahmati orang-orang berilmu dengan selalu menyertai mereka.

Beberapa orang murid memintaku untuk menyusun sebuah buku yang dapat memenuhi kebutuhan mereka. Buku ringkas inilah yang aku susun untuk mereka. Semoga buku ini dapat memuaskan dahaga mereka dan para pembaca lainnya. Buku ini kamu beri judul  “Sirr al-asrar fi ma yahtaju ilayhi al-abrar” (Rahasia Hakikat yang Dibutuhkan Para Pencari Kebaikan). Di dalamnya kami jelaskan berbagai hakikat agama. Setiap orang membutuhkan semeua itu.

Kami membagi buku ini ke dalam 24 bab, karena ada 24 huruf dalam syahadat yang kita ikrarkan : La ilaha illallah, Muhammad rasulullah  (Tak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah) dan ada 24 jam dalams ehari semalam. ()


ISI   -   BUKU


Pendahuluan

Pada Mulanya Adalah Cahaya

1. Kembali ke Sumber Azali

2. Dari Kesempurnaan Menuju Kehinaan

3. Jiwa Bertakhta dalam Raga

4. Ilmu dan Kesempurnaan Manusia

5. Tobat, Langkah Pertama Menuju Kesempurnaan

6. Sufi, Para Pejalan di Jalan Tuhan

7. Mereka Senantiasa Ingat Tuhan

8. Syarat Penyempurnaan Zikir

9. Meraih Maqam Penyaksian

10. Tabir Cahaya dan Kegelapan

11. Kebahagiaan dan Penderitaan

12. Kaun Darwis

13. Menyucikan Jiwa

14. Makna Ibadah

15. Kasucian Manusia Sempurna

16. Zakat dan Sedekah

17. Puasa Lahir dan Batin

18. Ibadah Haji ke tanah Suci

19. Melihat Hakikat Ilahi

20. Khalwat : Berduaan Dengan Allah

21. Shalat dan Wirid

22. Makna dan rahasia di Balik Mimpi

23. Ragam Para Pejalan

24. Penutup


PADA MULANYA ADALAH CAHAYA


Semoga Allah memberimu keberhasilan dalam melakukan segala tindakan yang diridai-Nya.

Pikirkanlah, tanamkan dalam pikiran, dan pahamilah segala yang kukatakan.

Makhluk pertama yang diciptakan Allah swt. dari Cahaya Ilahi Yang Mahaindah adalah cahaya. Muhammad saw. Dalam sebuah hadis qudsi Dia meneyatakan :

“Telah Aku Ciptakan ruh Muhammad dari cahaya zat-Ku (Wajh).”

Pemimpin kita, Rasulullah saw. pun menyatakan dalam sabdanya :

“Pertama-tma Allah menciptakan ruhku, yang diciptakan-Nya sebagai cahaya Ilahi.”

“Pertama-tama Allah menciptakan Pena.”

“Allah pertama-tama menciptakan akal.”

Ciptaan pertama yang dimaksudkan dalam hadis-hadis itu adalah hakikat Muhammad, yang dirahasiaskan. Seperti Tuhannya, Muhammad juga memiliki nama-nama yang indah. Ia diberi nama Nur, Cahaya Ilahi, karena ia disucikan dari kegelapan yang tersembunyi di balik sifat kuasa dan keagungan Allah. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an :

Telah diturunkan kepadamu dari Allah cahaya dan Kitab yang terang (al-Ma’idah (3) : 15).

Ia juga disebut  Akal Universal ‘aql al-kulli) karena ia melihat dan memahami segala sesuatu. Ia disebut Pena 9al-Qalam), karena ia menyebarkan hikmah dan ilmu, serta menorehkan ilmu ke hamparan alam huruf.

Ruh Muhammad adalah hakikat semeua wujud. Ia adalah awal dan hakiakt alam semesta. Nabi saw. menyatakan hal ini dalam sabdanya, “Aku berasal dari Allah dan orang beriman berasal dari diriku.”  Allah Swt. menciptakan semua ruh dari ruhnya di alam penciptaan pertama dengan sebaik-baik bentuk. Muhamamd adalah nama semua manusisa di alam arwah (‘alam al-arwah). Ia adalah sumber dan tempat kembali masing-masing dan segala sesuatu. Empatribu tahun setelah penciptaan Nur Muhammad, Allah menciptakan Arasy dari cahaya mata Muhammad. Dia menciptakan seluruh makhluk dari Arasy.

Kemudian Dia mengutus ruh untuk turun kepada tingkatan penciptaan terendah, ke alam dunia ini, ke alam materi, atau alam jasadi.

Kemudian Kami kembalikan dia kepada (tingkatan) yang terendah. (al-Thin : 5).

 Dia mengirim cahaya dari tempat penciptaannya, Alam Ketuhanan (‘alam al-lahut), yakni alam manifestasi zat, keesaan, wujud mutlak Allah, ke alam manifestasi nama-nama Allah, manifestasi sifat-sifat, alam akal kausal, alam Ruh Universal. Di sana, jiwa itu diberi pakaian jubah cahaya. Di sana pula jiwa itu diberi nama “jiwa sultan”. Berpakaian cahaya, mereka turun ke alam malaikat. Di sana mereka dipakaikan jubah terang para malaikat, lalu diberi nama “jiwa Ruhani”. Kemudian Dia memerintahkan mereka untuk turun ke alam materi, alam air, alam api, tanah dan eter, lalu mereka menjadi jiwa manusia. Dari alam inilah Dia menciptakan raga :

Darinya Kami ciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan, lalu darinya Kami bangkitkan kamu sekalian untuk kedua kalinya. (Thaha (20) : 55).

Setelah semua tahapan ini, Allah memerintahkan ruh untuk masuk ke dalam raga, dan atas kehendak-Nya, ia memasukinya :

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadian dan Kutiupkan ke dalamnya ruh-Ku .... (Shad (38) : 72).

Seiring bergulirnya waktu, ruh-ruh itu mulai terikat kepada daging serta melupakan asal dan sumpah yang mereka ucapkan di alam arwah. Di sana, Allah bertanya kepada mereka, “Apakah Aku Tuhanmu?” dan mereka menjawab, “Ya!”. Mereka melupakan janji dan sumber mereka; lupa jalan pulang mereka. Namun, Allah Maha Penyayang, sumber segala pertolongan dan keselamatan bagi makhluk-Nya. Dia mengasihi mereka sehingga diturunkan-Nya kitab-kitab suci dan para rasul untuk mengingatkan mereka akan sumber azali mereka.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami (dan Kami perintahkan kepadanya) : “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah ..... (Ibrahim (14) : 5).

Maksudnya, “Ingatkanlah ruh-ruh itu akan amsa-masa ketika mereka masih menyatu dengan Allah.”

Banyak rasul yang telah diutus ke dunia ini, melaksanakan tugas mereka dan kemudian wafat. Tujuannya adalah membawa pesan kepada ummat manusia dan meneyadarkan mereka dari kelalaian. Ttetapi dari amsa ke masa, orang yang mengingat-Nya, yang kembali kepada-Nya, yang ingin menyatu kepada sumber Ilahi mereka, dan yang tiba pada sumber azali mereka, jumlahnya semakin sedikit.

Para nabi datang dan pergi, dan pesan Ilahi terus disampaikan hingga datangnya risalah Muhammad saw., rasul terakhir yang menyelamatkan manusia dari kesesatan. Allah Swt. mengutusnya untuk membebaskan matahari dari kelalaian. Tujuan-Nya adalah membangkitkan mereka dari kealpaan dan menyatukan mereka dengan Keindahan Abadi, dengan zat Allah sebagaimana firman-Nya :

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yangg mengikutiku mengajakmu kepada Allah dengan hujjah yang nyata.....” (Yusuf (12) : 108).

Rasulullah yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah jalan Nabi Muhammad saw.

Rasulullah, dengan maksud menunjukkan tujuan kita, bersabda : Sahabat-sahabatku laksana bintang di langit. Siapa saja di antara mereka yang kamu ikuti, niscaya kamu akan mendapati jalan yang benar.” 

Pandangan ini muncul dari mata jiwa, mata yang dapat membuka sanubari orang yang dekat kepada Allah, yakni para kekasih Allah. Pandangan semacam ini takkan dilahirkan oleh semua pengetahuan lahiriah. Hanya pengetahuan ruhani, yang berasal dan mengalir dari kesadaran Ilahi saja yang dapat melahirkannya : yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (al-Kahfi (18) : 65).

Untuk meraihnya, manusia harus mencari orang yang memiliki pandangan batin, yang dibimbing oleh matahatinya. Guru yang menanamkan ilmu seperti itu haruslah orang yang dekat kepada Allah dan mampu mencapai Alam Tertinggi.

Wahai manusia, bangunlah dan bertobatlah agar mendapatkan ilmu dari Tuhanmu. Berjuanglah! Allah memerintahkanmu :

Dan bergeraklah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya  seluas langit dan bumi yagn disediakan untuk orang yang bertakawa. (Yaitu) Orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang yang berbuat kebaikan. (Al-Imran (3) : 133 – 134).

Pilihlah jalan itu dan bergabunglah dengan kafilah ruhani yang menempuh jalan kembali kepada Allah. Sebentar lagi jalan itu akan ditutup, dan takkan kau dapati seorang pun teman seperjalanan. Kita tidak ditutunkan ke dunia yang luas dan rusak ini untuk bersanati; kita tidak diutus ke sini hanya untuk makan minum, dan buang hajat. Nabi kita, Muhammad saw. selalu mengamatimu. Ia prihatin melihat keadaanmu. Ia tahu apa yang akan terjadi saat ia bersabda, Rasa sakitku disebabkan oleh ummatku di akhir zaman.”

Hanya ada dua hal yagn kita dapatkan, yaitu yang nyata dan yang gaib; yang nyata berbentuk ajaran-ajaran agama atau yang gaib dalam bentuk hikmah, Allah Swt. memerintahkan kita untuk menyelaraskan wujud lahiriah kita dengan ajaran agama dan menata wujud batiniah kita dengan hikmah. Jika yang lahir dan yang batin telah menyatu, jika antara agama dan hikmah telah berpadu, kita akan meraih tingkatan hakikat. Perjalanan itu seperti pohon kebenaran yang menumbuhkan daun, lalu kuncup, dan kemudian bunga yang akhirnya menjadi buah.

Dia membiarkan dua lautan mengalir yagn kemudian keduanya bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (al-Rahman (55) : 20).

Dua harus menjadi satu, Hakikat takkan bisa diraih hanya melalui pengetahuan inderawi, yang berkaitan dengan alam lahir. Tujuan akhir manusia, yaitu sumber azali, tidak dapat dicapai dengan cara itu. Ibadah sejati membutuhkan agama sekaligus pengetahuan. Allah Swt. berfirman :

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku (al-Dzariyat (51) : 56).

Dengan kata lain, “Mereka diciptakan agar mengenal-Ku.” Bagaimana mungkin orang yang tidak mengenal Dia dapat sungguh-sungguh memuji-Nya, memohon pertolongan, dan mengabdi kepada-Nya?

Ilmu yang dibutuhkan untuk mengenal-Nya hanay dapat diraih dengan membuka tabir yang menutupi cermin hati, dan membersihkannya hingga berkilau. Barulah kemudian keindahan Ilahi yang selama ini tersembunyi akan memancar darinya.

Allah Swt., dalam sebuah hadis qudi, berfirman, “Aku adalah ahrta tersembunyi. Aku ingin dikenal, karena itulah Kuciptakan makhluk.” Jadi, manusia diciptakan oleh Allah agar ia berusahha memperoleh pengetahuan dan mengenal Penciptanya.

Ilmu Ilahi terbagi ke dalam dua tingkatan. Tingkatan pertama adalah mengenal sifat-sifat dan manifestasi Allah. Tingkatan kedua adalah mengenal zat Allah. Pada tingkatan pertama, manusia yang bersifat jasmani merasakan dunia ini maupun akhirat. Namun, ilmu yang menuntun kepada pengetahuan tentang zat Allah berada dalam ruh suci yang memungkin manusia mengetahui rahasia-rahasia akhirat. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya :

.... dan Kami perkuat dia dengan ruh kudus ..... (al-Baqarah (2) : 87).

Orang yang mengenal zat Allah memperoleh kekuatan ini melalui ruh suci yang telah dianugerahkan kepada mereka.

Kedua jenis pengetahuan ini diperoleh melalui dia macam ilmu, yaitu ilmu batin dan ilmu lahir. Etiap orang membutuhkan keduanya untuk meraih kebaikan. Rasulullah saw., menjelaskan bahwa : ilmu terbagi ke dalam dua bagian, yaitu ilmu yang berada dalam lidah yang menjadi hujjah atas keberadaan Allah, dan ilmu yang berada dalam hati. Ilmu inilah yang dibutuhkan untuk mewujudkan harapan-harapan kita.

 Manusia sangat membutuhkan ilmu agama untuk mengetahui manifestasi lahir zat Allah yagn tercermin pada alam sifat-sifat dan alam nama-nama. Setelah menguasainya, seseorang harus mendidik batinnya untuk memahami berbagai rahasia sehingga ia dapat memasuki alam ilmu ilahi dan mengenal hakikat. Pada tingkatan pertama, ia harus meninggalkan segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan, kaum Sufi menganjurkan agar  kita meninggalkan segala perilaku dan akhlak yang salah. Caranya adalah melatih diri melaksanakan segala hal yang dibenci hawa nafsu, serta melakukan segala hal yang menahan hasrat jasmani. Untuk meraih semua tujuan ini, ia harus melatih dirinya secara sungguh-sungguh agar hawa nafsunya benar-benar lumpuh; dak dapat melihat atau pun mendengar. Lakukanlah semua itu semata-mata karena Allah dan demi kehadiran-Nya. Allah berfirman :

Barang siapa berharap akan bertemu dengan Tuhan, hendaklah ia beramal saleh dan tidak menyekutukan Tuhannya dalam beribadah kepada-Nya. (Al-Kahfi (18) : 110).

Inilah alam tertinggi, alam yang pertama diciptakan. Alam ini adalah sumber azali, tanah air yang didambakan setiap manusia. Di alam itulah ruh suci --- ruh manusia – diciptakan dalam bentuk yang terbaik.

Hakikat itu telah ditanamkan pada inti hati sebagai amanat Allah yang diserahkan kepadamu untuk kau jaga. Hakikat ini akan mewujud melalui pertobatan dan upaya sungguh-sungguh mempelajari ilmu agama. Keindahannya akan memancar ke permukaan ketika seseorang senantiasa mengingat Allah dan selalu membaca kalimat penyaksian : La ilaha ilalah. Pada mulanya, ia membaca kalimat tauhid itu dengan lidanya, lalu hatinya menjadi hidup, dan akhirnya ia membacanya secara sirr dalam hatinya.

Kaum sifu menyebut berbagai tahapan ruhani ini dengan sebutan “thifl – bayi”, karena bayi dilahirkan dalam hati, lalu diasuh dan dibesarkan di sana. Hati. Layaknya seorang ibu, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anaknya. Ketika anak dunia diajari ilmu duniawi, anak hati diajari ilmu ruhani. Sebagaimana seorang anak kecil suci dari dosa, anak hati pun suci dari kealpaan, sifat keras kepala, dan keraguan. Kesucian seorang anak sering kali tampak melalui keindahan fisik. Sedangkan kesucian anak hati tampak dalam bentuk malaikat, yang mewujud di alam mimpi. Manusia boleh mengharapkan surga sebagai balasan atas amal salehnya, namun karunia surga ini hanya akan mewujud melalui upaya anak hati.

Berada dalam surga kenikmatan  ..... mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap muda. (al-Waqi’ah (56) : 12 – 17).

Berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yagn tersimpan. (al-Thur (53) : 24).

Itulah anak-anak hati yang didambakan kaum sufi. Mereka disebut “anak-anak” karena keindahan dan keucian mereka, yang terpantul pada alam lahiriah dalam wujud manusia. Dari sisi kelembutan dan keluuannya, mereka adalah anak-anak hati, namun dari sisi fisik, mereka adalah manusia yang mampu mengubah penampilan karena ia terhubung kepada Sang Pencipta. Inilah gambaran sejati manusia. Baginya, tak ada materi, dan dirinya pun bukan materi. Tak ada tabir atau pun sekat antara wujud dirinya dan zat Allah.

Rasulullah saw., menjelaskan keadaan ini dalam sabdanya, “Aku pernah ebrada bersama Allah. Ketika itu, tak ada pemisah antara kami, baik malaikat terdekat maupun seorang nabi.” “Nabi yang tak dapat menyela antara Nabi dan Allah adalah raga rasulullah saw., sendiri. Malaikat yang terdekat kepada Allah adalah nur Muhammad, makhluk pertama. Dalam keadaan yang didamba semua sufi itu, ia berada sangat dekat dengan Tuhannya sehingga baik raga maupun jiwanya tak dapat memisahkan keduanya. Rasulullah saw., bersabda : “Allah memiliki surga yang di dalamnya tidak  terdapat istana, tanah, sungai madu, dan susu; surga yang hanya dapat dilihat seseorang saat bertemu dengan Allah.”   Allah menegaskan hal ini dalam firmannya :

Wajah-wajah (orang beriman) apda hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan merekalah mereka melihat. (al-Qiyamah (75) : 22-23).

Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari itu kau akan melihat Tuhanmu laksana melihat bulan purnama.” Kendati demikian, keadaan ini, jika didekati oleh makhluk, bahkan malaikat sekalipun, akan menghancurkannya menjadi debu. Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman. “Seandainya Kubuka tabir sifat-Ku Yang Mahaperkasa meski sesaat, niscaya segalanya terbakar musnah sejauh mata-Ku memandang.”

Malaikat Jibril, yang menemani Nabi Muhammad saw. dalam mikrajnya ke langit ke tujuh, mengatakan bahwa seandainya ia maju selangkah dari tempatnya saat itu, nisaya ia akan hangus terbakar.


1.

KEMBALI KE SUMBER AZALI



Keberadaan manusia dapat dilihat dari dua sudut pandang, jiwa dan raga, semua manusia secara umum sama. Semua orang memiliki ciri-ciri yang khas manusia. Dari sisi jiwa, yang tersembunyi dalam raga, setiap orang berbeda-beda. Karena itu, diperlukan penjelasan yang lebih khusus.

Kaidah umum menyatakan, setiap orang dapat kembali ke sumber azalinya dengan mengikuti langkah-langkah tertentu. Dalil-dalil agama yang jelas dan tegas merupakan petunjuk bagi siapa saja untuk perjalanan kembalinya. Dengan manapaki satu tingkatan ke tingaktan lainnya, ia sebenarnya tengah mendaki jalan ruhani, untuk mencapai alam ilmu – tingkatan tertinggi, Rasulullah saw. memuji tingkatan ini dalam sabdanya : “Ada satu tingkatan yang di dalamnya semua dan segala sesuatu dihimpun, yaitu makrifat --- ilmu.”

Untuk mencpai tingkatan itu, pertama-tama orang harus meninggalkan keburukan dan kemunafikan dalam amalnya sehingga orang lain dapat menjadi saksi atas dirinya. Setelah itu, ia harus menetapkan tiga macam tujuan bagi dirinya sendiri. Ketiga tujuan itu sebenarnya merupakan tiga macam surga. Tujuan pertama disebut Ma’wa – surga yang menajdi tempat tinggal yang tenteram atau surga duniawi. Tujuan kedua disebut Na’im – taman keridaan Allah bagi para makhluk-Nya. Yaitu surga yang berada di alam malaikat. Tujuan ketiga disebut Firdaus – surga samawi, yaitu surga yang dia alam ketunggalan akal sebab, tanah air jiwa, Nama-nama dan Sifat-sifat Ilahi. Itulah tiga maam imbalan, yang merupakan keindahan Allah, bagi manusia yang berusaha menempuh tingkatan-tingkatan ilmu ini, mengikuti ajaran agama, menghilangkan kemajemukan dalam dirinya, serta memerangi hawa nafsunya untuk mencapai persatuan dan kedekatan dengan Sang Penipta (thariqah). Itulah imbalan atas perjuangannya meraih tingkatan makrifat, tingkatan yang memungkinkannya mengenal Tuhan.

Rasulullah saw.,  -- setelah mengatakan : Ada satu tingkatan yang did alamnya semua dan sesgala sesuatu dihimpun dalam ilmu Allah.” --- bersabda :  “Dengannya seseorang mengetahui kebenaran yang menghimpun dalam dirinya semua jalan dan kebaikan. Ia harus mengamalkan kebenaran itu dan harus mengenal kesalahan serta meninggalkannya. Selanjutnya Rasulullah bersabda : “Ya Allah, tunjukkan kepada kami kebenaran dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan ajarkan kami tentang kesalahan lalu memudahkan kami untuk menjauhinya.” Dalam hadis lain Rasullah bersabda, “Barangsiapa mengenal dirinya sendiri dan sungguh-sungguh menetang nafsunya, niscaya akan mengenal Tuhannya dan mengikuti kehendak-Nya.”

    Tujuan mulia itu mungkin saja dicapai di dunia ini. Bagi orang yang telah mencapainya, tak ada bedanya antara tidur dan jada, karena dalam tidur, jiwa dapat kesempatan untuk berjalan ke rumah sejatinya yaitu alam ruh, lalu kembali ke alam jasad dalam keadaan yang baru. Keadaan seperti ini kami sebut mimpi sejati. Layaknya mimpi, kejadian yang dialami mungkin terpecah-pecah, tetapi mungkin juga bersifat utuh, sebagaimana yang dialami Nabi Muhammad saw. dalam persitiwa mi’raj. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya :

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada hal itu terdapat tanda-tanda kekusaaan Allah bagi kaum yang berpikir. (al-Zumar (39) : 42).

Keadaan seperti ini dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya : “Tidurnya orang berilmu lebih utama daripada ibadah orang bodoh.” Orang berilmu yang dimaksud di sini adalah orang yang telah meraih pengetahuan sejati yang tak mengenal huruf maupun suara.  Pengetahuan itu diperoleh dengan terus-menerus membaca kalimah tauhid, dengan lidah dan hatinya. Hatinya telah masuk ke dalam cahaya Ilahi melalui cahaya tauhid. Allah Swt., berfirman dalam sebuah hadis qudsi :

Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya. Pengetahuan batin mengenai ilmu batin (‘ilma al-bathin) adalah relung rahasia-Ku. Jika Ku masukkan pengetahuan ini ke dalam hati hamba-Ku yang saleh, takkan ada yang dapat mengetahui keadaanya kecuali Aku.

Dalam hadis qudsi lainnya Dia berfirman :

Aku seperti sangkaan hamba-Ku. Jika ia mencari dan mengingat-Ku, Aku bersamanya. Jika ia mengingat-Ku dalam hati, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingatku dan menyebut nama-Ku dalam kelompok, Aku akan mengingatnya dan menyebutnya sebagai hamba-Ku  yang saleh dalam kelompok yang lebih baik.

Jadi, satu-satunya cara untuk mencapai tujuan jalan ini adalah TAFAKUR, suatu laku yang jarang dijalankan kaum awam. Bahkan Rasulullah saw., bersabda, “Tafakur sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.” Atau : “Sesaat tafakur lebih utama daripada ibadah seribu tahun.”

Nilai setiap amal terletak pada hakikatnya. Sesaat tafakur dalam hadis di atas tampaknya mengandung tiga nilai yang berbeda.

Orang yang manafakuri suatu urusan dan berusaha menelusuri sebabnya, niscaya akan menyadari bahwa setiap bagian urusan itu memiliki banyak cabang, dan bahwa setiap penggalan peristiwa menjadi sebab bagi peristiwa-peristiwa lainnya. Tafakur seperti inilah yang dianggap lebih utama daripada seribu tahun ibadah.

Sama halnya, tafakur mengenai ma’rifat, yang disertai tekad kuat untuk mengenal Allah Swt., dianggap lebih utama daripada seribu tahun ibadah. Sebab, tafakur seperti itu adalah pengetahuan yang sejati.

Pengetahuan sejati adalah maqam tauhid. Seorang pecinta sejati akan menyatu dengan Kekasinya. Dari alam materi ini, ia terbang dengan sayap ruhani ke alam karunia. Ia dianggap lebih mulia daripada orang yang beribadah karena ahli ibadah berjalan kaki menuju surga, sedangkan ia terbang ke berbagai alam yang dekat kepada Tuhannya.

Setiap pecinta memiliki mata dalam hati mereka

Berkat cinta, mereka melihat, saat orang lain buta

Mereka memiliki sayap, bukan dari daging dan darah

Terbang menuju para malaikat, mencari Tuan mereka

Para pecinta itu terbang di alam batin. Merekalah orang yang berilmu. Mereka dianugerahi gelar sebagai manusia sejati, para kekasih, dan orang yang sangat dekat kepada Allah. Bayazid al-Bisthami, semoga Allah meridainya, berkata, “Orang yang berilmu adalah kekasih Allah.” Sufi lain mengatakan bahwa mereka dekat kepada Allah karena mereka adalah kekasih Allah.

Hanya para pencitalah yang akan mengenal Sang Kekasih dengan sangat dekat. Mereka menajdi sahabat dekat Allah. Hakiakt mereka adalah keindahan meskipun tampak seperti orang kebanyakan. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman : “Sahabat-sahabat dekat-Ku tersembunyi di bawah jubah-Ku. Tak ada yang mengenal mereka kecuali Aku.” Jubah itu adalah tampilan mereka yang sederhana dan bersahaja. Mereka tersembunyi bagaikan pengantin wanita yang ditabiri tirai pelaminan; dapatkah kau melihat kecantikannya?

Yahya ibn Muaz al-Razi, semoga Allah menyucikan ruhnya, berkata : “Para kekasih Allah adalah minyak wangi bagi dunia ini. Namun hanya mukmin yang ikhlas yang dapat mencium wangi mereka.” Kaum mukmin sejati itu mencium mereka, dan mengikuti keharuman itu. Minyak wangi itu membangkitkan kerinduan kepada Tuhan dalam hati mereka. Seluruh perilaku mereka semakin meneguhkan langkah, upaya, dan kesungguhan mereka. Tingkatan kerinduan, kesungguhan, dan kecepatan langkah mereka meningkat pesat sesuai dengan semakin cemerlangnya cahaya mereka dan sejauh keberpalingan mereka dari dunia. Semakin jauh seseorang dari pakaian dunia, semakin dekat ia kepada Sang Kekasih. Alih-alih merasa dingin dan kesepian, ia rasakah kehangatan Sang Pencipta. Semakin dekat pula ia dengan hakikat batin yang dicarinya. Kedekatan kpada hakikat bergantung kepada kekuatan tekadnya untuk meninggalkan dunia. Semakin jauh dari dunia dan kemajemukan, semakin dekat ia kepada hakikat yang tunggal.

Kekasih Allah adalah orang yang berjalan menuju ketiadaan hingga ia menyaksikan eksistensi hakikat. Ia telah menyerahkan seluruh dirinya sehingga ia tak lagi memiliki pilihan. Tak ada lagi “Aku”, yang tersisa hanyalah eksistensi, Sang Hakiki. Berbagai keajaiban yang ia tampilkan membuktikan ketinggain derajatnya. Namun, semua mukjizat itu tak ada kaitannya dengan maqam ruhaninya. Pada maqam seperti ini, tak ada pengungkapan rahasia, karena penyingkapan rahasia ketuhanan dianggap sebagai kemaksiatan.

Dalam kitab yang berjudul “Mirshad” dikatakan, “Karamah, atau kemampuan menampilkan sesuatu yang luar biasa merupakan hijab yang membuat seseorang lengah akan keadaan dirinya sendiri. Karena itu, saat-saat kemunculan karamah dianggap seperti masa-masa haid pada kaum wanita. Para wali, yang merupakan kekasih Allah, harus melewati sekurang-kurangnya seribu anak tangga. Di antara anak tangga yang pertama adalah karamah. Jika dapat melewatinya, ia dapat mendaki anak tangga lainnya. Jika tidak, langkahnya terhenti di sana.


2.

DARI KESEMPURNAAN MENUJU KEHINAAN


Di alam eksistensi yang pertama, Allah Swt., menciptakan ruh sebagai makhluk yang paling sempurna. Lalu Dia berkehendak mengirimnya ke alam yang lebih rendah agar mempelajari cara kembali kepada hakikat Yang Mahakuasa dan mendekat kepada-Nya. Dia mengutusnya kepada tingkatan para rasul dan wali, para pecinta dan sahabat. Pada mulanya, Allah mengirimnya ke alam akal sebab, alam keesaan, jiwa universal, alam nama-nama dan sifat-sifat Tuhan, dan alam hakikat Muhammad. Sebelum menempuh perjalanannya, ruh telah dibekali benih tauhid. Ketika melewati alam ini, ia diberi pakaian cahaya Ilahi dan ddiberi nama jiwa Sultan. Ketika melewwati alam malakut, ia diberinama “Jiwa aktiff”. Ketika turun ke alam materi, ia diberi pakaian materi untuk menyempurnakan wujudndya. Ia dibungkus dengan pakaian materi untuk menyelamatkan dunia, karena jika alam materi berhubungan langsung dengan ruh succi, pasti ia hancur binasa. Di alam inilah ia mengenal kehidupan – nyawa manusia.

Setelah turun ke alam yang terendah ia ia harus berupaya meraih kedekatan kepada Allah meski telah dibungkus daging dan tulang. Dengan menggunakan hati yang ada dalam jasadnya, ruh harus menanam dan menumbuhkan pohon tauhid. (Akar pohon itu tertancap kokoh; cabangnya memenuhi ruang rahmat, dan, di sana, dengan rida Allah, lahirlah buah tauhid). Kemudian, dalam bumi hati, ruh menanam benih agama dan bertekad menumbuhkan pohon agama. Agar menghasilkan buah tauhid, setiap cabang pohon itu harus mendekatkan diri kepada Allah.

Allah menciptakan jasad sebagai rumah bagi jiwa, dan masing-masing jiwa ini memiliki nama yang berbeda-beda. Dia telah menciptakan ruang yang serasi bagi jiwa di dalam jasad. Dia tempatkan jiwa manusia, ryh kehidupan, antara daging dan darah. Dia letakkan ruh di pusat hati. Di sanalah Allah menciptakan ruang materi yang halus untuk menjaga rahasia hubungan antara Allah dan hamba-Nya. Ruh-ruh ini berada pada berbagai bagian jasad, dengan tugas dan urusan yang berbeda-beda. Masing-masing bagian, laksana orang yang berjual beli, menghasilkan beragam keuntungan. Setiap upaya mereka selalu membawa mereka kepada karunia dan rahmat Allah.

.... dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara embunyi dan terang-terangan. Mereka itu mengharapkan perdagangan yang tiada merugi. (Fathir (35) : 29).

Setiap orang harus mengetahui tugas dan tujuannya di dalam eksistensinya. Ia harus memahami bahwa ia tidak dapat mengubah apa pun yang telah ditetapkan atas dirinya. Kepada orang yang ingin mengubah takdirnya, yang terbelenggu oleh dunia ini dan segala hasratnya, Allah bertanya :

Apakah dai tidak tahu jika apa yang ada di dalam kubur dibakgitkan dan apa yang ada di dalam dada diwujudkan? (al-Adiyat (100) : 9 – 10).

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya seperti (tetapnya) kalung pada lehernya (al-Isra’ (17) : 13).


3.

JIWA BERTAHATA DALAM RAGA


Tempat ruh manusia, nyawa kehdiupan, di dalam raga adalah dada. Tempat itu dihubungkan dengan indera. Urusan yang dihadapinya adalah agama dan tugasnya adalah mengikuti ajaran-ajaran Allah, yang bertujuan memelihara alam nyata agar tetap selaras dan teratur. Setiap jiwa melaksanakan kewajiban yang ditetapkan oleh Allah atas dirinya serta tidak mengaku-aku bahwa amal perbuatannya berasal dari dirinya sendiri, sebab, ia tak terpisahkan dari Allah. Seluruh amal perbuatannya dari Allah; tak ada pemisahan antara “Aku” dan Allah dalam amal perbuatan dan ibadahnya :

Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, kerjakanlah amal shaleh dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. (al-Kahfi (18) : 110).

Allah Maha Esa. Dia mencintai setiap yang Esa dan tunggal. Dia menghendaki agar semua pengabdian dan amal shaleh, yang dipandang-Nya sebagai ibadah, hanya untuk-Nya. Karena itu, jangan memperdulikan rasa suka atau benci orang lain terhadap perbuatannya. Selain itu, jangan lakukan perbuatan dengan tujuan meraih sesuatu yang bersifat duniawi. Semua amal harus dilakukan hanya demi dan untuk Allah. Kemampuan luarbiasa,seperti melihat tanda-tanda keberadaan Allah – manifetasi sift-sifat-Nya, keunggulan dalam kemajemukan, hakikat di balik penampakkan – dan kedekatan kepada Sang Pencipta merupakan buah amal shaleh dan keikhlasan ibadah. Tetapi, semua ini masih berkaitan dengan kehidupan ragawi, dari ujung kaki hingga ke langit. Kemampuan luar biasa lainnya, seperti berjalan di atas air, terbang di angkasa, menempuh jarak yang jauh dalam waktu singkat, mendengar suara atau melihat dari jarak yang sangat jauh, mengetahui pikiran orang lain, dan lain-lain, juga bersifat duniawi. Seseorng boleh mengharapkan balasan ekbaikan di akhirat – sitana surga, pelayan-pelayan belia, wanita yang selalu perawan sebagai isteri, susu, madu, anggur, dan semua nikmat surga lainnya – atas amal shalehnya di dunia. Namun, semua nikmat itu, hanayalah karunia surga tingkat terendah, yakni surga duniawi.

“Jiwa aktif” bertempat di dalam hati.  Ia bertugas untuk mengetahui jalan ruhani. Ia terhubung dengan empat Asma’ul Husnah yang pertama. Seperti duabelas nama Allah lainyya, keempat nama ini pun tanpa suara maupun huruf sehingga tak dapat dihafalkan. Allah Swt. berfirman.

Dan katakanlah : “Serulah Allah atau serulah al-Rahman. Dengan nama mana pun kau seru, Dia memiliki nama-nama yang indah (al-Asma’ul Husna). (al-Isra (17) : 110).

Allah memiliki nama-nama yang indah (al-Asma’ul Husna) maka serulah Dia dengannya. (al-A’raf (7) : 180).

Banyak firman Allah yang merupakan pedoman utama bagi manusia untuk mengetahui nama-nama Allah. Ini merupakan pengetahuan tentang wujud batin seseorang. Jika ia dapat meraihnya, niscaya ia dapat meraih maqam ma’rifat, yakni ketika ia mengetahui Nama Yang esa secara sempurna.

Nabi Muhammad saw., bersabda : “Allah Swt., memiliki sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa mengenalnya, ia akan masuk surga.”

Dalam hadis yang lain ia bersabda : “Ilmu itu satu. Kemudian orang-orang yang berilmu membuatnya menjadi seribu.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa hanya ada satu nama bagi zat yang tunggal, yang kemudian terpantulkan menjadi seribu sifat dalam diri orang-orang yang menerimanya.

 Pada dasarnya, dua belas nama Allah bersumber dari kalimat Syahadat : La ilaha ilallah – tidak ada tuhan selain Allah. Keduabelas nama itu diwakili oleh setiap huruf dari penggalan kalimat tauhid ini.

Allah Swt. telah menetapkan satu nama pada etipa huruf dalam kalimat itu. Dan keempat alam yang dilewati jiwa juga memiliki namanya masing-masing. Allah Swt. mengukuhkan hati para pecinta dalam cinta-Nya. Dia berfirman :

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di kehidupan dunia dan akhirat .... (Ibarhim (14) : 27).

Kemudian Dia menganugerahkan mereka kedekatan kepada-Nya. Dia menanamkan pohon tauhid dalam hati mereka. Akarnya menancap di lapis ketujuh bumi yang ktia pijak dan cabangnya menjulang ke tujuh lapis langit hingga mencapai Arasy dan mungkin lebih tinggi lagi. Allah Swt. berfirman :

Tidakkah kau perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Ibrahim (14) : 24).

“Jiwa aktif” berada di dalam hati yang hidup. Pusat perhatiannya aalah alam malakut. Ia dapat melihat surga alam ini. Para penghuninya, cahaya, dan semua malaikat yang ada di sana. Percakapannya adalah percakapan batin, tanpa kata dan tanpa suara. Pikirannya selalu terarah kepada hakikat makna rahasia. Temepat kembalinya di akhirat adalah Jannah Na’im, surga yang berisi segala nikmat dari Allah.

Tempat “Jiwa Sultn”, atau tempat ia menjalankan pemerintahannya, adalah pusat atau inti hati. Tugasnya adalah mencapai ma’rifat, dan ia harus menangani pengetahuan tentang semua bentuk ma’rifat, yang merupakan sarana pengabdian kepada Allah. Rasulullah mengatakan bahwa : “Ilmu terbagi ke dalam dua bagian; bagian yang berada pada lidah manusia, yang meneguhkan keberadaan Allah, dan bagian yang ada dalam hati manusia. Ilmu itulah yang mutlak dibutuhkan untuk meraih tujuan manusia.”  Buah ilmu yang sejati hanya bisa dicapai oleh aktivitas hati. Rasulullah saw. bersabda : “Al-Qur’an memiliki makna lahir dan makna abatin.” Allah mewahyukan Al-Qur’an dalam sepuluh lapis makna. Lebih tinggi tingkatan maknanya, lebih besar manfaatnya, karena lebih dekat kepada hakikat. Kedua belas nama Allah adalah laksana duabelas mata air yang memancar dari batu yang dipukul oleh Nabi Musa as. Dengan tongkatnya :

Dan (ingatlah)  ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Lalu memanarlah arinya dua belas mata air. Sungguh setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing) ..... (al-Baqarah (2) : 60).

Ilmu lahir laksana air hujan, yang datang dan pergi, sedangkan ilmu batin laksana mata air yang tak pernah kering. Allah berfirman :

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian maka darinya mereka makan. (Yasin (36) : 33).

Allah telah menciptakan sebutir benih di langit, yang kemudian menjadi kekuatan hewani dalam diri manusia. Dia pun telah menciptakan benih di alam jiwa (‘alam al-anfus), yang merupakan sumber tenaga, makanan bagi jiwa. Benih itu disirami oleh mata air ilmu. Rasulullah saw. bersabda : “Jika seseorang jujur dan suci selama empat puluh hari, niscaya sumber ilmu akan memancar dari hatinya menuju lidahnya.”

Jiwa sultan akan merasakan takjub dan cinta setelha menyaksikan manifestasi keindahan, karunia, dan kesempurnaan Allah :

Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat; yang memiliki akal yang cerdas. Dan (Jibril) menampakkan diri dalam rupa yang asli, sedang ia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian ia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Jadilah ia dekat (kepada Muhammad sejarak) dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu ia sampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. (al-Najm (52) : 5 – 11).

Dengan ungkapan yang indah Rasulullah saw. menjelaskan keadaan ini, Mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” Mukmin pertama dalam hadis ini adalah hati orang beriman yang sempurna, dan mukmin kedua, yang tercermin pada hati orang yang beriman, adalah Allah Swt., karena Dia menamai Diri-Nya sendiri sebagai “MUKMIN” :

 Dialah Allah yang tiada tuhan selain Dia ..... yang memberi kemanan (al-Mu’min) ..... (al-Hasyr (59) : 23).

Rumah jiwa ultan di akhirat adalah firdaws – surga samawi.

Ruh suci bertahta di pusat hati, yang juga menjadi tempat Dia menyimpan rahasia-Nya (sirr). Dalam sebuah hadis qudsi Allah menjelaskan : “Manusia adadalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya.”  Ruh suci berusaha meraih hakikat melalui tauhid. Ia membawa kemajemukan ke dalam ketunggalan dengan terus-terusan melafalkan Yang Esa dalam bahasa rahasia Ilahi – bukan bahasa lahir yang dapat didengar telinga.

Dan jika kau keraskan ucapanmu, sesungguhnya Dia mengethui rahasia dan yang lebih tersembunyi (Thaha (20) : 7).

Hanya Allah yang mendengar bahasa ruh suci, dan hanya Dia yang mengetahui keadaannya.

Keunggulan ruh suci adalah dapat melihat makhluk yang pertama diciptakan – keindahan Allah. Ia memiliki rahasia penglihatan. Baginya, melihat dan mendengar adalah satu. Baginya, tak ada perbedaan dalam segala yang dilihatnya. Baginya, kekuatan dan murka Allah menyatu dengan sifat keindahan, karunia, dan kasih-sayang-Nya.

Ketika manusias menemukan tujuannya, rumahnya, seperti ketika menemukan akal sebab, pikiran yang dulu mengendalikannya tunduk kepada titahnya : hatinya berlabuh dalam keterpesonaan, lidahnya menjadi kelu. Ia tak memiliki daya untuk menyampaikan kabar tentang semua keadaan ini, karena tak ada sesuatu pun yang menyamai Allah.

Jika penjelasan ini didengar oleh orang-orang yang mengetahui, biarkan mereka memahami lebih dahulu tingkatan pengetahuan mereka; biarkan mereka mencurahkan segenap perhatian kepada realitas sejati segala sesuatu yang mereka ketahui sebelum berusaha melihat ke ufuk yang lebih jauh, dan sebelum berupaya mencapai tingakatan baru. Dengan begitu, mereka dapat meraih tingaktan pengetahuan mengenai karunia Ilahi. Alih-alih mengingkari penjelasan yang telah kami sampaikan, mudah-mudahan mereka berusaha mencari pengetahuan untuk meraih ketunggalan, keesaan. Itulah langkah penting yang harus mereka tempuh.


4.

ILMU DAN KESEMPURNAAN MANUSIA


Ilmu lahir yang swabukti terbagi ke ddalam duabelas bagian, bagitu pun ilmu batin. Semua bagian ilmu ini dianugerahkan kepada orang dan hamba Allah yang sangat istimewa seduai dengan potensi dan kemampuan mereka.

Aku sendiri membagi ilmu itu ke dalam empat bagian. Bagian pertama berkaitan dengan kewajiban dan aturan agama mengenai segala sesuatu dan segala perbuatan di dunia ini. Bagian kedua berkaitan dengan makna batin dan sebab di balik semua ajaran ini. Bagian ini disebut tasawuf – pengetahuan konseptual mengenai segala sesuatu yang bersifat zhanni (tidak pasti). Bagian ketiga adalah falsafah, yang mengkaji rahasia hakikat ruhani. Bagian keempat membahas hakikat batin ilmu ini, yakni ilmu mengenai kebenaran. Manusia sempurna harus mempelajari dan mengetahui semua ilmu ini dan mencari jalan untuk meraihnya.

Rasulullah saw. bersabda :  Agama adalah pohon, tasawuf adalah cabangnya. Falsafah adalah daunnya, kebenaran adalah buahnya. Dan semua itu terkandung dalam Al-Qur’an, dengan tafsir, uraian, dan takwilnya.

Dalam kitab al-Majma, kata tafsir – penjelasan, dan ta’wil – tafsir dengan analogi didefinisikan sebagai berikut : “Tafsir Al-Qur’an merupakan penjelasan untuk memeberikan pemahaman kepada kaum awam, sedangkan takwil adalah uraian terhadap makna batin melalui ilham yang diterima seorang mukmin sejati. Takwil hanya diperuntukkan bagi hamba Allah yang istimewa, yang berpendirian teguh, setia kepada cita-cita ruhani, dan menguasai ilmu untuk memilih antaran yang sahih dan yang batil. Layaknya pohon kurma yang akarnya menghujam ke bumi, kaki mereka berdiri kokoh di alam materi ini; dan bagian pohon kurma yang rantingnya menjulang ke angkasa, hati dan pikiran mereka pun menjulang meraih ilmu samawi.” Berkat rahmat Allah, keteguhan yang tanpa keraguan bertahta di pusat hati mereka. Tingkat keteguhan ini sejajar dengan paruh kedua kalimat : La ilaha ilallah – ilallah, “Kecuali Allah”, yang menegaskan keesaan.

Dialah yang menurunkan al-kitab kepadamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Orang yang hatinya condong kepada kesesatan mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang yang mendalam ilmunya beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, “semuanya dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) kecuali orang yang berakal. (Ali ‘imran (3) : 7).

Seorang musafir menjelaskan ayat ini bahwa : “Seandainya pintu ayat ini dibuka, semua pintu rahasia alam batin juga akan terbuka”

Hamba sejati wajib melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ia juga wajib melawan nafsu dan syahwatnya. Nafsu melawan agama dengan memunculkan khayalan yang bertentangan dengan kenyataan. Pada tataran tasawuf, nafsu yang liik membujuk manusia untuk menerima dan mengikuti sebab-sebab dan konsep yang seolah-olah benar, mengikuti pesan kenabian dan ucapan para wali yang tidak sahih, serta mengikuti para guru atau pemikiran yang sesat. Pada tataran falsafah, nafsu selalu berupaya mendorong manusia untuk mengaku-aku sebagai wali atau bahkan Tuhan – dosa tersebut karena menjadi sekutu bagi Allah.

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan nafsunya sebagai tuhannya .... (al-Furqan (25) : 43).

Berbeda dengan ketiga tingkatan ilmu yang pertama, nafsu maupun setan tidak akan sampai pada tataran kebenaran, atau hakikat – bahkan para malaikat pun tak dapat menyentuhnya. Siapa pun, kecuali Allah, yang mendekati akwasan itu akan hancur menjadi debu, sebagaimana dikatakan oleh Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad ketika ia tiba di tepi kawasan itu, “Jika aku melangkah satu langkah lagi, aku akan hancur menjadi debu.”

Hamba sejati Allah terlindungi dari setan dan perlawanan hawa nafsunya karena ia memiliki perisai keikhlasan dan kesucian.

Iblis menjawab, “Demi kekuasan-Mu, akan kusesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” (Shad (38) : 82 – 83).

 Manusia takkan bisa mencapai hakikat kecuali dengan menyucikan dirinya, karena sifat-sifat duniawi tidak akan meninggalkannya hingga ia mearih hakikat. Itulah kebenaran dan kebaikan sejati. Ketika ia mencapai ilmu tentang hakikat Allah, semua kebodohannya sirna. Tingkatan ini takkan bisa dicapai melalui pembelajaran. Hanya Allah yang dapat mengajarkannya, tanpa perantara. Dialah satu-satunya guru yang memberikan suatu pengetahuan seperti yang diberikan kepada Khidir. Orang yang dianugerahi pengetahuan ini akan meraih tingkatan ma’rifat sehingga ia mengenal Tuhannya dan menyembah-Nya.

Ia akan dapat melihat ruh suci dan kekasih Allah, yakni Nabi Muhammad saw., yang akan berbincang dengannya mengenai segala sesuatu, dari awal hingga akhir. Semua nabi dan orang suci akan memberinya kabar gembira mengenai janji persatuan dengan Sang Kekasih. Allah menguraikan keadaan ini dalam ayat Al-Qur’an :

Dan siapa saja yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (an-Nisa’ (4) : 69).

Orang yang tak dapat menemukan ilmu ini dalam dirinya tidak akan menjadi orang bijak meskipun membaca jutaan buku. Hasil yang dapat diharapkan dari pencapaian ilmu lahir tentang berbagai hal yang bersifat pasti adalah surga : semua yang akan dilihatnya di sana adalah manifestasi sifat-sifat Allah dalam membentuk cahaya. Sesempurna apa pun pengetahuan mengenai hal-hal yang nyata dan abstrak takkan bisa membentuknya memasuki kawasan suci, yang dekat kepada Allah. Seseorang harus terbang menuju ke sana. Agar bisa terbang, ia butuh dua sayap. Hamba sejati Allah adalah orang yang terbang ke sana dengan sayap ilmu dan ilmu batin, tak pernah berhenti di tengah jalan, dan tak pernah terhambat. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman :

“Hamba-Ku, jika kau ingin berada di dekat-Ku, jangan menaruh perhatian terhadap dunia ini, atau alam malakut, atau bahkan alam yang lebih tingi tempat kau menerima sifat-sifat ketuhanan-Ku.”

Alam materi ini adalah godaan atau setan bagi orang yang berilmu. Alam malakut adalah godaan bagi kaum bijak, dan alam sifat-sifat Ilahi adalah godaan bagi ahli hakikat. Siapa saja yang merasa puas pada salah satunya, ia tertolak dari karunia Allah yang akan membuatnya lebih dekat kepada-Nya. Jika seseorang terperdaya oleh semua godaan ini, ia akan ebrhenti, tak bisa meneruskan langkah, dan tak kuasa bergerak ke tempat yang lebih tinggi lagi. Meskipun bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, ia takkan pernah bisa mencapainya. Ia terhalang; ia hanya memiliki sebelah sayap.

Namun, para ahli hakiakt menerima karunia itu dari Allah; anugerah yang tak dilihat mata, tak didengar telinga, atau tak terlintas dalam hati. Itulah surga kedekatan; anugerah keintiman. Di sana tak ada istana yang terbuat dari permata, juga tak ada pelayan-pelayan yang antik belia. Setiap orang harus mengetahui bagiannya dan tak menghendaki apa yang bukan haknya. Hadrah Al ra. Berkata : “Semoga Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada orang yang mengetahui bagiannya, yang sadar untuk tetap berada di batas-batasnya, yang mengendalikan lisannya, dan yang tidak menghabiskan usianya dalam kesia-siaan.”

 Orang yang mengetahui harus menyadari bahwa anak ruh yang dilahirkan di dalam hatinya merupakan hakiakt sejati kemanusiaan. Ia harus mendidik anak hati ini dengan ajaran tauhid dan melatihnya agar senantiasa mengingat keesaan, menjauhkan diri dari alam materi dan kemajemukan ini, serta mencari alam ruhani, alam rahasia, yang hanya ditempati oleh zat Allah. Pada hakikatnya, tak ada tempat lain selain tempat itu; temepat yang tak memiliki awal maupun akhir. Sang anak hati mencapai kawasan tak terbatas itu seraya melihat segala sesuatu yang tak pernah dilihat siapa pun, yang tak terkatakan lisan siapa pun, dan yang tak pernah diceritakan siapa pun. Tempat itu adalah tanah air orang yang telah menampakkan diri mereka sendiri dan merasakan kebersatuan dengan Tuhan; mereka melihat segala sesuatu dengan mata Tuhan, mata keesaan. Ketika melihat keindahan dan karunia Tuhan, wujud mereka yang fana tak lagi bersisa. Seseorang yang menatap matahari takkan bisa melihat sesuatu yang lain. Jika keindahan dan karunia Allah mengejawantah, masiha dakah diri? Tentu tak ada.

Nabi Isa a.s. bersabda : “Manusia harus dilahirkan dua kali untuk menapai alam malakut, bagaikan burung yang dilahirkan dua kali.”  Kelahiran yang kedua adalah kelahiran makna dari perbuatan, kelahiran jiwa dari daging. Kemungkinan itu ada dalam diri manusia. Itulah rahasia manusia. Ia lahir dari persekutuan ilmu agama dengan kesadaran akan hakikat, sebagaimana semua anak lahir karena perpaduan dua jenis air.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setets mani yang bercampur; Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu, Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (al-Insan (76) : 2).

 Ketika makna mengejawantah dalam wujud, ia dapat melewati bagia yang dangkal menuju samudera penciptaan dan menyelam di kedalaman perintah Allah. Dibandingkan alam ruhani, seluruh alam materi ini hanyalah seperti setetes air di samudera. Hanya jika semua ini dapat dipahami, kekuatan ruhani dan cahaya rahasia sifat Ilahi, hakikat sejati, akan memancar ke dunia nirkata dan nirswara.


5.

TOBAT, LANGKAH PERTAMA MENUJU KESEMPURNAAN


Kami telah menjelaskan beberapa maqam dan ahwal ruhani. Ketahuilah, semua maqam ini pada hakikatnya dicapai melalui tobat. Cara tobat hanya dapat diketahui dari orang yang mengetahui caranya dan ia sendiri benar-benar telah bertobat. Tobat yang sungguh-sungguh dan ikhlas merupakan langkah pertama di jalan ruhani.

Ketika orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada rasul-Nya, dan kepada orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa (tobat). Dan mereka berhak atas kalimat takwa itu, dan patut memilikinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-Fath (48) : 26).

Maqam takwa memiliki makna yang sama dengan la ilaha illallah: tak ada tuhan, tak ada sesuatu – selain Allah. Sebab, orang yang mengetahui hal ini akan takut kehilangan Dia, kehilangan rahmat, cinta, dan kasih sayang-Nya; ia takut dan malu melakukan maksiat dan takut akan azab-Nya. Jika seseorang belum emncapai tingkatan ini, ia harus mencari orang yang benar-benar telah dianugerahi oleh Allah rasa takut kepada-Nya.

Sumber yang melahirkan kata-kata ini harus disucikan dan dibersihkan dari segala sesuatu selain Allah. Orang yang menerimanya harus mampu membedakan antara kata-kata orang yang berhati suci dan kata-kata orang awam. Ia juga haru memahami bagaimana kata itu diucapkan, karena kata-kata yang terdengar sama mungkin saja memiliki arti yang jauh berbeda. Mustahil kata yang munul dari sumber yang suci akan bermakna sama dengan kata-kata yang muncul dari sumber lainnya.

Hati hanya akan hidup jika ia menerima benih tauhid dari hati yang hidup, karena benih semacam ini merupakan benih yang sehat dan hidup. Tak ada sesuatu pun yang dapat tumbuh dari benih yang kering dan mati. Kalimat la ilaha illallah disebutkan sebanyak dua kali dalam al-Qur’an.

Sesungguhnya dahulu apabila dikatakan kepada mereka : La ilaha illallah – Tiada tuhan selain Allah, mereka menyombongkan diri, dan berkata, “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami? (al-Shaffat (37) : 35 – 36).

Inilah tingkatan kaum awam. Bagi mereka, wujud lahir – termasuk eksistensi lahiriah mereka –adalah tuhan.

Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (Muhammad (47) : 19).

Firman Allah ini menjadi petunjuk bagi kaum mukmin sejati yang takut kepada Allah.

Hadhrah Ali r.a. meminta Rasulullah saw. untuk mengajarinya jalan keselamatan yang paling mudah, paling bermakna, dan paling tepat. Rasulullah saw. menunggu Jibril a.s. membawa jawaban dari Allah Swt. Akhirnya ia datang dan mengajari Rasulullah saw. untuk mengucapkan : “La ilaha – Tidak ada Tuhan” seraya memalingkan wajahnya ke kanan, dan mengucapkan “Illallah – kecuali Allah” seraya memalingkan wajahnya ke kiri, ke hatinya yang suci. Ia mengulanginya tiga kali. Rasulullah saw. sendiri mengulanginya kepada Hadhrah Ali r.a., yang kemudian mengajarkan kalimat tauhid ini kepada para sahabatnya. Hadhrah Ali adalah orang pertama yang memintanya dan diajari oleh Rasulullah.

Sutu hari, sepulang dari perang besar, Rasulullah ssaw. Bersabda keapda para pengikutnya, “Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar,”  yaitu jihad melawan nafsu dan syahwat. Itulah makna kalimat tauhid. Dalam hadis lainnya Rasulullah bersabda : “Musuh terbesar kalian berada di bawah tulang rusuk kalian.”

 Cint Ilahi takkan hidup memenuhi hatimu kecuali jika sang musuh, yaitu nafsu, telah binasa dan meninggalkanmu.

Agar cinta Ilahi dapat menempati hatimu, pertama-tama kau harus menyucikan dirimu dari hawa nafsu yang menyuruh seluruh wujudmu kepada kejahatan. Setelah itu kau akan memiliki kesadaran meskipun tidak sepenuhnya bersih dari dosa. Kau akan memiliki rasa bersalah. Namun, perasaan itu tidak cukup. Kau harus melewati tangga itu menuju maqam penyingkapan hakikat, baik hakikat kebaikan maupun keburukan. Setelah itu, kau akan berhenti melakukan maksiat untuk hanya melakukan kebaikan. Dengan demikian, kau telah menyucikan dirimu. Untuk melawan nafsu, perangilah lebih dahulu nafsu hewanimu – sifat rakus, tidur yang berkelebihan, kelalaian – dan perangilah sifat hewan buas dalam dirimu : sifat buruk, amarah, keras, dan kejam.lalu, jauhkanlah dirimu dari kebiasaan jahat hawa nafsu : bersifat angkuh, sombong, iri, dendam, tamak, dan semua penyakit lahir maupun batin. Dengan menempuh langkah-langkah itu berarti kau telah melakukan pertobatan yang sebenarnya dan telah menyucikan dirimu.

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang yang  menyucikan diri. (al-Baqarah (2) : 222).

Dalam ayat ini disebutkan “tawwab” orang yang benar-benar bertobat), bukan
“ta’ib (orang yang bertobat). Sebab, begitu banyak orang yang bertobat namun tobat mereka tidak diterima. Seberapa sering pun mereka bertobat, mereka tidaklah sungguh-sungguh bertobat, dan tobat mereka tidak diterima. Penegasan ini mengacu kepada perilaku banyak orang ayng sekedar mengungkapkan penyesalan tanpa menyadari kesalahan mereka, dan tiak memiliki tekad yang kuat untuk tidak melakukan dosa lagi, atau bahkan ia tetap saja tenggelam dalam lumpur dosa. Itulah tobat kaum awam, tobat lahiriah, yang sama sekali tak berpengaruh pada penyebab dosa. Mereka laksana orang yang ingin menghilangkan rumput dengan memotongnya, bukan mencabut akarnya. Cara itu hanya semakin menyuburkan rumput. Orang yang bertobat seraya menyadari kesalahannya dan penyebabnya adalah seperti orang yang mencabut rumput itu hingga ke akar-akarnya. Alat yang digunakan untuk mencabut rumput itu adalah ajaran ruhani yang diterimanya dan guru sejati. Seseorang harus membersihkan tanah sebelum menanami ladang.

Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk mansuia supaya mereka berpikir. (al-Hasyr (59) : 21).

Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, kejahatan mereka akan diganti oleh Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Furqan (25) : 70).

Ketahuilah, salah satu tanda diterimanya tobat adalah ketika seseorang tidak lagi melakukan dosa yang sama sepanjang hidupnya.

Tobat terbagi ke dalam dua macam, yaitu tobat orang awam dan tobat mukmin yang ikhlas. Orang awam berharap meninggalkan kejahatan menuju ketaatan dengan cara mengingat Allah sertaa berusaha keras meninggalkan hawa nafsu dan menaklukkan hasrat. Ia harus melawan nafsu yang selalu memberontak terhadap ajaran-ajaran Allah. Itulah tobat kaum awam, yang mungkin dapat menyelamatkannya dari neraka dan memasukkannya ke surga.

Tobat orang mukmin yang ikhlas, hamba sejati Allah, jauh berbeda. Mereka telah emncapai maqam ma’rifat, yang jauh lebih mulia dariapda keadaan terbaik seorang awam. Sebenarnya, tak ada lagi anak tangga yang bisa mereka naiki, karena mereka telah mencapai kedekatan kepada Allah. Mereka telah meninggalkan kesenangan duniawi dan tengah merasakan kelezatan alam ruhani – nikmat kedekatan dan kintiman dengan Allah, kenikmatan menatap zat-Nya dengan mata kebahagiaan.

Pemahaman kaum awam bersifat duniawi. Kesenangan mereka terletak pada kenikmatan lahiriah. Sekalipun manusia – secara lahiriah – dan semesta lahiriah pada hakikatnya merupakan realitas semu yang menyesatkan, kenikmatan itu merupakan kenikmatan terbaik yang dapat mereka rasakan. Ini sesuai dengan ujaran yang menyatakan bahwa “Keberadaanmu adalah dosa besar, begitu besarnya sehingga dosa-dosa lain menjadi kecil.” Orang bijak sering mengatakan bahwa amal baik seseorang yang tidak mencapai tingkat kedekatan kepada Allah tidaklah lebih baik daripada kesalahan orang yang dekat kepada-Nya. Karena itu, Rasulullah saw. penuntuk kita dan orang yang suci dari dosa, mengajari kita cara memohon ampunan atas dosa-dosa tersembunyi yang selama ini kita anggap  sebagai amal saleh. Bahkan ia sendiri memohon ampunan sebanyak seratus kali dalam sehari. Allah Swt. memerintahkan Rasulullah untuk memohon ampunan atas dosa-dosamu dan untuk orang-orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan. (Muhammad (47) : 19). Ia adalah nabi yang menjadi tauladan bagi kita dalam pertobatan. Ia mengajari kita untuk memohon kepada Allah agar Dia menghapuskan hawa nafsu, keegoan, dan semua sifat buruk kita. Inilah tobat sejati.

Menyesal berarti meninggal segala sesuatu kecuali zat Allah, dan ingin kembali kepada-Nya, kembali kepada tanah air kedekatan kepada-Nya, serta melihat wajah-Nya. Rasulullah saw. menjelaskan penyesalan semacam itu melalui sabdanya, “Ada hamba sejati Allah yang jasad mereka di sini namun hati mereka berada tepat di bawah Arasy Allah.” Hati mereka berada di langit kesembilan, di bawah Arasy. Itulah tingkatan terbaik yang dapat diapai seorang hamba, karena di dunia yang hina ini mustahil seseorang hamba, karena di dunia yang hina ini mustahil seseorang dapat melihat zat-Nya. Di dunia ini, yang dapat dilihat hanyalah manifestasi seifat-sifat ketuhanan-Nya, yang didpantulkan pada cermin suci hati yang ikhlas. Ini sesuai dengan ucapan Sayidina Umar r.a., “Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku.” Hati yang suci merupakan cermin tempat keindahan, karunia, dan kesempurnaan Allah dipantulkan. Keadaan ini kadang-kadang uuga disebut “Wahyu”, yakni penyampaian sifat-sifat Tuhan.

Untuk mencapai tingatan itu, serta untuk membersihkan dan menerangi hati, dibutuhkan seorang guru yang telah matang, yang terlah mencapai maqam  penyatuan dengan Allah, dan dimuliakan oleh semua orang, di masa lalu maupun sekarang. Ia telah mencapai maqam kedekatan kepada Allah dan telah diutus kembali oleh Allah ke dunia ini untuk menyempurnakan orang-orang yang berhak namun masih belum berhasil.

Untuk menjalankan tugas suci ini para wali Allah itu harus mengikuti jalan Rasulullah saw., dan menladaninya meskipun tugas mereka berbeda dengan tuags para Nabi a.s. jika para nabi diutus untuk menyelamatkan kaum awam sekaligus kaum mukmin yang ikhlas, para wali diutus hanya kepada sekelompok orang, bukan kepada semua orang. Jika para nabi diberi kebebasan untuh dalam mengemban tugas, para wali harus mengikuti jalan dan teladan Nabi saw.

Bahkan, jika ada seorang guru yang mengaku telah diberi kebebasan dan menganggap dirinya sama dengan seorang nabi, berarti ia kafir. Sabda Rasulullah saw. bahwa para sahabatnya yang saleh laksana para nabi di kalangan Bani Israil harus dipahami secara berbeda. Ketahuilah, para nabi yang datang setelah Nabi Musa a.s. semuanya mengikuti ajaran agama Nabi Musa a.s., tidak membawa ajaran baru. Mereka mengikuti hukum yang sama. Begitu pula para saleh di kalangan ummat Muhammad saw. Mereka bertugas untuk mengajari manusia untuk bersikap ikhlas dan mengikuti ajaran Rasulullah saw. Meskipun dengan cara dan ketentuan yang mungkin baru dan berbeda. Hukum yang diajarkan mesti mengacu pada hukum Rasulullah saw. seraya menjadi teladan bagi murid-murid mereka dalam amal saleh dan kebaikan. Mereka mendorong murid-murid mereka untuk mengamalkan ajaran agama serta menunjukkan kebahagiaan dan keindahannya. Tugas utama mereka adalah membimbing para pengikut mereka untuk menyucikan hati, yang merupakan tempat untuk membangun monumen ilmu.

Dalam menjalankan tugas tersebut, mereka meneladani murid-murid Rasulullah saw. yang disebut Ahlu Shufah, yang tela meninggalkan kesenangan duniawi demi keridaan dan kedekatan kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka menyampaikan kabar persis seperi yang mereka terima langsung dari mulut Rasulullah saw. Saking dekatnya kepada Rasulullah saw., mereka mencapai tingkatan ruhani yang tinggi sehingga dapat berbincang mengenai rahasia Mi’raj Nabi saw., bahkan sebelum beliau mengungkapkan rahasia ini kepada para sahabatnya.

Kedekatan mereka kepada Rasulullah serupa dengan kedekatan Rasulullah kepada Allah Swt.; mereka memegang teguh dan memelihara amanat berupa ilmu Allah yang dianugerahkan kepada mereka. Mereka adalah pengemban sebagian tugas kenabian, dan batin mereka aman sentosa di bawah perlindungan langsung Rasulullah saw.

Tidak semua orang berilmu dapat mencapai tingkatan itu. Orang yang telah mencapainya lebih dekat kepada Rasulullah saw. daripada kepada anak-anak dan istri mereka sendiri. Mereka menjadi anak-anak ruhani Rasulullah saw. Mereka adalah pewaris sejati Rasulullah saw. putra sejati mewwarisi hakikat dan rahasia ayahnya, baik dalam wujud lahir maupun wujud batinnya. Rasulullah saw. menyebutkan rahasia ini sebagai : “.... ilmu khusus laksana harta tersembunyi yang hanya dapat ditemukan oleh orang yang mengenal zat Allah. Tetapi, ketika rahasia itu diungkapkan, orang yang sadar dan ikhlas tak ada yang mengingkarinya.”

Ilmu itu diberikan kepada Rasulullah saw. pada malam Isra Mi’raj. Rahasia itu tersembunyi pada dirinya di balik 30 tabir. Ia tidak membukanya kecuali kepada para murid yang paling dekat kepadanya. Islam akan kokoh hingga hari kiamat berkat keberkahan dan rahmat rahasia ini.

Seseorang dapat mencapai rahasia tersebut dengan pengetahuan batin mengenai apa yang tersembunyi. Berbagai amcam ilmu lainnya, begitu pula seni dan ketrampilan duniawi hanyalah bungkus bagi ilmu batin itu. Meski demikian, orang yang menguasai ilmu-ilmu “bungkus” itu boleh berharap bahwa suatu hari ia akan mendapatkan isinya. Sebagian mereka hanya mengetahui apa yang wajib dimiliki manusia dan sebagian lainnya hanya mengetahui apa yang dapat menyelamatkannya dari kesesatan. Kendati demikian, ada juga di antara mereka yang menyeru manusia kepada Allah dengan nasihat yang baik. Dari kelompok terakhir itu ada  yang mengikuti jalan Nabi Muhammad saw. dan dibimbing memasuki pintu ilmu, yaitu Hadhrah Ali r.a. – pintu bagi orang-orang yang diundang oleh Allah Swt.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantulah mereka dengan cara yang baik (al-Nahl (16) : 125).

Ada kesamaan antara ucapan dan maksud bati mereka.  Perbedaan hanya terjadi pada hal-hal kecil dan cara pengungkapannya.

Sebenarnya, ada tiga makna yang dapat ditarik dari ayat tersebut, yang juga merupakan tiga cara pencapaian ilmu --- yang diamalkan secara berbeda, namun semuanya menyatu dalam hadis Rasulullah saw. Ilmu dibagi ke dalam tiga bagian, sebab tak seorang pun yang dapat mengemban, apalagi mengamalkan seluruh isi ilmu itu. Bagian pertama terkandung pada penggalan ayat : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah.  Bagian ini berhubungan dengan ma’rifat, hakikat, dan awal segala sesuatu. Pemiliknya haru, mengikuti teladan Rasulullah saw. mengamalkan ilmunya. Bagian ini hanya diberikan kepada orang, yang jujur dan berani, pejuang ruhani yang akan membela kedudukannya dan berjihad menjaga ilmu itu. Rasulullah saw. menjelaskan kelompok ini dalam sabdanya : “Usaha sungguh-sungguh yang dilakukan orang yang jujur dapat mengguncangkan gunung.” Kata “gunung”  dalam hadis itu berarti beratnya hati sebagian orang. Doa mereka akan dikabulkan. Apa pun yang mereka inginkan, akan terjadi; jika mereka menghendaki musnahnya sesuatu, ia akan musnah.

Dia memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa dikaruniani hikmah maka dia telah dikaruniai kebaikan yang banyak. (al-Baqarah (2) : 269).

Bagian kedua adalah ilmu  lahir yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai “dahwah yang baik”. Inilah bungkus ma’rifat. Orang yang menguasainya menyerukan kebaikan, mengajarkan amal baik, dan menjauhkan manusia dari segala larangan Allah. Orang yang berilmu akan menyeru denegan baik dan santun, sedangkan orang bodoh mengajar dengan kasar dan amarah.

Bagian ketiga berkaitan dengan penataan urusan duniawi manusia. Itulah kulit ilmu agama, yakni bungkus ma’rifat. Bagian ini diperuntukan bagi orang-orang yang mengatur manusia : keadilan manusia atas manusisa serta pemerintahan manusia atas manusia. Bagian akhir ayat itu menjelaskan tegas mereka .... dan bantulah mereka dengan cara yang baik. Orang yang termasuk kelompok ini merupakan manifestasi sifat Allah al-Qahhar, Yang Maha Perkasa. Tugas mereka adalah memelihara ketertiban di tenag manusia sesuai dengan Hukum Allah. Ilmu bagian ketiga ini melindungi n ilmu lahir, seperti bungkus melindungi kulit. Ilmu lahir, yang merupakan kulit, melindungi isinya, yaitu ilmu batin – hakikat ilmu dan benih sumber kehidupan.

Rasulullah saw. memberi nasihat, “Sering-seringlah menyertai orang bijak dan taatilah pemimpinmu yang adil. Allah Swt. menghidupkan hati yang mati dengan ilmu sebagaimana Dia menghidupkan tanah yang mati dengan tumbuham melalui hujan yang diturunkan-Nya.” Ia juga bersabda : Ilmu adalah harta yang hilang bagi orang beriman. Ia akan mengambilnya di mana saja ia temukan.”

Bahkan, kata-kata kaum awam turun dari Lauh Mahfuzh, Kitab Takdir yang meliputi semua kejadian sejak permulaan hingga akhir. Lauh itu dijaga di alam akal kausal. Namun, kata diuapkan sesuai dengan derajat seseorang. Kata-kata orang yang telah mencapai tingkatan hakikat bersumber langsung dari alam tinggi itu, alam kedekatan dengan Allah, tanpa perantara.

Ketahuilah, semua kehendak kembali kepada sumbernya. Hati, sang hakikat, harus dibangkitkan, dihidupkan, untuk menemukan jalan kembali kepada sumber Ilahinya. Ia harus mendengarkan seruan. Setiap orang harus menemukan seseorang yang menyampaikan seruan itu kepadanya. Dialah guru sejati. Ini merupakan fardu ain, kewajiban individual, sesuai dengan sabda Rasulullah saw., menuntut ilmu wajib atas setiap muslim, laki-laki maupun perempuan.” Ilmu itu adalah tingkatan ilmu yang tertinggi, makrifat, yang akan membawa seseorang menuju sumbernya, yaitu hakikat. Ilmu lainnya hanya diperlakukan sesuai dengan kegunaanya. Misalnya, untuk kepentingan nafsu, manusia memerlukan ilmu duniawi. Allah meridai orang yang meninggalkan hasrat duniawi, akrena semua kenikmatan dunia merupakan perintang dalam perjalanan seseorang menuju Allah.

Katakanlah, “Aku tidak meminta sesuatu pun kepadamu atas seruanku kecuali kasih sayang dalam keluarganya.” (al-Syura’ (42) : 23).

6.

SUFI, PARA PEJALAN DI JALAN TUHAN


Istilah shufi berasal dari kata Arab “Shaf” yang berarti suci. Kaum sufi diberi gelar ini karena alam batin mereka disucikan dan diterangi oleh cahay ilmu, tauhid, dan keesaan. Dalam pengertian lain, mereka disebut sufi karena secara ruhani mereka dekat dengan para sahabat Rasulullah yang disebut “Ahlu Shufah”, yang berbaju kasar terbuat dari bulu domba. Bahkan, mereka sendiri mungkin selalu mengenakan pakaian kasa dan murah yang terbuat dari bulu domba (shuf) dan banyak pula dari mereka yang selalu mengenakan pakaian usang penuh tambalan.

Seperti penampilan lahir mereka  yang miskin dan hina, bagitu pun kehidupan duniawi mereka. Mereka sangat bersahaja dalam makan, minum, dan kesenangan dunia lainnya. Dalam kitab berjudul al-majma diaktakan, “Kaum sufi adalah mereka yang bersikap sederhana dalam pakaian dan pandangan hidup”. Mungkin saja mereka tampak tertarik oleh kehidupan dunia. Namun, pengetahuan mereka diwujudkan dalam perilaku yang sopan dan santun sehingga orang-orang lain tertarik kepada mereka. Sesungguhnya mereka merupakan teladan bagi manusia. Mereka mengikuti ajaran-ajaran Allah. Dalam pandangan Tuhan, mereka berada di garis terdepan manusia; dalam pandangan para salik, terlepas dari penampilan lahiriah, mereka adalah orang-orang yang menawan hati. Mereka memiliki ciri yang sangat khas, karena mereka telah mencapai tingkatan tauhid yang sesungguhnya.

Dalam bahasa Arab, kata tashawwuf, terdiri atas empat huruf t, sh, w dan f. Huruf pertama, t, adalah singkatan dari tawbah, tobat. Inilah langkah pertama yang harus ditempuh di jalan ruhani, yang meliputi langkah lahir dan langkah batin. Langkah lahir ditempuh dengan perkataan, perbuatan, dan perasaan. Secara lahiriah, orang yang bertobat haru memelihara hidupnya dari dosa dan maksiat serta condong kepada ketaatan; ia harus membebaskan diri dari penyimpangan dan kekafiran, seraya mencari keridaan dan keselarasan. Langkah batin tobat ditempuh oleh hati. Langkah ini ditempuh dengan menyucikan hati dari segala noda dan salah. Langkah ini bersumber dari perlawanan terhadap hasrat duniawi dan keteguhan dalam kesucian. Tobat --- yang merupakan kesadaran atas dosa dan kemestian meninggalkannya, juga merupakan kesadaran atas kebaikan dan tekad untuk mengamalkannya – akan membawa seseorang kepada tingkatan kedua.

Tingkatan kedua adalah keadaan tenang dan bahagia, shafa. Tingaktan ini pun meliputi dua langkah, yakni langkah menuju kesuian hati, dan langkah menuju inti hakikat.

Ketenteraman datang dari hati yang bebas dari kecemasan. Kecemasan disebabkan oleh kesenangan kepada dunia – makanan, minuman, tidur, dan cengkerama. Semua ini seperti daya tarik bumi, menurunkan eter hati. Tentu saja, membebaskan diri dari tarikan duniawi merupakan langkah yang sangat berat dan melelahkan. Perjuangan ini menjadi semakin berat karena ada ikatan lain yang membelenggu eter hati ke bumi, termasuk hasrat, kekayaan, juga cinta istri dan anak-anak.

Cara membebaskan dan mensucikan hati adalah mengingat Allah. Apda awalnya, zikir dilakukan secara lisan dengan menyebut nama-Nya berulang-ulang, melafalkannya dengan keras sehingga kau dan orang lain mendengar dan mengingat-Nya. Ketika ingatan kepada-Nya telah menetap, zikir berlangsung dalam hati dan menjadi bagian abtin; yang tertinggal hanya keheningan. Allah berfirman :

Sesungguhnya orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya). (al-Anfal (8) : 2).

Gemetar berarti kagum, takut, dan cinta kepada Allah. Dengan berzikir dan menyebut nama Allah, hati terjaga dari kelalaian, dibersihkan, dan diterangi. Dengan begitu, bentuk dan rupa rahasia alam gaib akan terpantul apdanya. Rasulullah saw., bersabda : “Para ulama secara lahir mengunjungi dan memeriksa segala sesuatu dengan pikiran mereka, sedangkan kaum bijak secara batin sibuk membersihkan dan menerangi hati mereka.”

Inti hati akan meraih kententaraman jika telah disucikan dari segala sesuatu dan dipersiapkan untuk hanya menerima zat Allah, yang akan emmasukinya jika ia telah dihiasi oleh cinta Ilahi. Inti hati dapat dibersihkan dengan zikir batin dan terus-menerus melafalkan kalimat tauhid “la ilaha illallah” dengan lidah hakikat. Ketika hati dan intinya berada dalam keadaan tenteram dan bahagia maka tingaktan kedua, yang disimbolkan oleh huruf (sh) menjadi sempurna.

Huruf ketiga w, adalah singkatan dari wilayah, yakni tingkatan kewalian para pencinta dan kekasih Allah. Tingaktan ini bergantung apda kesucian batin. Dalam kitab suci Al-Qur’an disebutkan bahwa para wali Allah itut idak  ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati; dan bahwa bagi mereka berita gembira di kehidupan dunia dan (di kehidupan) akhirat .... (Yunus (10) : 62) dan 64).

Orang yang telah emnapai maqam kewalian sepenuhnya menintai dan terhubung kepada Allah. Buah keadaan ini adalah eprilaku yang sopan dan kepribadian yang hangat. Inilah karunia Ilahi yang dianugerahkan kepadanya. Rasulullah saw. bersabda : “Perhatikanlah akhlak Allah dan berperilakulah sesuai dengannya.”  Pada tingaktan ini, seseorang telah menghapuskan sifat-sifat duniawinya yang fana dan menyatu dengan sifat-sifat Ilahi. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman :

Jika Aku mencintai hamba-Ku, Aku menjadi amtanya, telinganya, lidahnya, tangannya, dan kakinya. Dia melihat melalui Aku, dan mendengar melalui Aku, dia berbicara melalui Aku, tangannya menjadi tangan-Ku, dan dia berjalan bersama Aku.

  Sucikan hatimu dari segala sesuatu dan ingatlah hanya kepada Allah, sebab :

Katakanlah olehmu (Hai Muhammad), telah datang kebenaran dan telah binasa kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu binasa. (al-Isra’ (17) : 81).

Ketika kebenearan datang dan kebatilan binasa, tingkatan wilayah menjadi sempurna.

Huruf keempat, f, merupakan singkatan dari kata Fana, penidadaan diri. Diri yang batil dan keakuan luruh musnah ketika sifat-sifat Ilahi memasuki jiwa seseorang. Keakuan digantikan oleh keesaan.

Pada hakiaktnya, kebenaran akan selalu ada; tak pernah hilang atau pun surut. Permusuhan yang dimaksudkan di sini adalah hawa seorang mukmin menyadari dan menyatu dengan zat yang telah menciptakannya. Ketika ebrada bersama-Nya, ia menerima keridaan-Nya : wujud manusia yang fana menemukan eksistensinya dengan menyadari hakikat yang kekal : Segala sesuatu musnah kecuali zat-Nya .... (al-Qashash (28) : 88).

Hakikat-Nya dikenal melalui keridaan-Nya. Jika kau melakukan sesuatu akrena Dia dan diridai-Nya, berati kau telah mendekati hakikat-Nya, zat-Nya. Setelah itu, semuanya musnah kecuali Yang Esa; Dia menyatu dengan orang yang diridai-Nya. Amal saleh adalah ibu yang melahirkan hakiakt, yaitu jiwa sejati yang kembali. Allah berfirman Kepada-Nya naik perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkannya. (Fathir (35) : 10). Jika seseornag berbuat akrena segala sesuatu selain Allah, berarti ia telah menyekutukan Allah. Sebab, ia telah emnempatkan seseoarng atau yang lainnya di tempat Allah. Menyekutukan Dia adalah dosa tak terampuni dan lambat laun akan membinasakan dirinya. Namun, jika diri dan keakuan sirna, ia akan mencapai tingakat kebersatuan dengan Allah, yang dicapai di alam kedekatan kepada-Nya; alam yang dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya :

Sesungguhnya orang yang bertaqwa itu ..... ditempat yang disenangi, di sisi Tuhan Yang Mahakuasa. (al-Qamar (54) : 54 – 55).

  Alam itu adalah alam hakikat sejati; hakikat segala hakikat; tempat keesaan dan ketunggalan. Itulah alam yang disediakan untuk para nabi, orang yang dicintai Allah, dan para kekasih-Nya. Allah bersama orang-orang yang benar. Ketika eksistensi ciptaan menyatu dengan eksistensi yang kekal, eksistensi keduanya menjadi tak terpisahkan. Ketika seseorang telah melepaskan dirinya dari semua ikatan duniawi untuk berada bersama Allah, niscaya ia akan menerima kesucian yang kekal, yang tak pernah ternodai, dan menjadi salah seorang penghuni surga, mereka kekal di dalamnya (al_A’raf (7) : 42). Mereka adalah orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (al-A’raf (7) : 42). Namun, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada seseorang elainkan sesuai dengan akdar kesanggupannya. (Al-A’raf (7) : 42). Untuk bisa mencapai tingkat penyatuan seperti itu, dibutuhkan kesabaran dan ketabahan, karena Allah bersama orang-orang yang sabar (al-Anfal (8) : 66).


7.

MEREKA SENANTIASA INGAT TUHAN


Allah Swt. akan menunjukkan jalan kepada orang yang berusaha mengingat-Nya. Dalam sebuah ayat Dia berfirman : “Berzikirlah (menyebut) Allah sebagaimana ditunjukkan-Nya kepadamu .....” (al-Baqarah (20 : 198). Jadi, zikir kepada Allah akan membawamu kepada tingkatan kesadaran dan keimanan tertentu dan bahwa kau hanya dapat berzikir sesuai dengan kemampuanmu. Rasulullah saw. bersabda :  “Kalimat terbaik adalah kalimat yagn kubaca dan dibaca oleh para nabi sebelumku. Itulah kalimat La ilaha illallah.”

Ada beberapa tingkatan zikir dara pelafalannya pun berbeda-beda. Ada zikir yagn dilafalkan dengan keras, ada juga yagn dilafalkan secara batin, dalam keheningan dan bersumber dari pusat hati. Pada mulanya, seseorang harus mengucapkan lafal-lafal zikir. Kemudian, setahap demi satahap, zikir menyebar ke seluruh bagian wujud seseorang – turun ke hati lalu naik ke jiwa; setelah itu, ia akan mencapai alam hakikat; lalu menuju yagn tersembunyi, dan akhirnya mencapai rahasia yagn paling dalam. Kualitas, tingkatan, dan capaian yagn diraih seseorang dalam zikir bergantung semata-mata pada karunia Allah yang menunjukinya jalan.

Zikir lisan menunjukkan bahwa hati tidak melupakan Allah, sedangkan zikir batin merupakan gerak perasaan. Zikir hati melibatkan perasaan dan kesadaran akan adanya kekuatan dan keindahan Allah dalam dirinya. Adapun zikir jiwa adalah bersinarnya, cahaya Ilahi yang berumber dari kekuatan dan keindahan Allah. Zikir alam hakikat adalah kenikmatan ruhani yang bersumber dari pengungkapan hakikat Ilahi. Zikir alam rahasia  akan membawa seseorang kepada  tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa (al-Qamar (54) : 55. Zikir tingkatan terakhir yang disebut khafi al-akhfa – rahasia yang paling sunyi – akan mengantarkan seseorang kepada keadaan fana dan kebersatuan dengan hakikat. Pada hakikatnya, hanya Allah yagn mengetahui keadaan orang yang telah memasuki alam yang berisi semua ilmu itu, yang merupakan ujung segala sesuatu. Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yagn lebih  tersembunyi. (Thaha (20) : 7).

Ketika seseorang melewati berbagai tingkatan akhir ini, suatu tingkatan ruh, bagaikan jiwa yagn berbeda, dilahirkan dalam ketunggalan. Jiwa itu lebih suci dan lebih halus daripada semua jiwa lain. Itulah anak hati, anak hakikat. Ketika masih dalam bentuk benih, ia menggugah dan menarik menusia untuk mencari dan menemukan hakikat; setelah dilahirkan, ia memaksa manusia untuk mencari Zat Allah Swt.

(Dialah) Yang Mahatinggi derajat-Nya, yang memiliki Arasy, yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada  siapa yagn dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. )al-Mu’min (40) : 15).

Jiwa ini berasal dari alam Yang Mahakuasa dan ditempatkan di semesta alam lahir, tempat manifestasi sifat-sifat Sang pencipta pada makhluk merskipun ia sendiri merupakan bagian dari alam hakikat. Ia hanya memperhatikan Zat Allah. Rasulullah saw. menjelaskan, Dunia ini diharamkan bagi orang yang menghendaki akhirat. Akhirat diharamkan bagi orang yang menghendaki dunia. Dan keduanya haram bagi orang yang menghendaki Allah.” Jiwa ini adalah anak hakikat. Ia berada dalam diri orang yang mencari, menemukan, dan berada bersama Tuhannya.

 Apapun yang kau lakukan, diri jasmanimu harus mengikuti jalan yang lurus, yaitu dengan cara memelihara dan mengikuti ajaran agama, ia harus terus-terusan ingat dan berzikir menyebut nama Allah, seara lahir maupun batin. Zikir wajib hukumnya bagi orang yang melihat hakikat, sebaagimana diperintahkan oleh Allah :

Ingatlah (dengan menyebut nama) Allah sambil berdiri, atau duduk atau dalam keadaan berbaring. (al-Nisa’ (4) : 103).

.... (yaitu) orang yang mengingat Allah sambil bediri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka merenungkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau.....” (al-‘Imran (3) : 191).


8.

SYARAT  PENYEMPURNA  ZIKIR


Salah satu syarat zikir adalah wudlu, kesucian dan kebersihan badan maupun jiwa. Langkah pertama dalam zikir adalah melafalkan kalimat zikir – kalimat tauhid atau sifat-sifat Allah – dengan suara yang keras. Ketika melafalkan kalimat zikir, berusahalah untuk memusatkan pikiran ssehingga hati mendengar zikir yagn dilafalkan dan diterangi cahayanya. Zikir akan menghidupkan hati – tidak hanya di dunia ini, tetapi juga kelak di akhirat. Allah Swt. menjelaskan bahwa mereka tidak akan lagi merasakan kematian, kecuali kematian yang pertama.... (al-Dukhan (51) : 50).

Rasulullah saw. menjelaskan derajat mukmin yagn mencapai hakikat melalui zikir, dalam sabdanya, “Orang yang beriman tidaklah mati. Mereka hanya melewati kehidupan yang fana menuju kehidupan yang kekal.” Mereka tetap melakukan apa yagn mereka lakukan di dunia ini. Rasulullah saw. bersabda : “Para nabi dan orang yang dekat kepada Allah tetap beribadah di kubur mereka, seperti di rumah mereka saat di dunia.” Ibadah yang dimaksudkan di sini adalah shalat batin kepada Allah, bukan shalat seperti yagn dilakukan di dunia, yang meliputi gerakan berdiri, rukuk, sujud, dan sebagainya. Shalat batin merupakan salah satu kualitas penting yang menjadi ciri mukmin sejati.

  Ilmu tersebut tidak dapat diupayakan, tetapi diberikan oleh Allah kepada siapa saja yagn dikehendaki-Nya. Setelah naik ke tingkat itu, orang yang mendapatkannya didekatkan kepada hakiakt Allah. Keadaan itu hanya dapat diraih apabila hatinya hidup dan seluruh perhatiannya terpusat kepada zikir, serta memiliki tekad untuk menerima hakikat. Rasulullah saw. bersabda : “Mataku tidur, tetapi tiak hatiku. Ia selalu terjaga.”

Rasulullah saw. menjelaskan nilai penting tekad dalam perjuangan meraih ilmu dan hakikat : “Jika seseorang ingin belajar dan berusaha meraih keinginannya, tetapi ia wafat sebelum mencapai tujuannya maka Allah akan menugaskan dua malaikat sebagai guru yang akan mengajarinya ma’rifat hingga hari kiamat. Ia akan dibangkitkan sebagai orang berilmu yang telah mencapai hakiakt.”  Kedua malaikat itu mencerminkan ruh Rasulullah serta cahaya cinta dan kewalian yang menghubungkan manusia dengan Allah. Pentingnya tekad dan niat diuraikan secara lebih jelas oleh Rasulullah saw. “Banyak orang yang ingin mencari ilmu, tetapi mereka wafat dalam keadaan bodoh. Namun, mereka akan dibangkitkan dari kubur di hari kiamat sebagai orang berilmu; dan banyak orang berilmu yagn dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan hampa, karena kehilangan segala sesuatu dan benar-benar bodoh.” Orang yang menyombongkan ilmu mereka, dan yang mencari ilmu untuk mendapatkan kekayaan duniawi serta perbuatan dosa, mesti diperingatkan :

Telah kau habiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawi (saja)dan kau telah bersenang-senang dengannya; pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi  tanpa hak dan karena kamu telahf asik. (al-Ahqaf (46) : 20).

 Rasulullah sawb versabda : Sesungguhnya setiap amal bergantung kepada niat.”  Tekad dan niat seorang mukmin di sisi Allah lebih berharga daripada amalnya. Niat seorang kafir lebih buruk daripada keburukan amalnya. Bagi Allah, niat baik seorang mukmin lebih baik daripada amal saleh seorang kafir. Niat adalah landasan amal. Rasulullah bersabda : “Kebaikan adalah mendirikan amal yang baik atas landasan yang baik, dan dosa adalah amal yang dilandasi niat buruk.” Barang siapa mengehndaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan abrang siapa menghendaki keuntungan di dunia ini Kami berikan kepadanya sebagian keuntungan dunia dan tidak ada baginya sedikit pun bagian di akhirat. (al-Syura (42) : 20).


9.

MERAIH MAQAM PENYAKSIAN


Melihat Allah mengandung dua pengertian : Pertama melihat langsung manifestasi sifat-sifat Allah Yang Mahaindah di akhirat. Kedua, melihat manifestasi sifat-sifat Ilahi di dunia ini yagn tercermin pada hati yagn suci. Pada kasus ini, penglihatan itu menjadi manifestasi cahaya yagn memancar dari Keindahan Mutlak Allah dan dilihat oleh amta hati.

Mengenai realitas yang dilihat mata hati, Allah menjelaskan bahwa hati tidaklah emndustakan apa yagn dilihatnya. (al Najm (53) : 11).

Ihwal melihat manifestasi Ilahi melalui perantara, Rasulullah saw. bersabiapa saja yang telah sampai pada maqam penyaksian manifestasi sifat-sifat Allah di dunia ini niscaya akan melihat Zat Allah di hari kiamat tanpa bentuk atau rupa.

Hakiakt ini telah diddtegaskan oleh banyak kekasih dan para pecinta. Hadhrah Umar r.a. berkata “Hatiku melihat Tuhanku dengan cahay Tuhanku.”  Hadhrah Ali r.a. berkata : “Tidaklah aku berdoa kepada Allah kecuali aku melihat-Nya.” Mereka berdua tentu melihat cahaya terang manifestasi sifat-sifat Ilahi. Jika seseorang melihat cahaya matahari yang menyelinap melalui jendela dan berkata, “Aku melihat matahari.” Ucapannya itu benar.

Allah memberikan gambaran paling indah mengenai manifestasi sifat-sifat-Nya :

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang tak tembus, yagn didalamnya ada pelita besar. Pelita itu dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon  yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walau pun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. (al-Nur (24) : 35).

Lubang yang dimaksud pada ayat itu adalah hati orang beriman. Pelita yang menerangi lubang hati adalah inti hati, sedangkan cahaya yang menyinarinya adalah hakikat Ilahi, jiwa sultan. Kaca berfungsi untuk memantulkan, bukan menahan. Ia melindungi dan memancarkan cahaya. Karena itulah ia diperumpamakan sebagai bintang. Sumber cahaya adalah pohon Ilahi. Pohon itu adalah maqam keesaan yang membentangkan cabang-cabang dan akar. Dari pohon itu lahir prinsip-prinsip keimanan, yang berhubungan tanpa perantara apa pun dalam bahasa yagn suci.

Melalui bahasa suci inilah Rasulullah saw. menerima wahyu Al-Qur’an. Pada hakikatnya, malaikat Jibril menyampaikan pesan Ilahi hanya setelah pesan itu diterima oleh Nabi Muhammad. Penyampaian wahyu oleh Jibril adalah demi kepentingan kita agar kita dapat mendengarnya dalam bahasa manusia. Proses pewahyuan  ini pun menunjukkan siapa orang yang munafik atau kafir. Mereka punya alasan untuk mengingkari wahyu Al-Qur’an karena mereka tidak beriman kepada para malaikat.

Dalil bahwa Al-Qur’an diwahyukan langsung kepada Rasulullah saw. terdapat dalam Al-Qur’an sendiri :

“Dan sesungguhnya kami benar-benar diberi Al-Qur’an dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (al-Naml (27) : 6).

Karena Rasulullah saw. telah menerima wahyu sebelum Jibril membawanya, maka setiap kali Jibril menyampaikan ayat-ayat suci, Rasulullah lebih dahulu telah memahami dan membacanya. Inilah makna fiman Allah :

Dan janganlah kamu tergesa-gesa memabca Al-Qur’an sebelum disampaikan pewahyuannya kepadamu ..... (Thaha (20) : 114).

Ini ditegaskan oleh fakta bahwa ketika Jibril mendampingi Nabi saw. pada malam Mi’raj, ia tak dapat mencapai langit ke tujuh. Jibril mengatakan, “Jika aku maju selangkah lagi, niscaya aku hancur menjadi debu.”  Di sanalah ia membiarkan Rasulullah saw. meneruskan Mi’rajnya sendirian.

Allah menyatakan bahwa pohon zaitun – pohon tauhid – yang diberkahi itu tidak di Timur maupun di Barat. Dengan kata lain, ia tidka berawal maupun berakhir, dan cahaya yang dipancarkannya tidak akan pernah terbit ata tenggelam. Ia azali sejak dahulu dan kekal hingga akhir masa. Zat maupun  sifat-sifat Allah adalah kekal, karena sifat-sifat-Nya adalah cahaya yang memnacar dari zat-Nya. Manifestasi zat maupun sifat-Nya berganutng kepada zat-Nya.

Ibadah sejati hanya dapat dilakukan jika tabir yang menutupi hati telah diangkat sehingga cahaya kekal itu, dapat meneranginya. Hanya setelah itulah jiwa akan melihat melalui pelita ruhani.

Alam semesta ini dicicptakan dengan tujuan agar manusia dapat menemukan Perbendaharaan Tersembunyi, yang difirmankan oleh Allah dalam hadis qudsi : “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi.” Jadi, Dia ingin dikenal di alam amteri ini melalui sifat-sifat-Nya yang mengejawantah pada ciptaan-Nya. Namun, hanya diakhiratlah manusia dapat meliaht zat-Nya. Di sana, melihat Allah akan berlangsung tanpa tabir, seperti yang dikehendaki-Nya, dan yang dapat melihat-Nya hanyalah mata sang anak hati.

Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhanlah mereka melihat. (al-Qiyamah) (75) : 22 – 23).

 Rasulullah saw. bersabda : “Aku pernah meleihat Tuhanku dalam rupapemuda yang tampan.”  Mungkin inilah manifestasi sang anak hati. Cara itu berada dalam cermin. Ia membuat yang tidak tampak menjadi tampak. Allah Swt. Mahasuci dari segalabentuk penggambaran, pencintraan, atau perupaan. Cinta adalah gambar di cermin, bukan cermin itu sendiri maupun orang yang melihat ke cermin. Camkan dan pahamilah, sebab itu merupakan esensi alam hakikat.

Tetapi semua itu hanya terjadi di alam sifat-sifat. Di alam zat, semua perantara hilang, terbakar sirna. Di alam zat, yang ada adalah tidak ada, tetapi zat dirasakan adanya tanpa ada yang lain. Rasulullah saw. menjelaskan hal ini dengan ungkapan yang indah : “Aku kenal Tuhanku melalui Tuhanku,” di dalam cahaya-Nya dengan cahaya-Nya! Hakikat manusia adalah hakikat cahaya itu sendiri. Allah Swt. berfirman : “Manusia adalah hakikat-Ku dan Aku adalah hakikatnya.”

  Kedudukan Nabi Muhammad saw. yang cahayanya merupakan makhluk yang pertama diciptakan Allah, dijelaskan oleh sabdanya : “Aku dari Allah dan orang beriman dariku>’ .Allah berfirman dalam hadis qudsi : “Telah kuciptakan cahaya Muhammad dari cahaya Ku sendiri.”  Arti cahaya Allah di sini adalah zat Ilahi-Nya yang manifes dalam sifat kasih sayang-Nya. Pengertian ini dnyatakan dalam sebuah hadis qudsi : “Kasih sayang Ku mendahului murka-Ku.” Rasulullah saw. adalah cahaya hakikat, sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah : “Tidaklah Aku mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat atas seluruh alam.” (al-Anbiya’ (21) : 107). Dan “Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan banyak isi al-Kitab yang kamu sembunyikan dan banyak (pula yang) dilahirkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah .....” (al-Ma’idah (5) : 15).

Keutamaan Rasulullah saw. semakin jelas ketika Allah berfirman kepadanya : “Sekiranya bukan karena engkau, takkan Kuciptakan makhluk.”   .


10.

TABIR  CAHAYA  DAN  KEGELAPAN


Allah berfirman : “siapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta.” (al-Isra’ (17) : 72). Buta yang dimaksudkan bukanlah buta mata, melainkan buta hati sehingga seseorang tidak bisa melihat cahaya akhirat. Allah Swt. berfirman : “...... sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.” (al-Hajj (22) : 46). Satu-satunya penyebab kebutaan hati adalah kelalaian, lupa akan kewajiban, tujuan, dan janjinya kepada Allah ketika ia hidup di dunia. Penyebab kelalaian adalah kebodohan terhadap hukum dan perintah Tuhan. Kebodohan itu disebabkan oleh kegelapan yang menghalanginya dari dunia luar dan membelenggu batinnya. Di antara sifat yang menggelapkan hati adalah keangkuhan, kesombongan, iri, khianat, dendam, dusta, suka menggunjing, mengumpat, dan berbagai sifat buruk lainnya. Sifat-sifat inilah yang akan menjungkirkan manusia dari makhluk yang paling mulia menjadi makhluk yang paling hina.

Sifat-sifat buruk ini dapat dihilangkan dengan menyucikan dan menerangi hati. Penyucian dilakukan dengan mencari dan mengamalkan ilmu, disertai tekad dan usaha yang kuat. Selain itu, ia harus memerangi nafsu di dalam maupun di luar diri dengan menjauhi realitas yang serbaneka untuk menyatu dengan tauhid. Jika perjuangan ini dilakukan tanpa henti, niscaya hati menjadi hidup diterangi cahaya tauhid. Dan jika hati telah diterangi cahaya tauhid, ia akan melihat hakikat sifat-sifat Allah di sekitar dan di dalam dirinya.

Barulah setelah itu kau akan mengingat tanah air sejati tempat asalmu. Kau akan diliputi kerinduan untuk kembali ke sana, dan ketika saatnya tiba, dengan pertolongan Allah Swt. ruh suci dalam dirimu akan menyatu dengan-Nya.

Ketika kegelapan sirna, cahaya datang menggantikannya sehingga orang yang memiliki mata hati akan mampu melihat hakikat. Ia memahami segala yang dilihatnya dengan cahaya nama-nama dan sifat Ilahi. Ia akan diliputi cahaya, dan akhirnya menjadi cahaya. Kendati demikian, cahaya masih menjadi tabir yang menutupi cahaya zat Ilahi hingga cahaya itu seirna dan yang tersisa hanya cahaya zat Ilahi.

Hati memiliki dua mata, yang kcil dan yang besar. Dengan mata hati yang kecil manusia dapat melihat manifestasi sifat-sifat dan nama-nama Allah. Ia akan melihatnya sepanjang perkembangan ruhani manusia. Mata yang lebih besar hanya dapat melihat melalui cahaya tauhid dna keesaan. Mata itu akan melihat jika seseorang telah mencapai wilayah kedekatan kepada Allah. Ia akan melihat di alam tertinggi manifestasi zat Allah, keesaan yang mutlak.

  Semua tingkatan ruhani yang tinggi ini dapat dicapai dalam kehidupan di dunia ini jika kau telah menyucikan dirimu dari sifat-sifat duniawi, termasuk sifat mementingkan diri sendiri dan hawa nafsu. Keberhasilanmu menaiki jenjang-jenjang ruhani itu bergantung pada sebesar apa usahamu untuk menjauhkan diri dari sifat duniawi dan dari nafsumu.

Pencapaian tujuan yang kau dambakan itu tidaklah seperti datangnya sesuatu atau seseorang di suatu tempat. Pencapaian itu pun tidak seperti peralihan dari tidak tahu menjadi tahu; tidak seperti akal yang berhasil memahami suatu obyek pemikiran, tidak pula seperti khayalan yang menyatu dengan harapan. Tujuan itu tercaai ketika kau hampa dari segala sesuatu kecuali zat Allah. Pencapain ini merupakan proses yang terus-terusan menjadi. Tak ada jarak, tak ada kedekatan maupun kejauhan, tak ada pencapaian, tak ada ukuran, tak ada arah, dan tak ada dimensi.

Dia Mahabesar, segala puji bagi-Nya. Dia Maha Penyayang. Dia terlihat pada apa yang disembunyikan-Nya darimu. Dia memanifestasikan diri-Nya ketika Dia letakkan tabir antara diri-Nya dan dirimu. Pengenalan kepada-Nya tersembunyi dalam kerahasiaan-Nya.

Siapa saja di antara kalian yagn dapat mencapai cahaya yang dilukiskan dalam buku ini di kehidupan dunia, pertimbangkanlah catatan amalmu. Dengan cahaya itu kau dapat melihat segala sesuat yagn telah kau kerjakan. Karena itu, perhitungkan dan pertimbangkanlah. Kelak, di hari kiamat, kau harus membaca catatan amalmu di hadapan Tuhan. Itu merupakan titik akhir. Setelah itu, tak ada ada lagi peluang untuk menimbang amalmu. Jika kau menimbangnya di sini, kau masih punya waktu, kau termasuk ke dalam golongan orang yang selamat. Jika tidak, penderitaan dan bencana akan menjadi nasibmu di dunia ini dan di akhirat kelak. Kehidupan ini akan berakhir. Di depan kita telah menunggu azab kubur, kiamat, dan timbangan amal. Kita juga akan menghadapi jembatan ujian, yang lebih tipis dariapda rambut dan lebih tajan daripada pedang. Di ujung jembatan itu ada surga, di bawahnya ada neraka beserta segala bentuk penderitaannya yagn abadi. Itulah realitas yang harus dihadapi manusia ketika kehidupan yang fana ini berakhir.

11.

KEBAHAGIAAN  DAN  PENDERITAAN


Ketahuilah, manusia terbagi ke dalam dua golonga : pertama, mereka yang tenteram, senang, dan bahagia, yang ebramal shaleh karena taat kepada Allah; kedua, mereka yang ketakutan, ragu dan menderita karena bermaksiat kepada Allah. Manusia memiliki potensi untuk taat atau bermaksiat. Jika keikhlasan, ketulusan, dan kebaikan mendominasi seseorang, niscaya kenagkuhannya berubah menjadi kelembutan, dan sisi buruk  ditaklukkan oleh sisi baiknya. Sebaliknya, jika hawa nafsu mendominasi maka kemaksiatan akan mengalahkan kesucian dan ketaatan sehingga ia gemar bermasiat. Jika kedua sifat yang saling bertentangan ini sama kuat, ia boleh berharap bahwa kebaikan akan memang, seperti yang dijanjikan oleh Allah : “Barang siapa membawa amal yang baik, baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.... (al-An’am (8) : 160). Dan jika ia menghendaki, Dia akan melipatgandakan karunia-Nya.

Namun, jika antara kebaikan dan dosa seimbang, seseorang harus melewati ujian yang berat di hari kiamat. Berbeda halnya dengan orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya, sebab ia tidak akan dihadang ujian;  tak ada perhitungan  atas dirinya. Ia akan masuk surga tanpa melalui kengerian hari kiamat :

“Dan adapun orang yang berat timbangan (kebikan)nya, maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan, (al-Qari’ah (101) : 6 – 7).

Orang yang timbangan dosanya lebih berat daripada amal baiknya, niscaya akan menghadapi azab yang setimpal. Lalu ia akan dilemparkan ke dalam kobaran api neraka dan, jika ia memiliki iman, ia akan masuk surga.

Pertentangan antara ketaatan dan kemaksiatan adalah pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Keduanya ada dalam diri manusia meskipun kadaan keduanya berubah-ubah. Kebaikan dapat berubah menjadi kejahatan dan kejahatan dapat menjadi kebaikan. Rasulullah saw. bersabda : “Orang yang kebaikannya mengalahkan kejahatannya, akan mendapatkan keselamatan, ketenteraman, dan kebahagiaan, sedangkan orang yang kejahatannya lebih banyak daripada kebaikannya, ia akan berbuat maksiat dan menjadi orang yang jahat; orang yang mengakui kesalahannya, bertobat, dan mengubah jalan hidupnya, niscaya kemaksiatannya aakn diubah menjadi ketaatan dan ibadah.”

Ketahuilah, Allah telah menetapkan bahwa kebaikan dan kejahatan, kebahagiaan mukmin yang taat, dan penderitaan para pelaku maksiat merupakan keadaan bawaan manusia. Rasulullah saw. bersabda : “Orang yang beruntung menjadi orang baik telah ditetapkan menjadi orang yang baik ketika ia masih di dalam rahim ibunya, dan orang yang jahat telah ditakdirkan menjadi jahat sejak ia berada dalam rahim ibunya.” Itulah keadaannya, dan tak seorang pun yang berhak membahas persoalan ini. Ketetapan Allah bukanlah obyek pemikiran yang harus dibahas. Orang yang tergoda untuk membahasnya akan terjerumus ke dalam kemurtadan dan kekafiran.

 Selain itu, tak seorang pun boleh mempergunakan takdir sebagai dalih untuk meninggalkan usaha, kerja keras, dan amal baik. Kau tak boleh berkata : “Jika aku memang ditakdirkan menjadi orang baik, tak perlu aku bersusah payahberbuat kebaikan. Toh aku telah dirahmati.” Atau : “Jika aku ditakdirkan menjadi orang jahat, apagunanya berbuat baik?  Pandangan seperti itu jelas-jelas sesat. Tak patut kau berkata “Jika keadaanku telah ditetapkan di masa lalu, apa untung ruginya aku berharap pada perbuatanku ini?” perbedaan sikap mengenai takdir ini tergambar pada perbedaan antara Adam a.s., manusia dan nabi pertama, dan Iblis. Iblis menisbatkan kemaksiatannya kepada takdir. Ia menjadi kafir sehingga terusir dari rahmat dan hadirat Allah. Sebaliknya, Adam a.s. mengakui kesalahan ddirinya, dan sebagai bentuk tanggung jawabnya, ia memohon ampunan, menerima rahmat Allah, dan akhirnya mendapat keselamatan.

Setiap muslim dan mukmin haram mempertanyakan atau menjadikan takdir sebagai dalih. Tindakan itu hanya akan melahirkan keragu-raguan, atau lebih jauh lagi, kekafiran. Setiap mukmin wajib percaya kebijaksanaan Allah. Segala kejadian yang disaksikan manusia dalam dirinya dan di dunia ini tentu ada sebabnya. Namun, karena didasarkan atas kebijaksanaan Ilahi, sebab itu tak mungkin dipahami logika manusia. Jika kau menghadapi kekafiran, kemunafika, kemusyrikan dan ragam kejahatan lainnya di dunia ini, jangan sampai semua itu mengguncangkan imanmu. Ketahuilah Allah Swt. dengan kebijaksanaan-Nya yang mutlak telah menentukan segala sesuatunya. Dia-lah yang menciptakan apa yang tampak sebagai keburukan untuk mengungkapkan kekuasaan-Nya yang takt erbatas. Mungkin sebagian orang melihat manifestasi tersebut kejam dan buruk. Namun, ada rahasisa besar di balik semua ini yang hanya dapat diketahui oleh Rasulullah saw.

“Alkisah, seorang alim berdoa kepada Tuhannya, “Wahai Yang Maha Esa, semuanya telah Kau takdirkan. Nasibku berada dalam genggama-Mu. Kehendakku ada di tangan-Mu, ilmu yang Kau berikan kepadaku adalah ciptaan-Mu.”

Tiba-tiba, muncul satu jawaban tanpa suara dan tanpa kata, dari dalam dirinya sendiri : “Hai hamba-Ku, semua yang kau lakukan adalah milik Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya, bukan milik hamba.”

Alim itu berkata lagi : “Tuhanku, aku telah menganiaya diriku sendiri. Aku telah dibuat salah dan berdosa.”

Setelah pengakuan itu, ia mendengar lagi suara dari dalam dirinya : “Aku melimpahkan rahmat-Ku atas dirimu. Semua kesalahan dirimu tlah Kuhapuskan. Kau telah Ku ampuni.”

Setiap mukmin harus menyadari dan bersyukur bahwa semua kebaikan mereka bukanlah dari mereka, melainkan hanya melalui mereka. Keberhasilan berasal dari Sang Pencipta. Jika bersalah, ketahuilah bahwa kesalahand an dosa berasal dari diri mereka, agar mreeka bertobat. Kejahatan bersumber dari hasrat sesat nafsu mereka. Jika kau memahami ini dan mengikutinya, kau termasuk golongan orang yang disebut oleh Allah sebagai :

Orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendir, ingat kepada Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui. Sesungguhnya balasan bagi mereka adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya.... (al-Imran (3) : 135 – 136).

Setiap mumin mesti meyakini bahwa penyebab semua kesalahannya adalah dirinya sendiri. Keyakinan ini akan menyelamatkan dirinya. Itu jauh lebih baik daripada menisbatkan kesalahannya kepada Yang Mahasuci lagi Mahakuasa, Yang Maha Esa Sang Pencipta semesta.

Rasulullah saw. bersabda : “Apakah seorang akan menjadi baik atau jahat sudah diketahui ketika ia berada dalamr ahim ibunya.” Makna “rahim ibu” dalam hadis itu adalah empat unsur sumber semua kekuatan daya material. Dua diantaranya adalah tanah dan air, yang berfungsi menumbuhkan iman dan ilmu, menghidupkan, dan mewujud dalam hati sebagai sikap rendah hati, karena tanah bersifat rendah. Lawan keduanya adalah api dan eter, yang bersifat membakar, merusak, dan membinasakan. Allah telah menjadikan empat unsur yang berlawanan ini dalam sebuah wujud. Bagaimana air dan api dapat berdampingan? Bagaimana cahaya dan kegelapan sama-sama berada dalam awan?

“Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan dan mendung.

Dan guruh itu bertasbih memuji Allah. (Begitu pun) Para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. (al-Ra’d (13) : 12 – 13).

Suatu hari, seseorang bertanya kepada Syekh Yahya ibn Muaz al-Razi, “Bagaimana kau mengenal Allah?”

“Dengan menyatukan hal-hal yang berlawanan.”

 SEGALA HAL, yang berlawanan berkaitan dengan, bahkan menjadi syarat untuk memahami, sifat-sifat Allah. Manusia merupakan cermin yagn memantulkan kebenaran Ilahi. Dalam wujudnya, manusia meliputi seluruh semesta. Karena itulah ia disebut penyatu yang majemuk – makrokosmos. Allah telah menciptakannya dengan tangan-Nya sendiri, tangan kasih sayang-Nya, dan tangan kekuatan serta amarah-Nya. Karena itu, manusia merupakan cermin yang menampilkan baik sisi yang kasar dan keras maupun sisi yang halus dan indah.

Semua nama Ilahi diejawantahkan dalam diri manusia, sedangkan semua makhluk lainnya hanya bersisi tunggal. Allah menciptakan iblis dan keturunannya dari sifat amarah-Nya. Dia menciptakan malaikat dari sifat rahmat-Nya. Seifat kewalian dan ketekunan beribadah ada pada para malaikat, sedangkan iblis dan para pengikutnya, yang diciptakan Allah dari sifat amarah-Nya, memiliki sifat zalim. Karena itulah iblis bersikap sombong dan enggan ketika diperintahkan Allah untuk bersujud kepada Adam.

Karena manusia memiliki sifat yang mulia sekaligus tercela, dan karena Allah telah memilih para rasul dan wali-Nya dari kalangan manusia, maka para utusan-Nya pun tidak terlepas dari kesalahan. Sebagai penerima risalah, para nabi terpelihara dari dosa-dosa besar. Namun, mereka tidak luput dari dosa-dosa kecil. Berbeda dengan para nabi, para wali tidak suci dari dosa. Namun, jika mereka telah mencapai kesempurnaan dalam pendekatan diri kepada Allah, maka mereka akan terpelihara dari dosa.

Syaqiq al-Balkhi, semoga Allah menyucikan ruhnya, berkata : “Ada lima tanda kesalehan : sifat yang baik dan hati yagn lembut, sering menangis karena taubat, kesederhanaan dan mengabaikan dunia, tidak serakah, dan memiliki kesadaran diri. Tanda seorang pendosa pun ada lima : berhati keras, memiliki mata yagn tidak pernah menangis, cinta dunia dan segala urusan duniawi, serakah, dan tidak memiliki kesadaran atau rasa malu.”

Rasulullah saw. menisbatkan empat sifat kepada orang yagn saleh, yaitu : “dapat dipercaya dan menjaga serta menunaikan amanat yagn disampaiakan kepadanya; selalu menepati janji; jujur dan tak pernah berdusta, tidak kasar; dan tidak  melukai hati orang lain.” Rasulullah juga menyebutkan empat ciri pendosa, yaitu : “khianat, tak dapat dipercaya, dan tidak menunaikan amanat. Ia tidak menepati janji; ia suka berdusta; ketika berbicara ia suka menyerang dan mengutuk sehingga ia sering melukai hati orang lain.” Di samping itu, orang yang berdosa enggan memaafkan kesalahan orang lain. Inilah tanda orang yang tidak beriman, karena memaafkan merupakan ciri utama seorang mukmin. Allah Swt. memerintahkan Rasulullah ssaw. “Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang yagn bodoh.” (al-A’raf (7) : 199).

   Perintah ‘jadilah pemaaf” tidak hanya ebrlaku atas Rasulullah saw. Perintah itu berlaku atas setiap orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw. Jika seorang raja menitahkan kepada Gubernur untuk melakukan sesuatu, maka perintah itu pun berlaku atas masyarakat yang ada di wilayah pimpnan sang gubernur, meskipun raja itu mengatakan hanya kepada dirinya.

Ungkapan “Jadilah Pemaaf” sama saja dengan ucapan “Biasakanlah memaafkan dan jadikan pemaaf sebagai sifatmu, bagian dirimu sendiri.” Rasulullah juga bersabda. “Siapa saja yang bersifat pemaaf, ia akan menerima salah satu nama Allah, yakni Yang Maha Pengampun.” Allah berjanji ..... “Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah .... (al-Syura (42) : 40).

Ketahuilah, kebaikan dapat berubah menjadi kemaksiatan, dan kemaksiatan menjadi kebaikan tidak dengan sendirinya, tetapi karena usaha dan perbuatan manusia. Rasulullah saw. bersabda. : “Semua anak dilahirkan dengan muslim. Orangutanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi orang baik atau jahat. Karena itu, kita tak dapat menghakimi seseorang atau sesuatu sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat. Pandangan yang benar adalah bahwa jika kebaikan seseorang lebih banyak daripada keburukannya, berarti ia orang baik, dan jika keburukannya lebih banyak daripada akebaikannya, berarti ia orang jahat.

Dan tidak berarti bahwa seseorang akan masuk surga tanpa melakukan amal baik sedikit pun, atau bahwa ia diamsukkan ke neraka tanpa melakukan kejahatan sedikit juga. Pandangan seperti itu bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Allah telah menjanjikan surga kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh, dan Dia mengancam pelaku maksiat, tidak beriman,dan menyekutukan Allah dengan azab neraka. Allah berfirman.

“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (al-Jatsiyah (45) : 15).

Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan atas perbuatannya. Tidak ada yagn dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya (al-Mu’min (40) : 17).

Dan bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya. (al-Najm (53) : 39).

Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah (al-Baqarah (2) : 110).



12.

KAUM  DARWIS


Ada segolongan orang yagn disebut sufi. Para ulama berbeda pendapat mengenai pengertian istilah sufi. Sebagian berpendapat bahwa mereka disebut sufi karena mereka biasanya mengenakan pakaian kasar terbuat dari wol, yang dalam bahasa Arab disebut Shuf – bulu domba. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka disebut sufi karena emreka terbebas dari kecemasan duniawi serta hidup dengan tenang dan tenteram – shafa. Ada pula orang yang berpandangan bahwa mereka disebut sufi karena hati mereka telah suci (shafi) dan segala sesuatu selain Allah. Dan kelompok terakhir menyatakan bahwa mereka disebut sufi karena dekat kepada Allah dan akan berada di abrisan pertama (shaf) di hadapan Allah pada hari kiamat.

Berkaitan dengan perjalanan manusia dalam kehidupannya di dunia dan akhirat, dikenal ada empat alam. Pertama, alam materi, yang meliputi tanah, air, api, dan eter. Kedua, alam ruh, yagn terdiri atas para malaikat, jin, mimpi, dan kematian, termasuk juga di dalamnya balasan dari Allah – berupa delapan surga dan tujuh neraka. Ketiga, Alam Tinggi, yagn meliputi nama-nama indah dari sifat-sifat Allah, dan Lauh Mahfuzh yagn menghimpun semua ketetapan Allah. Keempat, alam zat Allah. Alam yagn keempat ini tak dapat dilukiskan karena di sana tak ada kata, nama, sifat, atau pun keserupaan. Hanya Allah yagn mengetahuinya.

Juga ada empat jenis ilmu. Pertama, ilmu tenetang ajaran-ajaran Allah, yang berkaitan dengan aspek-aspek lahir kehidupan duniawi. Kedua, ilmu sawawuf, ilmu batin yang menyangkut sebab akibat. Ketiga, ilmu ruh untuk meraih ma’rifat, keempat, ilmu hakikat.

Jiwa juga terbagi ke dalam empat bagian, yaitu jiwa material, jiwa tercerahkan, jiwa sultan, dan jiwa Ilahi.

Penampakkan, atau manifestasi Sang Khaliq, juga terbagi ke dalam empat bagian. Pertama, manifestasi dalam bentuk, rupa dan warna, yang terlihat dalam segala bentuk ciptaan Allah. Kedua, manifestasi yagn terdapat dalam perbuatan dan berbagai peristiwa yagn terjadi di dunia. Ketiga, manifestasi dalam sifat-sifat, ciri, dan karakter segala sesuatu. Keempat, manifestasi zat Allah.

Intelek atau kecerdasan juga terbagi ke dalam empat bagian, yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan urusan duniawi; kecerdasan yagn menelaah dan memikir akhirat; kecerdasan jiwa, ilmu ruhani; dan yagn terakhir Akal kausal yang utuh.

Kita telah mengkaji empat macam pokok bahasan, yang meliputi empat bentuk manifestasi dan macam intelek. Sebagian orang berada pada tingkatan pertama ilmu, ruh, manifestasi, dan intelek. Mereka merupakan penghuni surga pertama yang disebut “surga yang aman”, atau surga duniawi. Orang yang berada pada tingkatan kedua ilmu, ruh, manifestasi dan intelek berada di surga yang lebih tinggi, yaitu surga rahmat Allah atas makhluk-Nya, yaitu surga alam malakut. Orang yagn telah mencapai tingkatan ketiga ilmu, ruh, manifestasi, dan intelek berada di surga ketiga, surga samawi, surga nama-nama dan sifat-sifat Ilahi di alam ketuggalan.

Orang hanya mencari dan mengharapkan pahala Allah, bahkan meski mereka sudah berada di surga, tidak akan melihat hakikat sejati dalam diri mereka sendiri dan dalam segala sesuatu yang berada di sekitar mereka.’

Orang berilmu yang telah mencapai tingkatan hakikat sejati tak lagi membutuhkan apa-apa selain Allah. Kelompok ini melampaui tiga kelompok pertama dan mereka akan meraih tujuan mereka, yaitu alam hakiakt sejati yagn paling dekat kepada Allah. Mereka hidup hanya demi zat Allah.

Kelompok terakhir ini berpegang kepada perintah Allah : “Berlindunglah kepada Allah.” Dan mengikuti sabda Rasulullah saw. : “Dunia dan akhirat diharamkan bagi orang yang mencari Allah.” Maksudnya, orang yang mendamba dan mencari hanya zat Allah sama sekali tidak mengharapkan balasan duniawi maupun ukhrawi. Mereka berpikir “Dunia – juga akhirat – adalah makhluk dan kami juga makhluk. Kami dan dunia sama-sama membutuhkan Sang Pencipta, Sang Pemilik. Bagaimana mungkin kami membutuhkan kepada sesuatu yang juga memiliki kebutuhan? Adakah jalan lain bagi makhluk kecuali mendambakan Sang Pencipta?

Allah berfirman dalam sebua hadis qudsi : “Cinta-Ku dan keberadaan-Ku sesuai dengan cinta mereka kepada-Ku.”

Rasulullah saw. bersabda : “Keadaanku adalah kefakiran dan kemiskinanku adalah kebanggaanku.” Kebutuhan dan cinta kepada Allah menajdi dasar pencarian para sufi sejati. Kemiskinan, yagn menjadi kebanggan Rasulullah saw. bukanlah kemiskinan harta duniawi, melainkan keengganan terhadap segala seuatu selain Allah. Kemiskinan yang dimaksudkan adalah meninggalkan semua harta – bukan hanya harta duniawi, melainkan juga harta yang telah dijanjikan di akhirat. Jadi, hanya Tuhan, Sang Pencipta, yang mereka butuhkan.

Keadaan ruhani inilah  yang mengantarkan manusia pada maqam fana, ketiadaan dalam zat Allah. Orang yang telah mencapai maqam ini kosong dari segala kebutuhan dan hatinya kosong dari segala sesuatu selain Allah. Hati seperti inilah yang dimaksud dalam firman Allah : “Bumi dan langit tak dapat menampung Ku. Hanya hati hamba-Ku yang beriman yang dapat menampung-Ku.”

Hamba-Nya yang beriman adalah orang yagn menjauhkan hatinya dari segala sesuatu selain Yang Esa. Ketika hati telah disucikan, Allah akan melapangkannya sehingga dapat menampung-Nya. Hadhrah Bayazid al-Bisthami, semoga Allah mensucikan ruhnya, menjelaskan keadaan hati seperti itu dengan mengatakan : “Jika segala yagn berada di dalam dan di sekeliling Arasy Allah – yang merupakan ciptaan Allah yang terbesar – diletakkan di salah satu sudut hati orang sempurna, niscaya ia tidak akan merasakan beratnya semua itu.”

Itulah hati para kekasih Allah. Cintailah dan dekatilah mereka, karena para pecinta sejati akan menyertai yang dicintainya di hari kiamat. Jika kau mencintai mereka, kau akan selalu mendekati dan bersahabat dengan mereka, mendengarkan nasihat, pandangan, dan segala ucapan mereka, serta merasakan kerinduan mereka kepada Allah Swt.

Allah berfirman dalam hadis qudsi :   “Aku merasakan kerinduan hamba-Ku yang beriman, saleh, dan ikhlas kepada-Ku, dan Aku pun merindukan mereka.”

Penampilan para kekasih Allah ini berbeda dengan manusia lainnya, begitu pun perbuatan mereka. Pada mulanya, ketika masih menjadi murid dan baru menapaki jalan tarekat, amal baik dan amal buruk mereka masih seimbang. Semakin mereka maju menapaki jalan ruhani, kebaikan mereka meningkat pesat. Kebaikan yang muncul melalui diri mereka bukan hanya karena merka mengikuti ajaran dan agama Allah, melainkan karena dalam perbuatan mereka terdapat keindahan dan kemilau cahaya makna. Mereka seakan-akan mengenakan pakaian cahaya berwarna, yang kemilaunya memancar sesuai dengan tingkatan ruhani mereka.

Setelah berhasil menaklukkan nafsu mereka – berkat kalimat la ilaha illallah -  dan mencapai tingkatan yang dapat membedakan antara kebenaran dan kesesatan; ketika mereka mencela keburukan dalam diri mereka dan mendambakan kebaikan, maka mereka akan memancarkan cahaya biru langit.

Ketika mereka telah mencampakkan semua hasrat dan keinginan melalui berkah a-Haqq, Yang Mahabenar, dan ketika mereka telah menundukkan kehendak mereka kepada kehendak Allah dan meridai segala yang berasal dari-Nya, cahay mereka berubah menjadi putih jernih.

Itulah paparan mengenai kembara ruhani kaum darwis dari awal perjalanan mereka hingga tingkatan menengah. Mereka yang telah mencapai tingkatan ini tidak lagi memiliki bentuk, rupa, maupun warna. Mereka seolah-olah cahaya matahari – nirwarna. Sementara darwis yang telah mencapai tingkatan tinggi tak lagi menjadi wujud apa pun untuk memantulkan cahaya atau warna. Jika diibaratkan benda, warnanya tentulah hitam, yang menyerap semua cahaya.

Wujud nirwarna dan nirrupa ini tertabiri bagi orang-orang yang memandangnya. Wujudnya menghijabi cahaya ilmunya. Layaknya malam yang menabiri cahaya matahari. Allah berfirman bahwa Dia-lah yang :

“menjadikan malam sebagai perhatian dan siang untuk mencari penghidupan. (al-Naba’ (78) : 10 – 11).

Ayat yang menjelaskan tanda-tanda orang yang telah mencapai hakikat pikiran dan ilmu. Orang yang di dunia ini telah dekat kepada kebenaran merasa seakan-akan terpenjara di ruang yang gelap. Hidup meraka dijalani dalam penderitaan dan kesengsaraan.

Mereka merasakan derita dan himpitan yang berat di dunia yang sangat gelap. Nabi saw. bersabda : “Dunia ini adalah penajra bagi kaum beriman..” berdasarkan hadis ini, bisa kita urutkan bahwa kelompok pertama yang merasakan beratnya penderitaan adalah para Nabi, kemudian orang yang paling dekat kepada Allah, dan kelompk berikutnya adalah orang-orang yang sedang berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Tingkat  penderitaan mereka sesuai dengan kesungguhan mereka menapaki jalan menuju Allah. Semakin jauh langkah mereka, semakin berat penderitaannya. Karena itu,  layaklah bagi seorang darwis untuk mengenakan pakaian hitam dan surban hitam di kepalanya, karena ia tengah bersiap-siap merasakan derita di jalan ruhani.

Pakaian hitam layak dikenakan oleh orang-orang yang meratapi ilangnya kemanusiaan dan kehidupan mereka. Banyak orang yang meluputkan karunia besar ini. Mereka adalah manusia kebanyakan yang menyadari dan mampu melihat kebenaran, namun mengabaikan kehidupan yang kekal abadi. Karena mengabaikan cinta Ilahi yang menyeru dalam diri mereka, dan memisahkan diri dari ruh suci, mereka kehilangan kesempatan untuk kembali ke sumber mereka. Mungkin mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya mereka akan mersakan penderitan yang sangat besar. Seandainya menyadari bahwa mereka telah kehilangan semua berkah akhirat dan kehidupan yang kekal, mereka tentu akan mengenakan pakaian duka cita. Seorang janda yang ditinggal mati suaminya berduka selama empat bulan sepuluh hari. Jika masa duka cita karena kehilangan sesuatu dari dunia ini selamaitu, maka duka cita orang yang telah kehilangan kehidupan yang kekal tentu lebih lama dan lebih kekal.

Rasulullah saw. bersabda : “Orang yang baik selalu dihadang bahaya besar.” Ungkapan ini sangat tepat dialamatkan kepada orang yang harus berjalan dengan sangat hati-hati. Namun, itulah keadaan kaum darwis yang telah meninggalkan keberadaan mereka dan mencapai maqam fana. Dunia telah ditinggalkannya dan ia sepenuhnya hanya membutuhkan Allah. Karena itulah ia memancarkan cahaya yagn sangat indah melampaui seluruh ummat manusia.

Rasulullah saw. bersabda : “Kemiskinan adalah wajah hitam di dunia dan di akhirat.” Maksudnya, orang yang sengaja memilih kemiskinan duniawi, seakan-akan telah menghilang bagi dunia ini, karena ia tidak memantulkan warna duniawi apa pun dan hanya menyerap cahaya hakikat Ilahi. Warna gelap wajahnya laksana titik indah yang semakin lama semakin indah.

Orang yang mulai melihat hakikat tak lagi butuh melihat yang lain. Mereka tidak lagi merindukan segala sesuatu yang lain. Baginya, Allah menjadi satu-satunya kekasih, satu-satunya yagn ada. Itulah keadaan mereka di dunia maupun di akhirat. Itulah satu-satunya tujuan mereka. Ketika itulah mereka menjadi manusia, dan Allah telah menciptakan manusia agar dia mengenal-Nya, agar dia mencapai zat-Nya.

Setiap orang harus berupaya mengetahui tujuan penciptaannya. Itulah kewajiban di dunia dan di akhirat. Dengan begitu, ia tidak akan menghabiskan umurnya di dunia ini secara sisa-sia. Ia tidak akan menyesal selama-lamanya di akhirat, ketika orang lain tenggelam dalam kerinduan yang terlambat mereka sadari, setelah mereka sangat jauh dari Yang Mahabenar.


13.

MENYUCIKAN   JIWA


Penyucian adalah pembersihan diri. Ada dua macam kesucian, yaitu kesucian lahir yagn diperoleh dengan jalan penyucian yang diperintahkan agama, seperti wudlu dan mandi,s erta kesucian batin yagn diperoleh memalui kesadaran dan pertobatan atas segala kotoran dan dosa. Kesucian lahir akant erwujud bila kita sungguh-sungguh bertobat. Penyucian batin membutuhkan bimbingan rhani dari seorang guru.

Menurut hukum dan ajaran agama, seseorang menjadi kotor dan batal wudlunya jika materi tertentu seperti kotoran, air kencing, muntah, kentut, darah, sperma, dan sebagainya, keluar dari tubuhnya. Ia harus berwudlu kembali. Jika yang keluar adalah sperma dand arah haid, ia wajib mandi. Apda kasus yang lain, bagian tubuh tertentu –s eperti tangan, siku, wajah, dan kaki – harus suci. Rasulullah saw. bersabda : “Setiap kali seseorang membarukan wudlunya, Allah memperbarui imannya sehingga cahaya imannya kembali cerah dan bertambah terang.” Dalam hadis yang lain ia bersabda : “Wudlu adalah cahaya di atas cahaya.”

Sebagaimana kesucian lahir, kesucian batin pun dapat hilang – mungkin lebih sering – disebabkan oleh akhlak yang buruk, perilaku yang hina, sertan tindakan dan sikap yang membahayakan, seperti angkuh, sombong, berdusta, menggunjing, memfitnah, iri hati, dan amarah. Tindakan yang dilakukan indera, baik yang disengaja maupun tidak, dapat merusak jiwa : mulut yang makan makanan haram. Bibir yang berdusta dan mengumpat, telinga yangmendengarkan gunjingan atau fitnah, tangan yang melaukai, atau kaki yang mengikuti kezaliman. Zina, yang termasuk perbuatan dosa , tidak hanya dilakukan di atas tempat tidur, karena, seperti sabda Rasulullah saw. “Mata juga dapat berzina.”

Ketika kesucian batin dirusak dan wudlu ruhani batal, maka wudlunya harus diperbarui melalui pertobatan yang sungguh-sungguh; sepenuhnya menyesali kesalahan disertai tangisan (air mata untuk membersihkan kotoran jiwa). Dan tekad untuk tidak pernah mengulangi kesalahan tersebut. Ia juga harus memiliki niat yang kuat untuk meninggalkan semua kesalahan dan memohon ampunan kepada Allah, disertai doa semoga Dia mencegahnya dari melakukan dosa semacam itu lagi.

Shalat berarti bersimpuh di hadapan Tuhan. Berwudlu, yakni berada dalam keadaan suci, merupakan syarat shalat. Seorang alim mengetahui bahwa kesucian lahir tidaklah memadai, karena  Allah melihat jauh ke dalam lubuk hati seseorang. Karena itu, kita harus menyucikan hati dengan tobat. Hanya dengan cara itulah shalat dapat diterima. Allah berfirman :

“Inilah yang dijanjikan kepadamu – (yaitu) kepada setiap hamba yang kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-Nya) (Qaf (50) : 32).

 Kesucian tubuh setelah wudlu atau mandi besar dibatasi oleh waktu, karena tidur dapat membatalkan wudlu. Setiap saat selama hidup di dunia ini, kita harus menjaga kebersihan jasmani siang dan malam. Kesucian batin dan penyucian diri yang tak terindera tidak dibatasi oleh waktu. Bahkan, kesucian ruhani bersifat kekal tidak hanya di dunia yang fana ini, tetapi juga untuk kehidupan di akhirat.


14.

MAKNA   IBADAH


Lima kali dalam sehari, di waktu-waktu yang telah ditentukan, setiap muslim yang telah akil balig dan mampu, wajib mendirikan shalat, sesuai dengan perintah Allah : “Peliharalah shalat-shalat (mu) dan (peliharalah) sshalat yagn tengah-tengah (wustha). (al-Baqarah (2) : 238).  Ibadah lahir dalam shalat mencakup berdiri, membaca ayat Al-Qur’an, rukuk, sujud, berlutut, dan mengucapkan doa-doa tertentu dengan suara yang agak keras. Semua aktivivtas yang melibatkan anggota tubuh ini, termasuk semua bacaan yang dilafalkan, merupakan ibadah lahir. Semua itu tercakup dalam perintah Allah yang pertama : “Peliharalah shalat-shalat(mu)” yang disampaikan dalam bentuk jamak.

Perintah yang kedua : “dan (periharalah) shalat yang tengah-tengah (wustha)”,  mengacu kepada  shalat hati, karena hati berada di tengah-tengah – di pusat wujud. Tujuan ibadah ini adalah mendapatkan ketenteraman hati. Hati berada di tengah-tengah, antara kanan dan kiri, antara depan dan belakang, antara atas dan bawah, antara kebaikan dan maksiat. Hati adalah pusat, titik keseimbangan, bagian tengah. Rasulullah saw. bersabda : “Hati anak Adam berada di antara dua jari Yang Maha Penyayang. Dia membalikannya ke mana saja Dia kehendaki.”  Kedua jari Allah itu adalah sifat kekerasan azab-Nya dan kelembutan karunia-Nya.

Ibadah yang sejati adalah ibadah hati.  Jika hati seseorang lalai terhadap ibadah sejati ini, tentu ibadah lahirnya rusak. Jika ini terjadi, ia tidak akan meraih ketenteraman lahir yagn didambakannya dari shalat lahir. Karena itulah Rasulullah saw. bersabda : “Ibadah hanya mungkin dilakukan dengan hati yang khusyuk.”

Shalat adalah doa makhluk kepada Khalik, pertemuan hamba dengan Tuhan; pertemuan yang berlangsung dalam hati. Jika hati tertutup, lalai dan mati, ibadahnya menjadi kehilangan arti. Tak ada kebaikan shalat semacam itu. Sebab, hati merupakan inti lahir, tempat bergantung segala sesuatu  yang lainnya. Rasulullah saw. bersabda : “Ada segumpal daging dalam tubuh manusia. Jika ia baik, baik pula seluruh dirinya. Jika ia rusak, rusaklah seluruh dirinya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.”

Shalat yagn diwajibkan oleh agama harus dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan. Dalam sehari semalam, ada lima waktu. Shalat yagn paling utama dilakukan di masjid secara berjamaah, seraya menghadap kiblat, disertai hati yang ikhlas tanpa hasrat dipuji atau memamerkan diri.

Berbeda dengan ibadah lahir, ibadah batin tak mengenal waktu dan tanpa akhir. Ibadah batin dapat dilakukan sepanjang umur, di dunia dan di akhirat. Masjidnya adalah hati. Berjamaah dalam ibadah batin dilakukan dengan menghimpun semua kekuatan batin untuk bersama-sama mengingat dan melafalkan nama-nama Allah dalam bahasa alam batin. Imamnya adalah tekad yang kuat. Arah kiblatnya adalah Allah Yang Maha Esa – yang ada di mana-mana – beserta segala sifat dan keindahan-Nya yang kekal.

Hati yang sejati adalah hati yang dapat menunaikan shalat semacam itu. Hati seperti ini tak pernah tidur apalagi mati. Ia selalu dalam keadaan beribadah. Orang yang memiliki hati seperti ini, baik ia sedang tidur maupun terjaga, senantisa dalam keadaan beribadah. Seumur hidupnya ia menjalankan ibadah batin, yang tanpa suara, tanpa gerakan, termsuk rukuk, sujud atau duduk. Shalat batin seperti ini dipimpin dan diimami langsung oleh Rasulullah saw. Ia beribadah seraya mengatakan kepada Allah Swt : “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (al-Fatihah (1) : 4). Ayat ini  menggambarkan tingkatan manusia sempurna, yang telah emlampaui maqam fana, atau sirna dari segala yang bersifat material, menuju tingkatan keesaan.

Mengenai maqam ini, Rasulullah saw. bersabda : “Para Nabi dan orang yang dicintai Allah melanjutkan ibadah mereka di dalam kubur seperti yang mereka lakukan di rumah mereka saat masih hidup di dunia.” Dengan kata lain, hati yang terus hidup melanjutkan ibadah dan shalatnya kepada Allah Swt. bahkan setelah kematian raganya.

Shalat menjadi sempurna ketika ibadah lahir dan ibadah batin telah menyatu. Itulah ibadah yang sempurna, yang akan dibalas dengan balasan yang sangat agung. Dari sisi rhani, ibadah ini akan mengantarkan manusia ke alam kedekatan dengan Allah. Dari sisi lahir, ia mengantarkan manusia ke tingkat kemungkinan yang tertinggi. Di alam lahir ia tampail sebagai hamba yang taat kepada Allah. Di alam batin, ia menjadi orang berilmu yang telah mencapai ma’rifat kepada Allah. Jika ibadah lahir tidak menyatu dengan ibadah batin maka segala bentuk ibadahnya menjadi cacat. Balasan yang didapatnya hanyalah kenaikan derajat. Ibadah itu takkan mengatarkan manusia ke alam ketuhanan.


15.

KESUCIAN  MANUSIA SEMPURNA


Penyucian jiwa dilakukan untuk mencapai sifat-sifat Ilahi dan menggapai alam zat. Untuk mencapainya, dibutuhkan pendidikn yang akan membimbing manusia dalam proses pembersihan cermin hati dari citra hewani dan manusiawi dengan menyebutkan nama-nama Ilahi. Karenanya, zikir merupakan kunci pembuka mata hati. Hanya jika mata itu terbuka, seseorang dapat melihat sifat-sifat Allah Swt. Selanjutnya ia dapat melihat pantulan rahmat, karunia, keindahan, dan kebaikan Ilahi pada mata hati yang telah disucikan. Rasulullah saw. bersabda : “Mukmin adalah cermin bagi mukmin yang glain.” Ia juga bersabda : “Orang yang berilmu membuat citra-citra, sedangkan orang yang bijak membersihkan cermin hati tempat kebenaran dipantulkan.” Keetika mata hati telah disucikan dengan terus-menerus berzikir menyebut nama Allah, ia akan meraih ilmu mengenai sifat-sifat Ilahi. Penyaksian ini hanya mungkin terjadi di dalam cermin hati.

Penycian yagn bertujuan untuk mencapai zat Ilahi dilakukan dengant erus-menerus mengingat dan menyebutkan kalimat syahadat – persaksian. Dalam kalimat tersebut ada tiga nama Yang Esa, yakni tiga terakhir dari dua belas nama Ilahi, yaitu :

LA ILAHA ILLALLAH – Tidak ada tuhan selain Allah.

ALLAH – Nama yang layak bagi Tuhan.

HU – Allah yang bertrandsenden.

HAQQ – Yang Mahabenar.

HAYY – Yang Mahahidup.

QAYYUM – Yang Mahamandiri.

QAHHAR – yang Maha Menaklukkan.

FATTAH – Yang Maha Membuka.

WAHID – Yang Maha Esa.

SHAMAD – Yang Maha Memenuhi segala kebutuhan.

 Semua nama ini harus dilafalkan bukan hanya oleh lisan, melainkan juga oleh hati. Hanya setelah itulah mata hati akan melihat cahaya hakikat. Ketika cahaya suci zat Ilahi telah tampak, semua sifat jasmani menghilang dan segala sesuatu sirna. Inilah maqam fana – sirnanya segala sesuatu. Tampilan cahaya Ilahi menyirnakan semua cahaya lainnya.

“Segala sesuatu akan binasa kecuali Dia. (al-Qashash (28) : 88).

“Allah menghidupkan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia akehendaki), dan di sisi-Nyalah Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh). (al-Ra’d (13) : 39).

Ketika semuanya sirna, yagn ada secara kekal adalah ruh suci. Ia melihat dengan cahaya Allah. Ia melihat-Nya, Dia melihatnya. Ia meleihat melalui-Nya, ia melihat di dalam zat-Nya; ia melihat untuk-Nya. Tak ada citra, tak ada keserupaan dalam melihat-Nya, “Tak ada yang menyerupai-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (al-Sura (42) : 11).

Setelah fana, yang ada hanyalah cahaya yang murni mutlak. Tak ada apa pun yagn dapat diketahui. Itulah maqam fana. Tak ada lagi pikiran untuk menyampaikan berita apa pun. Rasulullah saw. menjelaskan keadaan ini dengan sabdanya : “Suatu ketika aku pernah berada sangat dekat dengan Allah sehingga tak seorang pun, baik malaikat, rasul atau nabi, yang menjadi penghalang antara kami.” Itulah maqam kesendirian, ketika seseorang telah mengucilkan dirinya dari segala sesuatu kecuali Allah. Itulah maqam kebersatuan, seperti yang Allah perintahkan dalam sebuah hadis qudsi : “Menyendirilah dari semua dan temukanlah kebersatuan.”

Kesendirian itu dimulai dengan sirnanya segala yang duniawi. Setelah itu, kau akan memperoleh sifat-sifat Ilahi. Tulah makna sabda Rasulullah saw. : “Hiasi dirimu dengan sifat Allah.”

“Sucikanlah dirimu, benamkanlah dirimu dalam sifat-sifat Allah.”

16.

ZAKAT  DAN SEDEKAH

         

Sebagaimana shalat, zakat pun terdiri ata dua macam, yaitu zakat lahir dan zakat batin atau zakat ruhani. Zakat lahir ditunaikan sesuai dengan ketentuan syariat, yaitu mengeluarkan sebagian harta yang diperoleh secara halal. Setelah menetapkan jumlah tertentu untuk kebutuhan keluarga, sebagian dari kelebihan harta itu didistribusikan kepada kaum fakir. Berbeda dengan zakat lahir, zakat batin diambil dari apa-apa yang diperoleh seseorang dari harta ukhrawi, untuk kemudian didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkannya, yaitu mereka yang miskin ruhani.

Zakat adalah bersedekah atau berderma kepada orang miskin, sesuai dengan perintah Allah :

“sesungguhnya sedekah (zakat) itu adalah bagi orang fakir dan miskin ... (al-Tawbah (9) : 60).

Segala sesuatu yang diberikan sebagai zakat akan melalui tangan Allah sebelum sampai kepada orang miskin. Karena itu, tujuan zakat tidak semata-mata untuk membantu kaum fakir, karena Allah Maha Memenuhi semua kebutuhan, termsuk kebutuhan kaum fakir. Tujuan sejati zakat adalah agar niat orang yang berzakat diterima oleh Allah.

Orang yang dekat kepada Allah akan memberikan pahala ruhani atas amal saleh mereka kepada orang-orang yang berdosa. Allah Swt. memperlihatkan kasih-sayang-Nya dan mengampuni orang yang berdosa sesuai dengan shalat, pujian, puasa, zakat, dan ibadah haji para hamba-Nya yang berniat  memasrahkan pahala mereka. Dengan kasih-sayang-Nya, Allah menutupi dan menyembunyikan dosa para pelaku maksiat sebagai imbalan bagi ibadah para hamba-Nya yang saleh.

Itullah bentuk kedermawan para mukmin sejati. Mereka tak pernah mementingkan diri sendiri; mereka tidak pernah mengharapkan pujian maupun ketenaran, apalagi sebutan sebagai orang yang baik; bahkan mereka tidak mengharapkan pahala di akhirat bagi kesalehan dan ketaatan mereka. Sebab. Para penempuh jalan ruhani itu telah kehilangan segalanya, bahkan keberadaan mereka sendiri. Mereka menjadi sangat dermawan karena mereka sama sekali tidak membutuhkan dan tidak memiliki apa-apa. Allah mencintai para dermawan yang telah menghabiskan seluruh harta duniawinya. Rasulullah saw. bersabda : “Orang yang telah menghabiskan semua miliknya dan tidak berharap memiliki apa-apa aka berada dalam perlindungan Allah di dunia ini dan di akhirat kelak.”

Tokoh sufi wanita pertama, Rabi’ah al-Adawiyah r.a. pernah berdoa dan memohon kepada Allah : “Ya Allah, berikan semua bagianku di dudnia ini kepada orang-orang kafir. Jika aku memiliki bagian tertentu di akhirat, berikanlah kepada orang beriman dari hamba-hamba-Mu. Yang kudambakan di dunia hanyalah kerinduan kepadsa-Mu, dan yang kudambakan di akhirat hanyalah berada bersama-Mu. Sebab, baik manusisa maupun yang diterima tangannya dalam sekejap akan menjadi kepunyaan Pemilik keduanya.”

“Barangsiapa membawa amal yang baik, baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya ... (al-An’am (8) : 160).

Zakat juga akan memberikan faedah lain bagi yang mengeluarkannya. Ia akan menyucikan harta dan sekaligus dirinya. Tujuan ruhani dari zakat telah diapai jika seseorang berhasil menyucikan dirinya dari sifat-sifat mementingkan diri sendiri.

Perpisahan dengan sbagian kecil dari sesuatu yang dianggap sebagai milik sendiri akan dibalas dengan pahala yang besar di akhirat. Allah Swt. berjanji :

Siapa saja yang meu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan ia akan memperoleh pahala yang banyak. (al-Hadid (57) : 11).

Sesungguhnya telah beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya. (al-Syams (91) : 9).

Zakat, atau sedekah, “pinjaman yang baik”, adalah amal saleh, yaitu ketika kau memberikan sebagian dari apa yang telah kau peroleh, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani. Berikanlah ia, karena Allah, kepada para hmaba Allah. Meskipun begitu banyak pahala yang dijanjikan, berikanlah tanpa pamrih. Bersedekahlah disertai kepedulian dan cinta kasih, bukan dengan sikap pamer atau mengharapkan pamrih, sikap yang membuat si penerima merasa wajib berterima kasih atau berutang budi. Allah berfirman :

Hai orang beriman, janganlah menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebti-nyebut dan menyakiti (perasaan si penerima) .... (al-Baqarah (2) : 264).

Janganlah meminta atau mengharapkan imbalan duniawi atas amal baikmu. Beramallah karena Allah.

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saaja yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Alalah mengetahuinya. (al-‘Imaran (3) : 92).


17.

PUASA  LAHIR  DAN  BATIN


Puasa yang diwajibkan agama adalah menjauhkan diri dari makan, minum, hubungan seks dari terbit fajar hingga tenggelam matahari. Itu puasa lahir. Puasa batin adalah menjaga semua indera dan pikiran dari segala yagn diharamkan. Dengan kata lain, puasa batin adalah meninggalkan ketidakselarasan, baik lahir maupun batin. Sedikit saja niat buruk hinggap di hatimu, puasamu rusak. Jika puasa lahir dibatasi oleh waktu, puasa batin dijaani selama-lamanya, selama hidup di dunia hingga kehidupan di akhirat. Itulah puasa sejati.

Rasulullah saw. bersabda : Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.” Ada orang yang berbuka dari puasanya ketika tenggelam matahari, dan ada pula orang yang masih dalam keadaan berpuasa meskipun mereka telah makan. Golongan kedua adalah mereka yagn senantiasa menjaga indera dan pikiran dari kejahatan serta menjaga tangan dan lidah dari menyakiti orang lain. Bagi mereka Allah berjanji dalam sebuah hadis qudsi : Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.” Mengenai kedua jenis puasa tersebut, Rasulullah saw. bersabda : Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan. Satu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan lainnya ketika ia melihat.”

Kalangan ahli ilmu lahir mengatakan bahwa kegembiraan pertama orang yang berpuasa adalah ketika mereka makan setelah seharian berpuasa, dan arti kegembiraan “ketika melihat” adalah ketika orang yang berpuasa melihat hilal (bulan sabit) yang menandai akhir puasa dan datangnya hari raya. Sementara orang yang memahami makna batin mengatakan bahwa makna kegembiraan saat berbuka adalah kegembiraan orang yang berpuasa ketika ia masuk surga dan merasakan kenikmatannya, dan makna kegembiraan melihat adalah ketika orang yang beriman melihat hakikat Allah dengan mata hatinya.

  Puasa paling baik adalah puasa hakikat, yaitu mencegah hati dari menyembah selain Allah. Caranya adalah dengan membutakan mata hati dari segala yang ada, bahkan di alam hakikat di luar dunia ini sehingga yang tersisa hanyalah cinta kepada Allah. Sebab, meski Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk manusia, Dia menciptakan manusia untuk diri-Nya sendiri. Dia berfirman : Manusia adalah hakikat-Ku dan Aku adalah hakikatnya.” Hakiakt itu adalah cahaya dari cahaya Ilahi. Ia merupakan pusat hati, yang diciptakan dari materi terhalus. Ia adalah jiwa yang mengetahui semua rahasia hakikat; ia adalah hubungan hakiki antara makhluk dan Penciptanya. Hakikat itu tidak emncintai dan tidak membutuhkan apa pun selain Allah.

Tak ada yang pantas diharapkan, tak ada tujuan lain, dan tak ada kekasih di dunia ini dan di akhirat, kecuali Allah. Puasa ruhani batal jika cinta kepada selain Allah, meski sebesar atom memasuki hatinya. Jika itu terjadi, kita harus memulainya lagi, membangkitkan tekad dan niat untuk kembali kepada cinta-Nya di dunia ini dan di akhirat. Sebab, Allah berfirman : “Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.”


18.

IBADAH  HAJI  KE  TANAH  SUCI


Menurut syariat, ibadah haji adalah ziarah ke Batullah di kota suci Makkah. Ada beberapa rukun yang harus dilaksanakan dalam ibadah haji; mengenakan pakaian ihram – dua potong kain putih tak berjahit yang mencerminkan pencampakkan segala belenggu duniawi; tiba di Makkah dalam keadaan suci (berwudlu); tawaf tujuh putaran mengelilingi Ka’bah – tanda ketundukan yang utuh; sa’i tujuh balikan antara Shafa dan Marwah; beranjak menuju padang Arafah untuk melaksanakan wukuf hingga terbenamnya matahari, bermalam di Muzdalifah; menyembelih hewan korban di Mina; sekali lagi tawaf tujuh putaran mengelilingi Ka’bah; minum ari Zam-zam; dan mendirikan shalat sunnat dua rakaat di dekat makam Nabi Ibrahim a.s. Ketika semua ini telah ditunaikan, sempurnalah ibadah haji dan mendapatkan pahalanya. Jika salah satu rukun ibadah haji tidak ditunaikan, pahalanya pun menjadi batal. Allah Swt. berfirman :

“Barang siapa memasukinya (Baitullah), amanlah ia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Al-Imran (3) : 96).

Barangsiapa menunaikan ibadah haji, niscaya ia aman dari api neraka. Itulah pahalanya.

Ibadah haji batin mensyaratkan persiapan yang matang dan bekal perjalanan yang memadai. Syarat pertama adalah menemukan seorang pembimbing, mursyid, atau guru, yang dicintai dan dihormatinya, yang dipercayai ddan didpatuhinya. Dialah yang akan membekalinya dan menjamin kebutuhannya.

Kemudian, sebelum berhaji ruhani, seseorang harus mempersiapan hatinya dengan senantiasa membaca kalimat : LA ilaha Ilallah, seraya terus ingat kepada Allah. Cara itu akan membangkitkan dan menghidupkan hati yang telah terjaga. Ingatan kepada Allah itu harus terus di jaga hingga seluruh wujud batin disucikan dari segala sesuatu selain Dia.

Setelah penyucian batin, ia harus membaca nama-nama sifat Allah untuk menyalakan cahaya keindahan dan karunia Allah. Dalam pancaran cahaya itulah ia dapat berharap melihat Ka’bah hakiki. Allah memerintahkan nabi-Nya, Ibrahim dan Ismail untuk menjalankan penyucian ini :

“Janganlah mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku itu bagi orang-orang yagn tawaf. (al-Hajj (22) : 26).

Ka’bah yang berdiri di kota suci Makkah senantiasa suci bagi orang-orang yang beribadah. Namun, bagaimanakah kita menjaga kesucian Ka’bah ruhani yang padanya kita melihat Hakikat?!

Setelah semua persiapan ini, ia harus membenamkan dirinya dalam cahaya ruh suci, seraya mengubah bentuk jasmaninya menjadi hakikat batin, dan melaksanakan tawaf mengitari Ka’bah hati dengan membaca nama kedua Allah – ALLAH – nama yang layak bagi Tuhan. Ia berjalan memutar, karena jalan hakikat tidaklah lurus, tetapi melingkar. Titik akhirnya adalah titik awalnya.

Kemudian bergerak menuju Rafah ruhani, tempat zikir batin, tempat seseorang berharap dapat mengetahui rahasia. : “Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.” Di sana ia berdiri seraya membaca nama-Nya yang ketiga, HU – tidak sendirian namun bersama-Nya, sebab Allah berfirman : “Dan Dia bersamamu di mana pun engkau berada.” (a; Hadid (57) : 4). Lalu membaca nama-Nya yang keempat – HAQQ, Yang Maha Benar, nama cahaya zat Allah – dan setelah itu nama-Nya yang kelima HAYY, Yang Maha Hidup yang menjadi sumber segala kehidupan. Setelah itu ia menggabungkan nama-Nya Yang Maha Hidup dengann nama-Nya yagn keenam – QAYYUM, Yang Mahamandiri, yang kepada-Nya semua wujud membutuhkan. Ini akan membawnya ke Muzdalifah ruhani.

Kemudian ia dibawa ke Mina rahasisa ssuci, hakikat. Di sana ia membaca nama-Nya yang ke tujuh – QAHHAR – Yang Maha Menaklukkan. Dengan kekuatan nama itu, diri dan keakuan dikorbankan. Tab ir kekufuran dimusnahkan dan pintu kehampaan sirna.

Mengenai tabir yang memisahkan makhluk dari Sang Khalik, Rasulullah saw. bersabda : “Iman dan kufur berada pada sebuah tempta di bawah Arasy. Keduanya merupakan tabir  yang memisahkan Tuhan dari pandangan para hamba-Nya; yang satu hitam dan yang lainnya putih.”

Kemudian kepala ruh suci tertutup oleh sifat-sifat jasmani.

Dengan membaca nama-Nya kedelapan, WAHHAB – Yang Maha Memeberi, tanpa batas, tanpa syarat – ia memasuki kawasan suci Hakikat. Di sana ia membaca nama-Nya yang kesembilan – FATTAH, Yang Maha Membuka segala yang tertutup.

Kemudian ia memasuki tempat kekhusyukan, berdiam di sama dalam penyendirian di hadapan Allah, did alam kedekatan kepada-Nya, dan jauh dari segala sesuatu yang lain seraya membaca nama-Nya yang kesepuluh, WAHID – Allah Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tak ada yang menyerupia-Nya. Di sana ia mulai meliaht sifat-sifat-Nya, SHAMAD, Yang Memenuhi Segala Kebutuhan. Ia melihat awal perbendaharaan tak terbatas ini. Itulah penglihatan tanpa bentuk maupun rupa, yang menyerupai ketiadaan.

Dimulailah tawaf yagn terakhir seraya membaca enam nama-Nya yang terakhir ditambah nama-Nya yang kesebelas, AHAD – Yang Maha Tunggal, Yang Maha EsA. KEMUDIAN IA MINUM DARI TANGAN KEDEKATAN Allah : “Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. (al-Insan (76) : 21). Gelas tempat air minumnya adalah nama-Nya yang keduabelas, SHAMAD – Yang Maha Memenuhi segala kebutuhan.

   Setelah meminum dari mata air ini, ia akan melihat semuat abir terangkat dari wajah yang kekal. Ia menatapnya dengan cahaya yang munul darinya. Di alam hakikat itu, tak ada keserupaan, baik bentuk maupun rupa. Alam itu tak terlukiskan dan tak dapat dibayangkan; alam itu tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terlintas dalam hati manusia. Firman Allah terdengar tanpa suara dan tak dapat dilihat seperti kata yagn dituliskan. Kebahagiaan yang belum pernah dirasakan manusia adalah kebahagiaan melihat hakikat Allag Swt. dan mendengar firman-Nya.

Tuntas menjalankan ibadah haji ini, semua dosa menjadi kebaikan; segala yang tadinya diharamkan menjadi halal, dan semua ini terdapat di dalam ketunggalan yang telah dicapai, ketunggalan yang kekal abadi. Allah berfirman :

“Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebaikan. (al-Furqan (25) : 70).

Ia akan dibebaskan dari semua perbuatan yagn berasal dari dirinya sendiri dan dilepaskan dari semua rasa takut atau sedih. Allah berfirman :

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yunus (10) : 62).

Usai menjalankan manasik haji, tawaf wada dialksanakan dengan membaca semua nama Allah. Setelah itu, ia dapat pulang ke tanah airnya – tanah suci tempat Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik dan paling indah. Dalam perjalanan pulang, ia membaca nama-Nya yang keempat belas, SHAMAD, Yang Maha Memenuhi Kebutuhan, perbendaharaan yang memenuhi semua kebutuhan makhluk. Itulah alam kedekatan kepada Allah; tempat tinggal bagi orang yang menunaikan ibadah haji ruhani. Ke sanalah ia kembali.

Hanya sampai di situlah yang dapat dijelaskan sesuai dengan kemampuan lidah dan pikiran. Lebih dari ini, tak ada kabar yang bisa dituturkan, karena yang terjadi di luar itu tidak dapat dipahami, tak terbayangkan, dan tak dapat dijelaskan. Rasulullah saw. bersabda  : “Ada ilmu yang tetap tak terjamah, seperti kekayaan yang terpendam. Tak seorang pun dapat mengetahuinya dan tak seorang pun dapat menemukannya kecuali mereka yang telah dikarnuniai Ma’rifat.” Ketika kabar mengenai ilmu hakiki ini tersiar luas, orang yang jujur tidak sedikit pun mengingkarinya.

Ahli ilmu lahir memungut dari permukaan, sedangkan para arif meneguknya dari kedalaman samudra. Ilmu seorang arif merupakan rahasia hakiki Allah Swt. Tak seorang pun mengetahui apa yang diketahui-Nya selain Dia. Allah berfirman :

Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah seluas langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. (Al-Baqarah (2) : 255).

 Orang gberuntung yang dikaruniai ilmu-Nya adalah para nabi dan kekasih-Nya yang senantiasa berjuang mendekatkan diri kepada-Nya.

Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Thaha (20) : 7).

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Dia memiliki nama-nama yang indah. (Thaha (20) : 8).

Allah Maha Mengetahui.


19.

MELIHAT  HAKIKAT  ILAHI


Begitu banyak ayat Al-Qur’an, hadis Nabi saw., begitu pula ucapan para wali mengenai maqam ini. Di antaranya Allah berfirman :

Gemetar karenanya tubuh orang yang takut kepada Tuhan mereka, kemudian enjadi tenang tubuh dan hati (mereka) ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah; dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. (al-Zumar (39) : 23).

Maka apakah orang yang dibukakan Allah batinnya untuk (menerima) agama Islam lalu ia amendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Kecelakaan besarlah bagi orang yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. (al-Zumar (39) : 22).

Rasulullah saw. bersabda : “Ilham Ilahi yang memutuskan seseorang dari dunia dan membawanya kepada perenungan sifat-sifat Allah, dengan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda keesaan Allah, merupakan karunia yang lebih utama dibanding dunia dan akhirat.”  Karenanya, orang yang tidak pernah merassakan pengalaman bersama Allah serta tidak merasakan manifestasi ma’rifat dan hakikat berarti tidak pernah merasakan kehidupan.

Hadhrah al-Junaid r.a. pernah berkata : “Ketika pengalaman bersama Allah membawa kepada perwujudan Ilahi dalam diri seeorang, berarti ia telah merasakan kbahagiaan tertinggi atau kesedihan terdalam.”

Pengalaman bersama Allah terbagi ke dalam dua macam, yaitu kenikmatan (ekstase) jasmani dan kenikmatan (ekstase) ruhani. Kenikmatan jasmsani dilahirkan oleh ego, yang tidak memberikan kepuasan ruhani sedikit pun. Kenikmatan itu berada di bawah pengaruh indera. Keberadaannya sering-kali menipu, dalam rupa atau bentuk tertentu agar orang lain melihat atau mendengarnya. Kenikmatan jenis ini sama sekali tidak bernailai, karena berpamrih dan diharapkan : orang yang merasakannya mengira bahwa ia sendirilah yang melahirkan kenikmatan itu. Kenikmatan semacam ini tak perlu diperhatikan.

Sebaliknya, kenikmatan ruhani merupakan maqam yang jauh berbeda. Kenikmatan ini muncul karena aliran energi ruhani. Biasanya, pengaruh luar – seperti syair atau ayat Al-Qur’an yang dibacakan dengan indah dan merdu, atau daya magnetis majelis zikir kaum sufi – dapat mengalirkan energi ruhani tertentu. Arus energi ruhani itu mucnul kare di saat itu tak ada lagi penolakan tubuh terhadap wujud, kehendak serta kemampuan akal untuk memilih dan memutuskan dikalahkan. Ketika daya tubuh dan akal lemah, kenikmatan yang muncul adalah kenikmatan ruhani. Pengalaman seperti ini akan memberikan manfaat yang besar bagi para salik .. Allah Swt. berfirman :

...karena itu, sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hamba Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang yang punya akal. (al-Zumar (39) : 17-18).

 Nyanyian merdu burung-burung, juda desah napas para pencinta termasuk sebab lahir yang menggerakkan energi ruhani. Dalam keadaan seperti ini, keliaran dan kejahatan nafsu tersisihkan, iblis hanya bisa bekerja di dalam gelap perbuatan nafsu dan sama sekali tidak bisa mencapai alam rahmat Ilahi. Di alam rahmat Ilahi, kejahatan luruh seperti luruhnya garam dalam air. Kejahatan itu sirna persis ketika seseorang membaca “La ilaha illallah al-‘Aliyy a;’Azhim” – Tak ada tuhan selain Allah Yang Maha Tinggi lagi Mahaagung.” Mengenai pengaruh kenikmatan ruhani, Rasulullah saw. bersabda : “Ayat Al-Qur’an, syair cinta yang indah dan memikat,d an suara kerinduan akan menerangi wajah jiwa.”

Kenikmatan sejati adalah kebertautan cahaya dengan cahaya, ketika jiwa manusia bertemu dengan cahaya Ilahi.

Yang baik untuk yang baik. (al-Nur (24) : 26).

 Tidak ada cahaya dan penecerahan pada kenikmatan yang diakibatkan oleh hawa nafsu dan setan. Keduanya hanya akan menimbulkan kekafiran, keragaman, pengingkaran,d an kesesatan. Kegelapan melahirkan kegelapan. Itulah pekerjaan hawa nafsu.

Yang buruk untuk yang buruk. (al-Nur (24) : 26).

Manifestasi kenikmatan juga terbagi ke dalam dua bagian, yaitu manifestasi kenikmatan lahir yagn tunduk kepada hasrat kemanusiaan, dan manifestasi ruhani yang berada di luar jangkauan akal dan pilihan manusia. Pada jenis yang pertama, tanda-tanda kenikmatan mungkin terlihat dengan jelas. Misalnya, seseorang merasakan kenikmatan ini akan bergetar dan atau berdesah meski tak ada rasa sakit pada tubuh.’sedangkan pada jenis yang kedua, mungkin terlihat ada perubahan pada tubuh seseorang, namun perubahan ini tidak disengaja; perubahan itu didorong oleh keadaan batinnya. Manifestsi jenis yang kedua ini semata-mata disebabkan oleh daya ruhani yang tak mampu dicegah oleh seseorang. Dalam keadaan ini, jiwa menundukkan raga. Mungkin ia tampak gemetar hebat seperti diladna demam; seseorang tidak mungkin menahan untuk tidak bergetar karena ia tak punya daya untuk mengatasi manifestasi lahir ini. Kekuatan arus energi ruhani akan mengalahkan kehendak akal dan raga. Itulah kenikmatan sejati dan bersifat ruhaniah.

Kenikmatan ruhani semacam ini, yang dihasilkan berkat kedekatan kepada Allah dalam ibadah seorang hamba, merupakan media untuk menarik dan memikat hati mereka agar semakin dekat kepada-Nya. Inilah makanan para pecinta Allah, yang memberi mereka kekuatan untuk menempuh perjalanan berat menemukan hakikat. Dalam pengertian inilah Rasulullah saw. berssabda :

“Ibadah khusyuk para pecinta Allah dan gemetarnya tubuh mereka adalah ibadah wajib bagi sebagian orang dan sunat bagi sebagian yang lain, bahkan kemurtadan bagi sebagian orang lainnya; wajib bagi orang sempurna, sunat bagi para pecinta, dan kemurtadan bagi orang yang lalai.”

“orang yang tidak menyukai para pecinta Allah, syair yang disenandungkan pujangga, musim semi beserta warna dan keharuman bunganya, begitu juga kemerduan suara seruling adalah orang yang sakit.”

Orang lalai yang tidak mungkin merasakan kenikmatan ruhani dan orang yang tidak menyukai keindahan adalah roang sakit yagn takkan menemukan obat bagi penyakitnya. Mereka lebih rnedah daripada burung dan binatang buas serta lebih hina daripada keledai, karena hewan-hewan itu masih bisa merasakan kesenangan pada waktu-waktu tertentu. Ketika Nabi Dawud a.s. bernyanyi, semua burung berkumpul di dekatnya untuk mendengarkan kemerduan suaranya. Rasulullah saw. bersabda : “Orang yang tidak pernah merasa khusyuk berarti tidak memiliki rasa agamanya.”

Ada sepuluh tingkatan kekhusyukan. Sebagian di antaranya tampak dengan tanda-tanda yang jelas; sebagiannya lagi tersembunyi dan tak dapat ditemukan oleh orang lain, misalnya zikir batin kepada Allah, atau membaca Al-Qur’an di dalam hati. Tetesan air mata karena penyesalan yang mendalam, rasa takut kepada azab Allah, rasa rindu dan sedih, rasa malu karena lalai; pucatnya wajah seseorang atau rona ketakjuban karena keindahan yang muncul di dalam dan di sekitar dirinya; begitu juga terbakarnya seseorang dalam kerinduan kepada Allah, dan berbagai keadaan lainnya yang tak terlukiskan kata-kata, merupakan tanda-tanda kekusyukan.


20.

KHALWAT : BERDUAAN DENGAN ALLAH


Khalwat harus meliputi pengasingan lahir dan pengasingan batin. Pengasingan lahir dilakukan dengan cara mengasingkan diri dari dunia, memencilkan diri di tempat yang jauh dari manusia, sehingga orang lain di duni terbebas dari sifat dan eksistensi dirinya yang buruk. Pengasingan itu dilakukan agar sumber eksistensinya yang buruk, ego,d an hawa nafsunya yang liar terpisahkan dari makanan sehari-harinya. Tindakan itu juga dilakukan untuk mendidik nafsunya dan meningkatkan pertumbuhan ruhaninya.

Jika hendak mengasingkan diri, ikhlaskanlah niatmu. Karena dari satu sisi, pengasingan diri serupa dengan keadaan di dalam kubur, engkau mati dan hanya mengharapkan rida Allah, seraya menjauhkan hati dari segala kotoran. Dengan begitu, hatimu akan meraih tingkat kesucian hakiki. Dalam kerangka inilah Rasululah saw. bersabda : “Muslim adalah yang muslim lainnya selamat dan aman dari tangan dan lidahnya.”

Seorang mukmin akan mengunci lidahnya dari kata-kata yang tak berguna, akrena Rasulullah saw. bersabda : “Keselamatan seseorang bergantung pada lidahnya. Kesengsaraan dan bencananya juga disebabkan lidahnya.” Ia menutup matanya dari yang haram agar tatapannya tidak jatuh atas milik orang lain. Ia menutup telinganya dari mendengar dusta dan keburukan, serta membelenggu kakinya dari perbuatan dosa.

Rasulullah saw. menegaskan bahwa setiap anggota tubuh kita dapat melakukan dosa : “Mata dapat berzina. Ketika salah satu indera atau salah satu anggota tubuhmu berdosa, satu kahluk yang hitam dan buruk muncul darinya di hari kiamat dan ia akan menjadi saksi atas dosa yang diperbuatnya. Kemudian ia akan dilemparkan ke dalam api neraka.”

Allah memuji roang yang menjaga dirinya dari maksiat. Itulah bentuk penyesalan yang sesungguhnya dan tobat yang diterima. Allah berfirman :

Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya (al-Nazi’at (79) : 40-41).

 Siapa saja yang takut dan ingin bertobat kepada Tuhan – dengan tidak berbuat buruk kepada dirinya dan kepada kaum mikmin lainnya – maka dalam pengasingannya itu ia akan berubah menjadi layaknya pemuda yang tampan. Ia akan menjadi pelayan bagi para penghuni surga.

Pengasingan diri merupakan upaya untuk melawan musuh berupa dosa dan kesalahannya sendiri. Dalam kesendirian, seseorang meraih kesucian diri. Allah berfirman :

Maka barang siapa berharap bertemu dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak menyekutukan Tuhannya dalam beribadah kepada-Nya. (al-Kahfi (18) : 110).

Itu baru penyucian lahir. Penyucian batin dilakukan dengan berupaya agar hati dan pikiran kosong dari segala sesuatu yang bersifat duniawi, dari keburukan dan hawa nafsu, seraya meninggalkan makan, minum, harta, keluarga, istri, anak-anak, perhatian, dan bahkan cinta terhadap semua.

Dalam sekesndirian itu, tidak ada lagi pemikiran, pendengaran, maupun penglihatan kepada yang lain. Rasulullah saw. bersabda : “Ketenaran dan segala yang dibawanya adalah bencana. Menjauhkan diri dari ketenaran dan pengakuan orang lain adalah kenikmatan.” Orang yang berniat menyendiri secara batin harus menutup hatinya dari keangkuhan, kesombongan, dendam, kezaliman, amarah, iri hati, ketidaksabaran, firnah, dan sebagainya. Jika salah satu sifat dan perasaan semacam itu masuk ke dalam diri seseorang saat ia menyendiri, maka hatinya akan rusak. Ia tersingkir dari posisi mengasingkan diri, dan penyendiriannya menjadi sia-sia. Sekali saja kotoran memasuki hati, kesuciannya akan hilang dan semua kebaikan akan terhenti. Allah berfirman :

Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir. Sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya. (Yunus (10) : 81).

 Bisa jadi perbuatan seseorang tampak baik di mata orang lain. Namun jika hatinya dimasuki sifat-sifat buruk, ia dianggap sebagai pembuat kesesatan yang menipu dirinya sendiri dan orang lain. Rasulullah saw. bersabda :

“Keangkuhan dan kesombongan merusak iman. Fitnah dan umpatan adalah dosa yang lebih buruk daripada zina.”

“Layaknya api yang membakar kayu, dendam membakar semua kebaikan.”

“Siasat licik itu tengah tidur, terlaknatlah orang yang membangunkannya.”

“Orang yang kikir tidak akan pernah masuk surga, meski ia habiskan seluruh umurnya dalam shalat.”

“Kemunafikan adalah syirik yang tersembunyi.”

“Surga akan menolak orang yang menolak orang lain.”

Masih banyak lagi sikap dan perilaku buruk yang dicela oleh Rasulullah saw. Apa yang telah disebutkan di atas kiranya cukup menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan dunia membutuhkan kewaspadaan dan kehati-hatian sehingga kita harus benar-benar mengerahkan seluruh perhatian ketika kita berjalan did atasnya. Tujuan pertama tasawuf adalah penyucian hati. Tindakan pertama yagn wajib dilakukan di jalan ini adalah menolak nafsu dan hasrat rendahnya. Kewaspadaan yang dilahirkan dari penyendirian, kekhusyukan, perenungan, dan zikir akan mengendalikan nafsu seseorang. Selain itu, Allah Swt. akan mencerahkan hatinya.

Dalam penyendirian, tidak ada sesuatu pun yang ddilakukan secara terpaksa. Semuanya dilakukan dengan cinta, keikhlasan, dan keimanan sejati. Jalan yang diikutinya bukanlah jalannya sendiri, melainkan jalan para sahabat Nabi, para tabiin, dan orang-orang yang diberik petunjuk.

Jika seorang mukmin mengikuti jalan tobat dengan cara ini disertai niat untui membersihkan hatinya, Allah Swt. akan menyelamatkannya dari segala bahaya dan kejahatan. Penampilannya menjadi enak dipandang. Kesucian akan mewarnai pikiran dan perasannya, baik yang diungkapkan maupun yang disimpan. Segala tindakannya dilakukan dengan pertimbangan, sebab ia berada di hadapan Allah. “Allah mendengar orang yang memuji-Nya.” Dengan demikian, Allah selalu memperhatikan dirinya. Allah menerima doa, kerinduan, dan pujian serta memberinya segala yang dikehendaki-Nya. Allah berfirman :

Barangsiapa menghendaki kemuliaan maka bagi Allah semua kemuliaan. Kepada-Nya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yagn saleh dinaikannya. (Fathir (35) : 10).

 Kesucian melindungi lidahnya, sehingga ia tidak mengungkapkan kata-kata yang tidak berguna. Lidah adalah alat yang indah untuk memuji Tuhan, untuk melafalkan nama-nama-Nya yang indah, dan untuk menegaskan Keesaan-Nya. Allah memperingatkan kita agar tidak mengatakan kata-kata yang tidak berguna.

Sungguh beruntunglah orang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. (al-Mu’minun (23) : 1-3).

Allah Swt. melimpahkan rahmat, kasih sayang dan karunia-Nya kepada orang yang belajar dan beramal dengan niat yang baik. Dia menunjukkan jalan menuju kedekatan kepada-Nya dengan  menaikkan derajatnya. Dia mencintainya; Dia mengampuni dosa-dosanya.

Ketika derajat seseorang dinaikkan ke tingkatan itu, hatinya menjadi seluas samudra. Keadaan samudra itu tidak akan berubah karena kekejaman dan kezaliman yang didlakukan manusia akepadanya. Rasulullah saw. bersabda :  “Jadilah seperti samudra yang penampakkan tidak berubah, tetapi di dalamnya kau tenggelamkan pasukan gelap hawa nafsumu.” Pasukan nafsu ditenggelamkan seperti Fir’aun dan tentaranya yang ditenggelamkan di Laut Merah. Di atas samudra, biduk agama berlayar dengan aman; ia lintasi samudra luas itu. Ruh si penyendiri itu menyelami kedalamannya untuk menemukan mutiara hakikat, menuju hamparan mutiara ilmu, dan permata karunia, lalu kembali untuk menyebarkannya. Allah berfirman : “Dari keduanya keluar mutiara dan permata.” (al-Rahman (55) : 22).

Hati seluas samudra itu hanya bisa dimiliki jika keadaan lahirmu sama dengan keadaan batinmu. Apa yang tersimpan dalam hatimu sama dengan yang terungkap oleh lisan dan perbuatanmu. Jika keadaan ini tercapai. Takkan ada kemajemukan, perpecahan, ata kekacauan dalam samudra hati. Ia takkan diserang badai kesessatan. Orang yang mencapai tingkatan ini berada dalam tingkatan tobat sejati; ia akan memiliki banyak ilmu yang bermanfaat. Semua perbuatannya berguna bagi orang lain; hatinya tak pernah condong kpada kejahatan. Jika ia salah atau lupa; ia diampuni, karena ia mengingat jika lupa dan bertobat jika berdosa. Ia dekat kepada Tuhannya dan juga kepada dirinya sendiri.


21.

SHALAT  DAN  WIRID


Siapa saja yagn telah memilih untuk menjauhkan diri dari dunia dan mendekatkan diri kepada Allah harus mengetahui shalat dan wirid yagns esuai. Shalat harus dilaskanakan dalam keadaan suci, lebih baik lagi dalam keadaan berpuasa. Tempat yang lazim dipergunakan untuk menyendiri adalah di dalam atau dekat mihrab, agar tidak tertinggal untuk mengikuti shalat berjamaah. Usai shalat berjamaah, yagn tersisa aalah kesendirian dan kesunyian tanpa kata-kata. Jika kau telah memutuskan untuk berkhalwat, berusahalah untuk memahami dan memperhatikan prinsip, dasar , serta syarat-syarat shalat berjamaah.

Setiap tengah malam, bangunlah untuk shalar tahajud – yang berarti bangun dari tidur. Tahajud adalah kebangkitan setelah kematian. Ketika seseorang bangun untuk tahajud, ia akan memiliki hati dan pikiran yang jernih. Agar kekhusyukanmu tidak rusak, jangan terlibat dalam berbagai kegiatan yagn lazim seperti makan dan minum.

Segera setelah bangun tidur, dengan kesadaran akan hari kebangkitan, bacalah :

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Al hamdu lillah al ladzi ahyana ba’da ma amatama wa ilayhi al-nusyur.

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan.

Kemudian bacalah sepuluh ayat terakhir surat Al-‘Imran :

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.


رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (١٩٢

192. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.


رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ (١٩٣

193. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.


رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (١٩٤

194. Ya Tuhan Kami, berilah Kami apa yang telah Engkau janjikan kepada Kami dengan perantaraan Rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan Kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."


فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لأكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ (١٩٥

195. Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain[259]. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik."


[259] Maksudnya sebagaimana laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, Maka demikian pula halnya perempuan berasal dari laki-laki dan perempuan. Kedua-duanya sama-sama manusia, tak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya.


لا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلادِ (١٩٦

196. janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak[260] di dalam negeri.


[260] Yakni: kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan mereka.


مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ (١٩٧

197. itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.


لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلأبْرَارِ (١٩٨

198. akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah)[261] dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti[262].


[261] Yakni: tempat tinggal beserta perlengkapan-perlengkapannya seperti makanan, minuman dan lain-lain.

[262] Maksudnya ialah penghargaan dari Allah disamping tempat tinggal beserta perlengkapan-perlengkapannya itu, adalah lebih baik daripada kesenangan duniawi yang dinikmati orang-orang kafir itu.


وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (١٩٩

199. dan Sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Amat cepat perhitungan-Nya.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٢٠٠

200. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

                    

Setelah itu berwudlu dan berdoalah : ‘Mahasuci Allah – segala puji bagi-Mu. Hanya kepada-Mu kami berdoa. Aku memohon ampunan-Mu atas dosa-dosaku. Ampunilah dosa-dosaku, ampunilah seluruh diriku. Terimalah tobatku. Engkau Maha Penyayang, Engkau Maha Pengampun. Ya Allah, masukkanlah aku ke golongan orang yang menginsafi kesalahan mereka dan masukkanlah aku ke golongan hamba-Mu yang suci, yagn bersabar, yagn bersyukur, yang mengingat-Mu dan yang memuji-Mu siang dan malam.”

Lalu, seraya menengadahkan wajah ke langit, katakanlah :

Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna
muhammadan ‘abduhu wa rosuuluhu

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Esa, tak bersekutu, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Lalu ketika menghadap kiblat, ucapkanlah


Aku berlindung kepada kasih sayang-Mu dari azab-Mu. Aku berlindung kepada keridaan dan cinta-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Aku tidak mengenal-Mu seperti Engkau mengenal diri-Mu sendiri. Aku tidak dapat memuji-Mu sepenuhnya. Aku adalah hamba-Mu dan anak hamba-Mu. Dahiku, yang padanya Engkau tuliskan nasibku, berada di tangan-Mu. Takdir-Mu berlaku atas diriku. Apa pun yang Engkau tetapkan atas diriku pantas untukku. Kubentangkan kedua tanganku di hadapan-Mu, seraya kuungkapkan semua dosaku. Tak ada tuhan selain Engkau; Engkau Maha Pengasih dan aku adalah orang yang zalim. Aku adalah pelaku maksiat. Aku telah menganiaya diriku sendiri. Karena aku adalah hamba-Mu. Ampunilah dosa-dosaku yang besar. Engkau adalah Tuhanku dan hanya Engkau yang dapat memberikan ampunan.


Lalu, ketika menghadap kiblat, ucapkanlah

Allah Mahabesar, Segala puji bagi-Nya. Aku mengingat dan menyucikan-Nya siang dan malam.

Kemudian membaca masing-masing sepuluh kali :

Mahasuci Allah.

Segala puji dan syukur bagi Allah.

Tidak ada tuhan selain Allah.


Kemudian dirikanlah shalat dua belas rakaat, dengan mengucapkan salams etiap dua rakaat, akrena Rasulullah saw. bersabda : “Shalat malam dilaksanakan dua rakaat, dua rakaat.”

Allah Swt. memuji orang-orang yang melaksanakan shalat di tengah malam.

Dan pada sebagian malam, shalat tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yagn terpuji (al-Isra’ (17) : 79).

Lambung mereka jauh dari tempat tidur, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengant akut dan harap, dan mereka memaafkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yagn disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (al-Sajdah (32) : 16-17).

Di ujung malam, bangunlah untuk shalat witir tiga rakaat sebagai penutup rangkaian shalat pada hari itu. Pada rakaat ketiga, setelah membaca surah al-Fatihah :

الرَّحِيمِ  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ


Bismillahirrahmanirrahim"
Alhamdulillahi rabbil alamin,
Arrahmaanirrahiim
Maaliki yaumiddiin,
Iyyaka nabudu waiyyaaka nastaiin,
Ihdinashirratal mustaqim,
shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghduubi alaihim waladhaalin,

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam".
"Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
"Yang menguasai di Hari Pembalasan".
"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan".
"Tunjukilah kami jalan yang lurus",
"(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat".


Dan satu surah dari Al-Qur’an, angkatlah seperti di awal shalat seraya mengucapkan : Allahu akbar – Allah Mahabesar, lalu bacalah doa qunut :

ALLAHUMMA INNA NASTA'INUKA WA NASTAGHFIRUKA WA NUMINU BIKA WA NATAWAKKALU 'ALALAYKA WA NUTHNI 'ALAYKA'L-KHAYRA KULLAH

NASHKURUKA WA LA NAKFURUKA WA NAKHNA'U LAKA WA NAKHLA'U WA NATRUKU MAN YAKFURUK

ALLAHUMMA IYYAKA NA'BUDU WA LAKA NUSALLI WA NASJUD WA ILAYKA NAS'A WA NAHFIDH

NARJU RAHMATAKA WA NAKHAFU 'ADHABAKA'L-JIDD INNA 'ADHABAKA BI'L-KUFFARI MULHIQ

Ya Allah, kami meohon pertolongan-Mu, dan kami memohon ampunan serta petunjuk-Mu. Kami beriman kepada-Mu, kami berpaling kepada-Mu, kami berserah diri kepada-Mu, dan kami memuji-Mu atas semeua kebaikan. Kami bersyukur kepada-Mu dan kami tidak ingkar kepada-Mu. Kami mencela dan menjauhkan diri dari orang-orang yang berbuat maksiat kepada-Mu. Ya Allah, kepada-Mu kami mengabdi, kepada-Mu kami berdoa dan sujud, kepada-Mu kami memohon pertolongan. Kami memohon kasih-sayang-Mu, dan takut akan azab-Mu. Sesungguhnya azab-Mu akan menimpa orang-orang yang tidak beriman kepada-Mu.

Setelah matahari terbit, dirikanlah dua rakaat shalat isyraq, shalat terbitnya cahaya, yakni shalat memohon perlindungan dan keselamatan dari kejahatan. Pada rakaat pertama, setelah membaca al-Fatihah, bacalah surat al-Falaq :

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

1.          قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

2.          مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

3.          وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

4.          وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

5.          وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Katakanlah : “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (al- Falaq (113) : 1-5).

Pada rakaat kedua, setelah membaca al-Fatihah, bacalah surah al-Nas :

1.qul a'uudzu birabbinnaas
2.maliki nnaas
3.ilaahi nnaas
4.min syarri lwaswaasi lkhannaas
5.alladzii yuwaswisu fii shuduuri nnaas
6.mina ljinnati wannaas


1. Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. raja manusia.
3. sembahan manusia.
4. dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6. dari (golongan) jin dan manusia. (al-Nas (114) : 1 – 6).


Seraya memperiapkan diri untuk menghadapi hari itu, dirikanlah dua rakaat istikharah, shalat memohon petunjuk Allah untuk mencapai keputusan yang benar pada hari itu. Pada setiap rakaat, setelah membaca surat al-Fatihah, bacalah Ayat Kursi.

اللّٰـهُ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى
السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ
مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا
شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ
وَهُوَ الْعَلِىُّ الْعَظِيمُ

Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum, laa ta-khudzuhuu sinatuw walaa nauum, lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi, man dzalladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi idznih, ya'lamu maa baina aydiihim wamaa khalfahum, walaa yuhiithuuna bisyai-inm min 'ilmihii ilaa bimaa syaa, wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardhi, walaa ya-uuduhuu hifzhuhumaa, wahuwal 'aliyyul azhiim

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (al-Baqarah (2) : 255).

Kemudian bacalah surah al-Ikhlas sebanyak sepuluh kali :

1).Qul huwa allaahu ahadun,
2).allaahu shamadu,
3).lam yalid walam yuuladu,
4).walam yakun lahu kufuwan ahadun.


1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia


Di pagi hari, dirikanlah enam rakaat shalat duha dengan hati yang tenang dan khusyuk. Setelah membaca al-Fatihah, bacalah surah al-Syams dan al-Dhuha :


1. Wasysyamsi wadhuhaahaa
2. walqamari idzaa tsalaahaa
3. wannahaari idzaa jallaahaa
4. wallayli idzaa yaghsyaahaa
5. wassamaa-i wamaa banaahaa
6. wal-ardhi wamaa thahaahaa
7. wanafsin(w) wamaa sawwaahaa
8. fa-alhamahaa fujuurahaa wataqwaahaa
9. qad aflaha man zakkaahaa
10.waqad khaaba man dassaahaa
11.Kadzdzabat tsamuudu bithaghwaahaa
12.idzi in ba'atsa asyqaahaa
13.faqaala lahum rasuulullaahi naaqatallaahi wasuqyaahaa
14.Fakadzdzabuuhu fa'aqaruuhaa fadamdama 'alayhim rabbuhum bidzanbihim fasawwaahaa
15.walaa yakhaafu 'uqbaahaa


1. Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
2. dan bulan apabila mengiringinya,
3. dan siang apabila menampakkannya,
4. dan malam apabila menutupinya ,
5. dan langit serta pembinaannya,
6. dan bumi serta penghamparannya,
7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
11. (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas,
12. ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,
13. lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka: ("Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya".
14. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah),
15. dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

(al-Syam (91 : 1-13).


1.    Wadhdhuhaa
2.    Wallayli idzaa sajaa
3.    Maa wadda'aka rabbuka wamaa qalaa
4.    Walal-aakhiratu khayrul laka mina l-uulaa
5.    Walasawfa yu'thiika rabbuka fatardaa
6.    Alam yajidka yatiiman faaawaa
7.    Wawajadaka daallan fahadaa  
8.    Wawajadaka 'aa-ilan fa-aghnaa
9.    Fa-ammaa lyatiima falaa taqhar
10.    Wa-ammaa ssaa-ila falaa tanhar
11.    Wa-ammaa bini'mati rabbika fahaddits


Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1.    Demi waktu matahari sepenggalahan naik,”
2.    dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),”
3.    Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci” kepadamu.
4.    Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”
5.    Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.
6.    Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu ?”
7.    Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”
8.    “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
9.    “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”
10.  “Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”
11.  “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”


Usai shalat duha, dirikanlah dua rakaat shalat kaffarah, yakni shalat menghapuskan dosa yagn disengaja maupun tidak disengaja. Disengaja atau pun tidak, dosa tetaplah dosa, yang menjadi penyebab azab. Dosa semacam ini mungkin terjadi bahkan ketika kita menyendiri, misalnya, dosa ketika membuang hajat. Rasulullah saw. bersabda : “Berhati-hatilah terhadap dosa, bahkan ketika kau kencing, agar tak ada setetes pun yang mengenaimu. Sebab, itu akan mendatangkan azab kubur.” Pada setiap rakaat, setelah surah al-Fatihah, bacalah surah al-Kawtsar sebanyak tujuh kali.


1.Innaa a'thaynaaka al kautsar

2.Fashalli lirabbika wanhar

3.Inna syaani'aka huwa al abtar

1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu sebuah sungai di surga.

2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah .

3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.


Shalat lainnya, meski hanya empat rakaat,harus dilaksanakan pada hari pertama penyendirian. Inilah shalat tasbih. Jika kau bermazhab Syafi’i, ucapkan salam setiap dua rakaat. (Ketentuan ini berlaku jika shalat dilakukan di siang hari. Jika di malam hari, baik mazhab Hanafi maupun Syafi’i, shalat tasbih dilakukan dua rakaat dua rakaat).

Rasulullah saw. menjelaskan shalat ini kepada pamannya, Ibn. Abbas :

“Wahai Abbas, pamanku,perhatikanlah, Aku akan memberimu hadiah. Perhatikanlah, akan kusampaikan kepadamu sesuatu yang baik. Perhatikanlah, Aku akan memberimu kehidupan dan harapan baru. Perhatikanlah, Aku akan memberimu sesuatu yang sepuluh kali lipat lebih besar dari harta yang termahal. Jika kau mengerjakan apa yang kukatakan, Allah akan mengampuni dosa-dosamu – yagn terdahulu mapun yang terkemudian, yang lama, yang baru, kecil maupun besar, yang disengaja maupun tidak, yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun yang terang-terangan.

Dirikanlah shalat empat rakaat. Paada setiap rakaat, setelah al-Fatihah, bacalah surah lain dari Al-Qur’an. Ketika berdiri, bacalah sebanyak lima belas kali : Subhanallah, al-hamdulillah, la ilaha illallah wallahu akbar, wa la hawla wa la quwwata illa billahi al—aliyyi al-azhim—“ Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tak ada tuhan selain Allah, Allah Mahabesar. Tak ada daya dan upaya, kecuali dengan (kekuatan) Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

 Ketika rukuk, dengan tangan di atas lutut, bacalah zikir itu sebanyak limabelas kali. Ketika iktidal, bacalah sebanyak lima belas kali. Di saat sujud, bacalah sebanyak lima belas kali. Kemudian duduk lagi seraya membaca zikir itu sebganyak lima belas kali, lalu berdirilah untuk rakaat kedua. Lakukan hal yang sama hingga akhir shalat.

Jika bisa, kerjakan shalat ini setiap hari. Jika tidak bisa, kerjakan setiap Jum’at. Jika tidak bisa, kerjakan setiap bulan. Jika tidak bisa, kerjakan setahun sekali, jika tidak bisa, kerjakan sekurang-kurangnya sekali dalam seumur hidup.”

Jadi, dalam empat rakaat, zikir itu dibaca sebanyak 300 kali. Rasulullah saw. menganjurkan shalat ini kepada pamannya, Ibn. Abbas r.a. Tentu saja, orang gyang tengah menyepi dianjurkan juga untuk mengerjakannya.

Selain itu, orang yang berkhalwat harus membaca sekurang-kurangnya duaratus ayat Al-Qur’an setiap hari.

Ia pun harus terus berzikir dan membaca Asmaul Husna, baik dengan suara keras maupun dalam hati sesuai dengan keadaan batin. Zikir dalam hati dapat dilakukan jika hati telah meraih kembali kesadaran dan kehidupannya. Bahasa zikir dalam hati adalah kata rahasia yang tersembunyi.

Setiap roang mengingat Allah dan memabca nama-nama-Nya sesuai dengan kemampuannya masing-masing, dan sesuai dengan maqam ruhaninya. Di setiap maqam, zikir itu memiliki nama, sifat, dan cara yang berbeda-beda. Setiap orang, pada maqamnya masing-masing, akan mengetahui mana yang paling cocok untuk dirinya.

Selain shalat dan zikir yang telah disebutkan di atas, orang yang berkhalwat juga harus membaca surah al-Ikhlas sebanyak seratus kali setiap hari; seratus kala shalawat kepada Nabi Muhammad saw., yaitu : “Allahumma shalli’ala Sayyidina Muhammad wa’ala ali Muhammad wa shahbihi wa sallim – Ya Allah limpahkan rahmat-Mu atas pimpinan kami Muhammad dan atas keluarga Muhammad serta para sahabat dan selamatkanlah.”  Dan seratus kali doa berikut ini :

Astaghfirullah al-‘azhim alladzi la illaha illa huwa al-hayy al-wayyum, mimma qaddamtu wa ma akhkhartu wa ma a’lantu wa ma asrartu w ma asraftu wa ma anta a’lamu bihi minni. Anta almuqaddamu wa anta al-mu’akhkharu wa  anta ‘ala kulli syay’in qadir.

Aku mohon ampunan kepada Allah Yang Mahahidup, Mahamandiri, dan Mahaagung – tidak ada tuhan kecuali Dia. Aku memohon ampunan dari setiap dosa di masa lalu dan masa mendatang, dosa yang kulakukan secara terang-terangan atau tersembunyi dan umurku yang telah kuhabiskan dalam dosa. Engkau lebih mengetahui dari diriku. Engkau yagn terdahulu dan yang terkemudian, dan Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Jika masiha da waktu, pergunakanlah untuk membaca sebagian ayat Al-Qur’an dan ibadah atau shalat lainnya.


22.

MAKNA  DAN  RAHASIA DI BALIK  MIMPI

Mimpi yang muncul antara awal tidur dan lelapnya tidur adalah mimpi yang benar dan bermakna. Mimpi semacam ini sering disertai ilham dan petunjuk. Itulah mimpi yang menjadi citra pada mata hati. Dalil mengenai kebenaran mimpi terdapat pada firman Allah :

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman. (al-Fath (48) : 27).

Dan Rasulullah saw. benar-benar memasuki Masjidil Haram di Makkah, yang ketika itu dikuasai musuh-musuhnya, setahun setelah mimpi ini. Contoh lainnya adalah mimpi Nabi Yusuf a.s. :

(Ingatlah) Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : “Duh ayahku, aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (Yusuf (12) : 4).

Rasulullah saw. bersabda, “Tak ada nabi lain yang akan datan sesudahku, tetapi mungkin ada jenis wahyu yang lain. Orang beriman akan melihat ilham ini dalam mimpi mereka, atau ilham itu diperlihatkan kepada mereka dalam mimpi mereka.” Allah menegaskan hal ini :

Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan di dunia dan akhirat. (Yunus (10) : 64).

Mimpi datang dari Allah, namun kdang-kadang berasal dari iblis yang terkutuk. Rasulullah saw. bersabda : “Orang yang melihatku dalam mimpinya, berarti ia memang melihat aku, karerna setan tidak dapat menyerupakan aku.” Setan juga tidak dapat meniru rupa orang yang mengikuti agama, jalan, ilmu, kebenaran, dan cahaya Nabi Muhammad saw. Para ulama menafsirkan sabda Rasulullah saw. ini dengan mengatakan bahwa setan bukan hanya tidak mampu menyerupai Rasulullah saw. melainkan juga tidak dapat berpura-pura untuk menjadi siapa saja atau apa saja yang memiliki sifat pengasih dan pemurah, atau penyayang, rahmat, dan iman. Sesungguhnya semua nabi dan wali, para malaikat, Ka’bah, matahari, bulan, awan putih, dan Al-Qur’an berada di luar jangkauan setansehigga ia tidak dapat menyerupainya. Ini karena setan merupakan manifestasi amarah, azab, dan kesedihan. Ia hanya dapat menampilkan kesesatan dan keraguan. Jika seseorang memiliki dalam dirinya manifestasi “Pembimbing Tertinggi kepada Kebenaran”, sifat “Makhluk Yang Menyesatkan” tak mungkin dapat mewujud dalam dirinya. Sifat-sifat yang berlawanan, layaknya air dan api, takkan bisa saling mengisi satu sama lain. Amarah tak dapat menggantikan kasih sayang, sebagaimana api tak mungkin tampak sebagai air. Keduanya saling menolak dan saling menjauh, karena keduanya memiliki tempat yang berbeda. Karena itu, Allah membedakan kebenaran dan kesesatan.

Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil (al-Ra’d (13) : 17).

  Di sisi lain, setan dapat berpura-pura menjadi Allah dan menggoda manusia untuk menyesatkan mereka. Ini dapat dilakukan hanya atas seijin Allah. Allah memiliki banyak sifat yang seakan-akan saling bertentangan satu sama lain. Misalnya, sifat keperkasaan dan murka-Nya tampak bertentangan dengan sifat keindahan dan kebaikan-Nya. Iblis yang terkutuk hanya dapat berpura-pura memiliki sifat murka dan keperkasaan karena ia merupakan obyek murka Allah. Allah juga memiliki sifat Pembimbing Tertinggi dan sekaligus Yang Menyesatkan. Iblis tidak dapat tampak dengan sifat Ilahi yang padanya terdpat jejak petunjuk.

Jika setan berpura-pura menampilkan salah satu sifat Allah, ia melakukan atas izin Allah untuk menyesatkan orang beriman dari kebaikan menuju keburukan, dan dari kebenaran menuju kebatilan. Sebenarnya, setan tak punya kekuatan untuk menggelincirkan seorang mukmin, namun ia akan memungutnya jika si mukmin membuangnya. Allah memerintahkan nabi-Nya :

Katakanlah : “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang yagn mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang yang musyrik.” (Yusuf (12) : 108).

Dalam ayat ini, “orang yang mengikutiku” adalah manusia sempurna, para guru ruhani yang akan datang setelah Rasulullah saw. Ilmu dan pandangan batin mereka mendekatkan diri kepada Allah. Mereka disebut : “Pemimpin yang dapat memberi petunjuk.” (al-Kahfi (18) : 17).

Ada dua macam mimpi, subyektif dan obyektif, dan masing-masingnya dibagi ke dalam dua bagian.

Jenis pertama mimpi subyektif adalah pantulan suatu maqam ruhani yang tinggi dan buah dari kebaikan. Di alam mimpi ia muncul dalam berbagai citra, seperti matahari, bulan, bintang, pasir putih bermandikan cahaya, taman surga, istana, ruh indah dalam bentuk malaikat, dan sebagainya. Inilah sifat-sifat hati yang suci. Jenis kedua mimpi menampilkan citra yang berhubungan dengan keadaan orang yang terbebas dari kecemasan dan yang mulai mengenal dirinya sendiri serta telah mendapatkan ketenangan batin. Citra-citra ini berupa kenikmatan yang akan ditemukannya di surga – makanan surgawi, keharuman, suara surga, dan lain-lain.

Citra lainnya berupa hewan atau burung yang paling indah di dunia ini. Hewan-hewan yang dilihatnya dalam mimpi itu sesungguhnya berasal dari surga. Misalnya, unta adalah hewan surga. Kuda diutus sebagai hewan beban untuk membawa ksatria suci dalam perang melawan kaum kafir di luar dan did alam dirinya. Keledai diutus kepada Nabi Adam a.s. untuk membajak lahan dan menanam gandum. Anak domba berasal dari madu surga, unta diciptakan dari cahaya surga, kuda dari kemangi manis surga, dan keledai dari safron surga.

Bagal mewakili tingaktan lebih rnedah dari orang yang telah mendapatkan ketenangan batin. Jika ia bermimpi tentang seekor bagal, itu menunjukkan kelalaian dan kemalasannya dalam beribadah karena hasrat dan nafsu menghalanginya. Itu juga menunjukkan kegagalan usaha ruhaninya. Karena itu, ia harus bertobat dan mengerjakan amal yang baik agar ia berhasil.

Keledai diciptakan dari batu surga dan diciptakan untuk mengabdi kepada Nabi Adam a.s. dan keturunannya. Keledai adalah lambang nafsu dan kebutuhan ragawi, serta hasrta dan sifat pementingan diri sendiri. Nafsu adalah hewan yang ditunggangi jiwa. Jika seseorang menajdi budak nafsu, ia bagaikan manusia yang memikul keledai di atas pundaknya. Sebaliknya, seorang manusia sejati akan menunggangi keledai nafsunya. Jadi, keledai mencerminkan alat yang dengannya ia menangani urusan akhirat di dunia.

Mimpi berbicara kepada seorang pemuda yang berwajah polos dan murni, menunjukkan bahwa manifestasi Illahi tengah berada dalam diri seseorang, karena orang yang telah mencapai manifestasi Ilahi, kelak di surga akan tampil dengan paras yang menawan. Rasulullah saw. menyebutnya sebagai makhluk yang semampai dengan bola mata hitam yang indah. Rasulullah saw. bersabda : “Karena Allah Mahasuci dan segala paras dan rupa, haids Nabi ini ditafsirkan sebagai manifestasi sifat-sifat indah Allah yang terpantul pada cermin jiwa yang suci. Penampakkan jasmani, yakni tubuh, mencerminkan ilmu Ilahi yang mendidik dan membentuk kita. Citra ini juga menggambarkan hubungan antara hamba dan Tuhannya. Hadhrah Ali r.a. berkata : “Seandainya aku tidak dibentuk oleh Tuhanku, tetu aku tidak akan pernah mengenal-Nya.”

Peningkatan keadaan ruhani hanya bisa dicapai melalui pengajaran dan pendisiplinan  yagn dipandu oleh seorang guru yang tekun.Guru ini adalah nabi dari orang-orang yang dekapt kepada Allah yang mewariskan ilmu mereka. Hanya melalui ajaran merekalah hati dan wujud batin mendapatkan cahaya yagn menerangi jalan. Dia menemukan jiwa yang mendapat petunjuk itu melalui mereka. Allah berfirman :

(Dialah) Yang Mahatinggi derajat-Nya, Yang mempunyai Arasy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) peritnah-Nya kepada siapa yagn dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat). (al-Mu’min (40) : 15).

 Demi keselamatan hati, temukanlah guru yang akan membimbingmu dalam perjalanan ruhani kepada Allah.

Iman al-Ghazali, semoga Allah menyucikan ruhnya, berkata : “Mungkin saja Allah muncul dalam mimpi seseorang dalam bentuk citra yang indah. Citra itu merupakan simbol yang muncul sesuai dengan maqam ruhani seseorang. Namun, yang terlihat dalam mimpi itu bukanlah zat Allah, karena Allah Mahasuci dari paras, rupa dan bentuk. Samahanya, Rasulullah saw. tidak mungkin muncul dalam mimpi seseorang dengan sosoknya yang asli, kecuali apda orang yang menjadi pewaris ma’rifat, ilmu, dan amal beliau dan yang meneladaninya dengan sungguh-sungguh. Pada sebagian orang lainnya, Rasulullah terlihat dalam citra tertentu yangs esuai dengan potensi dan keadaan ruhani mereka. Tetapi, mereka tidak benar-benar melihat beliau.”

Dalam ulasan Shahih Muslim, ada pernyataan yang berbunyi : “Mungkin saja seseorang bermimpi melihat Allah yang muncul sebagai cahaya atau dalam rupa manusia.” Dia memanifestasikan diri-Nya dalam berntuk sifat-sifat-Nya. Kepada Nabi Muasa a.s. Dia tampak sebagai api apda sebuah pohon yang terbakar. Itulah manifestasi Kalam Ilahi yang terdengr oleh Nabi Musa a.s. sebgai Belukar Terbakar, yang berfirman : “Hai Musa, apa yang ada di tangan kananmu itu?” (Thaha (20) : 15).

Pada hakikatnya, yang tampak kepada Nabi Musa sebagai api adalah cahaya Ilahi. Musa a.s. meilhatnya sebagai api sesuai dengan tingkatan dan kehendaknya, karena ketika itu ia membutuhkan api. Bagi manusia, tingkatan wujud yang terendah adalah tumbuhan, pohon, dan tingkatan hewani. Adakah keajaiban pada seseorang yang telah menyucikan ruhnya dari berbagai wujud yang lebih rendah dan menjadi manusia sempurna kemudian ia melihat hakikat Ilahi yang berejawantah sebagai belukar terbakar? Bagi manusia sempurna lainnya, Allah mengejawantahkan firman-Nya sebagai kata-kata yang keluar dari lisan mereka sendiri. Hadhrah Bayazid al-Bisthami, semoga Allah menyucikan ruhnya, yang tengah berada pada maqam semacam itu pernah berkata : “Hakikatku adalah hakikat Yang Mahasuci.” Dan juga, “Betapa mulianya aku.” Begitu pun yang diucapkan oleh Hadhrah al-Junaid al-Baghdadi r.a. “Tak ada yang lain di dalam jubahku kecuali Allah.” Ada banyak rahasia besar dalam maqam ruhani seperti ini yang dicapai oleh manusia-manusia sempurna. Terlalu sulit untuk dipahami dan terlalu panjang untuk dijelaskan di sini. Semua itu hanya dialami oleh mereka yang mengabdikan hidup mereka untuk mencapai hikmah Ilahi.

Tingkatan ruhani semacam itu, ketika seseorang mengalami manifestasi Ilahi dan berhubungan dengan ruh Rasulullah saw., dapat diraih melalui pengajaran, pendidikan, dan bimbingan dari Guru Sejati. Seorang salik yang telah memasuki jalan ruhani tidak mungkin berhubungan dengan Allah Swt. dan Rasulullah saw., tanpa perantara. Pertama-tama ia harus dilatih dan dididik oleh guru yang dekat kepada Allah dan rasul-Nya. Sebab, seorang Guru Sejati memiliki hubungan ruhani yang dekat kepada Allah dan Rasulullah. Jika Rasulullah saw., masih hidup, kita dapat mengambil ilmu langsung darinya, tanpa perantara. Setelah wafat, Rasulullah tak lagi berada di alam dunia, tetapi di alam ruhani. Karena itu, kita tidak dapat berhubungan langsung dengan beliau. Seperti itu pulalah keadaan para guru sejati. Ketika mereka wafat, orang tak dapat lagi belajar dari mereka.

Jika kau cerdas, kau akan segera memahaminya. Jika tidak, berjuanglah untuk memahaminya. Renungkanlah semua yang telah kukatakan agar kau dapat menaklukkan kegelapan nafsu dengan cahaya ilmu. Kau membutuhkan cahaya untuk melihat dan memahami; kau tidak dapat melihat di dalam kegelapan. Cahaya hanya akan menerangi tempat-tempat yang telah tertata dan telah dibersihkan, tempat-tempat yang mulia. Pemula tidak dapat mengatur dirinya sendiri dan karena itu ia membutuhkan seorang guru.

Seorang guru ruhani haruslah memiliki hubungan dengan Rasulullah saw., dan mewarisi sifat-sifat Nabi saw., dan selalu dibimbing untuk menjadi manusia sempurna. Ketika mengajar pun ia akan menerima bimbingan dan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, ia menjadi media yang menjaga dan mewarisi jalan ruhani. Selebihnya adalah rahasia. Hanya orang tertentu yang dapat mengetahuinya.

.... Padahal kekuatan itu hanya bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang mukmin. (al-Munafiqun (62) : 8).

Tahapan ruhani yang sangat agung ini adalah rahasia.

Pendidikan ruhani bukanlah urusan yang mudah. Jiwa jasmani berada di dalam tubuh dan dididik dengannya. Jiwa ruhani berada dalam hati. Jiwa sultan berada di pusat hati. Sedangkan jiwa atau ruh suci menetap di ruang hakikat. Hakikat adalah alat yang menyampaikan kebenaran kepada orang yang beriman. Ia adalah penafsir, yang menerjemahkan kebenran kepada si pencari, sebab rahasia itu milik Allah, dekat kepada-Nya, dan menjadi bukti keberadaan-Nya.

Ada pula mimpi yang merepresentasikan sifat buruk. Mimpi semacam itu menunjukkan sifat nafsu yang liar atau wujud kemaksiatan seseorang yang tak dapat dihentikan.

Bahkan dalam keadaan yang lebih baik, yakni ketika ia diingatkan oleh Allah akan dosa dan kesalahannya, ia masih saja bermimpi tentang binatang buas, singa, macan, serigala, beruang, anjing, babi hutan, dan binatang liar yang lebih kecil lainnya – rubah, kelinci, kucing, ular, kalajengking, dan hewan pemangsa atau berbissa yang berbahaya.

Berikut ini sdikit ulasan tentang pelbagai citra yang muncul dalam mimpi. Macan melambangkan keangkuhan dan pementingan diri sendiri hingga tingkat keangkuhan kepada Allah Swt.

Sesungguhnya orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakaan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. (al- A’raf (7) : 40).

Azab serupa juga akan menimpa orang yang sombong terhadap sesama manusia.

Singa melambangkan pemujaan dan pendewaan diri. Beruang mencerminkan amarah, kekerasan dan kezaliman terhadap orang lain. Serigala mencerminkan sifat rakus tanpa mempertimbangkan kehalalan atau keharaman, kebersihan atau kenajisan. Anjing merupakan lambang cinta dunia dengan segala bahaya dan sifat buruknya. Babi adalah lambang iri hati, ambisi, dendam, dan ketamakan. Rubah adalah lambang dusta, curang dan licik dalam urusan-urusan duniawi. Kelinci melambangkan sifat yang sama, hanya saja semua itu dilakukan tanpa sengaja dan tidak diniati. Mimpi tentang macan tutul melambangkan usaha yang tak kenal lelah dan irasional, juga hasrat untuk menjadi terkenal. Kucing adalah lambang kekikiran dan suka ameniru. Ulat mencerminkan dusta, gunjingan, tuduhan tanpa alasan, dan kezaliman lewat ucapan. Kalajengking menunjukkan kebiasaan mencela, mengejek, dan membantah orang lain. Suara kerbau mencerminkan bahasa kasar yang melukai hati orang lain.

Jika seseorang mimpi berkelahi dengan salah satu binatang buas itu namunt ak dapat mengalahkannya, berarti ia haru memperkuat usaha, ibadah, dan zikirnya hingga ia dapat mengalahkan binatang itu. Orang yang bermimpi membunuh binatang buas itu, berarti ia telah berhenti melakukan dosa atau melukai orang lain. Allah berfirman :

Dia menghapuskan kejahatan mereka dan menyembuhkan hati mereka. (Muhammad (47) : 2).

Jika seseorang bermimpi, bahwa hewan itu berubah menjadi manusia, itu menanadakan bahwa kesalahannya yang terdahulu telah diubah menjadi kebaikan dan bahwa tobatnya diterima, karena tanda sejati diterimanya tobat adalah ketika ia tak mampu mengulangi perbuatan serupa.

.... Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al- Furqan (25) : 70).

Jika kau diselamatkan dari kesalahan dan kejahatan, waspadalah, dan jangan merasa aman, karena hasrat dan hawa nafsu akan memperoleh kembali kekuatannya meski hanya dipicu oleh kemaksiatan atau kejahatan yang enteng. Ketenteraman jiwa dapat sirna tiba-tiba. Perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk menjauhkan diri dari segala yang diharamkan merupakan peringatan agar mereka senantiasa waspada.

Nafsu yang memerintahkan kepada kejahatan kadang-kadang muncul dalam mimpi berupa seorang kafir; jiwa yang mencela dirinya sendiri mungkin muncul dalam rupa seorang Yahudi, dan jiwa yang terilhami kadang-kadang muncul dalam rupa seorang Nasrani.

23.

RAGAM   PARA  PEJALAN


Para pengikut tarekat terbagi ke dalam dua abagian. Kelopok petama adalah kaum Suni. Mereka mengikuti ajaran Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. yang berupa ucapan, tindakan, dan perilaku Rasulullah. Seluruh perbuatan, ucapan, perasaan, pemikiran, dan perilaku mereka mengikuti makna batin agama. Mereka tidak hanya mengikuti, tetapi juga memahami ajaran-ajaran tersebut. Mereka beramal dan menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran agama. Mereka benar-benar merasakan, mengamalkan, dan menikmatinya, karena mereka tidak menganggapnya sebagai beban kewajiban. Jalan inilah yang mereka tempuh. Itulah tarekat mereka, kelompok perssaudaraan para kekasih Allah. Sebagian mereka telah dijanjikan surga tanpa hisab di hari kiamat, dan sebagian lainnya akan merasakan kengerian hari kiamat, untuk kemudian masuk surga. Namun, sebagian lainnya harus terlebih dahulu merasakan azab neraka untuk membersihkan dosa-dosa mereka sebe,um akhirnya masuk surga. Tidak ada di antara mereka yang akan dihukum kekal di dalam neraka. Karena hukuman kekal di neraka hanya bagi kaum kafir dan munafik.

Kelompok kedua adalah orang-orang murtad. Rasulullah saw., telah memperingatkan kita, “Kamu sekalian, seperti halnya Bani Israil sebelummu, juga ummat Isa ibn Maryam, akan terpecah belah. Sebagaimana mereka, kalian juga akan menciptakan kesessatan dan kemurtadan. Pada waktunya, dalam kemurtadan, penentangan, dan dosa, kalian akan menjadi seperti mereka dan melakukan perbuatan yang sama. Jika mereka memasuki lubang hewan berbisa, kalian juga akan memasukinya. Ketahuilah, Bani Israil terpecah ke dalam 71 golongan. Mereka semua sesast kecuali satu golongan. Kaum Nasrani terpecah ke dalam 72 golongan; mereka juga semuanya sesat kecuali satu golongan. Aku takut ummatku akan terpecah ke dalam 73 golongan. Penyebabnya karena mereka mengubah kebaikan menjadi keburukan dan menghalalkan yang haram sesuai dengan keputusan dan demi keuntungan atas hasrat mereka sendiri. Kecuali satu golongan, semua golongan itu adalah penghuni neraka; hanya satu golongan yang akan selamat.” Ketika ditanya siapakah golongan yang selamat itu, Rasulullah menjawab : Orang yagn mengikuti keyakinan dan perbuatanku maupun para sahabatku.”

Berikut ini beberapa tarekat murtad yang mengaku sufi :

Kaum Hululiyah, yaitu  para penganut paham inkarnasi, yagn menyatakan bahwa halal hukumnya memandang paras yang menawan, baik laki-laki maupun perempuan, baik istri, susami, anak, atau pun saudara orang lain. Mereka juga bercampur baur dan menari bersama. Tentu saja perilaku dan pandangan mereka bertentangan dengan ajaran dan hukum Islam yang mementingkan kemuliaan dan kehormatan.

Kaum Haliyyah ini bernyanyi, menari, berteriak, dan bertepuk-tangan agar dirasuki ruh. Mereka meyakini bahwa syekh mereka telah meraih tingkatan ruhani tertinggi sehingga berada di luar jangkauan hukum agama. Tentu saja perilaku mereka itu sama sekali jauh dengan perilaku para kekasih Allah yang sangat memperhatikan dan memuliakan hukum agama.

Kaum Awla’iyyah, yang mengaku dekat kepada Allah dan meyakini bahwa jika seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah, ia ia terlepas dari semua bentuk kewajiban. Bahkan, mereka mengaku sebagai waliy, sahabat Allah, dan orang yang dekat kepada-Nya sehingga akedudukan mereka lebih luhur daripada seorang nabi. Menurut mereka, Rasulullah ddiberi ilmu melalui Jibril a.s., sedangkan seorang wali mendapatkannya langsung dari Allah. Mereka ini benar-benar telah melakukan dosa besar karena berkeyakinan seperti itu. Mereka telah menjerumuskan diri sendiri ke dalam kemurtadan dan kekafiran.

Kaum Syamuraniyah, yang menyatakan bahwa kata itu kekal, dan orang yang mengucapkan kata yagn kekal itu tidak terkait oleh kewajiban agama; mereka tak kenal hukum halal haram. Dalam beribadah, mereka mempergunakan alat musik. Mereka tidak memisahkan kaum pria dari kaum wanita, karena bagi mereka, tak ada perbedaan antara keduanya. Ketahuilah, mereka hanyalah sekumpulan kafir yang sesat.

Kaum Hubbiyah, yang mengatakan bahwa manusia yagn telah mencapai maqam cinta (hubb) terbebas dari semua kewajiban agama. Salah satu bentuk kesessatan mereka adalah bahwa mereka tidak menutup aurat.

Kaum Hurriyah yagn sebagaimana kaum Haliyyah, berteriak, bernyanyi, dan bertepuk tangan untuk mencapai keadaan ekstatik. Dalam keadaan tidak sadar itu mereka mengaku telah bersenggama dengan para bidadari; ketika sadar kembali, mereka pun mandi besar. Mereka disesastkan oleh dusta mereka sendiri.

Kaum Ibahiyyah, yang menolak menganjurkan kebaikan dan enggan melarang kejahatan. Sebaliknya, mereka menghalalkan segala yang haram. Di antaranya, mereka berkeyakinan bahwa semua perempuan halal bagi kaum pria.

Kaum al-Mutakasiliyah, atau orang-orang yang malas (kasl). Sebagai mata pencaharian, mereka mengemis dari pintu ke pintu. Menurut mereka, itulah cara yang baik untuk meninggalkan keduniaan. Padahal, perilaku itu menggambarkan sifat dasar mereka yang malas.

Kaum Mutajahiliyah, yang berpura-pura bodoh dan sengaja mengenakan pakaian mewah meniru perilaku kaum kafir, padahal Allah berfirman : “Janganlah kamu condong kepada orang-orang kafir ...” (Hud (11) : 113). Rasulullah saw., bersabda : “Barangsiapa sengaja menyerupai suatu kaum, ia termasuk ke dalamnya.”

Kaum Wafiqiyah, yang menyatakan bahwa hanya Allah yang mampu mengenal Allah. Karena itu, mereka enggan mencari jalan kebenaran. Mereka membiarkan digiring kebodohan mereka sendiri ke jurang kebinasaan.

Kaum Ilhamiyah, yang mengandalkan ilham, mengabaikan ilmu, melarang belajar, dan menyatakan bahwa Al-Qur’an merupakan tabir bagi mereka dan bahwa renungan puitis adalah Al-Qur’an mereka. Mereka meninggalkan Al-Qur’an dan shalat. Merek hanya mengajarkan syair kepada anak-anak mereka.

Para pemimpin dan guru Suni mengatakan bahwa para sahabat, berkat sabda dan keberadaan Nabi saw., mencapai maqam kenikmatan ruhani yang tinggi. Seiring dengan perjalanan waktu, maqam ruhani ini terpecah-pecah. Jalan menuju pencapaian ruhani ini diwariskan kepada para penempuh jalan Ilahi menuju kebenaran, yang kemudian terbagi ke dalam berbagai cabang. Karena terpecah ke dalam begitu banyak kelompok, ilmu dan energi ruhani itu semakin menipis dan terurai. Pada banyak kasus, yang tersissa hanyalah penampilan lahiriah seorang guru ruhani yang tanpa isi sedikit pun. Bahkan, cangkang yang tanpa isi itu masih terpecah lagi dan condong kepada kesesatan. Sebagian mereka menjadi kaum Qalandari – pengemis pengembara. Sebagian lainnya menjadi Haidhari, yang berpura-pura menjadi pahlawan. Ada pula yang menamakan ddiri sebagai kaum Adhami dan mengaku menjadi pengikut Ibrahim ibn Adham yang meninggalkan kerajaan dunia. Masih banyak lagi kelompok sesat lainnya yang tampak sebagai orang yang alim dan bijak.

Di zaman kira sekarang, semakin jarang orang yang mengikuti jalan kebenaran sesuai dengan hukum agama. Kebenaran para pengikut sejati jalan ini ditegaskan oleh dua saksi, yaitu saksi lahir, yang menunjukkan bahwa kehidupan sehari-harinya sesuai dengan hukum agama; dan saksi  batin, yaitu bahwa ia meneladani dan mengikuti pembimbing utama – Rasulullah saw. Tak ada yagn patut diteladani selain Rasulullah saw., yang merupakan sarana, jembatan, dan pada saat bersamaan menjadi pencari sekaligus pula  kebenaran yang dicari para pejalan di jalan Allah. Satu-satunya perantara bagi manusia untuk mencapai Allah adalah ruh suci Rasulullah. Itulah jalan yang harus diikuti setiap mukmin untuk memelihara kelangsungan hukum agama dalam kehidupannya. Tentu saja, para pencari kebenaran yang mengikuti jalan Nabi saw. akan mendapatkan berkah dari warisan spiritual yagn diwariskan oleh Rasulullah saw. Sekali lagi, setan tidak akan bisa menyerupai Rasulullah saw.

Waspadalah, wahai para penempuh jalan menuju kebenaran! Ketahuilah, orang buta tidak dapat membimbing orang yang buta. Pertajamlah pandanganmu sehingga dapat membedakan bagian terkecil kebaikan dari bagian terkecil kejahatan.


24.

P E N U T U P


Wahai para penempuh jalan menuju kebenaran, kau harus memiliki kecerdasan, pemahaman, dan pandangan batin.

Allah telah meniptakan hamba-hamba yang cerdas.

Mereka bergerak meninggalkan dunia, tempat derita.

Bergegas menuju samudra; ombak satu-satunya cobaan.

Amal saleh dijadikan bahtera umtuk melayari amukan ombak.

Wahai para pejalan, arahkan kemudimu dengan kokoh ke tujuan terakhir. Tambatkan tali niatmu dengan kuat. Sebelum berlayar, jangan lupakan bekal dan persiapkan. Ketika mempersiapkan diri, waspadalah! Jangan sampai tertipu oleh indahnya penampilan, dan jangan bebani dirimu terlalu berat. Dalam perjalanan, jangan jadikan tempat persinggahan sebagai pelabuhan terakhir.

Wahai para pejalan, ketahuilah bahwa perbuatan adalah milik Yang Esa, Sang Pencipta. Manusia tidak bertanggung jawab secara mutlak: di tangannya, amal perbuatan mungkin saja muncul secata majazi. Allah berfirman :

.... Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang yang merugi. (al-A’raf (7) : 99).

Itulah prinsip jalan ruhani, jalan menuju kebenaran : campakkan semua beban dan serahkanlah dirimu kepada Allah; jangan biarkan banyaknya persinggahan menghambat perjalananmu. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman :

“Hai Muhammad, sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang berdosa bahwa Aku Maha Pengampun. Dan, katakanlah kepada orang-orang yang benar-benar menjadi milik-Ku dan ikhlas merindukan-Ku bahwa Aku Maha Pencemburu.”

Memang, banyak persinggahan dan keajaiban yang akan ditemukan oleh orang-orang yang dekat kepada Allah. Karenanya, mereka pun tidak aman dari ketentuan Allah dan dari ujian yang terus menerus menggoda mereka untuk berbuat dosa. Bahkan, kadang-kadang mereka meraih capaian ruhani tertentu ketika beruat dosa sehingga mengira bahwa keadaan itu murni sebagai hasil upaya mereka dan bahwa keajaiban itu milik mereka sendiri. Hanya para nabi dengan mukzizat mereka yang terbebas dari ujian semacam itu. Karena itulah ada yang mengatakan bahwa rasa takut kehilangan iman pada napas terakhir menjadi satu-satunya pelindung yang akan memberikan iman pada detik-detik terakhir itu.

Hadhrah Hasan al-Bashri, semoga Allah menyucikan ruhnya, pernah mengatakan bahwa orang yang dekat kepada Allah mencapai keberhasilan melalui rasa takut mereka kepada Allah. Rasa takut menyisihkan harapan, karena mereka tahu bahayanya terperdaya oleh watak kemanusiaan. Perdaya itu akan menggelincirkan seseorang dari jalan kebenaran tanpa disadarinya. Ia juga mengatakan bahwa orang yang sehat takut sakit sehingga harapannya akan kesehatan berkurang, sedangkan orang yang sakit tak lagi takut kepada penyakit sehingga harapan untuk sehat pun bertambah kuat.

Rasulullah saw. bersabda : “Jika rasa takut dan harap seorang mukmin ditimbang, niscaya keduanya berimbang.” Berkat rahmat Allah. Pada helaan nafas terakhir kita, Allah memperbesar harapan melebihi rasa takut sesuai dengan sabda Rasulullah saw. : “Semua umatku akan menghembuskan napas terakhirnya dengan kepercayaan dan harapan terhadap rahmat Allah.” Sebab, Allah berjanji : Kasih sayang-Ku melebihi segala sesuatu .... (al-A’raf (7) : 156).  Dan dalam sebuah hadis qudsi Dia berfirman : “Rahmat-Ku melampaui murka-Ku.”

   Ketahuilah, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Cukuplah itu sebagai pegangan. Kendati demikian, seorang pejalan menuju kebenaran harus takut dan menjauhi murka Allah. Karena itu, ia wajib menyerahkan kepada-Nya segala miliknya, begitu juga keberadaannya. Ia harus meletakkan semua itu di bawah kaki-Nya dan berlindung kepada-Nya di dalam diri-Nya.

Wahai para pencari, berlututlah di depan Tuhanmu. Tanggalkan ruhmu dari jasadmu. Akui dan bertobatlah atas semua dosamu di masa lalu dan berdiamlah di depan pintu rahmat-Nya tanpa membawa apa-apa, kecuali cita-cita yang utuh. Jika kau lakukan semua ini, niscaya kau akan mendapatkan curahan kasih sayang-Nya. Rahmat-Nya, cahaya-Nya, dan cinta-Nya. Selain itu, semua dosa dan nodamu akan luruh, meleleh dari dirimu. Sebab, Dia Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penayyang. Mahakekal, dan Mahakuasa.

Kami memohon, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya. Segala puji bagi Allah. Kita semua bergerak berduyun-duyun menuju ke haribaan-Nya.




0 komentar:

Post a Comment

Salamun 'alaik..
Bacalah basmalah sebelum memulai sesuatu